Oleh: Isma Tantawi*

Abstract
The objective of this study is to determine and analyze the thinking of Gayo Lues community on the cosmos in the Didong Jalu. The data in this research is analyzed based on both observation and documentation methods. The theoretical base used in this research is relied on literature sociological theoery suggested by Thomas Warton (1974) that literature work is considered to be expression of art and social document. The result of this study shows that Didong Jalu contains the thought of the Gayo Lues community regarding encompasses matters such as the universe, flora, fauna and tools used by the community

Key Words: Thinking, Gayo Lues community, cosmos, and Didong jalu

I. Pendahuluan

Didong sebagai tradisi lisan atau oral tradition (folklore) sudah berkembang sejak masuknya agama Islam di dataran tinggi Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia (Ara, 1995 : 639). Agama Islam masuk ke Aceh pada abad ke-7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad Saw. wafat (Sujitno, 1995 : 71). Dalam Didong, sejak awal sampai saat ini nafas dan nuansa keislaman tetap bertahan. Bahkan Didong merupakan media dakwah untuk menyampaikan dan menyebarkan amanat keagamaan kepada masyarakat di samping menyampaikan pesan budaya suku Gayo itu sendiri.

Didong merupakan tradisi lisan suku Gayo sudah berakar dalam kehidupan masyarakatnya. Persembahan Didong diadakan pada pesta suka (pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru (ustad atau ustajah yang mengajari agama Islam), pesta sunat rasul, dan pesta perkawinan) saja. Dalam Didong, diceritakan tentang kebudayaan suku Gayo, agama Islam (orang suku Gayo secara keseluruhan menganut agama Islam) dan masalah-masalah yang aktual, seperti peristiwa daerah, peristiwa nasional, dan peristiwa internasional.

Kata Didong, berasal dari bahasa Gayo, yaitu: dari akar kata dik dan dong. Dik, artinya menghentakkan kaki ke papan yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian dong, artinya berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata Didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu digunakan untuk menyelingi persembahan Didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, Didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua Guru Didong yang berasal dari dua kampung yang berbeda. Persembahan dimulai setelah shalat Isa sampai sebelum salat Subuh (Melalatoa, 1985 : 71).

Kata Didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu: Asal-usul Gajah Putih yang dikumpulkan oleh Hanafiah (1984 : 140 – 149). Gajah Putih merupakan penjelmaan dari seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke Istana Raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan oleh raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan. Gajah putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sehingga menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun demikian, ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampailah ke Istana Raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut dijadikan dan digunakan pada masa merasa gembira atau pada masa menyampaikan amanat dan nasihat kepada anak, teman, masyarakat atau kepada siapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan tradisi lisan Didong Gayo.

Didong Gayo dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, Didong Gayo Lues. Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Gayo Lues pada umumnya berbentuk prosa (bebas) dan hanya pada bagian tertentu saja yang disampaikan berbentuk puisi (terikat) seperti pantun. Isi cerita di dalam Didong Gayo Lues berhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Kedua, Didong Lut (Laut). Didong Lut berkembang di Kabupaten Aceh Tengah. Didong Lut berbentuk puisi (terikat). Isi Didong Lut tidak berhubungan secara langsung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Lut seperti puisi yang dinyanyikan dan setiap puisi memiliki makna masing-masing.

Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam; yaitu, Didong Alo (Didong penyambutan tamu), yaitu: Didong dipersembahkan untuk menyambut tamu. Pemain Didong Alo berjumlah lebih kurang 10 orang dari pihak tuan rumah dan 10 orang dari pihak tamu. Didong Alo dipersembahkan sambil berlari arah ke kiri atau ke kanan. Didong Alo berisi tentang ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Begitu juga dari pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan dan sudah selamat di perjalanan sehingga dapat selamat sampai ke tempat tuan rumah.

Didong Jalu (Didong Laga), yaitu Didong dipersembahkan pada malam hari oleh dua orang Guru Didong yang diundang dari dua kampung yang berbeda. Setiap Guru Didong didampingi oleh pengiring yang berjumlah 10 sampai 20 orang. Pengiring berfungsi untuk mendukung persembahan. Pada bagian tertentu (adini Didong) cerita Didong disambut oleh pengiring sambil bertepuk tangan serta menggerakkan badan ke muka dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan.

Didong Niet (Didong Niat) selalu dipersembahkan berdasarkan niat seseorang. Misalnya niat seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau berkeinginan punya anak lelaki atau perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka Didong Niet ini pun dipersembahkan. Didong Niet ini mengkisahkan tentang anak yang diniatkan. Cerita dimulai dari awal pertemuan kedua orang tuanya. Kemudian pertemuan itu direstui serta dilanjutkan kepada jenjang peminangan dan pernikahan. Seterusnya cerita mengenai perkembangan bayi di dalam kandungan dan sampai bayi lahir ke dunia. Setelah itu cerita diteruskan ke pesta ayunan (turun mani) pemberian nama dihubungkan dengan hari kelahiran, agama (agama Islam), dan nama-nama keluarga seperti nama orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain.

Cerita Didong yang menjadi objek penelitian ini adalah cerita Didong Jalu yang dipersembahkan oleh Guru Didong Ramli dan Idris di Medan pada tanggal 11 dan 12 Desember 2004. Persembahan dimulai pukul 21.45 dan berakhir pada pukul 04.30 WIB.

II. Pemikiran Alam dalam Didong Jalu
Menurut Abdullah (1999: 1) istilah kosmos berasal dari bahasa Greek yang berarti alam semesta dan dunia yang teratur. Oleh karena itu, kosmos atau alam, dapat diartikan sebagai alam dan keteraturannya, bukan kacau-balau (chaos).

Kosmos atau alam merupakan salah satu objek pengarang untuk menciptakan karya sastra. Pengarang selalu mengarang dengan metode campuran; yaitu, mencampurkan imajinasi dengan realitas, menggabungkan khayalan dengan kenyataan. Semua karya merupakan hasil kreativitas dan aktivitas. Menurut Satyagraha, (1984: 100), pengarang menciptakan hal yang baru, dari tidak ada menjadi ada. Karya sastra merupakan gambaran kenyataan yang ada dalam kehidupan yang nyata. Pengarang memberikan reaksi kepada kehidupan dan fakta baru yang tergambar dalam karya sastra. Jadi, karya sastra merupakan campuran antara khayalan dengan fakta, yang sudah diolah oleh pengarang, ( Yunus, 1981: 108).

Menurut Atmazaki, (1990: 41), karya sastra adalah dunia fiksi yang berasal dari kenyataan. Tidak ada karya sastra yang sepenuhnya meniru kenyataan, di samping itu juga tidak ada yang sepenuhnya fiksi. Apabila karya sastra sepenuhnya kenyataan maka ia akan berubah menjadi karya sejarah dan apabila sepenuhnya fiksi, tidak akan ada seorang pun yang dapat memahaminya.

Di dalam tradisi lisan Didong Jalu, alam digunakan Guru Didong untuk menyampaikan amanat kepada pembacanya. Pengungkapan alam di dalam Didong Jalu yang berhubungan dengan alam semesta, alam flora, alam fauna, dan peralatan yang digunakan masyarakat Gayo Lues. Guru Didong menggunakan hal-hal yang berhubungan dengan kosmos. Penggunaan kosmos di dalam Didong Jalu sangat berpengaruh dalam penceritaan dan sangat bermakna dalam menyampaikan amanat kepada penonton persembahan Didong Jalu.

1. Alam Semesta
Alam adalah ciptaan Allah. Allah sebagai Maha Pencipta yang tidak berawal dan tidak berakhir. Adanya alam karena adanya Allah. Jadi, alam ada permulaan dan ada akhir. Allah Pencipta yang abadi sedangkan alam adalah hanya ciptaan dari yang abadi; yaitu, Allah Swt.

Dalam Islam diyakini, Allah yang Maha Kuasa telah mencipta alam ini. Dia tidak memerlukan bantuan dan dukungan pihak lain dalam penciptaan itu. Dengan sifat kesempurnaan Allah Swt. menciptakan alam dan seluruh isinya dengan begitu teratur dan rapi, (Dawamy, 1999: 34).

Menurut Hossein, (1993: 37), alam semesta adalah semua wujud material dan rohaniah. Jadi, alam semesta adalah alam yang terbatas pada benda yang dikenal dan dapat diraba oleh pancaindra manusia. Alam semesta ini benda-benda yang nyata, seperti gunung-gunang yang dapat didaki, bentangan tanah yang dapat dikerjakan, hutan-hutan yang dapat dijelajahi, sungai-sungai yang dapat dikenali, laut-laut yang dapat dilayari, dan tempat-tempat yang dapat dikunjungi, (Sastraprateja, 1983: 38).

Alam semesta yang dimaksudkan merangkumi dunia, bumi, langit, matahari, tanah, air, batu, laut, sungai, angin, barat, utara, selatan, pulau, dan nama-nama tempat. Sesuai dengan pendapat Daud, (2001: 10) alam adalah bumi dan langit termasuk seluruh isinya. Alam sebagai ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, merupakan tempat bagi manusia untuk mengabdi kepada Allah Swt.

a. Dunia Sebagai Pentas Kehidupan
Bagi masyarakat Gayo Lues, dunia merupakan tempat mengabdi kepada Allah. Semua perkerjaan yang baik di dunia merupakan amalan untuk menuju alam akhirat. Manusia harus menjaga hubungan dengan Allah (hablumminallah) yang diwujudkan dengan amalan-amalan, baik wajib maupun sunat. Kemudian hubungan manusia dengan manusia (hablumminannas) yang diwujudkan dengan menjaga hubungan baik sesama manusia. Seperti yang diceritakan oleh Guru Didong Ramli, (paragraf: 111) kita harus memohon maaf dan saling memaafkan sesama manusia supaya selamat hidup di dunia dan akhirat.

Pada bagian lain Guru Didong Ramli, (paragraf: 156), menceritakan manusia hidup di alam dunia akan menuju alam akhirat. Pada masa hidup di dunia harus berpegang teguh kepada agama Islam dan dalam melaksanakan ajaran agama Islam harus berpanduan kepada Al-Quran, hadis, ijmak, dan qias serta membaca buku dan bertanya kepada orang yang memahami tentang agama Islam supaya selamat hidup di dunia dan akhirat.

b. Bumi dan Langit
Menurut Arabi, ( 1999: 30), bumi dan langit merupakan tempat ciptaan dan rahasia Allah. Bumi ialah planet tempat mahkluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Langit ialah ruangan yang luas dan terbentang di atas bumi, tempat beradanya bulan, bintang, dan matahari. Pemikiran tentang bumi dan langit ternyata ada dalam Didong Jalu yang diperlihatkan oleh Guru Didong dari beberapa aspek.
Pertama, bumi dan langit sebagai ciptaan Allah Swt. dan bukti kebesaran Allah, sehingga Guru Didong menyampaikan mohon maaf kepada langit dan bumi. Seperti yang diceritakan Guru Didong berikut ini:
Maaf langit yang kujunjung sampai ke lapisan yang ke tujuh. Maaf bumi yang sekeliling yang kami duduki sampai ke batu lapisan yang paling bawah, demi Tuhan Yang Maha Pencipta, (Ramli , paragraf: 18).

Kedua, langit dan bumi digunakan Guru Didong sebagai lambang kehormatan, bagi seseorang untuk memohon maaf kepada kedua ibu bapak. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:
Mohon maaf kepada langit yang saya junjung, saya berharap sampai ke lapisan yang paling atas. Mohon maaf kepada bumi yang dipijak, saya mohonkan sampai kepada lapisan yang paling bawah, yang layak untuk ayah dan ibu, (Idris, paragraf: 11).

Ketiga, bumi dan langit bagi masyarakat Gayo Lues digunakan sebagai lambang kebahagiaan di dalam kehidupan. Guru Didong Idris (paragraf: 41) mengatakan, karena keinginan untuk mempunyai anak sudah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Maka seperti makin tinggi langit yang dijunjung dan makin luas bumi yang dipijak. Ini bermakna kebahagiaan di dalam kehidupan keluarga sudah diberi keturunan oleh Allah Swt.

Keempat, bumi dan langit berada pada tempat yang berbeda. Bumi terdapat di bagian bawah dan langit di bagian atas. Bagi masyarakat Gayo Lues hal ini mengandung makna bahwa, langit sebagai hubungan dengan Allah Swt. dan bumi sebagai hubungan dengan manusia. Seperti diceritakan Guru Didong Ramli , (paragraf : 46) setelah diadakan persembahan Didong Jalu untuk memenuhi niat yang pernah diucapkan oleh kedua ibu bapak. Supaya ke langit tidak berpucuk dan ke bumi tidak berakar. Artinya persembahan Didong Jalu ini bertujuan untuk menyelesaikan kewajipan kepada Allah dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Kelima, bagi orang tua (ibu dan bapak) masyarakat Gayo Lues, perpisahan seorang anak dengan kedua ibu bapak dianggap sebagai kehancuran bumi dan langit, walaupun perpisahan itu hanya bersifat sementara. Jika anak akan pergi, mencari ilmu atau mencari keperluan lainnya, kedua ibu bapak sangat merasa sedih dan selalu memberikan nasihat yang berulang-ulang. Kedua ibu bapak sangat khawatir terhadap kepergian anaknya, (Idris , paragraf: 51).

c. Matahari
Menurut Arabi, (1999: 28), Allah Swt. menciptakan matahari di langit seperti lampu yang menerangi penghuni bumi. Bagi masyarakat Gayo Lues matahari dilambangkan sebagai tanda-tanda alam. Setelah malam akan ada siang dan sebaliknya setelah siang akan ada malam atau setelah gelap akan ada terang dan setelah terang akan ada gelap. Dalam Didong Jalu kedua-dua Guru Didong menyebutkan matahari yang memberikan sinar terang. Setelah malam, mata hari akan menampakkan sinarnya, (Idris, paragraf: 94). Hari pun sudah lewat tengah malam, matahari pun akan segera bersinar (Ramli , paragraf: 104).

d. Tanah

Masyarakat Gayo mempercayai bahwa manusia yang pertama Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Allah s.w.t dari tanah. Sesuai dengan firman Allah Swt. pada surat al- Hijr ayat 26, terjemahan Junus, (1984: 238), artinya sesungguhnya telah diciptakan manusia dari tanah kering yang hitam. Kemudian menurut Selamat, (2000: 3), Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah adalah sebagai lambang ketenangan, sabar, teguh, dan pemaaf. Tanah juga adalah tempat tumbuh dan berkembang semua makhluk hidup di atas alam. Kemudian Guru Didong menceritakan bahwa Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah oleh Allah, (Ramli, paragraf: 144).

Kemudian masyarakat Gayo Lues mempercayai bahwa bagian-bagian tubuh Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah yang berbeda asalnya. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Kepalanya dari tanah Baitul Maqdis, mukanya dari tanah syurga, pinggangnya dari tanah Iraq, auratnya dari tanah Babilon… (Idris, paragraf: 148).

e. Air dan Angin
Dalam Didong Jalu Gayo Lues air menjadi lambang pada dua masalah saja. Pertama, air digunakan Guru Didong sebagai gambaran kebesaran kekuasaan Allah Swt. yang tidak pernah dapat dikuasai oleh manusia. Menurut Djapri, (1985: 19) telah banyak dilahirkan teori-teori tentang kejadian alam ini, namun semuanya belumlah dapat mengungkapkan rahasia alam ini dan belum memberikan kepuasan kepada hasrat ingin tahu manusia. Masyarakat Gayo Lues beranggapan, walaupun dua per tiga dari alam ini adalah lautan, namun tidak akan cukup air untuk menjadi tinta jika semua persoalan di atas dunia ini dituliskan, (Idris, paragraf: 68).

Kedua, dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat selalu akan terjadi perbedaan pendapat dan kadang-kadang menjadi selisih faham yang dapat menimbulkan rasa sakit hati. Untuk menghilangkan rasa sakit hati dapat dilakukan dengan memohon maaf dan diumpamakan semua kesalahan dapat dihanyutkan ke air dan dilepaskan ke angin, (Ramli, paragraf: 163).

f. Rumput, Ranting, Kayu, dan Batu
Allah sebagai Maha Pencipta telah mencipta semua alam dan isinya. Masyarakat Gayo Lues yakin bahwa semua benda yang ada dalam alam ini merupakan ciptaan Allah. Tidak ada satu benda pun yang terlepas dari kekuasaan Allah. Guru Didong menceritakan rumput, ranting, kayu, dan batu semuanya sebagai ciptaan Allah (Ramli, paragraf: 102).

g. Nama-Nama Tempat
Nama-nama tempat yang diceritakan Guru Didong ada lima macam. Pertama, pada masyarakat Gayo Lues, satu kampung terdiri dari empat bagian (dewal opat). Seperti diceritakan Ramli (paragraf, 19) ; yaitu, segi hulu, segi hilir, segi atas, dan segi bawah. Keempat-empat tempat tersebut ditempati masing-masing oleh masyarakat, orang tua, cerdik pandai, dan raja.

Kedua, bagi masyarkat Gayo Lues dalam melaksanakan pesta ada tiga ruangan yang disediakan. Setiap ruangan diduduki oleh orang yang berbeda dan tugas yang berbeda pula seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
…saya teringat kepada ruangan-ruangan yang tiga. Itu pun jelas dan terang gunanya masing-masing. Pertama ruangan pendehren, kedua ruangan pendahrindan ketiga ruangan kekasihen. Ruangan pendehren berfungsi untuk tempat periuk, kuali, sendok, piring, dan peralatan memasak. Ruangan pendahrin untuk tempat tamu yang diundang secara tertulis atau lisan, maupun langsung atau tidak langsung. Ruangan kekasihan untuk tempat raja atau pimpinan secara bersama-sama untuk menyelesaikan apabila ada masalah yang timbul, (Ramli: 23).

Ketiga, Guru Didong menceritakan nama tempat sebagai perumpamaan perbedaan pendapat. Nama-nama tempat yang dibentangkan seperti Takengon dengan Ise-Ise dan Lumut dengan Linge. Takengon dengan Ise-Ise dan Lumut dengan Linge masing-masing dua tempat yang arah berbeda atau berlawanan. Tempat yang berbeda ini digunakan Guru Didong bagi menunjukkan perbedaan pendapat. Seperti dikemukakan Guru Didong berikut ini:
… Jangan satu arah ke Takengon satu lagi arah ke Ise-ise. Jika persoalan adat, supaya kalian benar-benar membincangkan adat. Begitu juga kalau masalah agama harus benar-benar pula membincangkan agama…,(Ramli: 05).

Keempat, Guru Didong menceritakan nama-nama tempat yang dilalui dan memiliki pengalaman sendiri. Pengalaman itu berhubungan dengan ketinggian jalan gunung Gurah (nama gunung di Kabupaten Gayo Lues) dan kecuraman jalan Ketame (nama tempat di Kabupaten Gayo Lues) yang dilalui. Seperti diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:
… Terlalu tinggi gunung Gurah yang sudah kita daki. Terlalu curam turunan Ketame kita turuni. Terlalu panjang jalan yang sudah kita lalui…, (Idris, paragraf: 30).

Kelima, Guru Didong menceritakan nama tempat asal tanah untuk tubuh Nabi Adam a.s. Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Allah Swt. dari tanah yang berasal dari tempat yang berbeda. Nama tempat yang diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:
… Tanah asal tubuh Nabi Adam ada dari Barat ada dari Timur, ada dari Utara ada dari Selatan. Supaya lebih jelas dan lebih terang. Kepalanya dari tanah Baitul Maqdis, mukanya dari tanah Syurga, pinggangnya dari tanah Irak, auratnya dari tanah Babilon…, (Idris, paragraf 148).

6.2 Alam Flora
Menurut pemikiraan masyarakat Gayo Lues, alam flora atau alam tumbuhan digunakan sebagai simbol atau lambang dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kata pohon dadap untuk mengungkapkan tempat melepaskan nafsu berahi. Daun pandan hutan untuk penghargaan kepada seorang perempuan yang dikasihi. Oleh karena itu, Guru Didong pun menggunakan tumbuhan untuk mengungkapkan pemikiran-pemikirannya. Alam tumbuhan yang ditemui di dalam cerita Didong Jalu seperti sirih, pinang, randu hutan, nangka, cempedak, cabe merah, rimbang hutan, rumput, renggali, nilam, tembakau, kelapa, tebu, dan kopi.

i) Sirih Pinang
Pada masyarakat Gayo Lues, undangan disampaikan melalui sirih pinang. Sirih pinang digunakan karena sirih pinang merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat Gayo Lues, terutama orang tua, baik laki-laki maupun atau perempuan. Sirih pinang bukan hanya menjadi makanan kegemaran, tetapi dapat menimbulkan keakraban di antara anggota masyarakat Gayo Lues. Oleh karena itu, sirih pinang digunakan untuk menyampaikan undangan di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues.

Setelah memberikan sirih pinang kepada orang yang diundang, disampaikan secara lisan tentang tujuan pemberian sirih pinang tersebut. Sirih pinang diberikan sebagai tanda penghargaan dan untuk bukti undangan tersebut sudah sampai dan sudah diterima, (Ramli, paragraf: 02).

Selain menjadi alat untuk mengundang, sirih pinang juga digunakan untuk menyampaikan risikan peminangan terhadap seorang anak dara. Sirih pinang disampaikan oleh pihak lelaki kepada pihak perempuan. Jika pinangan diterima, kiriman akan dibalas kembali dengan sirih pinang pula. Jika lamaran ditolak akan dikembalikan tempat sirih pinang (sumpit dan tepak) dalam keadaan kosong. Pengembalian tempat sirih pinang secara kosong sebagai tanda tidak ada sambutan dari pihak perempuan.

Biasanya pinangan ini ditolak disebabkan beberapa hal; yaitu, pertama, sang dara sudah ada yang memilikinya. Kedua, sang dara tidak setuju dengan jejaka yang meminangnya. Ketiga, pihak keluarga sang dara tidak setuju dengan pihak keluarga jejaka karena alasan tertentu. Misalnya, keturunan kurang baik, jejaka kurang bertanggungjawab dan lain-lain,

ii) Randu Hutan
Masyarakat Gayo Lues percaya bahwa pohon randu adalah pohon yang paling lembut dan mudah patah, busuk, dan mati, lebih-lebih lagi pohon randu yang tumbuh di hutan. Pohon randu yang tumbuh di hutan lebih mudah patah, busuk, dan mati dibandingkan dengan yang tumbuh di tempat lain. Batang pohon randu adalah pohon yang tidak berguna (kecuali kapasnya untuk bantal atau tilam) di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Pohon randu tidak dapat digunakan sebagai kayu bakar, untuk membangun jembatan, dan dijadikan papan. Pohon randu untuk kayu bakar kurang baik dimakan api.

Keadaan pohon randu yang lembut, mudah patah, dan busuk menjadikan pohon randu menjadi lambang kelemahan dan ketidakmampuan. Oleh karena itu, Guru Didong pun menggunakan pohon randu sebagai perumpamaan untuk menyatakan kelemahan atau ketidakmampuan seseorang. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Inilah benda, inilah wujudnya. Kebanggaan kami ini jangan ditakut-takuti, usia masih muda belia, hanya badannya seperti pohon randu hutan, tidak berakal dan tidak berfikiran, (Ramli, paragraf: 04).

iii) Nangka dan Cempedak
Bagi masyarakat Gayo Lues pohon nangka dan cempedak merupakan pohon yang sejenis, cuma yang berbeda adalah isi dan rasa buahnya. Namun hakikatnya dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues pohon nangka lebih mulia dan lebih berharga dibandingkan dengan pohon cempedak. Oleh karena itu, Guru Didong untuk mengungkapkan pemikiran-pemikirannya menggunakan pohon nangka sebagai yang utama dan pohon cempedak sebagai pelengkap saja. Hal ini mengambarkan bahwa kedudukan atau keperluan seseorang dalam masyarakat selalu berbeda. Perbedaan ini timbul karena kelebihan dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Sedang diajak dari kanan, sedang dipengaruhi dari kiri, sedang dirayu-rayu. Seandainya adapun nanti jangan terlalu berpuas hati dan begitu juga kalau tidak adapun jangan terlalu kecewa. Kalau tak ada nangka, boleh cempedak, dari tidak ada lebih baik ada, (Idris, paragraf: 06).

iv) Cabe Merah dan Rimbang Hutan
Menurut pemahaman masyarakat Gayo Lues, cabe merah berasa pedas dan rimbang hutan dengan berasa pahit. Cabe merah yang berasa pedas menggambarkan budi bahasa yang tidak baik, tidak pandai menjaga perasaan orang lain dan akan menimbulkan rasa sakit hati bagi setiap orang yang mendengar perkataannya. Rimbang hutan yang berasa pahit digunakan menggambarkan tingkah laku yang tidak baik, seperti suka bergaduh, mencuri, menipu, dan memfitnah. Kemudian di dalam Didong Jalu Idiris Cike, (paragraf: 07) menggunakan cabe merah dan rimbang hutan sebagai gambaran cerita yang disampaikan tidak baik untuk didengar dan tidak bermakna bagi para penonton persembahan.

v) Rumput
Rumput merupakan tumbuhan yang tumbuh di mana saja tanpa ditanam oleh siapa pun. Rumput dapat merusak tanaman yang ditanam oleh manusia. Rumput selalu menimbulkan kurang baik kepada tanam-tanaman dan memerlukan tenaga dan uang, jika kita ingin membersihkannya. Namun bagi masyarakat Gayo Lues rumput merupakan bagian dari alam yang dipercayai mempunyai makna bagi kehidupan manusia. Menurut Guru Didong Idris (paragraf: 09) rumput yang berasal dari biji-bijian (bibit), bermakna apa yang terjadi atas alam ini adalah secara sebab akibat dan proses ini akan berlangsung sampai hari kiamat. Apa yang kita hadapi dan kita laksanakan pada hari ini merupakan akibat langsung dari aktivitas dan kreativitas yang berlaku pada masa yang lalu.

vi) Bunga Renggali dan Nilam
Bagi masyarakat Gayo Lues bunga selalu digunakan untuk mengungkapkan rasa keindahan seseorang, terutama bunga yang indah bentuknya serta yang menimbulkan wangi seperti bunga kenanga, ros, dan kantil. Bunga juga dijadikan hiasan di dalam dan di halaman rumah. Bagi masyarakat Gayo Lues, bunga juga digunakan untuk menghiasi kepala pada masa persembahan saman, bines, dan didong. Pemakain hiasan bunga ini bertujuan untuk keindahan dan wangi-wangian bagi pemakainya. Bunga juga dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa suka dan duka. Ternyata juga bahwa masyarakat Gayo Lues menyenangi keindahan. Dalam Didong Jalu Guru Didong menggunakan bunga untuk hiasan kepala pada masa persembahan Didong Jalu. Bunga yang digunakan Guru Didong adalah bunga renggali dan bunga nilam, (Idris, paragraf: 10).

vii) Tembakau
Bagi masyarakat Gayo Lues, khususnya kaum laki-laki selalu menggunakan tembakau untuk rokok. Tembakau yang digulung dengan daun rokok, kemudian dihisap. Untuk kaum perempuan yang sudah lanjut usia tembakau digunakan untuk membersihkan gigi setelah makan atau minum. Bagi masyarakat Gayo Lues, jika laki-laki berkenalan akan memberikan tembakau dan rokok daun, jika perempuan akan memberikan tembakau dan sirih pinang.

Kebiasaan perkenalan dengan memberikan tembakau, daun rokok dan sirih pinang, sering berlanjut ke perkenalan lebih dekat dan berulang-ulang dan akhirnya menjadi sahabat. Persahabatan ini tidak hanya terjadi di antara kedua-dua orang tersebut, tetapi persahabatan dapat menyatukan kedua keluarga. Kedua keluarga akan saling mengunjungi, dalam peristiwa suka maupun peristiwa duka. Seperti dijelaskajn Guru Didong berikut ini:
Sebet orang yang baru kenal di dalam pergaulan sehari-hari, karena air satu tetes, karena rokok satu batang, karena tembakau satu suntil. Akhirnya menjadi sahabat seperti satu ayah satu ibu, (Ramli, paragraf: 26).

viii) Kelapa dan Tebu
Di daerah Kabupaten Gayo Lues ada dua kampung yang berada di Kecamatan Pining; yaitu, kampung Pining dan Uring. Kampung Pining hampir seratus persen penduduknya hidup dari bertanam kelapa. Buah kelapa yang dihasilkan berkualitas sangat baik. Begitu juga kampung Uring hampir seratus persen penduduknya bertanam tebu. Manisan tebu yang dihasilkan berkualitas sangat baik. Kualitas kelapa Pining maupun tebu Uring yang baik selalu menjadi contoh dan perumpamaan di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Begitu juga Guru Didong mengunakan kelapa Pining dan tebu Uring memuji cerita rakannya. Guru Didong Ramli menggunakan kelapa untuk memuji temannya karena rasa lemaknya dan menggunakan tebu karena rasa manisnya. Guru Didong menggunakan kelapa Pining, karena di daerah Pining banyak ditanami pohon kelapa dan menggunakan tebu Uring karena daerah Uring banyak ditanam pohon tebu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Kalau seperti dirimu bercerita, pandai menjaga hati melindungi perasaan. Rasa lemaknya seperti kelapa Pining, rasa manisnya seperti tebu Uring…, (Ramli: 48).

ix) Kopi
Bagi masyarakat Gayo Lues kopi, adalah minuman yang hampir disenangi oleh semua orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Bagi masyarakat Gayo Lues, kopi bukan sekedar minuman, tetapi kopi juga sebagai lambang keakraban dan kemurahan hati seseorang. Kopi selalu diberikan kepada tamu yang hadir ke rumah atau yang berjumpa di tempat-tempat lain, sehingga pemberian kopi dapat untuk meningkatkan hubungan kekeluargaan. Kopi sebagai lambang kemurahan hati, artinya dengan pemberian kopi dapat dianggap seseorang itu pemurah.

Kemudian kopi di dalam Didong Jalu, digunakan Guru Didong sebagai lambang pembagian tugas di dalam persembahan Didong. Pada bagian batang kedua Guru Didong musyawarah tentang siapa yang akan menanyakan pertanyaan teka-teki serta siapa pula yang mengikuti dan menyelididiki teka-teki. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Siapa yang pertama dan yang kedua, kita musyawarah. Siapa yang berjalan terduhulu membentangkan tali dan siapa yang mengikuti dari belakang mencari kesimpulan. Siapa yang duduk di hadapan untuk baca doa kenduri, siapa yang duduk di belakang untuk membuat kopi. Semuanya terserah kepada kita berdua (Idris, paragraf: 72).

6.3 Alam Fauna
Alam fauna adalah alam hewan. Berdasaskan peninggalan tulang-tulang (fosil) alam hewan sudah dikenal sejak zaman triasik sekitar 130.000.000 tahun lalu. Hewan adalah salah satu kumpulan makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. yang berbeda dengan makhluk lainnya. Hewan memiliki naluri yang tinggi, sehingga hewan dapat menjalankan kehidupan tanpa belajar, (Azizah Shariff, 1993: 29).

Semua alam dan isi alam diciptakan oleh Allah Swt. untuk keperluan manusia. Manusia dapat menggunakannya dan menyesuaikan dengan keperluan yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Makhluk hewan yang digunakan Guru Didong adalah untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran yang disampaikan melalui Didong Jalu. Pemikiran-pemikiran tentang hewan yang terdapat dalam Didong Jalu adalah sebagai berikut:

i) Burung
Bagi masyarakat Gayo Lues, burung merupakan sejenis binatang yang hidup dan berkembang di alam lepas. Bagi masyarakat Gayo Lues, burung dapat digunakan sebagai simbol atau lambang di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya burung murai sebagai lambang kebijaksanaan. Suara burung balam sebagai kemerduan. Dalam Didong Jalu ini Guru Didong menggunakan burung elang untuk menyampaikan pesan.
Guru Didong menggunakan suara burung elang untuk mengundang tamu. Guru Didong memilih burung elang karena suara burung elang sangat merdu dan memiliki kekuatan suara yang luar biasa dibanding dengan burung lainnya. Ini dapat menyampaikan semua amanat kepada tamu yang akan diundang. Suara burung elang digunakan Guru Didong sebagai tanda dan makna mengundang tamu untuk melaksanakan persembahan Didong Jalu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Sudah terdengar kicauan burung dan suara helang. Suara helang dan kicauan burung memberikan isyarat. Maknanya adalah untuk mengundang semua ahli famili pada malam Ahad. Jika tidak ada halangan; yaitu, barah sama bisul, patah atau terkilir, kalau ada izin dari Allah, kalau ada syafaat dari Rasul akan diadakan pesta perkawinan, (Ramli, paragraf: 01).

Kemudian Guru Didong menggunakan suara burung balam yang bersuara merdu hidup di alam lepas. Kemerduan suara dan keindahan warna digunakan untuk mengungkapkan pemikiran dalam bentuk pantun, sehingga persembahan Didong Jalu dapat menjadi lebih diminati oleh penonton persembahan, Seperti didendangkan oleh Guru Didong berikut ini:
Burung balam gunung bersuara merdu,
Akan kupetik dengan ujung jari.
Bulu keliling warna yang menarik,
Supaya jinak, saya petik lagi, (Idris, paragraf: 65)

Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, ayam dikelompokkan kepda jenis burung dan ayam dapat dibedakan menjadi ayam kampung, ayam ras (kurik lengek), dan ayam hutan. Ayam kampung dan ayam ras adalah ayam yang dipelihara oleh masyarkat dan ayam hutan adalah yang hidup di hutan. Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues dipercayai bahwa ayam kampung yang sedang mengeram pasti memiliki kutu (tungir). Kepastian ini akan menunjukkan semua yang terjadi adalah ketentuan dari Allah Swt. Manusia hanya menjalankan garis hidup yang sudah ditentukan oleh Maha Pencipta, (Idris, paragraf: 69).

ii) Serangga
Laba-laba merupakan serangga yang menyelamatkan Rasulullah. Ini tergambar dalam peristiwa Hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Mekkah ke Madinah, karena keamanan yang tidak terjamin di Mekkah, Nabi Muhammad Saw. lari dan bersembunyi di gua Hira’. Setelah Nabi Muhammad Saw. masuk ke tempat persembunyiannya, seterusnya jalan Nabi Muhammad Saw. ditutupi oleh laba-laba. Nabi Muhammad Saw tidak dapat ditemukan musuh dan Nabi Muhammad Saw. pun selamat. Ini artinya laba-laba dapat menyelamatkan Nabi Muhammad Saw. dari musuhnya.

Bagi masyarakat Gayo Lues, laba-laba berbeda dengan konsep dalam sejarah Islam, seperti peristiwa yang langsung dialami oleh Nabi Muhammad Saw. di atas. Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, laba-laba dianggap sebagai makhluk yang menggangu dan merusak di dalam kehidupan masyarkat Gayo Lues. Bahkan laba-laba digambarkan sama dengan buaya; yaitu, binatang yang ganas dan ditakuti oleh semua orang, (Ramli, paragraf: 02) Konsep masyarakat Gayo Lues tentang laba-laba tersebut hanya dilaksanakan di dalam kehidupan duniawi saja. Dalam konsep Islam yang dilaksanakan suku Gayo Lues tetap sama dengan konsep dalam agama Islam di atas.

iii) Siamang
Bagi masyarakat Gayo Lues, siamang dikenal bukan hanya karena kemerduan suaranya, tetapi siamang juga dikenali karena selalu bersuara pada waktu solat Zuhur dan solat Asar. Suara siamang menjadi tanda bagi masyarakat untuk melaksanakan solat Zuhur dan solat Asar. Suara siamang dapat didengar sampai ke kampung-kampung di kawasan Kabupaten Gayo Lues yang terletak di kawasan pinggiran hutan. Dapat dikatakan semua orang di Kabupaten Gayo Lues dapat mengenal suara siamang.

Kefahaman dan kemengertian orang Gayo Lues kepada siamang itu, memberikan kesempatan kepada Guru Didong menggunakan suara siamang untuk menyampaikan fikirannya melalui kemerduan dan keindahan suara siamang. Guru Didong menyampaikan fikirannya untuk menguji keberanian lawannya dalam persembahan Didong Jalu disampaikan dalam bentuk pantun. Seperti didendangkan Guru Didong berikut ini:
Hijau-hijau gununglah hijau,
Siamang memanggil setengah hari.
Sia-sia badanmu muda,
Jika tidak berani mati. (Idris, paragraf 65)

iv) Kerbau
Kerbau adalah hewan yang banyak ditemui di kawasan dataran tinggi Gayo Lues. Di samping kerbau sebagai hewan peliharaan ia dapat dijual untuk menghasilkan uang. Hewan ini dapat juga digunakan untuk membajak sawah dan menarik balok dari hutan. Kerbau juga dapat digunakan menarik gerobak untuk mengangkat barang-barang keperluan. Bagi masyarakat Gayo Lues di samping kekuatan tenaga kerbau, masyarakat juga meletakkan kerbau sebagai lambang ketidaktahuan atau ketidakfahaman. Guru Didong pada permulaan persembahan menyampaikan tentang ketidakfahaman dan kelemahan Guru Didong yang akan tampil dalam persembahan. Guru Didong menggambarkan seperti kerbau yang memasuki kampung yang serba kebingungan, seperti yang dikemukakan Guru Didong berikut ini:
Yang kami punya ini pun tidak berpengalaman. Seperti kerbau masuk kampung yang serba kebingungan. Badannya cuma besar, umurnya masih muda. Seperti kayu kering, sangat cepat dilalap api. Jika digertak mudah takut, kalau ditakuti mudah terkejut. Begitu pula kalau bercerita lebih banyak yang lupa dari yang diingat. Seperti anak masih belum pandai dan masih memerlukan pelajaran dan pendidikan. Cerita dan jalan cerita pedas seperti lada merah, pahit seperti rimbang hutan, (Idris, paragraf: 07).

6.4 Peralatan
Menurut Zakaria Auang Soh, (1994: 61), alam semesta ini adalah kesuluruhan ciptaan Allah Swt. yang menjadi tempat dan keperluan bagi manusia. Di dalam Didong Jalu kedua Guru Didong banyak menceritakan tentang peralatan yang digunakan manusia; yaitu, alat ukur, alat memasak, tepak, senjata, tampi, sapu, tinta, kertas, dan buku seperti berikut ini:

i) Alat Ukur
Dalam kehidupan suku Gayo Lues, ada beberapa alat ukur yang digunakan. Alat ukur untuk menentukan berat digunakan neraca, alat untuk menakar isi digunakan liter (are) dan batok kelapa (kal) dan alat untuk mengukur panjang digunakan jengkal dan hasta. Alat-alat ukur ini digunakan untuk menentukan takaran yang pasti, supaya tidak lebih atau tidak kurang. Artinya supaya semua keputusan yang diambil raja dapat diterima oleh semua pihak. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:
Raja yang memberi keputusan. Diukur dengan are tidak kurang. Ditimbang dengan neraca sudah sesuai. Satu are sudah sesuai empat kal. Satu hasta sudah pasti dua jengkal. Guna are untuk takaran. Guna hasta untuk mengukur panjang. Guna genggaman untuk memenuhkan takaran. Guna pelingkut untuk meratakan takaran. Guna neraca untuk menimbang, supaya tidak lebih berat ke sebelah kanan atau tidak lebih ringan ke sebelah kiri…, (Idris, paragraf: 16).

Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues sangat hati-hati dengan alat takaran. Mereka merasa takut jika takaran tidak sesuai. Oleh karena itu, untuk meratakan alat ukur digunakan kayu (pelingkut) untuk meratakan. Dengan pelingkut ini akan menghasilkan takaran isi yang tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Pelingkut digunakan untuk meratakan bagian atas alat ukur are dan kal. Kal dan are selalu digunakan untuk menyukat beras atau padi, (Idris, paragraf: 22).

ii) Alat Memasak
Bagi masyarakat Gayo Lues ada peristiwa suka dan ada peristiwa duka. Peristiwa suka atau kegembiraan ini selalu dimeriahkan, seperti pesta ayunan (pemberian nama), pesta penyerahan anak kepada guru (belajar ilmu adat dan agama), pesta sunat rasul (menjalanlan sunah rasul) dan pesta perkawinan (jika sudah ada jodoh atau pertemuan). Dalam pelaksanaan pesta tersebut selalu menggunakan alat-alat pesta seperti periuk, kuali, piring, dan sendok. Alat ini digunakan untuk keperluan makan tamu yang hadir dalam pesta yang sedang dilaksanakan, (Ramli, paragraf: 23).

iii) Tepak
Bagi masyarakat Gayo Lues tepak adalah barang yang sangat berharga. Berharga bukan karena nilai jual (uang), tetapi tepak merupakan barang yang berhubungan dengan budaya suku Gayo Lues. Misalnya, kalau ada pergaduhan antara satu kampung dengan kampung yang lainnya karena persoalan remaja atau persoalan lain, dengan mengirimkan tepak yang berisi sirih pinang, maka pihak lawan akan dapat menahan dan mengawal emosinya. Setelah menerima sirih pinang, jika tidak dapat mengawal emosi, maka ia akan menerima resikonya. Tepak juga digunakan masyarakat Gayo Lues untuk tempat sirih pinang guna menyampaikan lamaran kepada seorang anak dara. Di samping itu juga tepak digunakan untuk tempat sirih pinang untuk menyampaikan mohon maaf kepada semua lapisan masyarakat di dalam persembahan Didong Jalu, (Ramli, paragraf: 28) .

iv) Senjata
Bagi masyarakat Gayo Lues menjaga keselamatan diri-sendiri adalah hal yang penting. Jika pergi ke suatu tempat harus membawa senjata, seperti pedang dan tongkat. Pedang dapat digunakan untuk keperluan di perjalanan dan untuk menghadang musuh. Tongkat dipergunakan sebagai panduan, artinya di dalam kehidupan sehari-hari harus ada tuntunan. Supaya dapat selamat dan berhasil serta dapat didukung oleh semua pihak. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Jika anakku pergi, jangan lupa membawa pedang sebagai senjata. Jika ada kayu yang melintang dapat diluruskan, jika ada bahaya yang menghadang dapat dilawan. Nasihat dari ayah dan ibu, kalau berjalan harus bertongkat, kalau bercerita harus mempunyai pedoman…, (Idris, paragraf: 50).

v) Tangga
Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, tangga tidak hanya digunakan untuk alat menaiki tempat yang tinggi, tetapi juga digunakan untuk perumpamaan bahwa naik harus melalui tangga. Artinya, apa saja yang kita lakukan harus berdasarkan kepada peraturan-peraturan yang sedang dilaksanakan, supaya apa yang kita lakukan dapat berhasil dan tidak menjadi masalah serta didukung oleh semua pihak. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Jika pergi ke daerah lain, untuk bermain Didong Gayo, berjalan harus melalui jalan, naik harus melalui tangga, duduk harus pada tempat yang sudah disediakan…,(Idris, perenggan: 52).

vi) Tampi dan Sapu
Bagi masyarakat Gayo Lues tampi dan sapu memiliki makna yang tersendiri. Tampi yang digunakan untuk memisahkan beras dengan sekam dan padi. Sapu digunakan untuk membersihkan lantai. Perbuatan yang tergesa-gesa diumpamakan seperti menir berlomba ke ujung tampi dan sampah berlomba ke ujung sapu. Seperti dikemukakan Guru Didong berikut ini:
Mungkin diriku seperti menir yang terlalu cepat ke ujung tampi, seperti sampah berlomba-lomba ke ujung sapu. Mungkin saya terlalu cepat, sehingga merosak segala aturan. Semua itu saya serahkan kepada dirimu…, (Idris, paragraf: 67).

Pada bagian lain Guru Didong bercerita. Seperti berikut ini:
… mungkin terlalu cepat apa yang saya sampaikan atau terlalu lambat apa yang saya usulkan. Diriku bercerita seperti menir berlomba ke ujung tampi, seperti sampah berebut ke ujung sapu, (Ramli, paragraf: 82).

vii) Tinta dan Kertas
Menurut pemikiran masyarakat Gayo Lues bahwa dunia sebagai pentas kehidupan semua makhluk. Di atas dunia ini sangat banyak masalah, misalnya masalah di langit, di udara, di bumi dan di laut dan di antara kempatnya. Jika masalah itu dituliskan tidak akan cukup air laut untuk tintanya dan tidak akan cukup daun kayu untuk kertasnya. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… jika kita ceritakan pun pulau yang banyak laut yang luas, tidak akan pernah selesai. Kita kaji pun banyaknya pulau tidak akan cukup air laut untuk tintanya. Jika kita kaji pun luasnya lautan, tidak akan cukup daun kayu untuk kertasnya, (Idris, paragraf: 68).

viii) Buku

Masyarakat Gayo Lues sudah menyadari perlunya pendidikan bagi setiap orang. Pendidikan ada yang bersifat formal dan informal. Pendidikan formal atau pendidikan resmi dapat didapatkan melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Universitas. Pendidikan non formal atau pendidikan yang tidak resmi melalui apa yang didengar, dirasakan, dialami dan dibaca pada setiap hari. Menurut faham masyarakat Gayo Lues untuk mendapatkan ilmu dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, melalui membaca buku yang sudah banyak ditulis pengarang dan diterbitkan oleh percetakan. Kedua, dapat bertanya kepada bapak dan ibu serta kepada guru, sehingga semuanya dapat menjadi jelas dan dapat difahami (Ramli, paragraf: 156).

III. Simpulan
Setelah mengkaji pemikiran tentang kosmos di dalam Didong Jalu, didapati bahwa, pertama, alam semesta yang digunakan oleh Guru Didong untuk mengungkap pemikiran meliputi dunia, bumi, langit, matahari, tanah, air, batu, laut, sungai angin, dan nama-nama tempat. Kedua, alam flora yang meliputi sirih pinang, randu hutan, nangka, cempedak, cabe merah, rimbang hutan, rumput, bunga renggali, nilam, tembakau, kelapa, tebu, dan kopi. Sirih pinang digunakan untuk jemputan pesta perkahwinan atau bersunat rasul. Randu hutan sebagai lambang ketidakmampuan dan kelemahan. Nangka dan cempedak digunakan untuk perbandingan yang penting dengan yang kurang penting. Cabe merah sebagai lambang ketidaksopanan dan rimbang hutan sebagai lambang kejahatan. Rumput yang berasal dari biji-bijian (bibit) sebagai bukti bahwa semua di atas alam ini terjadi secara sebab akibat. Ketiga, alam fauna yang meliputi burung, serangga, siamang, dan kerbau. Burung elang digunakan untuk menyampaikan amanat, jika ada pesta perkawinan atau sunat rasul. Burung balam digunakan karena kemerduan suaranya. Laba-laba disejajarkan dengan buaya dianggap sebagai perusak dan penghambat di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Siamang dikenal karena kekuatan dan kemerduan suaranya. Kerbau digunakan sebagai lambang ketidakmampuan atau ketidakfahaman. Keempat, peralatan yang digunakan masyarakat Gayo Lues meliputi untuk tempat mencari keadilan. Alat ukur neraca, are dan kal untuk takaran, supaya tidak lebih atau tidak kurang. Pelingkut untuk meratakan alat ukur sukatan supaya sesuai. Alat memasak periuk, kuali, piring, dan sendok digunakan dalam pelaksanaan pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru, pesta bersunat rasul dan pesta perkawinan. Tepak untuk tempat sirih dan pinang yang digunakan untuk menyampaikan undangan dan risikan. Pedang sebagai alat di dalam perjalanan dan tongkat sebagai pedoman di dalam kehidupan. Tangga sebagai perumpamaan, supaya di dalam kehidupan harus memiliki panduan. Tampi dan sapu sebagai perumpamaan ketidaksesuaian atau ketergesa-gesaan. Tinta dan kertas digunakan sebagai gambaran banyaknya persoalan di atas dunia ini. Jika dituliskan semua persoalan di atas dunia ini tidak akan cukup air laut untuk tintanya dan daun kayu untuk kertasnya. Buku merupakan bahan bacaan dan sumber ilmu.

Daftar Bacaan

Abdul G. Djapri. (1985) Mengintai Alam Metafisika. Surabaya: Bina Ilmu.
Abdul Rahman Abdullah. (1999) Falsafah Alam Semesta. Shah Alam: Lohprint Sdn. Bhd.
Arabi, Ibnu. (1999) Pohon Semesta (Terjemahan). Surabaya : Pustaka Progresif.
Atmazaki. (1990) Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Bandung: Angkasa Raya.
Azizah Shariff. (1993) Kenapa Mengapa Burung. Kuala Lumpur: Fargoes Sdn. Bhd.
Haron Daud. (2001) Mantera Malayu Analisis Pemikiran. Pulau Pinang:Universiti Sains Malaysia.
Hoerip Satyagraha. (1984) Cerita Pendek Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hossein Nasr, Seyyed. (1993) Doktrin Kosmologi Islam (Terjemahan). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
L. K. Ara at al. (1995) Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”. Jakarta:Yayasan Nusantara.
M. Melalatoa. (1985) Kamus Bahasa Gayo – Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
M. Sastraprateja. (1983) Manusia Multi Dimensional, Sebuah Renungan Falsafah. Jakarta: Gramedia.
Mahmud Junus. (1984) Terjemahan Al Quran. Bandung: PT. Al – Ma’Arip.
Muhammad Isa Selamat. (2000) Pedoman Menghapus Dosa. Kuala Lumpur: Darul Nu’man.
Ruskam Al Dawawy, Aminuddin. (1999) Konsep Kosmologi (Terjemahan). Malaysia: Universiti Teknologi Malaysia.
Sulaiman Hanafiah at al. (1984) Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sutejo Sujitno at al. (1995) Aceh Masa Lalu, Kini dan Masa Hadapan. Banda Aceh: Sekretariat Gubernur Daerah Istimewa Aceh.
Umar Yunus. (1981) Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Gramedia.
Warton, Thomas. (1974) History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago Press.
Zakaria Auang Soh. (1994) Kejadian dan Keadaan Alam Semesta. Kuala Lumpur: Berita
Publishing Sdn. Bhd.
Isma Tantawi

Isma Tantawi lahir pada tanggal 7 Februari 1960 di Kuning Aceh Tenggara (sekarang Kabupaten Gayo Lues). Beliau adalah staf pengajar tetap di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara mengasuh mata kuliah Sastra Bandingan, Estetika, dan Sastra Malaysia Modern serta mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan sebagai dosen tamu di Kolej Sentral Kuala Limpur, Malaysia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (FS USU) tahun 1986 dan pendidikan master (S-2) di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia (PPIK USM) tahun 2006 dengan bidang kajian tradisi lisan nusantara. Di samping itu juga beliau aktif mengikuti seminar nasional dan internasional baik sebagai peserta maupun pemakalah.