You are currently browsing the tag archive for the ‘Isma Tantawi’ tag.

Oleh: Isma Tantawi
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Abstract
The objective of this research is to analyze Didong Jalu in perspective of language aesthetic and social function on peoples of Gayo Lues ethnic group. The data in this research is analyzed based on both observation and documentation methods. The theoretical base used in this research is relied on literature sociological theoery suggested by Thomas Warton (1974) that literature work is considered to be expression of art and social document. Didong Jalu contains the language aesthetic value and it has social function for peoples of Gayo Lues ethnic group inhabiting the upland of Gayo Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

I. Pendahuluan

Didong sebagai tradisi lisan atau oral tradition (folklore) sudah berkembang sejak masuknya agama Islam di dataran tinggi Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia (L.K. Ara, 1995: 639). Agama Islam masuk ke Aceh pada abad ke-7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat (Sutejo Sujitno, 1995: 71). Dalam Didong, sejak awal sampai saat ini nafas dan nuansa keislaman tetap bertahan. Bahkan Didong merupakan media dakwah untuk menyampaikan dan menyebarkan amanat keagamaan kepada masyarakat di samping menyampaikan pesan budaya suku Gayo itu sendiri.

Didong merupakan tradisi lisan suku Gayo sudah berakar dalam kehidupan masyarakatnya. Persembahan Didong diadakan pada pesta suka (pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru, pesta sunat rasul, dan pesta perkawinan) saja. Dalam Didong, diceritakan tentang kebudayaan suku Gayo, agama Islam (orang suku Gayo secara keseluruhan menganut agama Islam) dan masalah-masalah yang aktual, seperti peristiwa daerah, peristiwa nasional, dan peristiwa internasional.

Kata Didong, berasal dari bahasa Gayo, yaitu: dari akar kata dik dan dong. Dik, artinya menghentakkan kaki ke papan yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian dong, ertinya berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata Didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu digunakan untuk menyelingi persembahan Didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, Didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua Guru Didong yang berasal dari dua kampung yang berbeda. Persembahan dimulai setelah salat Isa sampai sebelum salat Subuh, (M.J. Melalatoa, 1985: 71).
Kata Didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu: Asal-usul Gajah Putih yang dikumpulkan oleh Sulaiman Hanafiah (1984: 140 – 149). Gajah Putih merupakan penjelmaan dari seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke Istana Raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan oleh raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan. Gajah putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sehingga menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun demikian, ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampailah ke Istana Raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut dijadikan dan digunakan pada masa merasa gembira atau pada masa menyampaikan amanat dan nasihat kepada anak, teman, masyarakat atau kepada sesiapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan tradisi lisan Didong Gayo.

Didong Gayo dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, Didong Gayo Lues. Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Gayo Lues pada umumnya berbentuk prosa (bebas) dan hanya pada bagian tertentu saja yang disampaikan berbentuk puisi (terikat) seperti pantun. Isi cerita di dalam Didong Gayo Lues berhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Kedua, Didong Lut (Laut). Didong Lut berkembang di Kabupaten Aceh Tengah. Didong Lut berbentuk puisi (terikat). Isi Didong Lut tidak berhubungan secara langsung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Lut seperti puisi yang dinyanyikan dan setiap puisi memiliki makna masing-masing.

Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam; yaitu, Didong Alo (Didong penyambutan tamu), yaitu: Didong dipersembahkan untuk menyambut tamu. Pemain Didong Alo berjumlah lebih kurang 10 orang dari pihak tuan rumah dan 10 orang dari pihak tamu. Didong Alo dipersembahkan sambil berlari arah ke kiri atau ke kanan. Didong Alo berisi tentang ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Begitu juga dari pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan dan sudah selamat diperjalanan sehingga dapat selamat sampai ke tempat tuan rumah.

Didong Jalu (Didong Laga), yaitu Didong dipersembahkan pada malam hari oleh dua orang Guru Didong yang diundang dari dua kampung yang berbeda. Setiap Guru Didong didampingi oleh pengiring yang berjumlah 10 sampai 20 orang. Pengiring berfungsi untuk mendukung persembahan. Pada bagian tertentu (adini Didong) cerita Didong disambut oleh pengiring sambil bertepuk tangan serta menggerakkan badan ke muka dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan.

Didong Niet (Didong Niat) selalunya dipersembahkan berdasarkan Niet seseorang. Misalnya Niet seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau berkeinginan punya anak lelaki atau perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka Didong Niet ini pun dipersembahkan. Didong Niet ini mengkisahkan tentang anak yang diniatkan. Cerita dimulai dari awal pertemuan kedua orang tuanya. Kemudian pertemuan itu direstui serta dilanjutkan kepada jenjang peminangan dan pernikahan. Seterusnya cerita mengenai perkembangan bayi di dalam kandungan dan sampai bayi lahir ke dunia. Setelah itu cerita diteruskan ke pesta ayunan (turun mani) pemberian nama dihubungkan dengan hari kelahiran, agama (agama Islam), dan nama-nama keluarga seperti nama orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain.

Cerita Didong yang menjadi objek penelitian ini adalah cerita Didong Jalu yang dipersembahkan oleh Guru Didong Ramli Penggalangan dan Idris Cike di Medan pada tanggal 11 dan 12 Desember 2004. Persembahan dimulai pukul 21.45 dan berakhir pada pukul 04.30 WIB.

II. Didong Jalu Sebagai Karya Sastra (Tradisi Lisan)

Secara umum, karya seni dapat dibedakan menjadi lima bagian. Pertama, seni lukis, kedua seni suara, ketiga seni tari, keempat seni pahat (seni patung), dan kelima seni sastra. Kelima-lima seni tersebut di atas dibedakan oleh alat yang digunakan oleh pengarangnya. Seni lukis, alat digunakan oleh senimannya adalah garis dan warna. Seni suara, alat yang digunakan oleh vokalis dan istrumentalis adalah suara (vokal atau instrumental). Seni tari, alat yang digunakan oleh senimannya adalah gerak. Seni pahat atau patung, alat yang digunakan oleh senimannya adalah bentuk. Seni Sastra, alat yang digunakan oleh sastrawannya adalah bahasa (A. Teeuw, 1978 : 1).

Seni sastra yang lazim disebut sebagai karya sastra, menurut bentuk bahasa yang digunakan dapat pula dibedakan menjadi dua bagian. Pertama, karya sastra disampaikan secara lisan dan kedua, karya sastra disampaikan secara tertulis atau bahasa tulis. Karya sastra lisan selalu disampaikan secara langsung kepada penonton atau penikmat. Karya sastra tulis disampaikan secara tertulis, seperti pada surat khabar, majalah, dan buku cetakan kepada pembaca atau penikmatnya.

Karya sastra lisan selalu dihubungkan dengan karya sastra lama, karena salah satu ciri-ciri sastra lama adalah cerita berbentuk lisan. Seterusnya ciri-ciri sastra lisan dapat ditunjukkan dari sudut yang lain. Sastra lisan merupakan milik masyarakat secara bersama dan tidak dikenal nama pengarangnya. Kini sastra lisan lebih dikenal dengan istilah tradisi lisan, (Mustafa Mohd. Isa, 1987: 1). Kemudian menurut Mohd. Taib Osman, ( 1976: 4), tradisi lisan oleh khalayak lebih dikenal lagi dengan istilah folklore.

Folklore berasal dari bahasa Inggeris yang terbentuk dari kata folk dan lore, (James Dananjaya, 1984 : 1-2). Folk ertinya kolektif dan lore ertinya tradisi dari sekelompok orang yang memilki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan yang dapat membedakan dari kelompok lainnya. Jadi, folklore adalah cerita rakyat (tradisi lisan) dari sekelompok masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya dalam bentuk bahasa lisan (Alan Dundes, 1965: 2).

James Dananjaya, (1984: 3-4), berpendapat ciri-ciri folklore adalah sebagai berikut:
i) Penyebaran dan pewarisannya selalu dilakukan secara liasan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut atau dengan contoh yang disertai dengan gerak dan alat bantu pengingat dari generasi ke generasi berikutnya.
ii) Folklore bersifat tradisional, yakni penyebarannya cukup lama atau minimal berlansung pada dua generasi.
iii) Dalam cerita folklore terdapat versi-versi dan variasi, yakni cerita yang bebeda menurut tempat dan waktu. Hal ini disebabkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), bukan melalui cetakan atau rekaman. Oleh sebab itu, proses lupa atau interpolasi (interpolation) dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian, perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
iv) Foklore bersifat anonymous, yakni nama pengarang sebenarnya tidak dapat diketahui.
v) Foklore selalu mempunyai bentuk berumus atau berpola, yakni cerita tetap bertahan dengan pola yang sudah ada.
vi) Folklore mempunyai fungsi (function) pada masyarakat yang memilikinya secara kolektif.
vii) Folklore bersifat pralogik, yakni mempunyai sifak logik sendiri yang berbeda dengan logik yang berlaku secara umum.
viii) Folklore menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan oleh penciptaan pertama tidak diketahui lagi. Oleh sebab itu, setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
ix) Folklore pada umumnya bersifat polos dan lugu. Oleh sebab itu, sering sekali terasa lemah, spontan, dan kasar. Ini dapat dimengerti karena folklore merupakan pengungkapan seni oleh manusia yang paling jujur.

Berdasarkan uraian di atas didapati bahwa Didong Jalu Gayo Lues dapat disebut sebagai karya sastra (tradisi lisan) karena Didong Jalu mengandung ciri-ciri tersebut. Pertama, Didong Jalu dipersembahkan secara liasan: yaitu, cerita didendangkan oleh kedua-dua Guru Didong secara bergantian. Pada bagian tertentu kedua-dua Guru Didong melakukan gerak-gerak tertentu pula. Misalnya pada bagian batang kedua-dua Guru Didong berjalan bolak-balik di atas papan persembaham. Pada bagian niro ijin kedua Guru Didong berdiri berhadapan dan melakukan gerak maju dan mundur.

Kedua, cerita Didong Jalu tumbuh dan berkembang sudah berlangsung lama di masyarakat Gayo Lues. Menurut sejarah Didong Jalu sudah berkembang di dataran tinggi Gayo Lues sejak masuknya ajaran Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Agama Islam masuk ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada abat ke 7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, (Sutejo Sujitno, 1995: 71).

Ketiga, cerita Didong memiliki versi-versi dan variasi. Versi Didong Jalu ada dua macam: yaitu, Didong Jalu Gayo Lues dan Didong Jalu Gayo Lut. Kedua-dua Didong ini bersisi tentang mengadu ketangkasan antara satu Guru Didong dengan Guru Didong lainnya. Namun demikian, cara dan pola persembahannya berbeda. Pola persembahan Didong Jalu dimulai dengan permulaan persembahan (Didong Tuyuh), persalaman (tabini Didong), kesepakatan (batang), berteka-teki (itik-itiken), dan mohon maaf (niro ijin) sedangkan Didong Jalu Gayo Lut berpola persalaman, isi, dan penutup.

Kempat, pencipta Didong Jalu yang sebenarnya tidak dapat diketahui, karena Didong Jalu dituturkan secara lisan oleh Guru Didong terdahulu dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya melalui bahasa lisan. Oleh sebab itu, Didong Jalu menjadi milik bersama masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu yang digunakan untuk objek kajian ini merupakan seni ulang yang yang dilakukan oleh kedua-dua Guru Didong; yaitu, Ramli Penggalangan dan Idris Cike. Namun seni ulang pun tetap memiliki nilai seni tersendiri yang berbeda dengan seni cipta yang pertama, (Sidi Gazalba, 1974: 425).

Kelima, cerita Didong Jalu didendangkan oleh kedua-dua Guru Didong melalui pola yang sama. Pola Didong Jalu itu dimulai dengan permulaan persembahan (Didong tuyuh). Pada bagian ini kedua-dua Guru Didong masih dalam keadaan duduk. Cerita masih berisi tentang pengantar atau memperkenalkan Guru Didong yang akan tampil dalam persembahan. Pada bagian persalaman (tabini Didong) kedua-dua Guru Didong berdiri berdampingan dan cerita berisi tentang persalaman kepada para penonton persembahan. Pada bagian kesepakatan (batang) kedua-dua Guru Didong berjalan secara bolak-balik di atas papan persembahan. Cerita di sini berisi tentang kesepakatan kedua-dua Guru Didong tentang persembahan Didong Jalu pada bagian berikutnya. Pada bagian berteka-teki (itik-itiken) kedua-dua Guru Didong pada keadaan berdiri berdampingan dan cerita berisi tentang teka-teki yang sudah disepakati pada bagian batang. Kemudian cerita Didong Jalu ditutup dengan bagian mohon maaf (niro ijin). Kedua-dua Guru Didong berdiri berhadapan sambil bergerak maju dan mundur dan cerita berisi tentang permohonan maaf antara kedua-dua Guru Didong dan kepada para penonton persembahan.

Keenam, cerita Didong Jalu berguna bagi masyarakat Gayo Lues. Secara khas Didong Jalu digunakan pada pesta suka saja. Pesta suka dalam masyarakat Gayo Lues ada empat macam: yaitu, pertama pesta ayunan, kedua pesta penyerahan anak kepada guru, ketiga pesta sunat rasul, dan keempat pesta perkawinan.

Ketujuh, dalam cerita Didong Jalu terdapat logika yang berbeda dengan logika yang belaku secara umum, seperti contoh berikut ini:
i) Ramli Penggalangan dan Idris Cike yang berprofesi sebagai Guru Didong. Kedua-dua Guru Didong masih menganggap persembahan Didong Jalu sebagai pekerjaan yang memalukan untuk orang yang berumur atau sudah punya anak gadis atau lajang. Ramli Penggalangan berumur 43 tahun dan Idris Cike berumur 40 tahun pada waktu persembahan Didong Jalu ini dilakukan. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:

“Pada malam yang berbahagia ini, sudah jelas bergelinding telur di tanah yang rata. Memecahkan empedu di ujung kaki, memekakkan telinga membutakan mata. Kita bercerita di atas papan persembahan ini.” (Ramli Penggalangan, paragraf: 40).

ii) Guru Didong selalu menganggap dirinya orang yang tidak mengetahui dan tidak berpengalaman apa-apa tentang cerita Didong Jalu, adat, dan agama walaupun kedua-dua Guru Didong yang sudah berpengalaman tentang Didong Jalu dan menguasai masalah agama dan adat. Seperti diceritakan Guru Didong Idris Cike, (paragraf: 07) berikut ini:

“Yang kami punya ini pun tidak berpengalaman. Seperti kerbau masuk kampung yang serba kebingungan. Badannya cuma besar, umurnya masih muda. Seperti kayu kering, sangat cepat dilalap api. Jika digertak mudah takut, kalau ditakuti mudah terkejut. Begitu pula kalau bercerita lebih banyak yang lupa dari yang diingat. Seperti anak masih belum pandai dan masih memerlukan pelajaran dan pendidikan. Cerita dan jalan cerita pedas seperti cabai merah, pahit seperti rimbang hutan.”

iii) Pada saat Guru Didong A menanyakan pertanyaan teka-teki kepada Guru Didong B atau sebaliknya, Guru Didong tidak boleh menjawab secara langsung, tetapi harus diselidiki dengan pertanyaan yang lain dan behubungan dengan pertanyaan teka-teki yang sedang ditanyakan.

Kedelapan, cerita Didong Jalu merupakan milik bersama masyarakat Gayo Lues. Sudah menjadi sifat tradisi lisan, di samping nama pengarang tidak dapat diketahui, dalam tradisi lisan selalu diceritakan tentang adat dan budaya masyarakat. Oleh sebab itu, tradisi lisan menjadi milik masyarakat di mana tradisi lisan itu diciptakan. Isi cerita tradisi lisan itu menggambarkan kehidupan masyarakat yang bersangkutan, (Mohd. Taib Osman, 1976: 7).

Kesembilan, isi cerita Didong Jalu berisi polos dan lugu karena pada umumnya penutur tradisi lisan adalah orang-orang berbakat alami dan tanpa memperoleh pendidikan yang resmi. Oleh sebab itu, apa saja yang diceritakan adalah pengungkapan yang sebenarnya dan tanpa rekayasa. Didong Jalu adalah penngungkapan pemikiran kedua-dua Guru Didong. Sejalan dengan pendapat Rene Wellek (1995, 111) bahwa seniman menyampaikan kejujuran dan kebenaran sejarah dan peristiwa sosial yang berlaku.

III. Didong Sebagai Dokumen Sosial Masyarakat Gayo Lues

Karya sastra dibangun dari dua unsur; yaitu, unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang membangun karya sastra dari bagian dalam seperti alur, tokoh, gaya bahasa, tema, dan suasana. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar seperti agama, adat, psikologi, kesehatan, dan hukum. Dunia sastra adalah dunia yang sangat luas, dalam karya sastra terpancar semua kehidupan manusia.

Setiap suku bangsa memiliki pengungkapan seni. Pengungkapan seni setiap suku bangsa selalu berberda. Perbedaan ini timbul karena setiap suku bangsa memiliki cara hidup yang berbeda pula. Perbedaan cara hidup ini menimbulkan perbedaan seni yang dilahirkan setiap suku bangsa. Misalnya, suku Jawa, terkenal dengan tradisi lisan Wayang, suku Batak, terkenal dengan tari Tor-tornya, suku Melayu, terkenal dengan tari Serampang Dua Belas dan suku Gayo Lues terkenal dengan tradisi lisan Didongnya.

Setiap seni yang dilahirkan suku bangsa selalu mengambarkan kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Hal ini terjadi karena seniman merekam semua peristiwa kehidupan di dalam karya seni yang diciptakan. Lahirnya sastra adalah merupakan keinginan yang mendasar dari manusia untuk mengungkapkan diri, untuk menaruh minat sesama manusia, untuk menaruh minat pada dunia realitas dalam angan-angan yang dikhayalkan sebagai dunia nyata, (Andre Harjana, 1981: 10).

Sapardi Joko Damono, (1978: 1) berkata, sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya dan bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Sastra adalah produk suatu masyarakat dan mencerminkan masyarakatnya. Pemikiran masyarakatnya merupakan pemikiran pengarangnya, (Jakob Sumarjo, 1979: 30).

Rene Wellek, (1995: 111) berpendapat, pengarang menyampaikan kebenaran pada waktu yang sama juga merupakan kebenaran sejarah dan sosial. Karya sastra merupakan dokumen sosial. Oleh sebab itu, apa yang tergambar di dalam karya sastra merupakan kenyataan-kenyataan yang ada atau sudah pernah ada di dalam kehidupan sosial.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, bahwa karya sastra bukan lahir begitu saja, tetapi akibat pengaruh hubungan antara pengarang dengan masyarakatnya. Pengarang menciptakan karya sastra bukan berdasarkan khayalan belaka, tetapi khayalan yang terinspirasi dari kenyataan dan fakta yang ada di dalam masyarakat. Pengarang dan pemikiran masyarakat sangat memegang peranan penting di dalam karya sastra, karena sastra dibangun dari pemikiran masyarakatnya.

Tradisi Lisan Didong Jalu lahir dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu mengandung pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan masyarakat Gayo Lues. Pemikiran berupa adat, budaya, dan agama yang sudah atau sedang dilakukan oleh masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Jalu merupakan dokumen sosial bagi masyarakat Gayo Lues Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

IV. Keindahan Bahasa Dalam Didong Jalu

Karya sastra berbeda dengan karya ilmiah. Karya sastra mengandung nilai seni sedangkan karya ilmiah tidak. Perbedaan ini timbul karena karya sastra disampaikan pengarang dengan ragam bahasa sastra yang berbeda dengan ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa sastra sangat bergantung kepada sastrawan atau seniman sedangkan ragam bahasa ilmiah harus mengikut kepada pedoman tata bahasa dan makna yang sudah ada, (V.I. Braginsky, 1984: 7).
Ragam bahasa dalam karya sastra, di samping pemilihan kata, sastrawan juga menggunakan gaya bahasa seperti hiperbola, personifikasi, inversi, pleonasme dan lain-lain. Sastrawan menggunakan gaya bahasa ini bertujuan untuk mempertegas atau untuk lebih menghidupkan suasana di dalam cerita. Dengan pemilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan para sastrawan atau seniman, karya sastra lebih diminati dan disenangi oleh pembaca atau penonton, karena di samping keindahan alam, karya sastra mengandung nilai keindahan seni, (Wajiz Anwar, 1980: 5).

A. Richard, C.K. Ogden dan James Wood ,(lihat Sohaimi Abddul Aziz, 2000: 2), berpendapat, salah satu dasar keindahan adalah medium. Medium sastra adalah bahasa. Didong Jalu sebagai salah satu karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Seperti cerita Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 02) berikut ini:

“Tak ada laba-laba yang menutupi tangga, tak ada buaya yang menghadang di jalanan. Kami sudah hadir memenuhi undangan, yang disampaikan melalui selembar sirih, sekeping gambir, segores kapu,r dan sepotong pinang.”

Kejayaan mengeksploit medium bahasa dengan baik, dapat menghasilkan kepuasan psikologi kepada para pembaca atau penonton persembahan. Kepuasan psikologi yang dapat diperoleh dari karya sastra yang berhubungan dengan kesempurnaan, kehalusan, kematangan, dan kepekaan yang dapat memberikan kesan makna dan emosi, (Sohaimi Abdul Azizz, 2000: 8).

Kesan makna dan emosi yang berhubungann dengan peristiwa aktual yang diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:

“Ayah dan ibuku, berlari-lari menyelamatkan nyawa. Di daerah Aceh sudah terjadi, rakyat mengungsi semakin susah. Orang yang melakukannya yang tidak jelas, yang korban rakyat biasa. Entah apa sebabnya, tiba-tiba terjadi kontak senjata.” (Idris Cike, paragraf: 54).

Bahasa yang digunakan Guru Didong dengan amat baik dapat menimbulkan bunyi dan irama pada kata-kata yang terpilih dan disusun. Oleh sebab itu, dapat menimbulkan kesan yang makna mendalam kepada para pembaca atau penonton. Seperti cerita Didong Jalu yang disampikan dalam bentuk pantun berikut ini:

“Hijau-hijau gununglah hijau,
Siamang memanggil setengah hari.
Sia-sia badanmu muda,
Jika tidak berani mati.

Burung balam gunung bersuara merdu,
Akan kupetik dengan ujung jari.
Bulu keliling warna yang menarik,
Supaya jinak, saya petik lagi.” (Idris Cike, paragraf: 65).

Menurut Agus Sachari, (1989: 1), keindahan sebenarnya merupakan hal yang utama di dalam kehidupan kita, karena tanpa keindahan, hidup ini terasa merana dan kehilangan kebahagiaan. Semua pencipta karya sastra yang baik, adalah manusia perasa yang bukan sedikit melibatkan pemikiran dan perasaan dalam peroses mengarang itu. Pilihan kata dan irama yang ada di dalam karya sastra merupakan alat untuk menyampaikan fikiran dan perasaannya kepada para pembaca atau penonton, (Muhammad Haji Saleh, 1992: 14).

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, tradisi Didong Jalu yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya, terasa sangat indah dan menarik bagi penontonnya. Indah dan menarik ini terjadi karena pilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan oleh kedua-dua Guru Didong di dalam Didong Jalu. Oleh sebab itu, para penonton persembahan dapat bertahan menonton persembahan, sampai menjelang salat Subuh serta dapat menangkap makna yang tersurat dan tersirat di dalam Didong Jalu.

V. Fungsi Sosial Didong Jalu

Didong Jalu yang lahir dan berkembang pada kehidupan masyarakat Gayo Lues, karena Didong Jalu memiliki fungsi sosial tertentu bagi masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab itu, Didong Jalu tidak pernah terlepas dari suku Gayo Lues. Dalam Didong Jalu tergambar pemikiran-pemikiran dan budaya suku Gayo Lues secara menyeluruh. Didong Jalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo Lues yang dilakukan dan berkembang sampai kini.

Menurut Alan Dundes, (1965: 277), fungsi sosial tradisi lisan atau folklore itu ada 5 macam; yaitu, i) membantu pendidikan, ii) meningkatkan perasaan solidaritas kelompok, iii) memberi sanksi sosial agar orang berprilaku baik, iv) sebagai alat kritik sosial, dan v) sebagai hiburan.

Berdasarkan pendapat di atas, maka Didong Jalu dapat dilihat fungsi sosialnya bagi masyarakat Gayo Lues seperti berikut ini:

i) Dalam Didong Jalu, Guru Didong menyampaikan pendidikan secara langsung mahupun tidak langsung kepada penonton persembahan. Pendidikan langsung; yaitu, Guru Didong langsung memberikan penjelasan kepada penonton persembahan. Misalnya Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 24-27) menjelaskan tentang makna ralik, juelen, sebet, dan guru dalam masyarakat Gayo Lues. Ralik pihak keluarga dari isteri yang harus dilayani oleh pihak keluarga suami, karena ralik adalah status yang paling mulia di dalam masyarakat Gayo Lues. Juelen, pihak keluarga menantu laki-laki bertugas untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang berat dalam pesta. Pihak menantu laki-laki ini bertanggung jawab atas pelaksanaan dan keberhasilan pesta. Sebet adalah orang-orang yang dikenal karena pergaulan hidup sehar-hari dan terjadi hubungan yang baik. Oleh sebab itu, selalu menjadi teman suka dan duka di dalam kehidupan sehar-hari. Guru adalah orang yang mengajari dan memberikan petunjuk semoga selamat di dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan tidak langsung dapat pula dilihat pada keseluruhan persembahan Didong Jalu. Persembahan Didong Jalu dimulai dari awal sampai akhir mengikuti kebiasaan yang sudah ada. Oleh sebab itu, Guru Didong secara tidak langsung telah memberikan penjelasan kepada penonton persembahan bahwa persembahan Didong Jalu harus berlaku seperti yang ia lakukan.

ii) Jika dilihat dari cara pelaksanaan persembahan dan isi cerita, ternyata Didong Jalu dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok. Pada masa pelaksanaan persembahan Didong Jalu, diundang semua ahli famili dari semua kampung dan semua ahli famili itu membawa semua kenalan, sahabat, dan tetangga yang ada di kampung ahli famili yang diundang. Dengan demikian, setiap diadakan persembahan Didong Jalu akan terjadi pertemuan masyarakat antara satu kampung dengan kampung lain. Pertemuan yang terjadi secara berulang-ulang ini akan dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok bagi masyarakat Gayo Lues.

Begitu juga dari isi cerita Didong Jalu, ia dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok antara Guru Didong dengan Guru Didong dan antara masyarakat dengan masyarakat penonton persembahan. Meningkatkan perasaan solidaritas antara Guru Didong dengan Guru Didong seperti dikemukakan Guru Didong Idris Cike (paragraf: 65) bahwa cerita Didong Jalu ini bertujuan untuk menjadi lebih kenal seperti menjadi satu ayah satu ibu. Didong Jalu juga dapat meningkatkan perasaan solidaritas antara masyarakat dengan masyarakat Gayo Lues.

iii) Isi cerita Didong Jalu dapat memberikan sanksi sosial kepada masyarakat agar masyarakat dapat berbuat baik. Seperti diceritakan Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 21) berikut ini:
“Jika ada yang berlaku, yang kotor salah sentuh, yang pantang salah ucap. Semua dosa dan pahalanya menjadi tanggungannya dan panitia bebas dari dakwaan. Uang tidak tertentu jumlah rupiahnya, ditahan tidak tertentu jumlah tahunnya. Mahkamah dan meja hijau yang berkuasa untuk memutuskan hukumannya.”

iv) Didong Jalu juga dapat dijadikan alat kritik sosial bagi masyarakat Gayo Lues. Di dalam Didong Jalu Guru Didong memberikan keritikan-kritikan sosial kepada masyarakat Gayo Lues. Seperti diceritakan Guru Didong Idris Cike (paragraf: 53) berikut ini
“Ilmu hanya diketahui oleh orangtua, pedoman pun sudah hilang di tengah hutan belantara. Oleh sebab itu, saya bercerita hanya sedikit yang ingat dan lebih banyak yang lupa, begitu pun tetap kutabahkan hatiku. Pada malam ini, hanya ilmu kita yang akan kita sampaikan, fikiran kita yang akan kita jelaskan. Harap didengarkan dan difikirkan bapak, ibu, dan saudaraku, supaya ada manfaat menonton persembahan ini.”

v) Didong Jalu dapat menjadi hiburan bagi masyarakat Gayo Lues. Biasanya terdapat dua hal yang ingin disampaikan oleh pengarang karya sastra. Pertama, pengarang ingin menyampaikan amanat yang berupa pemikiran-pemikiran. Kedua, karya sastra untuk menghibur para penikmat atau penontonnya. Oleh sebab itu, di samping untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Didong Jalu ternyata menjadi hiburan bagi masyarakat Gayo Lues seperti diceritakan Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 44) seperti berikut ini:

“Sudah ada kesempatan dan sudah ada kelapangan. Sunyi untuk diramaikan, ramai untuk dimeriahkan. Supaya jangan menjadi penghambat kemajuan untuk mencapai masa hadapan yang cerah, diundang keluarga bapak, dikumpulkan keluarga ibu diadakan persembahan Didong Jalu untuk hiburan.”

VII. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian terhadap Didong Jalu di atas, penulis menyusun dapatan sebagai berikut: Pertama, Didong Jalu mengandung nilai keindahan bahasa, karena kemampuan Guru Didong menggunakan pilihan kata yang baik serta pemkaian irama yang sesuai. Kedua, Didong Jalu memiliki fungsi sosial bagi masyarakat Gayo Lues, yaitu: untuk menyampaikan pendidikan, untuk meningkatkan solidaritas, memberikan nasihat, sebagai alat untuk menyampaikan kritikan sosial, dan untuk hiburan bagi masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab, itu Didong Jalu dapat dianggap sebagai dokumen sosial bagi masyarakat Gayo Lues.

Sebagai kesimpulan untuk keseluruhan penelitian ini, bahwa Didong Jalu sebagai karya sastra atau taridisi lisan merupakan milik masyarakat Gayo Lues dan mengambarkan kehidupan masyarakat Gayo Lues itu sendiri. Didong Jalu memiliki keindahan bahasa dan fungsi sosial bagi masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu perlu dilestarikan, sehingga dapat berkembang dengan baik dan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Daftar Bacaan

Agus Sachari. 1989. Estetika Terapan. Bandung: Nova.
Andre Harjana. 1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.
Braginsky, V.I. 1994. Erti Keindahan dan Keindahan Erti Dalam Kesusastraan Melayu Klasik (Terjemahan). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Dundes, Alan. 1965. The Study of Folklore. America: Prentice-Hall, Inc.Englewood Cliff, N.J.
Jakob Sumarjo. 1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
James Dananjaya. 1984. Folklore Indonesia. Jakarta: Grafitipers.
L.K. Ara. 1995. Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”.Jakarta:Yayasan Nusantara.
M. Junus Melalatoa. 1985. Kamus Bahasa Gayo Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Muhammad Haji Saleh. 1992. Puitika sastra Melayu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Mohd. Taib Osman. 1976. Panduan Pengumpulan Tradisi Lisan Malaysia. Malaysia: Malindo Printers Sdn. Bhd.
Mustapa Mohd. Isa. 1987. Awang Belanga PelipurLara dari Perlis. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Sidi Gazalba. 1974. Sitematika Falsafah. Kuala Lumpur: Utusan Melayu Berhad.
Sohaimi Abdul Aziz. 2000. “Estetika Kesusastraan Melayu: Satu Pandangan Muhammad Haji Saleh”. Pulau Pinang: Seminar Kefahaman Budaya Ke IV.
Sulaiman Hanafiah. 1984. Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sutejo Sujitno, 1995. Aceh Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan. Banda Aceh: Sekretariat Gubernur Daerah Istimewa Aceh.
Teeuw, A. 1978. “Penelitian Struktur Sastra”. Tugu Bogor. Kertas Kerja.
Wadjiz Anwar, 1980. Falsafah Estetika. Yogyakarta: Nur Cahaya.
Warton, Thomas. 1974. History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago Press.
Wellek, Rene, 1995. Teori Kesusastraan (Terjemahan). Jakarta: PT Gramedia.

Isma Tantawi

Isma Tantawi lahir pada tanggal 7 Februari 1960 di Kuning Aceh Tenggara (sekarang Kabupaten Gayo Lues). Beliau adalah staf pengajar tetap di Fakultas sastra Universitas Sumatera Utara mengasuh mata kuliah Sastra Bandingan, Estetika, dan Sastra Malaysia Modern serta mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan sebagai dosen tamu di Kolej Sentral Kuala Limpur, Malaysia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara tahun 1986 dan saat ini sedang mengikuti pendidikan master (S-2) di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia dengan bidang kajian tradisi lisan nusantara. Di samping itu juga beliau aktif mengikuti seminar nasional dan internasional baik sebagai peserta maupun pemakalah.

Source: http://ismatantawi.blogspot.com/2009/05/didong-gayo-lues-analisis-keindahan.html

Oleh: Isma Tantawi
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Abstract
The objective of this study is to determine and analyze the thinking of Gayo Lues community on Islamic religion in the Didong Jalu. The data in this research is analyzed based on both observation and documentation methods. The theoretical base used in this research is relied on literature sociological theoery suggested by Thomas Warton (1974) that literature work is considered to be expression of art and social document. The result of this study shows that Didong Jalu contains the thought of the Gayo Lues community regarding Allah, the messenger, angels, spirits, Islamic tenets, Islamic practices, sins, repentance and life-after death.

Kata Kunci: Pemikiran, Agama Islam, dan Didong Jalu.

I. Pendahuluan
Didong sebagai tradisi lisan atau oral tradition (folklore) sudah berkembang sejak masuknya agama Islam di dataran tinggi Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia (Ara, 1995 : 639). Agama Islam masuk ke Aceh pada abad ke-7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad Saw. wafat (Sujitno, 1995 : 71). Dalam Didong, sejak awal sampai saat ini nafas dan nuansa keislaman tetap bertahan. Bahkan Didong merupakan media dakwah untuk menyampaikan dan menyebarkan amanat keagamaan kepada masyarakat di samping menyampaikan pesan budaya suku Gayo itu sendiri.

Didong merupakan tradisi lisan suku Gayo sudah berakar dalam kehidupan masyarakatnya. Persembahan Didong diadakan pada pesta suka (pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru (ustad atau ustajah yang mengajari agama Islam), pesta sunat rasul, dan pesta perkawinan) saja. Dalam Didong, diceritakan tentang kebudayaan suku Gayo, agama Islam (orang suku Gayo secara keseluruhan menganut agama Islam) dan masalah-masalah yang aktual, seperti peristiwa daerah, peristiwa nasional, dan peristiwa internasional.

Kata Didong, berasal dari bahasa Gayo, yaitu: dari akar kata dik dan dong. Dik, artinya menghentakkan kaki ke papan yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian dong, artinya berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata Didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu digunakan untuk menyelingi persembahan Didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, Didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua Guru Didong yang berasal dari dua kampung yang berbeda. Persembahan dimulai setelah shalat Isa sampai sebelum salat Subuh (Melalatoa, 1985 : 71).

Kata Didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu: Asal-usul Gajah Putih yang dikumpulkan oleh Hanafiah (1984 : 140 – 149). Gajah Putih merupakan penjelmaan dari seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke Istana Raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan oleh raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan. Gajah putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sehingga menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun demikian, ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampailah ke Istana Raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut dijadikan dan digunakan pada masa merasa gembira atau pada masa menyampaikan amanat dan nasihat kepada anak, teman, masyarakat atau kepada siapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan tradisi lisan Didong Gayo.

Didong Gayo dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, Didong Gayo Lues. Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Gayo Lues pada umumnya berbentuk prosa (bebas) dan hanya pada bagian tertentu saja yang disampaikan berbentuk puisi (terikat) seperti pantun. Isi cerita di dalam Didong Gayo Lues berhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Kedua, Didong Lut (Laut). Didong Lut berkembang di Kabupaten Aceh Tengah. Didong Lut berbentuk puisi (terikat). Isi Didong Lut tidak berhubungan secara langsung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Lut seperti puisi yang dinyanyikan dan setiap puisi memiliki makna masing-masing.

Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam; yaitu, Didong Alo (Didong penyambutan tamu), yaitu: Didong dipersembahkan untuk menyambut tamu. Pemain Didong Alo berjumlah lebih kurang 10 orang dari pihak tuan rumah dan 10 orang dari pihak tamu. Didong Alo dipersembahkan sambil berlari arah ke kiri atau ke kanan. Didong Alo berisi tentang ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Begitu juga dari pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan dan sudah selamat di perjalanan sehingga dapat selamat sampai ke tempat tuan rumah.

Didong Jalu (Didong Laga), yaitu Didong dipersembahkan pada malam hari oleh dua orang Guru Didong yang diundang dari dua kampung yang berbeda. Setiap Guru Didong didampingi oleh pengiring yang berjumlah 10 sampai 20 orang. Pengiring berfungsi untuk mendukung persembahan. Pada bagian tertentu (adini Didong) cerita Didong disambut oleh pengiring sambil bertepuk tangan serta menggerakkan badan ke muka dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan.

Didong Niet (Didong Niat) selalu dipersembahkan berdasarkan niat seseorang. Misalnya niat seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau berkeinginan punya anak lelaki atau perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka Didong Niet ini pun dipersembahkan. Didong Niet ini mengkisahkan tentang anak yang diniatkan. Cerita dimulai dari awal pertemuan kedua orang tuanya. Kemudian pertemuan itu direstui serta dilanjutkan kepada jenjang peminangan dan pernikahan. Seterusnya cerita mengenai perkembangan bayi di dalam kandungan dan sampai bayi lahir ke dunia. Setelah itu cerita diteruskan ke pesta ayunan (turun mani) pemberian nama dihubungkan dengan hari kelahiran, agama (agama Islam), dan nama-nama keluarga seperti nama orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain.

Cerita Didong yang menjadi objek penelitian ini adalah cerita Didong Jalu yang dipersembahkan oleh Guru Didong Ramli Penggalangan dan Idris Cike di Medan pada tanggal 11 dan 12 Desember 2004. Persembahan dimulai pukul 21.45 dan berakhir pada pukul 04.30 WIB.

II. Pemikiran Tentang Agama Islam dalam Didong Jalu
Masyarakat Gayo yang melahirkan Didong Jalu adalah masyarakat yang menganut agama Islam. Oleh sebab itu, di dalam Didong Jalu pun tergambar pemikiran-pemikiran tentang agama Islam. Tradisi Didong Jalu menampilkan gambaran kehidupan masyarakat Gayo Lues. Sejalan dengan pendapat Damono (1978 : 1) bahwa kehidupan itu sendiri adalah satu kenyataan sosial dan kenyataan sosial tersebut dapat tercermin di dalam karya sastra.

Menurut Taslim (Tanpa Tahun: 1) bahwa sebuah karya sastra, walau betapa tinggi dipancangkan di alam fantasi, namun tetap memiliki hubungan dengan fakta-fakta sosial di dalam kehidupan alam nyata. Jadi, sebuah karya sastra tidak pernah terlepas dari masyarakat yang mendukungnya. Sastra adalah produk suatu masyarakat dan sastra mencerminkan pemikiran masyarakatnya. Pemikiran masyarakat menjadi pemikiran pengarang dan pengarang itu sendiri adalah bagian dari masyarakat (Sumarjo, 1979 : 30).
Pemikiran tentang agama Islam di dalam Didong Jalu yang berhubungan dengan Allah Swt, Rasul (Nabi Muhammad) malaikat, roh, hukum dalam Islam, amalan dalam Islam, Idil Fitri, dosa, taubat, dan alam akhirat.

1. Allah, Rasul, dan Makhluk yang Ghaib
Allah Swt adalah Maha Pencipta alam dan Rasul (Nabi Muhammad Saw) adalah sebagai utusan Allah Swt untuk menyampaikan wahyu kepada umatnya. Makhluk yang ghaib (malaikat dan roh) adalah makhluk Allah Swt yang memiliki tugas masing-masing.

a) Allah Swt
Menurut faham masyarakat Gayo Lues tentang Allah Swt sebagai Yang Maha Kuasa mengikuti faham sesuai agama Islam. Allah memiliki banyak sifat, namun sifat wajib diketahui orang Islam yang beriman hanya dua puluh sifat wajib dan dua puluh sifat mustahil. Allah Swt adalah bersifat Maha atas segala sesuatu di atas alam ini. Menurut Ensiklopedi Islam I (2003 : 123), Allah Swt adalah sebutan atau nama Tuhan; yaitu, Wujud yang tertinggi, Zat Yang Maha Suci, Yang Maha Mulia. Semua kehidupan berasal dan kembali kepada-Nya. Apa yang terjadi di atas dunia ini semua atas kuasa dan kehendak-Nya. Allah adalah Tuhan semesta alam Yang Maha Bijaksana menjadikan alam beserta isinya (Al Ghazali, 1997 : 17).

Adanya Allah Swt tidak berawal dan tidak berakhir. Adanya Allah Swt tidak ada yang menciptakan. Adanya Allah Swt bersifat abadi atau kekal. Allah Swt sebagai Maha Pencipta, menciptakan alam dan semua isinya. Adanya benda-benda lain karena ada yang menciptakan; yaitu Allah Swt (Hamka, 1999 : 629).

Menurut M. Abdul Mujieb AS (1986 : 5) Allah Swt yang telah menjadikan segala sesuatu yang ada di atas alam ini, di dalamnya terdapat hikmah untuk keperluan makhluk di atas alam ini. Tidak ada satu persoalan pun yang terlepas dari kuasa dan kehendak Allah Swt.

Dalam al-Quran (surat Al A’Araaf ayat 54) dijelaskan, sesungguhnya Allah, Tuhan kamu telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia berkuasa di atas singasana, ditutup-Nya malam dengan siang, yang mengikutinya dengan cepat. Begitu juga Allah menciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang yang masing-masing menjalankan kewajibannya sesuai dengan perintah-Nya. Ingatlah, mencipta dan memerintah itu adalah hak Allah Swt dan Allah Swt adalah pemimpin alam semesta.

Allah Swt menurunkan wahyu (agama Islam) kepada rasul-Nya; yaitu, Nabi Muhammad Saw junjungan umat Islam. Kemudian Nabi Muhammad Saw. wajib menyampaikan kepada umatnya. Wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. adalah Al-Quran yang terdiri dari 30 juz dan 6666 ayat yang berisi tentang petunjuk, perintah, dan larangan bagi umat Islam yang beriman.

Bagi masyarakat Gayo Lues, pelaksanaan agama Islam bukan sekadar menjalankan rukun Islam, tetapi semua amalan harus dapat digambarkan di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, untuk menjalankan segala sesuatu perbuatan harus dimulai dengan nama Allah Swt Seperti diceritakan Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf : 37) dengan nama Allah Swt. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mari kita berlangkah, kita mulai dengan kaki kanan supaya ringan kita ikuti dengan kaki kiri.

Masyarakat Gayo Lues mempercayai bahwa semua yang terjadi di atas alam ini adalah atas izin dan kuasa Allah Swt. Apa yang terjadi di langit dan di bumi semuanya atas kuasa dan kehendak Allah Swt Kepada-Nya semuanya berakhir. Apabila Allah Swt yang menghendaki tidak ada yang kuasa untuk merobahnya. Allah Swt adalah segala-galanya (Ramli Penggalangan, paragraf : 150).

Kemudian pada bagian yang lain Guru Didong menguraikan Allah Swt merupakan tumpuan kehidupan bagi setiap makhluk. Bagi makhluk, khusus makhluk manusia yang beriman, takut kepada Allah Swt, karena segala perbuatan manusia akan diberi ganjaran oleh Allah Swt. Perbuatan yang baik akan diberi pahala dan perbuatan jahat akan diberi dosa, sehingga harus saling pengertian antara sesama manusia dan semua perbuatan merupakan amalan kita kepada Allah Swt (Idris Cike, paragraf : 152).

Bagi masyarakat Gayo Lues, manusia hidup di dunia ini merupakan hamba Allah Swt dan rahsia Allah Swt yang tidak dapat kita ketahui. Manusia hanya menjalankan apa saja yang dikehendaki oleh Allah Swt. Ada empat rahasia Allah Swt seperti dikemukakan oleh Guru Didong berikut ini:
… Rahasia Allah tidak dapat kita ketahui, itu pun ada empat perkara; yaitu, pertama langkah, kedua rezeki, ketiga pertemuan atau jodoh, dan keempat maut … (Ramli Penggalangan, paragraf : 43).

Allah Swt memilki sifat yang Maha Pencipta, pencipta semua alam semesta, termasuk menciptakan manusia yang pertama. Masyarakat Gayo Lues percaya bahwa manusia yang pertama yang diciptakan oleh Allah Swt ialah Nabi Adam. Nabi Adam a.s. tidak berayah dan tidak beribu. Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Allah Swt (Ramli Penggalangan, paragraf : 134).

Allah Swt memilki sifat yang tak terhingga banyaknya. Oleh karena itu, Allah bersifat dengan segala kesempurnaan (muttashifun bi kulli kamal). Namun sifat yang wajib bagi Allah ada dua puluh macam saja. Sifat dua puluh yang wajib diketahui; yaitu, 1. Wujud (ada), 2. Qidam (tanpa ada awal), 3. Baqa’ (kekal), 4. Mukhalafatu lil-hawadits (tidak sama dengan yang baru), 5. Qiyamuhu Binafsih (berdiri dengan dirinya sendiri), 6. Wahdaniyah (esa), 7. Qudrat (berkuasa), 8. Iradat (berkehendak), 9. Ilmu (mengetahui), 10. Hayat (hidup), 11. Sama’ (mendengar), 12. Bashar (melihat), 13. Kalam (berkata-kata), 14. Qadirun (yang berkuasa), 15. Muridun (yang berkehendak), 16. Alimun (yang mengetahui), 17. Hayyun ( yang hidup), 18. Sami’un (yang mendengar), 19. Bashirun (yang melihat) dan 20. Mutakallimun (yang berkata-kata) (Moch. Ridha, 1988 : 12-19).

Dari dua puluh sifat yang wajib bagi Allah Swt, secara langsung diucapkan Guru Didong hanya dua sifat yang ada ditemui di dalam Didong Jalu; yaitu, Qudrat dan Iradat. Masyarakat Gayo Lues meyakini bahwa penciptaan Nabi Adam a.s. merupakan Qudrat (berkuasa) dan Iradat (kehendak) Allah Swt. Sifat Qudrat dan Iradat dari Allah Swt untuk menciptakan nabi dan manusia yang pertama; yaitu, Nabi Adam a.s. (Idris Cike, paragraf : 134).

Allah Swt memiliki sifat Qudrat dan Iradat untuk menciptakan alam beserta isinya termasuk menciptakan manusia yang tidak dapat atau belum dapat diselami oleh otak dan akal manusia. Manusia hanya membaca dari ayat-ayat Al-Quran dan diterima karena keyakinan dan keimanan. Namun manusia masih tetap sulit untuk membuktikannya secara logika (Baihaqi, 1995 : 6).

b) Rasul
Ada dua istilah yang sering dikacaukan pemakainnya. Istilah itu adalah nabi dan rasul. Nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah. Wahyu yang diterimanya untuk dirinya sendiri dan tidak wajib disampaikan kepada umat. Rasul adalah orang yang menerima wahyu untuk dirinya sendiri dan wajib disampaikan kepada umatnya. Jadi, rasul sudah pasti nabi dan nabi belum tentu rasul. Nabi jumlahnya tidak dapat diketahui secara pasti sedangkan rasul yang wajib diketahui ada dua puluh lima; yaitu: Nabi Adam a.s., Nabi Idris a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Hud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Ibrahin a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Isma’il a.s., Nabi Ishaq a.s., Nabi Yaqup a.s., Nabi Yusup a.s., Nabi Ayyub a.s., Nabi Syu’aib a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Harun a.s., Nabi Ilyassa’ a.s., Nabi Zulkifli a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Sulaiman a.s., Nabi Ilyas a.s., Nabi Yunus a.s., Nabi Zakaria.s., Nabi Yahya a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad Saw (Ma’shum, Tanpa Tahun: 2).
Pandangan orang Gayo Lues tentang rasul adalah sesuai dengan ajaran agama Islam. Bahwa rasul yang menerima wahyu dari Allah Swt dan wajib menyampaikan kepada umatnya masing-masing. Misalnya, Nabi Musa a.s. menerima wahyu kitab Taurad, Nabi Daud a.s. menerima wahyu kitab Zabur, Nabi Isa a.s. menerima wahyu kitab Injil, dan Nabi Muhammad Saw menerima wahyu kitab Al-Quran dan perintah shalat. Wahyu al-Quran diterima oleh Rasulullah Muhammad Saw di gua Hira’ pada 17 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi. Perintah shalat diterima Nabi Muhammad Saw pada peristiwa Israk Mikraj pada tanggal 27 Rajab atau sebelas tahun setelah Nabi Muhammad diangkat oleh Allah menjadi rasul. Al-Quran berisi tentang petunjuk bagi umat Islam dan shalat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam.

Rasul (Nabi Muhammad Saw) adalah utusan Allah Swt. Wahyu shalat dan Al-Quran wajib disampaikan kepada umat Islam. Wahyu shalat yang diturunkan tidaklah lengkap seperti yang kita kenal sekarang ini, terutama cara pelaksanaan shalat dan sejarah-sejarah turunnya ayat-ayat Al-Quran. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw Muhammad Saw disebut dengan hadis.

Hadis dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama hadis sahih, hadis yang benar dan jelas sejarah terjadinya dan orang-orang yang merawikannya. Kedua hadis daif, hadis lemah karena tidak jelas sejarah terjadi dan perawinya. Hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran.

Bagi masyarakat Gayo Lues Nabi Muhammad Swt adalah junjungan umat Islam. Umat Islam yang selalu mengharapkan petunjuk dan syafaatnya. Manusia hanya merencanakan, keputusaan berada di tangan Allah Swt dan lindungan Nabi Muhammad Saw (Ramli Penggalangan, paragraf : 01).

Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues salah satu pesta suka adalah sunat rasul (khitan), untuk melaksanakan sunnah. Pesta sukacita yang diceritakan Guru Didong adalah tentang bersunat rasul berarti menjalankan sunnah Rasul. Bagi masyarakat Gayo Lues bersunat rasul merupakan satu keharusan karena sunah rasul merupakan dasar yang kedua dalam memahami ajaran agama Islam (Idris Cike, paragraf : 31).

Masyarakat Gayo Lues sebagai umat Nabi Muhammad Saw harus mengasihi dan menyayangi anak-anak. Anak sebagai buah kasih sayang antara suami dan isteri dan menjadi kewajiban bagi orangtuanya untuk membina, membimbing, dan memenuhi segala keperluan hidupnya. Orang tua harus dapat menjalankan kewajiban kepada anak-anaknya, termasuk tahapan-tahapan acara atau kewajiban kepada anaknya (Ramli Penggalangan paragraf : 42 dan 43).

Masyarakat Gayo Lues sebagai umat Nabi Muhammad harus berpikir tentang apa saja yang ada di sekelilingnya, karena apapun yang terdapat di sekitar kita, semua bermanfaat dan dapat digunakan untuk keperluan kehidupan manusia. Hanya saja manusia dapat berpikir atau tidak dapat untuk menggunakan semua benda dan fenomena yang ada (Idris Cike, paragraf : 69).

c) Malaikat
Masyarakat Gayo Lues memahami malaikat mengikuti faham agama Islam, bahwa malaikat sebagai makhluk rohani yang besifat ghaib, diciptakan dari nur (cahaya), yang selalu taat, tunduk, dan patuh kepada Allah Swt dan tidak pernah ingkar kepada Allah Swt, tidak memerlukan makan, minum, dan tidur. Malaikat adalah makhluk Allah yang paling banyak jumlahnya dan malaikat yang wajib diketahui ada 10 dan mempunyai tugas masing-masing (Syukur, 2001 : 86). Tugas-tugas malaikat itu adalah sebagai berikut: Malaikat Jibril bertugas untuk menurunkan wahyu dari Allah Swt dan menyampaikan kepada para nabi. Malaikat Mikail bertugas untuk memberi rezeki kepada seluruh makhluk Allah Swt. Malaikat Izrail bertugas untuk mencabut nyawa semua makhluk hidup. Malaikat Israfil bertugas untuk meniup angin sangkakala. Malaikat Raqib bertugas untuk mencatat setiap amal baik. Malaikat Atid bertugas untuk mencatat semua keburukan dan kejahatan. Malaikat Munkar dan Nakir bertugas untuk memberikan pertanyaan di alam kubur. Malaikat Malik bertugas untuk menjaga neraka. Malaikat Ridwan bertugas untuk menjaga surga.

Masyarakat Gayo Lues mempercayai bahwa pada masa Allah Swt meniupkan roh ke ubun-ubun Nabi Adam a.s. Para malaikat menyaksikan dan mendengar ucapan Nabi Adam a.s. dan malaikat juga menjawab ucapan Nabi Adam (Idris Cike, paragraf : 124). Menurut Labib MZ (Tanpa Tahun: 12–14) Nabi Adam a.s. mengucapkan assalamualaikum (selamat atas kamu) dan dijawab oleh para malaikat waalaikumussalam (atas kamu juga selamat).

Hal ini juga digambarkan oleh Hamka (1999 : 7017), bahwa Allah memiliki kekuasaan yang Maha luas, seperti memasukkan roh ke tubuh Nabi Adam. Pada masa Allah Swt meniupkan roh ke ubun-ubun Nabi Adam a.s. dan Nabi Adam a.s. dikelilingi dan disaksikan oleh para malaikat. Seperti diceritakan Guru Didong Idris Cike berikut ini:
Yang mendengarkan ucapan Nabi Adam, hal itu sudah pasti Allah dan malaikat-malaikat. Allah yang memberikan roh kepada Nabi Adam yang dikelilingi oleh para malaikat. Jadi, kalau saksinya yang sahabatku inginkan, itu sudah pasti para malaikat. Di depan para malaikat diberikan Allah roh ke ubun-ubun Nabi Adam (Idris Cike, paragraf : 151).

d) Roh
Masyarakat Gayo Lues memahami roh sesuai dengan faham agama Islam, bahwa roh adalah makhluk ghaib yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Roh akan keluar dari tubuh pada saat manusia meninggal dunia. Dalam Ensiklopedi Islam IV (2003 : 174) roh diartikan sebagai zat murni yang tinggi dan hakikatnya berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindera sedangkan roh menyusup ke dalam tubuh sebagaimana menyusupnya air di dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Roh memberi kehidupan kepada tubuh manusia selama roh berada dalam tubuh tersebut. Roh adalah sesuatu yang hidup yang tidak berbadan jasmani, berakal, budi, dan perasaan serta yang memberi kehidupan kepada benda wadak (organisma fizik). Jadi, roh adalah yang berjiwa atau hidup dan memberikan kehidupan. Tubuh manusia akan meninggal dunia apabila ditinggalkan roh. Jadi, roh itu memberikan kehidupan sehingga roh itu sering disebut dengan nyawa (Daud, 2004: 25). Setelah manusia meninggal dunia, roh ditempatkan oleh Allah di alam barzah. Roh yang baik akan menerima kebaikan dan roh yang jahat akan menerima siksaan di alam barzah sampai tiba hari kiamat (Arifin, 1977 : 122).

Masyarakat Gayo Lues percaya bahwa roh itu dimasukkan oleh Allah Swt ke dalam tubuh manusia, sehingga manusia dapat beraktivitas dan berkreativitas seperti mendengar, melihat, dan berbicara. Seperti dikemukakan Guru Didong berikut ini:
… Allah membawa roh. Langsung dimasukkan ke ubun-ubun Nabi Adam. Sampai ke mata langsung melihat. Sampai ke hidung langsung mencium. Sampai ke telinga langsung mendengar. Sampai ke mulut langsung berbicara … (Idris Cike, paragraf : 124)

Menurut Labib (1977: 70), roh diberikan oleh Allah Swt kepada Nabi Adam a.s. (manusia asal) setelah jasadnya selesai dibuat dari tanah. Roh diberikan kepada anak cucu Adam pada masa manusia berada dalam alam kandungan. Ada pendapat bahwa roh itu diberikan oleh Allah Swt pada masa usia empat bulan dan ada pula berpendapat pada masa usia empat bulan sepuluh hari (Baihaqi, 1995 : 26). Kemudian roh dicabut oleh Allah Swt jika manusia tidak mampu lagi untuk menerimanya.

2. Hukum dalam Islam
Islam mempunyai dasar yang kuat berkenaan dengan hukum. Dasar hukum Islam difahami oleh masyarakat Gayo Lues adalah sebagai sumber hukum Islam. Hukum Islam adalah ketentuan-ketentuan yang boleh dan yang dilarang di dalam agama Islam. Hukum Islam disebut juga dengan hukum syara’ (Labib MZ, 1993 : 12).

Menurut Rifa’I, (1978 : 17) dalam agama Islam, ada empat dasar hukum Islam. Pertama Al-Quran, kedua hadis, ketiga ijmak dan keempat qias. Al-Quran merupakan firman Allah. Hadis merupakan sunnah rasul. Ijmak adalah kesepakatan para ulama setelah nabi wafat. Qias adalah menghubungkan suatu kejadian yang ada hukumnya dengan peristiwa yang tidak ada hukumnya, karena antara kejadian yang ada hukumnya dengan yang tidak ada hukumnya itu terdapat kesamaan sebab (illat). Sumber hukum Islam yang ditemui di dalam Didong Jalu adalah seperti di bawah ini.

Bagi masyarakat Gayo Lues untuk memahami agama Islam, ada empat dasar yang selalu digunakan sebagai pedoman. Pertama, dasar hukum Al-Quran. Al-Quran merupakan firman Allah Swt yang mengandung petunjuk bagi hamba-Nya untuk menjalankan syariat Islam secara benar. Al-Quran sebagai sumber hukum Islam pertama dan yang utama (Salleh, 1995 : 151). Dalam Al-Quran dijelaskan mana yang boleh dan yang tak boleh dikerjakan (Ramli Penggalangan, paragraf : 93).

Kedua, dasar hukum hadis. Hadis merupakan semua petunjuk yang diberikan Nabi Muhammd Saw dan dirawikan oleh para sahabat nabi. Bagi masyarakat Gayo Lues hadis digunakan sebagai pedoman memahami agama Islam. Ilmu agama yang disampaikan harus memiliki pedoman, supaya apa saja yang kita sampaikan kepada masyarakat dapat menjadi pedoman dan difahami oleh masyarakat secara jelas. Hadis adalah dasar hukum yang kedua yang tidak boleh diabaikan, karena hadis mengandung petunjuk dan penjelasan tentang agama Islam (Ramli Penggalangan, paragraf : 85).

Ketiga, dasar hukum ijmak. Dasar ijmak adalah keputusan para ulama setelah nabi wafat. Setelah Nabi Muhammad Saw wafat hingga sampai hari ini, masih banyak timbul masalah tentang agama. Ulama sebagai khalifah dapat memberikan keputusan untuk sesuatu perkara yang timbul pada pemeluk agama. Jika ada keputusan para ulama, ia harus menjadi pedoman dalam memahami agama Islam (Ramli Penggalangan, paragraf : 99).

Keempat, dasar hukum qias ini digunakan karena tidak semua masalah agama diterangkan secara jelas dalam Al-Quran dan hadis. Jadi, pekara-pekara yang tidak jelas ini selalu dihubungkan dengan pakara yang sudah jelas ketentuan dan hukumnya. Qias juga sebenarnya adalah hasil musyawarah para ulama. Hasil musyawarah ulama ini harus menjadi pedoman untuk memahami agama Islam (Ramli Penggalangan, paragraf : 05).

Menurut Yahya (1988 : 9–10), hukum Islam ada lima perkara; yaitu, wajib, sunnat, haram, makruh, dan harus. Wajib, jika dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan berdosa. Sunat, jika dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa. Haram, jika ditinggalkan berpahala dan dikerjakan berdosa. Makruh, jika dikerjakan tidak berdosa dan ditinggalkan berpahala. Harus, jika dikerjakan tidak berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa.

Menurut Gazalba (1974 : 203), ada lima ukuran dalam agama Islam, yang akan menentukan apakah diterima atau ditolak; yaitu, Pertama, baik (nilai hukumnya wajib), kedua, setengah baik (nilai hukumnya sunat), ketiga, tidak baik dan tidak buruk (nilai hukumnya harus), keempat setengah buruk (nilai hukumnya makruh), dan kelima, buruk (nilai hukumnya haram).

Bagi masyarakat Gayo Lues, kelima-lima hukum dalam Islam ini selalu menjadi pedoman dalam menjalankan perintah dan larangan Allah Swt dalam agama Islam. Kelima-lima hukum Islam dapat diperoleh di dalam Didong Jalu seperti berikut ini.

Hukum Islam pertama adalah haram. Pada masyarakat Gayo Lues ada sekelompok masyarakat yang disebut sebagai cerdik pandai. Seperti dikemukan Ramli Penggalangan, (paragraf: 22) bahwa cerdik pandai ini kelompok masyarakat yang harus memahami haram, karena kelompok tersebut berperanan untuk menentukan ukuran. Ukuran isi seperti satu are (takaran beras atau padi dibuat dari bambu, isi dua liter) berisi empat kal (takaran beras dibuat dari batok kelapa isi setengah liter). Ukuran panjang adalah hasta, satu hasta panjangnya dua jengkal. Hasta berguna untuk mengukur panjang. Genggaman berguna untuk memenuhkan. Pelingkut (alat untuk meratakan takaran, dibuat dari kayu atau rotan) berguna untuk meratakan. Neraca berguna untuk menimbang. Semua alat ukur yang digunakan supaya tidak lebih dan tidak kurang. Jika lebih atau kurang dalam takaran dan timbangan akan menimbulkan haram bagi yang melakukannya.

Hukum Islam kedua adalah makruh. Hukum makruh harus dipahami supaya tidak terjadi perbedaan pendapat tentang makruh. Supaya dapat membedakan antara satu hukum Islam dengan hukum Islam lainnya (Ramli Penggalangan, paragraf : 118).

Hukum Islam ketiga adalah harus. Kelompok masyarakat ulama cerdik pandai harus dapat menetapkan ketentuan hukum. Dalam hukum tidak boleh menimbulkan keragu-raguan. Hukum Islam harus pasti. Jika hukumnya harus, harus tetap harus. Tidak boleh diubah-ubah (Idris Cike, paragraf : 15).

Hukum Islam keempat adalah wajib. Bagi masyarakat Gayo Lues memegang teguh hukum Islam wajib. Masyarakat Gayo Lues meyakini jika ibadah wajib ditinggalkan akan mendapat dosa dan dikerjakan akan mendapat pahala (Ramli Penggalangan, paragraf : 95).

Hukum Islam kelima adalah sunat. Ibadah sunat rasul dikerjakan karena masyarakat Gayo Lues meyakini jika dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa, sehingga masyarakat Gayo Lues melaksanakan ibadah sunat di dalam kehidupan sehari-hari, karena akan dapat menambah pahala (Idris Cike, paragraf : 31).

3. Amalan dalam Islam
Bagi masyarakat Gayo Lues amalan adalah semua perbuatan yang baik di dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Arbak Othman (1999 : 12) amalan adalah perbuatan baik yang sesuai dengan tuntunan agama. Dalam agama Islam, amalan merupakan sesuatu yang utama. Memahami agama Islam tanpa diamalkan tidak akan berarti apa-apa. Amalan yang diterima oleh Allah Swt adalah amalan yang dikerjakan secara ikhlas. Bagi masyarakat Gayo Lues apa saja yang dilakukan dalam kebaikan merupakan amalan kepada Allah Swt dan diyakini semua perbuatan baik sebagai amalan akan mendapat pahala bagi yang melaksanakannya. Oleh karena itu, semua pengabdian akan bermanfaat dan menjadi amalan (Idris Cike, paragraf : 152).

Manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki segala kelemahan, keterbatasan, dan kesilapan, maka manusia selalu melakukan kesalahan-kesalahan antara sesama manusia di dalam kehidupan. Misalnya, salah ucap atau salah dengar. Oleh karena itu, manusia harus saling memaafkan, supaya tidak merusak amalan yang baik dan dapat menimbulkan perasaan senang hati sesama manusia serta tidak berdosa kepada Allah. Seperti yang diceritakan Guru Didong berikut ini:
Sahabatku sudah mohon maaf kepada diriku. Diriku pun akan mohon maaf kepada dirimu. Didong kita sudah selesai. Mungkin ada saya yang salah berbicara, dirimu salah dengar atau diriku salah dengar dan sahabatku salah berbicara. Oleh karena itu, saya mohon maaf kepada dirimu, supaya tidak menjadi penghalang amalan baik yang sudah saya kerjakan. Diriku memiliki sifat yang sering silap dan lupa. Supaya jangan salah kepada ayah, ibu dan masyarakat serta tidak berdosa kepada Allah (Idris Cike, paragraf : 162).

Berdasarkan faham orang Gayo Lues, Idil Fitri hari raya umat Islam yang disambut pada setiap tanggal 1 Syawal, setelah melaksanakan ibadah puasa pada setiap tahun. Idil Fitri disambut, karena bagi umat Islam telah selamat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan; yaitu, ibadah yang dapat menghapuskan dosa-dosa, kecuali dosa syirik. Oleh karena itu, Idil Fitri disambut umat Islam untuk saling bermaafan.

Bagi masyarakat Gayo Lues juga Idil Fitri selalu dimanfaatkan untuk saling memaafkan. Bertujuan untuk menghapuskan segala dosa antara sesama manusia yang pernah terjadi pada masa yang lalu. Kemudian juga masyarakat Gayo Lues meyakini dalam menjalankan ibadah puasa telah dapat menghapuskan dosa kepada Allah Swt. Untuk menghapuskan dosa antara sesama manusia harus saling memaafkan, terutama pada Idil Fitri (Idris Cike, paragraf : 139).

Pada masyarakat Gayo Lues, doa diartikan sebagai permintaan atau permohonn kepada Allah Swt bertujuan untuk menghapuskan dosa-dosa yang ada, akibat perbuatan yang dikerjakan tidak sesuai dengan perintah agama Islam dan memohon kepada Allah Swt agar memberikan sesuatu, seperti kesehatan, rezeki, kemudahan, dan lain-lain. Di dalam Didong Jalu ini doa yang disampaikan oleh Guru Didong supaya selesai acara perkawinan seperti berikut ini:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyanyang. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Pertama selesai, kedua selesai, ketiga selesai, keempat selesai, kelima selesai, keenam selesai, ketujuh selesailah pesta. Jika ada pun hajatan, pihak tuan rumah, sudah dipenuhi. Ke langit tidak berpucuk, ke bumi tidak berakar (Ramli Penggalangan paragraf : 46).

Kemudian pada bagian yang lain Guru Didong Idris Cike (paragraf : 13) menjelaskan bahwa orang tua mendoakan kita, supaya kita selamat dalam kehidupan di dunia dan selamat dalam kehidupan di akhirat. Bagi masyarakat Gayo Lues doa orang tua sangat dipercayai akan membawa pengaruh yang baik kepada kehidupan anak-anaknya.

4. Dosa dan Taubat
Dosa adalah ganjaran atau balasan perbuatan yang salah atau melanggar hukum-hukum Islam dan ketentuan-ketentuan di dalam agama Islam. Taubat adalah kembali ke jalan Allah atau kembali kepada hukum-hukum Islam dan ketentuan-ketentuan agama. Dalam Didong Jalu ditemui tentang dosa dan taubat.

Masyarakat Gayo Lues menyakini bahwa semua perbuatan yang salah akan mendapat dosa dari Allah Swt. Guru Didong Idris Cike menceritakan agar semua yang dikerjakan harus berpedoman kepada Al-Quran, hadis, ijmak, dan qias supaya tidak berdosa kepada Allah Swt seperti berikut ini:
…Jika pertanyaan agama harus berpedoman kepada Al-Quran, hadis, ijmak dan qias. Jika masalah adat harus berpedoman kepada dasar pemikiran, peraturan, kebiasaan, dan petunjuk raja. Supaya tidak berdosa kepada Allah, supaya tidak menjadi hujatan masyarakat yang hadir di tempat persembahan ini… (Idris Cike, paragraf : 08).

Masyarakat Gayo Lues juga menyakini bahwa manusia memiliki sifat keterbatasan dan kelemahan, sehingga sering melakukan kesalahan dan kekeliruan yang dapat menimbulkan dosa. Dosa dapat dihapuskan dengan jalan bertaubat kepada Allah dan akan diampuni oleh Allah Swt (kecuali dosa besar, syirik) dengan ketentuan, tidak akan mengulangi lagi. Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf : 05) menceritakan, jika kita bersalah harus bertaubat, supaya selamat hidup di dunia dan di akhirat.
5. Alam Akhirat
Masyarakat Gayo Lues menyakini bahwa alam terbagi kepada empat bagian; yaitu, alam kandungan, alam dunia, alam kubur (barzah), dan alam akhirat. Alam akhirat atau alam baka terjadi setelah alam barzah. Pada alam akhirat ditemui dua tempat; yaitu, surga dan neraka. Surga adalah tempat bagi orang-orang yang beramal baik dan meninggalkan larangan Allah Swt pada masa hidup di dunia. Neraka adalah tempat bagi orang-orang yang ingkar kepada Allah Swt pada masa hidup di dunia. Alam akhirat adalah alam yang terakhir dan kekal untuk selama-lamanya (Umar, 1980 : 22).

Di dalam Didong Jalu ini tidak dijelaskan alam akhirat secara terperinci, tetapi dalam Didong Jalu ini dijelaskan pada masa hidup di dunia supaya menjalankan agama Islam harus berpedoman kepada al-Quran, hadis, ijmak, dan qias, supaya selamat di dalam alam akhirat (Ramli Penggalangan, paragraf : 156).

Masyarakat Gayo Lues menyakini bahwa semua perbuatan yang salah akan menjadi beban di alam akhirat. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Antara saya dengan dirimu, mungkin ada yang kurang menyenangkan perasaan, saya mohon kepada dirimu untuk saling memaafkan. Supaya jangan menjadi beban kita nanti di alam akhirat. Saat ini saya memohon maafmu, pada malam yang berbahagia ini (Idris Cike, paragraf : 160).

Pada cerita Didong Jalu ini hanya ditemui alam syurga saja. Masyarakat Gayo Lues meyakini adanya syurga, seperti diceritakan Guru Didong bahwa tanah asal untuk muka Nabi Adam a.s. berasal dari tanah surga (Idris Cike, paragraf : 148).

III. Kesimpulan
Setelah dilakukan kajian pemikiran tentang agama Islam di dalam Didong Jalu, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Pertama, masyarakat Gayo Lues meyakini bahwa Allah Swt sebagai pencipta alam dan seluruh isinya. Allah adalah sumber segala kehidupan. Kedua, Rasul (Nabi Muhammad) merupakan tuntunan bagi masyarakat Gayo Lues dalam melaksanakan ibadah Islam. Ketiga, masyarakat Gayo Lues meyakini ada malaikat-malaikat yang bertugas sesuai dengan perintah Allah Swt. Keempat, roh diyakini masyarakat Gayo Lues diberikan oleh Allah Swt kepada Nabi Adam a.s. Kelima, masyarakat Gayo Lues menyakini ada empat dasar untuk menentukan hukum Islam. Dasar-dasar hukum Islam; yaitu, Al-Quran, hadis, ijmak, dan qias. Dalam Islam ada lima hukum Islam yang menjadi pedoman untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan agama Islam. Hukum Islam adalah wajib, sunat, harus, makruh, dan haram. Keenam, masyarakat Gayo Lues meyakini bahwa agama Islam tidak berarti apa-apa, jika tidak diamalkan secara ikhlas. Amalan yang tergambar dalam Didong Jalu adalah pada saat Idil Fitri harus saling memaafkan dan doa adalah untuk memohon keampunan kepada Allah Swt serta memohonkan kemudahan dari-Nya. Ketujuh, alam akhirat diyakini masyarakat Gayo Lues akan ada setelah alam dunia ini. Dalam alam akhirat ada surga, tempat bagi hamba Allah yang menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Daftar Bacaan

Al Ghazali, Muhammad.1997. Akhlak Seorang Muslim. Slangor: Thinker’s Library Sdn. Bhd.
Ara, L.K.1995. Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”. Jakarta:Yayasan
Nusantara
Arifin, Bey. 1977. Hidup Sesudah Meninggal Dunia. Singapura: Pustaka Nasional.
AS, M. Abdul Mujieb. 1986. Lubabun Nuzul fi Asbabun Nuzul. Rembang: Darul Ihya.
Azyumardi, Azra dkk. 2003. Ensiklopedi Islam I. Jakart: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Azyumardi, Azra dkk. 2003. Ensiklopedi Islam IV. Jakart: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Daud, Haron. 2001. Mantera Malayu Analisis Pemikiran. Pulau Pinang:Universiti Sains
Malaysia.
Daud, Haron. 2004. “Kesusastraan Sebagai Sumber Ilmu”.Dalam Jelani Harun. Ilmu Kesusasteraan Abad Ke-21. Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia.
Gazalba, Sidi. 1974. Sistematika Falsafah. Kuala Lumpur. Utusan Melayu
Berhad.
Hanafiah, Sulaiman.1984. Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hamka. 1999. Tafsir Al Azhar IX. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD.
Hauser, Arnold. 1982. The Sosiology of Art. London: The Universiti of Chicago Press.
Jakob Sumarjo. 1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
Nusantara.
Labib, Muhammad .1977. Hari Akhirat. Singapura: Pustaka Nasional.
Ma’shum Tanpa Tahun. Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul. Jakarta: Bintang Fajar.
Melalatoa, M.J.1985. Kamus Bahasa Gayo – Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
MZ, Labib. 1993. Risalah Solat Lengkap, Disertai Doa, Zikir dan Wirid. Surabaya:
Tiga Dua.
MZ, Labib .Tanpa Tahun. Penciptaan Nur Muhammad Sebelum Kejadian Makhluk. Surabaya: Bintang Usaha Jaya.
Othman, Arbak.1999. Kamus Bahasa Melayu. Shah Alam: Fajar Bakti Sdn. Bhd.
Rifa’I, Moh.1978. Ilmu Fiqih Islam Lengkap. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Salleh, Ahmad B. Muhammad.1995. Pendidikan Islam. Kuala Lumpur: Fajar Bakti Sdn.
Sujitno, Sutejo.1995. Aceh Masa Lalu, Kini dan Masa Depan. Banda Aceh: Sekretariat Gubernur Daerah Istimewa Aceh.
Syukur, Abdul. 2001. Rahasia Hidup Setelah Meninggal dunia. Kuala Lumpur: Jasmin
Enterprise.
Taslim, Noriah. Tanpa Tahun. “Bengkel Kajian Naskah Kesustraan Melayu III”. Alor Setar: Anjuraan Dewan Bahasa dan Pustaka.
Umar, M. Ali Chasan.1980. Alam Kubur (Barzah). Singapore: Alharamain PTE LTD.
Yahya, Habib Usman.1988. Awaluddin Sifat Duapuluh. Jakarta: S.A. Alaydrus.
Warton, Thomas. 1974. History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago
Press.

Isma Tantawi

Isma Tantawi lahir pada tanggal 7 Februari 1960 di Kuning Aceh Tenggara (sekarang Kabupaten Gayo Lues). Beliau adalah staf pengajar tetap di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara mengasuh mata kuliah Sastra Bandingan, Estetika, dan Sastra Malaysia Modern serta mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan sebagai dosen tamu di Kolej Sentral Kuala Limpur, Malaysia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (FS USU) tahun 1986 dan pendidikan master (S-2) di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia (PPIK USM) tahun 2006 dengan bidang kajian tradisi lisan nusantara. Di samping itu juga beliau aktif mengikuti seminar nasional dan internasional baik sebagai peserta maupun pemakalah.

Source: http://ismatantawi.blogspot.com/2009/05/didong-gayo-lues-analisis-pemikiran.html

Oleh: Isma Tantawi*

Abstract
The objective of this study is to determine and analyze the thinking of Gayo Lues community on the cosmos in the Didong Jalu. The data in this research is analyzed based on both observation and documentation methods. The theoretical base used in this research is relied on literature sociological theoery suggested by Thomas Warton (1974) that literature work is considered to be expression of art and social document. The result of this study shows that Didong Jalu contains the thought of the Gayo Lues community regarding encompasses matters such as the universe, flora, fauna and tools used by the community

Key Words: Thinking, Gayo Lues community, cosmos, and Didong jalu

I. Pendahuluan

Didong sebagai tradisi lisan atau oral tradition (folklore) sudah berkembang sejak masuknya agama Islam di dataran tinggi Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia (Ara, 1995 : 639). Agama Islam masuk ke Aceh pada abad ke-7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad Saw. wafat (Sujitno, 1995 : 71). Dalam Didong, sejak awal sampai saat ini nafas dan nuansa keislaman tetap bertahan. Bahkan Didong merupakan media dakwah untuk menyampaikan dan menyebarkan amanat keagamaan kepada masyarakat di samping menyampaikan pesan budaya suku Gayo itu sendiri.

Didong merupakan tradisi lisan suku Gayo sudah berakar dalam kehidupan masyarakatnya. Persembahan Didong diadakan pada pesta suka (pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru (ustad atau ustajah yang mengajari agama Islam), pesta sunat rasul, dan pesta perkawinan) saja. Dalam Didong, diceritakan tentang kebudayaan suku Gayo, agama Islam (orang suku Gayo secara keseluruhan menganut agama Islam) dan masalah-masalah yang aktual, seperti peristiwa daerah, peristiwa nasional, dan peristiwa internasional.

Kata Didong, berasal dari bahasa Gayo, yaitu: dari akar kata dik dan dong. Dik, artinya menghentakkan kaki ke papan yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian dong, artinya berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata Didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu digunakan untuk menyelingi persembahan Didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, Didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua Guru Didong yang berasal dari dua kampung yang berbeda. Persembahan dimulai setelah shalat Isa sampai sebelum salat Subuh (Melalatoa, 1985 : 71).

Kata Didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu: Asal-usul Gajah Putih yang dikumpulkan oleh Hanafiah (1984 : 140 – 149). Gajah Putih merupakan penjelmaan dari seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke Istana Raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan oleh raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan. Gajah putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sehingga menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun demikian, ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampailah ke Istana Raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut dijadikan dan digunakan pada masa merasa gembira atau pada masa menyampaikan amanat dan nasihat kepada anak, teman, masyarakat atau kepada siapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan tradisi lisan Didong Gayo.

Didong Gayo dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, Didong Gayo Lues. Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Gayo Lues pada umumnya berbentuk prosa (bebas) dan hanya pada bagian tertentu saja yang disampaikan berbentuk puisi (terikat) seperti pantun. Isi cerita di dalam Didong Gayo Lues berhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Kedua, Didong Lut (Laut). Didong Lut berkembang di Kabupaten Aceh Tengah. Didong Lut berbentuk puisi (terikat). Isi Didong Lut tidak berhubungan secara langsung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Lut seperti puisi yang dinyanyikan dan setiap puisi memiliki makna masing-masing.

Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam; yaitu, Didong Alo (Didong penyambutan tamu), yaitu: Didong dipersembahkan untuk menyambut tamu. Pemain Didong Alo berjumlah lebih kurang 10 orang dari pihak tuan rumah dan 10 orang dari pihak tamu. Didong Alo dipersembahkan sambil berlari arah ke kiri atau ke kanan. Didong Alo berisi tentang ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Begitu juga dari pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan dan sudah selamat di perjalanan sehingga dapat selamat sampai ke tempat tuan rumah.

Didong Jalu (Didong Laga), yaitu Didong dipersembahkan pada malam hari oleh dua orang Guru Didong yang diundang dari dua kampung yang berbeda. Setiap Guru Didong didampingi oleh pengiring yang berjumlah 10 sampai 20 orang. Pengiring berfungsi untuk mendukung persembahan. Pada bagian tertentu (adini Didong) cerita Didong disambut oleh pengiring sambil bertepuk tangan serta menggerakkan badan ke muka dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan.

Didong Niet (Didong Niat) selalu dipersembahkan berdasarkan niat seseorang. Misalnya niat seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau berkeinginan punya anak lelaki atau perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka Didong Niet ini pun dipersembahkan. Didong Niet ini mengkisahkan tentang anak yang diniatkan. Cerita dimulai dari awal pertemuan kedua orang tuanya. Kemudian pertemuan itu direstui serta dilanjutkan kepada jenjang peminangan dan pernikahan. Seterusnya cerita mengenai perkembangan bayi di dalam kandungan dan sampai bayi lahir ke dunia. Setelah itu cerita diteruskan ke pesta ayunan (turun mani) pemberian nama dihubungkan dengan hari kelahiran, agama (agama Islam), dan nama-nama keluarga seperti nama orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain.

Cerita Didong yang menjadi objek penelitian ini adalah cerita Didong Jalu yang dipersembahkan oleh Guru Didong Ramli dan Idris di Medan pada tanggal 11 dan 12 Desember 2004. Persembahan dimulai pukul 21.45 dan berakhir pada pukul 04.30 WIB.

II. Pemikiran Alam dalam Didong Jalu
Menurut Abdullah (1999: 1) istilah kosmos berasal dari bahasa Greek yang berarti alam semesta dan dunia yang teratur. Oleh karena itu, kosmos atau alam, dapat diartikan sebagai alam dan keteraturannya, bukan kacau-balau (chaos).

Kosmos atau alam merupakan salah satu objek pengarang untuk menciptakan karya sastra. Pengarang selalu mengarang dengan metode campuran; yaitu, mencampurkan imajinasi dengan realitas, menggabungkan khayalan dengan kenyataan. Semua karya merupakan hasil kreativitas dan aktivitas. Menurut Satyagraha, (1984: 100), pengarang menciptakan hal yang baru, dari tidak ada menjadi ada. Karya sastra merupakan gambaran kenyataan yang ada dalam kehidupan yang nyata. Pengarang memberikan reaksi kepada kehidupan dan fakta baru yang tergambar dalam karya sastra. Jadi, karya sastra merupakan campuran antara khayalan dengan fakta, yang sudah diolah oleh pengarang, ( Yunus, 1981: 108).

Menurut Atmazaki, (1990: 41), karya sastra adalah dunia fiksi yang berasal dari kenyataan. Tidak ada karya sastra yang sepenuhnya meniru kenyataan, di samping itu juga tidak ada yang sepenuhnya fiksi. Apabila karya sastra sepenuhnya kenyataan maka ia akan berubah menjadi karya sejarah dan apabila sepenuhnya fiksi, tidak akan ada seorang pun yang dapat memahaminya.

Di dalam tradisi lisan Didong Jalu, alam digunakan Guru Didong untuk menyampaikan amanat kepada pembacanya. Pengungkapan alam di dalam Didong Jalu yang berhubungan dengan alam semesta, alam flora, alam fauna, dan peralatan yang digunakan masyarakat Gayo Lues. Guru Didong menggunakan hal-hal yang berhubungan dengan kosmos. Penggunaan kosmos di dalam Didong Jalu sangat berpengaruh dalam penceritaan dan sangat bermakna dalam menyampaikan amanat kepada penonton persembahan Didong Jalu.

1. Alam Semesta
Alam adalah ciptaan Allah. Allah sebagai Maha Pencipta yang tidak berawal dan tidak berakhir. Adanya alam karena adanya Allah. Jadi, alam ada permulaan dan ada akhir. Allah Pencipta yang abadi sedangkan alam adalah hanya ciptaan dari yang abadi; yaitu, Allah Swt.

Dalam Islam diyakini, Allah yang Maha Kuasa telah mencipta alam ini. Dia tidak memerlukan bantuan dan dukungan pihak lain dalam penciptaan itu. Dengan sifat kesempurnaan Allah Swt. menciptakan alam dan seluruh isinya dengan begitu teratur dan rapi, (Dawamy, 1999: 34).

Menurut Hossein, (1993: 37), alam semesta adalah semua wujud material dan rohaniah. Jadi, alam semesta adalah alam yang terbatas pada benda yang dikenal dan dapat diraba oleh pancaindra manusia. Alam semesta ini benda-benda yang nyata, seperti gunung-gunang yang dapat didaki, bentangan tanah yang dapat dikerjakan, hutan-hutan yang dapat dijelajahi, sungai-sungai yang dapat dikenali, laut-laut yang dapat dilayari, dan tempat-tempat yang dapat dikunjungi, (Sastraprateja, 1983: 38).

Alam semesta yang dimaksudkan merangkumi dunia, bumi, langit, matahari, tanah, air, batu, laut, sungai, angin, barat, utara, selatan, pulau, dan nama-nama tempat. Sesuai dengan pendapat Daud, (2001: 10) alam adalah bumi dan langit termasuk seluruh isinya. Alam sebagai ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, merupakan tempat bagi manusia untuk mengabdi kepada Allah Swt.

a. Dunia Sebagai Pentas Kehidupan
Bagi masyarakat Gayo Lues, dunia merupakan tempat mengabdi kepada Allah. Semua perkerjaan yang baik di dunia merupakan amalan untuk menuju alam akhirat. Manusia harus menjaga hubungan dengan Allah (hablumminallah) yang diwujudkan dengan amalan-amalan, baik wajib maupun sunat. Kemudian hubungan manusia dengan manusia (hablumminannas) yang diwujudkan dengan menjaga hubungan baik sesama manusia. Seperti yang diceritakan oleh Guru Didong Ramli, (paragraf: 111) kita harus memohon maaf dan saling memaafkan sesama manusia supaya selamat hidup di dunia dan akhirat.

Pada bagian lain Guru Didong Ramli, (paragraf: 156), menceritakan manusia hidup di alam dunia akan menuju alam akhirat. Pada masa hidup di dunia harus berpegang teguh kepada agama Islam dan dalam melaksanakan ajaran agama Islam harus berpanduan kepada Al-Quran, hadis, ijmak, dan qias serta membaca buku dan bertanya kepada orang yang memahami tentang agama Islam supaya selamat hidup di dunia dan akhirat.

b. Bumi dan Langit
Menurut Arabi, ( 1999: 30), bumi dan langit merupakan tempat ciptaan dan rahasia Allah. Bumi ialah planet tempat mahkluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Langit ialah ruangan yang luas dan terbentang di atas bumi, tempat beradanya bulan, bintang, dan matahari. Pemikiran tentang bumi dan langit ternyata ada dalam Didong Jalu yang diperlihatkan oleh Guru Didong dari beberapa aspek.
Pertama, bumi dan langit sebagai ciptaan Allah Swt. dan bukti kebesaran Allah, sehingga Guru Didong menyampaikan mohon maaf kepada langit dan bumi. Seperti yang diceritakan Guru Didong berikut ini:
Maaf langit yang kujunjung sampai ke lapisan yang ke tujuh. Maaf bumi yang sekeliling yang kami duduki sampai ke batu lapisan yang paling bawah, demi Tuhan Yang Maha Pencipta, (Ramli , paragraf: 18).

Kedua, langit dan bumi digunakan Guru Didong sebagai lambang kehormatan, bagi seseorang untuk memohon maaf kepada kedua ibu bapak. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:
Mohon maaf kepada langit yang saya junjung, saya berharap sampai ke lapisan yang paling atas. Mohon maaf kepada bumi yang dipijak, saya mohonkan sampai kepada lapisan yang paling bawah, yang layak untuk ayah dan ibu, (Idris, paragraf: 11).

Ketiga, bumi dan langit bagi masyarakat Gayo Lues digunakan sebagai lambang kebahagiaan di dalam kehidupan. Guru Didong Idris (paragraf: 41) mengatakan, karena keinginan untuk mempunyai anak sudah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Maka seperti makin tinggi langit yang dijunjung dan makin luas bumi yang dipijak. Ini bermakna kebahagiaan di dalam kehidupan keluarga sudah diberi keturunan oleh Allah Swt.

Keempat, bumi dan langit berada pada tempat yang berbeda. Bumi terdapat di bagian bawah dan langit di bagian atas. Bagi masyarakat Gayo Lues hal ini mengandung makna bahwa, langit sebagai hubungan dengan Allah Swt. dan bumi sebagai hubungan dengan manusia. Seperti diceritakan Guru Didong Ramli , (paragraf : 46) setelah diadakan persembahan Didong Jalu untuk memenuhi niat yang pernah diucapkan oleh kedua ibu bapak. Supaya ke langit tidak berpucuk dan ke bumi tidak berakar. Artinya persembahan Didong Jalu ini bertujuan untuk menyelesaikan kewajipan kepada Allah dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Kelima, bagi orang tua (ibu dan bapak) masyarakat Gayo Lues, perpisahan seorang anak dengan kedua ibu bapak dianggap sebagai kehancuran bumi dan langit, walaupun perpisahan itu hanya bersifat sementara. Jika anak akan pergi, mencari ilmu atau mencari keperluan lainnya, kedua ibu bapak sangat merasa sedih dan selalu memberikan nasihat yang berulang-ulang. Kedua ibu bapak sangat khawatir terhadap kepergian anaknya, (Idris , paragraf: 51).

c. Matahari
Menurut Arabi, (1999: 28), Allah Swt. menciptakan matahari di langit seperti lampu yang menerangi penghuni bumi. Bagi masyarakat Gayo Lues matahari dilambangkan sebagai tanda-tanda alam. Setelah malam akan ada siang dan sebaliknya setelah siang akan ada malam atau setelah gelap akan ada terang dan setelah terang akan ada gelap. Dalam Didong Jalu kedua-dua Guru Didong menyebutkan matahari yang memberikan sinar terang. Setelah malam, mata hari akan menampakkan sinarnya, (Idris, paragraf: 94). Hari pun sudah lewat tengah malam, matahari pun akan segera bersinar (Ramli , paragraf: 104).

d. Tanah

Masyarakat Gayo mempercayai bahwa manusia yang pertama Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Allah s.w.t dari tanah. Sesuai dengan firman Allah Swt. pada surat al- Hijr ayat 26, terjemahan Junus, (1984: 238), artinya sesungguhnya telah diciptakan manusia dari tanah kering yang hitam. Kemudian menurut Selamat, (2000: 3), Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah adalah sebagai lambang ketenangan, sabar, teguh, dan pemaaf. Tanah juga adalah tempat tumbuh dan berkembang semua makhluk hidup di atas alam. Kemudian Guru Didong menceritakan bahwa Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah oleh Allah, (Ramli, paragraf: 144).

Kemudian masyarakat Gayo Lues mempercayai bahwa bagian-bagian tubuh Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah yang berbeda asalnya. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Kepalanya dari tanah Baitul Maqdis, mukanya dari tanah syurga, pinggangnya dari tanah Iraq, auratnya dari tanah Babilon… (Idris, paragraf: 148).

e. Air dan Angin
Dalam Didong Jalu Gayo Lues air menjadi lambang pada dua masalah saja. Pertama, air digunakan Guru Didong sebagai gambaran kebesaran kekuasaan Allah Swt. yang tidak pernah dapat dikuasai oleh manusia. Menurut Djapri, (1985: 19) telah banyak dilahirkan teori-teori tentang kejadian alam ini, namun semuanya belumlah dapat mengungkapkan rahasia alam ini dan belum memberikan kepuasan kepada hasrat ingin tahu manusia. Masyarakat Gayo Lues beranggapan, walaupun dua per tiga dari alam ini adalah lautan, namun tidak akan cukup air untuk menjadi tinta jika semua persoalan di atas dunia ini dituliskan, (Idris, paragraf: 68).

Kedua, dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat selalu akan terjadi perbedaan pendapat dan kadang-kadang menjadi selisih faham yang dapat menimbulkan rasa sakit hati. Untuk menghilangkan rasa sakit hati dapat dilakukan dengan memohon maaf dan diumpamakan semua kesalahan dapat dihanyutkan ke air dan dilepaskan ke angin, (Ramli, paragraf: 163).

f. Rumput, Ranting, Kayu, dan Batu
Allah sebagai Maha Pencipta telah mencipta semua alam dan isinya. Masyarakat Gayo Lues yakin bahwa semua benda yang ada dalam alam ini merupakan ciptaan Allah. Tidak ada satu benda pun yang terlepas dari kekuasaan Allah. Guru Didong menceritakan rumput, ranting, kayu, dan batu semuanya sebagai ciptaan Allah (Ramli, paragraf: 102).

g. Nama-Nama Tempat
Nama-nama tempat yang diceritakan Guru Didong ada lima macam. Pertama, pada masyarakat Gayo Lues, satu kampung terdiri dari empat bagian (dewal opat). Seperti diceritakan Ramli (paragraf, 19) ; yaitu, segi hulu, segi hilir, segi atas, dan segi bawah. Keempat-empat tempat tersebut ditempati masing-masing oleh masyarakat, orang tua, cerdik pandai, dan raja.

Kedua, bagi masyarkat Gayo Lues dalam melaksanakan pesta ada tiga ruangan yang disediakan. Setiap ruangan diduduki oleh orang yang berbeda dan tugas yang berbeda pula seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
…saya teringat kepada ruangan-ruangan yang tiga. Itu pun jelas dan terang gunanya masing-masing. Pertama ruangan pendehren, kedua ruangan pendahrindan ketiga ruangan kekasihen. Ruangan pendehren berfungsi untuk tempat periuk, kuali, sendok, piring, dan peralatan memasak. Ruangan pendahrin untuk tempat tamu yang diundang secara tertulis atau lisan, maupun langsung atau tidak langsung. Ruangan kekasihan untuk tempat raja atau pimpinan secara bersama-sama untuk menyelesaikan apabila ada masalah yang timbul, (Ramli: 23).

Ketiga, Guru Didong menceritakan nama tempat sebagai perumpamaan perbedaan pendapat. Nama-nama tempat yang dibentangkan seperti Takengon dengan Ise-Ise dan Lumut dengan Linge. Takengon dengan Ise-Ise dan Lumut dengan Linge masing-masing dua tempat yang arah berbeda atau berlawanan. Tempat yang berbeda ini digunakan Guru Didong bagi menunjukkan perbedaan pendapat. Seperti dikemukakan Guru Didong berikut ini:
… Jangan satu arah ke Takengon satu lagi arah ke Ise-ise. Jika persoalan adat, supaya kalian benar-benar membincangkan adat. Begitu juga kalau masalah agama harus benar-benar pula membincangkan agama…,(Ramli: 05).

Keempat, Guru Didong menceritakan nama-nama tempat yang dilalui dan memiliki pengalaman sendiri. Pengalaman itu berhubungan dengan ketinggian jalan gunung Gurah (nama gunung di Kabupaten Gayo Lues) dan kecuraman jalan Ketame (nama tempat di Kabupaten Gayo Lues) yang dilalui. Seperti diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:
… Terlalu tinggi gunung Gurah yang sudah kita daki. Terlalu curam turunan Ketame kita turuni. Terlalu panjang jalan yang sudah kita lalui…, (Idris, paragraf: 30).

Kelima, Guru Didong menceritakan nama tempat asal tanah untuk tubuh Nabi Adam a.s. Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Allah Swt. dari tanah yang berasal dari tempat yang berbeda. Nama tempat yang diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:
… Tanah asal tubuh Nabi Adam ada dari Barat ada dari Timur, ada dari Utara ada dari Selatan. Supaya lebih jelas dan lebih terang. Kepalanya dari tanah Baitul Maqdis, mukanya dari tanah Syurga, pinggangnya dari tanah Irak, auratnya dari tanah Babilon…, (Idris, paragraf 148).

6.2 Alam Flora
Menurut pemikiraan masyarakat Gayo Lues, alam flora atau alam tumbuhan digunakan sebagai simbol atau lambang dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kata pohon dadap untuk mengungkapkan tempat melepaskan nafsu berahi. Daun pandan hutan untuk penghargaan kepada seorang perempuan yang dikasihi. Oleh karena itu, Guru Didong pun menggunakan tumbuhan untuk mengungkapkan pemikiran-pemikirannya. Alam tumbuhan yang ditemui di dalam cerita Didong Jalu seperti sirih, pinang, randu hutan, nangka, cempedak, cabe merah, rimbang hutan, rumput, renggali, nilam, tembakau, kelapa, tebu, dan kopi.

i) Sirih Pinang
Pada masyarakat Gayo Lues, undangan disampaikan melalui sirih pinang. Sirih pinang digunakan karena sirih pinang merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat Gayo Lues, terutama orang tua, baik laki-laki maupun atau perempuan. Sirih pinang bukan hanya menjadi makanan kegemaran, tetapi dapat menimbulkan keakraban di antara anggota masyarakat Gayo Lues. Oleh karena itu, sirih pinang digunakan untuk menyampaikan undangan di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues.

Setelah memberikan sirih pinang kepada orang yang diundang, disampaikan secara lisan tentang tujuan pemberian sirih pinang tersebut. Sirih pinang diberikan sebagai tanda penghargaan dan untuk bukti undangan tersebut sudah sampai dan sudah diterima, (Ramli, paragraf: 02).

Selain menjadi alat untuk mengundang, sirih pinang juga digunakan untuk menyampaikan risikan peminangan terhadap seorang anak dara. Sirih pinang disampaikan oleh pihak lelaki kepada pihak perempuan. Jika pinangan diterima, kiriman akan dibalas kembali dengan sirih pinang pula. Jika lamaran ditolak akan dikembalikan tempat sirih pinang (sumpit dan tepak) dalam keadaan kosong. Pengembalian tempat sirih pinang secara kosong sebagai tanda tidak ada sambutan dari pihak perempuan.

Biasanya pinangan ini ditolak disebabkan beberapa hal; yaitu, pertama, sang dara sudah ada yang memilikinya. Kedua, sang dara tidak setuju dengan jejaka yang meminangnya. Ketiga, pihak keluarga sang dara tidak setuju dengan pihak keluarga jejaka karena alasan tertentu. Misalnya, keturunan kurang baik, jejaka kurang bertanggungjawab dan lain-lain,

ii) Randu Hutan
Masyarakat Gayo Lues percaya bahwa pohon randu adalah pohon yang paling lembut dan mudah patah, busuk, dan mati, lebih-lebih lagi pohon randu yang tumbuh di hutan. Pohon randu yang tumbuh di hutan lebih mudah patah, busuk, dan mati dibandingkan dengan yang tumbuh di tempat lain. Batang pohon randu adalah pohon yang tidak berguna (kecuali kapasnya untuk bantal atau tilam) di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Pohon randu tidak dapat digunakan sebagai kayu bakar, untuk membangun jembatan, dan dijadikan papan. Pohon randu untuk kayu bakar kurang baik dimakan api.

Keadaan pohon randu yang lembut, mudah patah, dan busuk menjadikan pohon randu menjadi lambang kelemahan dan ketidakmampuan. Oleh karena itu, Guru Didong pun menggunakan pohon randu sebagai perumpamaan untuk menyatakan kelemahan atau ketidakmampuan seseorang. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Inilah benda, inilah wujudnya. Kebanggaan kami ini jangan ditakut-takuti, usia masih muda belia, hanya badannya seperti pohon randu hutan, tidak berakal dan tidak berfikiran, (Ramli, paragraf: 04).

iii) Nangka dan Cempedak
Bagi masyarakat Gayo Lues pohon nangka dan cempedak merupakan pohon yang sejenis, cuma yang berbeda adalah isi dan rasa buahnya. Namun hakikatnya dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues pohon nangka lebih mulia dan lebih berharga dibandingkan dengan pohon cempedak. Oleh karena itu, Guru Didong untuk mengungkapkan pemikiran-pemikirannya menggunakan pohon nangka sebagai yang utama dan pohon cempedak sebagai pelengkap saja. Hal ini mengambarkan bahwa kedudukan atau keperluan seseorang dalam masyarakat selalu berbeda. Perbedaan ini timbul karena kelebihan dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Sedang diajak dari kanan, sedang dipengaruhi dari kiri, sedang dirayu-rayu. Seandainya adapun nanti jangan terlalu berpuas hati dan begitu juga kalau tidak adapun jangan terlalu kecewa. Kalau tak ada nangka, boleh cempedak, dari tidak ada lebih baik ada, (Idris, paragraf: 06).

iv) Cabe Merah dan Rimbang Hutan
Menurut pemahaman masyarakat Gayo Lues, cabe merah berasa pedas dan rimbang hutan dengan berasa pahit. Cabe merah yang berasa pedas menggambarkan budi bahasa yang tidak baik, tidak pandai menjaga perasaan orang lain dan akan menimbulkan rasa sakit hati bagi setiap orang yang mendengar perkataannya. Rimbang hutan yang berasa pahit digunakan menggambarkan tingkah laku yang tidak baik, seperti suka bergaduh, mencuri, menipu, dan memfitnah. Kemudian di dalam Didong Jalu Idiris Cike, (paragraf: 07) menggunakan cabe merah dan rimbang hutan sebagai gambaran cerita yang disampaikan tidak baik untuk didengar dan tidak bermakna bagi para penonton persembahan.

v) Rumput
Rumput merupakan tumbuhan yang tumbuh di mana saja tanpa ditanam oleh siapa pun. Rumput dapat merusak tanaman yang ditanam oleh manusia. Rumput selalu menimbulkan kurang baik kepada tanam-tanaman dan memerlukan tenaga dan uang, jika kita ingin membersihkannya. Namun bagi masyarakat Gayo Lues rumput merupakan bagian dari alam yang dipercayai mempunyai makna bagi kehidupan manusia. Menurut Guru Didong Idris (paragraf: 09) rumput yang berasal dari biji-bijian (bibit), bermakna apa yang terjadi atas alam ini adalah secara sebab akibat dan proses ini akan berlangsung sampai hari kiamat. Apa yang kita hadapi dan kita laksanakan pada hari ini merupakan akibat langsung dari aktivitas dan kreativitas yang berlaku pada masa yang lalu.

vi) Bunga Renggali dan Nilam
Bagi masyarakat Gayo Lues bunga selalu digunakan untuk mengungkapkan rasa keindahan seseorang, terutama bunga yang indah bentuknya serta yang menimbulkan wangi seperti bunga kenanga, ros, dan kantil. Bunga juga dijadikan hiasan di dalam dan di halaman rumah. Bagi masyarakat Gayo Lues, bunga juga digunakan untuk menghiasi kepala pada masa persembahan saman, bines, dan didong. Pemakain hiasan bunga ini bertujuan untuk keindahan dan wangi-wangian bagi pemakainya. Bunga juga dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa suka dan duka. Ternyata juga bahwa masyarakat Gayo Lues menyenangi keindahan. Dalam Didong Jalu Guru Didong menggunakan bunga untuk hiasan kepala pada masa persembahan Didong Jalu. Bunga yang digunakan Guru Didong adalah bunga renggali dan bunga nilam, (Idris, paragraf: 10).

vii) Tembakau
Bagi masyarakat Gayo Lues, khususnya kaum laki-laki selalu menggunakan tembakau untuk rokok. Tembakau yang digulung dengan daun rokok, kemudian dihisap. Untuk kaum perempuan yang sudah lanjut usia tembakau digunakan untuk membersihkan gigi setelah makan atau minum. Bagi masyarakat Gayo Lues, jika laki-laki berkenalan akan memberikan tembakau dan rokok daun, jika perempuan akan memberikan tembakau dan sirih pinang.

Kebiasaan perkenalan dengan memberikan tembakau, daun rokok dan sirih pinang, sering berlanjut ke perkenalan lebih dekat dan berulang-ulang dan akhirnya menjadi sahabat. Persahabatan ini tidak hanya terjadi di antara kedua-dua orang tersebut, tetapi persahabatan dapat menyatukan kedua keluarga. Kedua keluarga akan saling mengunjungi, dalam peristiwa suka maupun peristiwa duka. Seperti dijelaskajn Guru Didong berikut ini:
Sebet orang yang baru kenal di dalam pergaulan sehari-hari, karena air satu tetes, karena rokok satu batang, karena tembakau satu suntil. Akhirnya menjadi sahabat seperti satu ayah satu ibu, (Ramli, paragraf: 26).

viii) Kelapa dan Tebu
Di daerah Kabupaten Gayo Lues ada dua kampung yang berada di Kecamatan Pining; yaitu, kampung Pining dan Uring. Kampung Pining hampir seratus persen penduduknya hidup dari bertanam kelapa. Buah kelapa yang dihasilkan berkualitas sangat baik. Begitu juga kampung Uring hampir seratus persen penduduknya bertanam tebu. Manisan tebu yang dihasilkan berkualitas sangat baik. Kualitas kelapa Pining maupun tebu Uring yang baik selalu menjadi contoh dan perumpamaan di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Begitu juga Guru Didong mengunakan kelapa Pining dan tebu Uring memuji cerita rakannya. Guru Didong Ramli menggunakan kelapa untuk memuji temannya karena rasa lemaknya dan menggunakan tebu karena rasa manisnya. Guru Didong menggunakan kelapa Pining, karena di daerah Pining banyak ditanami pohon kelapa dan menggunakan tebu Uring karena daerah Uring banyak ditanam pohon tebu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Kalau seperti dirimu bercerita, pandai menjaga hati melindungi perasaan. Rasa lemaknya seperti kelapa Pining, rasa manisnya seperti tebu Uring…, (Ramli: 48).

ix) Kopi
Bagi masyarakat Gayo Lues kopi, adalah minuman yang hampir disenangi oleh semua orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Bagi masyarakat Gayo Lues, kopi bukan sekedar minuman, tetapi kopi juga sebagai lambang keakraban dan kemurahan hati seseorang. Kopi selalu diberikan kepada tamu yang hadir ke rumah atau yang berjumpa di tempat-tempat lain, sehingga pemberian kopi dapat untuk meningkatkan hubungan kekeluargaan. Kopi sebagai lambang kemurahan hati, artinya dengan pemberian kopi dapat dianggap seseorang itu pemurah.

Kemudian kopi di dalam Didong Jalu, digunakan Guru Didong sebagai lambang pembagian tugas di dalam persembahan Didong. Pada bagian batang kedua Guru Didong musyawarah tentang siapa yang akan menanyakan pertanyaan teka-teki serta siapa pula yang mengikuti dan menyelididiki teka-teki. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Siapa yang pertama dan yang kedua, kita musyawarah. Siapa yang berjalan terduhulu membentangkan tali dan siapa yang mengikuti dari belakang mencari kesimpulan. Siapa yang duduk di hadapan untuk baca doa kenduri, siapa yang duduk di belakang untuk membuat kopi. Semuanya terserah kepada kita berdua (Idris, paragraf: 72).

6.3 Alam Fauna
Alam fauna adalah alam hewan. Berdasaskan peninggalan tulang-tulang (fosil) alam hewan sudah dikenal sejak zaman triasik sekitar 130.000.000 tahun lalu. Hewan adalah salah satu kumpulan makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. yang berbeda dengan makhluk lainnya. Hewan memiliki naluri yang tinggi, sehingga hewan dapat menjalankan kehidupan tanpa belajar, (Azizah Shariff, 1993: 29).

Semua alam dan isi alam diciptakan oleh Allah Swt. untuk keperluan manusia. Manusia dapat menggunakannya dan menyesuaikan dengan keperluan yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Makhluk hewan yang digunakan Guru Didong adalah untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran yang disampaikan melalui Didong Jalu. Pemikiran-pemikiran tentang hewan yang terdapat dalam Didong Jalu adalah sebagai berikut:

i) Burung
Bagi masyarakat Gayo Lues, burung merupakan sejenis binatang yang hidup dan berkembang di alam lepas. Bagi masyarakat Gayo Lues, burung dapat digunakan sebagai simbol atau lambang di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya burung murai sebagai lambang kebijaksanaan. Suara burung balam sebagai kemerduan. Dalam Didong Jalu ini Guru Didong menggunakan burung elang untuk menyampaikan pesan.
Guru Didong menggunakan suara burung elang untuk mengundang tamu. Guru Didong memilih burung elang karena suara burung elang sangat merdu dan memiliki kekuatan suara yang luar biasa dibanding dengan burung lainnya. Ini dapat menyampaikan semua amanat kepada tamu yang akan diundang. Suara burung elang digunakan Guru Didong sebagai tanda dan makna mengundang tamu untuk melaksanakan persembahan Didong Jalu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Sudah terdengar kicauan burung dan suara helang. Suara helang dan kicauan burung memberikan isyarat. Maknanya adalah untuk mengundang semua ahli famili pada malam Ahad. Jika tidak ada halangan; yaitu, barah sama bisul, patah atau terkilir, kalau ada izin dari Allah, kalau ada syafaat dari Rasul akan diadakan pesta perkawinan, (Ramli, paragraf: 01).

Kemudian Guru Didong menggunakan suara burung balam yang bersuara merdu hidup di alam lepas. Kemerduan suara dan keindahan warna digunakan untuk mengungkapkan pemikiran dalam bentuk pantun, sehingga persembahan Didong Jalu dapat menjadi lebih diminati oleh penonton persembahan, Seperti didendangkan oleh Guru Didong berikut ini:
Burung balam gunung bersuara merdu,
Akan kupetik dengan ujung jari.
Bulu keliling warna yang menarik,
Supaya jinak, saya petik lagi, (Idris, paragraf: 65)

Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, ayam dikelompokkan kepda jenis burung dan ayam dapat dibedakan menjadi ayam kampung, ayam ras (kurik lengek), dan ayam hutan. Ayam kampung dan ayam ras adalah ayam yang dipelihara oleh masyarkat dan ayam hutan adalah yang hidup di hutan. Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues dipercayai bahwa ayam kampung yang sedang mengeram pasti memiliki kutu (tungir). Kepastian ini akan menunjukkan semua yang terjadi adalah ketentuan dari Allah Swt. Manusia hanya menjalankan garis hidup yang sudah ditentukan oleh Maha Pencipta, (Idris, paragraf: 69).

ii) Serangga
Laba-laba merupakan serangga yang menyelamatkan Rasulullah. Ini tergambar dalam peristiwa Hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Mekkah ke Madinah, karena keamanan yang tidak terjamin di Mekkah, Nabi Muhammad Saw. lari dan bersembunyi di gua Hira’. Setelah Nabi Muhammad Saw. masuk ke tempat persembunyiannya, seterusnya jalan Nabi Muhammad Saw. ditutupi oleh laba-laba. Nabi Muhammad Saw tidak dapat ditemukan musuh dan Nabi Muhammad Saw. pun selamat. Ini artinya laba-laba dapat menyelamatkan Nabi Muhammad Saw. dari musuhnya.

Bagi masyarakat Gayo Lues, laba-laba berbeda dengan konsep dalam sejarah Islam, seperti peristiwa yang langsung dialami oleh Nabi Muhammad Saw. di atas. Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, laba-laba dianggap sebagai makhluk yang menggangu dan merusak di dalam kehidupan masyarkat Gayo Lues. Bahkan laba-laba digambarkan sama dengan buaya; yaitu, binatang yang ganas dan ditakuti oleh semua orang, (Ramli, paragraf: 02) Konsep masyarakat Gayo Lues tentang laba-laba tersebut hanya dilaksanakan di dalam kehidupan duniawi saja. Dalam konsep Islam yang dilaksanakan suku Gayo Lues tetap sama dengan konsep dalam agama Islam di atas.

iii) Siamang
Bagi masyarakat Gayo Lues, siamang dikenal bukan hanya karena kemerduan suaranya, tetapi siamang juga dikenali karena selalu bersuara pada waktu solat Zuhur dan solat Asar. Suara siamang menjadi tanda bagi masyarakat untuk melaksanakan solat Zuhur dan solat Asar. Suara siamang dapat didengar sampai ke kampung-kampung di kawasan Kabupaten Gayo Lues yang terletak di kawasan pinggiran hutan. Dapat dikatakan semua orang di Kabupaten Gayo Lues dapat mengenal suara siamang.

Kefahaman dan kemengertian orang Gayo Lues kepada siamang itu, memberikan kesempatan kepada Guru Didong menggunakan suara siamang untuk menyampaikan fikirannya melalui kemerduan dan keindahan suara siamang. Guru Didong menyampaikan fikirannya untuk menguji keberanian lawannya dalam persembahan Didong Jalu disampaikan dalam bentuk pantun. Seperti didendangkan Guru Didong berikut ini:
Hijau-hijau gununglah hijau,
Siamang memanggil setengah hari.
Sia-sia badanmu muda,
Jika tidak berani mati. (Idris, paragraf 65)

iv) Kerbau
Kerbau adalah hewan yang banyak ditemui di kawasan dataran tinggi Gayo Lues. Di samping kerbau sebagai hewan peliharaan ia dapat dijual untuk menghasilkan uang. Hewan ini dapat juga digunakan untuk membajak sawah dan menarik balok dari hutan. Kerbau juga dapat digunakan menarik gerobak untuk mengangkat barang-barang keperluan. Bagi masyarakat Gayo Lues di samping kekuatan tenaga kerbau, masyarakat juga meletakkan kerbau sebagai lambang ketidaktahuan atau ketidakfahaman. Guru Didong pada permulaan persembahan menyampaikan tentang ketidakfahaman dan kelemahan Guru Didong yang akan tampil dalam persembahan. Guru Didong menggambarkan seperti kerbau yang memasuki kampung yang serba kebingungan, seperti yang dikemukakan Guru Didong berikut ini:
Yang kami punya ini pun tidak berpengalaman. Seperti kerbau masuk kampung yang serba kebingungan. Badannya cuma besar, umurnya masih muda. Seperti kayu kering, sangat cepat dilalap api. Jika digertak mudah takut, kalau ditakuti mudah terkejut. Begitu pula kalau bercerita lebih banyak yang lupa dari yang diingat. Seperti anak masih belum pandai dan masih memerlukan pelajaran dan pendidikan. Cerita dan jalan cerita pedas seperti lada merah, pahit seperti rimbang hutan, (Idris, paragraf: 07).

6.4 Peralatan
Menurut Zakaria Auang Soh, (1994: 61), alam semesta ini adalah kesuluruhan ciptaan Allah Swt. yang menjadi tempat dan keperluan bagi manusia. Di dalam Didong Jalu kedua Guru Didong banyak menceritakan tentang peralatan yang digunakan manusia; yaitu, alat ukur, alat memasak, tepak, senjata, tampi, sapu, tinta, kertas, dan buku seperti berikut ini:

i) Alat Ukur
Dalam kehidupan suku Gayo Lues, ada beberapa alat ukur yang digunakan. Alat ukur untuk menentukan berat digunakan neraca, alat untuk menakar isi digunakan liter (are) dan batok kelapa (kal) dan alat untuk mengukur panjang digunakan jengkal dan hasta. Alat-alat ukur ini digunakan untuk menentukan takaran yang pasti, supaya tidak lebih atau tidak kurang. Artinya supaya semua keputusan yang diambil raja dapat diterima oleh semua pihak. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:
Raja yang memberi keputusan. Diukur dengan are tidak kurang. Ditimbang dengan neraca sudah sesuai. Satu are sudah sesuai empat kal. Satu hasta sudah pasti dua jengkal. Guna are untuk takaran. Guna hasta untuk mengukur panjang. Guna genggaman untuk memenuhkan takaran. Guna pelingkut untuk meratakan takaran. Guna neraca untuk menimbang, supaya tidak lebih berat ke sebelah kanan atau tidak lebih ringan ke sebelah kiri…, (Idris, paragraf: 16).

Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues sangat hati-hati dengan alat takaran. Mereka merasa takut jika takaran tidak sesuai. Oleh karena itu, untuk meratakan alat ukur digunakan kayu (pelingkut) untuk meratakan. Dengan pelingkut ini akan menghasilkan takaran isi yang tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Pelingkut digunakan untuk meratakan bagian atas alat ukur are dan kal. Kal dan are selalu digunakan untuk menyukat beras atau padi, (Idris, paragraf: 22).

ii) Alat Memasak
Bagi masyarakat Gayo Lues ada peristiwa suka dan ada peristiwa duka. Peristiwa suka atau kegembiraan ini selalu dimeriahkan, seperti pesta ayunan (pemberian nama), pesta penyerahan anak kepada guru (belajar ilmu adat dan agama), pesta sunat rasul (menjalanlan sunah rasul) dan pesta perkawinan (jika sudah ada jodoh atau pertemuan). Dalam pelaksanaan pesta tersebut selalu menggunakan alat-alat pesta seperti periuk, kuali, piring, dan sendok. Alat ini digunakan untuk keperluan makan tamu yang hadir dalam pesta yang sedang dilaksanakan, (Ramli, paragraf: 23).

iii) Tepak
Bagi masyarakat Gayo Lues tepak adalah barang yang sangat berharga. Berharga bukan karena nilai jual (uang), tetapi tepak merupakan barang yang berhubungan dengan budaya suku Gayo Lues. Misalnya, kalau ada pergaduhan antara satu kampung dengan kampung yang lainnya karena persoalan remaja atau persoalan lain, dengan mengirimkan tepak yang berisi sirih pinang, maka pihak lawan akan dapat menahan dan mengawal emosinya. Setelah menerima sirih pinang, jika tidak dapat mengawal emosi, maka ia akan menerima resikonya. Tepak juga digunakan masyarakat Gayo Lues untuk tempat sirih pinang guna menyampaikan lamaran kepada seorang anak dara. Di samping itu juga tepak digunakan untuk tempat sirih pinang untuk menyampaikan mohon maaf kepada semua lapisan masyarakat di dalam persembahan Didong Jalu, (Ramli, paragraf: 28) .

iv) Senjata
Bagi masyarakat Gayo Lues menjaga keselamatan diri-sendiri adalah hal yang penting. Jika pergi ke suatu tempat harus membawa senjata, seperti pedang dan tongkat. Pedang dapat digunakan untuk keperluan di perjalanan dan untuk menghadang musuh. Tongkat dipergunakan sebagai panduan, artinya di dalam kehidupan sehari-hari harus ada tuntunan. Supaya dapat selamat dan berhasil serta dapat didukung oleh semua pihak. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Jika anakku pergi, jangan lupa membawa pedang sebagai senjata. Jika ada kayu yang melintang dapat diluruskan, jika ada bahaya yang menghadang dapat dilawan. Nasihat dari ayah dan ibu, kalau berjalan harus bertongkat, kalau bercerita harus mempunyai pedoman…, (Idris, paragraf: 50).

v) Tangga
Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, tangga tidak hanya digunakan untuk alat menaiki tempat yang tinggi, tetapi juga digunakan untuk perumpamaan bahwa naik harus melalui tangga. Artinya, apa saja yang kita lakukan harus berdasarkan kepada peraturan-peraturan yang sedang dilaksanakan, supaya apa yang kita lakukan dapat berhasil dan tidak menjadi masalah serta didukung oleh semua pihak. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Jika pergi ke daerah lain, untuk bermain Didong Gayo, berjalan harus melalui jalan, naik harus melalui tangga, duduk harus pada tempat yang sudah disediakan…,(Idris, perenggan: 52).

vi) Tampi dan Sapu
Bagi masyarakat Gayo Lues tampi dan sapu memiliki makna yang tersendiri. Tampi yang digunakan untuk memisahkan beras dengan sekam dan padi. Sapu digunakan untuk membersihkan lantai. Perbuatan yang tergesa-gesa diumpamakan seperti menir berlomba ke ujung tampi dan sampah berlomba ke ujung sapu. Seperti dikemukakan Guru Didong berikut ini:
Mungkin diriku seperti menir yang terlalu cepat ke ujung tampi, seperti sampah berlomba-lomba ke ujung sapu. Mungkin saya terlalu cepat, sehingga merosak segala aturan. Semua itu saya serahkan kepada dirimu…, (Idris, paragraf: 67).

Pada bagian lain Guru Didong bercerita. Seperti berikut ini:
… mungkin terlalu cepat apa yang saya sampaikan atau terlalu lambat apa yang saya usulkan. Diriku bercerita seperti menir berlomba ke ujung tampi, seperti sampah berebut ke ujung sapu, (Ramli, paragraf: 82).

vii) Tinta dan Kertas
Menurut pemikiran masyarakat Gayo Lues bahwa dunia sebagai pentas kehidupan semua makhluk. Di atas dunia ini sangat banyak masalah, misalnya masalah di langit, di udara, di bumi dan di laut dan di antara kempatnya. Jika masalah itu dituliskan tidak akan cukup air laut untuk tintanya dan tidak akan cukup daun kayu untuk kertasnya. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… jika kita ceritakan pun pulau yang banyak laut yang luas, tidak akan pernah selesai. Kita kaji pun banyaknya pulau tidak akan cukup air laut untuk tintanya. Jika kita kaji pun luasnya lautan, tidak akan cukup daun kayu untuk kertasnya, (Idris, paragraf: 68).

viii) Buku

Masyarakat Gayo Lues sudah menyadari perlunya pendidikan bagi setiap orang. Pendidikan ada yang bersifat formal dan informal. Pendidikan formal atau pendidikan resmi dapat didapatkan melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Universitas. Pendidikan non formal atau pendidikan yang tidak resmi melalui apa yang didengar, dirasakan, dialami dan dibaca pada setiap hari. Menurut faham masyarakat Gayo Lues untuk mendapatkan ilmu dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, melalui membaca buku yang sudah banyak ditulis pengarang dan diterbitkan oleh percetakan. Kedua, dapat bertanya kepada bapak dan ibu serta kepada guru, sehingga semuanya dapat menjadi jelas dan dapat difahami (Ramli, paragraf: 156).

III. Simpulan
Setelah mengkaji pemikiran tentang kosmos di dalam Didong Jalu, didapati bahwa, pertama, alam semesta yang digunakan oleh Guru Didong untuk mengungkap pemikiran meliputi dunia, bumi, langit, matahari, tanah, air, batu, laut, sungai angin, dan nama-nama tempat. Kedua, alam flora yang meliputi sirih pinang, randu hutan, nangka, cempedak, cabe merah, rimbang hutan, rumput, bunga renggali, nilam, tembakau, kelapa, tebu, dan kopi. Sirih pinang digunakan untuk jemputan pesta perkahwinan atau bersunat rasul. Randu hutan sebagai lambang ketidakmampuan dan kelemahan. Nangka dan cempedak digunakan untuk perbandingan yang penting dengan yang kurang penting. Cabe merah sebagai lambang ketidaksopanan dan rimbang hutan sebagai lambang kejahatan. Rumput yang berasal dari biji-bijian (bibit) sebagai bukti bahwa semua di atas alam ini terjadi secara sebab akibat. Ketiga, alam fauna yang meliputi burung, serangga, siamang, dan kerbau. Burung elang digunakan untuk menyampaikan amanat, jika ada pesta perkawinan atau sunat rasul. Burung balam digunakan karena kemerduan suaranya. Laba-laba disejajarkan dengan buaya dianggap sebagai perusak dan penghambat di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Siamang dikenal karena kekuatan dan kemerduan suaranya. Kerbau digunakan sebagai lambang ketidakmampuan atau ketidakfahaman. Keempat, peralatan yang digunakan masyarakat Gayo Lues meliputi untuk tempat mencari keadilan. Alat ukur neraca, are dan kal untuk takaran, supaya tidak lebih atau tidak kurang. Pelingkut untuk meratakan alat ukur sukatan supaya sesuai. Alat memasak periuk, kuali, piring, dan sendok digunakan dalam pelaksanaan pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru, pesta bersunat rasul dan pesta perkawinan. Tepak untuk tempat sirih dan pinang yang digunakan untuk menyampaikan undangan dan risikan. Pedang sebagai alat di dalam perjalanan dan tongkat sebagai pedoman di dalam kehidupan. Tangga sebagai perumpamaan, supaya di dalam kehidupan harus memiliki panduan. Tampi dan sapu sebagai perumpamaan ketidaksesuaian atau ketergesa-gesaan. Tinta dan kertas digunakan sebagai gambaran banyaknya persoalan di atas dunia ini. Jika dituliskan semua persoalan di atas dunia ini tidak akan cukup air laut untuk tintanya dan daun kayu untuk kertasnya. Buku merupakan bahan bacaan dan sumber ilmu.

Daftar Bacaan

Abdul G. Djapri. (1985) Mengintai Alam Metafisika. Surabaya: Bina Ilmu.
Abdul Rahman Abdullah. (1999) Falsafah Alam Semesta. Shah Alam: Lohprint Sdn. Bhd.
Arabi, Ibnu. (1999) Pohon Semesta (Terjemahan). Surabaya : Pustaka Progresif.
Atmazaki. (1990) Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Bandung: Angkasa Raya.
Azizah Shariff. (1993) Kenapa Mengapa Burung. Kuala Lumpur: Fargoes Sdn. Bhd.
Haron Daud. (2001) Mantera Malayu Analisis Pemikiran. Pulau Pinang:Universiti Sains Malaysia.
Hoerip Satyagraha. (1984) Cerita Pendek Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hossein Nasr, Seyyed. (1993) Doktrin Kosmologi Islam (Terjemahan). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
L. K. Ara at al. (1995) Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”. Jakarta:Yayasan Nusantara.
M. Melalatoa. (1985) Kamus Bahasa Gayo – Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
M. Sastraprateja. (1983) Manusia Multi Dimensional, Sebuah Renungan Falsafah. Jakarta: Gramedia.
Mahmud Junus. (1984) Terjemahan Al Quran. Bandung: PT. Al – Ma’Arip.
Muhammad Isa Selamat. (2000) Pedoman Menghapus Dosa. Kuala Lumpur: Darul Nu’man.
Ruskam Al Dawawy, Aminuddin. (1999) Konsep Kosmologi (Terjemahan). Malaysia: Universiti Teknologi Malaysia.
Sulaiman Hanafiah at al. (1984) Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sutejo Sujitno at al. (1995) Aceh Masa Lalu, Kini dan Masa Hadapan. Banda Aceh: Sekretariat Gubernur Daerah Istimewa Aceh.
Umar Yunus. (1981) Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Gramedia.
Warton, Thomas. (1974) History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago Press.
Zakaria Auang Soh. (1994) Kejadian dan Keadaan Alam Semesta. Kuala Lumpur: Berita
Publishing Sdn. Bhd.
Isma Tantawi

Isma Tantawi lahir pada tanggal 7 Februari 1960 di Kuning Aceh Tenggara (sekarang Kabupaten Gayo Lues). Beliau adalah staf pengajar tetap di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara mengasuh mata kuliah Sastra Bandingan, Estetika, dan Sastra Malaysia Modern serta mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan sebagai dosen tamu di Kolej Sentral Kuala Limpur, Malaysia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (FS USU) tahun 1986 dan pendidikan master (S-2) di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia (PPIK USM) tahun 2006 dengan bidang kajian tradisi lisan nusantara. Di samping itu juga beliau aktif mengikuti seminar nasional dan internasional baik sebagai peserta maupun pemakalah.