Oleh: Win Ruhdi Bathin dan Khalisuddin

Tidak ada yang tidak mengenal nama Tengku Ibrahim Aman Samsir. Penduduk Jaluk Kecamatan Ketol yang kini berusia 89 tahun. Namanya pernah dibicarakan petani kopi Takengon dan Bener Meriah yang berjmulah ratusan ribu orang.

Bahkan rumah dan kebun Tengku Ibrahim yang terletak di Jaluk setiap hari ramai dikunjungi petani dari antero Takengon dan Bener Meriah mencari bibit kopi Ateng yang sudah berbuah di usia 1 tahun dengan tinggi batang kurang dari satu meter.

Kopi Ateng Jaluk bahkan dibawa ke , Jawa, Sumatera , Kalimantan hingga ke Belgia. Itulah sepenggal kisah tenarnya Tengku Ibrahim Aman Samsir, lelaki berperawakan kecil, berkulit gelap dan murah senyum.Orang yang pertama sekali menemukan sebuah varitas kopi yang berbuah di usia satu tahun dengan jumlah buah yang melimpah dan batangnya pendek. Kopi ini kemudian diberi nama Ateng Jaluk, dari jenis Arabika atau Catimor Jaluk. Sejak tahun 1980 hingga kini.

Tidak sulit mencari Tengku Ibrahim Aman Samsir di Kampung Jaluk. Dia sudah sepuh (tua). Badannya kurus. Tapi ingatannya masih kuat. Nada bicaranya jelas dan suka melucu.Saat tertawa, matanya mengecil , hidungnya tampak semakin mancung, gusinya terlihat kosong, sepeti gusi bayi. Giginya sudah tanggal .

Kerut-kerut diwajahnya tergambar jelas. Rahangnya menonjol .Tampak dia seorang pekerja keras. Kulitnya legam dibakar matahari. Tapi senyum dan tawanya lepas tanpa beban.

Walau kulitnya hitam, tampak bersih dan meneduhkan. Dari kalimatnya, tampak sekali Tengku Ibrahim dekat dengan Sang Khaliq. Saat saya dan Khalisuddin menjambangi rumah sederhananya, Minggu (8/11). Rumahnya terbuat dari papan seperti rumah petani kebanyakan yang sangat sederhana. Berukuran sekitar lima kali sepuluh meter.

Tidak ada peralatan mewah, kecuali sebuah kenderaan roda dua yang sudah tua mereka Honda. Di ruang tamu tampak sebuah tempat tidur tanpa kasur. Kami duduk di sofa tua. Tengku Ibrahim ditemani seorang dari 15 cucunya bernama Yusuf berusia sekitar enam tahun yang menggantungkan ketapel di lehernya.

Setelah membalas salam dan bersalaman. Kami memperkenalkan diri. Tengku Ibrahim Aman Samsir mengenakan selop Setelah membalas salam dan bersalaman. Kami memperkenalkan diri. Tengku Ibrahim Aman Samsir mengenakan selop merek Lily, sandal pavorit orang tua. Berwarna biru. Berbahan plastic dengan dua tali.

Bajunya, baju koko yang dilipat hingga dibawah siku dan memakai sarung. Di kepalanya sebuah kopiah berwarna hitam berbahan beludru tampak tak lekang meski sudah tampak lusuh.

Sambil mengeluarkan plastic putih ukuran satu ons dari kantungnya yang berisi tembakau dan daun nipah, Tengku Ibrahim Aman Samsir, memulai kisah penemuan kopi Ateng Jaluk yang telah mengantarkan puluhan atau bahkan ratusan petani kopi ke Mekah menunaikan rukun Islam kelima.Tapi Tengku Ibrahim Aman Samsir belum haji, meski sangat memimpikannya.

Menurut Tengku Ibrahim Aman Samsir, penemuan varitas kopi Ateng Jaluk terjadi secara tidak sengaja. Di tahun 1980, Dinas Perkebunan membuat pembibitan kopi Tim-tim di Simpang Juli Angkup.

“Pak Wahab, pegawai Dinas Perkebunan membagikan bibit kopi Tim-tim kepada petani di Jaluk. Jumlahnya 2000 batang untuk satu hektar. Sebelum bibit Tim-tim dibagikan, petani sudah menanami kebunnya dengan kopi arabika yang berasal dari Burni Bius dan Belang Gele”, ujar Tengku Ibrahim Aman Samsir seraya menarik asap rokoknya dalam-dalam.

Saat mengisap rokok, pipinya tampak peot dan tulang rahangnya semakin menonjol. Setelah kopi yang dibagikan Disbun berumur dua tahun, disalah satu bagian kebunnya yang tidak jauh dari rumahnya di pinggir jalan Buntul Jaluk, Tengku Ibrahim melihat sebuah batang kopi yang berbeda dengan kopi lainnya.

“Batangnya pendek, sudah berbuah. Dengan jumlah buah yang banyak dan rapat setiap tungkunya. Seperti buah kopi Robusta”, kata Tengku Ibrahim Aman Samsir. Karena merasa kopi tersebut luar biasa dan berbeda dengan varitas kopi yang telah ada selama ini dimana usia tiga tahun kopi baru berbuah, Tengku Ibrahim Aman Samsir coba mengambil buah kopi yang masak.

“Awalnya saya kira buahnya yang masak tidak berbiji. Tapi ternyata bijinya normal seperti kopi lainnya”, papar Bapak dari Samsir, Narmi, Gazali, Zamli dan M Jamil ini.Tengku Ibrahim Aman Samsir .

Tengku Ibrahim Aman Samsir masih merahasiakan penemuan kopi yang dianggapnya unggul tersebut. Setelah memetik buah kopi yang masak. Suami dari Aisyah yang kini sudah wafat ini, coba menyemainya langsung didekat kopi Ateng yang pertama sekali ditemukannya itu.

“Biji kopi Ateng yang saya semai itu tumbuh normal namun habis diseruduk babi yang mencari cacing disana. Saat itu saya berada di Ketol menunggui buah durian yang sedang berbuah”, sebut Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Tidak putus asa, Tengku Ibrahim Aman Samsir kembali menyemai buah kopi dari batang kopi Ateng yang saat itu masih sebatang saja. Setelah bibit kopi tumbuh, mulailah warga sekitar Kampung Buntul Jaluk meminta bibit kopi yang dianggap luar biasa tersebut.

“Ada yang hanya minta dua bibit, lima batang bibit hingga seratus batang. Di tahun 1987, informasi tentang kopi Ateng Jaluk sudah tersebar luas”, papar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

“Nama kopi Ateng diberikan warga yang datang meminta bibit. Karena masih kecil sudah berbuah, orang menyebutnya Kopi Ateng Jaluk”, kenang Ibrahim Aman Samsir tentang nama “Kopi Ateng Jaluk” yang kemudian menjadi nama yang dipakai untuk kopi ini hingga saat ini.

Ditahun 1988, hampir semua pekebun kopi Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah menanam kopi Ateng Jaluk. Ada kisah menarik yang diceritakan Ibrahim Aman Samsir. Seorang warga yang telah meminta bibit kopi Ateng mengadu kepada Ibrahim Aman Samsir. Benih kopi Ateng Jaluk yang disemai di bedengan di kebun warga tersebut, hilang dicuri orang.

Dengan kemurahan hatinya, Tengku Ibrahim Aman Samsir mengganti bibit warga yang dicuri orang tersebut seraya berkata, “ yang dicuri orang itu punya saya. Ini saya berikan gantinya”, kata Tengku Ibrahim Aman Sasir sambil tertawa lepas.

Warga atau petani yang terus mendatangi rumah dan kebunnya untuk mencari bibit kopi Ateng Jaluk kala itu menghargai sendiri bibit kopi Ateng yang dimiliki Tengku Ibrahi Aman Samsir dalam bentuk biji.

“Warga sendiri yang menghargai perbambu kopi Ateng untuk bibit Rp.25 ribu. Saya tidak pernah mematok harganya. Terserah keikhlasan. Banyak juga yang tidak memiliki uang tapi bibit kopi tetap saya berikan”, ujar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Dalam kesederhanaanya, Tengku Ibrahim Aman Samsir tidak lantas lupa diri. Dia biasa saja. Perubahan ekonomi secara drastic tidak tampak pada Tengku Ibrahim Aman Samsir. Kebanyakan kopi Ateng Jaluk yang ditemukan dan dikembangkannya , kebanyakan memang diminta petani sepertinya tanpa patokan harga atau jual beli.

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan penyebaran kopi Ateng Jaluk diantero Datarn Tinggi Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues, tetangga Tengku Ibrahim Aman Samsir kerap bercerita kepadanya yang menceritakan kopi Ateng Jaluk temuan Tengku Ibrahim Aman Samsir yang dinilai sangat membantu petani karena setahun sudah panen.

‘Ada warga atau petani yang mengucapkan rasa terima kasihnya kepada saya dan berpamitan naik haji dari kebun kopi Ateng yang mereka tanam.”Allah yang mengembangkannya. Tidak bisa kita batasi”, sebut Tengku Ibrahim Aman Samsir sambil tersenyum lepas.

Dijelaskan Tengku Ibrahim Aman Samsir, berdasarkan pengalamannya menanam kopi Ateng, kopi Ateng sebaiknya ditanam tidak lebih dari 10 tahun saja. Dengan jarak tanam 1 X 1 meter. Kemudian diganti lagi dengan tanaman baru. “Jika lebih dari 10 tahun, buahnya tetap banyak namun lebih kecil bijinya”, papar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Karena berusia setahun sudah panen, menurut Tengku Ibrahim Aman Samsir, banyak petani kopi yang mampu membayar hutang dengan menanam Kopi Ateng Jaluk.Umumnya kopi ini ditanam di bukaan lahan kopi yang baru ditebang (hutan) atau dibekas hutan yang sudah ditebang lama yang sudah ditumbuhi rumput atau ilalang (tamas mude).

Jika selama ini berbagai varitas kopi yang ditanam petani umumnya baru mulai berbuah setelah ditanam tiga tahun. Hadirnya kopi Ateng Jaluk yang tumbuh ditanah kebun Tengku Ibrahim Aman Samsir yang kemudian diperbanyak dan disebarnya, telah membuat petani dapat menghasilkan uang dari kopi tidak lebih dari setahun.

Jauh hari sebelum Tengku Ibrahim menemukan kopi Ateng Jaluk. Suatu ketika saat berada di kebun kopinya yang sebagian ditanam kopi Robusta sedang berbuah lebat. Tengku Ibrahim melihat buah kopi Robusta yang tiap ruasnya dipenuhi puluhan buah kopi dengan jarak tungku yang rapat.

“Ah , seandainya ada kopi arabika yang berbuah seperti kopi robusta, petani pasti lebih sejahtera” guman Tengku Ibrahi seolah berbicara pada dirinya sendiri seraya mengamati kopi Robusta.

“Tidak lama kemudian apa yang saya pikirkan diijabah Allah”, ungkap Tengku Ibrahim Aman Samsir. Meski berhasil mengembangkan kopi catimor Ateng Jaluk, Tengku Ibrahim Aman Samsir yang kini berusia 89 tahun, terlihat low profile dan sederhana sekali, seperti kebanyakan petani kopi yang masih miskin.

Atas semua usaha itu, Pemda pernah memberinya uang Rp.4 juta dan sebuah piagam penghargaan yang dikeluarkan Kepala Dinas Perkebunan. Itu saja , tidak lebih. Lelaki sepuh yang pernah menjadi tentara DI (Daru Islam) ini masih menyimpan obsesi menunaikan haji, rukun Islam kelima.

Tengku Ibrahim Aman Samsir mengantar kami ke batang kopi Ateng Jaluk pertama tumbuh di kebunnya , tidak jauh dari rumahnya. Persis di samping Mesjid Baitul Hikmah. Pohon Ateng Jaluk pertama tumbuh ini masih menghasilkan meski telah berusia 29 tahun. Kopi ini sudah ditumbuhi lumut.

Dan Tengku Ibrahim Aman Samsir masih menyimpan mimpi naik Haji. Adakah dermawan Aceh yang bisa mewujudkan mimpi petani pedalaman Aceh Tengah di Kampung Buntul Jaluk itu?, waktu jua yang menjawabnya. (win dan khalis)