Oleh SUBAYU LOREN


Politik Elektoral 2009

Salah satu yang saya catat dari kegiatan Belajar Bersama, 9 – 13 Februari lalu di Denpasar adalah mengenai sikap pesimis kelompok Pro Demokrasi dan Gerakan Sosial di Indonesia terhadap momentum politik elektoral 2009, yang hasilnya dinilai sama dengan dengan hasil Pemilu tahun 2004. Karenanya “ Indonesia tidak kemana-mana!” sebut pengurus Wisnu, organisasi yang mengkuatirkan tenggelamnya budaya Bali ditengah semarak Visit Indonesia.

Tipisnya capaian harapan perubahan dari proses politik electoral 2009, bisa disimak dari pendapat kader-kader gerakan sosial yang ikut menjadi Caleg partai PDIP-Bali, bahwa orang yang akan memenangkan Pemilu legislatif, April nanti: Pertama; orang yang memiliki kemampuan pinansial, dan Kedua; orang yang punya popularitas. Yang tidak masuk dalam kategori dua jenis manusia itu, musti tunggu bantuan malaikat atau jin untuk memeroleh suara pemilih. Hal ini selaras dengan permintaan kebutuhan masyarakat pemilih di Bali yang terarsir dalam 3 tuntutan; perbaikan atau pembuatan jalan ke desa-desa, pura, atau Babi.

Karenanya, gerakan sosial sendiri berupaya memaknai politik electoral 2009 dengan beragam respon: dengan intervensi politik, dalam praktiknya ikut menjadi Caleg partai tertentu, ada yang membentuk organ politik partai yang diupayakan bertarung dalam Pemilu, selebihnya masuk ke dalam gerbong “White Party” alias Golput.

Yang berbeda dan menurut peserta Belajar Bersama perlu dijadikan pembelajaran bagi gerakan di Indonesia adalah keberhasilan kaum gerakan memimpin di Aceh. Pintu pertarungan politik yang terbuka, benar, terbukti bisa memenangkan kaum pergerakan yang diwakili oleh mantan GAM dan gerakan sosial SIRA dan SMUR. Gerakan sosial telah tertransformasi dengan hasil yang cukup gemilang ke dalam gerakan politik.

Indonesia Menggugat atau Menggugat Indonesia

Malam terakhir, peserta Belajar Bersama, termasuk saya tentunya, menghadiri Monolog Indonesia Menggugat, pembacaan pledoi Bung Karno yang dibawakan Wawan Sofwan di Balai Pelatihan Guru. Tapi apa lacur, forum tersebut menurut peserta yang hadir lebih pantas disebut sebagai forum “Menggugat Indonesia ”. Pasalnya, sebut Khalid Muhammad mantan Direktur Eksekutif WALHI, elit-elit negeri ini telah menggadaikan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki republik yang baru saja lahir itu untuk membayar seluruh hutang Hindia Belanda di Meja Bundar (atau KMB).

Pius Ginting, Officer Publikasi WALHI Eksekutif Nasional, melukiskan di dalam KMB, terdapat perjanjian ekonomi keuangan (financial-economic agreement), yang mengatur; Pertama, penyelesaian seluruh hutang Belanda selama perang akan menjadi tanggungan pemerintah Indonesia, 3 Milyar Gulden utang domestic dan 3,3 Milyar Gulden utang eksternal. Kedua, korporasi Belanda tetap beroperasi di Indonesia .

Belum selesai hutang Hindia Belanja terbayar, belum juga kering air mata rakyat atas beragam peristiwa yang membelit kehidupan mereka, rakyat negeri ini “dipaksa” memasuki penderitaan jilid II. Pasalnya, elit-elit politik negeri ini kembali menyerahkan pengelolaan SDA-nya kepada kekuatan asing melalui disahkannya Undang-undang Penanaman Modal Asing, tahun 1967.

Sebuah fakta yang perlu diselidi, ternyata peraturan yang memberi jalan penghacuran SDA secara massif tersebut ditandatangani oleh Soekarno, Presiden pertama RI yang dikenal getol mempropagandakan “Go to hell with your aid” kepada dunia. Jadi dia menyerukan Indonesia keluar dari lembaga PBB, tapi membuka penguasaan SDA republik dalam cengkeraman Bank Dunia, IMF dan IGGI. Ya, “keluar dari mulut harimau, tapi masuk ke dalam mulut buaya” kata pepatah Melayu. Kebijakan dikeluarkan oleh Soekarno menjelang kejatuhan kekuasaannya tahun 1967.

Tak sulit menemukan jejak kaki tangan lembaga keuangan di dalam birokrasi pemerintah. Di Bappenas dan berbagai kantor kementerian. Sejumlah regulasi pun telah berhasil digolkan berkat kehadiran mereka ini, ada UU SDA, UU Mineral yang mengatur cengkeraman kapitalisme international. Dalam kamus kelompok demokrasi, mereka ini adalah refresentasi politik dominan yang menguasai nusantara, campuran pemodal asing yang di back up elit-elit politik dalam negeri.

Hal ini membuat saya sejenak menoleh ke Aceh, kepada peristiwa yang masih hangat. Diberitakan betapa risihnya Irwandi Yusuf beberapa waktu lalu, yang geram dengan “political decay” yang dihembuskan kalangan politik berbendera “hijau” di Aceh, yang menggugat para “pendekar rambut perak” yang bercokol di kantor Gubernur. Sesuatu yang lajim, dan telah lama terdapat di kantor-kantor Pemerintah Pusat, Jakarta – yang menggambarkan hubungan istimewa birokrat kapitalis dengan kekuatan asing.

Perih Komunitas Lokal

Ekspoitasi SDA besar-besaran sejak tahun 1974 di Kalimantan Timur, menurut Azman Azis, Direktur Eksekutif Naladwipa Samarinda, tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Malah sebaliknya ekspoitasi SDA justru melipatgandakan kemiskinan dan kemelaratan, di tangan rezim Orde Baru.

Kekayaan alam nusantara terkuras, akibatnya komunitas Kenyah, kini mengganti bulu burung Enggang asli dengan imitasi yang terbuat dari plastik, dalam komodifikasi budaya yang sedang digalakkan pemerintah daerah.

Hutan di Kalimantan Timur sudah botak, burung Enggang sulit dijumpai. Sementara komunitas Tunjung-Benuaq kewalahan mendapatkan kayu Ulin yang biasa mereka ukir yang digunakan dalam upacara Taun (bersih desa) dan Kewangkay (upacara buang bangkai).

Bagaimanakah pula komunitas masyarakat Gayo Takengon mengembalikan “jam alami” mereka, Bangau, yang telah lama pindah karena habitatnya “Paya Ilang” tengah berproses menjadi terminal bus.

Bangau telah menjadi jam alami bagi masyarakat Gayo selama berabad-abad, penanda bagi pekerjaan banyak orang dimulai pada pagi, dan berakhir bersamaan dengan Bangau kembali ketika senja. Pedih, harmoni manusia dan alam itu telah ditelan kebijakan, dimana peran Bangau telah digantikan deringan jam “beker”.

Kisah pilu tentang alam yang dieksploitasi dan berimplikasi pada tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat ini, mewakili ribuan cerita pilu hancurnya kebudayaan komunitas masyarakat lokal di seantero nusantara.

Pelajari dan Berkemas

Kisah hancurnya SDA di Kalimantan Timur tak lepas dari peristiwa politik yang melatarbelakanginya . Di tahun 1963, dari Jakarta dikumandangkan kampanye “Ganyang Malaysia ”. TNI yang mengambil basis di Apo Kayan membentuk milisi-milisi sipil Dayak dan “memaksa” mereka menghadapi tentara Gurka Malaysia .

Tetapi yang terjadi malah PERANG SAUDARA saudara antar Dayak di kawasan perbatasan, karena Malaysiapun menggunakan strategi yang sama. Bedanya, bila Dayak Malaysia usai masa konfrontasi, mereka segera memasuki masa gemilang pembangunan, maka komunitas Dayak tanah air dikejar-kejar, dan kehilangan identitas mereka.

Banyak sedikitnya, situasi yang kita alami layaknya pengalaman masyarakat Dayak di Kalimantan. Atas nama penyapuan Komunisme, masyarakat Gayo harus kehilangan sekitar 2.500 warga mereka yang berprofesi sebagai guru. Sebuah kehilangan yang sangat besar, bagaimana tidak, bukankah peristiwa ini merupakan titik balik masyarakat Gayo kembali ke abad kegelapan, kebodohan. Dan tahun-tahun berikutnya, kita pun makin tenggelam oleh yang namanya negara tunggal ika, yang mengharamkan kemajemukan melalui pemberlakuan UU No 5 Tahun 1979.

Haruslah kita berani mempelajari dan mendapat pembelajaran dari mana kita dulunya dibawa, sehingga beginilah kita sekarang ini. Karenanya seperti kata Tan Sri Muhammad dalam pidatonya mengenai pemberantasan kemiskinan dan kebodohan di Malaysia . “Kain kami sudah jadi, dari satu persatu helaian benang yang kami rajut”. Sementara kita, diperbudak oleh suara yang mengarahkan kita membenci saudara kita yang meraih segenggam cahaya di ujung lorong kegelapan. Wallahu alam. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: