Oleh Win Ruhdi Bathin

Didong adalah kesenian khas gayo yang mengandalkan tepukan tangan diiringi seorang ceh sebagai vokalis utama dengan dibantu sekitar 30 orang penepuk, dalam sebuah grup didong.

Didong memang menarik, unik, dan hanya menggunakan kekuatan tubuh sebagai alat sekaligus media didong. Selebihnya, peran ceh , vokalis utama, membuat didong menjadi sebuah seni yang identik dengan komunitas masyarakat gayo. Menjadi sebuah seni ethno.

Lantas, kapan didong mulai ?, menurut Ismuha, (13/7) ,Kabid kebudayaan Pemkab Bener Meriah, kesenian didong dimulai sejak Reje Linge ke 13. Sejarah didong mengalami masa jaya dan masa-masa dimana didong menjadi stagnasi, dari periode ke periode.

Seiring waktu, rinci Ismuha, didong mengalami perubahan dan penambahan kreasi yang masuk kedalam kesenian didong, meski sebelumnya atau aslinya tidak ada. Contohnya, penggunaan bantal untuk tepukan.

“Awalnya didong hanya mengandalkan kekuatan tepukan tangan, tanpa alat bantu. Tapi kemudian tepukan bantal yang kini dipakai dalam didong, dimulai oleh Ceh To’et tahun 1964 di Bintang, dalam sebuah didong jalu”, kata Ismuha, mengupas sejarah didong.

Toet , seniman yang cukup popular dan menasional, menurut Ismuha kaya akan lirik didong dan inovatif. Toetlah yang memulai penggunaan bantal untuk tepukan pada didong.

Sepanjang sejarah didong, lanjut Ismuha, didong ikut mewarnai sejarah khidupan orang gayo sendiri. Awalnya didong digelar dibawah rumah –rumah panggung warga warga gayo yang di periode awal memang tinggi.

Rumah ini dikenal dengan rumah adat “Pitu Ruang”. “Sepanjang sejarah didong, didong memang selalu menampilkan dua grup dalam sebuah penampilan. Kedua grup ini saling mengadu ketangkasan kata.

Seperti berbalas pantun dalam budaya melayu. Hanya saja, didong menggunakan bahasa asli gayo dalam didong jalu. “Meski saling menyerang dengan kata-kata, di periode awal didong, kata-kata yang digunakan menyerang lawan dalam perang kata-kata, menggunakan bahasa istilah yang dalam dan kaya makna”, sebut Ismuha.

Tapi kemudian, kata Ismuha, dalam didong jalu, perang kata-kata vulgar dan tanpa istilah peribahasa kemudian juga berkembang seiring komersialisasi didong. ‘Kalau kata-katanya ngak kasar dan saling menghina dan menghujat, penonton merasa kurang seru. Mulailah didong saling mlah grenghujat dan membuka aib”, jelas Ismuha.

Salah satu grup didong yang suka menggunakan kata-kata bukan istilah adalah grup Arita, ujar Ismuha. Didong kemudian bukan saja menjadi ajang mencurahkan rasa perberkesenian saja.

“Didong juga kemudian dipakai sarana menggalang dana untuk berbagai keperluan umum. Seperti membangun Mersah (Menasah), sekolah, jembatan dan sejumlah kepentingan umum.

Dua grup didong bertanding, kepada penonton dikenakan tiket. Uang penjualan tiket dipakai untuk membangun sarana umum.

Didong Mengalami Stagnasi

Menurut Ismuha satu grup didong bisa mengalami stagnasi atau kevakuman dalam berkarya. Hal ini disebabkan daya tarik grup didong sudah tidak ada lagi. “Daya tarik grup didong biasanya pada suara ceh dan kepinterannya mengungkapkan sesuatu melalui lirik didong yang dibawakan”, papar Ismuha seraya menambahkan,

Biasanya, jika dalam satu grup didong ada ceh kucak dengan suara yang merdu da fasih melantunkan bait-bait didong, maka grup didong ini akan banyak diundang untuk tampil dalam banyak kesempatan.

“Tapi saat ceh kucak ini mengalami masa-masa pubertas, dimana suaranya tidak lagi menarik, grup didong ini akan mengalami masa suramnya”, imbuh Ismuha. Parahnya lagi, kata Ismuha, banyak grup didong yang muncul, kemudian tenggelam karena tidak konsisten.

“Penyebab tidak konsistennya sebuah grup didong karena masing-masing personilnya harus bekerja untuk ekonomi keluarganya. Sementara didong belum bisa dijadikan sumber utama ekonomi”, ujar Ismuha lagi.

Saat ini di Bener Meriah, sambung Ismuha, sudah ada 32 grup didong. Empat diantaranya sudah professional dengan tarip sekali tampil bisa mencapai Rp.3.5 juta.