You are currently browsing the category archive for the ‘Sejarah’ category.

Oleh: Win Ruhdi Bathin dan Khalisuddin

Tidak ada yang tidak mengenal nama Tengku Ibrahim Aman Samsir. Penduduk Jaluk Kecamatan Ketol yang kini berusia 89 tahun. Namanya pernah dibicarakan petani kopi Takengon dan Bener Meriah yang berjmulah ratusan ribu orang.

Bahkan rumah dan kebun Tengku Ibrahim yang terletak di Jaluk setiap hari ramai dikunjungi petani dari antero Takengon dan Bener Meriah mencari bibit kopi Ateng yang sudah berbuah di usia 1 tahun dengan tinggi batang kurang dari satu meter.

Kopi Ateng Jaluk bahkan dibawa ke , Jawa, Sumatera , Kalimantan hingga ke Belgia. Itulah sepenggal kisah tenarnya Tengku Ibrahim Aman Samsir, lelaki berperawakan kecil, berkulit gelap dan murah senyum.Orang yang pertama sekali menemukan sebuah varitas kopi yang berbuah di usia satu tahun dengan jumlah buah yang melimpah dan batangnya pendek. Kopi ini kemudian diberi nama Ateng Jaluk, dari jenis Arabika atau Catimor Jaluk. Sejak tahun 1980 hingga kini.

Tidak sulit mencari Tengku Ibrahim Aman Samsir di Kampung Jaluk. Dia sudah sepuh (tua). Badannya kurus. Tapi ingatannya masih kuat. Nada bicaranya jelas dan suka melucu.Saat tertawa, matanya mengecil , hidungnya tampak semakin mancung, gusinya terlihat kosong, sepeti gusi bayi. Giginya sudah tanggal .

Kerut-kerut diwajahnya tergambar jelas. Rahangnya menonjol .Tampak dia seorang pekerja keras. Kulitnya legam dibakar matahari. Tapi senyum dan tawanya lepas tanpa beban.

Walau kulitnya hitam, tampak bersih dan meneduhkan. Dari kalimatnya, tampak sekali Tengku Ibrahim dekat dengan Sang Khaliq. Saat saya dan Khalisuddin menjambangi rumah sederhananya, Minggu (8/11). Rumahnya terbuat dari papan seperti rumah petani kebanyakan yang sangat sederhana. Berukuran sekitar lima kali sepuluh meter.

Tidak ada peralatan mewah, kecuali sebuah kenderaan roda dua yang sudah tua mereka Honda. Di ruang tamu tampak sebuah tempat tidur tanpa kasur. Kami duduk di sofa tua. Tengku Ibrahim ditemani seorang dari 15 cucunya bernama Yusuf berusia sekitar enam tahun yang menggantungkan ketapel di lehernya.

Setelah membalas salam dan bersalaman. Kami memperkenalkan diri. Tengku Ibrahim Aman Samsir mengenakan selop Setelah membalas salam dan bersalaman. Kami memperkenalkan diri. Tengku Ibrahim Aman Samsir mengenakan selop merek Lily, sandal pavorit orang tua. Berwarna biru. Berbahan plastic dengan dua tali.

Bajunya, baju koko yang dilipat hingga dibawah siku dan memakai sarung. Di kepalanya sebuah kopiah berwarna hitam berbahan beludru tampak tak lekang meski sudah tampak lusuh.

Sambil mengeluarkan plastic putih ukuran satu ons dari kantungnya yang berisi tembakau dan daun nipah, Tengku Ibrahim Aman Samsir, memulai kisah penemuan kopi Ateng Jaluk yang telah mengantarkan puluhan atau bahkan ratusan petani kopi ke Mekah menunaikan rukun Islam kelima.Tapi Tengku Ibrahim Aman Samsir belum haji, meski sangat memimpikannya.

Menurut Tengku Ibrahim Aman Samsir, penemuan varitas kopi Ateng Jaluk terjadi secara tidak sengaja. Di tahun 1980, Dinas Perkebunan membuat pembibitan kopi Tim-tim di Simpang Juli Angkup.

“Pak Wahab, pegawai Dinas Perkebunan membagikan bibit kopi Tim-tim kepada petani di Jaluk. Jumlahnya 2000 batang untuk satu hektar. Sebelum bibit Tim-tim dibagikan, petani sudah menanami kebunnya dengan kopi arabika yang berasal dari Burni Bius dan Belang Gele”, ujar Tengku Ibrahim Aman Samsir seraya menarik asap rokoknya dalam-dalam.

Saat mengisap rokok, pipinya tampak peot dan tulang rahangnya semakin menonjol. Setelah kopi yang dibagikan Disbun berumur dua tahun, disalah satu bagian kebunnya yang tidak jauh dari rumahnya di pinggir jalan Buntul Jaluk, Tengku Ibrahim melihat sebuah batang kopi yang berbeda dengan kopi lainnya.

“Batangnya pendek, sudah berbuah. Dengan jumlah buah yang banyak dan rapat setiap tungkunya. Seperti buah kopi Robusta”, kata Tengku Ibrahim Aman Samsir. Karena merasa kopi tersebut luar biasa dan berbeda dengan varitas kopi yang telah ada selama ini dimana usia tiga tahun kopi baru berbuah, Tengku Ibrahim Aman Samsir coba mengambil buah kopi yang masak.

“Awalnya saya kira buahnya yang masak tidak berbiji. Tapi ternyata bijinya normal seperti kopi lainnya”, papar Bapak dari Samsir, Narmi, Gazali, Zamli dan M Jamil ini.Tengku Ibrahim Aman Samsir .

Tengku Ibrahim Aman Samsir masih merahasiakan penemuan kopi yang dianggapnya unggul tersebut. Setelah memetik buah kopi yang masak. Suami dari Aisyah yang kini sudah wafat ini, coba menyemainya langsung didekat kopi Ateng yang pertama sekali ditemukannya itu.

“Biji kopi Ateng yang saya semai itu tumbuh normal namun habis diseruduk babi yang mencari cacing disana. Saat itu saya berada di Ketol menunggui buah durian yang sedang berbuah”, sebut Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Tidak putus asa, Tengku Ibrahim Aman Samsir kembali menyemai buah kopi dari batang kopi Ateng yang saat itu masih sebatang saja. Setelah bibit kopi tumbuh, mulailah warga sekitar Kampung Buntul Jaluk meminta bibit kopi yang dianggap luar biasa tersebut.

“Ada yang hanya minta dua bibit, lima batang bibit hingga seratus batang. Di tahun 1987, informasi tentang kopi Ateng Jaluk sudah tersebar luas”, papar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

“Nama kopi Ateng diberikan warga yang datang meminta bibit. Karena masih kecil sudah berbuah, orang menyebutnya Kopi Ateng Jaluk”, kenang Ibrahim Aman Samsir tentang nama “Kopi Ateng Jaluk” yang kemudian menjadi nama yang dipakai untuk kopi ini hingga saat ini.

Ditahun 1988, hampir semua pekebun kopi Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah menanam kopi Ateng Jaluk. Ada kisah menarik yang diceritakan Ibrahim Aman Samsir. Seorang warga yang telah meminta bibit kopi Ateng mengadu kepada Ibrahim Aman Samsir. Benih kopi Ateng Jaluk yang disemai di bedengan di kebun warga tersebut, hilang dicuri orang.

Dengan kemurahan hatinya, Tengku Ibrahim Aman Samsir mengganti bibit warga yang dicuri orang tersebut seraya berkata, “ yang dicuri orang itu punya saya. Ini saya berikan gantinya”, kata Tengku Ibrahim Aman Sasir sambil tertawa lepas.

Warga atau petani yang terus mendatangi rumah dan kebunnya untuk mencari bibit kopi Ateng Jaluk kala itu menghargai sendiri bibit kopi Ateng yang dimiliki Tengku Ibrahi Aman Samsir dalam bentuk biji.

“Warga sendiri yang menghargai perbambu kopi Ateng untuk bibit Rp.25 ribu. Saya tidak pernah mematok harganya. Terserah keikhlasan. Banyak juga yang tidak memiliki uang tapi bibit kopi tetap saya berikan”, ujar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Dalam kesederhanaanya, Tengku Ibrahim Aman Samsir tidak lantas lupa diri. Dia biasa saja. Perubahan ekonomi secara drastic tidak tampak pada Tengku Ibrahim Aman Samsir. Kebanyakan kopi Ateng Jaluk yang ditemukan dan dikembangkannya , kebanyakan memang diminta petani sepertinya tanpa patokan harga atau jual beli.

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan penyebaran kopi Ateng Jaluk diantero Datarn Tinggi Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues, tetangga Tengku Ibrahim Aman Samsir kerap bercerita kepadanya yang menceritakan kopi Ateng Jaluk temuan Tengku Ibrahim Aman Samsir yang dinilai sangat membantu petani karena setahun sudah panen.

‘Ada warga atau petani yang mengucapkan rasa terima kasihnya kepada saya dan berpamitan naik haji dari kebun kopi Ateng yang mereka tanam.”Allah yang mengembangkannya. Tidak bisa kita batasi”, sebut Tengku Ibrahim Aman Samsir sambil tersenyum lepas.

Dijelaskan Tengku Ibrahim Aman Samsir, berdasarkan pengalamannya menanam kopi Ateng, kopi Ateng sebaiknya ditanam tidak lebih dari 10 tahun saja. Dengan jarak tanam 1 X 1 meter. Kemudian diganti lagi dengan tanaman baru. “Jika lebih dari 10 tahun, buahnya tetap banyak namun lebih kecil bijinya”, papar Tengku Ibrahim Aman Samsir.

Karena berusia setahun sudah panen, menurut Tengku Ibrahim Aman Samsir, banyak petani kopi yang mampu membayar hutang dengan menanam Kopi Ateng Jaluk.Umumnya kopi ini ditanam di bukaan lahan kopi yang baru ditebang (hutan) atau dibekas hutan yang sudah ditebang lama yang sudah ditumbuhi rumput atau ilalang (tamas mude).

Jika selama ini berbagai varitas kopi yang ditanam petani umumnya baru mulai berbuah setelah ditanam tiga tahun. Hadirnya kopi Ateng Jaluk yang tumbuh ditanah kebun Tengku Ibrahim Aman Samsir yang kemudian diperbanyak dan disebarnya, telah membuat petani dapat menghasilkan uang dari kopi tidak lebih dari setahun.

Jauh hari sebelum Tengku Ibrahim menemukan kopi Ateng Jaluk. Suatu ketika saat berada di kebun kopinya yang sebagian ditanam kopi Robusta sedang berbuah lebat. Tengku Ibrahim melihat buah kopi Robusta yang tiap ruasnya dipenuhi puluhan buah kopi dengan jarak tungku yang rapat.

“Ah , seandainya ada kopi arabika yang berbuah seperti kopi robusta, petani pasti lebih sejahtera” guman Tengku Ibrahi seolah berbicara pada dirinya sendiri seraya mengamati kopi Robusta.

“Tidak lama kemudian apa yang saya pikirkan diijabah Allah”, ungkap Tengku Ibrahim Aman Samsir. Meski berhasil mengembangkan kopi catimor Ateng Jaluk, Tengku Ibrahim Aman Samsir yang kini berusia 89 tahun, terlihat low profile dan sederhana sekali, seperti kebanyakan petani kopi yang masih miskin.

Atas semua usaha itu, Pemda pernah memberinya uang Rp.4 juta dan sebuah piagam penghargaan yang dikeluarkan Kepala Dinas Perkebunan. Itu saja , tidak lebih. Lelaki sepuh yang pernah menjadi tentara DI (Daru Islam) ini masih menyimpan obsesi menunaikan haji, rukun Islam kelima.

Tengku Ibrahim Aman Samsir mengantar kami ke batang kopi Ateng Jaluk pertama tumbuh di kebunnya , tidak jauh dari rumahnya. Persis di samping Mesjid Baitul Hikmah. Pohon Ateng Jaluk pertama tumbuh ini masih menghasilkan meski telah berusia 29 tahun. Kopi ini sudah ditumbuhi lumut.

Dan Tengku Ibrahim Aman Samsir masih menyimpan mimpi naik Haji. Adakah dermawan Aceh yang bisa mewujudkan mimpi petani pedalaman Aceh Tengah di Kampung Buntul Jaluk itu?, waktu jua yang menjawabnya. (win dan khalis)

Oleh Win Wan Nur

Takengon, saat ini adalah nama resmi untuk menyebut ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang juga kota terbesar di dataran tinggi Gayo. Nama ini dipakai secara resmi entah itu di peta atau untuk menyebut setiap instansi yang ada di kota ini.

Entah darimana asal muasalnya dan entah siapa yang memulai membuat teori ini, di Gayo sendiri banyak yang percaya kalau asal-usul nama Takengon adalah berasal dari kata bahasa Gayo “Beta ku engon” yang artinya begitu saya lihat.

Sekilas nama ini memang masuk akal, apalagi kalau asal-usul nama itu ditambah dengan cerita sejarah berbau spekulatif yang mengatakan kalau itu adalah ekspresi dari Genali (orang pertama yang dipercaya menemukan kota ini) saat pertama kali melihat danau yang menjadi ciri khgas lansekap kota ini dari salah satu bukit yang mengelilinginya.

Ketika berbicara dengan orang dari luar kota ini dan menanyakan asal, orang asal Kota ini memperkenalkan kota asalnya sebagai kota Takengon. Bahkan di kalangan suku-suku Aceh non-Gayo, nama Takengon secara de facto dipakai untuk menggantikan nama Gayo. Di Banda Aceh misalnya, oleh suku-suku Aceh lainnya darimana pun asalnya, “orang Gayo” lebih umum dipanggil sebagai “orang Takengon”. Tidak peduli darimanapun asalnya, entah dari Tingkem, Ponok Baru, Ketol, Timang Gajah bahkan Isaq daN Lumut.

Berpedoman pada nama Takengon ini pula, di kalangan suku Aceh pesisir berkembang cerita tentang asal usul nama Kota ini, dengan sumber yang lebih tidak jelas lagi juntrungannya. Menurut beberapa orang Aceh pesisir, nama Kota Takengon itu berasal dari kata “Taki Ngon”, kata-kata bahasa Aceh yang berarti “menipu teman”. Lebih kacau lagi ada juga orang Aceh pesisir yang bilang nama Takengon berasal dari “Tak Ngon”, artinya membacok teman. Keduanya sama sekali tidak berkonotasi positif.

Tapi anehnya meskipun cerita tentang asal usul nama Kota Takengon versi orang Gayo di atas cukup masuk akal. Tapi orang Gayo sendiri, jika sedang berbicara dalam bahasa Gayo, sama sekali tidak pernah menyebut nama ini dengan nama Takengon. Ketika berbicara dalam bahasa Gayo orang gayo menyebut nama Kota ini dengan nama “Takengen” (huruf “e” pertama dibaca seperti “e” dalam kata “tempe” dan huruf e kedua dibaca seperti “e” dalam kata “sendu”). Pengucapan ini misalnya dapat kita dengar dalam lirik sebuah lagu Gayo legendaris karangan seniman besar almarhum AR Moese ” Kin Takengen aku denem”, bukan “Kin Takengon aku denem”.

Berdasarkan fakta inilah saya berpendapat bahwa nama asli kota kelahiran saya ini adalah TAKENGEN bukan TAKENGON. Nama Takengen sendiri saya yakin berasal dari kata dalam bahasa Gayo yang dibentuk dari kata dasar “Takeng” dan akhiran “en”. Kemungkinan ini adalah bahasa Gayo lama yang karena seperti banyak bahasa daerah lainnya bukanlah bahasa tertulis, kata-kata lama tersebut sudah banyak yang hilang digantikan kata-kata serapan baru dan tidak diketahui lagi artinya. Apalagi dalam berbahasa orang Gayo cepat sekali terpengaruh terhadap ungkapan-ungkapan baru. Baca : http://winwannur.blogspot.com/2008/12/takengen-setelah-10-tahun.html

Dalam bahasa Gayo akhiran “en” digunakan untuk menjelaskan tempat dilakukannya sebuah aktifitas. Misalnya “perempusen” yang berarti tempat berempus (berkebun), pelipenen yang berarti tempat berlipe (menyeberang sungai), peruweren yang berarti tempat beruwer (mengandangkan kerbau), Didisen yang tempat melakukan aktifitas Berdidis (menangkap ikan depik yang memijah di pinggir danau). Begitulah, dengan mengikuti pola yang sama seperti pembentukan kata-kata di atas, maka Takengen maksudnya adalah tempat melakukan aktifitas “bertakeng” yang entah apa artinya.

Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas bahwa di kota kelahiran atau di tempat lain di dataran tinggi Gayo, orang Gayo hanya menyebut nama Takengon ketika mereka sedang berbicara dalam bahasa melayu, baik itu ketika berbicara dengan suku-suku Non-Gayo atau sesama orang Gayo sendiri.

Kebiasaan penyebutan nama Takengon ini bermula nama ini telah dilekatkan pada kota ini oleh pemerintah kolonial Belanda. Di samping itu saya pikir, penyebutan nama Takengon menjadi semakin kuat dan melekat dan dijadikan nama resmi kota ini oleh orang Gayo sendiri tidak lain karena masalah prestise. Dibanding nama Takengen (Nama kota ini ketika diucapkan dalam bahasa Gayo), di telinga orang Gayo nama Takengon (Nama Kota ini ketika diucapkan dalam bahasa Melayu) terdengar lebih keren.

Terbentuknya pola prestise seperti ini dalam masyarakat Gayo tidak bisa dilepaskan dari peristiwa merebaknya euforia modernisme di kota kecil kelahiran saya ini pada masa awal kemerdekaan dulu.

Pada masa itu, di negeri saya, modernisme kurang lebih dipahami sebagai segala sesuatu yang berbau ‘luar’. Entah itu cara beragama, cara bersikap, bentuk rumah tinggal, cara berpakaian sampai penggunaan bahasa saat berbicara.

Praktek keagamaan misalnya, praktek lama yang banyak mengamodasi praktek-praktek religius lokal (kaum tue) diangap tidak modern dan kuno, karenanya praktek keagamaan ala “kaum tue” ini tidak begitu populer di kota ini.

Sejak masa awal kemerdekaan para pemeluk Islam yang tinggal di kota kelahiran saya lebih banyak menganut faham yang dipengaruhi oleh pemikiran Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh yang dibawa ke kota ini oleh anggota Muhammadiyah yang belajar di Minang dan orang Gayo yang belajar Islam di perguruan Al Irsyad Surabaya . Di banding “kaum tue”, paham yang disebut “kaum mude” ini lebih tegas membatasi praktek-praktek keagamaan yang diadopsi dari kebiasaan pra Islam. Paham ini disebut ‘Kaum Mude”.

Untuk rumah tinggal, pada masa itu, semua “Umah pitu ruang” (rumah adat Gayo) di kota kelahiran saya ini dihancurkan untuk diganti dengan rumah-rumah kayu modern, berbentuk ruko yang bertingkat dua. Di beberapa tempat, seperti daerah pasar pagi dan Bebesen, “rumah-rumah modern” yang menggantikan “Umah pitu ruang” ini masih bisa kita saksikan sampai hari ini.

Dalam hal berpakaian, demi modernitas, pakaian adat lama juga ditinggalkan dan diganti dengan pakaian modern, untuk mempertegas ditinggalkannya cara hidup lama itu, di Blang Kejeren, para perempuan membakar pakaian adat gayo di depan umum (Bowen 1991: 112).

Perilaku berbahasa juga demikian, bahasa melayu yang menjadi bahasa nasional di negara ini pun naik kasta menjadi bahasa yang memiliki status lebih tinggi dibanding bahasa Gayo yang merupakan bahasa sehari-hari orang-orang yang tinggal di daerah ini.

Sebagaimana paham ‘kaum mude”, rumah berbentuk ruko dan pakaian ala barat. Oleh masyarakat yang tinggal di kota kelahiran saya ini, penguasaan bahasa Melayu dianggap sebagai cermin modernitas. Secara umum masyarakat memandang status keluarga yang dalam keseharian berbicara dalam bahasa Melayu lebih tinggi dibanding orang yang dalam keluarganya berbicara dalam bahasa Gayo. Dalam pandangan masyarakat kota ini, orang yang dalam keseharian berbicara dalam bahasa melayu terkesan lebih terpelajar.

Cara pandang seperti inilah yang membuat penyebutan nama Takengon terdengar lebih keren dibanding nama Takengen.

Begitulah yang terjadi di Gayo pasca hengkangnya penjajah kolonial, tapi itu semua tidak menjawab asal usul nama Takengon.

Tapi, asal-usul nama TAKENGON akan terlihat sangat jelas jika kita membaca “Het Gajoland en Zijne Bewoners” (Tanah Gayo dan penduduknya) sebuah karya antropologis dari Christian Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda dari Universitas Leiden yang menulis tesis tentang Haji yang memulai pendidikannya di bidang Teologi dan kemudian mengalihkan studinya kepada studi bahasa Arab dan Islam.

C.Snouck Hurgronje sempat belajar di Mekkah selama 5 bulan, mengganti agamanya menjadi Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul al Ghaffar (Waardenburg 1962:19).

Tahun 1889 Hurgronje meninggalkan Belanda menuju Batavia dan 2 tahun kemudian dia diminta oleh pemerintah Belanda untuk menjadi penasehat politik dan militer Belanda di Aceh.

Atas nasehat Hurgronje inilah Gubernur Belanda J. Van Heutz, merekrut Ulee Balang (priyayi Aceh) untuk berkoalisi melawan Ulama yang oleh belanda dianggap sebagai pusat kekuatan perlawanan Aceh (van’ t Veer 1980).

Pada tahun 1900 Hurgronje mulai mengumpulkan informasi tentang Gayo dari orang-orang Gayo yang dia temui di pantai barat Aceh. Hurgronje yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menginjakkan kaki di Tanoh Gayo, mendapatkan kebanyakan informasinya tentang Gayo dari seorang pemuda cerdas asal Isaq bernama Njaq Putih yang saat itu sedang belajar agama di Aceh Barat dan pada tahun 1902, Hurgronje mendapat satu lagi nara sumber tentang Gayo yang bernama Aman Ratus yang berasal dari Gayo Lues.

Pada tahun 1903, Hurgronje yang dianggap Penghianat Besar Islam oleh orang Aceh dan Orang Gayo tapi dianggap pahlawan oleh pemerintah Belanda ini menyelesaikan Het Gajoland en Zijne Bewoners. Dalam buku ini Hurgronje memaparkan permasalahan perpolitikan dan militer di Gayo, jalan-jalan yang mlintasi daerah Gayo, lokasi desa dan dusun serta kekuasaan yang dimiliki setiap pemimpin kelompok di Gayo. Dalam buku ini Hurgronje juga memaparkan banyak informasi tentanga nama -nama tempat, benda yang kita lihat sehari-hari, praktek keagamaan dan budaya sehari-hari orang Gayo.

Dalam menjelaskan nama-nama ini, sepertinya lidah eropa Hurgronje kesulitan menyebut nama-nama yang mengandung bunyi “e” seperti bunyi “e” dalam kata “sendu” . Dalam buku Het Gajoland en Zijne Bewoners, semua kata yang mengandung bunyi “e” ini oleh Hurgronje diganti dengan “O”.

Mengenai ini bisa dilihat di buku Het Gajoland en Zijne Bewoners yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tanah Gayo dan Penduduknya yang diterbitkan oleh Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) pada tahun 1996.

Dalam buku ini kita bisa membaca di halaman 66 misalnya, oleh Hurgronje, kata “reje” disebut Hurgronje “rojo”, “edet” menjadi “odot”, “Tue” menjadi “Tuo”, “saudere” menjadi “saudoro”, “bedel” menjadi “bodol”, “imem” menjadi “imom” dan “kerje” menjadi “kerjo”.

Demikian juga dengan nama tempat sebagaimana nama TAKENGEN. Dalam buku ini Hurgronje mengubah nama itu menjadi TAKENGON.

Bukan hanya TAKENGON, tapi semua nama tempat lain yang mengandung bunyi “e” seperti bunyi “e” dalam kata “sendu” juga bernasib sama. Sebut saja misalnya Bebesen yang oleh Hurgronje diubah menjadi Bobasan (hal 17), Serbejadi menjadi Serbojadi (hal 10), Gayo Lues menjadi Gayo Luos (hal 9), Arul Ramasen menjadi Arul Ramason (hal 13), Kute Glime menjadi Kuto Glimo (hal 17), Oneng Niken menjadi Oneng Nikon (hal 21), Peruweren Tulen menjadi Peruworon Tulon (hal 29), Linge menjadi Linggo (hal 29), Ise-ise menjadi Iso-iso (hal 34), Blang Gele menjadi Blang Golo (hal 132), Reje Buket menjadi Rojo Buket (hal 141), Teungku Uyem menjadi Teungku (Uyom 144), Tami Delem menjadi Tami Dolom (hal 144), Paya Reje menjadi Paya Rojo (hal 144), Serule menjadi Serulo (hal 144), Menye menjadi Monyo (hal 152), Tingkem menjadi Tingkom (hal 154) dan banyak lagi.

Begitulah, soal nama-nama tempat di Gayo yang dimodifikasi oleh Hurgronje ini.

Belakangan ini saya melihat banyak orang Gayo yang begitu gencar untuk menunjukkan kembali identitas diri dan menggali kembali akar asal-usulnya. Sampai-sampai ada ide untuk membuat provinsi sendiri segala.

Tapi Ironisnya orang Gayo yang katanya sangat mencintai budayanya ini, yang katanya sangat Islami ini justru bangga memakai nama hasil modifikasi seorang pengkhianat besar Islam sebagai nama kota kebanggaannya.

Sejauh ini, saya sama sekali tidak melihat tokoh-tokoh Gayo, baik yang muda apalagi yang tua yang merasa terganggu dengan asal-usul nama TAKENGON yang sampai hari ini melekat menjadi nama kota kebanggaan orang Gayo ini. Sepanjang yang saya tahu, SAMPAI HARI INI hanya sayalah satu-satunya orang Gayo yang merasa terganggu dengan nama yang ‘dihadiahkan’ oleh Hurgronje kepada Kota Kelahiran saya tersebut.

Karena merasa terganggu, makanya dalam setiap tulisan saya yang menceritakan kota ini, saya selalu menyebut kota ini dengan nama TAKENGEN yang merupakan nama pemberian muyang datu saya, bukan TAKENGON yang merupakan ‘hadiah’ dari Hurgronje.

Wassalam

Win Wan Nur
Orang Gayo yang Lahir di TAKENGEN

http://www.winwannur.blog.com
http://www.winwannur.blogspot.com

Oleh Win Ruhdi Bathin

Takengon-Senin malam (30/11) di Gedung kuliah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Universitas Gajah Putih, Yusra Habib Abdul Gani, menjadi pembicara kunci tentang Kegayoan dalam kuliah terbuka.

Hadir berbagai kalangan Aceh Tengah, seperti aktivis kampus ,LSM, wartawan, dosen, seniman, PNS dan sejumlah kalangan lainnya. Yusra Habib, pria asal Kampung Kenawat Kecamatan Luttawar yang telah 36 tahun berada diluar negeri dan menjadi warga Negara salah satu Negara Eropa, Denmark, mengulas berbagai hal.

Dikatakan Yusra Habib, yang membawa serta istrinya, asal Pidie dan dua anaknya, ada karakter masyarakat gayo yang dalam keadaan terjepit baru menunjukkan potensi dan kemampuan intelektualnya.

“Ini harus dirubah. Bagaimana caranya potensi masyarakat gayo yang cerdas dikembangkan dan diaplikasikan demi gayo kedepan. Untuk itu, masyarakat Gayo harus merubah diri dan terbuka”, kata Yusra dalam bahasa Gayo yang fasih.

Menurut Yusra Habib, ada penyakit masyarakat Gayo, yakni sulit bersatu dan terkotak-kotak dan kurang menghargai keberhasilan dan karya orang lain.”Ini harus dirubah, jika selama ini kebanyakan masyarakat Gayo selalu melakukan keberhasilan seorang diri (single fighter), kini harus didukung oleh komponen lainnya. Jika ingin maju dengan filosofi Gayo dan blue printnya yang jelas sehingga bisa diukur parameter keberhasilan dan ketidakberhasilan”, tegas Yusra Habib.

Akibat tidak adanya kekuatan kolektip masyarakat Gayo, lanjut penulis artikel di harian yang terbit di Aceh ini, hubungan moral dan emosional kurang sesama pribadi masyarakat Gayo yang harus segera dirubah dengan memulai kekuatan kolektif tanpa pandang batasan urang-urangan dan belah atau klan yang ada di Gayo demi Gayo kedepan dengan mengutamakan professional, keahlian dan penghargaan.

Setelah memberikan materi, Yusra Habib yang segera merilis buku tentang Self Government, melakukan diskusi. Acara diskusi berlangsung meriah karena kehadiran Yusra Habib ditengah masyarakat Gayo memberi pencerahan dan ajang silaturrahmi untuk motivasi bagi generasi muda Gayo.

Salman Yoga M Ag, dosen Gajah Putih dan IAIN Arraniry Banda Aceh, mempertanyakan karakter masyarakat gayo yang dinilainya belu berubah, yakni, masyarakat Gayo cerdas melihat masalah, lambat mengkongkritkan solusi dan lemah mengiplementasikan solusi.

Menjawab hal ini, menurut Yusra, perlu otokritik bagi karakter yang negative ini dengan lebih sering berdiskusi, membuka diri dan meniru cara berpikir dan bertindak masyarakat maju didunia.

“Kita perlu meniru cara berpikir Yahudi yang kompak dan memiliki jaringan didunia antara masyarakat Yahudi, dimanapun mereka berada untuk membangun”, kata Yusra sembari menjelaskan cara berfikir seperti itu patut dicontoh untuk bersatu dan tetap mengedepankan aturan agama dan adat sebagai pijakan bertindak.

Yusra Habib mencontohkan, jika melihat semrawutnya pembangunan pemukiman dan pertokoan di Aceh Tengah, menurutnya pembangunan tanpa konsep seperti itu tidak lebih baik dari pemukiman Dayak.

“Tapi kita tidak boleh menyalahkan siapapun. Ini kesalahan kolektif kita yang tidak punya blue print yang jelas. Mari membuka dan memperbaiki diri demi masa depan”, papar Yusra.

Yusra Habib juga sedang menggagasi pertemuan masyarakat gayo sedunia yang direncanakan berlangsung pertengahan tahun 2010. “Aliansi Masyarakat Gayo sedunia perlu untuk mempertegas keberadaan masyarakat Gayo di dunia.

Karena, tambah Yusra Habib, banyak temuan dan kemiripan adat budaya Gayo dengan berbagai ras masyarakat dunia, seperti di Korea, China, Philipina dan sejumlah tempat lain yang mirip dengan Gayo.

Yusra Habib mengungkap sebuah fakta dimana di sebuah tempat di Korea, ada gereja yang berusia 1500 tahun yang kitab sucinya bertuliskan Gayo serta beberapa kemiripan bahasa, cara, pakaian dan kemiripan lainnya dengan beberapa suku lainnya di dunia.

“Jika masyarakat Gayo mengaplikasikan apa yang sudah tersimpan dalam pemikiran masyarakat Gayo kedepan yang disimpan dalam lirik petatah petitih, ratusan dan puluhan tahun silam, kita mungkin terlebih dahulu ke bulan”, cetus Yusra Habib.

Yusra mencontohkan sebuah lirik lagu atau didong Gayo yang dinyanyikan Ramlah tahun 1960, petikannya, Sige kupasang berkite oloh….ini bermakna untuk mencapai bulan, diperlukan tehnologi dan instrument.”Barulah tahun 1969 Amerika bisa mencapai bulan dengan tehnologi”, kata Yusra. Dan banyak hal lain yang perlu diungkap dan diriilkan dalam dunia nyata.

Membangun ekonomi, lanjut Yusra Habib, nenek moyang Gayo sudah memiliki konsep yang jelas dengan peribahasa gayo, “ Beras padi tungket imem. Gadung Kepile pegerni keben”. Yang berarti, ketersediaan pangan (padi) mutlak harus dibangun sebagai basis ekonomi kerakyatan walau saat ini jumlah sawah terus berkurang sehingga beras untuk warga Aceh Tengah sebagian besar didatangkan dari Pesisir Aceh.

Setelah ekonomi kuat, rinci Yusra, Gadung Kepile pegerni keben bermakna perlunya diversipikasi ekonomi rakyat dengan tanaman komersial yang layak jual atau eksport, seperti kopi dan komoditas lainnya.

“Tapi sayang, meski kopi Gayo, buah, batang dan akarnya di Dataran Tinggi Gayo, namun pemiliknya adalah Belanda yang menguasai paten kopi Gayo”, kata Yusra habis kecewa.

Sebagai MC dalam pertemuan dengan Yusra Habis, Khalisuddin dari Vistaga dan Yuradi Usman Algayoni sebagai moderator. Hadir dua anggota DPRK yang rajin mengikuti berbagai diskusi dengan generasi muda, Syiradjuddin AB dan Ikhwanussufa (Win)

Oleh Yusra Habib Abdul Gani

Konfigurasi gerak tari Saman, selama ini dipahami orang sebagai kreasi seni tari biasa. Tak hanya bisa dimainkan orang Gayo dalam bahasa Gayo, tetapi juga bisa dipentaskan oleh siapa saja dan dalam bahasa apa saja. Ini kesalahan fatal sekaligus pelecehan terhadap missi dari Saman itu sendiri. Tari sejuta tangan ini tidak bisa dicerna dan dihayati, sekiranya tidak memahami keseluruhan gerak yang diperagakan. Saman adalah tari yang mengandung konsep jihad yang disimbulkan lewat irama dan gerak. Dari komposisi, sjèh (pemimpin) atau disebut juga ‘Pengangkat’ mesti duduk di tengah para pemain yang jumlahnya ganjil (13, 15 atau 17 orang). Sjèh bukan remote untuk menggerakkan orang lain beraksi, tetapi sosok pemimpin yang mesti sinkron dengan aturan main; memimpin sekaligus menjadi orang yang dipimpin. Tari Saman tidak menghendaki terjadi: “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sementara kamu mengelakkan diri…” (Q: Al-Baqarah, ayat 44).

Karena tari ini dimainkan dalam bentuk group, maka sjech bukan tokoh tungggal yang dikultuskan. Dia didampingi oleh ‘Pengapit’ (staf) sebelah kiri dan kanan yang berperan membantu gerak maupun syair. Jadi, tari Saman, menolak falsafah ‘individualism’, dan menganut penegakan ‘colletivism’. Kebersamaan harus disokong dan diperkuat oleh tiang penyangga antara sesama anggota. Karena itu, dipasang ‘Penupang’, yang posisinya berada di sisi paling kanan dan kiri. Peranan ‘penupang’ disifatkan sebagai akar tunggang rumput “jejerun” (bahasa Gayo), sebagai simbol kekokohan. Komitmen “Bersatu teguh, bercerai rubuh.” maka jangan ada satu pun anggota yang membuat kesilapan dan kesalahan gerak. Karena akan berimbas dan menghancurkan seluruh gerak dan irama. Jadi, sinkronisasi gerak dan persamaan perasaan sangat diutamakan. Ini berarti, pemimpin baik dalam situasi revolusi atau damai, harus berada di tengah-tengah masyarakat, tidak merasa dirinya sebagai tokoh tunggal, akan tetapi sebagai bentuk kekuatan kolektif yang ditopang oleh jamaah.

Tari Saman dimulai dengan gerak “Rengum”, yakni: suara ngauman dipimpin oleh syèh, senyawa dengan ucapan “salam”. Pada tahap ini, terdengar suara magic berdengung, mengalun bersama ayunan tubuh yang lentur dalam posisi ‘berlembuku’ rapat membujur membentuk garis horizontal, sambil melafadhkan kalimah:

“Hmmmm laila la ho

Hmmmm laila la ho

Hmmmm tiada Tuhan selain Allah

Hmmmm tiada Tuhan selain Allah”

Nada dan gerak “rengum” adalah ‘kasat, ‘takrat’ dan ‘takyin’ untuk memulai tari, agar masing-masing peserta memusatkan kekuatan (concentration). Atasnama kalimat tauhid inilah gerak group bermula. “Rengum” diucapkan dalam suara minor yang mampu menggetarkan jiwa-jiwa yang mati dan perasaan kuyu menjadi garang. Kalimat tauhid ini sengaja disisipkan sjèh Saman (tokoh penemu Saman) sebagai missi jihad dan dakwah Islam lewat tari Saman yang sebelumnya diperankan dalam “Pok Ane-ané” (permainan rakyat yang dimainkan secara bebas). Keseragaman dalam gerak “rengum”, bagaikan sebilah pedang Samurai yang sudah diisi dengan kalimat tauhid untuk melakukan berapa varian gerak berikutnya. Gerak ini menukar rasa ke-aku-an (individualism) kepada rasa ke-kami-an dan akhirnya wujud rasa ke-kita-an (collectivism) dan melarutkan diri masing-masing ke dalam lautan gerak dan irama hidup. Mereka layaknya seperti pasukan lebah menyerang, dimana sang ratu lebah tidak nampak; semua penari adalah komandan dan anak buah. Inilah yang disebut “ratip sara anguk, nyawa sara peluk” (“ratip satu angguk, nyawa satu peluk”). Dalam falsafah Aceh dikatakan: “hudép beusaré, maté beusadjan, sikrék kapan saboh keureunda”. Gerak “rengum”, selain dikenal dalam Saman, terdapat juga dalam pengantar mantra doa untuk menghidupkan ‘pedang berkunci’, yaitu: alat perang yang khas di tanah Gayo. Inilah proses pengenalan diri dalam jiwa masing-masing.

Tahap kedua adalah gerak “Dering”, yaitu: varian gerak yang dimainkan oleh semua penari. Gerak ini diantarkan oleh irama ‘Ulu ni lagu’ ( ‘kepala lagu)’. Para penari akan memasuki tahap memperagakan pelbagai ragam gerak. Proses perubahan dari gerak “rengum” kepada “dering” hanya berlangsung dalam seketita saja. Setelah dirangsang oleh suara syèh, secara perlahan-lahan penari memperagakan variasi gerak tangan, menepuk dada, gesekan badan dan putaran kepala. Pada peringkat ini, suara dan gerakannya masih datar dan lamban.

“Dering” adalah sylabus pengajaran kepada masyarakat yang berbeda tingkat kesadaran, pengetahuan dan pemahaman; tidak ada unsur paksaan, disuarakan dalam bahasa asli (Gayo) yang sopan dan jelas. Barulah kemudian, syèh mengalunkan suara melengking, sekaligus memberi aba-aba akan memasuki tahap gerak cepat. ‘Warning’ itu berbunyi: “Inget-inget pongku male i guncang” (“Ingat-ingat teman akan diguncang”). Inilah klimaks gerakan tari saman, dimana penari secara optimal mengetengahkan varian gerak putaran kepala yang mengangguk (girik), tangan yang menepuk dada dan paha maupun gerakan badan ke atas-bawah, miring ke kiri-kanan bersilang (singkéh) maupun petikan jari (kertèk). Di sini tidak terdapat lirik, irama dan suara. Sepenuhnya aksi. Di tengah kemucak itu, tiba-tiba menyusul gerak “Uak ni kemuh” (“obatnya gerak”) atau gerak neutral yang disenyawakan dengan nada minor yang datar. Saat stamina penari pulih semula, aksi gerak cepat beraksi kembali. Inilah tahap kesaksian dan pengenalan fakta yang disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Tahap ketiga adalah: gerak “Redet”. Menampilkan lagu dalam lirik singkat dan jelas. Ianya pesan singkat yang harus didengar sambil menanti arahan selanjutnya. Pengkabaran (informasi) agar orang tahu persis akan pesan yang disampaikan. Yang berarti, manusia adalah pelaku dari informasi yang didengarnya!

Tahap keempat adalah: gerak “Syèh”. Menyampaikan warkah. Pada peringkat ini, syèh mengalunkan lagu dengan suara tinggi melengking dan panjang, sebagai aba-aba akan terjadi pertukaran gerak. Inilah kiat dari roda kehidupan manusia yang sarat dengan perubahan. Penciptaan dan penghancuran; penjajahan dan kemerdekaan; kekayaan dan kemiskinan; kehidupan dan kematian.

Tahap kelima (terakhir) adalah: gerak “Saur” atau penutup. Gerak ini adalah pengulangan bunyi reff yang disuarakan syèh oleh seluruh penari. Ini mengisaratkan tentang bay’ah massal, dedikasi, setia dan taat kepada pemimpin. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa: “Rengum” adalah kesadaran, kesaksian dan komitmen; “dering” berarti introspeksi, pengenalan, pengajaran dan kesopanan; “Redet” adalah pesan singkat, nota penting dan harapan; “Syèh” ialah seruan umum, imamah dan tanggungjawab dan “Saur” yang berarti pernyataan kesetiaan, dedikasi dan kekompakan.

Keseluruhan variasi gerak Saman seperti: guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua bahasa Gayo) adalah refleksi dari pesan-pesan, hanya saja orang acuh dan hanya terpaku dengan geraknya. Saman bukan konsep hijrah dan menyerang (ofensive) melainkan konsep bertahan (defensive). Di sini dibuktikan bahwa, refleksi ruh tari Saman terpantul dalam perang melawan Belanda di Kuta Rèh, Penosan, dll tahun 1907. Ketika pasukan Van Dallen merambah masuk ke Gayo Luwes; hanya orang yang sudah melewati “rengum”, “dering”, “Redet”, “Syèh” dan “Saur” saja yang bersabung dengan serdadu Belanda. Selebihnya: anak-anak, perempuan dan lekaki tidak menyelamatkan diri ke dalam hutan. Mereka membentuk gerak Saman dengan cara merapatkan shaff (ingat: barisan penari Saman yang membentuk garis horizontal) dan mengurung diri dalam satu kawasan yang dipagar dengan babu runcing. Tidak mau bergeming. Inilah sumpah tentang: tanah, negara dan kehormatan. Di atas yang bertuah ini kami lahir dan mati dengan darah. Darah adalah rahasia! Dalam konteks ini, Van Dallen berkata: “sepanjang sejarah penaklukan bangsa-bangsa lain, belum pernah kami mendapati orang yang begitu berani dan fanatik, kecuali: orang Gayo.”

Orang Gayo hanya tahu mempertahankan diri, bukan melarikan diri. Itu sebabnya, semasa perang melawan Belanda, mereka tidak menyelamatkan diri ke luar Aceh. Bagaimana aplikasi jiwa Saman dalam situasi sekarang? Haruskah mengisolasi diri dalam pagar “kuta Rèh”?, No! Saatnya orang Gayo Lues menyatukan diri dalam kebulatan tekad dan suara untuk menentukan nasib masa depan Daerah ke arah yang lebih maju dan gerak Saman perlu ditafsirkan semula dalam konteks kehidupan ke-kini-an kita. Insya-Allah!

* Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research

Sumber:  serambinews.com, 22 November 2009

Oleh Khalisuddin

6 Nopember 1908, 101 tahun lalu, Cut Nyak Dhien yang paling ditakuti penjajah Belanda berpulang ke Rahmatullah di negeri pengasingan yang nan jauh dari Aceh saat itu, Sumedang Jawa Barat.

Seseorang yang pernah sangat dekat dengan pemilik julukan “Ibu Perdu” ini, dalam perannya sebagai Panyair dalam film dokumenter bertajuk Cut Nyak Dhien, Ibrahim Kadir sang Penyair, putra Gayo yang lahir dan besar di Takengon merasakan layaknya ikut berperang dengan penuh heroik membela agama dan kehormatan jengkal demi jengkal tanah Aceh melawan Belanda kafir bersama Cut Nyak Dhien. Penyair, adalah nafas sebuah perjuangan rakyat Aceh. Ibrahim Kadir sangat bangga dan beruntung pernah menjadi orang kepercayaan Cut Nyak Dhien walau hanya dalam sebuah episode film.

Sangat beruntung, Ibrahim Kadir sang Penyair ternyata tidak begitu sulit di cari. Mengisi hari-hari tuanya, sang penyair dipercayakan menjadi tampuk pimpinan pembangunan Masjid Babussalam Kemili kabupaten Aceh Tengah. setiap waktu shalat wajib tiba, dipastikan Ibrahim ada bersama jama’ah masjid tersebut.

Assalamu’alaikum, ucap kami kepada seorang lelaki tua berpakaian biru dengan peci hitam dikepala yang duduk sendiri di teras Masjid Babussalam Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Aceh Tengah, Kamis (5/11) sore. “Wa’alaikum salam, waktu belum masuk waktu ashar, kalau belum wudhu’ silahkan disebelah sana tempatnya,” jawab lelaki tersebut ramah.

“Iya Ama, sebenarnya kami ingin ngobrol dengan Ama,” kata teman yang bersama saya, Munawardi, seorang pemerhati sejarah Gayo di Aceh Tengah. Ama, bahasa Gayo yang berarti bapak.

Pria pemegang peran Penyair dalam film Cut Nyak Dhien yang diproduksi tahun 1988 dan menjadi film terbaik di piala Citra, ajang penjurian perfilman nasional di tahun yang sama. Film yang disutradarai Eros Djarot tersebut juga menjadi film pertama Indonesia yang ditayang di festival film Chanes Prancis tahun 1989.

Diawali dengan perkenalan dan menguatarkan maksud pertemuan, sesaat kemudian kami hanya mendengar penuturan seniman gaek ini. Dari cara bercerita, Ibrahim Kadir tampak sangat menjiwai perannya dan masih sangat ingat semua yang dialami saat melakoni Penyair dalam film bergengsi tersebut.

Tanggal 6 Nopember, apakah bapak ingat sesuatu ? sesaat pria tersebut tercenung seperti mengingat-ingat sesuatu.
“Aduh, saya ingat. Besok 6 Nopember adalah hari wafatnya Cut Nyak Dhien,” jawab Ibrahim Kadir dengan wajah yang tiba-tiba cerah bersemangat. “Saya sang penyair yang mengumandangkan Allahu Akbar dan menyanyikan Hikayat Prang Sabi untuk membakar semangat pejuang Aceh untuk melawan Ulanda Kape. Saya pernah bertengkar dengan Pang Laot. Saya katakan kepada dia “Hei Panglima Laot!, Dengan senjatamu kamu tidak akan bisa usir Kafir Belanda dari Aceh. Tapi dengan syair-syairku kafir-kafir itu akan tunggang langgang hengkang dari Aceh.”

Apa tugas dan fungsi Penyair dalam perang Aceh ?
Para Panglima boleh mati, akan tetapi penyair tak kan pernah mati. Saat Cut Nya’ Dhien dan para pejuang kelihatan lemah dan turun semangat, serta merta penyair hadir untuk kumandang Azan dan mengaji, dendangkan hikayat Perang Sabi dan pekikkan Allahu Akbar. Ketauhidan para pejuang dan rakyat Aceh yang membuat Kafir Belanda tidak bisa menaklukkan Aceh.

Lalu apa syair yang paling berkesan bagi Bapak ?
Cut Nyak Dhien pernah bertanya kepada saya. Penyair, apa syair yang paling indah ?, saya menjawab Allahu Akbar. Itulah syair yang terbaik di jagat raya ini.

Bagaimana Bapak melihat sosok Cut Nyak Dhien ?
Walau perempuan, Cut Nyak Dhien sangat kuat dan siap berperang lahir dan bathin karena dia adalah sosok yang bersih, imannya kuat. Belanda bisa kuasai raganya akan tetapi takkan pernah kuasai ketauhidan Cut Nyak Dhien serta seluruh rakyat Aceh.

Bagaimana perasaan Bapak saat ikut ambil peran dalam film Cut Nyak Dhien ?
Wah…sangat istimewa, saya seperti berada dalam kejadian sesungguhnya, apalagi saat film tersebut sudah jadi dan diputarkan. Tak terkatakan perasaan saya saat melihat acting saya dalam film tersebut. Saya tak percaya bahwa itu saya.

Bagaimana bisa terpilih sebagai actor ?
Aneh bin ajaib, suatu mu’jizat dalam hidup saya. Saya bertemu Eros Djarot dan kawan-kawan di Hotel Renggali Danau Laut Tawar Aceh Tengah. Saat itu, saya sebagai pelatih Didong yang dipertunjukkan kepada para insan film nasional tersebut. Sebelumnya saya tak kenal Eros Djarot, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Pietrajaya Burnama dan lain-lain. Eros menanyai saya, kita mau buat film Cut Nyak Dhien dan sedang cari pemain untuk Penyair. Apakah bapak bersedia datang ke Sigli ikut di tes dengan peran Penyair ?. Saya menjawab seadanya, bersedia.

Kira-kira satu bulan kemudian, Sekda Aceh Tengah yang dijabat M. Syarif menghubungi saya untuk ikuti tes di Sigli. Kepada Sekda tersebut saya jawab, saya tidak usah ikut, dan tak mungkin lulus. Saya juga tidak punya uang untuk ongkos. Sekda tetap memaksa saya, lalu saya diberi uang, cukup untuk ongkos PP dan makan satu hari. Kalo tidak lulus, harus langsung pulang ke Takengon.

Saya kemudian berangkat seadanya tanpa bawa perlengkapan pakaian. Saya hanya penuhi permintaan Sekda untuk ikut. Tiba di Sigli persis pukul 5 sore. Saya kaget, ternyata Eros Djarot, Slamet rahardjo, Christine Hakim, Pietrajaya Burnama. LK Ara juga sebagai peserta dan puluhan peserta lainnya sudah ada disana. Sesaat kemudian Eros Djarot langsung menuyuruh baca naskah film. Sebentar, sekitar 5 menit dan langsung di tes. Keinginan saya hanya ingin proses tersebut segera berlalu dan langsung pulang ke Takengon. Saya tak baca naskah tersebut dengan baik dengan alasan sebagai orang Aceh sudah faham sejarah Aceh.

Lalu apa yang ditanya Eros Djarot ?
Sebagai rakyat Aceh, bagaimana sikap rakyat Aceh saat melawan Belanda. Saya jawab, ini film Aceh bukan film Jawa, tentu tidak sama. Kalau orang Jawa menyapa tamu, singgah Mas, mau kopi ? silahkan diminum, dan lain-lain. Intinya, Jawa sangat ramah dan lemah lembut. Dan karena sikap seperti itu Jawa bisa dijajah hingga 350 tahun.

Nah kalau di Aceh, orang asing yang datang akan ditanya, so nyoe !, dari pane ?, na Assalamu’alaikum ? Han. Cang laju. Karena orang Aceh seperti itu maka Belanda tak berkutik di Aceh.

Eros kelihatan kaget, dan bertanya kepada rekan-rekannya. Nah, anda lihat, anda lihat. Itu orangnya.
Saya bingung, kenapa dan ada apa dengan saya . Eros kemudian katakan “selesai”. Saya betul-betul bingung saat itu. Apalagi setelah Eros katakan hasil testing diumumkan di Anjungan Mon Mata Banda Aceh. Saya tidak punya uang dan hanya bawa pakaian di badan.

Tak hilang akal, saya melobi LK Ara, jika saya tidak lulus maka LK Ara beri ongkos pulang ke Takengon. LK Ara setuju. Dan jadilah saya ke Banda Aceh.

Setibanya di Anjungan Mon Mata, saya tidak percaya diri untuk masuk. Saya bersama rekan seniman asal Gayo di Banda Aceh, Mursalan Ardy mengobrol saja diluar gedung. Saya tidak tahu jika seluruh pembesar dan tokoh-tokoh Aceh sudah berada di dalam Anjungan. Dari Ahli Adat, Gubernur Ibrahim Hasan, Kapolda Aceh Abullah Moeda, petinggi meliter, para rektor perguruan tinggi dan lain-lain.

Saya sama sekali tidak ikuti prosesi acara tersebut, termasuk saat Eros berpidato dan melaporkan hasil tes actor kepada para undangan yang hadir. “Semua pemeran untuk film Cut Nyak Dhien sudah lengkap. Untuk peran Teuku Umar, Slamet Raharjo, Cut Nyak Dhien oleh Christine Hakim, Pang Laot Pietrajaya Burnama, sebagai Nyak Bantu Rita Zahara. Untuk pemeran Penyair yang menembangkan Hikayat Perang Sabi membangunkan semangat perang rakyat Aceh sudah didapat, yakni dari “Jantungnya Aceh, Tanah Gayo” yakni Ibrahim Kadir.

Para pemeran terpilih dipersilahkan maju ke depan para undangan. Lalu, saat nama saya dipanggil, saya tidak dengar karena saya berada diluar. Sampai seseorang berteriak berulang-ulang, mana Ibrahim Kadir. Saya menjawab, hadir, ada apa ?. Orang itu meyuruh saya masuk. Akan tetapi malah saya spontan jawab, untuk apa ?.

Rekan saya, Mursalan menegur, tidak baik bersikap seperti itu, ayo masuk, ajak Mursalan. Saat berada di pintu Anjungan, Eros menunjuk, itu Ibrahim Kadir, kamu lulus. Saya bingung dan spontan menjawab, Lulus Apa ?.

Kemudian saya minta pengumunan diulang. Belum lagi selesai Eros mengulang pengumunan, Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan mendatangi saya yang masih tetap berdiri di depan pintu. “Ibrahim dari Gayo Aceh Tengah, ke depan kamu,” kata Ibrahim Hasan.

Di depan, saya kemudian dipeluk Ibrahim Hasan sambil berpesan, Bawa nama Aceh, kamu salah satu yang lulus jadi pemeran penting dalam film Cut Nyak Dhien, yakni sebagai Penyair. Gubenur kemudian menyelipkan Rencong Emas ke pinggang saya. Saya menangis terharu. Ibu Gubenur juga ikut-ikutan beri amanah, sebagai putra Aceh saya harus bawa nama Aceh.

Lalu bagaimana dengan rival-rival bapak ?
Hehehe., yang lucu sahabat saya, LK Ara yang mengaku sudah tiga bulan menyiapkan diri untuk terpilih sebagai pemeran Penyair akan tetapi tidak lulus. LK Ara ucapkan selamat kepada saya, tapi sambil berkata, ongkos pulang ke Takengon yang dijanjikan dibatalkan. Saat itu, diantara tangis kami tertawa terbahak-bahak.

Jadi untuk pemeran yang termasuk utama hanya bapak yang dari Aceh ?
Kalau melalui tes resmi iya, tapi ada seorang anak yang berperan sebagai Agam, pemerannya Kamaruzzaman asal Sigli dan sekarang bekerja di Jakarta. Khusus untuk cerita anak ini, saya bingung, sebenarnya anak siapa dia ?, benarkan keponakan Cut Nyak Dhien ?.

Perkiraan saya, anak tersebut adalah anak korban syahid kekejaman Belanda di Tenge Besi Kabupaten Bener Meriah sekarang. Dari tiga orang yang dibuang Belanda ke Sumedang, anak itu adalah salah satunya. Anehnya, tidak adanya catatan sejarah kemana anak itu pergi setelah Cut Nyak Dhien wafat di Sumedang.

Pembicaraan kemudian berakhir seiring dikumdangkannya Azan pertanda waktu Ashar sudah tiba.

Oleh Khalisuddin

Takengon – Hari ini, 7 Nopember 2009 dalam seorang anggota milist berbasiskan komunitas Gayo, arigayo@yahoogroups.com mengucapakan selamat ulang tahun kepada Kabupaten Aceh Tengah. menurut pengirim ucapan selamat tersebut tanggal 7 Nopember adalah hari jadi Kabupaten yang bermaskot Danau Laut Tawar tersebut.

Pendapat ini didasarkan pada lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia No.7/DRT Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam Lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Utara dan diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia No. 58 Tahun 1956 tanggal 7 Nopember 1956. Akan tetapi dari informasi yang dikumpulkan di Takengon, tak ada aktivitas masyarakat dan Pemda setempat untuk merayakan jika memang benar 7 Nopember merupakan Hari Ulang Tahun (HUT) kabupaten yang berjulukan kota BERLIAN (Bersih, Lestari, Indah dan Nyaman) ini.

Ternyata banyak versi terkait hari jadi Aceh Tengah, pertama menurut Oendang-oendang No. 10 tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali menjadi sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-undang No. 7 (Drt) Tahun 1956 dengan wilayah meliputi tiga kewedanaan yaitu Kewedanaan Takengon, Gayo Lues dan Tanah Alas.

Selanjutnya pada 1974 Kabupaten Aceh Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara melalui Undang – undang No. 4 Tahun 1974. Pemekaran Kabupaten Aceh Tengah kembali terjadi. Pada 7 Januari 2004, Kabupaten Aceh Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan Undang -undang No. 41 Tahun 2003. Kabupaten Aceh Tengah dengan ibukota Takengon, sementara Kabupaten Bener Meriah beribukota Simpang Tiga Redelong.

Bila mengacu kepada masa jabatan Bupati pertama Kabupaten Aceh Tengah yang dipangku Abdul Wahab dengan masa jabatan 1945-1949, maka bila bicara kapan hari jadi Aceh Tengah tentu tidak terlepas dari jabatan resmi pertama dalam Pemerintahan Indonesia di Aceh Tengah.

Upaya menyepakati ketetapan hari jadi Aceh Tengah, sepertinya belum pernah dilakukan. Pada 20 Nopember 2008 lalu, Majelis Permusyawaratan Ulama ( MPU) Kabupaten Aceh Tengah dalam rapat Dewan Paripurna Ulama (DPU) MPU Aceh Tengah di Gedung Pendari Inen Mayak Teri Takengon merekomendasikan tanggal 18 Mai sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Aceh Tengah.

Pendapat yang diungkapkan oleh Ketua MPU Aceh Tengah, Tgk. H Muhammad Ali Djadun ini didasarkan dengan diangkatnya Tengku Raja Ma’un menjadi Beusterder Van Bukit atau Landehap Van Bukit pada tanggal 18 Februari 1910. Tengku Raja Ma’un ini merupakan orang Gayo pertama yang mengecap pendidikan formal, yakni pada tahun 1905. Raja Ma’un sendiri adalah keturunan lurus dari Muyang Sengeda Kejurun Bukit I atau generasi ke IX setelah Muyang Sengeda, Raja Ma’un dilahirkan pada tahun 1895 di Kebayakan Takengon.

Mendengar pemamparan panjang Tgk. H Ali Djadun saat itu, Bupati Aceh Tengah Ir H Nasaruddin MM berjanji mengadakan seminar untuk menyimpulkan kapan sebenarnya hari lahir Aceh Tengah. “Pemda sendiri melalui sejarawan asal daerah dingin itu telah lama mencari kapan sebenarnya kelahiran Kabupaten yang beribukota Takengon, akan tetapi belum ada sejarawan yang menyerah data-data terkait, “ kata Nasaruddin saat itu.

Menurut Kabag Humas Setdakab Aceh Tengah, Drs. Windi Darsa, Sabtu (7/11), tidak adanya dilakukan kegiatan bentuk peringatan terhadap hari jadi Aceh Tengah dikarenakan belum adanya kesepakatan konkrit dari pemangku kepentingan.

Seorang pemerhati budaya Gayo di Takengon, Aman Shafa mengungkapkan telah ada tim yang dibentuk Pemda Aceh Tengah beberapa tahun silam untuk menggali sejarah terbentuknya Aceh Tengah. Drs. H Mahmud Ibrahim ditunjuk sebagai ketua tim saat itu. Akan tetapi hingga saat ini tak ada laporan pekerjaan tim tersebut. Aman Shafa berharap agar segera dilakukan penetapan kapan hari jadi kabupaten Aceh Tengah, “Sebuah negeri yang besar tak ada arti apa-apa jika tak menghargai sejarahnya,” pungkas Aman Shafa.[003]

Oleh Mahmud Ibrahim

Aman Dimot lahir di Tenamak Kecamatan Linge Isaq tahun 1900. Beliau menyelesaikan pendidikan membaca Al Qur’an di Desa kelahirannya. Pendidikan, pengalaman dan lingkungannya telah membina Aman Dimot hidup sederhana, beriman teguh, jujur dan memiliki prinsip yang kokoh. Perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat berkesan dan tidak dapat di lupakan.

Ketika berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai di Takengon awal September 1945, Aman Dimot menggabungkan diri ke dalam Lasykar barisan berani mati, kemudian kedalam Lasykar Mujahidin yang dipimpin oleh Tgk. Ilyas Lebe dan Tgk. M. Saleh Adry. Pada tanggal 25 Mei sampai dengan 10 Juli 1945, Aman Dimot mengikuti latihan kemeliteran yang diselenggarakan oleh Dewan perjuangan Rakyat (DPR) di Takengon dipimpin oleh Moede Sedang, dilatih oleh Nataroeddin, Komandan Kompi 16 Tentara Republik Indonesia. 2)

Ketika terjadi agresi meliter Belanda kedua 19 Dessember 1948, Belanda bergerak memperluas serangan dari Medan ke Langkat dan Tanah Karo menuju Aceh. Proses sejarah perjuangan merintis, merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia membuktikan bahwa Aceh Tengah berani mengirim pasukan dan bahan pangan ke medan pertempuran di luar Daerah. Tidak kurang dari lima gelombang pejuang dari Aceh Tengah, dengan gigih merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dimedan pertempuran Aceh Timur, Langkat, Medan, Tapanuli dan Karo, bahkan sampai ke Bonjol Sumatra Barat.
————————–

——————–
1) Panglima atau Pang di Gayo adalah gelar yang diberikan masyarakat pada seseorang yang memiliki keberanian luar biasa melawan musuh. Nama asli Aman Dimot adalah Abu Bakar bin Utih.
2) Surat tamat latihan Kemeliteran, 10 Juni 1946.

Pada bulan April 1949, Lasykar pejuang dari Aceh Tengah menuju perbatasan Aceh-Langkat, dipimpin oleh Tgk. Ilyas Lebe, Tgk. Saleh Adry dan Abd. Karim Atang Muguril untuk bersama pasukan lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan di tanjung Pura. Sementara itu Belanda menyerang pasukan Indonesia di tanah karo.

Tgk. Ilyas Lebe kembali ke Takengon dan menyusul pasukan “BAGURA” (Barisan Gurilya Rakyat) untuk ikut mematahkan serangan Belanda di Tanah Karo. Bagura memiliki 300 personel, 200 orang dari Takengon dan 100 dari Belang kejeren dan Kutacane, dikoordiner oleh Tgk. Ilyas Lebe. Personel yang dapat dicatat antara lain : Abd. Rahman Ali gayo (Ajudan koordinator), Chairul Bachari (Sekretaris), Hasiluddin (Kesehatan), Zulkifli (Angkutan), Saifuddin Kadir (kuril), Ali Hasan, Agus Salim, Gundala Pati, M. Yasin Bale, Adam Isaq, Aman Ridah, Z. Kejora, Aman Jauhari, Usman, muse, Adam, Ali dan beberapa orang bergerak “panglima : Panglima Aman Dimot, panglima Ali, panglima Alim dari Takengon, panglima Daling, panglima Kilet dan panglima Sekunce dari Blang Kejeren. 3)

Mereka dibagi atas empat kelompok yaitu Barisan Berani Mati, Barisan Jibaku, TRI dan Pasukan Berkuda, Masing-masing bertugas sebagai penyerang pertama, penyerang kedua pengepung dan penembak serta pengangkut perbakalan dan amnisme. Atas perintah Komandan Resimen Devisi Tgk. Tejik Di tiro dan dengan persetujuan Gubernur meliter Aceh, Langkat dan Tanah karo, Bagura bergerak menuju Font Tanah karo pada hari Rabu bulan Mei 1949 4) melalui route Takengon-Blangkejeren dan Kutacane sejauh 265 km dengan berjalan kaki, kecuali Takengon-Waq sejauh 60 km dengan menggunakan truck.

Ini merupakan gelombang kelima belas atau terakhir pemberangkatan pejuang dari Aceh Tengah untuk mempertahankan Kemerdekaan RI di luar daerah menjelang pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia.
———————————————-
3) Catatan dan wawancara H. Abd. Rahman Aly Gayo, 5 February 1981 di banda Aceh.
4) Catatan Bagura, Juli 1949.

Bagura berangkat dari Takengon menuju Waq secara berangsur selama dua hari, menggunakan truck milik seoarang warga negara Cina Bunchin, dikemudikan oleh Ja’far. Mereka memakai pakaian seragam dan ikat kepala kain berwarna merah. Sebagian tidak memiliki pakaian seragam, ada bersepatu dan ada yang tidak, dilengkapi dengan beberapa pucuk senjata api dan sebagian besar pedang. 5)

Menjelang keberangkatan Bagura ke Karo, Aman Dimot menyatakan kepada isteri dan anak-anak belliau :
“Jaga anak kita baik-baik. Saya tidak akan kembali kesin lagi. Maafkan kesalahan saya”.
Mereka saling bersalam. Anak-anak beliau memeluknya, seraya manangis melepas suami dan ayah tercinta dengan do’a. syekh Ahmad-anak beliau-ingin melawan Belanda bersama ayahnya, tetapi Aman Dimot tidak mengizinkannya. Syekh Ahmad semakin bersedih ketika menatap ayahnya diatas truck, mengucapkan “BISMILLAH, ALLAHU AKBAR”, penuh semangat.

Ketika pasukan Bagura hari hari pertama tiba di Waq, Aman Dimot meminta kesediaan Tgk. M. Saleh Adry untuk membawa anaknya-Syekh Ahmad-ke Reruang bersama anggota pasukan yang diberangkatkan ke Waq hari kedua. Aman Dimot berburu rusa di Gelampang untuk perbekalan, sambil menuggu anaknya dan pasukan Bagura hari kedua. Beliau bersama Tgk. Ilyas Lebe, Tgk. M. Saleh Adry, dan Syekh Ahmad, bermalam dirumah Sumaraji di Reruang, ketika tengah malam, Aman Dimot memandikan Syekh Ahmad disebuah anak sungai sambil berdo’a agar anaknya dapat mengamalkan ilmu yang dimiliki ayahnya. Kemudian Aman Dimot berkata : “Win-anakku-,ayah hendak pergi berperang. Sekirannya bertuah, ayah akan kembali. Ayah ingin membela agama, bangsa, negara dan kakekmu yang dibunuh Belanda dijembatan Bale Lanjutkan perjuangan bila ayah berpulang ke Rahmatullah”. 6)

———————————————-
5) Surat lebaran “Perang dan Idul Fithri, Zuska, Analisa Minggu, 2 September 197.
6) Wawancara dengan Isteri dan anak Aman Dimot, Samidah dan Syekh Ahmad di Remesen, 15 Juli 1974. “Win”(Bhs. Gayo) adalah panggilan kasih sayang kepada seorang lelaki.

Pukul 08.00 hari Jum’at, M. Jamil membunyikan terompet, anggota Bagura berkumpul di Waq dan menyusun barisan menurut kelompok yang sudah ditetapkan. Syekh Ahmad menyusup dibarisan belakang pasukan berkuda, untuk memenuhi keinginannya ikut bersama ayahnya melawan Belanda.

Dengan pekik “Allahu Akbar” dan “Merdeka”, Bagura bergerak berjalan kaki menuju Tanah Karo, melalui route Lumut, Ise-Ise, Kenyeren, Belangkejeren, Uten Pungke, jamur Duwe, Umah Bundar, gunung Setan (Louser), Simpang Tiga Junger, Tanah Merah, Kutacane, Pemanting dan Sugihan. Di tempat-tempat itu mereka istirahat dan bermalam. Di Lumut mereka dijamu oleh Aman bedus, di belang kejeren selama dua hari dijamu oleh Muhammad Dhin. Di Kutacane mereka melakukan konsulidasi, menerima dan mempelajari informasi serta menyusun taktik dan strategi menghadapi tentara Belanda di front Tanah karo.

Setelah enam hari berada di Kutacane, Bagura menuju pusat pejuang dibagian Barat Tanah Karo -Pemanting dan Sugihan-, dimana Bagura bergabung dengan kesatuan pejuang lainnya berkekuatan 300 personel yang dipimpin oleh Selamat Ginting. Atas usul Pang Jaring, maka pada tanggal 25 Juli 1949 dilakukan pengepungan asrama meliter Belanda di Mardinding. Sebelumnya koordinator Bagura memerintahkan pang Kilet dan Pang Sekunce untuk mengintai kekuatan dan keadaan tentara Belanda pukul 00.10. sekeliling asrama meliter Belanda itu dipasang kabel beraliran listrik. Dengan cara-cara tertentu yang dilakukan Pang Kilet dan Pang Sekunce, tentara Belanda yang bertugas jaga terlena, sementara yang lainnya tidur pulas. Kedua Pang tersebut melapor kepada koordinator Bagura yang berada 200 meter dari lokasi asrama tentara Belanda bersama pasukannya. Penyerbuan dilakukan dini hari dengan cencangan pedang dan tembakan senapang. Tentara lari ke kembangan.

Tanggal 26 Juli 1949, bagura menuju tiga binanga dan Kalibata. Tanggal 30 Juli 1949 pukul 08.00 nampak iringan-iringan pasukan tentara Belanda di Raja merahe, menggunakan 25 truck dan dua buah tank masing-masing didepan dan dibelakang pasukan. Kekuatan personel tentara Belanda diperkirakan 600 orang dengan persenjataan lengkap.

Koordinator Bagura memerintahkan anggota pasukan siap siaga dipematang dan relung-relung bukit bersemak lalang, menanti pasukan Belanda ditekongan patah jalan kutacane-kabanjahe. Beliau berada dipematang bukit bersemak, dari situ tampak jelas gerakan musuh. Aman Dimot, pang Alim Aman Aminah, Pang Ali Ketol, Pang Kilet, Pang Sekunce, Adam dan Ali Rema serta empat orang lainnya, siap siaga dilekuk bukit dengan tekongan jalan paling patah dengan senapang dan pedang. Ketika tank belanda paling depan berada ditekongan paling patah itu, koordinator Bagura memberi komando :“Serbu!” dengan teriakan diiringi tembakan. Pang Aman Dimot, Pang Ali dan 8 pejuang lainnya dengan cepat melompat menyerang dan naik keatas tank dan truck tentara Belanda, seraya meneriakkan “Allahu Akbar” dan mencencang lima tentara Belanda. Sementara yang lain menyerang dan membunuh tentara Belanda di truck-truck dibelakangnya dan yang sedang melompat dan tiarap diparit jalan.

Waktu menunjukkan pukul 11.00, koordinator Bagura memberi komando “Munduur!”, sebab anggota pasukan Bagura semakin lelah dan dari kejauhan nampak pasukan bala bantuan tentara Belanda dengan cepat menuju lokasi pertempuran. Pang Ali dan Pang Alim terjun kedalam jurang, anggota pasukan lainnya mundur secara teratur. Adam dan beberapa anggota lainnya gugur. Sementara Pang Aman Dimot sendiri terus melawan tentara Belanda, tidak menghiraukan perintah mundur.Koordinator bagura berteriak memanggil Aman Dimot dengan bahasa Gayo :” Abang aman Dimot, ulaaak !”. Aman Dimot menjawab : “Aku gere ulak” 7).

Aman Dimot bertambah lelah dan lemah. Beliau dikepung dan tangkap tentara Belanda, diseret dengan mobil Tank ke lapangan dan sebelumya Aman dimot digiling dengan mobil Tank lalu dimasukkan kedalam parit jalan. dan Tentara Belanda memasukkan dan meledakkan geranat dalam mulutnya.

Jasad Aman Dimot berserakan menaburi ibu Pertiwi tepat pukul 12.00.8) Perang berakhir dalam situasi penuh haru dan semangat mempertahankan Bangsa dan Negara. Aman Dimot, Adam (Unig Isaq), Ali (Penam paan) dan Adam (Rema) yang gugur ditengah-tengah gelimpangan mayat tentara Belanda, disemayamkan oleh penduduk di Rajamerahe. Kemudian Haji Sulaiman-yang baru menganut Islam-, memindahkan kerangka Syuhada’ itu ke Tiga binanga. Selanjutnya pemerintah daerah Tingkat II Karo memindahkannya ketaman makam Pahlawan kaban Jahe dalam kelompok Pahlawan tidak dikenal. 9)

20 hari kemudian, Kepala Staf Angkatan Perang Tentara Nasional Indonesia Sektor III/ Sub teritorial VII-Ulung Setepu-, dalam surat pernyataan turut berduka cita menyatakan, bahwa Aman Dimot telah bertempur dengan gagah berani melawan musuh-musuh kita di Rajamerahe (Tanah Karo-Sumatra Timur) dan telah gugur sebagi bunga melati dipangkuan Ibu Pertiwi Indonesia pada tanggal 30 bulan Juli 1949. 10)

Almarhum meniggalkan dua orang isteri : Semidah (Lahir 1910) dan Jani serta 4 anak : Syekh Ahmad Aman (1921), Ali Ahmad Aman Safiah (1924), Aisyah Inen Jura’(Lahir 1927) dan Muhammad Yunus Aman Ir (Lahir November 1948).

Untuk mengabadikan perjuangan pang Aman Dimot dan Pang Ali, Z. Kejoro dan Agussalim bersama teman-teman seperjuangan di kandibata, mengubah sebuah lagu “Pertempuran Sukaramai”, ketika dalam perjalanan kembali dari Front Tanah Karo.
———————————————-
7) Ulak (Gayo) artinya pulang. Aku gere ulak = saya tidak pulang.
8) Catatan Bagura 1949 dan wawancara Tgk. Ilyas Lebe di Banda Aceh, 10 Juni 1966.
9) Wawancara dengan tgk. H. Abd. Rahman Aly Gayo di Takengon, 20 Januari 1995.
10) Surat pernyataan NO. Sektor III/2/49/752, 20 Agustus 1949.

Masyarakat berkumpul di bioskop Gentala dan dijalan Lebe Kader dan Jalan Mahkamah Takengon, menanti dan menyambut kedatangan para pejuang dari medan perang, dengan penuh semangat dan kasih sayang. Senin 10 Agustus 1949, pukul 10.00, mereka tiba di Takengon dari Isaq. Masyarakat menyambut mereka dengan pekik “ Allahu Akbar” dan “Merdeka”. Para pejuang dirangkul dan sebagian digotong memasuki gedung Gentala.

Koordinator Bagura menyampaikan riwayat perjuangan di wilayah Kandibata, setelah Bupati Abd. Wahab atas nama pemerintah dan masyarakat menyambut mereka. Acara diakhiri dengan lagu bersama pasukan Bagura, diikuti oleh hadirin dengan penuh semangat dan cucuran air mata, sebab Aman Dimot dan beberapa pejuang lainnya telah tiada.

***

Siapapun tidak mampu menilai dan membalas keikhlasan perjuangan Pahlawan Aman Dimot dalam mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Rajamerahe Kandibata, selain do’a semoga Allah memasukkan Almarhum kedalam Sorga. 10 Januari 1952, Bupati Aceh Tengah pernah memberi bantuan kepada keluarga Almarhum Aman Dimot : 1 helai kain sarung, 12 yard kain kemeja. 3 batang sabun cuci, 2 buah sabun mandi, dan Rp. 100,-uang tunai. 11)

Dalam rangkaian peringatan memperingati Hari Pahlawan 10 November, Pemerintah Daerah Tingkat II Aceh Tengah, memberi bingkisan kepada keluarga Almarhum. Sejak 12 September 1978, telah diurus surat-surat untuk memperoleh tunjangan veteran RI bagi kelurga Aman Dimot. Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Tengah- H. M. Beni Bantacut, BA -, pernah menyampaikan nota kepada Kepala Kantor Veteran Aceh Tengah tahun 1980 dan memberi bantuan biaya pengurusannya, bahkan beberapa pimpinan masyarakat pernah menyumbang untuk itu, namun sampai sekarang surat pengakuan Veteran dimaksud belum ada!!
———————————————-
11) Surat Bupati Aceh Tengah, 10 Januari 1952.

Dalam temu ramah pimpinan Daerah Istimewa Aceh dengan para pejuang dan keluarga Pahlawan November 1994 di Mount Mata Banda Aceh, H. Abd. Rahman Aly Gayo memberi ceramah berjudul : “BAGURA DAN PANGLIMA AMAN DIMOT”. Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh – Prof. Dr. Syamsuddin Mahmud -, sangat tergugah terhadap perjuangan dan pengurbanan Aman Dimot. Beliau mengharap agar H. Abd. Rahman Aly Gayo menjiarahi dan mempelajari kemungkinan pemugaran makam pahlawan Aman Dimot.

Setelah berkonsultasi dengan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Tengah – Drs. Buchari Isaq – 6 januari 1995 di Takengon, H. Abd. Rahman aly Gayo bersama Ali Hasan dan Syekh Ahmad, menuju Kabanjahe . Mereka berkonsultasi dengan Asisten II Sekretaris Wilayah Daerah Tingakt II Karo – Drs. M. Nurdin Ginting -, sebelum menjiarahi makam Pahlawan Aman Dimot. 12)

Hasil konsultasi dan Ziarah itu, disampaikan kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Tengah dan Beberapa pemimpin Masyarakat di Takengon. Hasil konsultasi itu diteruskan kepada Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh 26 januari 1995, terdiri dari :
1. Memugar makam Pahlawan Aman Dimot dan 6 Pahlawan lainnya yang berasal dari Aceh Tengah di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe.
2. Membangun monumen Pahlawan tersebut di Takengon.
3. Menerbitkan buku sejarah perjuangan-perjuangan masyarakat Aceh Tengah merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.
4. Mengurus surat pengakuan dan bantuan Veteran bagi keluarga Pahlawan Aman Dimot.13)

Sementara itu, pada November 1994, PPM ( Pemuda Pancasila Marga ) aceh Tengah melakukan napak tilas “Aman Dimot”, menempuh route perjalanan Bagura menuju Tanoh Karo. Tujuannya agar generasi muda mampu menghayati dan meneladani perjuangan Aman Dimot.
————————————————
12) Wawancara dengan H. Abd. Rahman Aly Gayo, 20 Januari 1995 di Takengon.
13) Surat H. Abd. Rahman aly Gayo, 31 Januari 1995.

Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh berharap agar Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Tengah, dapat merumuskan bersama instansi terkait dan pemimpin masyarakat untuk memugar makam para Pahlawan Aman Dimot. 14)

Dalam rapat ke- II panitia hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-50 di Aceh Tengah, Senin 18 Mei 1995, dibicarakan pemugaran makam pahlawan Aman Dimot dan penulisan sejarah perjuangan masyarakat aceh Tengah dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan RI, sebagai salah satu program memperingati Kemerdekaan RI di Aceh Tengah.

Serangkaian dengan itu, Bupati Kepala daerah Tingkat II Aceh Tengah mengundang Ketua Legiun Veteran RI Cabang Aceh Tengah, Pasi MIN DIM 0106, Sekretaris Legiun Veteran Ri Kabupaten Aceh Tengah, Ali Hasan, Drs.H, Mahmud Ibrahim, Tgk. H. Mohd. Ali Djadun, Tgk. H. M. Ali Salwany dan M. Y. Sidang Temas pada hari Selas 23 Mei 1995 mulai pukul 09.00 WIB, untuk membicarakan pemugaran makam Panglima Aman Dimot diruang kerja Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat II Aceh Tengah. 15)
Pertemuan tersebut tidak jadi dilaksanakan, karena Bupati Kepala Daerah, Drs. H. Mahmud Ibrahim dan tgk. H. M. Ali Salwany menghadiri temu ramah dengan Pangdam – I bukit Barisan di Lhokseumawe.

****

Bangsa yang besar dan terhormat adalah bangsa yang menghargai jasa dan menghayati perjuangan para Pahlawannya. Untuk itu perlu dikaji dan ditulis sejarah perjuangan masyarakat Aceh Tengah dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan RI. Membangun monumen sejarah, mengabadikan nama-nama Pahlawan sebagi nama bangunan dan nama jalan yang vital dan mengusahakan kesejahteraan keluarga para Pahlawan.
———————————————
14) Surat Gubernur No. 469/9954 tanggal 24 April 1995.
15) Surat undangan No. 005/1076 tanggal 18 Mei 1995.

Jalan raya semakin mulus. Cahaya bersinar dikota dan desa. Kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Namun masih banyak orang melupakan Tuhan dan Pahlawan. Peringatan 50 tahun Kemerdekaan republik Indonesia, hendaknya lebih mampu menggugah manusia Indonesia untuk lebih bersyukur kepada Allah dan lebih menghayati dan menghargai perjuangan dan jasa Pahlawan, guna menigkatkan pembangunan.

Tulisan sederhana ini, diakui belum lengkap dan sempurna. Ada diantara pelaku-pelaku sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Bangsa Indonesia, yang diberi Allah Kesempatan hidup. Tolong dicatat sejarah itu dan sempurnakan tulisan ini, agar kita tidak berdosa apabila generasi penerus tidak mengetaui dan menghayatinnya, disebabkan kita tidak mewariskannya berupa tulisan dan peringatan.

Terima kasih.

*********

Saat ini keluarga Pejuang Aman Dimot berharap kepada pemerintah NAD untuk kembali memperhatikan keluarga dari Aman Dimot yang di tinggalkan. Saat ini keluarga Aman Dimot seluruhnya berada di Kabupaten Bener Meriah Propinsi NAD. Alamat keluarga Panglima Aman Dimot, Jalan Syiah Utama No.13 Depan Kantor Camat Pondok Baru,Kecamatan Bandar,Kabupaten Bener Meriah,Peropensi Nanggeroe Darussalam

Dirilis oleh Cicit Aman Dimot (Ruhdi )

Oleh: Sabela Gayo *

Tari saman adalah sebuah tari tradisonal yang berasal dari daerah lokop serbejadi (Aceh Timur) dan Blangkejeren (Gayo Lues). Dalam berbagai sumber sejarah yang ada Tari Saman sebenarnya untuk tingkat Provinsi Aceh berasal dari kedua daerah tersebut yaitu Lokop Serbejadi dan Blangkejeren. Bahkan di Aceh Tengah dan Bener Meriah sendiri yang notabene merupakan daerah Gayo, bukan asal dari Tari Saman. Karena seni budaya yang lebih berkembang di Dataran Tinggi Tanoh Gayo khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah kesenian Didong, Sebuku, dll.

Konon pada mulanya Tari Saman diciptakan oleh seorang ulama yang menyebarkan agama islam yang bernama Syech Saman. Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, seni budaya merupakan salah satu media penyampaian dakwah yang paling efektif bagi penyebaran nilai-nilai dan syiar islam di kala itu. Melalui seni-budaya biasanya masyarakat dengan cepat dan mudah menerima dan memahami pesan-pesan dakwah islam yang disampaikan melalui media seni budaya.

Pada era globalisasi, seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, seni-budaya merupakan salah satu media yang paling efektif untuk menjalin hubungan dan komunikasi dengan dunia luar. Sedemikian pentingnya peran seni-budaya sehingga banyak Negara yang melakukan pertukaran delegasi seni-budaya dalam rangka semakin mempererat tali persaudaraan dan kesepahaman diantara sesama bangsa-bangsa di dunia. Karena demikian penting dan sakralnya sebuah identitas budaya bagi sebuah komunitas masyarakat adat sehingga masyarakat adat Bali menjadi resah ketika kelompok-kelompok tertentu di Malaysia mengklaim bahwa Tari Pendet adalah kebudayaan asli Malaysia.

Demikian halnya dengan Tari Saman yang sangat diminati dan disenangi oleh berbagai kelompok masyarakat pada setiap penampilannya. Dimana terbukti setiap kali penonton menyaksikan pementasan Tari Saman selalu berdecak kagum dan memberikan aplus yang luar biasa dalam setiap penampilannya. Kekaguman penonton mungkin dikarenakan oleh gerakan-gerakan Tari Saman yang sangat serempak dan rapi dengan semangat para penarinya yang berapi-api. Tetapi sayangnya sekarang ini, banyak para koreografer-koreografer tari ataupun pencipta-pencipta tari dengan berkedok dan berdalih TARI KREASI BARU, menjiplak, meniru dan mengambil gerakan-gerakan Tari Saman pada intinya dengan menambahkan alat-alat musik tertentu untuk menyamarkan gerakan-gerakan Tari Saman yang dicontoh, ditiru dan diambil tersebut. Kalau namanya Kreasi Baru, seharusnya merupakan tari-tarian yang sebelumnya tidak ada menjadi ada, yang semula gerakan-gerakan tarinya tidak ada dan tidak dikenal kemudian menjadi ada dan dikenal. Demikian pemahaman saya tentang Kreasi Baru dari segi bahasa, entah apakah pemahaman saya itu sama dengan pencipta-pencipta seni lainnya atau tidak. Wallahua’lam bissawab.

Hal tersebut diatas sebenarnya tidak seberapa dan belum apa-apa jika dibandingkan dengan kondisi terakhir dimana Tari Saman sudah ditampilkan dengan penyampaian syair-syairnya yang tidak lagi memakai bahasa dan baju adat Gayo dan banyak Sanggar Tari di Aceh yang sudah mengubah syair-syair Tari Saman kedalam bahasa-bahasa lain selain Bahasa Gayo, bahkan para penari-penarinya pun sudah memakai baju adat lain dan tidak lagi memakai baju adat Gayo. Kondisi itu tentu sangat menyedihkan dan menyakitkan perasaan ke-Gayo-an kita dimana Seni Budaya kita khususnya Tari Saman sudah dibajak oleh orang lain dengan alasan-alasan yang tidak jelas. Gerakan-gerakan tarinya ditiru, dijiplak dan diambil tetapi identitasnya berupa bahasa dan baju adat ditinggalkan. Dan hal itu terjadi di depan mata kita, tetapi mengapa kita hanya diam saja?.

Kita tidak ingin kondisi Tari Saman akan bernasib tragis sama seperti Tari Pendet dimana Negara lain mengklaim bahwa Tari Pendet itu adalah miliknya. Tapi kalau kita mau jujur Tari Pendet masih lebih untung dan baik kondisinya dibandingkan dengan Tari Saman. Kalau Tari Pendet, hanya kepemilikannya saja yang diklaim oleh Negara lain tapi gerakan-gerakan tarinya, baju adatnya, bahasa penyampaian syair-syairnya masih menggunakan bahasa bali dan memakai baju adat Bali (walaupun menurut kita baju adat Bali itu melanggar syari’at). Tetapi kalau Tari Saman kondisinya lebih parah lagi, gerakan-gerakan tarinya ditiru / dipelajari / dijiplak / diambil, baju adatnya ditukar dan bahasa penyampaian syair-syairnya pun ditukar ke dalam bahasa lain dan baju adat lain. apabila kondisi ini terus-menerus kita biarkan dan kita anggap enteng bukan tidak mungkin suatu saat nanti Tari Saman akan diklaim menjadi milik orang lain dan bukan lagi milik masyarakat Gayo?, masuk akal kan?. Kalau lah seandainya Tari Saman diklaim menjadi milik orang lain tetapi gerakan-gerakan tarinya, bahasanya masih menggunakan bahasa Gayo, dan para penarinya pun masih memakai baju adat Gayo, mungkin kita tidak terlalu sedih tetapi sekarang kondisinya tidak demikian.

Datu orang Gayo menciptakan Tari Saman dengan perpaduan gerakan-gerakan yang serempak dan enerjik dan kemudian memiliki daya tarik tersendiri bagi orang yang menyaksikannya mungkin merupakan suatu karunia dan rahmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada masyarakat Gayo. Karena itu masyarakat Gayo harus mensyukuri karunia, rahmat dan pemberian Allah SWT tersebut dengan cara menjaganya, merawatnya, mengembangkannya dan melestarikannya. Sama seperti halnya dengan anak/mobil, ketika kita memperoleh karunia oleh Allah SWT berupa seorang anak maka tentunya kita akan menjaganya, merawatnya, melindunginya dan memberikan pendidikan yang layak baginya. Itu adalah bentuk rasa syukur kita atas karunia Allah SWT tersebut. Kalau rasa syukur itu tidak kita lakukan berarti kita termasuk orang-orang yang tidak mau bersyukur!. Bukankah Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya “ Apabila engkau bersyukur akan nikmat-Ku maka niscaya akan kutambah nikmat itu, tetapi apabila engkau ingkar, ingatlah sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kasus pembajakan Tari Saman ini dapat kita jadikan sebagai bahan renungan dan instropeksi diri, apakah kita sebagai orang Gayo selama ini telah bersyukur kepada Allah SWT dengan segala karunia, rahmat dan pemberian-Nya? Baik itu berupa tanah pertanian yang subur, seni tari yang indah, bahasa yang luar biasa dan budaya serta peradaban yang tinggi. Coba bayangkan jika gerakan-gerakan Tari Saman sudah ditiru/dijiplak/diambil, baju adat dan bahasa penyampaian syair-syairnya pun sudah diubah, bagaimana orang lain bisa mengenal dan mempelajari bahasa, seni dan budaya Gayo ?. bagaimana orang lain bisa tahu kalau diatas bumi ini ada yang namanya Suku Gayo?. Dan mungkin juga Tari Saman itu merupakan suatu jalan yang diberikan oleh Allah SWT bagi orang Gayo untuk bisa dikenal secara luas oleh masyarakat-masyarakat lain di dunia melalui jalur seni dan budaya. Tetapi pada kenyataannya hari ini, gerakan-gerakan Tari Saman sudah ditiru, dijiplak bahkan diambil kemudian bahasanya dan baju adat para penarinya sudah diubah sedemikian rupa oleh kelompok-kelompok tertentu dengan seenaknya, jika kondisi itu terus kita biarkan dan kita menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar-wajar saja maka berarti kita adalah termasuk manusia yang tidak bersyukur tadi dan tidak mempunyai tanggung jawab moral terhadap kesenian kita sendiri. Dan bukan tidak mungkin apabila kita lalai, suatu saat nanti Tari Saman akan diklaim menjadi milik kelompok masyarakat lain.

Bahkan sekarang ini sudah ada opini yang berkembang bahwa seolah-seolah Tari Saman itu adalah milik sekelompok masyarakat tertentu. dan ada sebuah proyek pendidikan di Aceh yang di danai oleh USAID DBE 2 yang mengembangkan Tari Saman bukan dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Gayo dan para penarinya pun tidak memakai baju adat Gayo. Bahkan mereka membuat VCD yang berisi instruksional Tari Saman dalam bahasa Aceh, Inggris dan Indonesia dan disebarkan ke Sekolah-Sekolah Dasar di Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, dan Aceh Tengah agar dapat dipelajari oleh siswa-siswa SD yang notabene adalah generasi penerus. Yang apabila kondisi ini dibiarkan maka anak-anak SD yang ada di Gayo akan mempelajari Tari Saman dalam bahasa lain yang sebenarnya asal Tari Saman itu adalah dari Gayo. Ini sangat ironis sekali. dan mereka beralasan mengapa mereka lakukan seperti itu karena bahwa “kondisi yang demikian yang sekarang terjadi secara nyata di lapangan dimana Tari Saman sudah ditampilkan bukan lagi dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Gayo dan para penarinya pun sudah tidak lagi memakai baju adat Gayo”. Alasan yang demikian itu, tentu saja semakin memompa semangat kita untuk mengadvokasi Tari Saman secara sistematis. Sebelum hal itu terus berlanjut maka kita sebagai generasi muda Gayo harus mengambil langkah-langkah penyelamatan baik secara hukum maupun non hukum, di luar pengadilan maupun di dalam pengadilan dalam rangka mengembalikan marwah dan identitas kita sebagai sebuah komunitas yang kaya akan seni dan budaya. “Kalau warisan datu kita yang sudah ada saja, yang berupa Tari Saman tidak bisa kita jaga, saya kira kita jangan bermimpi untuk meraih sesuatu yang sama sekali belum ada”.

Gerakan penyelamatan Tari Saman yang akan kita lakukan bukan bermaksud untuk melarang agar Tari Saman jangan ditampilkan oleh orang lain/kelompok lain. Bahkan sebaliknya kita sebagai masyarakat Gayo akan semakin bangga mengaku bahwa kita orang Gayo karena memiliki seni-budaya yang indah dan diminati oleh orang lain. Dan juga gerakan penyelamatan Tari Saman yang akan kita lakukan bukan untuk memunculkan konflik baru di tengah-tengah masyarakat/mengkotak-kotak

kan masyarakat antara satu dengan yang lainnya. Tetapi gerakan yang akan kita lakukan adalah murni gerakan penyelamatan seni-budaya dalam rangka melindungi aset seni dan budaya GAYO agar tetap lestari sampai ke akhir zaman. Jadi kita tidak perlu “kemel” atau merasa ini hal yang tabu untuk diadvokasi. Dan Tidak ada unsur-unsur sentimen kesukuan/primordial dalam gerakan ini. Kapan lagi bahasa Gayo mau dipelajari oleh orang lain kalau bukan melalui Tari Saman? Dan kapan lagi budaya Gayo akan dikenal oleh kelompok masyarakat lain kalau bukan melalui Tari Saman?, Apakah ketika Tari Saman yang dibawakan dengan bahasa lain dan baju adat penarinya juga lain, namanya tetap Tari Saman?. Atau namanya berubah menjadi Tari Samin? Atau bahkan Tari Samun?, wallahu’a’lam bissawab.

Bukankah ketika salah satu irama lagu Peterpen yang dinyanyikan oleh penyanyi India dalam bahasa India dengan irama musik yang sama dengan yang dimiliki oleh grup musik Peterpen beberapa waktu yang lalu, itu sudah dikategorikan sebagai sebuah bentuk pembajakan? Apa bedanya dengan kondisi Tari Saman hari ini?. Kalau kondisi seperti ini terus kita biarkan dimana setiap sanggar tari di Aceh yang membawakan/menampilkan Tari Saman selalu menggunakan bahasa dan baju adat lain dan tidak menggunakan bahasa dan baju adat Gayo.maka cepat atau lambat Tari Saman akan menghilang dari Gayo, sama halnya dengan kondisi bahasa Gayo yang hampir punah. Sungguh tragis!!!.

Oleh: Yusra Habib Abdul Gani *

AKANKAH dua kuntum bunga––Renggali-Seulanga––rontok dari kelopaknya? Secara politis, bukan mustahil wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akan terkoyak geografinya, seandainya pembentukan propvnsi Aceh Leuser Antara (ALA) menjadi kenyataan. PP No. 78/2007 sebagai pengganti PP No. 129/2000 dasar hukumnya.

Mekanisme perundang-undangan dan kemauan politik (political will) DPR-RI dan Pemda, sebelumnya tersandung. Penguasa NAD tak rela berpisah, sementara perwakilan dari Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Aceh Singkil, tak mau lagi tinggal serumah dan sudah berbenah ingin berpisah. Keengganan berpisah, mungkin karena alasan sejarah, sosial budaya atau ingin mempertahankan prestise rapuh (pragile prestige), yang seakan-akan perpisahan ini menggugat wibawa Pemda Aceh dan memperuncing perbedaan politik dan budaya antara komunitas Gayo dan komunitas Aceh Pesisir yang sejak ratusan tahun telah hidup bersama, senasib dan seperjuangan. Dalam konteks inilah yang diulas di sini.

Secara sosiologis, Renggali-Seulanga seumpama lirik lagu, yang baru bisa dinikmati lantaran paduan dari beberapa jenis instrumen musik yang saling mendukung. Berbeda bunyi tapi konsep dan kuncinya sama. Begitulah kehidupan politik dan sosial budaya antara komunitas Gayo dan Aceh Pesisir. Persis seperti diilustrasikan dalam lirik Didong (group Musara Bintang): “Renggali Megah i Bireuën, i Takéngon bunge Seulanga”. Indikasi adanya korelasi ikatan sejarah dan sosial budaya yang menghubungkannya.

Perbedaan juga ada, misalnya: “Pakriban u meunan minjeuk; Pakriban du meunan aneuk” (Bagaimana Kelapa, begitu pula minyaknya; Bagaimana Ayah begitu juga anaknya). Sedang dalam falsafah Gayo; [i]“Anakni reje mujadi kude, anak ni Tengku mujadi asu” (anak raja bisa jadi kuda, anak Tengku bisa jadi anjing). Model pertama mengikuti teori integral (pembulatan), sedang model kedua mengikuti teori deferensial (relativitas). Toh, dalam sejarahnya, kedua model ini bisa bersatu dalam adonan kimiawi sosial-politik, hingga mampu melahirkan bangunan negara “Aceh” di masa lalu.

Secara historis, Renggali-Seulanga bagaikan organisme tubuh yang saling ketergantungan. Hidup bersama dalam wadah Aceh, sebagai negara merdeka dan berdaulat. Fakta sejarah membuktikan bahwa, Sultan Aceh memberi hak penuh kepada raja-raja seluruh Aceh, untuk mengatur negeri masing-masing, termasuk memberi hak kepada Reje Linge untuk mencetak uang Aceh (Ringgit) yang dipercayakan kepada “Kupang Repèk” di Takéngon, khusus untuk keperluan hantaran uang dalam perkawinan dan transaksi perdagangan lokal. Hak ini diberi, atas pertimbangan sarana transportasi dan komunikasi yang sukar dijangkau pada masa itu. Reje Linge, akan melaporkan jumlah uang yang dicetak kepada Sultan Aceh. Ini merupakan fakta yang tidak kurang menariknya dalam sejarah Aceh.

Untuk melihat bagaimana membangun kepercayaan (trust building) antara Renggali-Seulanga, bisa dilihat dari fakta sejarah sebagai berikut. Meurah Johan Syah Al-Khahar (anak Raja Linge) misalnya, megah sebagai Renggali di Aceh Pesisir. Beliau diangkat menjadi Sultan Aceh Darussalam pada hari Jumat, 1 Ramadhan tahun 601-631 H (1205-1234 M) dengan gelar Sultan Alaidin Johan Syah. “…Dalam Kerajaan Aceh Darussalam, yang akan menjadi rajanya ialah kebenaran, keadilan, persaudaraan, persamaan, perdamaian, keikhlasan dan cinta kasih dan siapapun tidak boleh memperkosa dasar-dasar ini“ (Meurah Johan, Sultan Aceh Pertama. A Hasjimi. Bulan Bintang, 1976, halaman 103). Meurah Johan Syah sebagai panglima perang yang menaklukkan Johor dan Meurah Johan Syah-lah sebenarnya peletak dasar penyatuan seluruh Aceh (sebagaimana wujud sekarang). Sementara Ali Mughayat Syah –Sultan Aceh pertama– yang berkuasa tahun 1500-an dalam keadaan terima jadi.

Datu Beru –sepucuk Renggali– satu-satunya wanita yang duduk dalam Parlemen Aceh di masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah. Sebagai seorang filosuf, ahli hukum dan politisi kondang, beliau berani berhujjah dengan Qadhi malikul ’adil dalam kasus pembunuhan Bener Meria (anak kandung Meurah Johan) oleh Reje Linge ke-12. Teungku Tapa adalah Renggali yang harum di Aceh Timur saat peperangan melawan penjajah Belanda. Karena keberaniannya, hingga Komando Pusat Militer Belanda mempropagandakan bahwa Teungku Tapa enam kali mati.

Malik Ahmad, anak kandung Meurah Sinubung (cucu Munyang Mersa) diangkat menjadi Raja Jeumpa menggantikan mertuanya, karena berhasil menghentikan perseturuan antara kerajaan Jeumpa dan Samalanga. Meurah Silu, adik kandung Malik Ahmad, dilantik menjadi raja Pasé pertama, karena kualitas ketokohannya yang berhasil menghentikan perang antara Lhôk Sukon dan Geudông. Kata “Meurah” dalam bahasa Gayo, berarti “Malik” dalam bahasa Arab. Kata “Silu” dalam bahasa Gayo, bermakna “saléh” dalam bahasa Arab. Itu sebabnya, Renggali dari dataran tinggi Gayo ini kemudian populer dengan panggilan Sultan Malikussaléh.

Selain itu, Meurah Pupuk, yang mengembangkan agama Islam ke Lamno Daya; Meurah Bacang, yang mengembangkan agama Islam ke Tanah Batak; Meurah Putih dan Meurah Item (Hitam), yang mengembangkan agama Islam ke daerah Beracan Meureudu; Meurah Jernang, yang mengembangkan agama Islam ke Kalalawé Meulabôh; Meurah Silu (bukan Meurah Silu yang kemudian menjadi Raja Pasé), yang mengembangkan agama Islam Gunung Sinubung Blang Kejeren, adalah juga Renggali-Renggali yang megah dalam sejarah pengembangan Islam di Aceh. Sampai sekarang keturunan mereka masih memakai gelar “Meurah”, yang berasal dari keturunan Munyang Mersa, nenek moyang orang Gayo.

Tokoh Gayo di atas adalah Renggali-Renggali berasal dari jenis benih unggul, yang watak dan kualitasnya melebihi standar umum dan dipandang sebagai representatif dari semua sebutan dan jenis Renggali yang kita kenal. Keharuman Renggali unggul ini menembus tembok sentimen sukuisme, clan, fanatisme dan ethnosentris yang kaku. Mereka mampu mengalahkan harumnya bunga-bunga dari jenis lain, sekalipun Seulanga di Aceh Pesisir, yang datang bertandang dari kaum minoritas, tetapi mampu bersaing secara sehat dalam kancah politik Aceh, megah dan dikagumi.

Sementara itu, figur Seulanga di Gayo lebih dikenal sebagai toke. Lintas-dagang antara dataran tinggi Gayo dan Pesisir sudah berlangsung lama sekali. Kita bisa saksikan, pusat perdagangan strategis di kota Takengon dan daerah sekitarnya, didominasi oleh saudagar asal Aceh dan imigran asal Minangkabau. Orang Gayo tidak merasa iri dan benci, walau wilayah kedaulatannya dicoup oleh asing. Selain itu, interaksi sosial terjadi karena hubungan perkawinan. Diakui bahwa, silang budaya seni antara Seulanga-Renggali tidak mungkin dipadu, tapi tidak pernah beradu. Perbedaan bahasa bukan faktor perenggang dan berinteraksi, karena bahasa Melayu dipakai sebagai pertuturan sehari-hari. Bahasa Melayu adalah bahasa resmi di Aceh dari zaman dahulu sampai sekarang. Surat-menyurat resmi, seperti: surat Panglima Polém Cs yang mengajak Teungku Tjhik Mahyuddin di Tiro menyerah pada tahun 1907 ditulis dalam bahasa Melayu Jawi, bukan bahasa Aceh.

Kisah di atas adalah khazanah cerita lama. Sekarang segalanya sudah berubah, terjadi globalisasi dan pergeseran nilai-nilai budaya yang terus menggerogoti keaslian budaya kita. Dan inilah kebodohan kesejarahan kita. Di kalangan komunitas Gayo, terjadi proses pemudaran (ubes). Renggali yang dahulu pernah mekar, kini tidak lagi harum di Aceh. Dalam konteks ini ada dua faktor penyebab. Pertama, faktor intern, yakni kurangnya penghayatan nilai-nilai sejarah Gayo dan masih mempertahankan nilai-nilai lama yang tidak seiring dengan tuntutan zaman. Padahal Tjèh Toèt pernah berdendang; “Tutu mesin gere mubelatah, mah ilen ku roda. Rôh ke lagu noya” (Padi yang digiling di pabrik sudah bagus, buat apa dibawa lagi ke Roda. Logiskah itu?) Secara pragmatis, Toét mengajak agar bersikap terbuka, kritis, peka dan cerdas membaca tanda-tanda zaman. Kedua, faktor extern, yakni munculnya krisis kepercayaan dengan menyekat Renggali-Renggali untuk berperan dalam jajaran birokrasi, khususnya di tingkat provinsi. Tindakan ini dilakukan secara sistematis lewat dominasi clan dan sentimen kesukuan terselubung. Misalnya saja, dari 21 gubernur Aceh (mulai Teuku Nyak Arief – 1945-1946 sampai kepada Irwandi Yusuf – 8 Februari 2007-2012), tidak sekuntum Renggali pun dipetik. Soalnya ialah tidak memenuhi standar verifikasi kualitas atau korban dari ketidakpercayaan? Hal ini perlu dikaji dan didiskusikan.

Yang menjadi kendala laten di kalangan kita ialah masih kentalnya budaya tabu dan “tak enak” mempersoalkan secara terbuka masalah politik dan sosial kemasyarakatan dalam urusan intern Aceh. Ini merupakan faktor penghalang untuk menyatukan persepsi tentang Aceh dalam arti perasaan memiliki dan tanggungjawab bersama. Jika nilai-nilai budaya tadi masih terus dipertahankan, sudah tentu melahirkan rasa cemburu dan praduga negatif antara sesama, sebab setiap institusi kemasyarakatan memiliki sentimen; rasa kebanggaan terhadap seni budaya, resam dan sejarah masing-masing.

Dalam kaitan itulah, orang Gayo merasa berjasa dalam sejarah kepemimpinan Aceh lewat Renggali-Renggali yang harum, tetapi tidak menduga kalau satu saat, jasa itu tidak dikenang dan tidak dihargai orang, lemas dalam cemas. Ketika tengah berada dalam situasi yang demikian, barulah orang Gayo nyeloteh; “Kusuen Lumu murip we kerlèng, kusuen budi murép we rèngèng”(Kutanam Keladi tumbuh juga enceng gondok, kutanam budi tumbuh juga lirikan sinis). Dalam dinamika sosial, melupakan jasa adalah sah-sah saja. Dalam pepatah Aceh disebut: “Leupah krueng, glung rakit” (Selamat ke seberang sungai, tendang rakit). Hal ini terjadi disaat Renggali dinilai tidak lagi diperlukan sebagai tiang penopang. Bagaimanapun juga, tindakan seperti ini, bukan berarti mengubur atau mengurangi arti sejarah itu sendiri.

Akankah Renggali tidak megah lagi di Bireuen, dan Seulanga tidak megah lagi di Takengon? Secara politik-geografi akan terbukti seandainya provinsi ALA wujud. Jika kita mau jujur, kehadiran provinsi ALA sebenarnya konsekuensi logis dari prilaku kolektif, yang selama bertahun-tahun menabur ketidakpercayaan, pilih kasih dan ketidakadilan dalam konstribusi dan peluang berpartisipasi dalam birokrasi kepada non komunitas Aceh Pesisir.

Sekarang, tibalah waktunya kita menuai Provinsi ALA. Bersyukurlah! Mengapa mesti ditolak, dibenci dan munafik. Inilah hasil karya kita. Apalagi Provinsi NAD dan ALA berada dalam kandungan NKRI dan sama-sama satu Ibu dan menyusu kepada induknya – Jakarta. Malah sepuluh provinsi lain boleh saja lahir di bumi Aceh, yang pasti, Aceh sudah memiliki surat tanah -sertifikat- sebagai bukti sebuah negara berdasarkan peta yang dibuat dibuat oleh Inggeris tahun 1883 dan 1890. Ketahuilah Renggali selamanya akan mencintai Seulanga, tapi cinta tak mesti harus bersatu. Bukan?

*Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark

Oleh Win Ruhdi Bathin

Kerajaan Linge atau Kerajaan Islam Linge memang masih diliput misteri. Dikemas dalam bahasa adat gayo, seperti melengkan, saer, didong serta dongeng. Secara ilmiah, masih sangat minim meski penulis sekaliber antropolog Amerika, John R Bowen, pernah menulis sekelumit tentang gayo, dalam bukunya, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History, 1900-1989.

Sebagai Antropolog, John R Bowen yang kemudian mengganti namanya menjadi “Aman Genali”, menulis sejarah gayo dalam bukunya setebal 298 dengan hard cover dan kertas yang bagus, secara antropolog.

Dalam pengantar buku Bowen di halaman belakang cover, dituliskannya, “When small-scale societes are intregrated into larger spheres of authority, their key cultural form are often reshaped.

In this book, an anthropologis analyzes political and cultural change among the Gayo, a Muslim people numbering about 200.000,- who live in the highland of northern Sumatera. John R. Bowen , who lived among the Gayo and is fluent in their language, shows how their successive absorption into both colonial and postcolonial states has led them to revise their ritual speaking, sung poetry, and historical narrative.

Berbeda dengan Bowen, di tahun 1984, tepatnya 1 Januari, Hamzah , menuturkan silsilah Keturunan Syeh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala) entah atau Muyang Kute dari Delung Sekinel Kutereje Ling ke Delung Tue Reje Guru Kecamatan Bukit Simpang Tige.

Catatan sejarah Linge ini saya dapat dari Ketua MANGO (Majlis Adat dan Kebudayaan Gayo), Mustafa AK, Selasa (18 Agustus 2009), dirumahnya di Kala Kebayakan. Menurut Mustafa AK, dia mendapatkan catatan sejarah Linge ini dari keluarga Hamzah.

Karena Hamzah sebagai keturunan Reje Linge sudah wafat. Hamzah menulis Sejarah dan silsislah Kerajaan Linge ini Tanggal 1 Januari 2009. Hamzah menyebut dirinya selaku Kwali (Wali) dan penitir (penulis).

Jika melihat kopian Sejarah Linge yang ditulis Hamzah, paling tidak ada delapan halaman. Namun tidak diberi tanda mana halaman satu hingga delapan. Masing-masing halaman sepertinya berdiri sendiri, tidak nyambung ke halaman lain.

Melihat apa yang ditulis almarhum Hamzah, tampak jelas Hamzah sangat pinter karena menitirkan sejarah kerajaan Linge – Negeri Antara disertai dengan Kompas, gambar kerajaan Linge dengan rincian, peta buta, denah dan struktur silsilah.

Saya coba menggambarkan masing-masing halaman meski tulisannya dalam kopian yang say abaca sudah banyak yang kabur. Simak di salah satu halaman ini, dituliskan judulnya Batas Kerajaan Linge Negeri Antara. Hamzah membuat gambar Bintang bersudut delapan.

Bagian atas Bintang (penunjuk arah) yang digambar Hamzah ditulis (Utara) Karakurum (Mongolia) Sebelah Selatan berbatasan dengan Antara Sara Ketike (Antartika), bagian Timur berbatasan Pas epek (Pasific) dan bagian Barat Kerajaan Linge Negeri Antara berbatasan dengan Latamadagaskar.

Diluar tulisan bintang yang menunjukkan arah bersudut delapan ini ditulis melingkar Pulo Perca. Dibawah peta ini ditulis “Pulau Perca (Asia)”.

Dalam keterangan ditulis Hamzah , Sebelah Utara berbatasan dengan Karakurum (Mongolia), Sebelah Selatan berbatasan dengan Antara Sara Ketike (Antartika), Sebelah Barat berbatasan dengan Latamadagaskar (Afrika) dan Sebelah Timur Berbatasan dengan Pas-epek (Pasific). Tulisan vocal e pada pasepek, diberi tanda garis diatasnya.

Dalam lembar yang sama (satu halaman) Hamzah juga menggambar Umah Pitu ruang yang merupakan rumah panggung. Di gambar ini, Hamzah juga membuat Bintang Tujuh di bagian atas rumah sebelah kiri. Laut dengan perahu bertuliskan Perau (perahu) Bujang Genali. Hamzah juga menulis gambar segitiga kerucut yang berjumlah tujuh dengan tulisan Pemulang Pitu Perkara. Kemudian gambar berbentuk setengah lingkaran yang bertuliskan Kal Pitu Mata.

Juga ditulis Lapan Johor Pitu Aceh

Reje di Kedah , Pahang

Kedah Ling, Kedah Malaka.

——-

Di halaman lainnya, Hamzah menulis tikamnya) Moyang Karang Putih Kunyur (penikam Gajah) ari Buntul Kung.

Ter (berputar-putar) bergelung Ke-Asampe terus ke Umang (Utara) terus berpusing I (Timur) Jatur Kunyur ini di Hutan Rimba Bukit kunyur (Lembing) menanda di buka (Negeri) yang dipugar.

Masih di halaman yang sama, Hamzah menggambar rumah. Sepertinya juga Umah Pitu Ruang. Dilingkari tulisan Gelung Perajah. I bagian atas rumah ditulis Asam Perege (Barat). Tiur Kala Ili. Umang (Utara). S

Bagian Selatan tidak terbaca.

Mla Hoya Hoya

Belalang kupu-kupu

Tepae gelang puntu

Anak mane rebutne ari pumungku

Aku gere pane bersebuku

Wassalu wale hak-hak (Selawat nabi)

Sakku rio – rio hak-hak (enti sok ko enti rie)

Uru-urum dewe uton

Pancang Uten tertene

Nama terku

Padehne

Tom imo muk-muken wan uten so 3 X

Ane guel repa’i

Tari sakit awak

One kin ulu kudi

Ungi tareng ungak

Sing-sing ngak kesing ungi taring ungak.

Selanjutnya di halaman lain catatan Hamzah yang ditulis tangan ditulis ;

Pendari Siopat Reje Linge :

Cik Serule (Surul) Seru Lo (Lao)

Cik Beno I Penarun (Penosen) Kayu Pena

Cik Gelung Perajah I Gewat (Kunyur Pegajon

Cik Dah (Kedah) Ishak (Abd.Malik Ibrahm Ishak)

Opat Mudunie Pertama (Mulo Ara Denie)

..Ama Linge (sebelum tulisen ama linge, tidak terbaca. Saya buat titik-titik)

..Serule (Surul) Seru lao (Hari gembira)

..Pena (Kayu I penurunen kin umah Pitu Ruang)

Takengon Lut (Takengon Lut)

Opat Mudenie Kedue

..ma Serule Mulo Demu ( awal-awal warna ni bene-bene)

.. e Linge Mulo Ara (Asal Kerpe Jemarum murip)

..ak Kapal Iturki (Kapal Nabi Olah Nus AS)

..ri Rum Teridah (Baru kering Lut Lilin)

Opat Mudenie Ketige (Ketige Dunia Nampak)

..ma Reje Linge (Mulai ada raja)

..e Reje Bukit (Kebayakan)

..e Reje Patiamang (Blang Kejurun) Blang Kejeren

Opat Reje Nabuk (Merah Abuk) Lukup

Opat Mudenie Keempat (Reje-Raja)

…ma Reje Linge (Ishak)

..e Reje Bukit (Kebayakan)

Kejurun Nosar (Samar Kilang)

..Cik Bebebsen (Ayu/baru dilantik ari (dari)/Lumut (Sibolga) sisa yang tinggal kejadian..g kur Ujung Pejudin (Kute Bedarah) sisa 27 orang

Mukekawalan : 7 Linge Jadi Pengawal

(+ Selingen) di Loyang Daratan Cina

(Kalingga) di India

(Lingayen) di Filipina

(Tambra Lingga) di Malaka

(Lobok Lingga) Lubuk Linggau Sumatera Selatan

(Kota Lingga) di Kalimantan

(Purbalingga) Probolinggo di Jawa Tengah

Mukekewalan Diluar Bathin

Mata kanan (1)

Mata kiri (1)

Telinga Kanan (1)

Telinga kiri (1)

Hidung Kanan (1)

Hidung kiri (1)

Mulut (1)

Mukekawalan Lahir : Pada Diri

Sujud pada Khaliq (semah)

Tangan kanan sujud (semah)

Tangan Kiri sujud (semah)

Siopat Mudunie Batin (Dalam Diri)

1. Ate (hati) Tanoh-Mulut
2. Lempedu (empedu) Wih (air)- mata
3. Jantung (Rara) api-Telinga (kuping)
4. Sosop (Kuyu) angina – Hidung (Yung)

Terjadi Ari Siopat

1. Tanoh Pintu Gerbang awah (mulut) tanah
2. Wij (Air) Pintu Gerbang Mata
3. Rara (api) Pintu Gerbang Telinga
4. Angin (Kuyu) Pintu Gerbang Yung (Hidung)

Pemindahan Melayu Tue Linge

1. Pulau Lingga di Riau (Panglima Lingga) berkubur disana. Bapaknya Moyang Meriah dan Sengeda (Menjadi Gajah Putih)
2. Probolinggo (Jawa Timur) dibuka Wali Sembilan (Songo) dari Linge Isaq
3. Linge Garut Jawa Barat
4. Lingga Raja di Karo (Gunung Sibayakku lagu si lungun (Simalungun) Kabupaten Karo (Karo-dikejar)

Kute (Kota)

Kute Reje Linge (Delung Sekinel)

Kute Reje (Banda) Aceh) dibawa oleh Merah Johan Sultan Pertama di Aceh

Anak Reje Linge Istri Putri Ning Lian …

Masih satu halaman dengan keterangan diatas, Hamzah kembali membuat gambar penunjuk arah (Kompas) tentang Batas Reje Cik Gelung Perajah

Uken (Asam Perege) (Barat-Red)

Kutoa (Kala Ili)(Waq) Linge(Timur- Red)

Kupaloh (Burni Unyur2) (Selatan)

Ku-Bur (Umang) (Utara)

Catatan, di bagian (Kutoa) (Kala Ili) (Timur) ditulis penyelusuran dari Kuala Beukah Aceh Timur.

Masih di halaman ini, Hamzah membuat peta Tanah Gewat + Kedah (Dah) Isaq + Kedah Ishaq (Linge) Kedah Malaka , Kedah Kutereje (Banda Aceh) . Peta ini tidak saya buat karena banyak tulisan yang kabur . Didalam peta ini tertulis lokasi, nama tempat, sungai, jalan raya, Kampung.

——-
Pada Halaman berikutnya tulisan Almarhum Hamzah yang dibuatnya 1 Januari 1984, Hamzah menulis Silsilah. Yaitu Silsilah Keturunan Syeh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala) Entah atau Muyang Kute dari Delung Sekinel Kutereje Linge Ke-Delung Tue Reje Guru Kecamatan Bukit S

Simpang III (Kabupaten Bener Meriah).

I. Tuen Ta’ Umar

II. Baginda Saleh

III. Jana Katib Tue

IV. Jana Katib Mude

Dari Tuen Ta’ Umar , turunan Pertama adalah Syeh Abdurraub (mungkin Abdurrauf) Fansuri Syiah Kuala , Entah, Muyang Kute, Datok Guru.

Blang Jorong Kecamatan Bandar adalah lokasi kuburan Syiah Kuala Kute Teras.

Panglime II—Genting Rappe (Kerampe)

Guru Morang (Situmorang)

Panglime III

Merah Genting

Panglime IV

Bener Kelipah

Panglime I

Guru Merut (Dikubukan hanya Rab)

Panglime V

Gempar Alam

Diantara Gempar Alam kanan dan kiri Adalah kuburan Umum (di Lokasi kuburan Blang Jorong).

1 (satu) sampai dengan Lima inilah Panglima Sekinel delung Linge Gayo Abad ke-17, mengelilingi Barus setelah ditangkap panglima Batak ini, sujud kepada ilmu Syiah Kuala dan mengelilingi seluruh Aceh dengan panglima yang lima orang ini berangkat setiap pergi jumlah kuburan Syiah Kuala 44 buah isinya kosong.

Diwasiatkan kuburannya :

1. Atan Buntul (diatas Bukit Kecil)
2. Tuyuhni Atu (dibawah batu)
3. Pake Rak (Parit) kelilingi
4. bagian Atas ada Rumah (Tuyuh Keleten)

——–

Silsilah Syeh Abdurraub Fansuri Muyang Kute

Syeh Abduraub memiliki dua istri. Istri Tue Delung Tue. Istri Mude Reje Guru. Dari istri tue lahir tiga anak. I. Muyang Ulu Tanoh Belang Kejeren. II. Muyang Mang Lho Seumawe.III Muyang Petukel Blang Jorong.

Muyang Ulu Tanoh Blang Kejeren tidak ditulis keturunannya. Hanya disebutkan keturunan di Belang Kejeren dan Meulaboh.

II. Muyang Mang Lho Seumawe-Muyang Kelowang—Bayu-Reje Banta-Abd Latif Aman Maryam-M.Yunus.

III Muyang Petukel Blang Jorong-Muyang Mungkur Isaq- Muyang Pase-Muyang Peterun-Dik La’i-Tgk. Mahmudin-Jakfar A. Guntur.

Dari Istri kedua Syeh Abdurraub Fansuri Muyang Kute, yakni Reje Guru-Muhd. Jewe Muyang Beram Lho Seumawe-Datu Penacih Bintang-Mukmin Tgk Bernun. Mukmin Tengku Bernun memiliki dua keturunan, M. Kuali dan Tengku Tapa.

M.Kuali memiliki keturunan Mohd Syeh Reje Guru dan Sulaiman. Muhammad Syeh Reje Guru memiliki dua istri. Anak dari istri Tua Syeh Reje Guru adalah (1) Keruh Reje Daud, (2) Inen Aminah, (3) Semi’ah Inen Catur , (4) Rani Inen Tetunyung, (5) Rukah Inen Banta.

Dari istri kedua Muhammad Syeh Reje Guru, ( 1) Jernih, Midah I Mude Entan (I), Bujang ( Syiah Kuala)…Bukit Muli. Dari Bujang (Syiah Kuala) (I) Hamzah Selaku Kuali Mahniar (II) Selamah Mirwan.

Keterangan :

Dikaki Gunung ada dua mata air. Yang satu airnya jernih dan yang satunya keruh. Kualanya ke air panas (Gunung Gerdong). Lahir anak Mohd Syeh (Reje Guru) sekali lahir anak istri tua dan istri muda, maka dinamai 1 Keruh, 1 Jernih.

—————–

Disalah satu halaman lainnya, sebut saja halaman terakhir dari tulisan tangan Hamzah, dia memakai dua halaman buku untuk menuliskan sebuah skema silsilah ,”Kute Kedah Asal Usul Datu Pitu”.

Skema Asal Usul Datu Pitu dimulai dari Adik Sultan Machdum Malik Ibrahim Sultan Perlak Syeh Abd. Malik Ibrahim Hak (Datu Peski) Tahun -80,6 (?) Kuburan di Kebayakan.

Tok Merah Mersa Negeri Isaq (Kuburannya di Belakang Pendopo Bupati Aceh Tengah)

1. Merah Putih (Pergi ke daerah Kiran dari Beracan, kemudian bernama Kampung Negeri Merah Due (Mereudu)

2.Merah Item (Pergi ke daerah Kiran dari Beracan, kemudian bernama Kampung Negeri Merah Due (Mereudu)

3.Merah Bacang Hulu Sungai Seunagon (Senedun)

4. Merah Jernang –pergi ke Barus (Tapanuli)

5. Merah Silu (Malik Ibrahim) –Pergi ke daerah Lukup dan Blang Kejeren. Malik Ahmad (Reje Jempa) pergi ke Jempa Pesangan yang mendirikan Kala Jempa periode II. Malik Saleh =Merah Silu II Reje Pase dan keturunanannya. Malik Abdullah (Raja Jempa) Merah Jepa (Miga) Merah Singkuna dan keturunannya.

6.Merah Pupuk (Pergi ke Negeri Daja)

7.Merah Mege (Yang jatuh kedalam sumur….(Loyang Datu) dekat Kute Rayang dan ditolong oleh seekor anjing.Si Pase anak yang paling kecil….ayahnya Tok Merah Mege..sedangkan sudaranya yang enam orang membiarkannya dalam sumur hingga datang ayahnya mengambilnya sendiri.

Dibawah skema silsilah ini juga ditulis tantang Buntul Linge :

Buntul Linge :

-Linge (Bukit)

-Jamat

-Delung

-Sekinel

-Pertik

-Nasuh

-Tukik

-Kutereje

-Payung

Beno Penarun

-Cik Beno

Owak

-Kerlang

Lot

Kala

Serule

Bukit

Cik

Lot

Gelung Perajah Gewat :

Nalun Gewat, Genting

Pengulu Akim (Tenamak)

Pengulu (Bedak Bale)

Pengulu Mungkur

Pengulu Uning

Pengulu Tiro (Cik Tiro)

Pengulu Bungkuk

Pengulu Owak

Pengulu Lumut

Pengulu Kung

Pengulu Loyang (Gunung) (Akim)

Kedah (Isaq)

Kute Keramil

Kute Meriem

Kute Rayang

Kute Robel

Kute Baru (Kerawang)-Gading-Kemulo-K

ala….-Air Asin-Pepumu

Jagong-Gegarang

Gemboyah –Batu Lintang

Keterangan : Dari Sebelah Syeh Andurraub : Persembahyangannya, 1. Batu Mesjid. 2. Buntul Pedim.3. Buntul Uber-uber. 4. Buntul Drakal (Blang Rakal), 5. Buntul Wih Lukup-Buntul Telege (Lut Atas).

Tuen Ta’Umar : Terbang dari Mekah, Jatuk Pangkatnya di Lho Seumawe, sewaktu diambilnya pangkatnya itu terangkatlah dengan tanahnya, maka tanah itu langsung diangkat ke Bur Telong (Gunung Gerdong dan menjadi laut kucak (danau) kecil itu maka rasa air danau itu asin sampai sekarang. Diatasnya ada telaga kecil seperti dibeton dan persembahyangan. Nama pangkat Syeh (Tuen Ta’ Umar yaitu (Belah Kamar)

Datu Peski , Datu Peski (Abd Malik Ibrahi Ishak, kakeknya Merah Mege, kuburannya diats telaga Peski. Sekarang Kuburan Orang Gunung, sebelah Utara Kebayakan (Suami Istri). Dan Merah Mersa dikuburkan di Belakang Pendopo Takengon (di dapur rumah bupati). Dan Merah Mege berkubur di di Dekat Loyang Datu Isaq dan saudaranya yang enam semua melarikan diri membuka negeri masing-masing sebagaimana diatas takut kena ancaman dari Bapaknya dari Bapaknya Muyang Mersa akibat menjatuhkan adiknya kedalam Sumur.

Keterangan lainnya di halaman ini, diterangkan :

Kejurun (Presiden)

Arti Kejurun (Presiden) Juru Mudi

Juru Kemudi, Juru membuka negeri

Juru mengharungi air bah

Reje (Raja, Wakil Presiden)

Arti Reje (Raja) Remalan Jemot, Remalan Jem, Remalan Jamut, Renelen Jemen (Reje)

Dihalaman Asal Usul Datu Pitu ini, disebutkan Penulis Wasiat adalah Raja Cik Gelung Prajah Gewat Mohd. Asa Saleh Abarita (Bertanda tangan),

Banyak orang yang mengeluhkan bagaimana langkanya sebuah buku tentang sejarah Gayo, secara ilmiah atau versi dongeng yang didongengkan pengantar tidur. Itupun dahulu kala. Karena orang tua di Gayo saat ini, tidak lagi pernah mengantar tidur anak atau cucunya dengan “Dongeng Kerajaan Linge”, karena digantikan sinetron.

Misteri Gayo, sejarah , budaya dan peradabannya, memang belum terbuka penuh. Penggalan-penggalan, kepingan data , fakta dan dongeng tentang sejarah Gayo, suhuf –suhuf yang tersebar (istilah Yusradi Usman Algayoni, Mahasiswa S-2 USU Medan , Geo Linguistic ), masih tersebar. Sebarannya bisa dimana saja di Antero Aceh , Indonesia bahkan dunia. Karena saat Van Dalen membantai kawasan pedalaman Aceh Pegunungan, dalam rangka memperluas jajahannya , pasukan Belanda selain mengeksekusi warga Gayo dalam benteng-benteng pertahanan dengan senjata moderen senjata api laras panjang dan pendek, juga membawa barang berharga milik Kerajaan Linge. Bahkan konon, di Museum-Museum Belanda banyak disimpan barang milik Kerajaan Linge atau penduduk Linge. Demikian halnya di Perpustakaan Leiden Belanda, terdapat tidak kurang dari 15 buku tentang Gayo.

Gayo di jaman pra sejarah malah terkuak dan Absolut sudah ada hunian di Dataran Tinggi Gayo (Datiga) , Tepatnya di ( Rock Shelter / Abris Sous Roches Mendale ) Ceruk Mendale, Kecamatan Kebayakan sejak 3500 tahun lalu. Hal ini dibuktikan oleh peneliti Balai Arkeologi Medan (Balar) dengan ditemukannya ‘Batu Kapak Persegi” yang berusia 3500 tahun.

Fakta ini menunjukkan bahwa Ceruk Mendale pernah dihuni oleh peradaban Neolitik 3500 tahun lalu.Akhir – akhir ini, gerakan atau keinginan untuk mulai mengumpulkan kepingan sejarah gayo yang tersisa mulai santer dikalangan generasi muda Gayo. Bukan berarti generasi gayo menjadi rasis atau ekslusif, tapi karena keinginan mengetahui identitas dan tentu saja harga diri sebagai sebuah suku, bangsa yang selama ini dimarginalkan dalam banyak hal. Sayangnya lagi, sebagian generasi gayo lainnya yang permissive, tidak peduli pada identitas diri sebagai “Urang Gayo” yang dikenal sangat demokratis dengan sistim pemerintahan “Sarak Opat”. Pemerintahan yang Demokrasi dan bukan Kerajaan yang turun temurun.

Ada pencerahan sejarah Gayo dari bangkitnya generasi gayo saat ini akan pentingnya sejarah sebagai identitas diri. Bukan hanya sejarah saja, tapi juga upaya penyelamatan “Basa Gayo” yang dikenal sangat lengkap, santun dan berbeda dengan bahasa Aceh umumnya di daerah Pesisir.

Adalah tugas berat selanjutnya untuk kembali menggali , menyatukan kepingan yang tersisa dari sejarah gayo. Ada kemauan , ada jalan. Walaupun diperlukan beberapa generasi kedepan agar rangkaian sejarah tersambung lagi dengan baik dan benar dan tentu saja ilmiah. Bismillah…..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.