You are currently browsing the category archive for the ‘Sosial’ category.

Oleh: Isma Tantawi
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Abstract
The objective of this research is to analyze Didong Jalu in perspective of language aesthetic and social function on peoples of Gayo Lues ethnic group. The data in this research is analyzed based on both observation and documentation methods. The theoretical base used in this research is relied on literature sociological theoery suggested by Thomas Warton (1974) that literature work is considered to be expression of art and social document. Didong Jalu contains the language aesthetic value and it has social function for peoples of Gayo Lues ethnic group inhabiting the upland of Gayo Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

I. Pendahuluan

Didong sebagai tradisi lisan atau oral tradition (folklore) sudah berkembang sejak masuknya agama Islam di dataran tinggi Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia (L.K. Ara, 1995: 639). Agama Islam masuk ke Aceh pada abad ke-7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat (Sutejo Sujitno, 1995: 71). Dalam Didong, sejak awal sampai saat ini nafas dan nuansa keislaman tetap bertahan. Bahkan Didong merupakan media dakwah untuk menyampaikan dan menyebarkan amanat keagamaan kepada masyarakat di samping menyampaikan pesan budaya suku Gayo itu sendiri.

Didong merupakan tradisi lisan suku Gayo sudah berakar dalam kehidupan masyarakatnya. Persembahan Didong diadakan pada pesta suka (pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru, pesta sunat rasul, dan pesta perkawinan) saja. Dalam Didong, diceritakan tentang kebudayaan suku Gayo, agama Islam (orang suku Gayo secara keseluruhan menganut agama Islam) dan masalah-masalah yang aktual, seperti peristiwa daerah, peristiwa nasional, dan peristiwa internasional.

Kata Didong, berasal dari bahasa Gayo, yaitu: dari akar kata dik dan dong. Dik, artinya menghentakkan kaki ke papan yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian dong, ertinya berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata Didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu digunakan untuk menyelingi persembahan Didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, Didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua Guru Didong yang berasal dari dua kampung yang berbeda. Persembahan dimulai setelah salat Isa sampai sebelum salat Subuh, (M.J. Melalatoa, 1985: 71).
Kata Didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu: Asal-usul Gajah Putih yang dikumpulkan oleh Sulaiman Hanafiah (1984: 140 – 149). Gajah Putih merupakan penjelmaan dari seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke Istana Raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan oleh raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan. Gajah putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sehingga menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun demikian, ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampailah ke Istana Raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut dijadikan dan digunakan pada masa merasa gembira atau pada masa menyampaikan amanat dan nasihat kepada anak, teman, masyarakat atau kepada sesiapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan tradisi lisan Didong Gayo.

Didong Gayo dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, Didong Gayo Lues. Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Gayo Lues pada umumnya berbentuk prosa (bebas) dan hanya pada bagian tertentu saja yang disampaikan berbentuk puisi (terikat) seperti pantun. Isi cerita di dalam Didong Gayo Lues berhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Kedua, Didong Lut (Laut). Didong Lut berkembang di Kabupaten Aceh Tengah. Didong Lut berbentuk puisi (terikat). Isi Didong Lut tidak berhubungan secara langsung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Lut seperti puisi yang dinyanyikan dan setiap puisi memiliki makna masing-masing.

Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam; yaitu, Didong Alo (Didong penyambutan tamu), yaitu: Didong dipersembahkan untuk menyambut tamu. Pemain Didong Alo berjumlah lebih kurang 10 orang dari pihak tuan rumah dan 10 orang dari pihak tamu. Didong Alo dipersembahkan sambil berlari arah ke kiri atau ke kanan. Didong Alo berisi tentang ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Begitu juga dari pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan dan sudah selamat diperjalanan sehingga dapat selamat sampai ke tempat tuan rumah.

Didong Jalu (Didong Laga), yaitu Didong dipersembahkan pada malam hari oleh dua orang Guru Didong yang diundang dari dua kampung yang berbeda. Setiap Guru Didong didampingi oleh pengiring yang berjumlah 10 sampai 20 orang. Pengiring berfungsi untuk mendukung persembahan. Pada bagian tertentu (adini Didong) cerita Didong disambut oleh pengiring sambil bertepuk tangan serta menggerakkan badan ke muka dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan.

Didong Niet (Didong Niat) selalunya dipersembahkan berdasarkan Niet seseorang. Misalnya Niet seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau berkeinginan punya anak lelaki atau perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka Didong Niet ini pun dipersembahkan. Didong Niet ini mengkisahkan tentang anak yang diniatkan. Cerita dimulai dari awal pertemuan kedua orang tuanya. Kemudian pertemuan itu direstui serta dilanjutkan kepada jenjang peminangan dan pernikahan. Seterusnya cerita mengenai perkembangan bayi di dalam kandungan dan sampai bayi lahir ke dunia. Setelah itu cerita diteruskan ke pesta ayunan (turun mani) pemberian nama dihubungkan dengan hari kelahiran, agama (agama Islam), dan nama-nama keluarga seperti nama orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain.

Cerita Didong yang menjadi objek penelitian ini adalah cerita Didong Jalu yang dipersembahkan oleh Guru Didong Ramli Penggalangan dan Idris Cike di Medan pada tanggal 11 dan 12 Desember 2004. Persembahan dimulai pukul 21.45 dan berakhir pada pukul 04.30 WIB.

II. Didong Jalu Sebagai Karya Sastra (Tradisi Lisan)

Secara umum, karya seni dapat dibedakan menjadi lima bagian. Pertama, seni lukis, kedua seni suara, ketiga seni tari, keempat seni pahat (seni patung), dan kelima seni sastra. Kelima-lima seni tersebut di atas dibedakan oleh alat yang digunakan oleh pengarangnya. Seni lukis, alat digunakan oleh senimannya adalah garis dan warna. Seni suara, alat yang digunakan oleh vokalis dan istrumentalis adalah suara (vokal atau instrumental). Seni tari, alat yang digunakan oleh senimannya adalah gerak. Seni pahat atau patung, alat yang digunakan oleh senimannya adalah bentuk. Seni Sastra, alat yang digunakan oleh sastrawannya adalah bahasa (A. Teeuw, 1978 : 1).

Seni sastra yang lazim disebut sebagai karya sastra, menurut bentuk bahasa yang digunakan dapat pula dibedakan menjadi dua bagian. Pertama, karya sastra disampaikan secara lisan dan kedua, karya sastra disampaikan secara tertulis atau bahasa tulis. Karya sastra lisan selalu disampaikan secara langsung kepada penonton atau penikmat. Karya sastra tulis disampaikan secara tertulis, seperti pada surat khabar, majalah, dan buku cetakan kepada pembaca atau penikmatnya.

Karya sastra lisan selalu dihubungkan dengan karya sastra lama, karena salah satu ciri-ciri sastra lama adalah cerita berbentuk lisan. Seterusnya ciri-ciri sastra lisan dapat ditunjukkan dari sudut yang lain. Sastra lisan merupakan milik masyarakat secara bersama dan tidak dikenal nama pengarangnya. Kini sastra lisan lebih dikenal dengan istilah tradisi lisan, (Mustafa Mohd. Isa, 1987: 1). Kemudian menurut Mohd. Taib Osman, ( 1976: 4), tradisi lisan oleh khalayak lebih dikenal lagi dengan istilah folklore.

Folklore berasal dari bahasa Inggeris yang terbentuk dari kata folk dan lore, (James Dananjaya, 1984 : 1-2). Folk ertinya kolektif dan lore ertinya tradisi dari sekelompok orang yang memilki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan yang dapat membedakan dari kelompok lainnya. Jadi, folklore adalah cerita rakyat (tradisi lisan) dari sekelompok masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya dalam bentuk bahasa lisan (Alan Dundes, 1965: 2).

James Dananjaya, (1984: 3-4), berpendapat ciri-ciri folklore adalah sebagai berikut:
i) Penyebaran dan pewarisannya selalu dilakukan secara liasan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut atau dengan contoh yang disertai dengan gerak dan alat bantu pengingat dari generasi ke generasi berikutnya.
ii) Folklore bersifat tradisional, yakni penyebarannya cukup lama atau minimal berlansung pada dua generasi.
iii) Dalam cerita folklore terdapat versi-versi dan variasi, yakni cerita yang bebeda menurut tempat dan waktu. Hal ini disebabkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), bukan melalui cetakan atau rekaman. Oleh sebab itu, proses lupa atau interpolasi (interpolation) dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian, perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
iv) Foklore bersifat anonymous, yakni nama pengarang sebenarnya tidak dapat diketahui.
v) Foklore selalu mempunyai bentuk berumus atau berpola, yakni cerita tetap bertahan dengan pola yang sudah ada.
vi) Folklore mempunyai fungsi (function) pada masyarakat yang memilikinya secara kolektif.
vii) Folklore bersifat pralogik, yakni mempunyai sifak logik sendiri yang berbeda dengan logik yang berlaku secara umum.
viii) Folklore menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan oleh penciptaan pertama tidak diketahui lagi. Oleh sebab itu, setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
ix) Folklore pada umumnya bersifat polos dan lugu. Oleh sebab itu, sering sekali terasa lemah, spontan, dan kasar. Ini dapat dimengerti karena folklore merupakan pengungkapan seni oleh manusia yang paling jujur.

Berdasarkan uraian di atas didapati bahwa Didong Jalu Gayo Lues dapat disebut sebagai karya sastra (tradisi lisan) karena Didong Jalu mengandung ciri-ciri tersebut. Pertama, Didong Jalu dipersembahkan secara liasan: yaitu, cerita didendangkan oleh kedua-dua Guru Didong secara bergantian. Pada bagian tertentu kedua-dua Guru Didong melakukan gerak-gerak tertentu pula. Misalnya pada bagian batang kedua-dua Guru Didong berjalan bolak-balik di atas papan persembaham. Pada bagian niro ijin kedua Guru Didong berdiri berhadapan dan melakukan gerak maju dan mundur.

Kedua, cerita Didong Jalu tumbuh dan berkembang sudah berlangsung lama di masyarakat Gayo Lues. Menurut sejarah Didong Jalu sudah berkembang di dataran tinggi Gayo Lues sejak masuknya ajaran Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Agama Islam masuk ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada abat ke 7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, (Sutejo Sujitno, 1995: 71).

Ketiga, cerita Didong memiliki versi-versi dan variasi. Versi Didong Jalu ada dua macam: yaitu, Didong Jalu Gayo Lues dan Didong Jalu Gayo Lut. Kedua-dua Didong ini bersisi tentang mengadu ketangkasan antara satu Guru Didong dengan Guru Didong lainnya. Namun demikian, cara dan pola persembahannya berbeda. Pola persembahan Didong Jalu dimulai dengan permulaan persembahan (Didong Tuyuh), persalaman (tabini Didong), kesepakatan (batang), berteka-teki (itik-itiken), dan mohon maaf (niro ijin) sedangkan Didong Jalu Gayo Lut berpola persalaman, isi, dan penutup.

Kempat, pencipta Didong Jalu yang sebenarnya tidak dapat diketahui, karena Didong Jalu dituturkan secara lisan oleh Guru Didong terdahulu dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya melalui bahasa lisan. Oleh sebab itu, Didong Jalu menjadi milik bersama masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu yang digunakan untuk objek kajian ini merupakan seni ulang yang yang dilakukan oleh kedua-dua Guru Didong; yaitu, Ramli Penggalangan dan Idris Cike. Namun seni ulang pun tetap memiliki nilai seni tersendiri yang berbeda dengan seni cipta yang pertama, (Sidi Gazalba, 1974: 425).

Kelima, cerita Didong Jalu didendangkan oleh kedua-dua Guru Didong melalui pola yang sama. Pola Didong Jalu itu dimulai dengan permulaan persembahan (Didong tuyuh). Pada bagian ini kedua-dua Guru Didong masih dalam keadaan duduk. Cerita masih berisi tentang pengantar atau memperkenalkan Guru Didong yang akan tampil dalam persembahan. Pada bagian persalaman (tabini Didong) kedua-dua Guru Didong berdiri berdampingan dan cerita berisi tentang persalaman kepada para penonton persembahan. Pada bagian kesepakatan (batang) kedua-dua Guru Didong berjalan secara bolak-balik di atas papan persembahan. Cerita di sini berisi tentang kesepakatan kedua-dua Guru Didong tentang persembahan Didong Jalu pada bagian berikutnya. Pada bagian berteka-teki (itik-itiken) kedua-dua Guru Didong pada keadaan berdiri berdampingan dan cerita berisi tentang teka-teki yang sudah disepakati pada bagian batang. Kemudian cerita Didong Jalu ditutup dengan bagian mohon maaf (niro ijin). Kedua-dua Guru Didong berdiri berhadapan sambil bergerak maju dan mundur dan cerita berisi tentang permohonan maaf antara kedua-dua Guru Didong dan kepada para penonton persembahan.

Keenam, cerita Didong Jalu berguna bagi masyarakat Gayo Lues. Secara khas Didong Jalu digunakan pada pesta suka saja. Pesta suka dalam masyarakat Gayo Lues ada empat macam: yaitu, pertama pesta ayunan, kedua pesta penyerahan anak kepada guru, ketiga pesta sunat rasul, dan keempat pesta perkawinan.

Ketujuh, dalam cerita Didong Jalu terdapat logika yang berbeda dengan logika yang belaku secara umum, seperti contoh berikut ini:
i) Ramli Penggalangan dan Idris Cike yang berprofesi sebagai Guru Didong. Kedua-dua Guru Didong masih menganggap persembahan Didong Jalu sebagai pekerjaan yang memalukan untuk orang yang berumur atau sudah punya anak gadis atau lajang. Ramli Penggalangan berumur 43 tahun dan Idris Cike berumur 40 tahun pada waktu persembahan Didong Jalu ini dilakukan. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:

“Pada malam yang berbahagia ini, sudah jelas bergelinding telur di tanah yang rata. Memecahkan empedu di ujung kaki, memekakkan telinga membutakan mata. Kita bercerita di atas papan persembahan ini.” (Ramli Penggalangan, paragraf: 40).

ii) Guru Didong selalu menganggap dirinya orang yang tidak mengetahui dan tidak berpengalaman apa-apa tentang cerita Didong Jalu, adat, dan agama walaupun kedua-dua Guru Didong yang sudah berpengalaman tentang Didong Jalu dan menguasai masalah agama dan adat. Seperti diceritakan Guru Didong Idris Cike, (paragraf: 07) berikut ini:

“Yang kami punya ini pun tidak berpengalaman. Seperti kerbau masuk kampung yang serba kebingungan. Badannya cuma besar, umurnya masih muda. Seperti kayu kering, sangat cepat dilalap api. Jika digertak mudah takut, kalau ditakuti mudah terkejut. Begitu pula kalau bercerita lebih banyak yang lupa dari yang diingat. Seperti anak masih belum pandai dan masih memerlukan pelajaran dan pendidikan. Cerita dan jalan cerita pedas seperti cabai merah, pahit seperti rimbang hutan.”

iii) Pada saat Guru Didong A menanyakan pertanyaan teka-teki kepada Guru Didong B atau sebaliknya, Guru Didong tidak boleh menjawab secara langsung, tetapi harus diselidiki dengan pertanyaan yang lain dan behubungan dengan pertanyaan teka-teki yang sedang ditanyakan.

Kedelapan, cerita Didong Jalu merupakan milik bersama masyarakat Gayo Lues. Sudah menjadi sifat tradisi lisan, di samping nama pengarang tidak dapat diketahui, dalam tradisi lisan selalu diceritakan tentang adat dan budaya masyarakat. Oleh sebab itu, tradisi lisan menjadi milik masyarakat di mana tradisi lisan itu diciptakan. Isi cerita tradisi lisan itu menggambarkan kehidupan masyarakat yang bersangkutan, (Mohd. Taib Osman, 1976: 7).

Kesembilan, isi cerita Didong Jalu berisi polos dan lugu karena pada umumnya penutur tradisi lisan adalah orang-orang berbakat alami dan tanpa memperoleh pendidikan yang resmi. Oleh sebab itu, apa saja yang diceritakan adalah pengungkapan yang sebenarnya dan tanpa rekayasa. Didong Jalu adalah penngungkapan pemikiran kedua-dua Guru Didong. Sejalan dengan pendapat Rene Wellek (1995, 111) bahwa seniman menyampaikan kejujuran dan kebenaran sejarah dan peristiwa sosial yang berlaku.

III. Didong Sebagai Dokumen Sosial Masyarakat Gayo Lues

Karya sastra dibangun dari dua unsur; yaitu, unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang membangun karya sastra dari bagian dalam seperti alur, tokoh, gaya bahasa, tema, dan suasana. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar seperti agama, adat, psikologi, kesehatan, dan hukum. Dunia sastra adalah dunia yang sangat luas, dalam karya sastra terpancar semua kehidupan manusia.

Setiap suku bangsa memiliki pengungkapan seni. Pengungkapan seni setiap suku bangsa selalu berberda. Perbedaan ini timbul karena setiap suku bangsa memiliki cara hidup yang berbeda pula. Perbedaan cara hidup ini menimbulkan perbedaan seni yang dilahirkan setiap suku bangsa. Misalnya, suku Jawa, terkenal dengan tradisi lisan Wayang, suku Batak, terkenal dengan tari Tor-tornya, suku Melayu, terkenal dengan tari Serampang Dua Belas dan suku Gayo Lues terkenal dengan tradisi lisan Didongnya.

Setiap seni yang dilahirkan suku bangsa selalu mengambarkan kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Hal ini terjadi karena seniman merekam semua peristiwa kehidupan di dalam karya seni yang diciptakan. Lahirnya sastra adalah merupakan keinginan yang mendasar dari manusia untuk mengungkapkan diri, untuk menaruh minat sesama manusia, untuk menaruh minat pada dunia realitas dalam angan-angan yang dikhayalkan sebagai dunia nyata, (Andre Harjana, 1981: 10).

Sapardi Joko Damono, (1978: 1) berkata, sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya dan bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Sastra adalah produk suatu masyarakat dan mencerminkan masyarakatnya. Pemikiran masyarakatnya merupakan pemikiran pengarangnya, (Jakob Sumarjo, 1979: 30).

Rene Wellek, (1995: 111) berpendapat, pengarang menyampaikan kebenaran pada waktu yang sama juga merupakan kebenaran sejarah dan sosial. Karya sastra merupakan dokumen sosial. Oleh sebab itu, apa yang tergambar di dalam karya sastra merupakan kenyataan-kenyataan yang ada atau sudah pernah ada di dalam kehidupan sosial.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, bahwa karya sastra bukan lahir begitu saja, tetapi akibat pengaruh hubungan antara pengarang dengan masyarakatnya. Pengarang menciptakan karya sastra bukan berdasarkan khayalan belaka, tetapi khayalan yang terinspirasi dari kenyataan dan fakta yang ada di dalam masyarakat. Pengarang dan pemikiran masyarakat sangat memegang peranan penting di dalam karya sastra, karena sastra dibangun dari pemikiran masyarakatnya.

Tradisi Lisan Didong Jalu lahir dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu mengandung pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan masyarakat Gayo Lues. Pemikiran berupa adat, budaya, dan agama yang sudah atau sedang dilakukan oleh masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Jalu merupakan dokumen sosial bagi masyarakat Gayo Lues Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

IV. Keindahan Bahasa Dalam Didong Jalu

Karya sastra berbeda dengan karya ilmiah. Karya sastra mengandung nilai seni sedangkan karya ilmiah tidak. Perbedaan ini timbul karena karya sastra disampaikan pengarang dengan ragam bahasa sastra yang berbeda dengan ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa sastra sangat bergantung kepada sastrawan atau seniman sedangkan ragam bahasa ilmiah harus mengikut kepada pedoman tata bahasa dan makna yang sudah ada, (V.I. Braginsky, 1984: 7).
Ragam bahasa dalam karya sastra, di samping pemilihan kata, sastrawan juga menggunakan gaya bahasa seperti hiperbola, personifikasi, inversi, pleonasme dan lain-lain. Sastrawan menggunakan gaya bahasa ini bertujuan untuk mempertegas atau untuk lebih menghidupkan suasana di dalam cerita. Dengan pemilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan para sastrawan atau seniman, karya sastra lebih diminati dan disenangi oleh pembaca atau penonton, karena di samping keindahan alam, karya sastra mengandung nilai keindahan seni, (Wajiz Anwar, 1980: 5).

A. Richard, C.K. Ogden dan James Wood ,(lihat Sohaimi Abddul Aziz, 2000: 2), berpendapat, salah satu dasar keindahan adalah medium. Medium sastra adalah bahasa. Didong Jalu sebagai salah satu karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Seperti cerita Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 02) berikut ini:

“Tak ada laba-laba yang menutupi tangga, tak ada buaya yang menghadang di jalanan. Kami sudah hadir memenuhi undangan, yang disampaikan melalui selembar sirih, sekeping gambir, segores kapu,r dan sepotong pinang.”

Kejayaan mengeksploit medium bahasa dengan baik, dapat menghasilkan kepuasan psikologi kepada para pembaca atau penonton persembahan. Kepuasan psikologi yang dapat diperoleh dari karya sastra yang berhubungan dengan kesempurnaan, kehalusan, kematangan, dan kepekaan yang dapat memberikan kesan makna dan emosi, (Sohaimi Abdul Azizz, 2000: 8).

Kesan makna dan emosi yang berhubungann dengan peristiwa aktual yang diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:

“Ayah dan ibuku, berlari-lari menyelamatkan nyawa. Di daerah Aceh sudah terjadi, rakyat mengungsi semakin susah. Orang yang melakukannya yang tidak jelas, yang korban rakyat biasa. Entah apa sebabnya, tiba-tiba terjadi kontak senjata.” (Idris Cike, paragraf: 54).

Bahasa yang digunakan Guru Didong dengan amat baik dapat menimbulkan bunyi dan irama pada kata-kata yang terpilih dan disusun. Oleh sebab itu, dapat menimbulkan kesan yang makna mendalam kepada para pembaca atau penonton. Seperti cerita Didong Jalu yang disampikan dalam bentuk pantun berikut ini:

“Hijau-hijau gununglah hijau,
Siamang memanggil setengah hari.
Sia-sia badanmu muda,
Jika tidak berani mati.

Burung balam gunung bersuara merdu,
Akan kupetik dengan ujung jari.
Bulu keliling warna yang menarik,
Supaya jinak, saya petik lagi.” (Idris Cike, paragraf: 65).

Menurut Agus Sachari, (1989: 1), keindahan sebenarnya merupakan hal yang utama di dalam kehidupan kita, karena tanpa keindahan, hidup ini terasa merana dan kehilangan kebahagiaan. Semua pencipta karya sastra yang baik, adalah manusia perasa yang bukan sedikit melibatkan pemikiran dan perasaan dalam peroses mengarang itu. Pilihan kata dan irama yang ada di dalam karya sastra merupakan alat untuk menyampaikan fikiran dan perasaannya kepada para pembaca atau penonton, (Muhammad Haji Saleh, 1992: 14).

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, tradisi Didong Jalu yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya, terasa sangat indah dan menarik bagi penontonnya. Indah dan menarik ini terjadi karena pilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan oleh kedua-dua Guru Didong di dalam Didong Jalu. Oleh sebab itu, para penonton persembahan dapat bertahan menonton persembahan, sampai menjelang salat Subuh serta dapat menangkap makna yang tersurat dan tersirat di dalam Didong Jalu.

V. Fungsi Sosial Didong Jalu

Didong Jalu yang lahir dan berkembang pada kehidupan masyarakat Gayo Lues, karena Didong Jalu memiliki fungsi sosial tertentu bagi masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab itu, Didong Jalu tidak pernah terlepas dari suku Gayo Lues. Dalam Didong Jalu tergambar pemikiran-pemikiran dan budaya suku Gayo Lues secara menyeluruh. Didong Jalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo Lues yang dilakukan dan berkembang sampai kini.

Menurut Alan Dundes, (1965: 277), fungsi sosial tradisi lisan atau folklore itu ada 5 macam; yaitu, i) membantu pendidikan, ii) meningkatkan perasaan solidaritas kelompok, iii) memberi sanksi sosial agar orang berprilaku baik, iv) sebagai alat kritik sosial, dan v) sebagai hiburan.

Berdasarkan pendapat di atas, maka Didong Jalu dapat dilihat fungsi sosialnya bagi masyarakat Gayo Lues seperti berikut ini:

i) Dalam Didong Jalu, Guru Didong menyampaikan pendidikan secara langsung mahupun tidak langsung kepada penonton persembahan. Pendidikan langsung; yaitu, Guru Didong langsung memberikan penjelasan kepada penonton persembahan. Misalnya Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 24-27) menjelaskan tentang makna ralik, juelen, sebet, dan guru dalam masyarakat Gayo Lues. Ralik pihak keluarga dari isteri yang harus dilayani oleh pihak keluarga suami, karena ralik adalah status yang paling mulia di dalam masyarakat Gayo Lues. Juelen, pihak keluarga menantu laki-laki bertugas untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang berat dalam pesta. Pihak menantu laki-laki ini bertanggung jawab atas pelaksanaan dan keberhasilan pesta. Sebet adalah orang-orang yang dikenal karena pergaulan hidup sehar-hari dan terjadi hubungan yang baik. Oleh sebab itu, selalu menjadi teman suka dan duka di dalam kehidupan sehar-hari. Guru adalah orang yang mengajari dan memberikan petunjuk semoga selamat di dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan tidak langsung dapat pula dilihat pada keseluruhan persembahan Didong Jalu. Persembahan Didong Jalu dimulai dari awal sampai akhir mengikuti kebiasaan yang sudah ada. Oleh sebab itu, Guru Didong secara tidak langsung telah memberikan penjelasan kepada penonton persembahan bahwa persembahan Didong Jalu harus berlaku seperti yang ia lakukan.

ii) Jika dilihat dari cara pelaksanaan persembahan dan isi cerita, ternyata Didong Jalu dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok. Pada masa pelaksanaan persembahan Didong Jalu, diundang semua ahli famili dari semua kampung dan semua ahli famili itu membawa semua kenalan, sahabat, dan tetangga yang ada di kampung ahli famili yang diundang. Dengan demikian, setiap diadakan persembahan Didong Jalu akan terjadi pertemuan masyarakat antara satu kampung dengan kampung lain. Pertemuan yang terjadi secara berulang-ulang ini akan dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok bagi masyarakat Gayo Lues.

Begitu juga dari isi cerita Didong Jalu, ia dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok antara Guru Didong dengan Guru Didong dan antara masyarakat dengan masyarakat penonton persembahan. Meningkatkan perasaan solidaritas antara Guru Didong dengan Guru Didong seperti dikemukakan Guru Didong Idris Cike (paragraf: 65) bahwa cerita Didong Jalu ini bertujuan untuk menjadi lebih kenal seperti menjadi satu ayah satu ibu. Didong Jalu juga dapat meningkatkan perasaan solidaritas antara masyarakat dengan masyarakat Gayo Lues.

iii) Isi cerita Didong Jalu dapat memberikan sanksi sosial kepada masyarakat agar masyarakat dapat berbuat baik. Seperti diceritakan Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 21) berikut ini:
“Jika ada yang berlaku, yang kotor salah sentuh, yang pantang salah ucap. Semua dosa dan pahalanya menjadi tanggungannya dan panitia bebas dari dakwaan. Uang tidak tertentu jumlah rupiahnya, ditahan tidak tertentu jumlah tahunnya. Mahkamah dan meja hijau yang berkuasa untuk memutuskan hukumannya.”

iv) Didong Jalu juga dapat dijadikan alat kritik sosial bagi masyarakat Gayo Lues. Di dalam Didong Jalu Guru Didong memberikan keritikan-kritikan sosial kepada masyarakat Gayo Lues. Seperti diceritakan Guru Didong Idris Cike (paragraf: 53) berikut ini
“Ilmu hanya diketahui oleh orangtua, pedoman pun sudah hilang di tengah hutan belantara. Oleh sebab itu, saya bercerita hanya sedikit yang ingat dan lebih banyak yang lupa, begitu pun tetap kutabahkan hatiku. Pada malam ini, hanya ilmu kita yang akan kita sampaikan, fikiran kita yang akan kita jelaskan. Harap didengarkan dan difikirkan bapak, ibu, dan saudaraku, supaya ada manfaat menonton persembahan ini.”

v) Didong Jalu dapat menjadi hiburan bagi masyarakat Gayo Lues. Biasanya terdapat dua hal yang ingin disampaikan oleh pengarang karya sastra. Pertama, pengarang ingin menyampaikan amanat yang berupa pemikiran-pemikiran. Kedua, karya sastra untuk menghibur para penikmat atau penontonnya. Oleh sebab itu, di samping untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Didong Jalu ternyata menjadi hiburan bagi masyarakat Gayo Lues seperti diceritakan Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 44) seperti berikut ini:

“Sudah ada kesempatan dan sudah ada kelapangan. Sunyi untuk diramaikan, ramai untuk dimeriahkan. Supaya jangan menjadi penghambat kemajuan untuk mencapai masa hadapan yang cerah, diundang keluarga bapak, dikumpulkan keluarga ibu diadakan persembahan Didong Jalu untuk hiburan.”

VII. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian terhadap Didong Jalu di atas, penulis menyusun dapatan sebagai berikut: Pertama, Didong Jalu mengandung nilai keindahan bahasa, karena kemampuan Guru Didong menggunakan pilihan kata yang baik serta pemkaian irama yang sesuai. Kedua, Didong Jalu memiliki fungsi sosial bagi masyarakat Gayo Lues, yaitu: untuk menyampaikan pendidikan, untuk meningkatkan solidaritas, memberikan nasihat, sebagai alat untuk menyampaikan kritikan sosial, dan untuk hiburan bagi masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab, itu Didong Jalu dapat dianggap sebagai dokumen sosial bagi masyarakat Gayo Lues.

Sebagai kesimpulan untuk keseluruhan penelitian ini, bahwa Didong Jalu sebagai karya sastra atau taridisi lisan merupakan milik masyarakat Gayo Lues dan mengambarkan kehidupan masyarakat Gayo Lues itu sendiri. Didong Jalu memiliki keindahan bahasa dan fungsi sosial bagi masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu perlu dilestarikan, sehingga dapat berkembang dengan baik dan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Daftar Bacaan

Agus Sachari. 1989. Estetika Terapan. Bandung: Nova.
Andre Harjana. 1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.
Braginsky, V.I. 1994. Erti Keindahan dan Keindahan Erti Dalam Kesusastraan Melayu Klasik (Terjemahan). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Dundes, Alan. 1965. The Study of Folklore. America: Prentice-Hall, Inc.Englewood Cliff, N.J.
Jakob Sumarjo. 1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
James Dananjaya. 1984. Folklore Indonesia. Jakarta: Grafitipers.
L.K. Ara. 1995. Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”.Jakarta:Yayasan Nusantara.
M. Junus Melalatoa. 1985. Kamus Bahasa Gayo Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Muhammad Haji Saleh. 1992. Puitika sastra Melayu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Mohd. Taib Osman. 1976. Panduan Pengumpulan Tradisi Lisan Malaysia. Malaysia: Malindo Printers Sdn. Bhd.
Mustapa Mohd. Isa. 1987. Awang Belanga PelipurLara dari Perlis. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Sidi Gazalba. 1974. Sitematika Falsafah. Kuala Lumpur: Utusan Melayu Berhad.
Sohaimi Abdul Aziz. 2000. “Estetika Kesusastraan Melayu: Satu Pandangan Muhammad Haji Saleh”. Pulau Pinang: Seminar Kefahaman Budaya Ke IV.
Sulaiman Hanafiah. 1984. Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sutejo Sujitno, 1995. Aceh Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan. Banda Aceh: Sekretariat Gubernur Daerah Istimewa Aceh.
Teeuw, A. 1978. “Penelitian Struktur Sastra”. Tugu Bogor. Kertas Kerja.
Wadjiz Anwar, 1980. Falsafah Estetika. Yogyakarta: Nur Cahaya.
Warton, Thomas. 1974. History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago Press.
Wellek, Rene, 1995. Teori Kesusastraan (Terjemahan). Jakarta: PT Gramedia.

Isma Tantawi

Isma Tantawi lahir pada tanggal 7 Februari 1960 di Kuning Aceh Tenggara (sekarang Kabupaten Gayo Lues). Beliau adalah staf pengajar tetap di Fakultas sastra Universitas Sumatera Utara mengasuh mata kuliah Sastra Bandingan, Estetika, dan Sastra Malaysia Modern serta mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan sebagai dosen tamu di Kolej Sentral Kuala Limpur, Malaysia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara tahun 1986 dan saat ini sedang mengikuti pendidikan master (S-2) di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia dengan bidang kajian tradisi lisan nusantara. Di samping itu juga beliau aktif mengikuti seminar nasional dan internasional baik sebagai peserta maupun pemakalah.

Source: http://ismatantawi.blogspot.com/2009/05/didong-gayo-lues-analisis-keindahan.html

Advertisements

Oleh: Win Ruhdi Bathin dan Khalisuddin

Tidak ada yang tidak mengenal nama Tengku Ibrahim Aman Samsir. Penduduk Jaluk Kecamatan Ketol yang kini berusia 89 tahun. Namanya pernah dibicarakan petani kopi Takengon dan Bener Meriah yang berjmulah ratusan ribu orang.

Bahkan rumah dan kebun Tengku Ibrahim yang terletak di Jaluk setiap hari ramai dikunjungi petani dari antero Takengon dan Bener Meriah mencari bibit kopi Ateng yang sudah berbuah di usia 1 tahun dengan tinggi batang kurang dari satu meter.

Kopi Ateng Jaluk bahkan dibawa ke , Jawa, Sumatera , Kalimantan hingga ke Belgia. Itulah sepenggal kisah tenarnya Tengku Ibrahim Aman Samsir, lelaki berperawakan kecil, berkulit gelap dan murah senyum.Orang yang pertama sekali menemukan sebuah varitas kopi yang berbuah di usia satu tahun dengan jumlah buah yang melimpah dan batangnya pendek. Kopi ini kemudian diberi nama Ateng Jaluk, dari jenis Arabika atau Catimor Jaluk. Sejak tahun 1980 hingga kini.

Tidak sulit mencari Tengku Ibrahim Aman Samsir di Kampung Jaluk. Dia sudah sepuh (tua). Badannya kurus. Tapi ingatannya masih kuat. Nada bicaranya jelas dan suka melucu.Saat tertawa, matanya mengecil , hidungnya tampak semakin mancung, gusinya terlihat kosong, sepeti gusi bayi. Giginya sudah tanggal .

Kerut-kerut diwajahnya tergambar jelas. Rahangnya menonjol .Tampak dia seorang pekerja keras. Kulitnya legam dibakar matahari. Tapi senyum dan tawanya lepas tanpa beban.

Walau kulitnya hitam, tampak bersih dan meneduhkan. Dari kalimatnya, tampak sekali Tengku Ibrahim dekat dengan Sang Khaliq. Saat saya dan Khalisuddin menjambangi rumah sederhananya, Minggu (8/11). Rumahnya terbuat dari papan seperti rumah petani kebanyakan yang sangat sederhana. Berukuran sekitar lima kali sepuluh meter.

Tidak ada peralatan mewah, kecuali sebuah kenderaan roda dua yang sudah tua mereka Honda. Di ruang tamu tampak sebuah tempat tidur tanpa kasur. Kami duduk di sofa tua. Tengku Ibrahim ditemani seorang dari 15 cucunya bernama Yusuf berusia sekitar enam tahun yang menggantungkan ketapel di lehernya.

Setelah membalas salam dan bersalaman. Kami memperkenalkan diri. Tengku Ibrahim Aman Samsir mengenakan selop Setelah membalas salam dan bersalaman. Kami memperkenalkan diri. Tengku Ibrahim Aman Samsir mengenakan selop merek Lily, sandal pavorit orang tua. Berwarna biru. Berbahan plastic dengan dua tali.

Bajunya, baju koko yang dilipat hingga dibawah siku dan memakai sarung. Di kepalanya sebuah kopiah berwarna hitam berbahan beludru tampak tak lekang meski sudah tampak lusuh.

Sambil mengeluarkan plastic putih ukuran satu ons dari kantungnya yang berisi tembakau dan daun nipah, Tengku Ibrahim Aman Samsir, memulai kisah penemuan kopi Ateng Jaluk yang telah mengantarkan puluhan atau bahkan ratusan petani kopi ke Mekah menunaikan rukun Islam kelima.Tapi Tengku Ibrahim Aman Samsir belum haji, meski sangat memimpikannya.

Menurut Tengku Ibrahim Aman Samsir, penemuan varitas kopi Ateng Jaluk terjadi secara tidak sengaja. Di tahun 1980, Dinas Perkebunan membuat pembibitan kopi Tim-tim di Simpang Juli Angkup.

“Pak Wahab, pegawai Dinas Perkebunan membagikan bibit kopi Tim-tim kepada petani di Jaluk. Jumlahnya 2000 batang untuk satu hektar. Sebelum bibit Tim-tim dibagikan, petani sudah menanami kebunnya dengan kopi arabika yang berasal dari Burni Bius dan Belang Gele”, ujar Tengku Ibrahim Aman Samsir seraya menarik asap rokoknya dalam-dalam.

Saat mengisap rokok, pipinya tampak peot dan tulang rahangnya semakin menonjol. Setelah kopi yang dibagikan Disbun berumur dua tahun, disalah satu bagian kebunnya yang tidak jauh dari rumahnya di pinggir jalan Buntul Jaluk, Tengku Ibrahim melihat sebuah batang kopi yang berbeda dengan kopi lainnya.

“Batangnya pendek, sudah berbuah. Dengan jumlah buah yang banyak dan rapat setiap tungkunya. Seperti buah kopi Robusta”, kata Tengku Ibrahim Aman Samsir. Karena merasa kopi tersebut luar biasa dan berbeda dengan varitas kopi yang telah ada selama ini dimana usia tiga tahun kopi baru berbuah, Tengku Ibrahim Aman Samsir coba mengambil buah kopi yang masak.

“Awalnya saya kira buahnya yang masak tidak berbiji. Tapi ternyata bijinya normal seperti kopi lainnya”, papar Bapak dari Samsir, Narmi, Gazali, Zamli dan M Jamil ini.Tengku Ibrahim Aman Samsir .

Tengku Ibrahim Aman Samsir masih merahasiakan penemuan kopi yang dianggapnya unggul tersebut. Setelah memetik buah kopi yang masak. Suami dari Aisyah yang kini sudah wafat ini, coba menyemainya langsung didekat kopi Ateng yang pertama sekali ditemukannya itu.

“Biji kopi Ateng yang saya semai itu tumbuh normal namun habis diseruduk babi yang mencari cacing disana. Saat itu saya berada di Ketol menunggui buah durian yang sedang berbuah”, sebut Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Tidak putus asa, Tengku Ibrahim Aman Samsir kembali menyemai buah kopi dari batang kopi Ateng yang saat itu masih sebatang saja. Setelah bibit kopi tumbuh, mulailah warga sekitar Kampung Buntul Jaluk meminta bibit kopi yang dianggap luar biasa tersebut.

“Ada yang hanya minta dua bibit, lima batang bibit hingga seratus batang. Di tahun 1987, informasi tentang kopi Ateng Jaluk sudah tersebar luas”, papar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

“Nama kopi Ateng diberikan warga yang datang meminta bibit. Karena masih kecil sudah berbuah, orang menyebutnya Kopi Ateng Jaluk”, kenang Ibrahim Aman Samsir tentang nama “Kopi Ateng Jaluk” yang kemudian menjadi nama yang dipakai untuk kopi ini hingga saat ini.

Ditahun 1988, hampir semua pekebun kopi Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah menanam kopi Ateng Jaluk. Ada kisah menarik yang diceritakan Ibrahim Aman Samsir. Seorang warga yang telah meminta bibit kopi Ateng mengadu kepada Ibrahim Aman Samsir. Benih kopi Ateng Jaluk yang disemai di bedengan di kebun warga tersebut, hilang dicuri orang.

Dengan kemurahan hatinya, Tengku Ibrahim Aman Samsir mengganti bibit warga yang dicuri orang tersebut seraya berkata, “ yang dicuri orang itu punya saya. Ini saya berikan gantinya”, kata Tengku Ibrahim Aman Sasir sambil tertawa lepas.

Warga atau petani yang terus mendatangi rumah dan kebunnya untuk mencari bibit kopi Ateng Jaluk kala itu menghargai sendiri bibit kopi Ateng yang dimiliki Tengku Ibrahi Aman Samsir dalam bentuk biji.

“Warga sendiri yang menghargai perbambu kopi Ateng untuk bibit Rp.25 ribu. Saya tidak pernah mematok harganya. Terserah keikhlasan. Banyak juga yang tidak memiliki uang tapi bibit kopi tetap saya berikan”, ujar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Dalam kesederhanaanya, Tengku Ibrahim Aman Samsir tidak lantas lupa diri. Dia biasa saja. Perubahan ekonomi secara drastic tidak tampak pada Tengku Ibrahim Aman Samsir. Kebanyakan kopi Ateng Jaluk yang ditemukan dan dikembangkannya , kebanyakan memang diminta petani sepertinya tanpa patokan harga atau jual beli.

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan penyebaran kopi Ateng Jaluk diantero Datarn Tinggi Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues, tetangga Tengku Ibrahim Aman Samsir kerap bercerita kepadanya yang menceritakan kopi Ateng Jaluk temuan Tengku Ibrahim Aman Samsir yang dinilai sangat membantu petani karena setahun sudah panen.

‘Ada warga atau petani yang mengucapkan rasa terima kasihnya kepada saya dan berpamitan naik haji dari kebun kopi Ateng yang mereka tanam.”Allah yang mengembangkannya. Tidak bisa kita batasi”, sebut Tengku Ibrahim Aman Samsir sambil tersenyum lepas.

Dijelaskan Tengku Ibrahim Aman Samsir, berdasarkan pengalamannya menanam kopi Ateng, kopi Ateng sebaiknya ditanam tidak lebih dari 10 tahun saja. Dengan jarak tanam 1 X 1 meter. Kemudian diganti lagi dengan tanaman baru. “Jika lebih dari 10 tahun, buahnya tetap banyak namun lebih kecil bijinya”, papar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Karena berusia setahun sudah panen, menurut Tengku Ibrahim Aman Samsir, banyak petani kopi yang mampu membayar hutang dengan menanam Kopi Ateng Jaluk.Umumnya kopi ini ditanam di bukaan lahan kopi yang baru ditebang (hutan) atau dibekas hutan yang sudah ditebang lama yang sudah ditumbuhi rumput atau ilalang (tamas mude).

Jika selama ini berbagai varitas kopi yang ditanam petani umumnya baru mulai berbuah setelah ditanam tiga tahun. Hadirnya kopi Ateng Jaluk yang tumbuh ditanah kebun Tengku Ibrahim Aman Samsir yang kemudian diperbanyak dan disebarnya, telah membuat petani dapat menghasilkan uang dari kopi tidak lebih dari setahun.

Jauh hari sebelum Tengku Ibrahim menemukan kopi Ateng Jaluk. Suatu ketika saat berada di kebun kopinya yang sebagian ditanam kopi Robusta sedang berbuah lebat. Tengku Ibrahim melihat buah kopi Robusta yang tiap ruasnya dipenuhi puluhan buah kopi dengan jarak tungku yang rapat.

“Ah , seandainya ada kopi arabika yang berbuah seperti kopi robusta, petani pasti lebih sejahtera” guman Tengku Ibrahi seolah berbicara pada dirinya sendiri seraya mengamati kopi Robusta.

“Tidak lama kemudian apa yang saya pikirkan diijabah Allah”, ungkap Tengku Ibrahim Aman Samsir. Meski berhasil mengembangkan kopi catimor Ateng Jaluk, Tengku Ibrahim Aman Samsir yang kini berusia 89 tahun, terlihat low profile dan sederhana sekali, seperti kebanyakan petani kopi yang masih miskin.

Atas semua usaha itu, Pemda pernah memberinya uang Rp.4 juta dan sebuah piagam penghargaan yang dikeluarkan Kepala Dinas Perkebunan. Itu saja , tidak lebih. Lelaki sepuh yang pernah menjadi tentara DI (Daru Islam) ini masih menyimpan obsesi menunaikan haji, rukun Islam kelima.

Tengku Ibrahim Aman Samsir mengantar kami ke batang kopi Ateng Jaluk pertama tumbuh di kebunnya , tidak jauh dari rumahnya. Persis di samping Mesjid Baitul Hikmah. Pohon Ateng Jaluk pertama tumbuh ini masih menghasilkan meski telah berusia 29 tahun. Kopi ini sudah ditumbuhi lumut.

Dan Tengku Ibrahim Aman Samsir masih menyimpan mimpi naik Haji. Adakah dermawan Aceh yang bisa mewujudkan mimpi petani pedalaman Aceh Tengah di Kampung Buntul Jaluk itu?, waktu jua yang menjawabnya. (win dan khalis)

Oleh Khalisuddin

Takengon-Kepulangan tokoh Gayo, Yusra Habib Abdul Gani dari Denmark untuk menjenguk orang tua dan keluarga di Takengon, khususnya di Kampung Kenawat kecamatan Lut Tawar dimanfaatkan dengan baik oleh sejumlah tokoh muda Dataran Tinggi Gayo untuk saling berdiskusi terkait Gayo dengan menggelar ajang diskusi di ruang kuliah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Gajah Putih Takengon, Senin (30/11) malam dengan tema “Gayo dulu, kini dan akan datang.”

Diskusi yang dimoderatori Yusradi Usman al-Gayoni, staf ahli anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Aceh Ir Mursyid berlangsung dari pukul 21.00-24.00 Wib tersebut merupakan diskusi pertama Yusra habib dengan masyarakat Gayo di Takengon sejak 1973. Sosok Yusra Habib yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh GAM di luar negeri. “Saya sangat terharu dan berbahagia, setelah puluhan tahun baru kali ini saya dapat berdiskusi tentang Gayo bersama saudara-saudara saya di komplek STAI yang berbahagia ini,” kata Yusra mengawali diskusi tersebut.

Pengakuan Yusra, selaku orang Gayo di rantau, dirinya berterimakasih kepada administrator Pages kegayoan di jejaring sosial Facebook seperti I Love Gayo (ILG), Save Depik Gayo (SDG), Gayo Photography Community (GPC) dan lain-lain. “Walau sangat jauh, saya dapat ikuti perkembangan Gayo dan berinteraksi dengan saudara-saudara saya di Gayo dan Aceh umumnya,” ujar Yusra Habib, yang bernama panggilan Lanyut ini.

Terkait kata Gayo, menurut Yusra, Gayo tidak ada dalam bahasa Gayo. Gayo tidak punya terjemahan dalam bahasa Gayo, kecuali dalam bahasa Karo yang berarti Kepiting. Selanjutnya di Gayo Lues ada nama tempat bernama Pegayon yang merupakan sebuah rawa tempat warga sekitarnya mencari kepiting.

Diungkapkan Yusra tentang seorang rekannya yang juga Urang Gayo baru-baru ini berkunjung ke Korea Selatan dan sempat berwisata ke sebuah rumah peribadatan setempat yang telah berumur sekitar 1.500 tahun. Ditempat tersebut, kata Yusra ditemukan semacam kitab suci yang berjudul “Gayo”. “Fotonya ada sama saya, dan saya jadi bingung apa hubungan Gayo di Tanoh Gayo dengan orang Korea Selatan,” ujar Yusra.

Kemudian, Yusra dihubungi seseorang yang merupakan ahli sejarah di Indonesia yang menyatakan bahwa di sebuah provinsi di Cina ditemukan ukiran yang sama persis dengan ukiran Kerawang Gayo. Dan warga setempat memakai panggilan kekerabatan yang persis sama dengan panggilan kekerabatan (tutur) seperti di Gayo. “Selain di Cina ada beberapa tempat lagi di belahan dunia seperti di Kamboja dan Thailand yang tutur bahasanya sama persis dengan yang ada di Gayo kita ini,” tambah Yusra.

Untuk memperjelas pernik-pernik kegayoan, kata Yusra, perlu dilakukan riset mendalam. Dikatakan Yusra, dirinya punya ide untuk diadakannya Konferensi Aliansi Gayo Sedunia pada Juli 2010 mendatang. “saya berharap ide ini mendapat respon dari seluruh pihak terkait, termasuk dari tempat-tempat yang kemungkinan adalah saudara kita tersebut,” harap Yusra.

Dari sekian banyak potensi yang menjadi modal dasar kekuatan Gayo untuk eksis, Yusra menyebutkan tiga hal, pertama dengan adanya para seniman yang sekaligus menjadi pemikir Gayo yang menelaah sejumlah falsafah dan ide Urang Gayo melalui karya seni dan sastra.

Yusra mencontohkan tentang hubungan antara langit dan bumi yang berpenghuni manusia dan makhluk lainnya yang sudah diterangkan lebih awal dalam kitab suci Al-Qur’an dalam surat Ar-Rahman ayat 33 yang mengatakan bahwa manusia dapat melintasi alam semesta dengan menguasai ilmu pengetahuan. Seniman Gayo ternyata mampu menterjemahkan bunyi firman Allah tersebut dengan mengungkapkan melalui karya seni didong pada tahun 1960 dengan bunyi syair “Kao i langit selo ku toyoh, i kalei toboh, Sige kupasang berkite oloh buge eroh,”. Yusra kemudian menyanyikan syair tersebut dengan suara bergetar, para audien terdiam, terhanyut dengan syair yang didendangkan Yusra.

Selanjutnya menurut Yusra, kata Sige yang berarti sejenis tangga, adalah bentuk instrumen berwujud pesawat ulang alik yang menghantarkan manusia ke ruang angkasa.

“Urang Gayo sejauh ini hanya mampu menerjemahkan isi Al Qur’an dalam syair. Sayang sekali, teknokrat Gayo gagal mengaktualisasikan syair tersebut menjadi bentuk riil dan ternyata malah Amerika yang bisa untuk pertama sekali bisa ke ruang angkasa pada tahun 1969,” papar Yusra.

Modal dasar selanjutnya terkait bidang ekonomi. Ditegaskan Yusra Urang Gayo tidak bodoh dalam konsep ekonomi. “Kita punya konsep filosopis dalam bidang ekonomi yang berbunyi Oros rom tungkelni imen, gadung kepile pegerni keben,” kata Yusra. Artinya, lanjut Yusra, Urang Gayo sangat kaya dan tidak mesti membuka keben (lumbung padi) untuk menjual oros (beras) dalam menutupi keperluan hidup. Cukup dengan mengandalkan gadong (ubi kayu) dan kepile (ubi rambat)Urang Gayo bisa bertahan hidup yang digambarkan sebagai pegerni keben (pagar lumbung padi). “Pintu keben, jika keperluan mendesak saja dibuka, itupun jika mengacu kepada adat Gayo dilakukan sembunyi-sembunyi, karena Urang Gayo malu harus menjual beras. Jangan sampai terjadi lagi hanya untuk membeli ikan Bandeng atau Pisang Goreng kita harus jual beras. Memalukan sekali, ” kata Yusra sambil menyayangkan sudah terjadinya pergeseran sikap dan nilai filosopis Gayo saat ini seperti menjual sawah dan kebun untuk macam-macam keperluan.

Dikatakan Yusra, sejak datangnya Belanda, Urang Gayo di Aceh Tengah dan Bener Meriah umumnya sudah bergantung hidup kepada kopi sebagai pengganti sawah. Sayangnya, kata Yusra, kebun kopi beserta isinya milik Urang Gayo akan tetapi secara hukum bukan Gayo yang berhak memiliki. Ekspor dan impor kopi merupakan hak Belanda.

Ditegaskan Yusra, kedepan Urang Gayo harus mampu memaksimalkan pendapatan melalui hasil pertanian dan perkebunan untuk bangun Gayo sebagai kekuatan inti ekonomi dan untuk sumber tambahan lain, harus mampu memanfaatkan potensi seni, budaya dan keindahan alam seperti Lut Tawar. “Silahkan kelola dan promosikan potensi alam dan budaya seluas-luasnya agar datang orang mengantar uang ke Gayo,” seru Yusra.

Sebagai modal atau pilar ketiga menurut Yusra adalah Edet (adat). “Edet enti pipet, demikian petuah adat yang diwariskan kepada kita,” kata Yusra. Artinya, dalam selesaikan persoalan apapun bagi Urang Gayo tidak ada kata-kata buntu. “Jangan sampai kalang kabut selesaikan persoalan karena adat Gayo sangat fleksibel, semua masalah ada jalan keluarnya,” tegas Yusra.

Selanjutnya kata Yusra, “Atur enti bele” yang berarti dalam menerapkan perkara hukum jangan sampai bele (curang). “Terapkan hukum di Gayo harus seadil-adilnya,” pinta Yusra mengakhiri pemaparannya terkait Gayo dulu, kini dan masa yang akan datang.

Acara kemudian berlanjut dengan diskusi hangat, turut mengajukan pertanyaan diantaranya Salman Yoga seniman dan juga pengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh yang sedang berada di Takengon kampung halamannya. Ikhwanussufa, ketua KNPI Aceh Tengah. Syirajuddin AB, anggota DPRK Aceh Tengah. Win Satria Agustino, ketua Forum LSM Aceh Tengah. Idrus Saputra, ketua Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jangko) dan sejumlah tokoh mahasiswa dari STAI Gajah Putih dan UGP Takengon.

Seluruh pertanyaan dijawab Yusra dengan lugas dan terinci. Kekhawatiran sejumlah orang akan bergesernya materi diskusi ke persoalan politik ternyata tidak terjadi. Diskusi kemudian berakhir dengan perkenalan dan salam-salaman antara sesama peserta dan Yusra Habib Abdul Gani dengan kesepakatan terus membangun komunikasi dan saling tukar informasi untuk membangun Gayo lebih baik dimasa yang akan datang, terutama terkait pengelolaan SDA dan pembinaan SDM.[003]

Oleh Win Ruhdi Bathin

Takengon-Senin malam (30/11) di Gedung kuliah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Universitas Gajah Putih, Yusra Habib Abdul Gani, menjadi pembicara kunci tentang Kegayoan dalam kuliah terbuka.

Hadir berbagai kalangan Aceh Tengah, seperti aktivis kampus ,LSM, wartawan, dosen, seniman, PNS dan sejumlah kalangan lainnya. Yusra Habib, pria asal Kampung Kenawat Kecamatan Luttawar yang telah 36 tahun berada diluar negeri dan menjadi warga Negara salah satu Negara Eropa, Denmark, mengulas berbagai hal.

Dikatakan Yusra Habib, yang membawa serta istrinya, asal Pidie dan dua anaknya, ada karakter masyarakat gayo yang dalam keadaan terjepit baru menunjukkan potensi dan kemampuan intelektualnya.

“Ini harus dirubah. Bagaimana caranya potensi masyarakat gayo yang cerdas dikembangkan dan diaplikasikan demi gayo kedepan. Untuk itu, masyarakat Gayo harus merubah diri dan terbuka”, kata Yusra dalam bahasa Gayo yang fasih.

Menurut Yusra Habib, ada penyakit masyarakat Gayo, yakni sulit bersatu dan terkotak-kotak dan kurang menghargai keberhasilan dan karya orang lain.”Ini harus dirubah, jika selama ini kebanyakan masyarakat Gayo selalu melakukan keberhasilan seorang diri (single fighter), kini harus didukung oleh komponen lainnya. Jika ingin maju dengan filosofi Gayo dan blue printnya yang jelas sehingga bisa diukur parameter keberhasilan dan ketidakberhasilan”, tegas Yusra Habib.

Akibat tidak adanya kekuatan kolektip masyarakat Gayo, lanjut penulis artikel di harian yang terbit di Aceh ini, hubungan moral dan emosional kurang sesama pribadi masyarakat Gayo yang harus segera dirubah dengan memulai kekuatan kolektif tanpa pandang batasan urang-urangan dan belah atau klan yang ada di Gayo demi Gayo kedepan dengan mengutamakan professional, keahlian dan penghargaan.

Setelah memberikan materi, Yusra Habib yang segera merilis buku tentang Self Government, melakukan diskusi. Acara diskusi berlangsung meriah karena kehadiran Yusra Habib ditengah masyarakat Gayo memberi pencerahan dan ajang silaturrahmi untuk motivasi bagi generasi muda Gayo.

Salman Yoga M Ag, dosen Gajah Putih dan IAIN Arraniry Banda Aceh, mempertanyakan karakter masyarakat gayo yang dinilainya belu berubah, yakni, masyarakat Gayo cerdas melihat masalah, lambat mengkongkritkan solusi dan lemah mengiplementasikan solusi.

Menjawab hal ini, menurut Yusra, perlu otokritik bagi karakter yang negative ini dengan lebih sering berdiskusi, membuka diri dan meniru cara berpikir dan bertindak masyarakat maju didunia.

“Kita perlu meniru cara berpikir Yahudi yang kompak dan memiliki jaringan didunia antara masyarakat Yahudi, dimanapun mereka berada untuk membangun”, kata Yusra sembari menjelaskan cara berfikir seperti itu patut dicontoh untuk bersatu dan tetap mengedepankan aturan agama dan adat sebagai pijakan bertindak.

Yusra Habib mencontohkan, jika melihat semrawutnya pembangunan pemukiman dan pertokoan di Aceh Tengah, menurutnya pembangunan tanpa konsep seperti itu tidak lebih baik dari pemukiman Dayak.

“Tapi kita tidak boleh menyalahkan siapapun. Ini kesalahan kolektif kita yang tidak punya blue print yang jelas. Mari membuka dan memperbaiki diri demi masa depan”, papar Yusra.

Yusra Habib juga sedang menggagasi pertemuan masyarakat gayo sedunia yang direncanakan berlangsung pertengahan tahun 2010. “Aliansi Masyarakat Gayo sedunia perlu untuk mempertegas keberadaan masyarakat Gayo di dunia.

Karena, tambah Yusra Habib, banyak temuan dan kemiripan adat budaya Gayo dengan berbagai ras masyarakat dunia, seperti di Korea, China, Philipina dan sejumlah tempat lain yang mirip dengan Gayo.

Yusra Habib mengungkap sebuah fakta dimana di sebuah tempat di Korea, ada gereja yang berusia 1500 tahun yang kitab sucinya bertuliskan Gayo serta beberapa kemiripan bahasa, cara, pakaian dan kemiripan lainnya dengan beberapa suku lainnya di dunia.

“Jika masyarakat Gayo mengaplikasikan apa yang sudah tersimpan dalam pemikiran masyarakat Gayo kedepan yang disimpan dalam lirik petatah petitih, ratusan dan puluhan tahun silam, kita mungkin terlebih dahulu ke bulan”, cetus Yusra Habib.

Yusra mencontohkan sebuah lirik lagu atau didong Gayo yang dinyanyikan Ramlah tahun 1960, petikannya, Sige kupasang berkite oloh….ini bermakna untuk mencapai bulan, diperlukan tehnologi dan instrument.”Barulah tahun 1969 Amerika bisa mencapai bulan dengan tehnologi”, kata Yusra. Dan banyak hal lain yang perlu diungkap dan diriilkan dalam dunia nyata.

Membangun ekonomi, lanjut Yusra Habib, nenek moyang Gayo sudah memiliki konsep yang jelas dengan peribahasa gayo, “ Beras padi tungket imem. Gadung Kepile pegerni keben”. Yang berarti, ketersediaan pangan (padi) mutlak harus dibangun sebagai basis ekonomi kerakyatan walau saat ini jumlah sawah terus berkurang sehingga beras untuk warga Aceh Tengah sebagian besar didatangkan dari Pesisir Aceh.

Setelah ekonomi kuat, rinci Yusra, Gadung Kepile pegerni keben bermakna perlunya diversipikasi ekonomi rakyat dengan tanaman komersial yang layak jual atau eksport, seperti kopi dan komoditas lainnya.

“Tapi sayang, meski kopi Gayo, buah, batang dan akarnya di Dataran Tinggi Gayo, namun pemiliknya adalah Belanda yang menguasai paten kopi Gayo”, kata Yusra habis kecewa.

Sebagai MC dalam pertemuan dengan Yusra Habis, Khalisuddin dari Vistaga dan Yuradi Usman Algayoni sebagai moderator. Hadir dua anggota DPRK yang rajin mengikuti berbagai diskusi dengan generasi muda, Syiradjuddin AB dan Ikhwanussufa (Win)

Oleh Khalisuddin

Urang Gayo paling pantang menjadi peminta-minta alias pengemis dijalanan, pintu ke pintu atau tempat umum lainnya. Benarkah predikat anti mengemis tersebut layak disandang Urang Gayo? Siapapun yang berdomisili di hamparan Tanoh Gayo akan katakan, “sangat pantas”. Kenyataannya, dari ujung ke ujung belahan dunia, dipastikan tak ada Urang Gayo yang berprofesi sebagai pengemis, mengangkat sebelah tangan kanan hingga sejajar dada dengan bagian telapak berada diatas.

Joni, seorang pemilik warung Mie di kawasan jalan Lebe Kader yang bukan beretnis Gayo mengatakan dalam seharinya minimal tiga pengemis yang mampir di warungnya. “Hampir dua tahun saya berjualan mie di sini, belum ada satu pun orang Gayo yang mengemis kemari,” kata Joni.

Keterangan lainnya diperoleh dari Heri, penjaga pompa Bahan Bakar Minyak (BBM) di kawasan Paya Ilang Takengon menyatakan dalam seharinya banyak pengemis yang beroperasi di pom tempatnya bekerja. Heri dengan tegas menyatakan tak ada yang beretnis Gayo yang mengemis di tempatnya bekerja.

Lalu Zahardi, yang cacat kaki sejak lahir dan juga beristrikan wanita senasib dengan dirinya, pincang, warga Belang Kucak kabupaten Bener Meriah, memilih membuka kios kecil-kecilan, bercocok tanam dipekarangan dan menjahit pakaian di rumah sewaan dari pada harus mengemis mengharap belas kasihan orang.

Cik Timin, warga kampung Bale Takengon, lelaki setengah baya bertangan kanan buntung sejak lahir, lebih memilih menjadi penjaga masjid at-Taqwa Hakim Bale Bujang dekat rumahnya. Cik Timin, dengan satu tangan malah mampu berkebun kopi serta bercocok tanam sayur-sayuran disekitar masjid tempatnya bekerja. Cik Timin mahir memainkan cangkul walau dengan hanya satu tangan yang normal.

Ada lagi, seorang bujang yang bisa dikatakan tuna netra di kampung Simpang kelaping Kecamatan Pegasing, Khairun. Dikenal sangat mahir memijat dan sering menerima upah dari hasil memijat tetangga sekitar rumahnya. Malah terkadang Khairun ikut mencangkul disawah bersama orangtunya walau dengan kondisi mata yang tidak normal.

Sosok Ateng yang cukup dikenal di kawasan Kebayakan Takengon. Ateng dinilai kurang normal perkembangan otak dan fisiknya. Tapi tidak pernah meminta-minta berharap belas kasihan. Ateng menawarkan pijatan jika sewaktu-waktu butuh uang. Begitu si Onot, pria bisu penjaga parkir di Simpang Lima Takengon. Jangankan mengemis, malah kerap memberi parkiran gratis kepada pemillik kenderaan bila mengaku tak punya uang. Onot sering tawarkan rokok kepada orang yang dikenalnya.

Urya, siswa SD Kebet kelas I, warga Tan Saril, saban siang menjelang sore sudah duduk diatas beton dipinggir jalan Takengon-Pegasing dengan memegang ikatan yang mengait belasan ekor belut. Urya tak mahir menawarkan belut dagangannya. Dia hanya mengayun-ayun ikatan belut, itupun terkadang dalam keadaan mengantuk. Ternyata tak kurang dari 25 ribu Rupiah perharinya berhasil diperoleh Urya dari menjual belut. Belut-belut dagangan Urya merupakan hasil tangkapan abangnya yang sudah putus sekolah.

Informasi dari Banda Aceh, kota dimana terbanyak berdomisli Urang Gayo diluar Tanoh Gayo diperoleh keterangan dari Rasyidin Sali, Ketua Keluarga Negeri Antara (KNA) yang berkantor di kawasan Lingke Banda Aceh, dinyatakan Rasyidin sejauh ini tak ada Urang Gayo yang melakukan aktivitas mengemis di ibukota Provinsi Aceh. Jika ada pengemis berdarah Gayo, Rasyidin minta agar dilaporkan kepadanya atau diantarkan ke kantor KNA untuk diberi pembinaan.

Dari Kabupaten Gayo Lues, H Abdul Wahab, pejabat teras di setdakab kabupaten pemekaran Aceh Tenggara tersebut berani memastikan tak ada warganya yang berkeliaran mengemis. “Ada pengemis yang beroperasi di Gayo Lues, tapi bukan orang Gayo. Mereka datang dari luar. Masyarkat Gayo Lues memang miskin-miskin, tapi sebuah kepantangan untuk mengemis,” kata Abdul Wahab.

Banyak lagi contoh individu-individu di Gayo yang punya kekurangan bentuk fisik atau alasan miskin, yatim piatu tidak lantas berputus asa dan kemudian melakukan aktifitas mengemis door to door menutupi kebutuhan hidup.

Mengemis bergaya lama atau dalam artian sesungguhnya mungkin tidak ada, lalu mengemis dengan pola baru dengan membuat surat miskin atau kurang mampu dan mengajukan proposal ke instansi bagaimana?

Pengakuan sejumlah kepala kampung di Takengon seperti M Nur, Kepala Kampung Simpang Kelaping Kecamatan Pegasing Aceh Tengah, dalam tahun 2009 ini ada 3 Kepala Keluarga yang meminta Surat Keterangan Kurang Mampu kepada saya, demikian pengakuan M Nur.

Kepala Kampung Pedemun Kecamatan Lut Tawar Aceh Tengah, Fitran, menyatakan ada 2 warganya yang mengajukan surat keterangan miskin. “karena keperluan administrasi sebuah program pemerintah, warga saya harus membuat surat keterangan miskin untuk keperluan administrasi,” kata Fitran.

Menurut Kusriadi, operator komputer yang biasa menerima jasa pengetikan di Simpang Kelaping kecamatan Pegasing Aceh Tengah menyatakan, beberapa bulan terakhir ini jarang sekali yang datang meminta dibuatkan surat Keterangan Kurang Mampu atau Miskin. Permintaan ramai jika ada penyaluran bantuan dari pemerintah atau dari NGO. Warga berbondong-bondong membuat surat keterangan miskin sebagai persyaratan administrasi memperoleh bantuan. Dan menurut Kusriadi, dari penampilan orang-orang yang datang yang sebagiannya dikenal baik oleh Kusriadi bukan sebagai orang miskin. “Mereka urus surat miskin karena permintaan administrasi saja,” kata Kusriadi yang biasa menerima permintaan pengetikan dan fotocopy dari warga kecamatan Pegasing, Bies, Linge, Silihnara, Rusip Antara, Jagong Jeget dan Atu Lintang.

Terkait surat keterangan miskin atau kurang mampu ini juga diperoleh keterangan dari camat Lut Tawar, Subhandi dan Pegasing Aceh Tengah, Mursyid. Warga mereka mengurus surat miskin bila diperlukan untuk keperluan administrasi program penguatan ekonomi atau keperluan lainnya.

Kawasan tempat komunitas Gayo umumnya, dikenal subur. Istilah “tongkat kayu jadi tanaman” bukan sekedar nyayian merdu sang vokalis Koes Plus di Tanoh Gayo. Pantas saja saat perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, pejuang-pejuang Aceh menyebut kawasan Gayo sebagai daerah lumpung pangan, sekaligus tempat bergerilya yang paling ideal karena tekstur kawasan pegunungan.

Sebelum kedatangan Belanda, Urang Gayo umumnya tak pernah kesulitan bahan pokok. Mereka bersawah, menjadi nelayan di Lut Tawar dan menangkap ikan dengan mudah di sungai-sungai. Rom Oros tungkel ni keben, gadung kepile pegerni keben (Beras dan padi simpanan pokok, ubi kayu dan ubi rambat jadikan pagar lumbung padi) demikian konsep ekonomi masyarakat Gayo. Untuk kebutuhan sangat pentingpun, Urang Gayo tak perlu jual beras. Demikian filosopi yang dapat ditangkap dari kalimat adat Gayo tersebut.

Lalu Belanda datang dan dengan susah payah membangun jalan penghubung ke dataran tinggi Gayo. Belanda kemudian mengenalkan kopi yang ditanam di tanah yang subur. Penjajah ini kemudian memanfaatkan getah pohon Pinus Merkusi untuk dijadikan bahan industry vernis dan lem juga untuk bahan baku obat-obatan. Pohon ini tumbuh di areal yang sangat luas di Tanoh Gayo.

Saking suburnya, bahkan tanaman harampun, ganja tumbuh subur dan punya merek dagang sebagai ganja terbaik didunia, tumbuh di Tanoh Gayo khususnya bagian tenggara Aceh.

Tak ada alasan untuk mengemis di Tanoh Gayo, demikian pernyataan Al Misry, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Gajah Putih Takengon.

Menurut Al Misry, di Gayo, jika seseorang tak punya kebun, silahkan bersihkan atau bekerja di kebun orang lain, sorenya pasti akan diberi upah oleh sang empunya kebun. Atau, buatkan kandang burung dari Sange (rumput sejenis ilalang), pasti ada orang yang beli. Jika kamu tidak punya pisau, silakan ke danau Lut Tawar dengan tangan kosong, di air dangkal punguti memin (sejenis kerang) dan ketor (siput air tawar) , tak lebih dari dua jam kamu akan dapat uang Rp 20 ribuan. Jika malas kena air danau, silakan jalan-jalan ke tepian sungai yang ada di Gayo, di sana anda akan temukan tanaman Pakis, Keladi atau Gombak liar, antar kepasar atau jajakan dari rumah-kerumah, anda akan bisa beli beras.

Ditegaskan Al Misry, jika semua buntu, silahkan kamu mencuri dikebun orang. Sang empunya kebun Insya Allah akan ikhlas jika kamu ambil hanya untuk kebutuhan makanmu untuk sehari. Tapi kamu akan jadi sampah yang hina jika mencuri itu menjadi kebiasaanmu.

Intinya, tegas Al Misry, dari sumber daya alam yang dikaruniakan Allah, tak ada celah untuk jadi pengemis bagi siapapun yang berdomisili di Tanoh Gayo, walau gila sekalipun. “Lihat saja, mana ada orang gila yang ada dipasar-pasar yang kurus-kurus. Lazim bagi warga Gayo akan memberi makan tanpa harus diminta yang bersangkutan,” ujar Al Misry, sosok pendidik yang dikenal peramah dan bersahaja ini.

Budaya Kemel (Malu)

Belum terbilang banyaknya kalimat adat bermuatan filosopis yang diterapkan oleh masyarakat Gayo terkait larangan berperilaku memalukan ditengah-tengah masyarakat yang tentu sesuai dengan ajaran Islam, termasuk petetiro (mengemis).

Mengemis, dalam pengertian meminta-minta sadaqah bagi masyarakat Gayo sangat memalukan dan suatu pekerjaan hina. Dibak untung sakit, nguken munantin kelumit I ujung jingki (daripada harap untung tapi menyakitkan/memalukan, lebih baik menunggu beras tumpah dari ujung jengki), atau dengan kata lain lebih memakan sisa makanan orang dari pada meminta-minta tapi menerima hinaan orang. Itulah salah satu contoh kata petatah petitih Gayo sebagai ungkapan malunya menjadi pengemis.

Petatah petitih lainnya menyebutkan, lagu munyocok uwahni pengong, entah ni nikite entah ni pong, kira-kira bermakna usaha yang belum tentu ada hasilnya,tidak perlu dilakukan. Lakukan yang pasti-pasti saja.

Ketua Baitul Maal Aceh Tengah, Drs. Mahmud Ibrahim yang juga dikenal sebagai ahli sejarah Gayo menyatakan, di Gayo ada kebiasaan yang sangat positif, yaitu budaya kemel (malu). Mengemis, salah satu perbuatan yang sangat memalukan bagi Urang Gayo. Suatu kampung akan sangat tercemar namanya bila ada warga kampung tersebut melakukan kegiatan meminta-minta di kampung lain. Dan saya melalui Baitul Maal, kata Mahmud, sering menyurati kepala kampung yang warganya menurut penilaian saya tidak pantas atau sering membuat surat permintaan bantuan ke Baitul Maal yang saya pimpin.

Bantuan yang disalurkan Baitul Maal Aceh Tengah, menurut Mahmud tidak lagi berbentuk barang seperti beras, akan tetapi berupa bantuan modal kerja. Artinya, lanjut Mahmud lemahnya ekonomi masyarakat Aceh Tengah tidak sampai berakibat memilih jadi pengemis untuk bertahan hidup. Di Gayo, terjadinya kefakiran dan kemiskinan cenderung karena malas, sakit parah dan berkepanjangan dan keluarga kurang pendidikan.

Mahmud Ibrahim yang juga sebagai ulama kharismatik di Aceh Tengah menyimpulkan, di Gayo jika seseorang tidak malas tak ada celah dan alasan untuk terjebak jadi fakir atau miskin sehinga memilih profesi sebagai pengemis. [003]