Oleh Khalisuddin

Urang Gayo paling pantang menjadi peminta-minta alias pengemis dijalanan, pintu ke pintu atau tempat umum lainnya. Benarkah predikat anti mengemis tersebut layak disandang Urang Gayo? Siapapun yang berdomisili di hamparan Tanoh Gayo akan katakan, “sangat pantas”. Kenyataannya, dari ujung ke ujung belahan dunia, dipastikan tak ada Urang Gayo yang berprofesi sebagai pengemis, mengangkat sebelah tangan kanan hingga sejajar dada dengan bagian telapak berada diatas.

Joni, seorang pemilik warung Mie di kawasan jalan Lebe Kader yang bukan beretnis Gayo mengatakan dalam seharinya minimal tiga pengemis yang mampir di warungnya. “Hampir dua tahun saya berjualan mie di sini, belum ada satu pun orang Gayo yang mengemis kemari,” kata Joni.

Keterangan lainnya diperoleh dari Heri, penjaga pompa Bahan Bakar Minyak (BBM) di kawasan Paya Ilang Takengon menyatakan dalam seharinya banyak pengemis yang beroperasi di pom tempatnya bekerja. Heri dengan tegas menyatakan tak ada yang beretnis Gayo yang mengemis di tempatnya bekerja.

Lalu Zahardi, yang cacat kaki sejak lahir dan juga beristrikan wanita senasib dengan dirinya, pincang, warga Belang Kucak kabupaten Bener Meriah, memilih membuka kios kecil-kecilan, bercocok tanam dipekarangan dan menjahit pakaian di rumah sewaan dari pada harus mengemis mengharap belas kasihan orang.

Cik Timin, warga kampung Bale Takengon, lelaki setengah baya bertangan kanan buntung sejak lahir, lebih memilih menjadi penjaga masjid at-Taqwa Hakim Bale Bujang dekat rumahnya. Cik Timin, dengan satu tangan malah mampu berkebun kopi serta bercocok tanam sayur-sayuran disekitar masjid tempatnya bekerja. Cik Timin mahir memainkan cangkul walau dengan hanya satu tangan yang normal.

Ada lagi, seorang bujang yang bisa dikatakan tuna netra di kampung Simpang kelaping Kecamatan Pegasing, Khairun. Dikenal sangat mahir memijat dan sering menerima upah dari hasil memijat tetangga sekitar rumahnya. Malah terkadang Khairun ikut mencangkul disawah bersama orangtunya walau dengan kondisi mata yang tidak normal.

Sosok Ateng yang cukup dikenal di kawasan Kebayakan Takengon. Ateng dinilai kurang normal perkembangan otak dan fisiknya. Tapi tidak pernah meminta-minta berharap belas kasihan. Ateng menawarkan pijatan jika sewaktu-waktu butuh uang. Begitu si Onot, pria bisu penjaga parkir di Simpang Lima Takengon. Jangankan mengemis, malah kerap memberi parkiran gratis kepada pemillik kenderaan bila mengaku tak punya uang. Onot sering tawarkan rokok kepada orang yang dikenalnya.

Urya, siswa SD Kebet kelas I, warga Tan Saril, saban siang menjelang sore sudah duduk diatas beton dipinggir jalan Takengon-Pegasing dengan memegang ikatan yang mengait belasan ekor belut. Urya tak mahir menawarkan belut dagangannya. Dia hanya mengayun-ayun ikatan belut, itupun terkadang dalam keadaan mengantuk. Ternyata tak kurang dari 25 ribu Rupiah perharinya berhasil diperoleh Urya dari menjual belut. Belut-belut dagangan Urya merupakan hasil tangkapan abangnya yang sudah putus sekolah.

Informasi dari Banda Aceh, kota dimana terbanyak berdomisli Urang Gayo diluar Tanoh Gayo diperoleh keterangan dari Rasyidin Sali, Ketua Keluarga Negeri Antara (KNA) yang berkantor di kawasan Lingke Banda Aceh, dinyatakan Rasyidin sejauh ini tak ada Urang Gayo yang melakukan aktivitas mengemis di ibukota Provinsi Aceh. Jika ada pengemis berdarah Gayo, Rasyidin minta agar dilaporkan kepadanya atau diantarkan ke kantor KNA untuk diberi pembinaan.

Dari Kabupaten Gayo Lues, H Abdul Wahab, pejabat teras di setdakab kabupaten pemekaran Aceh Tenggara tersebut berani memastikan tak ada warganya yang berkeliaran mengemis. “Ada pengemis yang beroperasi di Gayo Lues, tapi bukan orang Gayo. Mereka datang dari luar. Masyarkat Gayo Lues memang miskin-miskin, tapi sebuah kepantangan untuk mengemis,” kata Abdul Wahab.

Banyak lagi contoh individu-individu di Gayo yang punya kekurangan bentuk fisik atau alasan miskin, yatim piatu tidak lantas berputus asa dan kemudian melakukan aktifitas mengemis door to door menutupi kebutuhan hidup.

Mengemis bergaya lama atau dalam artian sesungguhnya mungkin tidak ada, lalu mengemis dengan pola baru dengan membuat surat miskin atau kurang mampu dan mengajukan proposal ke instansi bagaimana?

Pengakuan sejumlah kepala kampung di Takengon seperti M Nur, Kepala Kampung Simpang Kelaping Kecamatan Pegasing Aceh Tengah, dalam tahun 2009 ini ada 3 Kepala Keluarga yang meminta Surat Keterangan Kurang Mampu kepada saya, demikian pengakuan M Nur.

Kepala Kampung Pedemun Kecamatan Lut Tawar Aceh Tengah, Fitran, menyatakan ada 2 warganya yang mengajukan surat keterangan miskin. “karena keperluan administrasi sebuah program pemerintah, warga saya harus membuat surat keterangan miskin untuk keperluan administrasi,” kata Fitran.

Menurut Kusriadi, operator komputer yang biasa menerima jasa pengetikan di Simpang Kelaping kecamatan Pegasing Aceh Tengah menyatakan, beberapa bulan terakhir ini jarang sekali yang datang meminta dibuatkan surat Keterangan Kurang Mampu atau Miskin. Permintaan ramai jika ada penyaluran bantuan dari pemerintah atau dari NGO. Warga berbondong-bondong membuat surat keterangan miskin sebagai persyaratan administrasi memperoleh bantuan. Dan menurut Kusriadi, dari penampilan orang-orang yang datang yang sebagiannya dikenal baik oleh Kusriadi bukan sebagai orang miskin. “Mereka urus surat miskin karena permintaan administrasi saja,” kata Kusriadi yang biasa menerima permintaan pengetikan dan fotocopy dari warga kecamatan Pegasing, Bies, Linge, Silihnara, Rusip Antara, Jagong Jeget dan Atu Lintang.

Terkait surat keterangan miskin atau kurang mampu ini juga diperoleh keterangan dari camat Lut Tawar, Subhandi dan Pegasing Aceh Tengah, Mursyid. Warga mereka mengurus surat miskin bila diperlukan untuk keperluan administrasi program penguatan ekonomi atau keperluan lainnya.

Kawasan tempat komunitas Gayo umumnya, dikenal subur. Istilah “tongkat kayu jadi tanaman” bukan sekedar nyayian merdu sang vokalis Koes Plus di Tanoh Gayo. Pantas saja saat perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, pejuang-pejuang Aceh menyebut kawasan Gayo sebagai daerah lumpung pangan, sekaligus tempat bergerilya yang paling ideal karena tekstur kawasan pegunungan.

Sebelum kedatangan Belanda, Urang Gayo umumnya tak pernah kesulitan bahan pokok. Mereka bersawah, menjadi nelayan di Lut Tawar dan menangkap ikan dengan mudah di sungai-sungai. Rom Oros tungkel ni keben, gadung kepile pegerni keben (Beras dan padi simpanan pokok, ubi kayu dan ubi rambat jadikan pagar lumbung padi) demikian konsep ekonomi masyarakat Gayo. Untuk kebutuhan sangat pentingpun, Urang Gayo tak perlu jual beras. Demikian filosopi yang dapat ditangkap dari kalimat adat Gayo tersebut.

Lalu Belanda datang dan dengan susah payah membangun jalan penghubung ke dataran tinggi Gayo. Belanda kemudian mengenalkan kopi yang ditanam di tanah yang subur. Penjajah ini kemudian memanfaatkan getah pohon Pinus Merkusi untuk dijadikan bahan industry vernis dan lem juga untuk bahan baku obat-obatan. Pohon ini tumbuh di areal yang sangat luas di Tanoh Gayo.

Saking suburnya, bahkan tanaman harampun, ganja tumbuh subur dan punya merek dagang sebagai ganja terbaik didunia, tumbuh di Tanoh Gayo khususnya bagian tenggara Aceh.

Tak ada alasan untuk mengemis di Tanoh Gayo, demikian pernyataan Al Misry, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Gajah Putih Takengon.

Menurut Al Misry, di Gayo, jika seseorang tak punya kebun, silahkan bersihkan atau bekerja di kebun orang lain, sorenya pasti akan diberi upah oleh sang empunya kebun. Atau, buatkan kandang burung dari Sange (rumput sejenis ilalang), pasti ada orang yang beli. Jika kamu tidak punya pisau, silakan ke danau Lut Tawar dengan tangan kosong, di air dangkal punguti memin (sejenis kerang) dan ketor (siput air tawar) , tak lebih dari dua jam kamu akan dapat uang Rp 20 ribuan. Jika malas kena air danau, silakan jalan-jalan ke tepian sungai yang ada di Gayo, di sana anda akan temukan tanaman Pakis, Keladi atau Gombak liar, antar kepasar atau jajakan dari rumah-kerumah, anda akan bisa beli beras.

Ditegaskan Al Misry, jika semua buntu, silahkan kamu mencuri dikebun orang. Sang empunya kebun Insya Allah akan ikhlas jika kamu ambil hanya untuk kebutuhan makanmu untuk sehari. Tapi kamu akan jadi sampah yang hina jika mencuri itu menjadi kebiasaanmu.

Intinya, tegas Al Misry, dari sumber daya alam yang dikaruniakan Allah, tak ada celah untuk jadi pengemis bagi siapapun yang berdomisili di Tanoh Gayo, walau gila sekalipun. “Lihat saja, mana ada orang gila yang ada dipasar-pasar yang kurus-kurus. Lazim bagi warga Gayo akan memberi makan tanpa harus diminta yang bersangkutan,” ujar Al Misry, sosok pendidik yang dikenal peramah dan bersahaja ini.

Budaya Kemel (Malu)

Belum terbilang banyaknya kalimat adat bermuatan filosopis yang diterapkan oleh masyarakat Gayo terkait larangan berperilaku memalukan ditengah-tengah masyarakat yang tentu sesuai dengan ajaran Islam, termasuk petetiro (mengemis).

Mengemis, dalam pengertian meminta-minta sadaqah bagi masyarakat Gayo sangat memalukan dan suatu pekerjaan hina. Dibak untung sakit, nguken munantin kelumit I ujung jingki (daripada harap untung tapi menyakitkan/memalukan, lebih baik menunggu beras tumpah dari ujung jengki), atau dengan kata lain lebih memakan sisa makanan orang dari pada meminta-minta tapi menerima hinaan orang. Itulah salah satu contoh kata petatah petitih Gayo sebagai ungkapan malunya menjadi pengemis.

Petatah petitih lainnya menyebutkan, lagu munyocok uwahni pengong, entah ni nikite entah ni pong, kira-kira bermakna usaha yang belum tentu ada hasilnya,tidak perlu dilakukan. Lakukan yang pasti-pasti saja.

Ketua Baitul Maal Aceh Tengah, Drs. Mahmud Ibrahim yang juga dikenal sebagai ahli sejarah Gayo menyatakan, di Gayo ada kebiasaan yang sangat positif, yaitu budaya kemel (malu). Mengemis, salah satu perbuatan yang sangat memalukan bagi Urang Gayo. Suatu kampung akan sangat tercemar namanya bila ada warga kampung tersebut melakukan kegiatan meminta-minta di kampung lain. Dan saya melalui Baitul Maal, kata Mahmud, sering menyurati kepala kampung yang warganya menurut penilaian saya tidak pantas atau sering membuat surat permintaan bantuan ke Baitul Maal yang saya pimpin.

Bantuan yang disalurkan Baitul Maal Aceh Tengah, menurut Mahmud tidak lagi berbentuk barang seperti beras, akan tetapi berupa bantuan modal kerja. Artinya, lanjut Mahmud lemahnya ekonomi masyarakat Aceh Tengah tidak sampai berakibat memilih jadi pengemis untuk bertahan hidup. Di Gayo, terjadinya kefakiran dan kemiskinan cenderung karena malas, sakit parah dan berkepanjangan dan keluarga kurang pendidikan.

Mahmud Ibrahim yang juga sebagai ulama kharismatik di Aceh Tengah menyimpulkan, di Gayo jika seseorang tidak malas tak ada celah dan alasan untuk terjebak jadi fakir atau miskin sehinga memilih profesi sebagai pengemis. [003]