You are currently browsing the category archive for the ‘Seni’ category.

Oleh L.K.Ara

Hidup sebagai anak yatim sejak kecil Sali Gobal selalu merasa sepi. Ketika sudah dewasa ia tinggal dikebun disebuah lembah. Tetangga disekitar itu ada tapi jauh. Ia dicekam rasa sepi. Lalu ia menulis puisi berjudul Rebe Panang. Ia tak tahan dihunjam rasa sepi. Ia jual kebun itu. “Saya ingin berkumpul-kumpul ramai-ramai pergi ke air menjala ikan, lalu makan bersama-sama,” kata Sali Gobal. “Sebab kita lihat dalam keadaan ramai-ramai ada pikiran-pikiran yang tumbuh di antara teman-teman. Dalam keadaan sepi saya tak tahan. Tapi tak takut mati.”

Sali Gobal dikenal di Gayo, Aceh Tengah sebagai penyair yang mempunyai puisi didong yang sangat kuat. Ia telah menulis ratusan puisi dan didong-didongnya telah diterbitkan dalam antologi “Kemara” (l979), “Manuk” (l979) dan lain-lain.

“Bagaimana cara Anda menciptakan puisi didong?”
“Cara menciptakan puisi didong buat saya, dengan memejamkan mata, kubayangkan semuanya. Aku selalu teringat pada teman-teman terdahulu, teman-teman yang sudah pergi merantau. Saya rasa mereka tak teringat lagi pada tanah Takengon dan banyak teman-teman pergi, tapi anehnya tak kembali. Jadi masalah itu yang saya sesalkan. Jadi lagu didong itu merupakan rasa sesal saya. Teman-teman yang pergi seperti air terus saja mengalir tidak ingat kembali ke hulu.”

“Anda mencipta pada saat bagaimana? Apakah malam hari atau pagi atau siang hari dan sebagainya? “Saya mencipta malam atau tidak malam, sepi atau ramai itu bisa saja. Pernah saya menulis dalam keadaan ramai. Ada memang kadang-kadang orang dalam sepi dulu baru mencipta, saya tidak. Dalam keadaan ramai pun saya bisa mencipta. Sebab ketika saya memejamkan mata, saya sudah memusatkan pikiran.”

“Saya tertarik sekali pada dua buah puisi Anda, Jejari (jari) dan Roda (kincir). Bagaimana Anda menciptakan Jejari? Idenya tergerak oleh apa, ketika timbul rencana menciptakan puisi itu? “Sebenarnya Jejari ingin memperlihatkan keadaan dimana kadang-kadang kacang lupa akan kulitnya. Pencipta tak bisa memperlihatkan lain, kecuali ia membuat didong. Hasilnya mungkin berupa keluhan.”

“Ada sementara peminat didong bertanya-tanya apakah Jejari bukankah berupa protes yang keras dengan bahasa yang indah? Dalam hal ini unsur apa yang menjadi perhatian Anda. Apakah Anda terbayang masyarakat yang kurang selaras misalnya? “Saya tak bermaksud demikian. Saya kalau dendam biasanya tak lama. Kalau berupa didong yang sudah diciptakan ini dalam puisi dan lagu itukan berupa dendam akan lama. Pada saya tak ada maksud protes keras. Tapi hanya sebagai bayangan begitu saja. Saya menampilkan secara kelakar. Demikian juga didong Roda. Didong inipun berupa keluhan. Roda, ini merasa sakit, itu merasa sakit. Perasaan hati yang menderita. Bukan maksud hati, seseorang akan diancam, bukan. Saya merasa mengungkapkannya pelan saja, tetapi kalau ada yang merasa kena secara keras itu saya tidak tahu.”

KINCIR BERKATA

“Kapan Anda menciptakan Jejari dan Roda?”
“Roda saya ciptakan di Tensaran, Kampung Bintang dalam hutan. Di situ dalam sebuah lembah saya membuat roda mainan lalu berpikir. Saat itu saya iseng dan melalaikan hati. Tangan saya sebelah kanan sudah cedera, apa yang bisa saya buat, coba-coba dan hasilnya roda mainan. Jejari saya ciptakan tahun l959 di Genting Gerbang. Saat itu kami baru saja pindah dari Bintang. Di Genting Gerbang ada sebuah kolam. Disitu saya lihat simpil (sebangsa binatang pemakan ikan). Tiba-tiba entah bagaimanamuncul pemikiran saya pada jejari. Dulu bersama Aman Sepiah Pulu Padang dan Ateb Bensu kami sering berbincang-bincang tentang jejari. Sebab jejari ini tentu saling rebut-rebutan. Dalam Kiraah ada juga dalam bahasa Arab.”

“Pernah dilagukan dimana saja lagu Roda dan Jejari?”
“Di Takengon tahun l960 saat itu masyarakat sudah rindu pada saya dan penonton ramai sekali. Saya diminta melagukan sebuah didong dan saya membawakan lagu itu. Ketika naik pentas nampak penonton banyak sekali. Siang hari waktu itu saya bawa lagu Roda. Mungkin ketika itu orang bergairah menyaksikan pertunjukkan itu, terutama bukan karena lagu Roda, tetapi rindu pada saya yang sejak sembilan tahun sudah menghilang dari tengah masyarakat Takengon. Malam itu acara hiburan berlangsung lagu Roda saya tampilkan pula. Lagu itu sebenarnya saat itu saya tujukan kepada Moh Daud Bintang SH. Saya bersama Kodim Aceh Tengah saat itu kampanye memberitahukan bahwa keadaan sudah aman. Setiap muncul di pentas saya selalu membawa lagu Roda. Baik di kampung Bintang, Isaq, Angkup, Reronga, Lampahan, Pegasing, Simpang Tige, dan lain-lain. Pada saat itu Ceh Daman menampilkan lagu Perahu. Rombongan kami pada waktu itu terdiri dari tujuh sampai delapan mobil.”

“Kalau misalnya ada pertanyaan, didong apa pertama Anda ciptakan? Apakah Anda ingat, puisi yang pertama-tama sekali diciptakan? “Didong yang pertama saya buat masih saya ingat. Judulnya Gelak Gelukke Lagu Bujang Kemara. Setelah itu baru lahir lagu Genit Atom. Saya dulu memang rajin urusan seni didong ini. Pernah selama tiga puluh hari selama bulan puasa di kampung Kung, Ceh To’et dan Talep dari grup Siner Pagi saya ajak kerumah berdidong dan bersaer. Di jalanan saya berdidong dirumah bersaer. Lama-lama saya terpikat kepada didong.”

“Seingat Anda kapan mulai bertanding didong dan dengan grup mana?”
“Kami mengadakan pertandingan didong pada saat pesta perkawinan di Kampung Celala. Jalan ke kampung itu masih melewati hutan rimba. Waktu itu zaman Jepang. Jalan belum dibuka kearah sana. Di Celala ada empat grup didong, dari kampung Arul Kumer, Kampung Celala, Kampung Berawang Gading dan Paya Kolak. Kebetulan lawan diundang dari grup Kemara Bujang. Pertunjukkan ini diadakan untuk mengumpulkan dana pembangunan sekolah di Celala. Dalam pertandingan di Celala inilah pertama kali saya membukakan mulut berdidong. Sebelumnya di kampung Gelelungi saya berdidong, tetapi tidak bisa membuka mulut. Malu, kalau membukakan mulut rasanya malu sekali.”

GEDUNG SEKOLAH

“Jika diingat-ingat sudah berapa kali Anda mengikuti pertandingan didong? “Wah itu jumlahnya sudah sulit menghitungnya. Begini saja, kampung yang tidak kami kunjungi tinggal sedikit. Pertama Nosar ke dua Ketol. Sedangkan kampung lainnya di seluruh Aceh Tengah sudah kami kunjungi untuk mengikuti pertandingan didong. “Selama mengikuti pertandingan didong, umumnya pantia pengundang mengumpulkan dana untuk keperluan apa saja? “Kami bertanding didong untuk mengumpulkan dana pembangunan mesjid, gedung sekolah, jembatan, jalan, rumah sakit dan lain-lain.”

“Kira-kira sudah berapa banyak sekolah yang sudah dibangun selama pertandingan grup Kemara Bujang yang Anda pimpin dengan grup didong lainnya? “Saya kira cukup banyak, misalnya sekolah di kampung Bintang, Toweren, Gelelungi, Simpang Kelaping, Angkup, Celala, Atang Jungket dan lain-lain.”

“Sekarang tentang beberapa puisi Anda. Puisi Umah (rumah) nampaknya memberikan kritikan kepada masyarakat bagaimana, apa benar? “Begini didong Umah itu ingin memberikan sentilan. Tapi juga hendaknya masyarakat tidak cepat teringat. Dan kepada pendengar yang menyelami maknanya lebih jauh, itu terserah jugalah.”

“Dalam didong Uten (hutan) terasa ada kesulitanmenangkap isinya, apa bisa dijelaskan sedikit? “Didong Uten, wah susah menerangkannya. Hutan tentu suasana dalam hutan begitulah adanya. Di dalam hutan keadaan paling sedih adalah sore hari. Orang-orang pulang kerumah di kampung, kami pergi ke gunung, jadi terpisah, rumah dengan gunung, ramai dengan sunyi.

“Didong Tanoh Takengon menurut hemat saya liriknya sangat kuat untuk menggambarkan keindahan alam Takengon. Dimana anda ciptakan? “Didong Tanoh Takengon saya ciptakan dalam rumah penjara di Pematang Siantar tahun l957.”

“Yang menggerakkan Anda untuk menciptakan itu sebenarnya apa? Rindu pada Takengon barangkali? “Saya menciptakan didong Tanoh Takengon karena saya rindu pada teman-teman. Bukan orang rindu atau aku rindu pada Takengon. Perasaanku seolah-olah aku berada di Takengon, rindu sekali aku kepada orang-orang yang sudah pergi dari Takengon.”

“Apa bisa menyebutkan didong ciptaan Anda yang membuat Anda puas? “Wah pengarang tak pernah merasa puas. Sebentar puas kemudian ada lagi kekurangannya. Jadi tak pernah merasa puas. Saya tak pernah merasa puas. Dan juga tak bisa saya sebut didong mana yang bisa memberikan sedikit kepuasan. Yang jelas banyak yang kurang bagus, hanya sedikit yang bagus.”

BLOG L.K ARA
http://lkara2000.blogspot.com

Oleh: Isma Tantawi
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Abstract
The objective of this research is to analyze Didong Jalu in perspective of language aesthetic and social function on peoples of Gayo Lues ethnic group. The data in this research is analyzed based on both observation and documentation methods. The theoretical base used in this research is relied on literature sociological theoery suggested by Thomas Warton (1974) that literature work is considered to be expression of art and social document. Didong Jalu contains the language aesthetic value and it has social function for peoples of Gayo Lues ethnic group inhabiting the upland of Gayo Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

I. Pendahuluan

Didong sebagai tradisi lisan atau oral tradition (folklore) sudah berkembang sejak masuknya agama Islam di dataran tinggi Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia (L.K. Ara, 1995: 639). Agama Islam masuk ke Aceh pada abad ke-7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat (Sutejo Sujitno, 1995: 71). Dalam Didong, sejak awal sampai saat ini nafas dan nuansa keislaman tetap bertahan. Bahkan Didong merupakan media dakwah untuk menyampaikan dan menyebarkan amanat keagamaan kepada masyarakat di samping menyampaikan pesan budaya suku Gayo itu sendiri.

Didong merupakan tradisi lisan suku Gayo sudah berakar dalam kehidupan masyarakatnya. Persembahan Didong diadakan pada pesta suka (pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru, pesta sunat rasul, dan pesta perkawinan) saja. Dalam Didong, diceritakan tentang kebudayaan suku Gayo, agama Islam (orang suku Gayo secara keseluruhan menganut agama Islam) dan masalah-masalah yang aktual, seperti peristiwa daerah, peristiwa nasional, dan peristiwa internasional.

Kata Didong, berasal dari bahasa Gayo, yaitu: dari akar kata dik dan dong. Dik, artinya menghentakkan kaki ke papan yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian dong, ertinya berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata Didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu digunakan untuk menyelingi persembahan Didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, Didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua Guru Didong yang berasal dari dua kampung yang berbeda. Persembahan dimulai setelah salat Isa sampai sebelum salat Subuh, (M.J. Melalatoa, 1985: 71).
Kata Didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu: Asal-usul Gajah Putih yang dikumpulkan oleh Sulaiman Hanafiah (1984: 140 – 149). Gajah Putih merupakan penjelmaan dari seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke Istana Raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan oleh raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan. Gajah putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sehingga menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun demikian, ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampailah ke Istana Raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut dijadikan dan digunakan pada masa merasa gembira atau pada masa menyampaikan amanat dan nasihat kepada anak, teman, masyarakat atau kepada sesiapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan tradisi lisan Didong Gayo.

Didong Gayo dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, Didong Gayo Lues. Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Gayo Lues pada umumnya berbentuk prosa (bebas) dan hanya pada bagian tertentu saja yang disampaikan berbentuk puisi (terikat) seperti pantun. Isi cerita di dalam Didong Gayo Lues berhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Kedua, Didong Lut (Laut). Didong Lut berkembang di Kabupaten Aceh Tengah. Didong Lut berbentuk puisi (terikat). Isi Didong Lut tidak berhubungan secara langsung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Lut seperti puisi yang dinyanyikan dan setiap puisi memiliki makna masing-masing.

Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam; yaitu, Didong Alo (Didong penyambutan tamu), yaitu: Didong dipersembahkan untuk menyambut tamu. Pemain Didong Alo berjumlah lebih kurang 10 orang dari pihak tuan rumah dan 10 orang dari pihak tamu. Didong Alo dipersembahkan sambil berlari arah ke kiri atau ke kanan. Didong Alo berisi tentang ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Begitu juga dari pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan dan sudah selamat diperjalanan sehingga dapat selamat sampai ke tempat tuan rumah.

Didong Jalu (Didong Laga), yaitu Didong dipersembahkan pada malam hari oleh dua orang Guru Didong yang diundang dari dua kampung yang berbeda. Setiap Guru Didong didampingi oleh pengiring yang berjumlah 10 sampai 20 orang. Pengiring berfungsi untuk mendukung persembahan. Pada bagian tertentu (adini Didong) cerita Didong disambut oleh pengiring sambil bertepuk tangan serta menggerakkan badan ke muka dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan.

Didong Niet (Didong Niat) selalunya dipersembahkan berdasarkan Niet seseorang. Misalnya Niet seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau berkeinginan punya anak lelaki atau perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka Didong Niet ini pun dipersembahkan. Didong Niet ini mengkisahkan tentang anak yang diniatkan. Cerita dimulai dari awal pertemuan kedua orang tuanya. Kemudian pertemuan itu direstui serta dilanjutkan kepada jenjang peminangan dan pernikahan. Seterusnya cerita mengenai perkembangan bayi di dalam kandungan dan sampai bayi lahir ke dunia. Setelah itu cerita diteruskan ke pesta ayunan (turun mani) pemberian nama dihubungkan dengan hari kelahiran, agama (agama Islam), dan nama-nama keluarga seperti nama orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain.

Cerita Didong yang menjadi objek penelitian ini adalah cerita Didong Jalu yang dipersembahkan oleh Guru Didong Ramli Penggalangan dan Idris Cike di Medan pada tanggal 11 dan 12 Desember 2004. Persembahan dimulai pukul 21.45 dan berakhir pada pukul 04.30 WIB.

II. Didong Jalu Sebagai Karya Sastra (Tradisi Lisan)

Secara umum, karya seni dapat dibedakan menjadi lima bagian. Pertama, seni lukis, kedua seni suara, ketiga seni tari, keempat seni pahat (seni patung), dan kelima seni sastra. Kelima-lima seni tersebut di atas dibedakan oleh alat yang digunakan oleh pengarangnya. Seni lukis, alat digunakan oleh senimannya adalah garis dan warna. Seni suara, alat yang digunakan oleh vokalis dan istrumentalis adalah suara (vokal atau instrumental). Seni tari, alat yang digunakan oleh senimannya adalah gerak. Seni pahat atau patung, alat yang digunakan oleh senimannya adalah bentuk. Seni Sastra, alat yang digunakan oleh sastrawannya adalah bahasa (A. Teeuw, 1978 : 1).

Seni sastra yang lazim disebut sebagai karya sastra, menurut bentuk bahasa yang digunakan dapat pula dibedakan menjadi dua bagian. Pertama, karya sastra disampaikan secara lisan dan kedua, karya sastra disampaikan secara tertulis atau bahasa tulis. Karya sastra lisan selalu disampaikan secara langsung kepada penonton atau penikmat. Karya sastra tulis disampaikan secara tertulis, seperti pada surat khabar, majalah, dan buku cetakan kepada pembaca atau penikmatnya.

Karya sastra lisan selalu dihubungkan dengan karya sastra lama, karena salah satu ciri-ciri sastra lama adalah cerita berbentuk lisan. Seterusnya ciri-ciri sastra lisan dapat ditunjukkan dari sudut yang lain. Sastra lisan merupakan milik masyarakat secara bersama dan tidak dikenal nama pengarangnya. Kini sastra lisan lebih dikenal dengan istilah tradisi lisan, (Mustafa Mohd. Isa, 1987: 1). Kemudian menurut Mohd. Taib Osman, ( 1976: 4), tradisi lisan oleh khalayak lebih dikenal lagi dengan istilah folklore.

Folklore berasal dari bahasa Inggeris yang terbentuk dari kata folk dan lore, (James Dananjaya, 1984 : 1-2). Folk ertinya kolektif dan lore ertinya tradisi dari sekelompok orang yang memilki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan yang dapat membedakan dari kelompok lainnya. Jadi, folklore adalah cerita rakyat (tradisi lisan) dari sekelompok masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya dalam bentuk bahasa lisan (Alan Dundes, 1965: 2).

James Dananjaya, (1984: 3-4), berpendapat ciri-ciri folklore adalah sebagai berikut:
i) Penyebaran dan pewarisannya selalu dilakukan secara liasan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut atau dengan contoh yang disertai dengan gerak dan alat bantu pengingat dari generasi ke generasi berikutnya.
ii) Folklore bersifat tradisional, yakni penyebarannya cukup lama atau minimal berlansung pada dua generasi.
iii) Dalam cerita folklore terdapat versi-versi dan variasi, yakni cerita yang bebeda menurut tempat dan waktu. Hal ini disebabkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), bukan melalui cetakan atau rekaman. Oleh sebab itu, proses lupa atau interpolasi (interpolation) dapat dengan mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian, perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
iv) Foklore bersifat anonymous, yakni nama pengarang sebenarnya tidak dapat diketahui.
v) Foklore selalu mempunyai bentuk berumus atau berpola, yakni cerita tetap bertahan dengan pola yang sudah ada.
vi) Folklore mempunyai fungsi (function) pada masyarakat yang memilikinya secara kolektif.
vii) Folklore bersifat pralogik, yakni mempunyai sifak logik sendiri yang berbeda dengan logik yang berlaku secara umum.
viii) Folklore menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan oleh penciptaan pertama tidak diketahui lagi. Oleh sebab itu, setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
ix) Folklore pada umumnya bersifat polos dan lugu. Oleh sebab itu, sering sekali terasa lemah, spontan, dan kasar. Ini dapat dimengerti karena folklore merupakan pengungkapan seni oleh manusia yang paling jujur.

Berdasarkan uraian di atas didapati bahwa Didong Jalu Gayo Lues dapat disebut sebagai karya sastra (tradisi lisan) karena Didong Jalu mengandung ciri-ciri tersebut. Pertama, Didong Jalu dipersembahkan secara liasan: yaitu, cerita didendangkan oleh kedua-dua Guru Didong secara bergantian. Pada bagian tertentu kedua-dua Guru Didong melakukan gerak-gerak tertentu pula. Misalnya pada bagian batang kedua-dua Guru Didong berjalan bolak-balik di atas papan persembaham. Pada bagian niro ijin kedua Guru Didong berdiri berhadapan dan melakukan gerak maju dan mundur.

Kedua, cerita Didong Jalu tumbuh dan berkembang sudah berlangsung lama di masyarakat Gayo Lues. Menurut sejarah Didong Jalu sudah berkembang di dataran tinggi Gayo Lues sejak masuknya ajaran Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Agama Islam masuk ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada abat ke 7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad s.a.w. wafat, (Sutejo Sujitno, 1995: 71).

Ketiga, cerita Didong memiliki versi-versi dan variasi. Versi Didong Jalu ada dua macam: yaitu, Didong Jalu Gayo Lues dan Didong Jalu Gayo Lut. Kedua-dua Didong ini bersisi tentang mengadu ketangkasan antara satu Guru Didong dengan Guru Didong lainnya. Namun demikian, cara dan pola persembahannya berbeda. Pola persembahan Didong Jalu dimulai dengan permulaan persembahan (Didong Tuyuh), persalaman (tabini Didong), kesepakatan (batang), berteka-teki (itik-itiken), dan mohon maaf (niro ijin) sedangkan Didong Jalu Gayo Lut berpola persalaman, isi, dan penutup.

Kempat, pencipta Didong Jalu yang sebenarnya tidak dapat diketahui, karena Didong Jalu dituturkan secara lisan oleh Guru Didong terdahulu dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya melalui bahasa lisan. Oleh sebab itu, Didong Jalu menjadi milik bersama masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu yang digunakan untuk objek kajian ini merupakan seni ulang yang yang dilakukan oleh kedua-dua Guru Didong; yaitu, Ramli Penggalangan dan Idris Cike. Namun seni ulang pun tetap memiliki nilai seni tersendiri yang berbeda dengan seni cipta yang pertama, (Sidi Gazalba, 1974: 425).

Kelima, cerita Didong Jalu didendangkan oleh kedua-dua Guru Didong melalui pola yang sama. Pola Didong Jalu itu dimulai dengan permulaan persembahan (Didong tuyuh). Pada bagian ini kedua-dua Guru Didong masih dalam keadaan duduk. Cerita masih berisi tentang pengantar atau memperkenalkan Guru Didong yang akan tampil dalam persembahan. Pada bagian persalaman (tabini Didong) kedua-dua Guru Didong berdiri berdampingan dan cerita berisi tentang persalaman kepada para penonton persembahan. Pada bagian kesepakatan (batang) kedua-dua Guru Didong berjalan secara bolak-balik di atas papan persembahan. Cerita di sini berisi tentang kesepakatan kedua-dua Guru Didong tentang persembahan Didong Jalu pada bagian berikutnya. Pada bagian berteka-teki (itik-itiken) kedua-dua Guru Didong pada keadaan berdiri berdampingan dan cerita berisi tentang teka-teki yang sudah disepakati pada bagian batang. Kemudian cerita Didong Jalu ditutup dengan bagian mohon maaf (niro ijin). Kedua-dua Guru Didong berdiri berhadapan sambil bergerak maju dan mundur dan cerita berisi tentang permohonan maaf antara kedua-dua Guru Didong dan kepada para penonton persembahan.

Keenam, cerita Didong Jalu berguna bagi masyarakat Gayo Lues. Secara khas Didong Jalu digunakan pada pesta suka saja. Pesta suka dalam masyarakat Gayo Lues ada empat macam: yaitu, pertama pesta ayunan, kedua pesta penyerahan anak kepada guru, ketiga pesta sunat rasul, dan keempat pesta perkawinan.

Ketujuh, dalam cerita Didong Jalu terdapat logika yang berbeda dengan logika yang belaku secara umum, seperti contoh berikut ini:
i) Ramli Penggalangan dan Idris Cike yang berprofesi sebagai Guru Didong. Kedua-dua Guru Didong masih menganggap persembahan Didong Jalu sebagai pekerjaan yang memalukan untuk orang yang berumur atau sudah punya anak gadis atau lajang. Ramli Penggalangan berumur 43 tahun dan Idris Cike berumur 40 tahun pada waktu persembahan Didong Jalu ini dilakukan. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:

“Pada malam yang berbahagia ini, sudah jelas bergelinding telur di tanah yang rata. Memecahkan empedu di ujung kaki, memekakkan telinga membutakan mata. Kita bercerita di atas papan persembahan ini.” (Ramli Penggalangan, paragraf: 40).

ii) Guru Didong selalu menganggap dirinya orang yang tidak mengetahui dan tidak berpengalaman apa-apa tentang cerita Didong Jalu, adat, dan agama walaupun kedua-dua Guru Didong yang sudah berpengalaman tentang Didong Jalu dan menguasai masalah agama dan adat. Seperti diceritakan Guru Didong Idris Cike, (paragraf: 07) berikut ini:

“Yang kami punya ini pun tidak berpengalaman. Seperti kerbau masuk kampung yang serba kebingungan. Badannya cuma besar, umurnya masih muda. Seperti kayu kering, sangat cepat dilalap api. Jika digertak mudah takut, kalau ditakuti mudah terkejut. Begitu pula kalau bercerita lebih banyak yang lupa dari yang diingat. Seperti anak masih belum pandai dan masih memerlukan pelajaran dan pendidikan. Cerita dan jalan cerita pedas seperti cabai merah, pahit seperti rimbang hutan.”

iii) Pada saat Guru Didong A menanyakan pertanyaan teka-teki kepada Guru Didong B atau sebaliknya, Guru Didong tidak boleh menjawab secara langsung, tetapi harus diselidiki dengan pertanyaan yang lain dan behubungan dengan pertanyaan teka-teki yang sedang ditanyakan.

Kedelapan, cerita Didong Jalu merupakan milik bersama masyarakat Gayo Lues. Sudah menjadi sifat tradisi lisan, di samping nama pengarang tidak dapat diketahui, dalam tradisi lisan selalu diceritakan tentang adat dan budaya masyarakat. Oleh sebab itu, tradisi lisan menjadi milik masyarakat di mana tradisi lisan itu diciptakan. Isi cerita tradisi lisan itu menggambarkan kehidupan masyarakat yang bersangkutan, (Mohd. Taib Osman, 1976: 7).

Kesembilan, isi cerita Didong Jalu berisi polos dan lugu karena pada umumnya penutur tradisi lisan adalah orang-orang berbakat alami dan tanpa memperoleh pendidikan yang resmi. Oleh sebab itu, apa saja yang diceritakan adalah pengungkapan yang sebenarnya dan tanpa rekayasa. Didong Jalu adalah penngungkapan pemikiran kedua-dua Guru Didong. Sejalan dengan pendapat Rene Wellek (1995, 111) bahwa seniman menyampaikan kejujuran dan kebenaran sejarah dan peristiwa sosial yang berlaku.

III. Didong Sebagai Dokumen Sosial Masyarakat Gayo Lues

Karya sastra dibangun dari dua unsur; yaitu, unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang membangun karya sastra dari bagian dalam seperti alur, tokoh, gaya bahasa, tema, dan suasana. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari luar seperti agama, adat, psikologi, kesehatan, dan hukum. Dunia sastra adalah dunia yang sangat luas, dalam karya sastra terpancar semua kehidupan manusia.

Setiap suku bangsa memiliki pengungkapan seni. Pengungkapan seni setiap suku bangsa selalu berberda. Perbedaan ini timbul karena setiap suku bangsa memiliki cara hidup yang berbeda pula. Perbedaan cara hidup ini menimbulkan perbedaan seni yang dilahirkan setiap suku bangsa. Misalnya, suku Jawa, terkenal dengan tradisi lisan Wayang, suku Batak, terkenal dengan tari Tor-tornya, suku Melayu, terkenal dengan tari Serampang Dua Belas dan suku Gayo Lues terkenal dengan tradisi lisan Didongnya.

Setiap seni yang dilahirkan suku bangsa selalu mengambarkan kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Hal ini terjadi karena seniman merekam semua peristiwa kehidupan di dalam karya seni yang diciptakan. Lahirnya sastra adalah merupakan keinginan yang mendasar dari manusia untuk mengungkapkan diri, untuk menaruh minat sesama manusia, untuk menaruh minat pada dunia realitas dalam angan-angan yang dikhayalkan sebagai dunia nyata, (Andre Harjana, 1981: 10).

Sapardi Joko Damono, (1978: 1) berkata, sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya dan bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Sastra adalah produk suatu masyarakat dan mencerminkan masyarakatnya. Pemikiran masyarakatnya merupakan pemikiran pengarangnya, (Jakob Sumarjo, 1979: 30).

Rene Wellek, (1995: 111) berpendapat, pengarang menyampaikan kebenaran pada waktu yang sama juga merupakan kebenaran sejarah dan sosial. Karya sastra merupakan dokumen sosial. Oleh sebab itu, apa yang tergambar di dalam karya sastra merupakan kenyataan-kenyataan yang ada atau sudah pernah ada di dalam kehidupan sosial.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, bahwa karya sastra bukan lahir begitu saja, tetapi akibat pengaruh hubungan antara pengarang dengan masyarakatnya. Pengarang menciptakan karya sastra bukan berdasarkan khayalan belaka, tetapi khayalan yang terinspirasi dari kenyataan dan fakta yang ada di dalam masyarakat. Pengarang dan pemikiran masyarakat sangat memegang peranan penting di dalam karya sastra, karena sastra dibangun dari pemikiran masyarakatnya.

Tradisi Lisan Didong Jalu lahir dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu mengandung pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan masyarakat Gayo Lues. Pemikiran berupa adat, budaya, dan agama yang sudah atau sedang dilakukan oleh masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Jalu merupakan dokumen sosial bagi masyarakat Gayo Lues Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

IV. Keindahan Bahasa Dalam Didong Jalu

Karya sastra berbeda dengan karya ilmiah. Karya sastra mengandung nilai seni sedangkan karya ilmiah tidak. Perbedaan ini timbul karena karya sastra disampaikan pengarang dengan ragam bahasa sastra yang berbeda dengan ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa sastra sangat bergantung kepada sastrawan atau seniman sedangkan ragam bahasa ilmiah harus mengikut kepada pedoman tata bahasa dan makna yang sudah ada, (V.I. Braginsky, 1984: 7).
Ragam bahasa dalam karya sastra, di samping pemilihan kata, sastrawan juga menggunakan gaya bahasa seperti hiperbola, personifikasi, inversi, pleonasme dan lain-lain. Sastrawan menggunakan gaya bahasa ini bertujuan untuk mempertegas atau untuk lebih menghidupkan suasana di dalam cerita. Dengan pemilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan para sastrawan atau seniman, karya sastra lebih diminati dan disenangi oleh pembaca atau penonton, karena di samping keindahan alam, karya sastra mengandung nilai keindahan seni, (Wajiz Anwar, 1980: 5).

A. Richard, C.K. Ogden dan James Wood ,(lihat Sohaimi Abddul Aziz, 2000: 2), berpendapat, salah satu dasar keindahan adalah medium. Medium sastra adalah bahasa. Didong Jalu sebagai salah satu karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Seperti cerita Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 02) berikut ini:

“Tak ada laba-laba yang menutupi tangga, tak ada buaya yang menghadang di jalanan. Kami sudah hadir memenuhi undangan, yang disampaikan melalui selembar sirih, sekeping gambir, segores kapu,r dan sepotong pinang.”

Kejayaan mengeksploit medium bahasa dengan baik, dapat menghasilkan kepuasan psikologi kepada para pembaca atau penonton persembahan. Kepuasan psikologi yang dapat diperoleh dari karya sastra yang berhubungan dengan kesempurnaan, kehalusan, kematangan, dan kepekaan yang dapat memberikan kesan makna dan emosi, (Sohaimi Abdul Azizz, 2000: 8).

Kesan makna dan emosi yang berhubungann dengan peristiwa aktual yang diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:

“Ayah dan ibuku, berlari-lari menyelamatkan nyawa. Di daerah Aceh sudah terjadi, rakyat mengungsi semakin susah. Orang yang melakukannya yang tidak jelas, yang korban rakyat biasa. Entah apa sebabnya, tiba-tiba terjadi kontak senjata.” (Idris Cike, paragraf: 54).

Bahasa yang digunakan Guru Didong dengan amat baik dapat menimbulkan bunyi dan irama pada kata-kata yang terpilih dan disusun. Oleh sebab itu, dapat menimbulkan kesan yang makna mendalam kepada para pembaca atau penonton. Seperti cerita Didong Jalu yang disampikan dalam bentuk pantun berikut ini:

“Hijau-hijau gununglah hijau,
Siamang memanggil setengah hari.
Sia-sia badanmu muda,
Jika tidak berani mati.

Burung balam gunung bersuara merdu,
Akan kupetik dengan ujung jari.
Bulu keliling warna yang menarik,
Supaya jinak, saya petik lagi.” (Idris Cike, paragraf: 65).

Menurut Agus Sachari, (1989: 1), keindahan sebenarnya merupakan hal yang utama di dalam kehidupan kita, karena tanpa keindahan, hidup ini terasa merana dan kehilangan kebahagiaan. Semua pencipta karya sastra yang baik, adalah manusia perasa yang bukan sedikit melibatkan pemikiran dan perasaan dalam peroses mengarang itu. Pilihan kata dan irama yang ada di dalam karya sastra merupakan alat untuk menyampaikan fikiran dan perasaannya kepada para pembaca atau penonton, (Muhammad Haji Saleh, 1992: 14).

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, tradisi Didong Jalu yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya, terasa sangat indah dan menarik bagi penontonnya. Indah dan menarik ini terjadi karena pilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan oleh kedua-dua Guru Didong di dalam Didong Jalu. Oleh sebab itu, para penonton persembahan dapat bertahan menonton persembahan, sampai menjelang salat Subuh serta dapat menangkap makna yang tersurat dan tersirat di dalam Didong Jalu.

V. Fungsi Sosial Didong Jalu

Didong Jalu yang lahir dan berkembang pada kehidupan masyarakat Gayo Lues, karena Didong Jalu memiliki fungsi sosial tertentu bagi masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab itu, Didong Jalu tidak pernah terlepas dari suku Gayo Lues. Dalam Didong Jalu tergambar pemikiran-pemikiran dan budaya suku Gayo Lues secara menyeluruh. Didong Jalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo Lues yang dilakukan dan berkembang sampai kini.

Menurut Alan Dundes, (1965: 277), fungsi sosial tradisi lisan atau folklore itu ada 5 macam; yaitu, i) membantu pendidikan, ii) meningkatkan perasaan solidaritas kelompok, iii) memberi sanksi sosial agar orang berprilaku baik, iv) sebagai alat kritik sosial, dan v) sebagai hiburan.

Berdasarkan pendapat di atas, maka Didong Jalu dapat dilihat fungsi sosialnya bagi masyarakat Gayo Lues seperti berikut ini:

i) Dalam Didong Jalu, Guru Didong menyampaikan pendidikan secara langsung mahupun tidak langsung kepada penonton persembahan. Pendidikan langsung; yaitu, Guru Didong langsung memberikan penjelasan kepada penonton persembahan. Misalnya Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 24-27) menjelaskan tentang makna ralik, juelen, sebet, dan guru dalam masyarakat Gayo Lues. Ralik pihak keluarga dari isteri yang harus dilayani oleh pihak keluarga suami, karena ralik adalah status yang paling mulia di dalam masyarakat Gayo Lues. Juelen, pihak keluarga menantu laki-laki bertugas untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang berat dalam pesta. Pihak menantu laki-laki ini bertanggung jawab atas pelaksanaan dan keberhasilan pesta. Sebet adalah orang-orang yang dikenal karena pergaulan hidup sehar-hari dan terjadi hubungan yang baik. Oleh sebab itu, selalu menjadi teman suka dan duka di dalam kehidupan sehar-hari. Guru adalah orang yang mengajari dan memberikan petunjuk semoga selamat di dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan tidak langsung dapat pula dilihat pada keseluruhan persembahan Didong Jalu. Persembahan Didong Jalu dimulai dari awal sampai akhir mengikuti kebiasaan yang sudah ada. Oleh sebab itu, Guru Didong secara tidak langsung telah memberikan penjelasan kepada penonton persembahan bahwa persembahan Didong Jalu harus berlaku seperti yang ia lakukan.

ii) Jika dilihat dari cara pelaksanaan persembahan dan isi cerita, ternyata Didong Jalu dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok. Pada masa pelaksanaan persembahan Didong Jalu, diundang semua ahli famili dari semua kampung dan semua ahli famili itu membawa semua kenalan, sahabat, dan tetangga yang ada di kampung ahli famili yang diundang. Dengan demikian, setiap diadakan persembahan Didong Jalu akan terjadi pertemuan masyarakat antara satu kampung dengan kampung lain. Pertemuan yang terjadi secara berulang-ulang ini akan dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok bagi masyarakat Gayo Lues.

Begitu juga dari isi cerita Didong Jalu, ia dapat meningkatkan perasaan solidaritas kelompok antara Guru Didong dengan Guru Didong dan antara masyarakat dengan masyarakat penonton persembahan. Meningkatkan perasaan solidaritas antara Guru Didong dengan Guru Didong seperti dikemukakan Guru Didong Idris Cike (paragraf: 65) bahwa cerita Didong Jalu ini bertujuan untuk menjadi lebih kenal seperti menjadi satu ayah satu ibu. Didong Jalu juga dapat meningkatkan perasaan solidaritas antara masyarakat dengan masyarakat Gayo Lues.

iii) Isi cerita Didong Jalu dapat memberikan sanksi sosial kepada masyarakat agar masyarakat dapat berbuat baik. Seperti diceritakan Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 21) berikut ini:
“Jika ada yang berlaku, yang kotor salah sentuh, yang pantang salah ucap. Semua dosa dan pahalanya menjadi tanggungannya dan panitia bebas dari dakwaan. Uang tidak tertentu jumlah rupiahnya, ditahan tidak tertentu jumlah tahunnya. Mahkamah dan meja hijau yang berkuasa untuk memutuskan hukumannya.”

iv) Didong Jalu juga dapat dijadikan alat kritik sosial bagi masyarakat Gayo Lues. Di dalam Didong Jalu Guru Didong memberikan keritikan-kritikan sosial kepada masyarakat Gayo Lues. Seperti diceritakan Guru Didong Idris Cike (paragraf: 53) berikut ini
“Ilmu hanya diketahui oleh orangtua, pedoman pun sudah hilang di tengah hutan belantara. Oleh sebab itu, saya bercerita hanya sedikit yang ingat dan lebih banyak yang lupa, begitu pun tetap kutabahkan hatiku. Pada malam ini, hanya ilmu kita yang akan kita sampaikan, fikiran kita yang akan kita jelaskan. Harap didengarkan dan difikirkan bapak, ibu, dan saudaraku, supaya ada manfaat menonton persembahan ini.”

v) Didong Jalu dapat menjadi hiburan bagi masyarakat Gayo Lues. Biasanya terdapat dua hal yang ingin disampaikan oleh pengarang karya sastra. Pertama, pengarang ingin menyampaikan amanat yang berupa pemikiran-pemikiran. Kedua, karya sastra untuk menghibur para penikmat atau penontonnya. Oleh sebab itu, di samping untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Didong Jalu ternyata menjadi hiburan bagi masyarakat Gayo Lues seperti diceritakan Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf: 44) seperti berikut ini:

“Sudah ada kesempatan dan sudah ada kelapangan. Sunyi untuk diramaikan, ramai untuk dimeriahkan. Supaya jangan menjadi penghambat kemajuan untuk mencapai masa hadapan yang cerah, diundang keluarga bapak, dikumpulkan keluarga ibu diadakan persembahan Didong Jalu untuk hiburan.”

VII. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian terhadap Didong Jalu di atas, penulis menyusun dapatan sebagai berikut: Pertama, Didong Jalu mengandung nilai keindahan bahasa, karena kemampuan Guru Didong menggunakan pilihan kata yang baik serta pemkaian irama yang sesuai. Kedua, Didong Jalu memiliki fungsi sosial bagi masyarakat Gayo Lues, yaitu: untuk menyampaikan pendidikan, untuk meningkatkan solidaritas, memberikan nasihat, sebagai alat untuk menyampaikan kritikan sosial, dan untuk hiburan bagi masyarakat Gayo Lues. Oleh sebab, itu Didong Jalu dapat dianggap sebagai dokumen sosial bagi masyarakat Gayo Lues.

Sebagai kesimpulan untuk keseluruhan penelitian ini, bahwa Didong Jalu sebagai karya sastra atau taridisi lisan merupakan milik masyarakat Gayo Lues dan mengambarkan kehidupan masyarakat Gayo Lues itu sendiri. Didong Jalu memiliki keindahan bahasa dan fungsi sosial bagi masyarakat Gayo Lues. Didong Jalu perlu dilestarikan, sehingga dapat berkembang dengan baik dan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Daftar Bacaan

Agus Sachari. 1989. Estetika Terapan. Bandung: Nova.
Andre Harjana. 1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.
Braginsky, V.I. 1994. Erti Keindahan dan Keindahan Erti Dalam Kesusastraan Melayu Klasik (Terjemahan). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Dundes, Alan. 1965. The Study of Folklore. America: Prentice-Hall, Inc.Englewood Cliff, N.J.
Jakob Sumarjo. 1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
James Dananjaya. 1984. Folklore Indonesia. Jakarta: Grafitipers.
L.K. Ara. 1995. Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”.Jakarta:Yayasan Nusantara.
M. Junus Melalatoa. 1985. Kamus Bahasa Gayo Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Muhammad Haji Saleh. 1992. Puitika sastra Melayu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Mohd. Taib Osman. 1976. Panduan Pengumpulan Tradisi Lisan Malaysia. Malaysia: Malindo Printers Sdn. Bhd.
Mustapa Mohd. Isa. 1987. Awang Belanga PelipurLara dari Perlis. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Sidi Gazalba. 1974. Sitematika Falsafah. Kuala Lumpur: Utusan Melayu Berhad.
Sohaimi Abdul Aziz. 2000. “Estetika Kesusastraan Melayu: Satu Pandangan Muhammad Haji Saleh”. Pulau Pinang: Seminar Kefahaman Budaya Ke IV.
Sulaiman Hanafiah. 1984. Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sutejo Sujitno, 1995. Aceh Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan. Banda Aceh: Sekretariat Gubernur Daerah Istimewa Aceh.
Teeuw, A. 1978. “Penelitian Struktur Sastra”. Tugu Bogor. Kertas Kerja.
Wadjiz Anwar, 1980. Falsafah Estetika. Yogyakarta: Nur Cahaya.
Warton, Thomas. 1974. History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago Press.
Wellek, Rene, 1995. Teori Kesusastraan (Terjemahan). Jakarta: PT Gramedia.

Isma Tantawi

Isma Tantawi lahir pada tanggal 7 Februari 1960 di Kuning Aceh Tenggara (sekarang Kabupaten Gayo Lues). Beliau adalah staf pengajar tetap di Fakultas sastra Universitas Sumatera Utara mengasuh mata kuliah Sastra Bandingan, Estetika, dan Sastra Malaysia Modern serta mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan sebagai dosen tamu di Kolej Sentral Kuala Limpur, Malaysia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara tahun 1986 dan saat ini sedang mengikuti pendidikan master (S-2) di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia dengan bidang kajian tradisi lisan nusantara. Di samping itu juga beliau aktif mengikuti seminar nasional dan internasional baik sebagai peserta maupun pemakalah.

Source: http://ismatantawi.blogspot.com/2009/05/didong-gayo-lues-analisis-keindahan.html

Oleh: Isma Tantawi
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Abstract
The objective of this study is to determine and analyze the thinking of Gayo Lues community on Islamic religion in the Didong Jalu. The data in this research is analyzed based on both observation and documentation methods. The theoretical base used in this research is relied on literature sociological theoery suggested by Thomas Warton (1974) that literature work is considered to be expression of art and social document. The result of this study shows that Didong Jalu contains the thought of the Gayo Lues community regarding Allah, the messenger, angels, spirits, Islamic tenets, Islamic practices, sins, repentance and life-after death.

Kata Kunci: Pemikiran, Agama Islam, dan Didong Jalu.

I. Pendahuluan
Didong sebagai tradisi lisan atau oral tradition (folklore) sudah berkembang sejak masuknya agama Islam di dataran tinggi Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia (Ara, 1995 : 639). Agama Islam masuk ke Aceh pada abad ke-7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad Saw. wafat (Sujitno, 1995 : 71). Dalam Didong, sejak awal sampai saat ini nafas dan nuansa keislaman tetap bertahan. Bahkan Didong merupakan media dakwah untuk menyampaikan dan menyebarkan amanat keagamaan kepada masyarakat di samping menyampaikan pesan budaya suku Gayo itu sendiri.

Didong merupakan tradisi lisan suku Gayo sudah berakar dalam kehidupan masyarakatnya. Persembahan Didong diadakan pada pesta suka (pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru (ustad atau ustajah yang mengajari agama Islam), pesta sunat rasul, dan pesta perkawinan) saja. Dalam Didong, diceritakan tentang kebudayaan suku Gayo, agama Islam (orang suku Gayo secara keseluruhan menganut agama Islam) dan masalah-masalah yang aktual, seperti peristiwa daerah, peristiwa nasional, dan peristiwa internasional.

Kata Didong, berasal dari bahasa Gayo, yaitu: dari akar kata dik dan dong. Dik, artinya menghentakkan kaki ke papan yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian dong, artinya berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata Didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu digunakan untuk menyelingi persembahan Didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, Didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua Guru Didong yang berasal dari dua kampung yang berbeda. Persembahan dimulai setelah shalat Isa sampai sebelum salat Subuh (Melalatoa, 1985 : 71).

Kata Didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu: Asal-usul Gajah Putih yang dikumpulkan oleh Hanafiah (1984 : 140 – 149). Gajah Putih merupakan penjelmaan dari seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke Istana Raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan oleh raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan. Gajah putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sehingga menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun demikian, ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampailah ke Istana Raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut dijadikan dan digunakan pada masa merasa gembira atau pada masa menyampaikan amanat dan nasihat kepada anak, teman, masyarakat atau kepada siapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan tradisi lisan Didong Gayo.

Didong Gayo dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, Didong Gayo Lues. Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Gayo Lues pada umumnya berbentuk prosa (bebas) dan hanya pada bagian tertentu saja yang disampaikan berbentuk puisi (terikat) seperti pantun. Isi cerita di dalam Didong Gayo Lues berhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Kedua, Didong Lut (Laut). Didong Lut berkembang di Kabupaten Aceh Tengah. Didong Lut berbentuk puisi (terikat). Isi Didong Lut tidak berhubungan secara langsung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Lut seperti puisi yang dinyanyikan dan setiap puisi memiliki makna masing-masing.

Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam; yaitu, Didong Alo (Didong penyambutan tamu), yaitu: Didong dipersembahkan untuk menyambut tamu. Pemain Didong Alo berjumlah lebih kurang 10 orang dari pihak tuan rumah dan 10 orang dari pihak tamu. Didong Alo dipersembahkan sambil berlari arah ke kiri atau ke kanan. Didong Alo berisi tentang ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Begitu juga dari pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan dan sudah selamat di perjalanan sehingga dapat selamat sampai ke tempat tuan rumah.

Didong Jalu (Didong Laga), yaitu Didong dipersembahkan pada malam hari oleh dua orang Guru Didong yang diundang dari dua kampung yang berbeda. Setiap Guru Didong didampingi oleh pengiring yang berjumlah 10 sampai 20 orang. Pengiring berfungsi untuk mendukung persembahan. Pada bagian tertentu (adini Didong) cerita Didong disambut oleh pengiring sambil bertepuk tangan serta menggerakkan badan ke muka dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan.

Didong Niet (Didong Niat) selalu dipersembahkan berdasarkan niat seseorang. Misalnya niat seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau berkeinginan punya anak lelaki atau perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka Didong Niet ini pun dipersembahkan. Didong Niet ini mengkisahkan tentang anak yang diniatkan. Cerita dimulai dari awal pertemuan kedua orang tuanya. Kemudian pertemuan itu direstui serta dilanjutkan kepada jenjang peminangan dan pernikahan. Seterusnya cerita mengenai perkembangan bayi di dalam kandungan dan sampai bayi lahir ke dunia. Setelah itu cerita diteruskan ke pesta ayunan (turun mani) pemberian nama dihubungkan dengan hari kelahiran, agama (agama Islam), dan nama-nama keluarga seperti nama orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain.

Cerita Didong yang menjadi objek penelitian ini adalah cerita Didong Jalu yang dipersembahkan oleh Guru Didong Ramli Penggalangan dan Idris Cike di Medan pada tanggal 11 dan 12 Desember 2004. Persembahan dimulai pukul 21.45 dan berakhir pada pukul 04.30 WIB.

II. Pemikiran Tentang Agama Islam dalam Didong Jalu
Masyarakat Gayo yang melahirkan Didong Jalu adalah masyarakat yang menganut agama Islam. Oleh sebab itu, di dalam Didong Jalu pun tergambar pemikiran-pemikiran tentang agama Islam. Tradisi Didong Jalu menampilkan gambaran kehidupan masyarakat Gayo Lues. Sejalan dengan pendapat Damono (1978 : 1) bahwa kehidupan itu sendiri adalah satu kenyataan sosial dan kenyataan sosial tersebut dapat tercermin di dalam karya sastra.

Menurut Taslim (Tanpa Tahun: 1) bahwa sebuah karya sastra, walau betapa tinggi dipancangkan di alam fantasi, namun tetap memiliki hubungan dengan fakta-fakta sosial di dalam kehidupan alam nyata. Jadi, sebuah karya sastra tidak pernah terlepas dari masyarakat yang mendukungnya. Sastra adalah produk suatu masyarakat dan sastra mencerminkan pemikiran masyarakatnya. Pemikiran masyarakat menjadi pemikiran pengarang dan pengarang itu sendiri adalah bagian dari masyarakat (Sumarjo, 1979 : 30).
Pemikiran tentang agama Islam di dalam Didong Jalu yang berhubungan dengan Allah Swt, Rasul (Nabi Muhammad) malaikat, roh, hukum dalam Islam, amalan dalam Islam, Idil Fitri, dosa, taubat, dan alam akhirat.

1. Allah, Rasul, dan Makhluk yang Ghaib
Allah Swt adalah Maha Pencipta alam dan Rasul (Nabi Muhammad Saw) adalah sebagai utusan Allah Swt untuk menyampaikan wahyu kepada umatnya. Makhluk yang ghaib (malaikat dan roh) adalah makhluk Allah Swt yang memiliki tugas masing-masing.

a) Allah Swt
Menurut faham masyarakat Gayo Lues tentang Allah Swt sebagai Yang Maha Kuasa mengikuti faham sesuai agama Islam. Allah memiliki banyak sifat, namun sifat wajib diketahui orang Islam yang beriman hanya dua puluh sifat wajib dan dua puluh sifat mustahil. Allah Swt adalah bersifat Maha atas segala sesuatu di atas alam ini. Menurut Ensiklopedi Islam I (2003 : 123), Allah Swt adalah sebutan atau nama Tuhan; yaitu, Wujud yang tertinggi, Zat Yang Maha Suci, Yang Maha Mulia. Semua kehidupan berasal dan kembali kepada-Nya. Apa yang terjadi di atas dunia ini semua atas kuasa dan kehendak-Nya. Allah adalah Tuhan semesta alam Yang Maha Bijaksana menjadikan alam beserta isinya (Al Ghazali, 1997 : 17).

Adanya Allah Swt tidak berawal dan tidak berakhir. Adanya Allah Swt tidak ada yang menciptakan. Adanya Allah Swt bersifat abadi atau kekal. Allah Swt sebagai Maha Pencipta, menciptakan alam dan semua isinya. Adanya benda-benda lain karena ada yang menciptakan; yaitu Allah Swt (Hamka, 1999 : 629).

Menurut M. Abdul Mujieb AS (1986 : 5) Allah Swt yang telah menjadikan segala sesuatu yang ada di atas alam ini, di dalamnya terdapat hikmah untuk keperluan makhluk di atas alam ini. Tidak ada satu persoalan pun yang terlepas dari kuasa dan kehendak Allah Swt.

Dalam al-Quran (surat Al A’Araaf ayat 54) dijelaskan, sesungguhnya Allah, Tuhan kamu telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia berkuasa di atas singasana, ditutup-Nya malam dengan siang, yang mengikutinya dengan cepat. Begitu juga Allah menciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang yang masing-masing menjalankan kewajibannya sesuai dengan perintah-Nya. Ingatlah, mencipta dan memerintah itu adalah hak Allah Swt dan Allah Swt adalah pemimpin alam semesta.

Allah Swt menurunkan wahyu (agama Islam) kepada rasul-Nya; yaitu, Nabi Muhammad Saw junjungan umat Islam. Kemudian Nabi Muhammad Saw. wajib menyampaikan kepada umatnya. Wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw. adalah Al-Quran yang terdiri dari 30 juz dan 6666 ayat yang berisi tentang petunjuk, perintah, dan larangan bagi umat Islam yang beriman.

Bagi masyarakat Gayo Lues, pelaksanaan agama Islam bukan sekadar menjalankan rukun Islam, tetapi semua amalan harus dapat digambarkan di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, untuk menjalankan segala sesuatu perbuatan harus dimulai dengan nama Allah Swt Seperti diceritakan Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf : 37) dengan nama Allah Swt. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mari kita berlangkah, kita mulai dengan kaki kanan supaya ringan kita ikuti dengan kaki kiri.

Masyarakat Gayo Lues mempercayai bahwa semua yang terjadi di atas alam ini adalah atas izin dan kuasa Allah Swt. Apa yang terjadi di langit dan di bumi semuanya atas kuasa dan kehendak Allah Swt Kepada-Nya semuanya berakhir. Apabila Allah Swt yang menghendaki tidak ada yang kuasa untuk merobahnya. Allah Swt adalah segala-galanya (Ramli Penggalangan, paragraf : 150).

Kemudian pada bagian yang lain Guru Didong menguraikan Allah Swt merupakan tumpuan kehidupan bagi setiap makhluk. Bagi makhluk, khusus makhluk manusia yang beriman, takut kepada Allah Swt, karena segala perbuatan manusia akan diberi ganjaran oleh Allah Swt. Perbuatan yang baik akan diberi pahala dan perbuatan jahat akan diberi dosa, sehingga harus saling pengertian antara sesama manusia dan semua perbuatan merupakan amalan kita kepada Allah Swt (Idris Cike, paragraf : 152).

Bagi masyarakat Gayo Lues, manusia hidup di dunia ini merupakan hamba Allah Swt dan rahsia Allah Swt yang tidak dapat kita ketahui. Manusia hanya menjalankan apa saja yang dikehendaki oleh Allah Swt. Ada empat rahasia Allah Swt seperti dikemukakan oleh Guru Didong berikut ini:
… Rahasia Allah tidak dapat kita ketahui, itu pun ada empat perkara; yaitu, pertama langkah, kedua rezeki, ketiga pertemuan atau jodoh, dan keempat maut … (Ramli Penggalangan, paragraf : 43).

Allah Swt memilki sifat yang Maha Pencipta, pencipta semua alam semesta, termasuk menciptakan manusia yang pertama. Masyarakat Gayo Lues percaya bahwa manusia yang pertama yang diciptakan oleh Allah Swt ialah Nabi Adam. Nabi Adam a.s. tidak berayah dan tidak beribu. Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Allah Swt (Ramli Penggalangan, paragraf : 134).

Allah Swt memilki sifat yang tak terhingga banyaknya. Oleh karena itu, Allah bersifat dengan segala kesempurnaan (muttashifun bi kulli kamal). Namun sifat yang wajib bagi Allah ada dua puluh macam saja. Sifat dua puluh yang wajib diketahui; yaitu, 1. Wujud (ada), 2. Qidam (tanpa ada awal), 3. Baqa’ (kekal), 4. Mukhalafatu lil-hawadits (tidak sama dengan yang baru), 5. Qiyamuhu Binafsih (berdiri dengan dirinya sendiri), 6. Wahdaniyah (esa), 7. Qudrat (berkuasa), 8. Iradat (berkehendak), 9. Ilmu (mengetahui), 10. Hayat (hidup), 11. Sama’ (mendengar), 12. Bashar (melihat), 13. Kalam (berkata-kata), 14. Qadirun (yang berkuasa), 15. Muridun (yang berkehendak), 16. Alimun (yang mengetahui), 17. Hayyun ( yang hidup), 18. Sami’un (yang mendengar), 19. Bashirun (yang melihat) dan 20. Mutakallimun (yang berkata-kata) (Moch. Ridha, 1988 : 12-19).

Dari dua puluh sifat yang wajib bagi Allah Swt, secara langsung diucapkan Guru Didong hanya dua sifat yang ada ditemui di dalam Didong Jalu; yaitu, Qudrat dan Iradat. Masyarakat Gayo Lues meyakini bahwa penciptaan Nabi Adam a.s. merupakan Qudrat (berkuasa) dan Iradat (kehendak) Allah Swt. Sifat Qudrat dan Iradat dari Allah Swt untuk menciptakan nabi dan manusia yang pertama; yaitu, Nabi Adam a.s. (Idris Cike, paragraf : 134).

Allah Swt memiliki sifat Qudrat dan Iradat untuk menciptakan alam beserta isinya termasuk menciptakan manusia yang tidak dapat atau belum dapat diselami oleh otak dan akal manusia. Manusia hanya membaca dari ayat-ayat Al-Quran dan diterima karena keyakinan dan keimanan. Namun manusia masih tetap sulit untuk membuktikannya secara logika (Baihaqi, 1995 : 6).

b) Rasul
Ada dua istilah yang sering dikacaukan pemakainnya. Istilah itu adalah nabi dan rasul. Nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah. Wahyu yang diterimanya untuk dirinya sendiri dan tidak wajib disampaikan kepada umat. Rasul adalah orang yang menerima wahyu untuk dirinya sendiri dan wajib disampaikan kepada umatnya. Jadi, rasul sudah pasti nabi dan nabi belum tentu rasul. Nabi jumlahnya tidak dapat diketahui secara pasti sedangkan rasul yang wajib diketahui ada dua puluh lima; yaitu: Nabi Adam a.s., Nabi Idris a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Hud a.s., Nabi Shaleh a.s., Nabi Ibrahin a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Isma’il a.s., Nabi Ishaq a.s., Nabi Yaqup a.s., Nabi Yusup a.s., Nabi Ayyub a.s., Nabi Syu’aib a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Harun a.s., Nabi Ilyassa’ a.s., Nabi Zulkifli a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Sulaiman a.s., Nabi Ilyas a.s., Nabi Yunus a.s., Nabi Zakaria.s., Nabi Yahya a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad Saw (Ma’shum, Tanpa Tahun: 2).
Pandangan orang Gayo Lues tentang rasul adalah sesuai dengan ajaran agama Islam. Bahwa rasul yang menerima wahyu dari Allah Swt dan wajib menyampaikan kepada umatnya masing-masing. Misalnya, Nabi Musa a.s. menerima wahyu kitab Taurad, Nabi Daud a.s. menerima wahyu kitab Zabur, Nabi Isa a.s. menerima wahyu kitab Injil, dan Nabi Muhammad Saw menerima wahyu kitab Al-Quran dan perintah shalat. Wahyu al-Quran diterima oleh Rasulullah Muhammad Saw di gua Hira’ pada 17 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi. Perintah shalat diterima Nabi Muhammad Saw pada peristiwa Israk Mikraj pada tanggal 27 Rajab atau sebelas tahun setelah Nabi Muhammad diangkat oleh Allah menjadi rasul. Al-Quran berisi tentang petunjuk bagi umat Islam dan shalat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam.

Rasul (Nabi Muhammad Saw) adalah utusan Allah Swt. Wahyu shalat dan Al-Quran wajib disampaikan kepada umat Islam. Wahyu shalat yang diturunkan tidaklah lengkap seperti yang kita kenal sekarang ini, terutama cara pelaksanaan shalat dan sejarah-sejarah turunnya ayat-ayat Al-Quran. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw Muhammad Saw disebut dengan hadis.

Hadis dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama hadis sahih, hadis yang benar dan jelas sejarah terjadinya dan orang-orang yang merawikannya. Kedua hadis daif, hadis lemah karena tidak jelas sejarah terjadi dan perawinya. Hadis merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran.

Bagi masyarakat Gayo Lues Nabi Muhammad Swt adalah junjungan umat Islam. Umat Islam yang selalu mengharapkan petunjuk dan syafaatnya. Manusia hanya merencanakan, keputusaan berada di tangan Allah Swt dan lindungan Nabi Muhammad Saw (Ramli Penggalangan, paragraf : 01).

Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues salah satu pesta suka adalah sunat rasul (khitan), untuk melaksanakan sunnah. Pesta sukacita yang diceritakan Guru Didong adalah tentang bersunat rasul berarti menjalankan sunnah Rasul. Bagi masyarakat Gayo Lues bersunat rasul merupakan satu keharusan karena sunah rasul merupakan dasar yang kedua dalam memahami ajaran agama Islam (Idris Cike, paragraf : 31).

Masyarakat Gayo Lues sebagai umat Nabi Muhammad Saw harus mengasihi dan menyayangi anak-anak. Anak sebagai buah kasih sayang antara suami dan isteri dan menjadi kewajiban bagi orangtuanya untuk membina, membimbing, dan memenuhi segala keperluan hidupnya. Orang tua harus dapat menjalankan kewajiban kepada anak-anaknya, termasuk tahapan-tahapan acara atau kewajiban kepada anaknya (Ramli Penggalangan paragraf : 42 dan 43).

Masyarakat Gayo Lues sebagai umat Nabi Muhammad harus berpikir tentang apa saja yang ada di sekelilingnya, karena apapun yang terdapat di sekitar kita, semua bermanfaat dan dapat digunakan untuk keperluan kehidupan manusia. Hanya saja manusia dapat berpikir atau tidak dapat untuk menggunakan semua benda dan fenomena yang ada (Idris Cike, paragraf : 69).

c) Malaikat
Masyarakat Gayo Lues memahami malaikat mengikuti faham agama Islam, bahwa malaikat sebagai makhluk rohani yang besifat ghaib, diciptakan dari nur (cahaya), yang selalu taat, tunduk, dan patuh kepada Allah Swt dan tidak pernah ingkar kepada Allah Swt, tidak memerlukan makan, minum, dan tidur. Malaikat adalah makhluk Allah yang paling banyak jumlahnya dan malaikat yang wajib diketahui ada 10 dan mempunyai tugas masing-masing (Syukur, 2001 : 86). Tugas-tugas malaikat itu adalah sebagai berikut: Malaikat Jibril bertugas untuk menurunkan wahyu dari Allah Swt dan menyampaikan kepada para nabi. Malaikat Mikail bertugas untuk memberi rezeki kepada seluruh makhluk Allah Swt. Malaikat Izrail bertugas untuk mencabut nyawa semua makhluk hidup. Malaikat Israfil bertugas untuk meniup angin sangkakala. Malaikat Raqib bertugas untuk mencatat setiap amal baik. Malaikat Atid bertugas untuk mencatat semua keburukan dan kejahatan. Malaikat Munkar dan Nakir bertugas untuk memberikan pertanyaan di alam kubur. Malaikat Malik bertugas untuk menjaga neraka. Malaikat Ridwan bertugas untuk menjaga surga.

Masyarakat Gayo Lues mempercayai bahwa pada masa Allah Swt meniupkan roh ke ubun-ubun Nabi Adam a.s. Para malaikat menyaksikan dan mendengar ucapan Nabi Adam a.s. dan malaikat juga menjawab ucapan Nabi Adam (Idris Cike, paragraf : 124). Menurut Labib MZ (Tanpa Tahun: 12–14) Nabi Adam a.s. mengucapkan assalamualaikum (selamat atas kamu) dan dijawab oleh para malaikat waalaikumussalam (atas kamu juga selamat).

Hal ini juga digambarkan oleh Hamka (1999 : 7017), bahwa Allah memiliki kekuasaan yang Maha luas, seperti memasukkan roh ke tubuh Nabi Adam. Pada masa Allah Swt meniupkan roh ke ubun-ubun Nabi Adam a.s. dan Nabi Adam a.s. dikelilingi dan disaksikan oleh para malaikat. Seperti diceritakan Guru Didong Idris Cike berikut ini:
Yang mendengarkan ucapan Nabi Adam, hal itu sudah pasti Allah dan malaikat-malaikat. Allah yang memberikan roh kepada Nabi Adam yang dikelilingi oleh para malaikat. Jadi, kalau saksinya yang sahabatku inginkan, itu sudah pasti para malaikat. Di depan para malaikat diberikan Allah roh ke ubun-ubun Nabi Adam (Idris Cike, paragraf : 151).

d) Roh
Masyarakat Gayo Lues memahami roh sesuai dengan faham agama Islam, bahwa roh adalah makhluk ghaib yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Roh akan keluar dari tubuh pada saat manusia meninggal dunia. Dalam Ensiklopedi Islam IV (2003 : 174) roh diartikan sebagai zat murni yang tinggi dan hakikatnya berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindera sedangkan roh menyusup ke dalam tubuh sebagaimana menyusupnya air di dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Roh memberi kehidupan kepada tubuh manusia selama roh berada dalam tubuh tersebut. Roh adalah sesuatu yang hidup yang tidak berbadan jasmani, berakal, budi, dan perasaan serta yang memberi kehidupan kepada benda wadak (organisma fizik). Jadi, roh adalah yang berjiwa atau hidup dan memberikan kehidupan. Tubuh manusia akan meninggal dunia apabila ditinggalkan roh. Jadi, roh itu memberikan kehidupan sehingga roh itu sering disebut dengan nyawa (Daud, 2004: 25). Setelah manusia meninggal dunia, roh ditempatkan oleh Allah di alam barzah. Roh yang baik akan menerima kebaikan dan roh yang jahat akan menerima siksaan di alam barzah sampai tiba hari kiamat (Arifin, 1977 : 122).

Masyarakat Gayo Lues percaya bahwa roh itu dimasukkan oleh Allah Swt ke dalam tubuh manusia, sehingga manusia dapat beraktivitas dan berkreativitas seperti mendengar, melihat, dan berbicara. Seperti dikemukakan Guru Didong berikut ini:
… Allah membawa roh. Langsung dimasukkan ke ubun-ubun Nabi Adam. Sampai ke mata langsung melihat. Sampai ke hidung langsung mencium. Sampai ke telinga langsung mendengar. Sampai ke mulut langsung berbicara … (Idris Cike, paragraf : 124)

Menurut Labib (1977: 70), roh diberikan oleh Allah Swt kepada Nabi Adam a.s. (manusia asal) setelah jasadnya selesai dibuat dari tanah. Roh diberikan kepada anak cucu Adam pada masa manusia berada dalam alam kandungan. Ada pendapat bahwa roh itu diberikan oleh Allah Swt pada masa usia empat bulan dan ada pula berpendapat pada masa usia empat bulan sepuluh hari (Baihaqi, 1995 : 26). Kemudian roh dicabut oleh Allah Swt jika manusia tidak mampu lagi untuk menerimanya.

2. Hukum dalam Islam
Islam mempunyai dasar yang kuat berkenaan dengan hukum. Dasar hukum Islam difahami oleh masyarakat Gayo Lues adalah sebagai sumber hukum Islam. Hukum Islam adalah ketentuan-ketentuan yang boleh dan yang dilarang di dalam agama Islam. Hukum Islam disebut juga dengan hukum syara’ (Labib MZ, 1993 : 12).

Menurut Rifa’I, (1978 : 17) dalam agama Islam, ada empat dasar hukum Islam. Pertama Al-Quran, kedua hadis, ketiga ijmak dan keempat qias. Al-Quran merupakan firman Allah. Hadis merupakan sunnah rasul. Ijmak adalah kesepakatan para ulama setelah nabi wafat. Qias adalah menghubungkan suatu kejadian yang ada hukumnya dengan peristiwa yang tidak ada hukumnya, karena antara kejadian yang ada hukumnya dengan yang tidak ada hukumnya itu terdapat kesamaan sebab (illat). Sumber hukum Islam yang ditemui di dalam Didong Jalu adalah seperti di bawah ini.

Bagi masyarakat Gayo Lues untuk memahami agama Islam, ada empat dasar yang selalu digunakan sebagai pedoman. Pertama, dasar hukum Al-Quran. Al-Quran merupakan firman Allah Swt yang mengandung petunjuk bagi hamba-Nya untuk menjalankan syariat Islam secara benar. Al-Quran sebagai sumber hukum Islam pertama dan yang utama (Salleh, 1995 : 151). Dalam Al-Quran dijelaskan mana yang boleh dan yang tak boleh dikerjakan (Ramli Penggalangan, paragraf : 93).

Kedua, dasar hukum hadis. Hadis merupakan semua petunjuk yang diberikan Nabi Muhammd Saw dan dirawikan oleh para sahabat nabi. Bagi masyarakat Gayo Lues hadis digunakan sebagai pedoman memahami agama Islam. Ilmu agama yang disampaikan harus memiliki pedoman, supaya apa saja yang kita sampaikan kepada masyarakat dapat menjadi pedoman dan difahami oleh masyarakat secara jelas. Hadis adalah dasar hukum yang kedua yang tidak boleh diabaikan, karena hadis mengandung petunjuk dan penjelasan tentang agama Islam (Ramli Penggalangan, paragraf : 85).

Ketiga, dasar hukum ijmak. Dasar ijmak adalah keputusan para ulama setelah nabi wafat. Setelah Nabi Muhammad Saw wafat hingga sampai hari ini, masih banyak timbul masalah tentang agama. Ulama sebagai khalifah dapat memberikan keputusan untuk sesuatu perkara yang timbul pada pemeluk agama. Jika ada keputusan para ulama, ia harus menjadi pedoman dalam memahami agama Islam (Ramli Penggalangan, paragraf : 99).

Keempat, dasar hukum qias ini digunakan karena tidak semua masalah agama diterangkan secara jelas dalam Al-Quran dan hadis. Jadi, pekara-pekara yang tidak jelas ini selalu dihubungkan dengan pakara yang sudah jelas ketentuan dan hukumnya. Qias juga sebenarnya adalah hasil musyawarah para ulama. Hasil musyawarah ulama ini harus menjadi pedoman untuk memahami agama Islam (Ramli Penggalangan, paragraf : 05).

Menurut Yahya (1988 : 9–10), hukum Islam ada lima perkara; yaitu, wajib, sunnat, haram, makruh, dan harus. Wajib, jika dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan berdosa. Sunat, jika dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa. Haram, jika ditinggalkan berpahala dan dikerjakan berdosa. Makruh, jika dikerjakan tidak berdosa dan ditinggalkan berpahala. Harus, jika dikerjakan tidak berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa.

Menurut Gazalba (1974 : 203), ada lima ukuran dalam agama Islam, yang akan menentukan apakah diterima atau ditolak; yaitu, Pertama, baik (nilai hukumnya wajib), kedua, setengah baik (nilai hukumnya sunat), ketiga, tidak baik dan tidak buruk (nilai hukumnya harus), keempat setengah buruk (nilai hukumnya makruh), dan kelima, buruk (nilai hukumnya haram).

Bagi masyarakat Gayo Lues, kelima-lima hukum dalam Islam ini selalu menjadi pedoman dalam menjalankan perintah dan larangan Allah Swt dalam agama Islam. Kelima-lima hukum Islam dapat diperoleh di dalam Didong Jalu seperti berikut ini.

Hukum Islam pertama adalah haram. Pada masyarakat Gayo Lues ada sekelompok masyarakat yang disebut sebagai cerdik pandai. Seperti dikemukan Ramli Penggalangan, (paragraf: 22) bahwa cerdik pandai ini kelompok masyarakat yang harus memahami haram, karena kelompok tersebut berperanan untuk menentukan ukuran. Ukuran isi seperti satu are (takaran beras atau padi dibuat dari bambu, isi dua liter) berisi empat kal (takaran beras dibuat dari batok kelapa isi setengah liter). Ukuran panjang adalah hasta, satu hasta panjangnya dua jengkal. Hasta berguna untuk mengukur panjang. Genggaman berguna untuk memenuhkan. Pelingkut (alat untuk meratakan takaran, dibuat dari kayu atau rotan) berguna untuk meratakan. Neraca berguna untuk menimbang. Semua alat ukur yang digunakan supaya tidak lebih dan tidak kurang. Jika lebih atau kurang dalam takaran dan timbangan akan menimbulkan haram bagi yang melakukannya.

Hukum Islam kedua adalah makruh. Hukum makruh harus dipahami supaya tidak terjadi perbedaan pendapat tentang makruh. Supaya dapat membedakan antara satu hukum Islam dengan hukum Islam lainnya (Ramli Penggalangan, paragraf : 118).

Hukum Islam ketiga adalah harus. Kelompok masyarakat ulama cerdik pandai harus dapat menetapkan ketentuan hukum. Dalam hukum tidak boleh menimbulkan keragu-raguan. Hukum Islam harus pasti. Jika hukumnya harus, harus tetap harus. Tidak boleh diubah-ubah (Idris Cike, paragraf : 15).

Hukum Islam keempat adalah wajib. Bagi masyarakat Gayo Lues memegang teguh hukum Islam wajib. Masyarakat Gayo Lues meyakini jika ibadah wajib ditinggalkan akan mendapat dosa dan dikerjakan akan mendapat pahala (Ramli Penggalangan, paragraf : 95).

Hukum Islam kelima adalah sunat. Ibadah sunat rasul dikerjakan karena masyarakat Gayo Lues meyakini jika dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa, sehingga masyarakat Gayo Lues melaksanakan ibadah sunat di dalam kehidupan sehari-hari, karena akan dapat menambah pahala (Idris Cike, paragraf : 31).

3. Amalan dalam Islam
Bagi masyarakat Gayo Lues amalan adalah semua perbuatan yang baik di dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Arbak Othman (1999 : 12) amalan adalah perbuatan baik yang sesuai dengan tuntunan agama. Dalam agama Islam, amalan merupakan sesuatu yang utama. Memahami agama Islam tanpa diamalkan tidak akan berarti apa-apa. Amalan yang diterima oleh Allah Swt adalah amalan yang dikerjakan secara ikhlas. Bagi masyarakat Gayo Lues apa saja yang dilakukan dalam kebaikan merupakan amalan kepada Allah Swt dan diyakini semua perbuatan baik sebagai amalan akan mendapat pahala bagi yang melaksanakannya. Oleh karena itu, semua pengabdian akan bermanfaat dan menjadi amalan (Idris Cike, paragraf : 152).

Manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki segala kelemahan, keterbatasan, dan kesilapan, maka manusia selalu melakukan kesalahan-kesalahan antara sesama manusia di dalam kehidupan. Misalnya, salah ucap atau salah dengar. Oleh karena itu, manusia harus saling memaafkan, supaya tidak merusak amalan yang baik dan dapat menimbulkan perasaan senang hati sesama manusia serta tidak berdosa kepada Allah. Seperti yang diceritakan Guru Didong berikut ini:
Sahabatku sudah mohon maaf kepada diriku. Diriku pun akan mohon maaf kepada dirimu. Didong kita sudah selesai. Mungkin ada saya yang salah berbicara, dirimu salah dengar atau diriku salah dengar dan sahabatku salah berbicara. Oleh karena itu, saya mohon maaf kepada dirimu, supaya tidak menjadi penghalang amalan baik yang sudah saya kerjakan. Diriku memiliki sifat yang sering silap dan lupa. Supaya jangan salah kepada ayah, ibu dan masyarakat serta tidak berdosa kepada Allah (Idris Cike, paragraf : 162).

Berdasarkan faham orang Gayo Lues, Idil Fitri hari raya umat Islam yang disambut pada setiap tanggal 1 Syawal, setelah melaksanakan ibadah puasa pada setiap tahun. Idil Fitri disambut, karena bagi umat Islam telah selamat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan; yaitu, ibadah yang dapat menghapuskan dosa-dosa, kecuali dosa syirik. Oleh karena itu, Idil Fitri disambut umat Islam untuk saling bermaafan.

Bagi masyarakat Gayo Lues juga Idil Fitri selalu dimanfaatkan untuk saling memaafkan. Bertujuan untuk menghapuskan segala dosa antara sesama manusia yang pernah terjadi pada masa yang lalu. Kemudian juga masyarakat Gayo Lues meyakini dalam menjalankan ibadah puasa telah dapat menghapuskan dosa kepada Allah Swt. Untuk menghapuskan dosa antara sesama manusia harus saling memaafkan, terutama pada Idil Fitri (Idris Cike, paragraf : 139).

Pada masyarakat Gayo Lues, doa diartikan sebagai permintaan atau permohonn kepada Allah Swt bertujuan untuk menghapuskan dosa-dosa yang ada, akibat perbuatan yang dikerjakan tidak sesuai dengan perintah agama Islam dan memohon kepada Allah Swt agar memberikan sesuatu, seperti kesehatan, rezeki, kemudahan, dan lain-lain. Di dalam Didong Jalu ini doa yang disampaikan oleh Guru Didong supaya selesai acara perkawinan seperti berikut ini:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyanyang. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Pertama selesai, kedua selesai, ketiga selesai, keempat selesai, kelima selesai, keenam selesai, ketujuh selesailah pesta. Jika ada pun hajatan, pihak tuan rumah, sudah dipenuhi. Ke langit tidak berpucuk, ke bumi tidak berakar (Ramli Penggalangan paragraf : 46).

Kemudian pada bagian yang lain Guru Didong Idris Cike (paragraf : 13) menjelaskan bahwa orang tua mendoakan kita, supaya kita selamat dalam kehidupan di dunia dan selamat dalam kehidupan di akhirat. Bagi masyarakat Gayo Lues doa orang tua sangat dipercayai akan membawa pengaruh yang baik kepada kehidupan anak-anaknya.

4. Dosa dan Taubat
Dosa adalah ganjaran atau balasan perbuatan yang salah atau melanggar hukum-hukum Islam dan ketentuan-ketentuan di dalam agama Islam. Taubat adalah kembali ke jalan Allah atau kembali kepada hukum-hukum Islam dan ketentuan-ketentuan agama. Dalam Didong Jalu ditemui tentang dosa dan taubat.

Masyarakat Gayo Lues menyakini bahwa semua perbuatan yang salah akan mendapat dosa dari Allah Swt. Guru Didong Idris Cike menceritakan agar semua yang dikerjakan harus berpedoman kepada Al-Quran, hadis, ijmak, dan qias supaya tidak berdosa kepada Allah Swt seperti berikut ini:
…Jika pertanyaan agama harus berpedoman kepada Al-Quran, hadis, ijmak dan qias. Jika masalah adat harus berpedoman kepada dasar pemikiran, peraturan, kebiasaan, dan petunjuk raja. Supaya tidak berdosa kepada Allah, supaya tidak menjadi hujatan masyarakat yang hadir di tempat persembahan ini… (Idris Cike, paragraf : 08).

Masyarakat Gayo Lues juga menyakini bahwa manusia memiliki sifat keterbatasan dan kelemahan, sehingga sering melakukan kesalahan dan kekeliruan yang dapat menimbulkan dosa. Dosa dapat dihapuskan dengan jalan bertaubat kepada Allah dan akan diampuni oleh Allah Swt (kecuali dosa besar, syirik) dengan ketentuan, tidak akan mengulangi lagi. Guru Didong Ramli Penggalangan (paragraf : 05) menceritakan, jika kita bersalah harus bertaubat, supaya selamat hidup di dunia dan di akhirat.
5. Alam Akhirat
Masyarakat Gayo Lues menyakini bahwa alam terbagi kepada empat bagian; yaitu, alam kandungan, alam dunia, alam kubur (barzah), dan alam akhirat. Alam akhirat atau alam baka terjadi setelah alam barzah. Pada alam akhirat ditemui dua tempat; yaitu, surga dan neraka. Surga adalah tempat bagi orang-orang yang beramal baik dan meninggalkan larangan Allah Swt pada masa hidup di dunia. Neraka adalah tempat bagi orang-orang yang ingkar kepada Allah Swt pada masa hidup di dunia. Alam akhirat adalah alam yang terakhir dan kekal untuk selama-lamanya (Umar, 1980 : 22).

Di dalam Didong Jalu ini tidak dijelaskan alam akhirat secara terperinci, tetapi dalam Didong Jalu ini dijelaskan pada masa hidup di dunia supaya menjalankan agama Islam harus berpedoman kepada al-Quran, hadis, ijmak, dan qias, supaya selamat di dalam alam akhirat (Ramli Penggalangan, paragraf : 156).

Masyarakat Gayo Lues menyakini bahwa semua perbuatan yang salah akan menjadi beban di alam akhirat. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Antara saya dengan dirimu, mungkin ada yang kurang menyenangkan perasaan, saya mohon kepada dirimu untuk saling memaafkan. Supaya jangan menjadi beban kita nanti di alam akhirat. Saat ini saya memohon maafmu, pada malam yang berbahagia ini (Idris Cike, paragraf : 160).

Pada cerita Didong Jalu ini hanya ditemui alam syurga saja. Masyarakat Gayo Lues meyakini adanya syurga, seperti diceritakan Guru Didong bahwa tanah asal untuk muka Nabi Adam a.s. berasal dari tanah surga (Idris Cike, paragraf : 148).

III. Kesimpulan
Setelah dilakukan kajian pemikiran tentang agama Islam di dalam Didong Jalu, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Pertama, masyarakat Gayo Lues meyakini bahwa Allah Swt sebagai pencipta alam dan seluruh isinya. Allah adalah sumber segala kehidupan. Kedua, Rasul (Nabi Muhammad) merupakan tuntunan bagi masyarakat Gayo Lues dalam melaksanakan ibadah Islam. Ketiga, masyarakat Gayo Lues meyakini ada malaikat-malaikat yang bertugas sesuai dengan perintah Allah Swt. Keempat, roh diyakini masyarakat Gayo Lues diberikan oleh Allah Swt kepada Nabi Adam a.s. Kelima, masyarakat Gayo Lues menyakini ada empat dasar untuk menentukan hukum Islam. Dasar-dasar hukum Islam; yaitu, Al-Quran, hadis, ijmak, dan qias. Dalam Islam ada lima hukum Islam yang menjadi pedoman untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan agama Islam. Hukum Islam adalah wajib, sunat, harus, makruh, dan haram. Keenam, masyarakat Gayo Lues meyakini bahwa agama Islam tidak berarti apa-apa, jika tidak diamalkan secara ikhlas. Amalan yang tergambar dalam Didong Jalu adalah pada saat Idil Fitri harus saling memaafkan dan doa adalah untuk memohon keampunan kepada Allah Swt serta memohonkan kemudahan dari-Nya. Ketujuh, alam akhirat diyakini masyarakat Gayo Lues akan ada setelah alam dunia ini. Dalam alam akhirat ada surga, tempat bagi hamba Allah yang menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Daftar Bacaan

Al Ghazali, Muhammad.1997. Akhlak Seorang Muslim. Slangor: Thinker’s Library Sdn. Bhd.
Ara, L.K.1995. Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”. Jakarta:Yayasan
Nusantara
Arifin, Bey. 1977. Hidup Sesudah Meninggal Dunia. Singapura: Pustaka Nasional.
AS, M. Abdul Mujieb. 1986. Lubabun Nuzul fi Asbabun Nuzul. Rembang: Darul Ihya.
Azyumardi, Azra dkk. 2003. Ensiklopedi Islam I. Jakart: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Azyumardi, Azra dkk. 2003. Ensiklopedi Islam IV. Jakart: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Daud, Haron. 2001. Mantera Malayu Analisis Pemikiran. Pulau Pinang:Universiti Sains
Malaysia.
Daud, Haron. 2004. “Kesusastraan Sebagai Sumber Ilmu”.Dalam Jelani Harun. Ilmu Kesusasteraan Abad Ke-21. Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia.
Gazalba, Sidi. 1974. Sistematika Falsafah. Kuala Lumpur. Utusan Melayu
Berhad.
Hanafiah, Sulaiman.1984. Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hamka. 1999. Tafsir Al Azhar IX. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD.
Hauser, Arnold. 1982. The Sosiology of Art. London: The Universiti of Chicago Press.
Jakob Sumarjo. 1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: CV Nur Cahaya.
Nusantara.
Labib, Muhammad .1977. Hari Akhirat. Singapura: Pustaka Nasional.
Ma’shum Tanpa Tahun. Kisah Teladan 25 Nabi dan Rasul. Jakarta: Bintang Fajar.
Melalatoa, M.J.1985. Kamus Bahasa Gayo – Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
MZ, Labib. 1993. Risalah Solat Lengkap, Disertai Doa, Zikir dan Wirid. Surabaya:
Tiga Dua.
MZ, Labib .Tanpa Tahun. Penciptaan Nur Muhammad Sebelum Kejadian Makhluk. Surabaya: Bintang Usaha Jaya.
Othman, Arbak.1999. Kamus Bahasa Melayu. Shah Alam: Fajar Bakti Sdn. Bhd.
Rifa’I, Moh.1978. Ilmu Fiqih Islam Lengkap. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Salleh, Ahmad B. Muhammad.1995. Pendidikan Islam. Kuala Lumpur: Fajar Bakti Sdn.
Sujitno, Sutejo.1995. Aceh Masa Lalu, Kini dan Masa Depan. Banda Aceh: Sekretariat Gubernur Daerah Istimewa Aceh.
Syukur, Abdul. 2001. Rahasia Hidup Setelah Meninggal dunia. Kuala Lumpur: Jasmin
Enterprise.
Taslim, Noriah. Tanpa Tahun. “Bengkel Kajian Naskah Kesustraan Melayu III”. Alor Setar: Anjuraan Dewan Bahasa dan Pustaka.
Umar, M. Ali Chasan.1980. Alam Kubur (Barzah). Singapore: Alharamain PTE LTD.
Yahya, Habib Usman.1988. Awaluddin Sifat Duapuluh. Jakarta: S.A. Alaydrus.
Warton, Thomas. 1974. History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago
Press.

Isma Tantawi

Isma Tantawi lahir pada tanggal 7 Februari 1960 di Kuning Aceh Tenggara (sekarang Kabupaten Gayo Lues). Beliau adalah staf pengajar tetap di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara mengasuh mata kuliah Sastra Bandingan, Estetika, dan Sastra Malaysia Modern serta mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan sebagai dosen tamu di Kolej Sentral Kuala Limpur, Malaysia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (FS USU) tahun 1986 dan pendidikan master (S-2) di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia (PPIK USM) tahun 2006 dengan bidang kajian tradisi lisan nusantara. Di samping itu juga beliau aktif mengikuti seminar nasional dan internasional baik sebagai peserta maupun pemakalah.

Source: http://ismatantawi.blogspot.com/2009/05/didong-gayo-lues-analisis-pemikiran.html

Oleh: Isma Tantawi*

Abstract
The objective of this study is to determine and analyze the thinking of Gayo Lues community on the cosmos in the Didong Jalu. The data in this research is analyzed based on both observation and documentation methods. The theoretical base used in this research is relied on literature sociological theoery suggested by Thomas Warton (1974) that literature work is considered to be expression of art and social document. The result of this study shows that Didong Jalu contains the thought of the Gayo Lues community regarding encompasses matters such as the universe, flora, fauna and tools used by the community

Key Words: Thinking, Gayo Lues community, cosmos, and Didong jalu

I. Pendahuluan

Didong sebagai tradisi lisan atau oral tradition (folklore) sudah berkembang sejak masuknya agama Islam di dataran tinggi Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia (Ara, 1995 : 639). Agama Islam masuk ke Aceh pada abad ke-7 M. kira-kira 40 tahun setelah Nabi Muhammad Saw. wafat (Sujitno, 1995 : 71). Dalam Didong, sejak awal sampai saat ini nafas dan nuansa keislaman tetap bertahan. Bahkan Didong merupakan media dakwah untuk menyampaikan dan menyebarkan amanat keagamaan kepada masyarakat di samping menyampaikan pesan budaya suku Gayo itu sendiri.

Didong merupakan tradisi lisan suku Gayo sudah berakar dalam kehidupan masyarakatnya. Persembahan Didong diadakan pada pesta suka (pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru (ustad atau ustajah yang mengajari agama Islam), pesta sunat rasul, dan pesta perkawinan) saja. Dalam Didong, diceritakan tentang kebudayaan suku Gayo, agama Islam (orang suku Gayo secara keseluruhan menganut agama Islam) dan masalah-masalah yang aktual, seperti peristiwa daerah, peristiwa nasional, dan peristiwa internasional.

Kata Didong, berasal dari bahasa Gayo, yaitu: dari akar kata dik dan dong. Dik, artinya menghentakkan kaki ke papan yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian dong, artinya berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata Didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu digunakan untuk menyelingi persembahan Didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, Didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua Guru Didong yang berasal dari dua kampung yang berbeda. Persembahan dimulai setelah shalat Isa sampai sebelum salat Subuh (Melalatoa, 1985 : 71).

Kata Didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu: Asal-usul Gajah Putih yang dikumpulkan oleh Hanafiah (1984 : 140 – 149). Gajah Putih merupakan penjelmaan dari seorang sahabat yang sudah meninggal dunia. Ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke Istana Raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan oleh raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan. Gajah putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, sehingga menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun demikian, ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampailah ke Istana Raja Aceh.

Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut dijadikan dan digunakan pada masa merasa gembira atau pada masa menyampaikan amanat dan nasihat kepada anak, teman, masyarakat atau kepada siapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan tradisi lisan Didong Gayo.

Didong Gayo dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, Didong Gayo Lues. Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Gayo Lues pada umumnya berbentuk prosa (bebas) dan hanya pada bagian tertentu saja yang disampaikan berbentuk puisi (terikat) seperti pantun. Isi cerita di dalam Didong Gayo Lues berhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Kedua, Didong Lut (Laut). Didong Lut berkembang di Kabupaten Aceh Tengah. Didong Lut berbentuk puisi (terikat). Isi Didong Lut tidak berhubungan secara langsung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa Didong Lut seperti puisi yang dinyanyikan dan setiap puisi memiliki makna masing-masing.

Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam; yaitu, Didong Alo (Didong penyambutan tamu), yaitu: Didong dipersembahkan untuk menyambut tamu. Pemain Didong Alo berjumlah lebih kurang 10 orang dari pihak tuan rumah dan 10 orang dari pihak tamu. Didong Alo dipersembahkan sambil berlari arah ke kiri atau ke kanan. Didong Alo berisi tentang ucapan selamat datang dan ucapan terima kasih atas kehadiran tamu. Begitu juga dari pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan dan sudah selamat di perjalanan sehingga dapat selamat sampai ke tempat tuan rumah.

Didong Jalu (Didong Laga), yaitu Didong dipersembahkan pada malam hari oleh dua orang Guru Didong yang diundang dari dua kampung yang berbeda. Setiap Guru Didong didampingi oleh pengiring yang berjumlah 10 sampai 20 orang. Pengiring berfungsi untuk mendukung persembahan. Pada bagian tertentu (adini Didong) cerita Didong disambut oleh pengiring sambil bertepuk tangan serta menggerakkan badan ke muka dan ke belakang atau ke kiri dan ke kanan.

Didong Niet (Didong Niat) selalu dipersembahkan berdasarkan niat seseorang. Misalnya niat seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau berkeinginan punya anak lelaki atau perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka Didong Niet ini pun dipersembahkan. Didong Niet ini mengkisahkan tentang anak yang diniatkan. Cerita dimulai dari awal pertemuan kedua orang tuanya. Kemudian pertemuan itu direstui serta dilanjutkan kepada jenjang peminangan dan pernikahan. Seterusnya cerita mengenai perkembangan bayi di dalam kandungan dan sampai bayi lahir ke dunia. Setelah itu cerita diteruskan ke pesta ayunan (turun mani) pemberian nama dihubungkan dengan hari kelahiran, agama (agama Islam), dan nama-nama keluarga seperti nama orang tua, kakek, nenek, dan lain-lain.

Cerita Didong yang menjadi objek penelitian ini adalah cerita Didong Jalu yang dipersembahkan oleh Guru Didong Ramli dan Idris di Medan pada tanggal 11 dan 12 Desember 2004. Persembahan dimulai pukul 21.45 dan berakhir pada pukul 04.30 WIB.

II. Pemikiran Alam dalam Didong Jalu
Menurut Abdullah (1999: 1) istilah kosmos berasal dari bahasa Greek yang berarti alam semesta dan dunia yang teratur. Oleh karena itu, kosmos atau alam, dapat diartikan sebagai alam dan keteraturannya, bukan kacau-balau (chaos).

Kosmos atau alam merupakan salah satu objek pengarang untuk menciptakan karya sastra. Pengarang selalu mengarang dengan metode campuran; yaitu, mencampurkan imajinasi dengan realitas, menggabungkan khayalan dengan kenyataan. Semua karya merupakan hasil kreativitas dan aktivitas. Menurut Satyagraha, (1984: 100), pengarang menciptakan hal yang baru, dari tidak ada menjadi ada. Karya sastra merupakan gambaran kenyataan yang ada dalam kehidupan yang nyata. Pengarang memberikan reaksi kepada kehidupan dan fakta baru yang tergambar dalam karya sastra. Jadi, karya sastra merupakan campuran antara khayalan dengan fakta, yang sudah diolah oleh pengarang, ( Yunus, 1981: 108).

Menurut Atmazaki, (1990: 41), karya sastra adalah dunia fiksi yang berasal dari kenyataan. Tidak ada karya sastra yang sepenuhnya meniru kenyataan, di samping itu juga tidak ada yang sepenuhnya fiksi. Apabila karya sastra sepenuhnya kenyataan maka ia akan berubah menjadi karya sejarah dan apabila sepenuhnya fiksi, tidak akan ada seorang pun yang dapat memahaminya.

Di dalam tradisi lisan Didong Jalu, alam digunakan Guru Didong untuk menyampaikan amanat kepada pembacanya. Pengungkapan alam di dalam Didong Jalu yang berhubungan dengan alam semesta, alam flora, alam fauna, dan peralatan yang digunakan masyarakat Gayo Lues. Guru Didong menggunakan hal-hal yang berhubungan dengan kosmos. Penggunaan kosmos di dalam Didong Jalu sangat berpengaruh dalam penceritaan dan sangat bermakna dalam menyampaikan amanat kepada penonton persembahan Didong Jalu.

1. Alam Semesta
Alam adalah ciptaan Allah. Allah sebagai Maha Pencipta yang tidak berawal dan tidak berakhir. Adanya alam karena adanya Allah. Jadi, alam ada permulaan dan ada akhir. Allah Pencipta yang abadi sedangkan alam adalah hanya ciptaan dari yang abadi; yaitu, Allah Swt.

Dalam Islam diyakini, Allah yang Maha Kuasa telah mencipta alam ini. Dia tidak memerlukan bantuan dan dukungan pihak lain dalam penciptaan itu. Dengan sifat kesempurnaan Allah Swt. menciptakan alam dan seluruh isinya dengan begitu teratur dan rapi, (Dawamy, 1999: 34).

Menurut Hossein, (1993: 37), alam semesta adalah semua wujud material dan rohaniah. Jadi, alam semesta adalah alam yang terbatas pada benda yang dikenal dan dapat diraba oleh pancaindra manusia. Alam semesta ini benda-benda yang nyata, seperti gunung-gunang yang dapat didaki, bentangan tanah yang dapat dikerjakan, hutan-hutan yang dapat dijelajahi, sungai-sungai yang dapat dikenali, laut-laut yang dapat dilayari, dan tempat-tempat yang dapat dikunjungi, (Sastraprateja, 1983: 38).

Alam semesta yang dimaksudkan merangkumi dunia, bumi, langit, matahari, tanah, air, batu, laut, sungai, angin, barat, utara, selatan, pulau, dan nama-nama tempat. Sesuai dengan pendapat Daud, (2001: 10) alam adalah bumi dan langit termasuk seluruh isinya. Alam sebagai ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, merupakan tempat bagi manusia untuk mengabdi kepada Allah Swt.

a. Dunia Sebagai Pentas Kehidupan
Bagi masyarakat Gayo Lues, dunia merupakan tempat mengabdi kepada Allah. Semua perkerjaan yang baik di dunia merupakan amalan untuk menuju alam akhirat. Manusia harus menjaga hubungan dengan Allah (hablumminallah) yang diwujudkan dengan amalan-amalan, baik wajib maupun sunat. Kemudian hubungan manusia dengan manusia (hablumminannas) yang diwujudkan dengan menjaga hubungan baik sesama manusia. Seperti yang diceritakan oleh Guru Didong Ramli, (paragraf: 111) kita harus memohon maaf dan saling memaafkan sesama manusia supaya selamat hidup di dunia dan akhirat.

Pada bagian lain Guru Didong Ramli, (paragraf: 156), menceritakan manusia hidup di alam dunia akan menuju alam akhirat. Pada masa hidup di dunia harus berpegang teguh kepada agama Islam dan dalam melaksanakan ajaran agama Islam harus berpanduan kepada Al-Quran, hadis, ijmak, dan qias serta membaca buku dan bertanya kepada orang yang memahami tentang agama Islam supaya selamat hidup di dunia dan akhirat.

b. Bumi dan Langit
Menurut Arabi, ( 1999: 30), bumi dan langit merupakan tempat ciptaan dan rahasia Allah. Bumi ialah planet tempat mahkluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Langit ialah ruangan yang luas dan terbentang di atas bumi, tempat beradanya bulan, bintang, dan matahari. Pemikiran tentang bumi dan langit ternyata ada dalam Didong Jalu yang diperlihatkan oleh Guru Didong dari beberapa aspek.
Pertama, bumi dan langit sebagai ciptaan Allah Swt. dan bukti kebesaran Allah, sehingga Guru Didong menyampaikan mohon maaf kepada langit dan bumi. Seperti yang diceritakan Guru Didong berikut ini:
Maaf langit yang kujunjung sampai ke lapisan yang ke tujuh. Maaf bumi yang sekeliling yang kami duduki sampai ke batu lapisan yang paling bawah, demi Tuhan Yang Maha Pencipta, (Ramli , paragraf: 18).

Kedua, langit dan bumi digunakan Guru Didong sebagai lambang kehormatan, bagi seseorang untuk memohon maaf kepada kedua ibu bapak. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:
Mohon maaf kepada langit yang saya junjung, saya berharap sampai ke lapisan yang paling atas. Mohon maaf kepada bumi yang dipijak, saya mohonkan sampai kepada lapisan yang paling bawah, yang layak untuk ayah dan ibu, (Idris, paragraf: 11).

Ketiga, bumi dan langit bagi masyarakat Gayo Lues digunakan sebagai lambang kebahagiaan di dalam kehidupan. Guru Didong Idris (paragraf: 41) mengatakan, karena keinginan untuk mempunyai anak sudah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Maka seperti makin tinggi langit yang dijunjung dan makin luas bumi yang dipijak. Ini bermakna kebahagiaan di dalam kehidupan keluarga sudah diberi keturunan oleh Allah Swt.

Keempat, bumi dan langit berada pada tempat yang berbeda. Bumi terdapat di bagian bawah dan langit di bagian atas. Bagi masyarakat Gayo Lues hal ini mengandung makna bahwa, langit sebagai hubungan dengan Allah Swt. dan bumi sebagai hubungan dengan manusia. Seperti diceritakan Guru Didong Ramli , (paragraf : 46) setelah diadakan persembahan Didong Jalu untuk memenuhi niat yang pernah diucapkan oleh kedua ibu bapak. Supaya ke langit tidak berpucuk dan ke bumi tidak berakar. Artinya persembahan Didong Jalu ini bertujuan untuk menyelesaikan kewajipan kepada Allah dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Kelima, bagi orang tua (ibu dan bapak) masyarakat Gayo Lues, perpisahan seorang anak dengan kedua ibu bapak dianggap sebagai kehancuran bumi dan langit, walaupun perpisahan itu hanya bersifat sementara. Jika anak akan pergi, mencari ilmu atau mencari keperluan lainnya, kedua ibu bapak sangat merasa sedih dan selalu memberikan nasihat yang berulang-ulang. Kedua ibu bapak sangat khawatir terhadap kepergian anaknya, (Idris , paragraf: 51).

c. Matahari
Menurut Arabi, (1999: 28), Allah Swt. menciptakan matahari di langit seperti lampu yang menerangi penghuni bumi. Bagi masyarakat Gayo Lues matahari dilambangkan sebagai tanda-tanda alam. Setelah malam akan ada siang dan sebaliknya setelah siang akan ada malam atau setelah gelap akan ada terang dan setelah terang akan ada gelap. Dalam Didong Jalu kedua-dua Guru Didong menyebutkan matahari yang memberikan sinar terang. Setelah malam, mata hari akan menampakkan sinarnya, (Idris, paragraf: 94). Hari pun sudah lewat tengah malam, matahari pun akan segera bersinar (Ramli , paragraf: 104).

d. Tanah

Masyarakat Gayo mempercayai bahwa manusia yang pertama Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Allah s.w.t dari tanah. Sesuai dengan firman Allah Swt. pada surat al- Hijr ayat 26, terjemahan Junus, (1984: 238), artinya sesungguhnya telah diciptakan manusia dari tanah kering yang hitam. Kemudian menurut Selamat, (2000: 3), Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah adalah sebagai lambang ketenangan, sabar, teguh, dan pemaaf. Tanah juga adalah tempat tumbuh dan berkembang semua makhluk hidup di atas alam. Kemudian Guru Didong menceritakan bahwa Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah oleh Allah, (Ramli, paragraf: 144).

Kemudian masyarakat Gayo Lues mempercayai bahwa bagian-bagian tubuh Nabi Adam a.s. diciptakan dari tanah yang berbeda asalnya. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Kepalanya dari tanah Baitul Maqdis, mukanya dari tanah syurga, pinggangnya dari tanah Iraq, auratnya dari tanah Babilon… (Idris, paragraf: 148).

e. Air dan Angin
Dalam Didong Jalu Gayo Lues air menjadi lambang pada dua masalah saja. Pertama, air digunakan Guru Didong sebagai gambaran kebesaran kekuasaan Allah Swt. yang tidak pernah dapat dikuasai oleh manusia. Menurut Djapri, (1985: 19) telah banyak dilahirkan teori-teori tentang kejadian alam ini, namun semuanya belumlah dapat mengungkapkan rahasia alam ini dan belum memberikan kepuasan kepada hasrat ingin tahu manusia. Masyarakat Gayo Lues beranggapan, walaupun dua per tiga dari alam ini adalah lautan, namun tidak akan cukup air untuk menjadi tinta jika semua persoalan di atas dunia ini dituliskan, (Idris, paragraf: 68).

Kedua, dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat selalu akan terjadi perbedaan pendapat dan kadang-kadang menjadi selisih faham yang dapat menimbulkan rasa sakit hati. Untuk menghilangkan rasa sakit hati dapat dilakukan dengan memohon maaf dan diumpamakan semua kesalahan dapat dihanyutkan ke air dan dilepaskan ke angin, (Ramli, paragraf: 163).

f. Rumput, Ranting, Kayu, dan Batu
Allah sebagai Maha Pencipta telah mencipta semua alam dan isinya. Masyarakat Gayo Lues yakin bahwa semua benda yang ada dalam alam ini merupakan ciptaan Allah. Tidak ada satu benda pun yang terlepas dari kekuasaan Allah. Guru Didong menceritakan rumput, ranting, kayu, dan batu semuanya sebagai ciptaan Allah (Ramli, paragraf: 102).

g. Nama-Nama Tempat
Nama-nama tempat yang diceritakan Guru Didong ada lima macam. Pertama, pada masyarakat Gayo Lues, satu kampung terdiri dari empat bagian (dewal opat). Seperti diceritakan Ramli (paragraf, 19) ; yaitu, segi hulu, segi hilir, segi atas, dan segi bawah. Keempat-empat tempat tersebut ditempati masing-masing oleh masyarakat, orang tua, cerdik pandai, dan raja.

Kedua, bagi masyarkat Gayo Lues dalam melaksanakan pesta ada tiga ruangan yang disediakan. Setiap ruangan diduduki oleh orang yang berbeda dan tugas yang berbeda pula seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
…saya teringat kepada ruangan-ruangan yang tiga. Itu pun jelas dan terang gunanya masing-masing. Pertama ruangan pendehren, kedua ruangan pendahrindan ketiga ruangan kekasihen. Ruangan pendehren berfungsi untuk tempat periuk, kuali, sendok, piring, dan peralatan memasak. Ruangan pendahrin untuk tempat tamu yang diundang secara tertulis atau lisan, maupun langsung atau tidak langsung. Ruangan kekasihan untuk tempat raja atau pimpinan secara bersama-sama untuk menyelesaikan apabila ada masalah yang timbul, (Ramli: 23).

Ketiga, Guru Didong menceritakan nama tempat sebagai perumpamaan perbedaan pendapat. Nama-nama tempat yang dibentangkan seperti Takengon dengan Ise-Ise dan Lumut dengan Linge. Takengon dengan Ise-Ise dan Lumut dengan Linge masing-masing dua tempat yang arah berbeda atau berlawanan. Tempat yang berbeda ini digunakan Guru Didong bagi menunjukkan perbedaan pendapat. Seperti dikemukakan Guru Didong berikut ini:
… Jangan satu arah ke Takengon satu lagi arah ke Ise-ise. Jika persoalan adat, supaya kalian benar-benar membincangkan adat. Begitu juga kalau masalah agama harus benar-benar pula membincangkan agama…,(Ramli: 05).

Keempat, Guru Didong menceritakan nama-nama tempat yang dilalui dan memiliki pengalaman sendiri. Pengalaman itu berhubungan dengan ketinggian jalan gunung Gurah (nama gunung di Kabupaten Gayo Lues) dan kecuraman jalan Ketame (nama tempat di Kabupaten Gayo Lues) yang dilalui. Seperti diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:
… Terlalu tinggi gunung Gurah yang sudah kita daki. Terlalu curam turunan Ketame kita turuni. Terlalu panjang jalan yang sudah kita lalui…, (Idris, paragraf: 30).

Kelima, Guru Didong menceritakan nama tempat asal tanah untuk tubuh Nabi Adam a.s. Nabi Adam a.s. diciptakan oleh Allah Swt. dari tanah yang berasal dari tempat yang berbeda. Nama tempat yang diceritakan Guru Didong seperti berikut ini:
… Tanah asal tubuh Nabi Adam ada dari Barat ada dari Timur, ada dari Utara ada dari Selatan. Supaya lebih jelas dan lebih terang. Kepalanya dari tanah Baitul Maqdis, mukanya dari tanah Syurga, pinggangnya dari tanah Irak, auratnya dari tanah Babilon…, (Idris, paragraf 148).

6.2 Alam Flora
Menurut pemikiraan masyarakat Gayo Lues, alam flora atau alam tumbuhan digunakan sebagai simbol atau lambang dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kata pohon dadap untuk mengungkapkan tempat melepaskan nafsu berahi. Daun pandan hutan untuk penghargaan kepada seorang perempuan yang dikasihi. Oleh karena itu, Guru Didong pun menggunakan tumbuhan untuk mengungkapkan pemikiran-pemikirannya. Alam tumbuhan yang ditemui di dalam cerita Didong Jalu seperti sirih, pinang, randu hutan, nangka, cempedak, cabe merah, rimbang hutan, rumput, renggali, nilam, tembakau, kelapa, tebu, dan kopi.

i) Sirih Pinang
Pada masyarakat Gayo Lues, undangan disampaikan melalui sirih pinang. Sirih pinang digunakan karena sirih pinang merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat Gayo Lues, terutama orang tua, baik laki-laki maupun atau perempuan. Sirih pinang bukan hanya menjadi makanan kegemaran, tetapi dapat menimbulkan keakraban di antara anggota masyarakat Gayo Lues. Oleh karena itu, sirih pinang digunakan untuk menyampaikan undangan di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues.

Setelah memberikan sirih pinang kepada orang yang diundang, disampaikan secara lisan tentang tujuan pemberian sirih pinang tersebut. Sirih pinang diberikan sebagai tanda penghargaan dan untuk bukti undangan tersebut sudah sampai dan sudah diterima, (Ramli, paragraf: 02).

Selain menjadi alat untuk mengundang, sirih pinang juga digunakan untuk menyampaikan risikan peminangan terhadap seorang anak dara. Sirih pinang disampaikan oleh pihak lelaki kepada pihak perempuan. Jika pinangan diterima, kiriman akan dibalas kembali dengan sirih pinang pula. Jika lamaran ditolak akan dikembalikan tempat sirih pinang (sumpit dan tepak) dalam keadaan kosong. Pengembalian tempat sirih pinang secara kosong sebagai tanda tidak ada sambutan dari pihak perempuan.

Biasanya pinangan ini ditolak disebabkan beberapa hal; yaitu, pertama, sang dara sudah ada yang memilikinya. Kedua, sang dara tidak setuju dengan jejaka yang meminangnya. Ketiga, pihak keluarga sang dara tidak setuju dengan pihak keluarga jejaka karena alasan tertentu. Misalnya, keturunan kurang baik, jejaka kurang bertanggungjawab dan lain-lain,

ii) Randu Hutan
Masyarakat Gayo Lues percaya bahwa pohon randu adalah pohon yang paling lembut dan mudah patah, busuk, dan mati, lebih-lebih lagi pohon randu yang tumbuh di hutan. Pohon randu yang tumbuh di hutan lebih mudah patah, busuk, dan mati dibandingkan dengan yang tumbuh di tempat lain. Batang pohon randu adalah pohon yang tidak berguna (kecuali kapasnya untuk bantal atau tilam) di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Pohon randu tidak dapat digunakan sebagai kayu bakar, untuk membangun jembatan, dan dijadikan papan. Pohon randu untuk kayu bakar kurang baik dimakan api.

Keadaan pohon randu yang lembut, mudah patah, dan busuk menjadikan pohon randu menjadi lambang kelemahan dan ketidakmampuan. Oleh karena itu, Guru Didong pun menggunakan pohon randu sebagai perumpamaan untuk menyatakan kelemahan atau ketidakmampuan seseorang. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Inilah benda, inilah wujudnya. Kebanggaan kami ini jangan ditakut-takuti, usia masih muda belia, hanya badannya seperti pohon randu hutan, tidak berakal dan tidak berfikiran, (Ramli, paragraf: 04).

iii) Nangka dan Cempedak
Bagi masyarakat Gayo Lues pohon nangka dan cempedak merupakan pohon yang sejenis, cuma yang berbeda adalah isi dan rasa buahnya. Namun hakikatnya dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues pohon nangka lebih mulia dan lebih berharga dibandingkan dengan pohon cempedak. Oleh karena itu, Guru Didong untuk mengungkapkan pemikiran-pemikirannya menggunakan pohon nangka sebagai yang utama dan pohon cempedak sebagai pelengkap saja. Hal ini mengambarkan bahwa kedudukan atau keperluan seseorang dalam masyarakat selalu berbeda. Perbedaan ini timbul karena kelebihan dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… Sedang diajak dari kanan, sedang dipengaruhi dari kiri, sedang dirayu-rayu. Seandainya adapun nanti jangan terlalu berpuas hati dan begitu juga kalau tidak adapun jangan terlalu kecewa. Kalau tak ada nangka, boleh cempedak, dari tidak ada lebih baik ada, (Idris, paragraf: 06).

iv) Cabe Merah dan Rimbang Hutan
Menurut pemahaman masyarakat Gayo Lues, cabe merah berasa pedas dan rimbang hutan dengan berasa pahit. Cabe merah yang berasa pedas menggambarkan budi bahasa yang tidak baik, tidak pandai menjaga perasaan orang lain dan akan menimbulkan rasa sakit hati bagi setiap orang yang mendengar perkataannya. Rimbang hutan yang berasa pahit digunakan menggambarkan tingkah laku yang tidak baik, seperti suka bergaduh, mencuri, menipu, dan memfitnah. Kemudian di dalam Didong Jalu Idiris Cike, (paragraf: 07) menggunakan cabe merah dan rimbang hutan sebagai gambaran cerita yang disampaikan tidak baik untuk didengar dan tidak bermakna bagi para penonton persembahan.

v) Rumput
Rumput merupakan tumbuhan yang tumbuh di mana saja tanpa ditanam oleh siapa pun. Rumput dapat merusak tanaman yang ditanam oleh manusia. Rumput selalu menimbulkan kurang baik kepada tanam-tanaman dan memerlukan tenaga dan uang, jika kita ingin membersihkannya. Namun bagi masyarakat Gayo Lues rumput merupakan bagian dari alam yang dipercayai mempunyai makna bagi kehidupan manusia. Menurut Guru Didong Idris (paragraf: 09) rumput yang berasal dari biji-bijian (bibit), bermakna apa yang terjadi atas alam ini adalah secara sebab akibat dan proses ini akan berlangsung sampai hari kiamat. Apa yang kita hadapi dan kita laksanakan pada hari ini merupakan akibat langsung dari aktivitas dan kreativitas yang berlaku pada masa yang lalu.

vi) Bunga Renggali dan Nilam
Bagi masyarakat Gayo Lues bunga selalu digunakan untuk mengungkapkan rasa keindahan seseorang, terutama bunga yang indah bentuknya serta yang menimbulkan wangi seperti bunga kenanga, ros, dan kantil. Bunga juga dijadikan hiasan di dalam dan di halaman rumah. Bagi masyarakat Gayo Lues, bunga juga digunakan untuk menghiasi kepala pada masa persembahan saman, bines, dan didong. Pemakain hiasan bunga ini bertujuan untuk keindahan dan wangi-wangian bagi pemakainya. Bunga juga dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa suka dan duka. Ternyata juga bahwa masyarakat Gayo Lues menyenangi keindahan. Dalam Didong Jalu Guru Didong menggunakan bunga untuk hiasan kepala pada masa persembahan Didong Jalu. Bunga yang digunakan Guru Didong adalah bunga renggali dan bunga nilam, (Idris, paragraf: 10).

vii) Tembakau
Bagi masyarakat Gayo Lues, khususnya kaum laki-laki selalu menggunakan tembakau untuk rokok. Tembakau yang digulung dengan daun rokok, kemudian dihisap. Untuk kaum perempuan yang sudah lanjut usia tembakau digunakan untuk membersihkan gigi setelah makan atau minum. Bagi masyarakat Gayo Lues, jika laki-laki berkenalan akan memberikan tembakau dan rokok daun, jika perempuan akan memberikan tembakau dan sirih pinang.

Kebiasaan perkenalan dengan memberikan tembakau, daun rokok dan sirih pinang, sering berlanjut ke perkenalan lebih dekat dan berulang-ulang dan akhirnya menjadi sahabat. Persahabatan ini tidak hanya terjadi di antara kedua-dua orang tersebut, tetapi persahabatan dapat menyatukan kedua keluarga. Kedua keluarga akan saling mengunjungi, dalam peristiwa suka maupun peristiwa duka. Seperti dijelaskajn Guru Didong berikut ini:
Sebet orang yang baru kenal di dalam pergaulan sehari-hari, karena air satu tetes, karena rokok satu batang, karena tembakau satu suntil. Akhirnya menjadi sahabat seperti satu ayah satu ibu, (Ramli, paragraf: 26).

viii) Kelapa dan Tebu
Di daerah Kabupaten Gayo Lues ada dua kampung yang berada di Kecamatan Pining; yaitu, kampung Pining dan Uring. Kampung Pining hampir seratus persen penduduknya hidup dari bertanam kelapa. Buah kelapa yang dihasilkan berkualitas sangat baik. Begitu juga kampung Uring hampir seratus persen penduduknya bertanam tebu. Manisan tebu yang dihasilkan berkualitas sangat baik. Kualitas kelapa Pining maupun tebu Uring yang baik selalu menjadi contoh dan perumpamaan di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Begitu juga Guru Didong mengunakan kelapa Pining dan tebu Uring memuji cerita rakannya. Guru Didong Ramli menggunakan kelapa untuk memuji temannya karena rasa lemaknya dan menggunakan tebu karena rasa manisnya. Guru Didong menggunakan kelapa Pining, karena di daerah Pining banyak ditanami pohon kelapa dan menggunakan tebu Uring karena daerah Uring banyak ditanam pohon tebu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Kalau seperti dirimu bercerita, pandai menjaga hati melindungi perasaan. Rasa lemaknya seperti kelapa Pining, rasa manisnya seperti tebu Uring…, (Ramli: 48).

ix) Kopi
Bagi masyarakat Gayo Lues kopi, adalah minuman yang hampir disenangi oleh semua orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Bagi masyarakat Gayo Lues, kopi bukan sekedar minuman, tetapi kopi juga sebagai lambang keakraban dan kemurahan hati seseorang. Kopi selalu diberikan kepada tamu yang hadir ke rumah atau yang berjumpa di tempat-tempat lain, sehingga pemberian kopi dapat untuk meningkatkan hubungan kekeluargaan. Kopi sebagai lambang kemurahan hati, artinya dengan pemberian kopi dapat dianggap seseorang itu pemurah.

Kemudian kopi di dalam Didong Jalu, digunakan Guru Didong sebagai lambang pembagian tugas di dalam persembahan Didong. Pada bagian batang kedua Guru Didong musyawarah tentang siapa yang akan menanyakan pertanyaan teka-teki serta siapa pula yang mengikuti dan menyelididiki teka-teki. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Siapa yang pertama dan yang kedua, kita musyawarah. Siapa yang berjalan terduhulu membentangkan tali dan siapa yang mengikuti dari belakang mencari kesimpulan. Siapa yang duduk di hadapan untuk baca doa kenduri, siapa yang duduk di belakang untuk membuat kopi. Semuanya terserah kepada kita berdua (Idris, paragraf: 72).

6.3 Alam Fauna
Alam fauna adalah alam hewan. Berdasaskan peninggalan tulang-tulang (fosil) alam hewan sudah dikenal sejak zaman triasik sekitar 130.000.000 tahun lalu. Hewan adalah salah satu kumpulan makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt. yang berbeda dengan makhluk lainnya. Hewan memiliki naluri yang tinggi, sehingga hewan dapat menjalankan kehidupan tanpa belajar, (Azizah Shariff, 1993: 29).

Semua alam dan isi alam diciptakan oleh Allah Swt. untuk keperluan manusia. Manusia dapat menggunakannya dan menyesuaikan dengan keperluan yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Makhluk hewan yang digunakan Guru Didong adalah untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran yang disampaikan melalui Didong Jalu. Pemikiran-pemikiran tentang hewan yang terdapat dalam Didong Jalu adalah sebagai berikut:

i) Burung
Bagi masyarakat Gayo Lues, burung merupakan sejenis binatang yang hidup dan berkembang di alam lepas. Bagi masyarakat Gayo Lues, burung dapat digunakan sebagai simbol atau lambang di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya burung murai sebagai lambang kebijaksanaan. Suara burung balam sebagai kemerduan. Dalam Didong Jalu ini Guru Didong menggunakan burung elang untuk menyampaikan pesan.
Guru Didong menggunakan suara burung elang untuk mengundang tamu. Guru Didong memilih burung elang karena suara burung elang sangat merdu dan memiliki kekuatan suara yang luar biasa dibanding dengan burung lainnya. Ini dapat menyampaikan semua amanat kepada tamu yang akan diundang. Suara burung elang digunakan Guru Didong sebagai tanda dan makna mengundang tamu untuk melaksanakan persembahan Didong Jalu. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Sudah terdengar kicauan burung dan suara helang. Suara helang dan kicauan burung memberikan isyarat. Maknanya adalah untuk mengundang semua ahli famili pada malam Ahad. Jika tidak ada halangan; yaitu, barah sama bisul, patah atau terkilir, kalau ada izin dari Allah, kalau ada syafaat dari Rasul akan diadakan pesta perkawinan, (Ramli, paragraf: 01).

Kemudian Guru Didong menggunakan suara burung balam yang bersuara merdu hidup di alam lepas. Kemerduan suara dan keindahan warna digunakan untuk mengungkapkan pemikiran dalam bentuk pantun, sehingga persembahan Didong Jalu dapat menjadi lebih diminati oleh penonton persembahan, Seperti didendangkan oleh Guru Didong berikut ini:
Burung balam gunung bersuara merdu,
Akan kupetik dengan ujung jari.
Bulu keliling warna yang menarik,
Supaya jinak, saya petik lagi, (Idris, paragraf: 65)

Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, ayam dikelompokkan kepda jenis burung dan ayam dapat dibedakan menjadi ayam kampung, ayam ras (kurik lengek), dan ayam hutan. Ayam kampung dan ayam ras adalah ayam yang dipelihara oleh masyarkat dan ayam hutan adalah yang hidup di hutan. Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues dipercayai bahwa ayam kampung yang sedang mengeram pasti memiliki kutu (tungir). Kepastian ini akan menunjukkan semua yang terjadi adalah ketentuan dari Allah Swt. Manusia hanya menjalankan garis hidup yang sudah ditentukan oleh Maha Pencipta, (Idris, paragraf: 69).

ii) Serangga
Laba-laba merupakan serangga yang menyelamatkan Rasulullah. Ini tergambar dalam peristiwa Hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Mekkah ke Madinah, karena keamanan yang tidak terjamin di Mekkah, Nabi Muhammad Saw. lari dan bersembunyi di gua Hira’. Setelah Nabi Muhammad Saw. masuk ke tempat persembunyiannya, seterusnya jalan Nabi Muhammad Saw. ditutupi oleh laba-laba. Nabi Muhammad Saw tidak dapat ditemukan musuh dan Nabi Muhammad Saw. pun selamat. Ini artinya laba-laba dapat menyelamatkan Nabi Muhammad Saw. dari musuhnya.

Bagi masyarakat Gayo Lues, laba-laba berbeda dengan konsep dalam sejarah Islam, seperti peristiwa yang langsung dialami oleh Nabi Muhammad Saw. di atas. Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, laba-laba dianggap sebagai makhluk yang menggangu dan merusak di dalam kehidupan masyarkat Gayo Lues. Bahkan laba-laba digambarkan sama dengan buaya; yaitu, binatang yang ganas dan ditakuti oleh semua orang, (Ramli, paragraf: 02) Konsep masyarakat Gayo Lues tentang laba-laba tersebut hanya dilaksanakan di dalam kehidupan duniawi saja. Dalam konsep Islam yang dilaksanakan suku Gayo Lues tetap sama dengan konsep dalam agama Islam di atas.

iii) Siamang
Bagi masyarakat Gayo Lues, siamang dikenal bukan hanya karena kemerduan suaranya, tetapi siamang juga dikenali karena selalu bersuara pada waktu solat Zuhur dan solat Asar. Suara siamang menjadi tanda bagi masyarakat untuk melaksanakan solat Zuhur dan solat Asar. Suara siamang dapat didengar sampai ke kampung-kampung di kawasan Kabupaten Gayo Lues yang terletak di kawasan pinggiran hutan. Dapat dikatakan semua orang di Kabupaten Gayo Lues dapat mengenal suara siamang.

Kefahaman dan kemengertian orang Gayo Lues kepada siamang itu, memberikan kesempatan kepada Guru Didong menggunakan suara siamang untuk menyampaikan fikirannya melalui kemerduan dan keindahan suara siamang. Guru Didong menyampaikan fikirannya untuk menguji keberanian lawannya dalam persembahan Didong Jalu disampaikan dalam bentuk pantun. Seperti didendangkan Guru Didong berikut ini:
Hijau-hijau gununglah hijau,
Siamang memanggil setengah hari.
Sia-sia badanmu muda,
Jika tidak berani mati. (Idris, paragraf 65)

iv) Kerbau
Kerbau adalah hewan yang banyak ditemui di kawasan dataran tinggi Gayo Lues. Di samping kerbau sebagai hewan peliharaan ia dapat dijual untuk menghasilkan uang. Hewan ini dapat juga digunakan untuk membajak sawah dan menarik balok dari hutan. Kerbau juga dapat digunakan menarik gerobak untuk mengangkat barang-barang keperluan. Bagi masyarakat Gayo Lues di samping kekuatan tenaga kerbau, masyarakat juga meletakkan kerbau sebagai lambang ketidaktahuan atau ketidakfahaman. Guru Didong pada permulaan persembahan menyampaikan tentang ketidakfahaman dan kelemahan Guru Didong yang akan tampil dalam persembahan. Guru Didong menggambarkan seperti kerbau yang memasuki kampung yang serba kebingungan, seperti yang dikemukakan Guru Didong berikut ini:
Yang kami punya ini pun tidak berpengalaman. Seperti kerbau masuk kampung yang serba kebingungan. Badannya cuma besar, umurnya masih muda. Seperti kayu kering, sangat cepat dilalap api. Jika digertak mudah takut, kalau ditakuti mudah terkejut. Begitu pula kalau bercerita lebih banyak yang lupa dari yang diingat. Seperti anak masih belum pandai dan masih memerlukan pelajaran dan pendidikan. Cerita dan jalan cerita pedas seperti lada merah, pahit seperti rimbang hutan, (Idris, paragraf: 07).

6.4 Peralatan
Menurut Zakaria Auang Soh, (1994: 61), alam semesta ini adalah kesuluruhan ciptaan Allah Swt. yang menjadi tempat dan keperluan bagi manusia. Di dalam Didong Jalu kedua Guru Didong banyak menceritakan tentang peralatan yang digunakan manusia; yaitu, alat ukur, alat memasak, tepak, senjata, tampi, sapu, tinta, kertas, dan buku seperti berikut ini:

i) Alat Ukur
Dalam kehidupan suku Gayo Lues, ada beberapa alat ukur yang digunakan. Alat ukur untuk menentukan berat digunakan neraca, alat untuk menakar isi digunakan liter (are) dan batok kelapa (kal) dan alat untuk mengukur panjang digunakan jengkal dan hasta. Alat-alat ukur ini digunakan untuk menentukan takaran yang pasti, supaya tidak lebih atau tidak kurang. Artinya supaya semua keputusan yang diambil raja dapat diterima oleh semua pihak. Seperti diceritakan oleh Guru Didong berikut ini:
Raja yang memberi keputusan. Diukur dengan are tidak kurang. Ditimbang dengan neraca sudah sesuai. Satu are sudah sesuai empat kal. Satu hasta sudah pasti dua jengkal. Guna are untuk takaran. Guna hasta untuk mengukur panjang. Guna genggaman untuk memenuhkan takaran. Guna pelingkut untuk meratakan takaran. Guna neraca untuk menimbang, supaya tidak lebih berat ke sebelah kanan atau tidak lebih ringan ke sebelah kiri…, (Idris, paragraf: 16).

Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues sangat hati-hati dengan alat takaran. Mereka merasa takut jika takaran tidak sesuai. Oleh karena itu, untuk meratakan alat ukur digunakan kayu (pelingkut) untuk meratakan. Dengan pelingkut ini akan menghasilkan takaran isi yang tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Pelingkut digunakan untuk meratakan bagian atas alat ukur are dan kal. Kal dan are selalu digunakan untuk menyukat beras atau padi, (Idris, paragraf: 22).

ii) Alat Memasak
Bagi masyarakat Gayo Lues ada peristiwa suka dan ada peristiwa duka. Peristiwa suka atau kegembiraan ini selalu dimeriahkan, seperti pesta ayunan (pemberian nama), pesta penyerahan anak kepada guru (belajar ilmu adat dan agama), pesta sunat rasul (menjalanlan sunah rasul) dan pesta perkawinan (jika sudah ada jodoh atau pertemuan). Dalam pelaksanaan pesta tersebut selalu menggunakan alat-alat pesta seperti periuk, kuali, piring, dan sendok. Alat ini digunakan untuk keperluan makan tamu yang hadir dalam pesta yang sedang dilaksanakan, (Ramli, paragraf: 23).

iii) Tepak
Bagi masyarakat Gayo Lues tepak adalah barang yang sangat berharga. Berharga bukan karena nilai jual (uang), tetapi tepak merupakan barang yang berhubungan dengan budaya suku Gayo Lues. Misalnya, kalau ada pergaduhan antara satu kampung dengan kampung yang lainnya karena persoalan remaja atau persoalan lain, dengan mengirimkan tepak yang berisi sirih pinang, maka pihak lawan akan dapat menahan dan mengawal emosinya. Setelah menerima sirih pinang, jika tidak dapat mengawal emosi, maka ia akan menerima resikonya. Tepak juga digunakan masyarakat Gayo Lues untuk tempat sirih pinang guna menyampaikan lamaran kepada seorang anak dara. Di samping itu juga tepak digunakan untuk tempat sirih pinang untuk menyampaikan mohon maaf kepada semua lapisan masyarakat di dalam persembahan Didong Jalu, (Ramli, paragraf: 28) .

iv) Senjata
Bagi masyarakat Gayo Lues menjaga keselamatan diri-sendiri adalah hal yang penting. Jika pergi ke suatu tempat harus membawa senjata, seperti pedang dan tongkat. Pedang dapat digunakan untuk keperluan di perjalanan dan untuk menghadang musuh. Tongkat dipergunakan sebagai panduan, artinya di dalam kehidupan sehari-hari harus ada tuntunan. Supaya dapat selamat dan berhasil serta dapat didukung oleh semua pihak. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Jika anakku pergi, jangan lupa membawa pedang sebagai senjata. Jika ada kayu yang melintang dapat diluruskan, jika ada bahaya yang menghadang dapat dilawan. Nasihat dari ayah dan ibu, kalau berjalan harus bertongkat, kalau bercerita harus mempunyai pedoman…, (Idris, paragraf: 50).

v) Tangga
Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues, tangga tidak hanya digunakan untuk alat menaiki tempat yang tinggi, tetapi juga digunakan untuk perumpamaan bahwa naik harus melalui tangga. Artinya, apa saja yang kita lakukan harus berdasarkan kepada peraturan-peraturan yang sedang dilaksanakan, supaya apa yang kita lakukan dapat berhasil dan tidak menjadi masalah serta didukung oleh semua pihak. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
Jika pergi ke daerah lain, untuk bermain Didong Gayo, berjalan harus melalui jalan, naik harus melalui tangga, duduk harus pada tempat yang sudah disediakan…,(Idris, perenggan: 52).

vi) Tampi dan Sapu
Bagi masyarakat Gayo Lues tampi dan sapu memiliki makna yang tersendiri. Tampi yang digunakan untuk memisahkan beras dengan sekam dan padi. Sapu digunakan untuk membersihkan lantai. Perbuatan yang tergesa-gesa diumpamakan seperti menir berlomba ke ujung tampi dan sampah berlomba ke ujung sapu. Seperti dikemukakan Guru Didong berikut ini:
Mungkin diriku seperti menir yang terlalu cepat ke ujung tampi, seperti sampah berlomba-lomba ke ujung sapu. Mungkin saya terlalu cepat, sehingga merosak segala aturan. Semua itu saya serahkan kepada dirimu…, (Idris, paragraf: 67).

Pada bagian lain Guru Didong bercerita. Seperti berikut ini:
… mungkin terlalu cepat apa yang saya sampaikan atau terlalu lambat apa yang saya usulkan. Diriku bercerita seperti menir berlomba ke ujung tampi, seperti sampah berebut ke ujung sapu, (Ramli, paragraf: 82).

vii) Tinta dan Kertas
Menurut pemikiran masyarakat Gayo Lues bahwa dunia sebagai pentas kehidupan semua makhluk. Di atas dunia ini sangat banyak masalah, misalnya masalah di langit, di udara, di bumi dan di laut dan di antara kempatnya. Jika masalah itu dituliskan tidak akan cukup air laut untuk tintanya dan tidak akan cukup daun kayu untuk kertasnya. Seperti diceritakan Guru Didong berikut ini:
… jika kita ceritakan pun pulau yang banyak laut yang luas, tidak akan pernah selesai. Kita kaji pun banyaknya pulau tidak akan cukup air laut untuk tintanya. Jika kita kaji pun luasnya lautan, tidak akan cukup daun kayu untuk kertasnya, (Idris, paragraf: 68).

viii) Buku

Masyarakat Gayo Lues sudah menyadari perlunya pendidikan bagi setiap orang. Pendidikan ada yang bersifat formal dan informal. Pendidikan formal atau pendidikan resmi dapat didapatkan melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Universitas. Pendidikan non formal atau pendidikan yang tidak resmi melalui apa yang didengar, dirasakan, dialami dan dibaca pada setiap hari. Menurut faham masyarakat Gayo Lues untuk mendapatkan ilmu dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, melalui membaca buku yang sudah banyak ditulis pengarang dan diterbitkan oleh percetakan. Kedua, dapat bertanya kepada bapak dan ibu serta kepada guru, sehingga semuanya dapat menjadi jelas dan dapat difahami (Ramli, paragraf: 156).

III. Simpulan
Setelah mengkaji pemikiran tentang kosmos di dalam Didong Jalu, didapati bahwa, pertama, alam semesta yang digunakan oleh Guru Didong untuk mengungkap pemikiran meliputi dunia, bumi, langit, matahari, tanah, air, batu, laut, sungai angin, dan nama-nama tempat. Kedua, alam flora yang meliputi sirih pinang, randu hutan, nangka, cempedak, cabe merah, rimbang hutan, rumput, bunga renggali, nilam, tembakau, kelapa, tebu, dan kopi. Sirih pinang digunakan untuk jemputan pesta perkahwinan atau bersunat rasul. Randu hutan sebagai lambang ketidakmampuan dan kelemahan. Nangka dan cempedak digunakan untuk perbandingan yang penting dengan yang kurang penting. Cabe merah sebagai lambang ketidaksopanan dan rimbang hutan sebagai lambang kejahatan. Rumput yang berasal dari biji-bijian (bibit) sebagai bukti bahwa semua di atas alam ini terjadi secara sebab akibat. Ketiga, alam fauna yang meliputi burung, serangga, siamang, dan kerbau. Burung elang digunakan untuk menyampaikan amanat, jika ada pesta perkawinan atau sunat rasul. Burung balam digunakan karena kemerduan suaranya. Laba-laba disejajarkan dengan buaya dianggap sebagai perusak dan penghambat di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues. Siamang dikenal karena kekuatan dan kemerduan suaranya. Kerbau digunakan sebagai lambang ketidakmampuan atau ketidakfahaman. Keempat, peralatan yang digunakan masyarakat Gayo Lues meliputi untuk tempat mencari keadilan. Alat ukur neraca, are dan kal untuk takaran, supaya tidak lebih atau tidak kurang. Pelingkut untuk meratakan alat ukur sukatan supaya sesuai. Alat memasak periuk, kuali, piring, dan sendok digunakan dalam pelaksanaan pesta ayunan, pesta penyerahan anak kepada guru, pesta bersunat rasul dan pesta perkawinan. Tepak untuk tempat sirih dan pinang yang digunakan untuk menyampaikan undangan dan risikan. Pedang sebagai alat di dalam perjalanan dan tongkat sebagai pedoman di dalam kehidupan. Tangga sebagai perumpamaan, supaya di dalam kehidupan harus memiliki panduan. Tampi dan sapu sebagai perumpamaan ketidaksesuaian atau ketergesa-gesaan. Tinta dan kertas digunakan sebagai gambaran banyaknya persoalan di atas dunia ini. Jika dituliskan semua persoalan di atas dunia ini tidak akan cukup air laut untuk tintanya dan daun kayu untuk kertasnya. Buku merupakan bahan bacaan dan sumber ilmu.

Daftar Bacaan

Abdul G. Djapri. (1985) Mengintai Alam Metafisika. Surabaya: Bina Ilmu.
Abdul Rahman Abdullah. (1999) Falsafah Alam Semesta. Shah Alam: Lohprint Sdn. Bhd.
Arabi, Ibnu. (1999) Pohon Semesta (Terjemahan). Surabaya : Pustaka Progresif.
Atmazaki. (1990) Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Bandung: Angkasa Raya.
Azizah Shariff. (1993) Kenapa Mengapa Burung. Kuala Lumpur: Fargoes Sdn. Bhd.
Haron Daud. (2001) Mantera Malayu Analisis Pemikiran. Pulau Pinang:Universiti Sains Malaysia.
Hoerip Satyagraha. (1984) Cerita Pendek Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hossein Nasr, Seyyed. (1993) Doktrin Kosmologi Islam (Terjemahan). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
L. K. Ara at al. (1995) Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”. Jakarta:Yayasan Nusantara.
M. Melalatoa. (1985) Kamus Bahasa Gayo – Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
M. Sastraprateja. (1983) Manusia Multi Dimensional, Sebuah Renungan Falsafah. Jakarta: Gramedia.
Mahmud Junus. (1984) Terjemahan Al Quran. Bandung: PT. Al – Ma’Arip.
Muhammad Isa Selamat. (2000) Pedoman Menghapus Dosa. Kuala Lumpur: Darul Nu’man.
Ruskam Al Dawawy, Aminuddin. (1999) Konsep Kosmologi (Terjemahan). Malaysia: Universiti Teknologi Malaysia.
Sulaiman Hanafiah at al. (1984) Sastra Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sutejo Sujitno at al. (1995) Aceh Masa Lalu, Kini dan Masa Hadapan. Banda Aceh: Sekretariat Gubernur Daerah Istimewa Aceh.
Umar Yunus. (1981) Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Gramedia.
Warton, Thomas. (1974) History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago Press.
Zakaria Auang Soh. (1994) Kejadian dan Keadaan Alam Semesta. Kuala Lumpur: Berita
Publishing Sdn. Bhd.
Isma Tantawi

Isma Tantawi lahir pada tanggal 7 Februari 1960 di Kuning Aceh Tenggara (sekarang Kabupaten Gayo Lues). Beliau adalah staf pengajar tetap di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara mengasuh mata kuliah Sastra Bandingan, Estetika, dan Sastra Malaysia Modern serta mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara dan sebagai dosen tamu di Kolej Sentral Kuala Limpur, Malaysia. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (FS USU) tahun 1986 dan pendidikan master (S-2) di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia (PPIK USM) tahun 2006 dengan bidang kajian tradisi lisan nusantara. Di samping itu juga beliau aktif mengikuti seminar nasional dan internasional baik sebagai peserta maupun pemakalah.

Oleh Yusradi Usman Al-Gayoni *

Di kalangan masyarakat Gayo, khususnya di Takengon, Aceh Tengah, nama M. Yusin Saleh tidak asing lagi. Selain di Takengon, dan tanoh Gayo, beliau dikenal pula di Bireuen, juga di lingkungan Dinas Perternakan Aceh. Selain sebagai mantan Kadis Perternakan, di tanoh Gayo, M. Yusin dikenal sebagai pelaku sa’er, dan didong pada kelop Ketimil. Sa’er, dan didong merupakan dua dari sepuluh sastra lisan yang dimiliki masyarakat Gayo. Sa’er berisi puisi yang bertemakan nilai-nilai religius, yang biasanya “dinyanyikan” bersama. Sementara itu, didong merupakan konfigurasi puisi, vokal, dan gerak dengan berbagai topik, muatan, dan simbol sosial. Putra pasangan M. Saleh dengan Siti Halimah ini, lahir di Kampung Bujang, Takengon, Propinsi Aceh, tanggal 19 September 1947. Nama M. Saleh yang melekat di ujung namanya, tidak lain adalah nama bapaknya (bahasa Gayo= ama e).

Yusin Saleh hanya memiliki satu saudara perempuan, yaitu Hatijah Saleh, yang merupakan kakak sulungnya. Setelah Yusin tumbuh dewasa, dia kemudian melangsungkan pernikahan dengan Armiyani KAZET, yang saat ini berprofesi sebagai guru kesenian SMP Negeri 1 Takengon. Dari hasil perkawinannya, mereka dianugerahi dua anak, yaitu Ariayu Maharona, S.T., alumni Teknik Sipil Institute Teknologi Medan (ITM), dan Eriyosayu Winarona.

Tahun 1959, M. Yusin memasuki Sekolah Rakyat di kota Takengon, dan selesai tahun 1960. Kemudian, melanjutkan sekolahnya ke SMP Negeri 1 Takengon, dan selesai tahun 1963. Tahun 1966, selesai lagi dari SMA Negeri 1 Takengong sekarang. M. Yusin melanjutkan kuliahnya dengan mengambil jurusan perternakan di Universitas Syiahkuala (Unsyiah) pada tahun 1967. Setahun berikutnya, M. Yasin memperoleh gelar sarjana muda. Tahun 1972, M. Yusin menyelesaikan S-1-nya dengan jurusan, dan dari universitas yang sama. M. Yusin meneruskan kembali studinya, ke jenjang S-2 di DILI, Jakarta, tahun 1991. Gelar MBA pun diraihnya pada tahun 1992. Selama menjadi mahasiswa di Universitas Syiahkuala, Banda Aceh, M. Yusin aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, diantaranya, Senat Mahasiswa, dan Dewan Mahasiswa.

Setelah menyesaikan sarjana muda-nya, beliau bekerja sebagai pegawai negeri sipil. M. Yusin sempat menduduki Kepala Dinas Perternakan Biren, Kepala sekaligus Membangun Sekolah Pertanian & Perternakan (SPP) Biren, Kepala UPP SIE Asian Development Bank (ADB), Kepala UPT HM Ternak, Kasi Informasi Dinas Perternakan Propinsi Aceh, Kepala Dinas Perternakan Aceh Tengah tahun 1992-2002, Kepala Kesbang Limnas Aceh Tengah selama 16 bulan, Kepala Pembangunan Masyarakat Desa (PMD) Aceh Tengah, dan Kepala BAPELDALDA Aceh Tengah, dan pensiun tahun 2004. Saat yang bersamaan, M. Yusin ikut serta dalam Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI), dan Persatuan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI)

Saat bertugas di Takengon, M. Yusin tercatat sebagai salah seorang dosen Adat&Syari’at Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Aceh Tengah (STIHMAT) tahun 1996, dosen Adat&Syari’at Alwasliyah sejak tahun 2001 sampai 2004. M. Yusin juga mengasuh mata kuliah yang sama di Gajah Putih sejak tahun 1997 sampai sekarang. Juga, aktif di Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Takengon, Organisasi Muhammadiyah Aceh Tengah, dan LSM Peternak

Terkait dengan sastra lisan, M. Yusin terlibat dalam sa’er pada tahun 1957. Setahun kemudian, M. Yusin menjadi ceh sa’er. Pada saat itu, beliau biasa membawakan sa’er-sa’er yang diciptakan penya’er yang ada di Takengon. Terkait dengan didong, sejak tahun 1965, M. Yusin mulai ber-didong. Sejak kecil, khususnya saat ber-sa’er, M. Yusin terbiasa dengan pencarian makna. Dia kerap bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa makna yang mewataki kata-kata yang diciptakan ceh-ceh?” dan “Apa alasan pemilihan kata tadi?”.

Tak jarang, ketika M. Yusin mengalami kebuntuan dalam pencarian makna tersebut, beliau langsung menemui, dan bertanya kepada pencipta sa’er, dan ceh didong yang bersangkutan. Salah satunya, ceh kenamaan Gayo, yaitu Sali Gobal. M. Yusin yang ketika itu masih anak-anak biasa berguru makna kepada Sali Gobal terkait kandungan makna dalam karya-karyanya. Dapat dikatakan, sejak awal keterlibatannya dalam sa’er, lalu didong, M. Yusin, secara tidak sadar, sudah membenamkan dirinya dalam filsafat, filsafat bahasa, semantik, pragmatik, dan semiotika.

Selanjutnya, sejak tahun 2004, M. Yusin diamanahkan menjadi Sekretaris Majelis Adat Aceh Nenggeri Gayo (MAANGO), yang merupakan pengganti Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA), selain sebagai dosen di Gajah Putih Takengon. Sampai sejauh ini, M. Yusin telah menciptakan 300 sa’er dan didong Gayo. Karyanya hampir mencakup keseluruhan realitas kehidupan sosial masyarakat di tanoh Gayo, dan Aceh, mulai dari politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, keamanan, sejarah, lingkungan hidup, dan perkembangan terkini Gayo & Aceh.

Gambaran budaya masyarakat Gayo, dan berbagai perubahan yang berlangsung di Aceh terekam dengan jelas dalam karyanya. Dalam mencipta, M. Yusin mengikuti suasana hatinya. Ketika suasana hatinya mendukung, karyanya pun mengalir dengan mudah, dan sebaliknya. Disamping itu, karya yang dihasilkan M. Yusin kaya akan fakta, dan bermuatan sejarah. Alur, nilai, dan validitas kebenaran sejarah dalam karyanya, dikemas dengan sastra Gayo yang tinggi, enak didengar, dan melekat di ingatan pendengarnya.

Dalam mengisi kegiatan pensiunnya, disamping mengajar di Gajah Putih Takengon, aktif dalam kepengurusan MAANGO, menjadi pembicara, M. Yusin mulai fokus meneliti, dan menulis soal adat, resam, peraturen, dan kebudayaan Gayo. Saat ini, M. Yusin sedang merampungkan penulisan buku perihal “Gramatika Bahasa Gayo,” yang isinya cukup ilmiah dengan pengalaman empiris langsung M. Yusin sebagai salah seorang “penutur tua” bahasa Gayo, pelaku & ceh sa’er, ceh didong, ditambah amatan yang sudah berlangsung lama. Bagi penulis, M. Yusin Saleh merupakan salah satu “Guru Besar Bahasa Gayo,” yang mana, kualitas dan kemampuannya soal bahasa Gayo tidak disangsikan lagi.

*Pemerhati Kebudayaan Gayo, Mahasiswa Pascasarjana Linguistik Konsentrasi Ekolinguistik Universitas Sumatera Utara (USU) Medan

Ike engonko kanang ilangit

tenenku sulit penyakit denem

Ikirimenpeh lembatah kelumit

Ken uak ni penyakit ariwasni beden

(Ade-ade didong yang sama lirik dan syair lagu dari Tekangon)

Didong meruapakan kesenian dua daerah yang seetnis, yaitu Gayo Lues dan Takengon, namun kesenian tersebut tidak sama dalam memainkannya, demikian juga isi dan pesan-pesan yang disampaikan kepada penonton.

Didong Aceh Tengah

Didong Takengon-Bener Meriah dimainkan oleh sejumlah pemain dengan menggunakan beberapa ceh didong (pembawa lagu-red). Posisi permainnya dengan melingkar dan mempergunakan alat bantu bantal sebagai alat untuk ditepuk untuk mengiringi irama syair.

Pesan-pesan yang disampaikan disesuaikan dengan tema yang akan ditampilkan. Dalam didong inti permainnya mengandalkan kemerduan suara, kelihaian merangkai kata-syair dan teka teki yang harus dijawab pihak lawan atau sebaliknya.

Hampir 75 persen desa yang ada di Takengon memiliki group didong. Kesenian ini dtampilkan dalam berbagai keperluan, mulai dari pesta perkawinan, sunat rasul sampai kepada pertandingan. Kesenian ini dalam perkembangannya telah mampu melanglangbuana sampai keberbagai daerah ditanah air, mereka terorganisir dan pembinaannya terus menerus dilakukan oleh pemerintah daerah.

Karena ceh maupun masyarakat Aceh tengah memiliki seni dan irama suara yang indah sehingga membuat kesenian daerah terbut bangkit dan digemari. Saat ini para seniman dataran tinggi itu bukan hanya mampu mengembangkan didong, tetapi merek mampu merelis lagu dan masuk dalam studio rekaman, kaset dan CD mereka sudah banyak yang beredar.

Didong Gayo Lues

Didong Gayo Gayo Lues berbeda dengan didong Takengon Aceh Tengah. Didong Gayo hanya dimainkan oleh dua orang Pegawe Didong (ceh_red). Masing peserta membawa pasukannya sampai satu desa rombongan yang terdiri dari pemuda dan pemudi.

Dalam melakukan didong kedua Pegawe Didong melakukannya dengan berdiri di atas selembar papap. Papan ini gunanya untuk menghentakan kaki pada saat berdidong yang disesuaikan dengan syair irama yang sedang dibawakan. Dipihak lain papan ini gunakan untuk melakukan Geridik (hentakan kaki dengan cepat dan berirama-red).

Para Pegawe didong selalu mekai kain panjang sebagai pembalut tubuh dalam menari, terkadang kain ini dijadikan lalat menari bagaikan sambar menyambar. Sementara di kepala Guru Didong dipakaikan Bulang Teleng (penutup kepala dari kain yang diputar-red), dan selalu diselipkan bunga di atas kepala.

Dalam syairnya ada beberapa macam model lantunan yang berbentu Sek (ratapan panjang berirama-red), sek inilah menentukan kemerduan suara para Guru Didong. Ada juga syair yang berisi pantun, teka teki, cerita dan nyanyian.

Ada beberapa tahapan dalam melakukan didong, terutama dalam menyampaikan syair-syair. Pertama Tabi Ni Didong (syair wajib pad permulaan melantunkan didong-red). Syair ini wajib dilakukan kedua Pegawe Didong secara bergantian. Tahapan berikutnya berupa syair-syair yang diselingi oleh Ade-Ade (sama dengan lirik dan irama kesenian Takengon-red), tahapan ini memberikan kesempatan kepada pasukan yang duduk di bawah untuk melantunkan syair-syairnya.

Inti dari didong ini adalah Mungune (teka teki-red). Teka teki ini dilakukan secara bergantian yang isinya hanya dua. Pertama membuka pertanyaan masalah syara’-agama dan kedua masalah adat istiadat. Apabila yang Pegawe Didong yang ditanyai bisa menjawab pertanyaan lawan, maka tidak dibenarkan menjawabnya langsung, tetapi harus melalui tahap Sidik (selidik-red) terlebih dahulu, demikian juga nanti sebaliknya.

Kelihaian Menyidik (meneyelidiki-red) pertanyaan inilah nantinya ditentukan kalah menangnya. Yang amat menentukan kalah menangnya pertandingan ini adalah para tokok adat yang telah ditunjuk untuk itu, karena tidak jarang pata pemain didong melakukan kecurangan bertanya atau menyelidiki pertanyaan yang ada. Disamping itu yang berhak memberhentikan pertandingan adalah Tetue Edet (tokoh adat).

Yang paling menarik dalam didong ini adalah setelah usai pertandingan Pegawe Didong disuguhkan makan bersama oleh yang punya hajatan. Setelah selesai makan mereka menjadi Serinen (saudara-red), dan hasil tekai-teki yang barusan mereka peragakan saling membuka jawabannya. Dan didong ini diperagakan semalam suntuk.

Kendala Didong Gayo

Berbeda dengan perkembangan didong di Aceh Tengah-Bener Meriah, disamping mereka berdarah seni tinggi, juga pembinaannya yang dilakukan secara rutin, para senimannya memiliki naluri yang tinggi dalam melihat situasi dan perkembangan zaman. Ketekunan, ketelitian, rajin dan gemar berlatih merupakan modal utama dalam mengembangkan didong di daerah tersebut.

Didong Gayo terkesan monoton dalam penampilannya sehingga dalam keberadaannya semakin hari semakin terkendala. Contoh, kenapa masyarakat Gayo Lues yang memiliki didong tersendiri lebih menyukai didong Takengon?, bukan ini pertanda bahwa didong Gayo sudah tidak menjadi tempat lagi dihati masyarakat Gayo itu sendiri?, lalu siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana nasibnya kedepan?.

Dalam pengembangan dan keberadaannya dimasa datang, kita tidak bisa saling menyalahkan. Modal awal yang terpenting adalah menghilangkan budaya malu yang selama ini tertanam dalam jiwa seniman Gayo Lues. Dipihak lain menghilangkan kesan bahwa seniman tidak bisa menghasilkan uang. Jika kedua penomena ini dapat dihilangkan maka sudah menjadi modal dasar dalam pengembangan didong di Gayo Lues.

Langkah-langkah

Untuk pengembangan didong Gayo dimasa mendatang ada beberapa langkah-langkah yang perlu mendapat perhatian semua pihak:

Pegawe Didong.

Mereka diharapkan dapat menghasilkan karya-karya syair yang baik. Inilah selama ini terkesan tidak mendapat perhatian sehingga membuat didong tersebut monoton. Pegawe Didong seolah telah siap pakai pada setiap kesempatan penampilan, sementara mereka kurang berlatih dengan group yang ada ditempatnya masing-masing, apa yang telah dimiliki selama ini tentang lagu-syair maka itulah yang selalu dilantunkan.

Seringnya Pegawe Didong dalam berdidong memakai Penyurak (penyorak-red) bukan pasukan sendiri sehingga keutuhan group tidak nampak. Dipihak lain akibat rendahnya rasa seni dan tidak terlatih membuat syair-syair yang ditampilkan sedikit kasar.

Syair wajib dalam didong yang memang sudah baku tidak bisa dirobah dan dipersingkat, karena itu isi makna dari didong sebenarnya, Syair wajib ini yang tercantum dalam permulaan melakukan didong, didalam syairnya tersimpan pesan-pesan agama dan adat.

Dewan Kesenian.

Lembaga yang paling berkompeten dalam pembinaan didong ini adalag Dewan kesenian Gayo Lues. Namun lembaga ini tidak bergerak untuk memikirkan kelangsungan seni didong di daerah ini. Keberadaanya hanya diketahui pada saat penggantian pengurus, selebihnya hilang dari permukaan.

Apabila dewan kesenian mampu bergerak, banyak hak yang bisa diupayakan dalam rangka pembinaan seniman-seniman didong itu sendiri. Sebagai kenyataan sekarang ini amat sulit mencari Guru Didong disetiap kampung, kalapun ada Guru Didong sekarang ini hanya itu-itu saja orangnya dimana sebelum mereka berdidong kita sudah mengetahui bagaimana penampilan mereka nanti, sehingga kita tidak berminat menontonnya.

Masyarakat.

Masyarakat diminta dalam setiap ada upacara hajatan menghindari mengundang didong dari Takengon. Kenyataan ini juga sering dikeluhkan oleh para Pegawe Didong. Mereka sering mengeluhkan pembayaran, kenapa didong dari Takengon mampu dibayar mahal. Menyangkut masalah ini merupakan evaluasi juga bagi Pegawe didong dan jadikan sebagai tantangang agar masyarakat menyukai didong Gayo.

Kalaulah kita mengurai benang kusut didong Gayo Lues, banyak hal yang harus dibenahi dan dilakukan, ini tidak bisa dilakukan kalau tidak secara bersama-sama dan punya komitmen tinggi dalam mengangkat keberadaan didong Gayo dimasa yang akan datang.

Sebagai rasa tanggung jawab atas kelangsungan masa depan didong kita belum ketinggalan jika kita kembali bertekad memulainya sejak sekarang. Sudah saatnya kita singsingkan lengan baju untuk mempertahankan asset kesenian daerah ini. Betapa ada beberapa jenis kesenian Gayo yang telah punah dari permukaan, seperti Kederen, sining bines, didong niet dan lain-lain.

Sumber: Alabaspos.com

Oleh Yusradi Usman Al-Gayoni *

Abdul Latif, demikianlah nama salah seorang pengarang, sekaligus ceh pada kelop (kelompok/grup Didong) Kebinet, Bebesen, Takengon, Aceh. Kelop ini terbilang kelop tua dalam dunia didong di tanoh Gayo. Didong sendiri merupakan seni yang memadukan puisi, gerak, dan vokal. Tanggal 21 November 2009, kebetulan penulis bertemu Abdul Latif, yang kerap disapa Atif, di salah tempat pangkas rambut di Kampung Simpang Pet, Kecamatan Bebesen, Takengon. Bagi masyarakat Bebesen dan Takengon, Latif merupakan salah satu ceh kul (ceh legendaries, dan cukup disegani). Penulis kerap mendengar namanya dari masyarakat. Namun, belum pernah bertemu, dan bercerita secara khusus soal didong, dan keterlibatannya di dalamnya.

Karenanya, kesempatan yang jarang terjadi tersebut, penulis manfaatkan untuk menanyakan soal keterlibatannya dalam, dan umumnya soal didong. Tatapan kosong Atif tertuju pada antrian mobil yang ada di bawah. Kami sendiri; penulis, awan (kakek) Dahlan, dan ama (bapak) Atif berada di tempat yang lebih tinggi. Tepatnya, di tempat pangkasnya awan Dahlan. Gerimis hujan, menjadikan tempat tadi bertambah dingin, terlebih-lebih saat angin dari arah kampung Bebesen berhembus. Memang, saat itu, dan sejak penulis berada di Takengon, hampir setiap hari, kota Takengon terus diguyur hujan. Dengan penuh penjiwaan, keluar-lah suara yang kurang terdengar begitu jelas dari mulut Atif. Namun, penulis bisa menangkap warna, makna, dan pesan di balik suara tadi. Percakapan hangat pun berlangsung, saat guk khas Atif keluar. Sementara itu, awan Dahlan pun larut memangkas rambut penulis. Penulis lebih banyak diam, dengan sesekali bertanya, sembari mendengar guk puisi-puisi yang dilagukan, dan memperhatikan raut wajah, tambah bahasa tubuh Atif.

Atif yang sehari-hari berkerja sebagai toke kopi, memulai didong sejak tahun 1965. Pada saat itu, selain mencipta, Latif sudah menjadi ceh. Suara Latif begitu khas, “merdu” dan enak di dengar. Begitulah harusnya seorang ceh didong di tanoh Gayo. Selain mampu menciptakan lirik didong (puisi), seorang ceh harus memiliki suara yang bagus, dan mampu membawakan lirik-lirik tadi (menjadi vokalis didong). Namun, dewasa ini, kata Atif, banyak ceh yang tidak memenuhi syarat. Lebih banyak ceh-ceh-han. Umumnya ceh sekarang, hanya mampu membawakan lirikan didong. Itu pun karya ceh lain, yang sudah kerap dibawakan dalam didong, atau lagu. Belum lagi, suara-nya yang pas-pas-san. Ceh yang ada sekarang cenderung memaksakan diri, asal disebut ceh. Banyak ceh tidak lagi mampu mencipta, terlebih lagi dengan kandungan nilai-nilai, dan filsafat sastra Gayo yang tinggi. Enti mu lelang empus si nge lapang, kata Atif sambil tertawa. Artinya, jangan membersihkan rerumputan (yang ada di) kebun yang sudah lapang. Sebaliknya, harus mampu menciptakan karya sendiri, tidak plagiat, dan tidak mengklaim karya orang lain jadi milik sendiri.
Bagi Atif, didong harus mampu menjadi sarana pemersatu, dalam menciptakan harmoni sosial di tanoh Gayo, dan Aceh. Bagaimana mau harmoni, dalam perkembangan didong, ceh dan kelop didong sekarang, saling membuka aib. Bahasa yang digunakan, juga bahasa yang “vulgar,” langsung, dan cenderung kasar. Ceh sudah jarang yang berfilsafat, menggunakan filsafat bahasa, bahasa yang santun, dan tidak lagi memakai simbol-simbol. Dalam dunia didong, hal tadi terkandung dalam tamsil, dan ibarat. Begitulah pegeseran nilai, norma, dan budaya dalam didong, dan umumnya budaya orang yang berdiam di tanoh Gayo.

Selanjutnya, didong harus mampu bertindak sebagai sarana pembangunan “pencari dana sosial” (meminjam istilah Melalatoa). Ingatan penulis langsung tertuju pada “Mesejit Mutelong” (Masjid Terbakar), salah satu karya Abdullah Mongal, yang lebih dikenal dengan sapaan Gecik Tue Mongal. “Mesejit Mutelong” ini mengisahkan terbakarnya Mesjid Bebesen (sekarang Mesjid Besar Quba Bebesen yang ada di Takengon), yang dibakar anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), 21 Juli 1965. Ketika itu, pencarian dana pun dilakukan Kelop Kebinet di berbagai tempat di Takengon (termasuk Bener Meriah). Atif sendiri bertindak vokalis, yang dipercayakan membawakan lagu ini. Penonton tak mau ketinggalan, berduyun-duyun menyaksikan pementasan Atif, dan Kelop Kebinet dari kampung Bebesen, sambil bersedekah. Mesejit Mutelong ini begitu menggugah, menyetuh rasa, dan mendorong masyarakat Bebesen khususnya, umumnya masyarakat Takengon, bahkan sampai ke luar daerah, untuk terlibat langsung dalam rekonstruksi, dan rehabilitasi masjid, dan masyarakat Bebesen melalui berbagai bentuk donasi yang diberikan kala itu.

Fungsi yang kedua ini yang sudah jarang diperankan dalam sejarah didong kontemporer di tanoh Gayo. Pementasan terakhir (sepetahuan penulis), dalam bentuk didong jalu (bentuk didong yang dipertandingkan), berlangsung tanggal 21 November 2009 lalu, antara Kelop Sebaya Bujang, dengan ceh-nya Ikhwansyah, dari Kabupaten Aceh Tengah dan Kelop Meriah Dama, dengan Arifin Muslim yang juga bertindak sebagai ceh, dari Kabupaten Bener Meriah. Pementasan ini bertujuan untuk menggalang dana dalam pembangunan Gedung Laboratorium Micro Teaching Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Gajah Putih Takengon, yang lantai dua-nya digunakan untuk Lembaga Penelitian dan Pengembangan, sekaligus dipakai untuk Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat.

Terakhir, bagi Atif, kesenian tradisional Gayo ini harus mampu menjadi sarana kemajuan. Kemajuan yang dimaksud tidak sebatas pembangunan fisik, melalui penggalangan dana, melainkan non-fisik, baik dalam pembentukan pola pikir, pola sikap, maupun pola tindak yang “sehat,” dan baik. Kemudian, ceh, melalui karya, dan kelop didong, harus mampu memperkenalkan tanoh Gayo ke luar. Akibatnya, masyarakat luar, tahu potensi yang dimiliki tanoh Gayo. Pada akhirnya, mereka akan berinventasi ke daerah Gayo. Dengan begitu, akan tercipta kesinerjisan dalam pembangunan tanoh Gayo, baik ceh, rakyat, berbagai elemen masyarakat dengan masing-masing potensi yang dimiliki, pemerintah, dan pihak luar.
Dalam amatan penulis, Atif tidak lagi aktif berdidong seperti awal-awal keterlibatannya. Keterlibatannya dalam didong lebih karena pergaulan sosial. Dengan kata lain, Atif tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada didong. Kekurang-aktifannya dalam didong belakangan, dan dewasa ini, karena kurangnya penghargaan kepada ceh-ceh. Para ceh dan kelop didong diperlukan hanya untuk saat, dan keperluan tertentu. Setelah itu, para ceh, dan kelop didong “dicampakkan” begitu saja. Tak jarang, karya ceh banyak yang digubah, “diambil” ceh, atau pihak lain, dengan sengaja, dan tanpa izin “di curi.” Begitu juga dengan pemerintah, yang masih kurang menghargai ceh, terutama yang berkenaan dengan ekonomi ceh “kelangsungan hidup.” Akibatnya, ceh tak mampu fokus, dan total dalam mencipta, dan ber-didong, karena benturan perkara dapur. Umumnya, memang masih belum ada pembangunan kebudayaan, termasuk di dalamnya pembangunan sejarah, dan pembangunan pendidikan yang jelas, tepat, terarah, dan berkelanjutan di tanoh Gayo, khususnya di Takengon. Semua dibiarkan berlalu, dan hilang tanpa ada sentuhan, dan upaya penyelamatan. Walaupun, dewasa ini pergeseran nilai, norma, dan budaya masyarakat Gayo terjadi begitu deras.

Begitulah gambaran kecil pemikiran, dan kontribusi Atif selaku ceh dalam dunia didong di tanoh Gayo, Aceh, khususnya di Takengon dan Bener Meriah. Begitu pula ceh, dan kelop didong lainnya. Keberadaan mereka tutur berkontribusi bagi perkembangan daerah. Sumbangsih pemikiran, dan peran serta ceh dalam didong, berhasil membentuk konstruksi, dan harmonisasi sosial, serta berbagai kemajuan yang dicapai di tanoh Gayo. Bahkan, didong telah pula mengenalkan tanoh Gayo ke dunia luar. Alhasil, melalui didong, nahma, derajat, dan marwah daerah ini, Takengon, tanoh Gayo, dan Aceh turut pula terangkat.

*Pemerhati Kebudayaan Gayo, Mahasiswa Pascasarjana Linguistik Konsentrasi Ekolinguistik Universitas Sumatera Utara (USU) Medan

Oleh Yusra Habib Abdul Gani

Konfigurasi gerak tari Saman, selama ini dipahami orang sebagai kreasi seni tari biasa. Tak hanya bisa dimainkan orang Gayo dalam bahasa Gayo, tetapi juga bisa dipentaskan oleh siapa saja dan dalam bahasa apa saja. Ini kesalahan fatal sekaligus pelecehan terhadap missi dari Saman itu sendiri. Tari sejuta tangan ini tidak bisa dicerna dan dihayati, sekiranya tidak memahami keseluruhan gerak yang diperagakan. Saman adalah tari yang mengandung konsep jihad yang disimbulkan lewat irama dan gerak. Dari komposisi, sjèh (pemimpin) atau disebut juga ‘Pengangkat’ mesti duduk di tengah para pemain yang jumlahnya ganjil (13, 15 atau 17 orang). Sjèh bukan remote untuk menggerakkan orang lain beraksi, tetapi sosok pemimpin yang mesti sinkron dengan aturan main; memimpin sekaligus menjadi orang yang dipimpin. Tari Saman tidak menghendaki terjadi: “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sementara kamu mengelakkan diri…” (Q: Al-Baqarah, ayat 44).

Karena tari ini dimainkan dalam bentuk group, maka sjech bukan tokoh tungggal yang dikultuskan. Dia didampingi oleh ‘Pengapit’ (staf) sebelah kiri dan kanan yang berperan membantu gerak maupun syair. Jadi, tari Saman, menolak falsafah ‘individualism’, dan menganut penegakan ‘colletivism’. Kebersamaan harus disokong dan diperkuat oleh tiang penyangga antara sesama anggota. Karena itu, dipasang ‘Penupang’, yang posisinya berada di sisi paling kanan dan kiri. Peranan ‘penupang’ disifatkan sebagai akar tunggang rumput “jejerun” (bahasa Gayo), sebagai simbol kekokohan. Komitmen “Bersatu teguh, bercerai rubuh.” maka jangan ada satu pun anggota yang membuat kesilapan dan kesalahan gerak. Karena akan berimbas dan menghancurkan seluruh gerak dan irama. Jadi, sinkronisasi gerak dan persamaan perasaan sangat diutamakan. Ini berarti, pemimpin baik dalam situasi revolusi atau damai, harus berada di tengah-tengah masyarakat, tidak merasa dirinya sebagai tokoh tunggal, akan tetapi sebagai bentuk kekuatan kolektif yang ditopang oleh jamaah.

Tari Saman dimulai dengan gerak “Rengum”, yakni: suara ngauman dipimpin oleh syèh, senyawa dengan ucapan “salam”. Pada tahap ini, terdengar suara magic berdengung, mengalun bersama ayunan tubuh yang lentur dalam posisi ‘berlembuku’ rapat membujur membentuk garis horizontal, sambil melafadhkan kalimah:

“Hmmmm laila la ho

Hmmmm laila la ho

Hmmmm tiada Tuhan selain Allah

Hmmmm tiada Tuhan selain Allah”

Nada dan gerak “rengum” adalah ‘kasat, ‘takrat’ dan ‘takyin’ untuk memulai tari, agar masing-masing peserta memusatkan kekuatan (concentration). Atasnama kalimat tauhid inilah gerak group bermula. “Rengum” diucapkan dalam suara minor yang mampu menggetarkan jiwa-jiwa yang mati dan perasaan kuyu menjadi garang. Kalimat tauhid ini sengaja disisipkan sjèh Saman (tokoh penemu Saman) sebagai missi jihad dan dakwah Islam lewat tari Saman yang sebelumnya diperankan dalam “Pok Ane-ané” (permainan rakyat yang dimainkan secara bebas). Keseragaman dalam gerak “rengum”, bagaikan sebilah pedang Samurai yang sudah diisi dengan kalimat tauhid untuk melakukan berapa varian gerak berikutnya. Gerak ini menukar rasa ke-aku-an (individualism) kepada rasa ke-kami-an dan akhirnya wujud rasa ke-kita-an (collectivism) dan melarutkan diri masing-masing ke dalam lautan gerak dan irama hidup. Mereka layaknya seperti pasukan lebah menyerang, dimana sang ratu lebah tidak nampak; semua penari adalah komandan dan anak buah. Inilah yang disebut “ratip sara anguk, nyawa sara peluk” (“ratip satu angguk, nyawa satu peluk”). Dalam falsafah Aceh dikatakan: “hudép beusaré, maté beusadjan, sikrék kapan saboh keureunda”. Gerak “rengum”, selain dikenal dalam Saman, terdapat juga dalam pengantar mantra doa untuk menghidupkan ‘pedang berkunci’, yaitu: alat perang yang khas di tanah Gayo. Inilah proses pengenalan diri dalam jiwa masing-masing.

Tahap kedua adalah gerak “Dering”, yaitu: varian gerak yang dimainkan oleh semua penari. Gerak ini diantarkan oleh irama ‘Ulu ni lagu’ ( ‘kepala lagu)’. Para penari akan memasuki tahap memperagakan pelbagai ragam gerak. Proses perubahan dari gerak “rengum” kepada “dering” hanya berlangsung dalam seketita saja. Setelah dirangsang oleh suara syèh, secara perlahan-lahan penari memperagakan variasi gerak tangan, menepuk dada, gesekan badan dan putaran kepala. Pada peringkat ini, suara dan gerakannya masih datar dan lamban.

“Dering” adalah sylabus pengajaran kepada masyarakat yang berbeda tingkat kesadaran, pengetahuan dan pemahaman; tidak ada unsur paksaan, disuarakan dalam bahasa asli (Gayo) yang sopan dan jelas. Barulah kemudian, syèh mengalunkan suara melengking, sekaligus memberi aba-aba akan memasuki tahap gerak cepat. ‘Warning’ itu berbunyi: “Inget-inget pongku male i guncang” (“Ingat-ingat teman akan diguncang”). Inilah klimaks gerakan tari saman, dimana penari secara optimal mengetengahkan varian gerak putaran kepala yang mengangguk (girik), tangan yang menepuk dada dan paha maupun gerakan badan ke atas-bawah, miring ke kiri-kanan bersilang (singkéh) maupun petikan jari (kertèk). Di sini tidak terdapat lirik, irama dan suara. Sepenuhnya aksi. Di tengah kemucak itu, tiba-tiba menyusul gerak “Uak ni kemuh” (“obatnya gerak”) atau gerak neutral yang disenyawakan dengan nada minor yang datar. Saat stamina penari pulih semula, aksi gerak cepat beraksi kembali. Inilah tahap kesaksian dan pengenalan fakta yang disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Tahap ketiga adalah: gerak “Redet”. Menampilkan lagu dalam lirik singkat dan jelas. Ianya pesan singkat yang harus didengar sambil menanti arahan selanjutnya. Pengkabaran (informasi) agar orang tahu persis akan pesan yang disampaikan. Yang berarti, manusia adalah pelaku dari informasi yang didengarnya!

Tahap keempat adalah: gerak “Syèh”. Menyampaikan warkah. Pada peringkat ini, syèh mengalunkan lagu dengan suara tinggi melengking dan panjang, sebagai aba-aba akan terjadi pertukaran gerak. Inilah kiat dari roda kehidupan manusia yang sarat dengan perubahan. Penciptaan dan penghancuran; penjajahan dan kemerdekaan; kekayaan dan kemiskinan; kehidupan dan kematian.

Tahap kelima (terakhir) adalah: gerak “Saur” atau penutup. Gerak ini adalah pengulangan bunyi reff yang disuarakan syèh oleh seluruh penari. Ini mengisaratkan tentang bay’ah massal, dedikasi, setia dan taat kepada pemimpin. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa: “Rengum” adalah kesadaran, kesaksian dan komitmen; “dering” berarti introspeksi, pengenalan, pengajaran dan kesopanan; “Redet” adalah pesan singkat, nota penting dan harapan; “Syèh” ialah seruan umum, imamah dan tanggungjawab dan “Saur” yang berarti pernyataan kesetiaan, dedikasi dan kekompakan.

Keseluruhan variasi gerak Saman seperti: guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua bahasa Gayo) adalah refleksi dari pesan-pesan, hanya saja orang acuh dan hanya terpaku dengan geraknya. Saman bukan konsep hijrah dan menyerang (ofensive) melainkan konsep bertahan (defensive). Di sini dibuktikan bahwa, refleksi ruh tari Saman terpantul dalam perang melawan Belanda di Kuta Rèh, Penosan, dll tahun 1907. Ketika pasukan Van Dallen merambah masuk ke Gayo Luwes; hanya orang yang sudah melewati “rengum”, “dering”, “Redet”, “Syèh” dan “Saur” saja yang bersabung dengan serdadu Belanda. Selebihnya: anak-anak, perempuan dan lekaki tidak menyelamatkan diri ke dalam hutan. Mereka membentuk gerak Saman dengan cara merapatkan shaff (ingat: barisan penari Saman yang membentuk garis horizontal) dan mengurung diri dalam satu kawasan yang dipagar dengan babu runcing. Tidak mau bergeming. Inilah sumpah tentang: tanah, negara dan kehormatan. Di atas yang bertuah ini kami lahir dan mati dengan darah. Darah adalah rahasia! Dalam konteks ini, Van Dallen berkata: “sepanjang sejarah penaklukan bangsa-bangsa lain, belum pernah kami mendapati orang yang begitu berani dan fanatik, kecuali: orang Gayo.”

Orang Gayo hanya tahu mempertahankan diri, bukan melarikan diri. Itu sebabnya, semasa perang melawan Belanda, mereka tidak menyelamatkan diri ke luar Aceh. Bagaimana aplikasi jiwa Saman dalam situasi sekarang? Haruskah mengisolasi diri dalam pagar “kuta Rèh”?, No! Saatnya orang Gayo Lues menyatukan diri dalam kebulatan tekad dan suara untuk menentukan nasib masa depan Daerah ke arah yang lebih maju dan gerak Saman perlu ditafsirkan semula dalam konteks kehidupan ke-kini-an kita. Insya-Allah!

* Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research

Sumber:  serambinews.com, 22 November 2009

Oleh Khalisuddin

6 Nopember 1908, 101 tahun lalu, Cut Nyak Dhien yang paling ditakuti penjajah Belanda berpulang ke Rahmatullah di negeri pengasingan yang nan jauh dari Aceh saat itu, Sumedang Jawa Barat.

Seseorang yang pernah sangat dekat dengan pemilik julukan “Ibu Perdu” ini, dalam perannya sebagai Panyair dalam film dokumenter bertajuk Cut Nyak Dhien, Ibrahim Kadir sang Penyair, putra Gayo yang lahir dan besar di Takengon merasakan layaknya ikut berperang dengan penuh heroik membela agama dan kehormatan jengkal demi jengkal tanah Aceh melawan Belanda kafir bersama Cut Nyak Dhien. Penyair, adalah nafas sebuah perjuangan rakyat Aceh. Ibrahim Kadir sangat bangga dan beruntung pernah menjadi orang kepercayaan Cut Nyak Dhien walau hanya dalam sebuah episode film.

Sangat beruntung, Ibrahim Kadir sang Penyair ternyata tidak begitu sulit di cari. Mengisi hari-hari tuanya, sang penyair dipercayakan menjadi tampuk pimpinan pembangunan Masjid Babussalam Kemili kabupaten Aceh Tengah. setiap waktu shalat wajib tiba, dipastikan Ibrahim ada bersama jama’ah masjid tersebut.

Assalamu’alaikum, ucap kami kepada seorang lelaki tua berpakaian biru dengan peci hitam dikepala yang duduk sendiri di teras Masjid Babussalam Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Aceh Tengah, Kamis (5/11) sore. “Wa’alaikum salam, waktu belum masuk waktu ashar, kalau belum wudhu’ silahkan disebelah sana tempatnya,” jawab lelaki tersebut ramah.

“Iya Ama, sebenarnya kami ingin ngobrol dengan Ama,” kata teman yang bersama saya, Munawardi, seorang pemerhati sejarah Gayo di Aceh Tengah. Ama, bahasa Gayo yang berarti bapak.

Pria pemegang peran Penyair dalam film Cut Nyak Dhien yang diproduksi tahun 1988 dan menjadi film terbaik di piala Citra, ajang penjurian perfilman nasional di tahun yang sama. Film yang disutradarai Eros Djarot tersebut juga menjadi film pertama Indonesia yang ditayang di festival film Chanes Prancis tahun 1989.

Diawali dengan perkenalan dan menguatarkan maksud pertemuan, sesaat kemudian kami hanya mendengar penuturan seniman gaek ini. Dari cara bercerita, Ibrahim Kadir tampak sangat menjiwai perannya dan masih sangat ingat semua yang dialami saat melakoni Penyair dalam film bergengsi tersebut.

Tanggal 6 Nopember, apakah bapak ingat sesuatu ? sesaat pria tersebut tercenung seperti mengingat-ingat sesuatu.
“Aduh, saya ingat. Besok 6 Nopember adalah hari wafatnya Cut Nyak Dhien,” jawab Ibrahim Kadir dengan wajah yang tiba-tiba cerah bersemangat. “Saya sang penyair yang mengumandangkan Allahu Akbar dan menyanyikan Hikayat Prang Sabi untuk membakar semangat pejuang Aceh untuk melawan Ulanda Kape. Saya pernah bertengkar dengan Pang Laot. Saya katakan kepada dia “Hei Panglima Laot!, Dengan senjatamu kamu tidak akan bisa usir Kafir Belanda dari Aceh. Tapi dengan syair-syairku kafir-kafir itu akan tunggang langgang hengkang dari Aceh.”

Apa tugas dan fungsi Penyair dalam perang Aceh ?
Para Panglima boleh mati, akan tetapi penyair tak kan pernah mati. Saat Cut Nya’ Dhien dan para pejuang kelihatan lemah dan turun semangat, serta merta penyair hadir untuk kumandang Azan dan mengaji, dendangkan hikayat Perang Sabi dan pekikkan Allahu Akbar. Ketauhidan para pejuang dan rakyat Aceh yang membuat Kafir Belanda tidak bisa menaklukkan Aceh.

Lalu apa syair yang paling berkesan bagi Bapak ?
Cut Nyak Dhien pernah bertanya kepada saya. Penyair, apa syair yang paling indah ?, saya menjawab Allahu Akbar. Itulah syair yang terbaik di jagat raya ini.

Bagaimana Bapak melihat sosok Cut Nyak Dhien ?
Walau perempuan, Cut Nyak Dhien sangat kuat dan siap berperang lahir dan bathin karena dia adalah sosok yang bersih, imannya kuat. Belanda bisa kuasai raganya akan tetapi takkan pernah kuasai ketauhidan Cut Nyak Dhien serta seluruh rakyat Aceh.

Bagaimana perasaan Bapak saat ikut ambil peran dalam film Cut Nyak Dhien ?
Wah…sangat istimewa, saya seperti berada dalam kejadian sesungguhnya, apalagi saat film tersebut sudah jadi dan diputarkan. Tak terkatakan perasaan saya saat melihat acting saya dalam film tersebut. Saya tak percaya bahwa itu saya.

Bagaimana bisa terpilih sebagai actor ?
Aneh bin ajaib, suatu mu’jizat dalam hidup saya. Saya bertemu Eros Djarot dan kawan-kawan di Hotel Renggali Danau Laut Tawar Aceh Tengah. Saat itu, saya sebagai pelatih Didong yang dipertunjukkan kepada para insan film nasional tersebut. Sebelumnya saya tak kenal Eros Djarot, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Pietrajaya Burnama dan lain-lain. Eros menanyai saya, kita mau buat film Cut Nyak Dhien dan sedang cari pemain untuk Penyair. Apakah bapak bersedia datang ke Sigli ikut di tes dengan peran Penyair ?. Saya menjawab seadanya, bersedia.

Kira-kira satu bulan kemudian, Sekda Aceh Tengah yang dijabat M. Syarif menghubungi saya untuk ikuti tes di Sigli. Kepada Sekda tersebut saya jawab, saya tidak usah ikut, dan tak mungkin lulus. Saya juga tidak punya uang untuk ongkos. Sekda tetap memaksa saya, lalu saya diberi uang, cukup untuk ongkos PP dan makan satu hari. Kalo tidak lulus, harus langsung pulang ke Takengon.

Saya kemudian berangkat seadanya tanpa bawa perlengkapan pakaian. Saya hanya penuhi permintaan Sekda untuk ikut. Tiba di Sigli persis pukul 5 sore. Saya kaget, ternyata Eros Djarot, Slamet rahardjo, Christine Hakim, Pietrajaya Burnama. LK Ara juga sebagai peserta dan puluhan peserta lainnya sudah ada disana. Sesaat kemudian Eros Djarot langsung menuyuruh baca naskah film. Sebentar, sekitar 5 menit dan langsung di tes. Keinginan saya hanya ingin proses tersebut segera berlalu dan langsung pulang ke Takengon. Saya tak baca naskah tersebut dengan baik dengan alasan sebagai orang Aceh sudah faham sejarah Aceh.

Lalu apa yang ditanya Eros Djarot ?
Sebagai rakyat Aceh, bagaimana sikap rakyat Aceh saat melawan Belanda. Saya jawab, ini film Aceh bukan film Jawa, tentu tidak sama. Kalau orang Jawa menyapa tamu, singgah Mas, mau kopi ? silahkan diminum, dan lain-lain. Intinya, Jawa sangat ramah dan lemah lembut. Dan karena sikap seperti itu Jawa bisa dijajah hingga 350 tahun.

Nah kalau di Aceh, orang asing yang datang akan ditanya, so nyoe !, dari pane ?, na Assalamu’alaikum ? Han. Cang laju. Karena orang Aceh seperti itu maka Belanda tak berkutik di Aceh.

Eros kelihatan kaget, dan bertanya kepada rekan-rekannya. Nah, anda lihat, anda lihat. Itu orangnya.
Saya bingung, kenapa dan ada apa dengan saya . Eros kemudian katakan “selesai”. Saya betul-betul bingung saat itu. Apalagi setelah Eros katakan hasil testing diumumkan di Anjungan Mon Mata Banda Aceh. Saya tidak punya uang dan hanya bawa pakaian di badan.

Tak hilang akal, saya melobi LK Ara, jika saya tidak lulus maka LK Ara beri ongkos pulang ke Takengon. LK Ara setuju. Dan jadilah saya ke Banda Aceh.

Setibanya di Anjungan Mon Mata, saya tidak percaya diri untuk masuk. Saya bersama rekan seniman asal Gayo di Banda Aceh, Mursalan Ardy mengobrol saja diluar gedung. Saya tidak tahu jika seluruh pembesar dan tokoh-tokoh Aceh sudah berada di dalam Anjungan. Dari Ahli Adat, Gubernur Ibrahim Hasan, Kapolda Aceh Abullah Moeda, petinggi meliter, para rektor perguruan tinggi dan lain-lain.

Saya sama sekali tidak ikuti prosesi acara tersebut, termasuk saat Eros berpidato dan melaporkan hasil tes actor kepada para undangan yang hadir. “Semua pemeran untuk film Cut Nyak Dhien sudah lengkap. Untuk peran Teuku Umar, Slamet Raharjo, Cut Nyak Dhien oleh Christine Hakim, Pang Laot Pietrajaya Burnama, sebagai Nyak Bantu Rita Zahara. Untuk pemeran Penyair yang menembangkan Hikayat Perang Sabi membangunkan semangat perang rakyat Aceh sudah didapat, yakni dari “Jantungnya Aceh, Tanah Gayo” yakni Ibrahim Kadir.

Para pemeran terpilih dipersilahkan maju ke depan para undangan. Lalu, saat nama saya dipanggil, saya tidak dengar karena saya berada diluar. Sampai seseorang berteriak berulang-ulang, mana Ibrahim Kadir. Saya menjawab, hadir, ada apa ?. Orang itu meyuruh saya masuk. Akan tetapi malah saya spontan jawab, untuk apa ?.

Rekan saya, Mursalan menegur, tidak baik bersikap seperti itu, ayo masuk, ajak Mursalan. Saat berada di pintu Anjungan, Eros menunjuk, itu Ibrahim Kadir, kamu lulus. Saya bingung dan spontan menjawab, Lulus Apa ?.

Kemudian saya minta pengumunan diulang. Belum lagi selesai Eros mengulang pengumunan, Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan mendatangi saya yang masih tetap berdiri di depan pintu. “Ibrahim dari Gayo Aceh Tengah, ke depan kamu,” kata Ibrahim Hasan.

Di depan, saya kemudian dipeluk Ibrahim Hasan sambil berpesan, Bawa nama Aceh, kamu salah satu yang lulus jadi pemeran penting dalam film Cut Nyak Dhien, yakni sebagai Penyair. Gubenur kemudian menyelipkan Rencong Emas ke pinggang saya. Saya menangis terharu. Ibu Gubenur juga ikut-ikutan beri amanah, sebagai putra Aceh saya harus bawa nama Aceh.

Lalu bagaimana dengan rival-rival bapak ?
Hehehe., yang lucu sahabat saya, LK Ara yang mengaku sudah tiga bulan menyiapkan diri untuk terpilih sebagai pemeran Penyair akan tetapi tidak lulus. LK Ara ucapkan selamat kepada saya, tapi sambil berkata, ongkos pulang ke Takengon yang dijanjikan dibatalkan. Saat itu, diantara tangis kami tertawa terbahak-bahak.

Jadi untuk pemeran yang termasuk utama hanya bapak yang dari Aceh ?
Kalau melalui tes resmi iya, tapi ada seorang anak yang berperan sebagai Agam, pemerannya Kamaruzzaman asal Sigli dan sekarang bekerja di Jakarta. Khusus untuk cerita anak ini, saya bingung, sebenarnya anak siapa dia ?, benarkan keponakan Cut Nyak Dhien ?.

Perkiraan saya, anak tersebut adalah anak korban syahid kekejaman Belanda di Tenge Besi Kabupaten Bener Meriah sekarang. Dari tiga orang yang dibuang Belanda ke Sumedang, anak itu adalah salah satunya. Anehnya, tidak adanya catatan sejarah kemana anak itu pergi setelah Cut Nyak Dhien wafat di Sumedang.

Pembicaraan kemudian berakhir seiring dikumdangkannya Azan pertanda waktu Ashar sudah tiba.

Oleh Sabela Gayo*

Terpilihnya Qory Sandioriva sebagai Putri Indonesia tahun 2009 merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gayo yang berada di Provinsi Aceh bahkan diseluruh Indonesia. Ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa dimana dengan persaingan yang demikian ketat, Qory Sandioriva berhasil menyisihkan kontestan putri Indonesia lainnya.

Kecaman yang dilontarkan oleh berbagai kalangan di Provinsi Aceh terutama yang datang dari Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara tgk Mustafa Puteh, Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) merupakan kecaman yang penuh dengan nuansa “sentimen negatif” dengan berkedok islam. Kiya tidak bisa mengukur keimanan seseorang hanya dari pakaian/jilbab yang dipakai, tetapi untuk mengukur kadar keimanan seseorang haruslah dilakukan secara komprehensif dari berbagai sisi dan parameter yang ada. Di satu sisi ulama di Aceh sangat agresif atas terpilihnya Qory sandioriva sebagai Putri Indonesia lantaran tidak memakai jilbab, tetapi sebaliknya pada saat qanun jinayat dan qanun acara jinayat disahkan oleh DPR Aceh, banyak kalangan di Aceh bahkan ulama-ulama dayah yang keberatan diberlakukannya Qanun Jinayat dan Qanun Acara Jinayat. Disini saja terlihat inkonsistensi dan perpecahan pendapat dikalangan ulama Aceh sendiri dalam hal penerapan syari’at islam secara kaffah. Bahkan ada seorang ulama dayah Aceh mengatakan bahwa “Qanun Jinayat perlu adanya sosialisasi, harus dipertimbangkan kembali dan jangan diberlakukan secara langsung. Untuk hal yang besar saja seperti qanun jinayat dan qanun acara jinayat, para ulama masih berbeda pendapat tentang perlu/tidaknya diterapkan, tetapi mengapa untuk masalah kecil seperti jilbab, mereka seperti orang yang kebakaran jenggot?. Ulama jangan sampai terlibat bahkan terjebak pada isu-isu yang tidak terlalu penting dan strategis, seperti halnya jilbab tersebut.

Hukum positif di indonesia hari ini masih mengakui bahwa pelaksanaan pemilihan putri Indonesia adalah sah dan tidak bertentangan dengan aturan hukum yang ada. Dan sepanjang yang kami ketahui belum ada fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai sebuah Lembaga Ulama yang diakui keberadaannya di Indonesia, yang mengeluarkan fatwa bahwa ajang Pemilihan Putri Indonesia haram dan orang yang mengikuti kontes Putri Indonesia dikategorikan hukumnya sebagai orang yang tidak beriman dan sebagainya.

Indonesia adalah sebuah Negara hukum yang mengakui keberadaan agama terutama keberadaan hukum islam sebagai salah satu pilar pembentukan hukum nasional, tetapi sepanjang aturan-aturan islam belum diabsorpsi (diserap) ke dalam hukum positif Indonesia, maka hukum islam hanya mengikat secara personal keislamanan.

Jilbab adalah sesuatu alat penutup kepala kaum wanita yang menurut hukum positif di Indonesia bukan merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan melainkan hanya sebatas hak. Kalau kita mau mengkaji tentang jilbab di Indonesia, pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita mau mengkaji jilbab dari sisi hukum positif Indonesia/dari hukum Islam?, dalam konteks ke-Indonesia-an pemakaian jilbab merupakan hak individu/pribadi yang tidak dapat kita paksakan, pemakaian jilbab harus muncul dari kesadaran pribadi/individu tersebut. Untuk kasus terpilihnya Qory Sandioriva dalam ajang Kontes Pemilihan Putri Indonesia 2009, pemakaian jilbab tidak lazim dilakukan karena ada mahkota/tanda kebesaran yang harus dipakai peserta yang mana apabila memakai jilbab kemungkinan besar penyematan mahkota/tanda kebesaran tersebut menjadi sulit dilakukan.

Memakai jilbab/tidak memakai jilbab adalah masalah khilafiyah yang tidak akan pernah selesai-selesai apabila dibahas, sama halnya dengan permasalahan khilafiyah apakah shalat subuh pakai qunut/tidak. Bagi saya pribadi bukan menjadi permasalahan yang besar apakah orang tersebut pakai jilbab/tidak, yang paling penting bagi saya adalah apakah orang tersebut shalat lima waktu/tidak?, ada orang yang tiap hari pakai jilbab terus tapi perbuatannya justru berkhalwat terus, dan sebaliknya ada juga orang yang tidak pakai jilbab tapi shalat lima waktunya tidak pernah tinggal. Pakai jilbab/tidak untuk memukur kadar keislaman/keimanan seseorang masih sangat relatif sekali dan tidak memiliki parameter yang jelas. Kita jangan sampai terjebak pada simbolisasi-simbolisasi semata tanpa memperdulikan penguatan-penguatan aqidah keislama di tingkat masyarakat luas.

Pendapat negatif, tudingan miring, bahkan penolakan secara sistematis, atas terpilihnya Qory Sandioriva sebagai Putri Indonesia yang bertujuan untuk menjatuhkan citra Qory Sandioriva secara pribadi, apalagi yang dilontarkan oleh berbagai kalangan di Aceh terutama oleh MPU Aceh Utara, HUDA dan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Aceh,Mirzan Fuady dengan mengatasnamakan Aceh merupakan bentuk perbuatan yang “kurang dewasa” dan “kurang bersahaja”. Kalau mau diprotes jangan kontestan Putri Indonesia nya yang dikecam tetapi kecamlah panitia pelaksana Kontes Putri Indonesia dan pihak-pihak lain yang mendukung acara tersebut. Sebagai contoh: “kalau mau memberantas ganja, orang yang tanam ganja yang harus dihukum mati agar orang lain tidak bisa beli/mendapatkan ganja”. Kalau mau mengecam Putri Indonesia, kecamlah Panitia Pelaksana/pihak-pihak yang mendukung agar supaya tidak ada orang yang ikut kontes pemilihan Putri Indonesia”

Kalau memang Pemerintah Provinsi Aceh tidak mau “mengakui” Qory Sandioriva sebagai Putri Indonesia yang mewakili Aceh bahkan tidak merasa pernah mengirimkan wakilnya untuk mengikuti kontes Putri Indonesia sebagaimana yang dilontarkan oleh Munir Fuady di harian Rakyat Aceh edisi Minggu 11 Oktober 2009, berarti Qory Sandioriva adalah Putri Indonesia yang mewakili Gayo, dari Provinsi Aceh.(karena kebetulan saja Tanoh Gayo secara administratif masih berada dibawah pemerintahan provinsi Aceh).

Semoga kasus ini menjadi bahan renungan bagi masyarakat gayo dimanapun berada bahwa pelaksanaan syariat islam tidak hanya ditentukan oleh simbol-simbol belaka tetapi juga harus merupakan cerminan dari pribadi orang yang bersangkutan. Maju terus adinda ku Qory Sandioriva.

* Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pemuda Gayo.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.