Oleh KOSASIH BAKAR

Aceh dengan Konsep PERANG BODOH

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan Negara terbesar dengan penduduk mayoritas terbesar muslim di dunia, Negara yang telah mengalami beberapa kali pergantian kepimpinan nasional dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Negara ini telah beberapa kali terancam disintegrasi, dan ancaman disintegrasi disebabkan beberapa hal diantaranya adalah alasan ideology dan alasan ketidakadilan. Sebagai pengingat kita adalah ketika adanya ancaman integritas ketika beberapa tokoh Negara ini ingin mendirikan Negara Islam Indonesia yang didukung oleh tokoh-tokoh dari Aceh, Padang, Pasundan, Makassar dan beberapa daerah lainnya. Atau ketika Aceh, Tim-Tim dan Papua mengingkan kemerdekaannya dibandingkan bersatu dengan NKRI, dan contoh nyata yang bisa dilihat sejarah adalah ketika merdekanya Tim-Tim dari NKRI setelah melakukan referendum. GAM yang telah menyepakati MoU Helsinky akhirnya bisa melakukan perdamiaan dengan beberapa syakwasangka dan permasalahan pemekaran wilayah. Kemudian Papua yang kini telah terbelah menjadi 2 Provinsi karena dianggap terlalu besar. Kesemuanya ini telah memperlihatkan bahwa adalah suatu yang nyata negeri ini selalu dalam ancaman disintegritas selama pemimpin bangsa ini tidak mesejahterakan rakyatnya.

Era Soekarno dan Era Soeharto merupakan masa-masa yang paling sulit dalam sejarah bangsa ini, era-era dimana ancaman disintegrasi terus saja tumbuh. Soekarno yang kemudian terlalu dekat dengan Soekarno dan memperjuangkan NASAKOMnya mendapatkan perlawanan yang cukup berat dari tokoh-tokoh muslim seperti Moh Natsir, Daud Beureuh, Kahar Muzakkar, dsb, merupakan melakukan protes dengan mencoba mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Soeharto yang telah mencengkram Indonesia dengan pemerintahan otoriternya telah mempergunakan operasi-operasi intelijen dengan kekuatan TNI untuk memberangus setiap kekuatan yang mengancamnya, Soeharto telah banyak melakukan pembunuhan-pembunuhan baik secara sembunyi atau dengan menggunakan kata ‘PKI’ atau ‘Muslim Garis Keras’ untuk melanggengkan kekuasaanya. Soeharto juga telah berhasil menjual Negara ini yang kemudian terbukti pada waktu kejatuhannya 1998 ternyata pondasi ekonomi kita begitu lemah dan amat tergantung kepada USA dan Negara donor lainnya. Pada akhir kekuasaannya Soekarno dan Soeharto sama-sama dikhianati oleh orang-orang dekatnya, sungguh ini adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan bagi diri mereka sendiri.

Aceh mulai mengumandangkan perang dengan NKRI ketika Daud Beureuh dengan DI/TII nya dan NKRI telah berhasil menyelesaikan perbedaannya dengan pendekatan yang secara dialogis dari NKRI kepada Daud Beureuh maka seluruh rakyat Aceh setuju untuk kembali menjadi bagian dari saudara mereka NKRI. Namun kemudian dilanjutkan oleh Hasan Tiro, seorang anak bangsa, seorang anak Tengku dan keturunan pahlawan besar Tengku Cik Di Tiro, seorang anak yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke Yogjakarta akibat perjanjian damai Tengku dan Teuku, seorang anak bangsa yang kemudian ikut membantu perjuangan kemerdekaan NKRI dari Belanda bahkan kemudian menjadi perwakilan NKRI di USA. Seorang Anak Bangsa yang begitu mencintai Aceh, mendapatkan kesempatan untuk dapat menuntut ilmu, dan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan jejaring internasionalnya.

Konsep PERANG BODOH

Kegilaan di Aceh dimulai ketika Hasan Tiro mengumandangkan PERANG BODOH ini, ketika NKRI yang pada waktu itu dalam masa-masa yang begitu rawan baik dari segi politik maupun perekonomian maupun tekanan dunia internasional atau keinginan untuk disintegrasi dari pendukung Islam. Ketika Daud Beureuh yang mulai berpikir bahwa memberontak hanya akan menghancurkan rakyat Aceh, walau ia hanya menginginkan Aceh berdiri seperi Kerajaan Iskandar Muda yang menjunjung tingga ajaran-ajaran Islam yang menurutnya sudah berjalan di Aceh sejak barabad-abad yang lalu, sebuah niat yang amat holistic. Disela-sela akhir damai tersebutlah Hasan Tiro mengumandangkan PERANG BODOH ini hingga 30 tahun lamanya, sebuah Gerakan yang mulanya hanya bersifat tulisan-tulisan, Gerakan yang mulanya berawal dari kaum intelektual Aceh saja mulai mengembangkan jejaringnya di Aceh.

Konsep PERANG BODOH ini pada awalnya adalah kekayaan alam Arun diperuntukkan bagi orang Aceh, hal ini disebabkan karena Hasan Tiro yang kecewa bahwa ternyata ia kalah tender untuk pengelolaan kekayaan alam Arun, lantas ia juga kecewa ternyata hanya sedikit rakyat Aceh yang diperbolehkan bekerja di Arun, timbulah konsep Merdeka dari Penjajahan Indon-Jawa. Kemudian konsepnya berkembang sejalan dengan kondisi NKRI yang saat itu dalam genggaman Soeharto dengan otoriternya, dengan tujuan menarik dukungan rakyat Aceh maka konsep GAM akan menegakkan syariat Islam dalam perjuangannya. Dengan konsep inilah maka GAM dapat bertahan, kembali dengan mengangkat isu JIHAD KEBABLASAN, Jihad yang notabene menghalalkan darah sesame muslim tumpah, Jihad yang ternyata ujungnya hilangnya Tengku dari bumi Aceh secara sistematis, ironis dan BODOH. Pada akhirnya konsep ini berubah kembali menjadi kembali seperti awal untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat Aceh melalui MoU Helsinky dengan terlebih dahulu mengenyangkan perut-perut anggota GAM, sesuai perjanjian.

Dampak PERANG BODOH

Konsep-konsep perjuangan GAM di atas ternyat berdampak sangat BODOH, Soeharto dan LB MOerdhani mempergunakan kesempatan pemberontakkan GAM dengan menjadikan Aceh ajang peta konflik. Aceh dijadikan sebagai proyek TNI, sebagian hasil Arun dipergunakan oknum TNI untuk menjaga Arun, tentunya ini menguntungkan TNI. Kemudian Soeharto dan LB Moerdhani juga menggelar peta konflik untuk menghabiskan para Tengku yang dianggap sebagai basis perlawanan NKRI atau dikatakan bahaya laten Islam yang disamarkan dengan bahaya laten Kejayaan Iskandar Muda. Sekarang ini dalam MoU Helsinky malah lebih berbahaya lagi peta konflik yang diangkat adalah sesame rakyat Aceh, ketika isi dari MoU Helsinky itu ternyata berdampak kepada pembunuhan karakter dari GAM itu sendiri. Menurut saya sudah jelas bahwa GAM itu adalah BODOH dengan konsep PERANG BODOHnya tersebut diatas.

Ribuan orang menjadi korban PERANG BODOH, ratusan ribu orang tertekan karena PERANG BODOH, dan jutaan orang menangis karena PERANG BODOH. Lantas siap yang harus disalahkan apakah kepada TNI ? Kepada pemimpin NKRI ?

Inilah dilemanya, tidak bisa seratus persen kesalahan itu dibebankan kepada TNI, dalam pikiran mereka amat mematuhi pimpinannya atau garis komando mereka jelas. Bahkan dalam Negara manapun ketika sebuah wilayahnya melakukan pemberontakkan maka adalah kewajiban mereka untuk menghancurkan pemberotakkan tersebut dengan cara dialogis maupun cara PERANG. Tentunya lantas kita berpikir bahwa pemimpin NKRI yang harus bertanggungjawab, sama alasannya dengan TNI tadi, akan tetapi permasalahannya adalah ketidakadilan yang terjadi di Aceh hampir terjadi di semua daerah di Indonesia. Hanya Acehlah yang GAM beragama Islam mengumandangkan PERANG BODOH dengan menghalalkan darah sesame muslim, akan tetapi daerah lain lebih kepada berdiam karena ukhuwah Islamiyahnya. Dan dapat dilihat hasilnya sekarang bahwa daerah mereka relative lebih majunya SDM nya.

Akibat dampak PERANG BODOH yang BERKEPANJANGAN ini adalah amat besar, berkepanjangan inilah kata kuncinya. Berkepanjangan ini menyebabkan 1 generasi muda Aceh dijiwanya ada ketakutan-ketakutan akibat perang, seharusnya mereka bermain dan mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Anak-anak Aceh yang berusia 0-8 tahun, yang merupakan masa emas pertumbuhan otak dan tidak akan kembali lagi masa itu telah kehilangan masa emas tersebut, digantikan dengan rangsangan-rangsangan trauma-trauma, rangsangan-rangsangan ketakutan, suara-suara menggelegar, pemandangan-pemandangan yang memilukan, yang kesemua itu akan terekam didalam kehidupan mereka selamanya. Atau ketika mereka yang usia produktif telah kehilangan kesempatan untuk bekerja karena perang yang berkepanjangan mengharuskan mereka memilih untuk mengikuti 2 pihak yang bertikai. Perlu diingat pada waktu perang mereka sulit untuk bekerja sehingga mereka menjadi anggota atau mata-mata pihak yang bertikai karena mereka membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya. Bukan kah bisa dibayankan ketika tentara Remaja GAM ketika hari Lebaran tiba harus menyimpan senjatanya untuk kemudian kembali ke keluarganya dengan diberi uang oleh komandannya 50 ribu. Atau ketika cuak TNI mendapatkan uang yang sedikit lebih besar untuk merayakan Lebaran.Keterampilan hidup pada masyarakat semakin lama semakin hilang, bukan karena mereka tidak mau bekerja tapi karena keadaan yang memaksa mereka harus seperti itu.

Adanya ALA dan ABBAS merupakan sebuah hasil konflik berkepanjangan yang cukup rasional, ini sebenarnya dimulai ketika rakyat Aceh semakin sadar dengan dampak PERANG BODOH yang mereka rasakan. Perlu diingat bahwa daerah ALA dan ABBAS merupakan daerah yang relative lebih aman, dan kebanyakan masyarakatnya menginginkan anak-anaknya tumbuh dengan baik, kehidupannya dapat berjalan seperti normal, mereka sudah muak dengan GAM dan PERANG BODOHnya yang tidak menghasilkan apa-apa, hanya menghasilkan INTIMIDASI dan DENDAM saja. Juga ALA dan ABBAS merupakan daerah yang berbasis pertanian, perkebunan dan kelautan yang sudah cukup terkelola dengan baik, terlebih lagi bila keamanan terjamin. Dan yang unik lagi bahwa ALA dan ABBAS merasa bukan sebagai orang Aceh karena di ALA mereka merasa sebagai orang GAYO dan ABBAS sebagai suku Jamnee, ada sebuah perbedaan kultur diantara mereka. Uniknya mereka lebih bisa menerima suku Jawa untuk bekerjasama melakukan pekerjaan yang dilakukan, karena suku Jawa di Aceh terkenal mau bekerja keras dengan membuka lading baru, mengerjakan perkebunan, dsb. Ini berbeda dengan orang Aceh yang ada di pesisir timur, karena mereka sudah mengental kebencian mereka kepada GAM, mereka tidak menginginkan ada suku Jawa, namun ini mengakibatkan terbengkalainya perkebunan mereka disana, karena mereka sendiripun tidak bisa bekerja, ironis bukan. Jadi ketika kemiskinan banyak di pesisir timur dan GAM banyak disana merupakan akibat dari konsep PERANG BODOH ini.

Solusi Aceh Kedepan

Sampai kapanpun menginginkan Aceh MERDEKA adalah sia-sia, terlebih lagi setelah MoU Bodoh itu juga.Rencana apapun untuk memerdekakan Aceh adalah sia-sia, karena konsep PERANG BODOH itu sudah meracuni orang Aceh. Kebencian kepada satu suku Jawa amat berbahaya, karena sudah cukup banyak orang Jawa di Aceh seperti di ALA dan ABBAS. Penghalalan darah sesame muslim juga berbahaya untuk kemerdekaan, terlebih lagi NKRI sudah memberikan syariat Islam di Aceh.

Jangan sampai nati rakyat Aceh mengatakan bahwa ternyata GAM hanya menginginkan kekuasaan bukan kesejahteraan rakyat Aceh. Bahkan kekuasaan juga sudah direbut dengan terpilihnya Irwandy dan Nazar yang ternyata kembali terlihat hanya menguntungkan anggota GAM, tidak ada kemajuan yang signifikan di Aceh. Semua pembangunan di Aceh lebih kepada adanya BRR, bagaimana nantinya jika BRR itu diaudit, ketika diketahui semuanya ternyata hanya diperuntukkan GAM saja, persiapan Partai Aceh dan KPA.

Solusi Aceh

Segera ubah konsepsi MERDEKA tersebut dengan MERDEKA DARI KEMISKINAN DAN KEBODOHAN, MERDEKA DARI INTIMIDASI DAN DENDAM.

Saya adalah salah satu pendukung ALA dan ABBAS, dengan berdirinya ALA dan ABBAS maka itu semua dapat dicapai. Pemerintahan zaman Iskandar Muda adalah berserikat, bahkan lebih dari berserikat karena pada waktu itu Kerajaan Linge (baca ALA) mempunyai tentara sendiri, pemerintahan sendiri dan adat atau hukum sendiri, begitu juga dengan Kerajaan Perlak dan Kerajaan Pasai serta raja-raja kecil lainnya, intinya tidak ada kekuasaan mutlak dari Iskandar Muda seperti feodalisme akan tetapi lebih kepada ‘Repbulikan’. Daud Beureuh mengatakan bahwa model inilah yang paling sesuai dengan Pemerintahan Aceh, jadi ALA dan ABBAS merupakan salah satu solusi yang terbaik untuk pembangunan rakyat Aceh. Yang juga perlu diingat bahwa yang menyebabkan Kerajaan Aceh terdahulu kuat adalah bahwa Raja-Raja Aceh kesemuanya masih bersifat Saudara atau saya sebagai orang Gayo percaya bahwa mereka adalah masih keturunan dari Reje Linge I. Perubahan yang terjadi pada era sekarang ini sepertinya lebih cocok bahwa Aceh itu dibagi menjadi 3 bagian untuk bisa melakukan percepatan-percepatan pembangunan rakyat Aceh. Atau jika memang menginginkan Aceh seperti zaman Iskandar Muda agar segera meneliti konsep ini dan mensosialisasikannya secara demokratis bukan dengan pemaksaan-pemaksaan kehendak kembali dengan INTIMIDASI.

Kemudian upaya yang harus dilakukan adalah penegakkan syariat Islam di Aceh, pemberhentian pelacuran diri kepada USA dan Uni Eropa yang coba dikerjakan oleh GAM dengan melakukan perdamaian di bawah naungan Uni Eropa.

Kemudian jika ingin maju maka jangan dahulukan pembangunan infrastruktur, karena ini hanya untuk golongan, walau ini penting akan tetapi bukan menjadi nomor 1. Jadikan PENDIDIKAN sebagai program utama dari Pemerintah NAD. Yang perlu dipikirkan adalah korban pasca konflik, terlebih lagi anak-anak, mereka perlu diberikan perhatian khusus. Membangun INDUSTRI berbasis keluarga untuk memberikan keterampilan hidup. Kemudian peningkatan jumlah penduduk, semakin banyak penduduk maka dapat dipastikan roda perekonomian akan jalan, tidak peduli itu suku Jawa atau suku manapun.

MoU Helsinky dihilangkan saja, sebagai bentuk kepercayaan penuh kepada NKRI sebagai saudara sesame muslim, biarkan rakyat Aceh yang nanti melihat. Ini lebih menguntungkan dari pada kita berpegang kepada KUFFAR, lebih menguntungkan secara politis jika memang tidak ada niat terselubung untuk memerdekakan diri, seperti yang dicontohkan oleh Daud Beureuh. Perlu diingat zaman sekarang ini berbeda dengan Soeharto sehingga yang lebih berperan sekarang adalah rakyat Aceh. Semua yang diinginkan rakyat Aceh sudah diberikan, saatnya untuk membangun ketertinggalan yang hilang karena PERANG BODOH ini.

Jangan mengkhususkan kesejahteraan bagi anggota GAM, citra GAM akan semakin hancur karena rakyat Aceh akan menilai bahwa apa yang dituju GAM adalah kekuasaan dan kesejahteraan mereka bukan kepada rakyat Aceh pada umumnya. Ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak menghancurkan citra GAM pada masyarakat Aceh. Uji testnya adalah ketika Pemilu nanti.

Terakhir, semoga Aceh akan semakin damai dan maju untuk mengejar ketertinggalan kita selama 30 tahun akibat PERANG BODOH. Berijin.