Ike engonko kanang ilangit

tenenku sulit penyakit denem

Ikirimenpeh lembatah kelumit

Ken uak ni penyakit ariwasni beden

(Ade-ade didong yang sama lirik dan syair lagu dari Tekangon)

Didong meruapakan kesenian dua daerah yang seetnis, yaitu Gayo Lues dan Takengon, namun kesenian tersebut tidak sama dalam memainkannya, demikian juga isi dan pesan-pesan yang disampaikan kepada penonton.

Didong Aceh Tengah

Didong Takengon-Bener Meriah dimainkan oleh sejumlah pemain dengan menggunakan beberapa ceh didong (pembawa lagu-red). Posisi permainnya dengan melingkar dan mempergunakan alat bantu bantal sebagai alat untuk ditepuk untuk mengiringi irama syair.

Pesan-pesan yang disampaikan disesuaikan dengan tema yang akan ditampilkan. Dalam didong inti permainnya mengandalkan kemerduan suara, kelihaian merangkai kata-syair dan teka teki yang harus dijawab pihak lawan atau sebaliknya.

Hampir 75 persen desa yang ada di Takengon memiliki group didong. Kesenian ini dtampilkan dalam berbagai keperluan, mulai dari pesta perkawinan, sunat rasul sampai kepada pertandingan. Kesenian ini dalam perkembangannya telah mampu melanglangbuana sampai keberbagai daerah ditanah air, mereka terorganisir dan pembinaannya terus menerus dilakukan oleh pemerintah daerah.

Karena ceh maupun masyarakat Aceh tengah memiliki seni dan irama suara yang indah sehingga membuat kesenian daerah terbut bangkit dan digemari. Saat ini para seniman dataran tinggi itu bukan hanya mampu mengembangkan didong, tetapi merek mampu merelis lagu dan masuk dalam studio rekaman, kaset dan CD mereka sudah banyak yang beredar.

Didong Gayo Lues

Didong Gayo Gayo Lues berbeda dengan didong Takengon Aceh Tengah. Didong Gayo hanya dimainkan oleh dua orang Pegawe Didong (ceh_red). Masing peserta membawa pasukannya sampai satu desa rombongan yang terdiri dari pemuda dan pemudi.

Dalam melakukan didong kedua Pegawe Didong melakukannya dengan berdiri di atas selembar papap. Papan ini gunanya untuk menghentakan kaki pada saat berdidong yang disesuaikan dengan syair irama yang sedang dibawakan. Dipihak lain papan ini gunakan untuk melakukan Geridik (hentakan kaki dengan cepat dan berirama-red).

Para Pegawe didong selalu mekai kain panjang sebagai pembalut tubuh dalam menari, terkadang kain ini dijadikan lalat menari bagaikan sambar menyambar. Sementara di kepala Guru Didong dipakaikan Bulang Teleng (penutup kepala dari kain yang diputar-red), dan selalu diselipkan bunga di atas kepala.

Dalam syairnya ada beberapa macam model lantunan yang berbentu Sek (ratapan panjang berirama-red), sek inilah menentukan kemerduan suara para Guru Didong. Ada juga syair yang berisi pantun, teka teki, cerita dan nyanyian.

Ada beberapa tahapan dalam melakukan didong, terutama dalam menyampaikan syair-syair. Pertama Tabi Ni Didong (syair wajib pad permulaan melantunkan didong-red). Syair ini wajib dilakukan kedua Pegawe Didong secara bergantian. Tahapan berikutnya berupa syair-syair yang diselingi oleh Ade-Ade (sama dengan lirik dan irama kesenian Takengon-red), tahapan ini memberikan kesempatan kepada pasukan yang duduk di bawah untuk melantunkan syair-syairnya.

Inti dari didong ini adalah Mungune (teka teki-red). Teka teki ini dilakukan secara bergantian yang isinya hanya dua. Pertama membuka pertanyaan masalah syara’-agama dan kedua masalah adat istiadat. Apabila yang Pegawe Didong yang ditanyai bisa menjawab pertanyaan lawan, maka tidak dibenarkan menjawabnya langsung, tetapi harus melalui tahap Sidik (selidik-red) terlebih dahulu, demikian juga nanti sebaliknya.

Kelihaian Menyidik (meneyelidiki-red) pertanyaan inilah nantinya ditentukan kalah menangnya. Yang amat menentukan kalah menangnya pertandingan ini adalah para tokok adat yang telah ditunjuk untuk itu, karena tidak jarang pata pemain didong melakukan kecurangan bertanya atau menyelidiki pertanyaan yang ada. Disamping itu yang berhak memberhentikan pertandingan adalah Tetue Edet (tokoh adat).

Yang paling menarik dalam didong ini adalah setelah usai pertandingan Pegawe Didong disuguhkan makan bersama oleh yang punya hajatan. Setelah selesai makan mereka menjadi Serinen (saudara-red), dan hasil tekai-teki yang barusan mereka peragakan saling membuka jawabannya. Dan didong ini diperagakan semalam suntuk.

Kendala Didong Gayo

Berbeda dengan perkembangan didong di Aceh Tengah-Bener Meriah, disamping mereka berdarah seni tinggi, juga pembinaannya yang dilakukan secara rutin, para senimannya memiliki naluri yang tinggi dalam melihat situasi dan perkembangan zaman. Ketekunan, ketelitian, rajin dan gemar berlatih merupakan modal utama dalam mengembangkan didong di daerah tersebut.

Didong Gayo terkesan monoton dalam penampilannya sehingga dalam keberadaannya semakin hari semakin terkendala. Contoh, kenapa masyarakat Gayo Lues yang memiliki didong tersendiri lebih menyukai didong Takengon?, bukan ini pertanda bahwa didong Gayo sudah tidak menjadi tempat lagi dihati masyarakat Gayo itu sendiri?, lalu siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana nasibnya kedepan?.

Dalam pengembangan dan keberadaannya dimasa datang, kita tidak bisa saling menyalahkan. Modal awal yang terpenting adalah menghilangkan budaya malu yang selama ini tertanam dalam jiwa seniman Gayo Lues. Dipihak lain menghilangkan kesan bahwa seniman tidak bisa menghasilkan uang. Jika kedua penomena ini dapat dihilangkan maka sudah menjadi modal dasar dalam pengembangan didong di Gayo Lues.

Langkah-langkah

Untuk pengembangan didong Gayo dimasa mendatang ada beberapa langkah-langkah yang perlu mendapat perhatian semua pihak:

Pegawe Didong.

Mereka diharapkan dapat menghasilkan karya-karya syair yang baik. Inilah selama ini terkesan tidak mendapat perhatian sehingga membuat didong tersebut monoton. Pegawe Didong seolah telah siap pakai pada setiap kesempatan penampilan, sementara mereka kurang berlatih dengan group yang ada ditempatnya masing-masing, apa yang telah dimiliki selama ini tentang lagu-syair maka itulah yang selalu dilantunkan.

Seringnya Pegawe Didong dalam berdidong memakai Penyurak (penyorak-red) bukan pasukan sendiri sehingga keutuhan group tidak nampak. Dipihak lain akibat rendahnya rasa seni dan tidak terlatih membuat syair-syair yang ditampilkan sedikit kasar.

Syair wajib dalam didong yang memang sudah baku tidak bisa dirobah dan dipersingkat, karena itu isi makna dari didong sebenarnya, Syair wajib ini yang tercantum dalam permulaan melakukan didong, didalam syairnya tersimpan pesan-pesan agama dan adat.

Dewan Kesenian.

Lembaga yang paling berkompeten dalam pembinaan didong ini adalag Dewan kesenian Gayo Lues. Namun lembaga ini tidak bergerak untuk memikirkan kelangsungan seni didong di daerah ini. Keberadaanya hanya diketahui pada saat penggantian pengurus, selebihnya hilang dari permukaan.

Apabila dewan kesenian mampu bergerak, banyak hak yang bisa diupayakan dalam rangka pembinaan seniman-seniman didong itu sendiri. Sebagai kenyataan sekarang ini amat sulit mencari Guru Didong disetiap kampung, kalapun ada Guru Didong sekarang ini hanya itu-itu saja orangnya dimana sebelum mereka berdidong kita sudah mengetahui bagaimana penampilan mereka nanti, sehingga kita tidak berminat menontonnya.

Masyarakat.

Masyarakat diminta dalam setiap ada upacara hajatan menghindari mengundang didong dari Takengon. Kenyataan ini juga sering dikeluhkan oleh para Pegawe Didong. Mereka sering mengeluhkan pembayaran, kenapa didong dari Takengon mampu dibayar mahal. Menyangkut masalah ini merupakan evaluasi juga bagi Pegawe didong dan jadikan sebagai tantangang agar masyarakat menyukai didong Gayo.

Kalaulah kita mengurai benang kusut didong Gayo Lues, banyak hal yang harus dibenahi dan dilakukan, ini tidak bisa dilakukan kalau tidak secara bersama-sama dan punya komitmen tinggi dalam mengangkat keberadaan didong Gayo dimasa yang akan datang.

Sebagai rasa tanggung jawab atas kelangsungan masa depan didong kita belum ketinggalan jika kita kembali bertekad memulainya sejak sekarang. Sudah saatnya kita singsingkan lengan baju untuk mempertahankan asset kesenian daerah ini. Betapa ada beberapa jenis kesenian Gayo yang telah punah dari permukaan, seperti Kederen, sining bines, didong niet dan lain-lain.

Sumber: Alabaspos.com