Oleh Mahyadi

Dingin merangsek masuk dari celah-celah papan yang mulai jarang. Asap mengepul dari bara api yang terbakar diatas dapur kayu. Aroma daun pisang yang terbakar sedikit menyengat mata. Perlahan rasa dingin yang menusuk tulang mulai sirna karena secangkir kopi dan beberapa potong kue lepat bakar menemani.

Sebaris cerita melirik “sekelumit” kebiasaan masyarakat dataran tinggi Gayo, dengan berbagai tradisi yang mereka miliki. Dataran tinggi Gayo, memiliki iklim yang cukup dingin, terletak di ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut. Pegunungan melingkari daerah berhawa sejuk itu. Namun dibalik sejuknya tanah Gayo, ada terselip tradisi yang mulai terkikis dan dilupakan oleh masyarakatnya.

Sederatan tradisi masyarakat di dataran tinggi Gayo, ketika menjelang bulan suci Ramadhan, maupun pada saat menyambut hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha ada ciri khas tersendiri, dalam menyambut datangnya hari-hari besar itu. Salah satu ciri khasnya adalah dari segi panganan yaitu lepat gayo.

Lepat Gayo, adalah salah satu panganan dari sederetan tradisi masyarakat di dataran tinggi Gayo dalam menyambut hari besar keagamaan ataupun hari besar lainya. Mungkin panganan lepat gayo ini, tidak jauh berbeda dengan “kue timpan” panganan tradisi masyarakat Aceh bagian pesisir. “Serupa tapi tak sama” pantas disebutkan bagi kedua jenis panganan di Serambi Mekkah ini.

Perbedaan antara kue timpan dengan lepat gayo, panganan dari dataran tinggi gayo itu, bisa bertahan lebih lama, sedangkan kue timpan yang biasanya Aceh bagian pesisir bisa dijumpai di warung-warung kopi. Sedangkan kue lepat ini, bisa dinikmati nyaris hanya setahun sekali.

Dataran tingi Gayo yang kita kenal memiliki beragam etnis, yang mendiami daerah daerah itu, selain Masyarakat dataran tinggi Gayo, dan Aceh pesisir sendiri ada juga etnis Jawa, Padang, Batak dan banyak lagi yang lainya. Sebagian besar dari mereka yang tinggal dan menetap di Takengon, atau Bener Meriah, telah mengenal panganan kue lepat Gayo, bahkan ada juga dari mereka yang mengikuti tradisi pembuatan lepat gayo menjelang hari besar seperti menyambut bulan Ramadhan dan hari besar lainya.

“Saya menetap di Takengon ini, sudah sejak kecil, dulu orang tua saya tinggal di Kampung Isak, sebagai buruh perkebunan. Jadi tradisi ini, sudah saya kenal sejak 45 tahun silam, sampai dengan sekarang setiap bulan ramadhan atau lebaran kami tidak lupa menyiapkan panganan lepat Gayo.” Cerita Inen Su, seorang ibu yang asli berdarah jawa.

Terbukti, panganan lepat Gayo bukan saja dikenal ataupun dikonsumsi oleh orang Gayo sendiri, tetapi kue berbalut daun pisang itu, telah “menjalar” ke rumah-rumah masyarakat yang bukan etnis Gayo.

Panganan lepat gayo hanya didapat pada saat menjelang bulan puasa maupun dalam menyambut hari raya lainnya. Panganan yang terbuat dari tepung beras yang diberi isi kelapa yang telah diparut dan dibungkus lembaran daun pisang ini, “nyaris” di setiap rumah dapat dijumpai menjelang bulan suci Ramadhan.

Salah satu keunikan dari kue lepat gayo, yang dalam bahasa daerahnya, “penan lepat gayo” ini, bisa bertahan hingga satu bulan diawetkan dengan menggunakan asap dari tungku kayu bakar. Umumnya masyarakat dataran tinggi Gayo masih banyak yang menggunakan kayu bakar untuk memasak didapur, Nah untuk mengawetkan lepat gayo ini, kebiasaan masyarakat gayo hanya dengan mengantung kue lepat diatas para-para dapur kayu hingga mengering.

Lepat yang telah mengering diawetkan diatas para-para dapur kayu itu, sewaktu-waktu dapat dikonsumsi sebagai panganan untuk berbuka puasa dengan cara memangang diatas bara api atau di wadah yang telah dibubuhi minyak makan.

Sayangnya kini, kue lepat gayo yang sudah menjadi tradisi masyarakat daerah penghasil kopi ini, mulai memudar seiring dengan berjalananya waktu. Pembuatan kue tersebut, terbilang sederhana, namun “tergilas” dengan kemajuan zaman dan moderenisasi, sehingga sebagian besar masyarakat lebih memilih makanan yang berbau mentega dan keju.

“Jujur saja, saya selaku putra daerah yang berdarah asli Gayo, pada saat menjelang bulan suci Ramadhan, hampir tidak pernah lagi membuat lepat Gayo. Padahal itu kan makanan ciri khas kita.” Ungkap Aman Win

Tidak bisa dipungkiri, makanan kegemaran dan ciri khas orang Gayo itu, lama-kelamaan tenggelam ditelan zaman. Namun sebagian besar masyarakat yang masih tinggal di daerah pinggiran masih menggemari makanan itu, sebagai salah satu khas yang tidak boleh dilupakan.

Lepat gayo, hanyalah salah satu dari sekian banyak ciri khas panganan dari daerah dataran tinggi gayo. Tapi lepat Gayo, mempunyai “musim” tersendiri. Umumnya pembuatan panganan itu, dibuat menjelang bulan suci Ramadhan.

Panganan musiman itu, jika dikonsumsi kurang lengkap rasanya jika tidak ditemani dengan secangkir kopi panas. Apalagi seperti yang kita tau, Dataran tinggi gayo merupakan penghasil kopi terbesar di Aceh. Rasa-rasanya kopi dan kue lepat hampir tidak bisa dipisahkan karena ada kenikmatan tersendiri dalam mengkonsumsinya keduanya.