Takengon, 11 Nopember 2008

Oleh  H. Mustafa, AK

Menghimpun dari beberapa tulisan atau ucapan lisan dari para tokoh adat atau orang-orang tua maka tutur dapat diartikan sebagai penempatan panggilan yang terkait dengan kedudukan, umur, aliran darah, kekeluargaan dan persaudaraan. Dalam adat Gayo masalah tutur berada dalam posisi terhormat, artinya apabila seorang yang tidak bertutur atau bertutur tidak dengan semestinya maka yang bersangkutan tergolong orang yang tidak berahlakulkharimah. Dengan demikian dari tutur kita dapat mengukur keperibadiaanya, kesombongan, keangkuhan yang tercermin pada diri seseorang tersebut.

Dari penjelasan di atas tutur yang merupakan jalur penghubung untuk menguatkan ikatan kekerabatan dalam suatu keluarga, kampung, dan lain sebagainya. Menurut para tokoh-tokoh adat ; bahwa kunci adat Gayo adalah tutur bahasa Gayo, apabila tutur ini tidak di terapkan, baik dalam kehidupan keluarga maupun kehidupan masyarakat, maka adat gayo tidak dapat dikembalikan kepada zaman para leluhur kita. Dalam memanggil bapak atau ibu harus dekembalikan kepada tutur bahasa Gayo yaitu “ Ama “ dan “ Ine “ ( bapak atau ibu ), juga seperti “ paman ” harus dikembalikan kepada “ Pun ” karena kedudukan “ Pun “ menurut tutur adat Gayo sangat mulia dan dihormati. Diantara dari sejumlah tutur yang terdapat dalam masyarakat Gayo adalah sebagaimana tersebut di bawah ini :

63 TUTUR DALAM BAHASA GAYO :

1. Rekel : Generasi paling tua
2. Entah : Turunan dari Rekel
3. Muyang : Moyang, di bawah Entah
4. Datu : Para datu-datu adalah di bawah moyang (1 s/d 4, sudah termasuk leluhur)
5. Datu Rawan : Oarng tua ( bapak dari kakek )
6. Datu Banan : Orang tua ( Ibu dari kakek )
7. Awan Pedih : Kakek ( bapak dari ayah )
8. Anan Pedih : Nenek ( ibu dari ayah )
9. Awan Alik : Kakek ( bapak dari ibu )
10. Anan Alik : Nenek ( ibu dari ibu )
11. Uwe : Kakak tertua dari ibu kandung
12. Ama Kul : Bapak Wo ( saudara laki-laki sulung dari bapak )
13. Ine Kul : Mak Wo ( istri dari Pak Wo/ istri abang tertua dari bapak )
14. Ama : Bapak
15. Ine : Ibu
16. Ama Engah : Bapak Engah ( tengah ), adik dari ayah
17. Ine Engah : Ibu Engah ( tengah ), adik dari ibu
18. Ama Ecek/Ucak : Pakcik ( saudara laki-laki bungsu dari bapak )
19. Ine Ecek/Ucak : Makcik
20. Encu : Ucu ( terbunsu ) laki-laki
21. Encu : Ucu ( terbungsu ) perempuan
22. Ibi : Bibi ( adik atau kakak kandung ayah )
23. Kil : Suami dari bibi, apabila bibi ikut suami. ( juelen )
24. Ngah/Encu : Perobahan Kil menjadi Engah atau encu apabila ikut istri ( angkap )
25. Abang : Abang
26. Aka : Kakak
27. Engi : Adik
28. Anak : Anak
29. Ume : Bisan
30. Empurah : Mertua ( orang tua dari istri )
31. Tuen : Mertua ( bapak dari istri )
32. Inen Tue : Mertua ( ibu dari istri )
33. Lakun : Sebutan sesama ipar
34. Inen Duwe : Istri abang dengan istri adiknya abang
35. Kawe : Istri abang dengan saudara perempuan dari suaminya
36. Era : Adik laki-laki dari abang dengan istri abang yang bersangkutan
37. Temude : Abang dari istri
38. Impel : Anak bibi yang kawin juelen dengan anak dari saudara laki-lakinya (anak saudara perempuan dari ibu )
39. Kumpu : Cucu
40. Piut : Cicit
41. Ungel : Anak semata wayang ( tunggal )
42. Aman Nuwin : Putra pertamanya laki-laki ( untuk bapak )
43. Inen Nuwin : Putra pertamanya laki-laki ( untuk ibu )
44. Aman Nipak : Putra pertamanya perempuan ( untuk bapak )
45. Inen Nipak : Putra pertamanya perempuan ( untuk ibu )
46. Aman Mayak : Remaja ( Laki-laki yang telah menikah dan belum berketurunan )
47. Inen Mayak : Remaja ( Putri yang menikah dan belum berketurunan )
48. Empun : Perubahan panggilan dari posisi kakek ( awan ) menjadi Empun dengan memanfaatkan salah satu nama cucu.
49. Win : Panggilan untuk anak laki-laki
50. Ipak : Panggilan untuk anak perempuan
51. Periben : Karena nama bersamaan atau sesama suami dari istri yang bersaudara kandung
52. Utih, Mok, Item, Ecek, Ucak, Onot : Panggilan kesayangan sementara nama yang bersangkutan bukan itu. Panggilan tersebut boleh jadi karena warna kulit, raut wajah, bentuk badan.
53. Serinen : Satu saudara kandung baik laki-laki maupun perempuan
54. Biak : Kenalan yang sudah dipandang sebagai saudara
55. Dengan : Saudara laki-laki dengan saudara perempuannya ( kandung )
56. Pun : Saudara laki-laki dari ibu
57. Ine Pun : Istri dari saudara laki-laki dari ibu
58. Pun Kul : Abang kandung yang sulung dari ibu
59. Pun Lah : Abang kandung ibu antara sulung dengan yang bungsu
60. Pun Ucak : Abang kandung ibu yang bungsu
61. Kile : Menantu laki-laki
62. Pemen : Menantu Perempuan
63. Until : Anak saudara kandung perempuan

Dengan memahami 63 tutur bahasa Gayo di atas kiranya telah mewakili dari semua tutur yang ada yang tidak tertera dalam tulisan ini. Betapa tidak, anatara tutur diatas saling terkait sehingga kita dengan jelas mengetahui siapa kita dalam kekeluargaan. Dengan demikian maka ahlakulkharimah akan terbawa dengan sendirinya karena kita tau hubungan kekeluargaan, persaudaraan dan sebagainya yang pada gilirannya secara tidak langsung tercipta keharmonisan di dalam kekeluargaan. Lebih jauh keharmonisan dalam keluarga, kelompok, suku (belah), kampung, akhirnya bermuara pada Bhinneka Tunggal Ika (bersatu kita teguh bercerai kita runtuh). Kalaulah penempatan tutur di hayati dan dilaksanakan dengan baik maka tidak akan terjadi perselisihan di antara kita karena anjuran atau nasehat dari orang tua di hormati oleh orang muda atau sebaliknya orang, orang muda merasa di sayangi oleh orang tua.

Catatan : “ Sara urang ( belah ) sara kemalun “
“ Sara kampung sara kekemelen “

Sumber: Gayolinge.com