Oleh Win Ruhdi Bathin

Takengon-Senin malam (30/11) di Gedung kuliah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Universitas Gajah Putih, Yusra Habib Abdul Gani, menjadi pembicara kunci tentang Kegayoan dalam kuliah terbuka.

Hadir berbagai kalangan Aceh Tengah, seperti aktivis kampus ,LSM, wartawan, dosen, seniman, PNS dan sejumlah kalangan lainnya. Yusra Habib, pria asal Kampung Kenawat Kecamatan Luttawar yang telah 36 tahun berada diluar negeri dan menjadi warga Negara salah satu Negara Eropa, Denmark, mengulas berbagai hal.

Dikatakan Yusra Habib, yang membawa serta istrinya, asal Pidie dan dua anaknya, ada karakter masyarakat gayo yang dalam keadaan terjepit baru menunjukkan potensi dan kemampuan intelektualnya.

“Ini harus dirubah. Bagaimana caranya potensi masyarakat gayo yang cerdas dikembangkan dan diaplikasikan demi gayo kedepan. Untuk itu, masyarakat Gayo harus merubah diri dan terbuka”, kata Yusra dalam bahasa Gayo yang fasih.

Menurut Yusra Habib, ada penyakit masyarakat Gayo, yakni sulit bersatu dan terkotak-kotak dan kurang menghargai keberhasilan dan karya orang lain.”Ini harus dirubah, jika selama ini kebanyakan masyarakat Gayo selalu melakukan keberhasilan seorang diri (single fighter), kini harus didukung oleh komponen lainnya. Jika ingin maju dengan filosofi Gayo dan blue printnya yang jelas sehingga bisa diukur parameter keberhasilan dan ketidakberhasilan”, tegas Yusra Habib.

Akibat tidak adanya kekuatan kolektip masyarakat Gayo, lanjut penulis artikel di harian yang terbit di Aceh ini, hubungan moral dan emosional kurang sesama pribadi masyarakat Gayo yang harus segera dirubah dengan memulai kekuatan kolektif tanpa pandang batasan urang-urangan dan belah atau klan yang ada di Gayo demi Gayo kedepan dengan mengutamakan professional, keahlian dan penghargaan.

Setelah memberikan materi, Yusra Habib yang segera merilis buku tentang Self Government, melakukan diskusi. Acara diskusi berlangsung meriah karena kehadiran Yusra Habib ditengah masyarakat Gayo memberi pencerahan dan ajang silaturrahmi untuk motivasi bagi generasi muda Gayo.

Salman Yoga M Ag, dosen Gajah Putih dan IAIN Arraniry Banda Aceh, mempertanyakan karakter masyarakat gayo yang dinilainya belu berubah, yakni, masyarakat Gayo cerdas melihat masalah, lambat mengkongkritkan solusi dan lemah mengiplementasikan solusi.

Menjawab hal ini, menurut Yusra, perlu otokritik bagi karakter yang negative ini dengan lebih sering berdiskusi, membuka diri dan meniru cara berpikir dan bertindak masyarakat maju didunia.

“Kita perlu meniru cara berpikir Yahudi yang kompak dan memiliki jaringan didunia antara masyarakat Yahudi, dimanapun mereka berada untuk membangun”, kata Yusra sembari menjelaskan cara berfikir seperti itu patut dicontoh untuk bersatu dan tetap mengedepankan aturan agama dan adat sebagai pijakan bertindak.

Yusra Habib mencontohkan, jika melihat semrawutnya pembangunan pemukiman dan pertokoan di Aceh Tengah, menurutnya pembangunan tanpa konsep seperti itu tidak lebih baik dari pemukiman Dayak.

“Tapi kita tidak boleh menyalahkan siapapun. Ini kesalahan kolektif kita yang tidak punya blue print yang jelas. Mari membuka dan memperbaiki diri demi masa depan”, papar Yusra.

Yusra Habib juga sedang menggagasi pertemuan masyarakat gayo sedunia yang direncanakan berlangsung pertengahan tahun 2010. “Aliansi Masyarakat Gayo sedunia perlu untuk mempertegas keberadaan masyarakat Gayo di dunia.

Karena, tambah Yusra Habib, banyak temuan dan kemiripan adat budaya Gayo dengan berbagai ras masyarakat dunia, seperti di Korea, China, Philipina dan sejumlah tempat lain yang mirip dengan Gayo.

Yusra Habib mengungkap sebuah fakta dimana di sebuah tempat di Korea, ada gereja yang berusia 1500 tahun yang kitab sucinya bertuliskan Gayo serta beberapa kemiripan bahasa, cara, pakaian dan kemiripan lainnya dengan beberapa suku lainnya di dunia.

“Jika masyarakat Gayo mengaplikasikan apa yang sudah tersimpan dalam pemikiran masyarakat Gayo kedepan yang disimpan dalam lirik petatah petitih, ratusan dan puluhan tahun silam, kita mungkin terlebih dahulu ke bulan”, cetus Yusra Habib.

Yusra mencontohkan sebuah lirik lagu atau didong Gayo yang dinyanyikan Ramlah tahun 1960, petikannya, Sige kupasang berkite oloh….ini bermakna untuk mencapai bulan, diperlukan tehnologi dan instrument.”Barulah tahun 1969 Amerika bisa mencapai bulan dengan tehnologi”, kata Yusra. Dan banyak hal lain yang perlu diungkap dan diriilkan dalam dunia nyata.

Membangun ekonomi, lanjut Yusra Habib, nenek moyang Gayo sudah memiliki konsep yang jelas dengan peribahasa gayo, “ Beras padi tungket imem. Gadung Kepile pegerni keben”. Yang berarti, ketersediaan pangan (padi) mutlak harus dibangun sebagai basis ekonomi kerakyatan walau saat ini jumlah sawah terus berkurang sehingga beras untuk warga Aceh Tengah sebagian besar didatangkan dari Pesisir Aceh.

Setelah ekonomi kuat, rinci Yusra, Gadung Kepile pegerni keben bermakna perlunya diversipikasi ekonomi rakyat dengan tanaman komersial yang layak jual atau eksport, seperti kopi dan komoditas lainnya.

“Tapi sayang, meski kopi Gayo, buah, batang dan akarnya di Dataran Tinggi Gayo, namun pemiliknya adalah Belanda yang menguasai paten kopi Gayo”, kata Yusra habis kecewa.

Sebagai MC dalam pertemuan dengan Yusra Habis, Khalisuddin dari Vistaga dan Yuradi Usman Algayoni sebagai moderator. Hadir dua anggota DPRK yang rajin mengikuti berbagai diskusi dengan generasi muda, Syiradjuddin AB dan Ikhwanussufa (Win)