Oleh Yusradi Usman al-Gayoni

Reje mu suket sipet; imem mu perlu sunet; petue mu sidik sasat; rayat genap mupakat.

Artinya:
Reje menakar sifat; imem (berurusan dengan) fardu sunat; petue (bersifat) menyelidiki; rayat bermusyawarah (genap mupakat).

Peribahasa tersebut merupakan falsafah kerajaan Linge, di dataran tinggi tanoh Gayo, yang merupakan salah satu kerajaan tua di Aceh, dengan Adi Genali sebagai raja pertamanya. Dalam kerajaan Linge, terdapat empat unsur pemerintahan yang dikenal dengan sarak opat (empat unsur), yaitu reje (raja), imem, petue, dan rayat (rakyat), ditambah pembantu reje lainnya seperti bedel (wakil raja), banta (sekretaris), kejurun, pengulu, pawang, biden, dan hariye . Sebelum orang Gayo menganut Islam, unsur tadi hanya tiga, yaitu reje, petue, dan rayat. Unsur imem bertambah setelah Islam masuk, dan melembaga dalam masyarakat ini. Pertama, reje mu suket sipet. Reje, raja atau pemimpin harus berindak adil terhadap diri, keluarga, lingkungan ketetanggaan, dan rakyat yang dipimpinnya. Dalam bahasa adat, konsep adil tersebut terangkum dalam munyuket gere rancung, mu nimang gere angik (menakar tidak miring, menimbang tidak berat sebelah). Dalam perencanaan, pengambilan, dan pelaksanaan keputusan, reje turut menyertakan pertimbangan unsur pemerintahan lainnya. Terlebih-lebih, pertimbangan imem, akan sangat menentukan keputusan raja. Selain itu, peran reje, dan imem sangat menentukan baik tidaknya keadaan masyarakat. Dengan begitu, reje, tidak boleh sewenang-wenang, otoriter, dan zalim dalam memimpin pemerintahan.

Kedua, imem mu perlu sunet. Imam, lebe, seltan, atau tengku bertugas terkait dengan Islam, baik perkara syariat, perkembangan Islam kontemporer, hubungan sesama rayat, rayat dengan alam, maupun hubungan vertikal rayat dengan Tuhan. Ketiga, petue mu sidik sasat. Petue; orang yang dituakan dalam masyarakat, diangkat dan ditetapkan raja, dikarenakan yang bersangkutan mengetahui seluk beluk masyarakat terlebih lagi soal adat istiadat, norma, nilai, resam, dan peraturen, . Salah satu tugasnya adalah menyelidiki keadaan masyarakat (mu sidik sasat). Hasil penyelidikan tersebut akan dilaporkan kepada raja, sebagai pertimbangan raja sebelum penetapan sebuah keputusan. Unsur yang terakhir, adalah rayat. Rayat semacam lembaga perwakilan masyarakat untuk bermusyawarah, yang tujuannya untuk mencapai kata mupakat (keramat mupakat behu berdele).