You are currently browsing the category archive for the ‘Kekeberen (Cerita Rakyat)’ category.

Oleh Yusradi Usman al-Gayoni *

‘Kekeberen’ adalah satu dari sepuluh sastra lisan yang ada di tanoh Gayo. Kata dasar kekeberen ini adalah ‘keber,’ yang dalam bahasa Indonesia berarti kabar, berita, atau kisah. Kekeberen merupakan penggambaran, pengabaran, dan pengisahan. Singkatnya, kekeberen menceritakan kisah terdahulu, atau rangkaiain cerita kekinian yang dikemas dalam bentuk cerita dengan berbagai bentuk, muatan, dan simbol yang dirangkainya. Muatannya dapat berupa cerita-cerita Islam, misalnya saja sejarah Islam, cerita nabi, sahabat, dan lain-lain. Dapat pula menggambarkan kearifan-kearifan lokal yang dimiliki suku ini. Selain itu, bermuatkan sejarah, misalnya saja tentang sejarah etnik Gayo, kerajaan Linge, kerajaan Isaq, kerajaan Bukit, kerajaan Cik, kerajaan Syiah Utama, dan cerita sejarah lainnya. Juga, topik lain yang tak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat Gayo. Intinya, kekeberen mengajarkan pengajaran moral kepada pendengarnya, yang umumnya anak-anak. Dengan demikian, mereka dapat mengambil hikmah dari kekeberen, sehingga dapat menyikapi hidup dengan lebih bijak, baik, dan terarah.

Biasanya, orang tua, terutama nenek-nenek mengisahkan kekeberen ini kepada anak, atau cucunya sebelum mereka tidur. Bentuk, dan muatan ceritanya beragam seperti yang di sampaikan di atas. Namun, apa yang terjadi dengan kondisi kekeberen di tanoh Gayo saat ini? Kekeberen dapat dikatakan sudah hilang dari masyarakat Gayo. Kalau pun ada, pelaku dan pendengarnya terbatas. Kemungkinan, ada di kampung yang tidak tersentuh nilai-nilai modern. Itu juga jarang. Dari kebertahanannya, penulis melihat, kekeberen ini bertahan sampai tahun 1990. Sementara itu, tahun 1990 sampai 2000, kekeberen, semakin kurang dipraktekan. Sekarang, kekeberen sudah digantikan televisi. Orang tua, terlebih anak-anak lebih memilih menonton televisi. Mereka (anak-anak) disibukkan pula dengan tumpukan tugas mereka dari sekolah. Sebagai akibatnya, anak-anak lelah dengan aktivitas seharian, dengan sisa energi yang ada, mereka langsung tidur (tertidur)

Selain akibat teknologi, pelakon kekeberen juga mulai berkurang; sudah memasuki usia senja, dan tinggal hitungan jari. Dalam kaitan tersebut, orang tua yang sekarang memiliki kemampuan yang terbatas terkait kekeberen. Sebaliknya, ceritanya tidak lagi mengangkat nilai-nilai religiusitas, moral, etika, dan kearifan lokal, tapi kisah dari televisi yang ditonton sama-sama, yang kurang mengandung nilai-nilai edukasi. Karena tidak berlangsungnya transmisi budaya, kekurangingintahuan, kekurangmampuan, dan kekurangkreativan. Sudah bisa dipastikan, transmisi budaya terputus antara generasi tua dan generasi muda di tanoh Gayo. Akibatnya, generasi muda, terutama yang lahir, tahun 1980-an sampai sekarang, tidak tahu menahu terkait sejarah, sastra lisan yang kekeberen salah satunya, adat istiadat, norma, ‘resam,’ peraturen, dan kebudayaan tempatan.

Hal inilah yang menjadi persoalan yang memprihantikan di Gayo sekarang; terputusnya transmisi budaya dari yang tua ke yang muda. Orang tua kurang mengajarkan anak-anak-nya kebudayaan tempatan. Ditambah lagi, anak-anak juga enggan mempelajari budaya leluhurnya karena tidak adanya motivasi, arahan, dan tidak terbentuknya lingkungan ke arah dimaksud. Salah satu asumsi yang salah dari orang tua selama ini, adalah anggapan bahwa anak-anak akan mendapatkan pengalaman langsung (empiris) dari interaksi budaya sehari-hari dari lingkungan sekitarnya. Pengajaran budaya tidak perlu diajarkan baik secara formal, maupun secara informal. Selain itu, terjadinya ‘dominasi’ tokoh tua (‘senioritas budaya’), yang muda kurang diikutsertakan. Sebagai akibatnya, putusnya transmisi budaya tidak bisa dielakkan. Karena adanya rentang pengetahuan kebudayaan, dan pengalaman yang cukup jauh antara yang ‘tua’ dan yang ‘muda.’ Generasi muda Gayo sekarang merasa ‘kabur’ dalam melihat realitas budayanya, terutama soal kekeberen.

Ditambah lagi, soal miskinnya pendokumentasian yang bertalian dengan Gayo, terlebih lagi soal kekeberen tadi. Transmisi budaya terbatas hanya lisan, yang frekuensinya sangat terbatas. Belum lagi kurangnya tradisi menulis, yang mau menulis, terutama dari generasi ‘orang tua.’ Hal tersebut, tentu, semakin menambah peliknya persoalan ini. Sebetulnya, sudah ada dokumentasi tertulis prihal kekeberen, walau jumlahnya terbatas. Namun, dokumentasi tersebut tidak ada di Takengon sebagai sumber kekeberen tadi. Sebaliknya, kekeberen tadi ada di luar Aceh, terutama di Medan, Jakarta, dan umumnya pulau Jawa. Lebih disayangkan lagi, pemerintah kabupaten kurang menggali, memelihara, memertahankan, dan mendokumentasikan sejarah yang dimiliki suku ini, khususnya persoalan kekeberen. Pemerintah kabupaten kurang menghargai aset sejarah, dan budaya yang terwaris. Mereka (pemerintah kabupaten) lebih mengedepakan pembangun fisik, yang tak jarang berujung pada kerusakan ekosistem, dan semakin mengerdilkan kearifan-kearifan lokal yang ada. Singkatnya, pembangunan yang ada berbuah pada ‘kerusakan yang berkelanjutan.’

Padahal, kekeberen, dan sembilan sastra lisan Gayo lainnya berpotensi menjadi sarana pemertahanan bahasa Gayo. Kekeberen salah satunya, membuka ruang bagi hidup, berkembang, dan dipakainya bahasa Gayo. Dikarenakan, berdasar kajian ekolinguistik (ecolinguistics), atau ekologi bahasa, bahasa perlu lingkungan untuk hidup. Perlu lingkungan yang merumahi bahasa. Peran itulah yang dimainkan kekeberen, yang mengemban misi kebudayaan, yaitu dengan penggunaan ragam dan register khusus yang mereflesikan kehidupan religius, sosio-kultural, dan ekologis masyarakat Gayo.

Untuk itu, upaya-upaya penyelematan, terutama standarisasi bahasa Gayo (pembakuan), dan pendokumentasian hal-hal yang terkait dengan Gayo, terutama kekeberen tadi perlu dengan segera, sungguh-sungguh, terencana, terukur, dan maksimal dilakukan, terlebih lagi pemkab Aceh Tengah melalui dinas terkait. Kalau tidak, kekeberen yang hakikatnya berupa pengabaran, pengisahan, atau penceritaan kehidupan masyarakat Gayo akan berujung, dan menjadi kekeberen.

* Pemerhati Kebudayaan Gayo/Mahasiswa Program Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara. Saat ini (15-22 Agustuss 2009), sedang meniliti ekolinguistik (ekologi bahasa) di Takengon.

Oleh A.R. Hakim

Dele jema berpendepet, mumerinen apabile bur mubeltak mekesute lagu Bur Ni Telong so ke basa Indonesiae gunung merapi, mubeltak sara waktu tangkuh ari wan bur a, wih, rara, tanoh cempege, ledak, atu bene sana si ara wan tuke ni bur a tangkuh lagu jema peloahan. Bekase si taring nge mujadi keltung renyel wih pe mugenang, pemarine mujadi lut, lagu lut Tawar-te ni. Danau basa Indonesiae. Ike sinting beta asal usul ni lut atawa danai bewe ne, keta nge trang sengkiren Bur Ni Telong so mubeltak, meletus nge turah lo ari pe lut atawa danau. Buge entimi bur a mubeltak kuneh lo ari pe, ata meh mureh muremok lengas mujadi rata kase. Senuen, manuksie, koro, kude, kaming, bebiri, ume a bene rusak gere ne tehunei. Syukur ike gere sampe ku nyawa.

Keta kekeberan ni jema tetue tentang asal usul ni Danau Laut Tawar-te ni, cube keta ipengen, kadang te kase nguk gunei kin isi nate kin pengemasan, orop cerak-cerak berakah.

Pudaha, silun, sedenge beta kire-kire, ara sara jema ulama, jema malim ke kene pakea pudaha oyale si ulie. Si ulie ni si gatine keta beribedet i Mekkah, si nge terang tentu ike semiang Jemat. Nge mari muniri-niri renyelwe berangkat ku Mekkah. Ke bukeneh pe jarake, sejep we nge minter sawah, keta mari semiang kase ulakwe mien ku Gayo ni. Sana i genie, gere kubetih, gere ara seder jema kadang te begene burak lagu nabi mekraj, mi kadang ta betul pe, kadang te temerbang, oya pe gere ara seder jema, si mehate remalan we si ara mukeber.

Si ulie ni ne bedene kul, atas, anyong, langkahe pe pepien meteri, seger jangkang pe kadang te nge orap si pe, kekirentemi we munyawahne. Gere sidah pe atas ni bur si teridah kite engon ni, relem narul, kolak ni lut, nguk perin nise gere ara nyanya. Gere ara perasante si nguk mulintang langkahe ke kusih pe we male beluh. Betale kire-kire kul ni bedene, kolak ni jangkange, angong ni tubuhe buh jeme persine Unok.

Se ni pe kin pengalut ni jema ke ara jema bi bejangkang kolak, kul bedene, keta renyel rasi jema, kul ni beden pe lagu Unok, beta kedah.

Jadi ike munurut kekeber ni jema jemen, Danau Laut Tawar-te nipudaha gerele lagu besilo ni koleke, kucak we, lagu kulem. Wihe mujelobok mumata ter ari tuyuh, jernih pedi, sonele dirodari muneniri bersesangulen sesabi dirie, mari-mari niri ho ulak mien ku langit. Kene jema petere Bensu pe, yonele muniri, bepangir urum aka-akae I sagi-sagi ni karang so Malim Dewa munenep sesire beserune muguel bensi, mungantehi pateri Bensu. Nge mari muniri, keta ulak temerbang mien ku nenggeri Antara, beta kene jema.

I geniring ni kulem a ne ara sara batang ni kayu kul pedi. Ton ni benatang-benatang uten a belongoh porak le so, begegolahan kadang te gerahan keta minum ku wan kulem a. Manuk pe beta mumangani uah ni kayu a ne, gerahan-gerahan so keta ne renye minum kone. Batang kayu len pe dele ilen one ara seba mi, ara si muah ara si gere tempat ni manuk berdediang terbang ari ranting ku cabang memangani uah, mungenali iyok kin isi ni pogenge.

Jadi pede serlo ter bilangan si jeroh ketika si bise, turun ilham ku Unok ni ne bahwa kase sara masa male terjadi turun ni Tuhen cubeen ku makhluk atan denie ni munuji sahan-sahan si berimen, sahan si gere. Si berimen keta selamat kerna we mumengen manat, keta si gere nge terang mudepet ezeb kerna darohaka. Male geh kase wih kul, banjir kene basa besilo ni, bur si atas-atas pe meh apus buh wih kula, denie ni mugenang. Jadi turah tos sara perau kul kin tempat besilu. Atau perau a ne le berumah, i one mangan minum, imah perbekalan si genap dirie kin papien lo ni kadang te sawah pe ku ulen ku tun beta mulo. Perau kul a ne turah tir itos imungen, si nge turah ara bepari i sara tempat, si kire-kire murah berhubungan urum Mekkah.

Jadi, nge putus makripet ni Unok ne gere ara len pilihne, keta batang kayu kul si genering ni kulem a ne le si turah ijadin kin perau kul, ke nume oya keta gere sidah pe kase isie.

Tar bilangan si jeroh tar ketike si bise, putus makripet bulet ate tumung kekire ni Unok ni, kayu kul si genering ni nin a nepe ijerhutne. Mujergut urum uyet-uyete, tar one ieyate maran-aran renyel sawah ku serap ni lut Acih so tar one renyel ku Mekkah.

Ale bekas ni perdu ni kayu a ne, tanohe ke nge mubungker lagu kul nge mukelong mukultung, renyel mujadi kulem kul, kulem uyet ni kayu kul a ne nyap-nyapan relem sari ku wan tanoh se mupantik. Loloten kayu si sare Unok a ne oyale kebere mujadi arul kucak, meh kemokotne memakin relem memakin kolak, wihe pe renye memakin deras.

Oyale keta ne asal usu ni Dana Laut Tawar-te ni urum wih kul si bergeral Sungai Pesangan, si mujaril sawah ku Lut Acih so.

****

Sumber:
Hakim, A.R. 1986. Bunga Rampai Cerita Rakyat Gayo, Seri IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Oleh A.R. Hakim

Si kedele ne manuk si peralai jema oyale kukur. Ike kukur galak keta nguk isabung, ijalu. Keta iaran taroh. Mera we raie taroh a ne ku sepuluh ribu, due puluh ribu, mera we koro atawa kude pe bun jema kin taroh. Dum kul nate, beta mulo ke dah. Menang kalahe keta terserah ku nasib, ara kukur galak gere lepas mah taroh, keta talu. Nguk perin kukur ijalu kin peme rah ni nepekah. Gere tubah lagu jema betaroh tekala pacu kude so, kude si musangka ke mujontor de lahe seneta, si betaroh keta mumangan sedep, mangan ku bajak rum kul ni kutep.

Si menang a keta nge tetnine ike si kalah a keta pukekucip, pupeperus gumis, nome kelam gere ne mis, pe ng wan beb nge meh titis.

Sara macam mi keta gere kin kukur sabung orop nge iperalai kin lelon kin dediangan, igegeneng, ipepanang, ipeperus, ipenirin dum galak nate.

Iyo soboh iengon-engon, ikerteken pumu kukur pe mungku, tuke mulape lagu si nge korong, osop gerahan basah gerngong. Ku si beluh oya kin temengen, beluh ku empus atawa ku rebe, si gere pu udah keta ku mersah atawa ku umesegit.

Sentan soboh dabuh mencer matan lo cap renyel iuetan rungang beranir-anir bergegiring, isantiren ku tetulok itatangan pora tetemas pecengan, ileweni lagu becerak urum budak. Ikumuren wih isempuren ku bedene, ipeperus sire we bejunte atan jejari pumu kiri, ikerteki kin pumu kuen. Kene pake a iejer mentalu.

Ke nge porak kase o ayon ku wan rungang igenengen isantiren ku cabang nasam, ku labang sagi rumah tuyuh ni teroto. Anak dirie pe kadang ipenirine sana kene jema banan. Lagu si gere ara lupen sejap pe, betale kul nate.

Kukur mentalu, ate galak, kukur mungku guke isimak, mangan sempat lupen, utang ku Tuhen gere ne beriro. Kelaman ara kin regge ni jagong pakan kukur penan ni kumpu barik enti mi.

Ulak ari empus atawa ari ume, cube mi ingetei kune kin cara ni pake si bekukur a. Dumna guree kadang te ara uah ni kupi ben kutip wan karung, keta katan ulu renye ijujung, kadang batang ni pete atawa cabang ni kayu kedah male kin utem atawa kin tersik kin tiang ni penjemur nupuh, keta katan kerlang dabuh iarang parang pe itemeng ike perlu anak pe iemen mien, keta ne kukur wan rungan mien itemeng kin pumu kiri. Sengkiren uren pe lo buet lagu noya gere muketapi. Kite mi we munengone lagu si nge sawah dehdohe. Kune kin kinen muniti atang mulengkahi atang, muneki kite ike dene jeral gere bike mukelset. Muniti petal pe gere mukekunah, sengkiren kedang male musentat, adik kukur a ne mukunah, lagu si nguken anak si wan nemen a ne mutuh. Beta se ba jema ari kul nate mununung galak, lupen we kin tengkeh ni jema, arok mupolok galak muselpak.

Kati kite paham kukur ni lagu si ara roa macam, pertama kukur si sedakala kite egon iperalai jema, kita sara mi kukur gunung. Lagu si ara ilen sara mi, si begeral merbuk kire-kire bensa ni kukur. Ke kukur gunung lagi si mupenilang pora jangute gere olok iperalai jema sebeb gere kita betih sanae si paral. Gere lagu kukur pedih ne betami kena, linge iparal, guke pane mentalu, keta kin pengantin bun jema ike munama aring, munama getah, munama katir. Kona ni kukur ari guke beta kene tengkeh.

Boh pengen gelah jeroh, keta ni kekeberni jejok. Jejok ni ara si bergeral jejok balu, jejok ines, jejok berbakan, nta jejok si gati kite egon terbang-terbang atau tamas, ari batang ni anar ku batang ni beke mengenal iyok mumangani uah. Entah si si jejok si tulu ni si peralai jema mal regee pe, lagu si jejok balu, lagu si berbakan ke die gere selese tu aku. Tapi ara, jelas jejok. Ke jejok umum a ne te, lagu si gere iroi jema, suket tukang letap. A biasae nantine lo uren mulo. Mari uren a nge sidang beta kedah baru beluh muletep munep-nep tuyuh munem muah.

Jejok si peralai jema ne ikekus delahe urum mas kati pane becerak, lepas itununge iuru-urue sana si gati pengewe cerak ni jema empu numah a. Misele berpepiulen, gure asal mumengewe, lagu tiung pe kene jema lepas lagu noya.

Jejok gere ara ijalu jema lagu kukur. Iperalai bis kin lelon we. Lenge iparal. Ike si galak a kedah tekala geh kite ho renyel we muling seulah-ulah kin pesalamanne. Senang atente. Pakene pe murah we, awal tasak, pertik tasak, lede pentek, nguk perin uah ni kayu. Cume citnalahe pengalut ni jejok ni oyale, awahe mumangan, keta cret crot teie pe renye tangkuh, lagu si redik di. Buh jema kin pengalutan enti lagu jejok, cret crot sesire mangan. Tah mumangan kuwih kul.

Jadi ke beta ya pede serlo, beluh mi we kami ku empus i Paya Tumpi. Nge beta bang peloh ni manuksie ni, uru-uru. Berempus jema berempus aku pe, bekupi jema bekupi kite pe. Ke makin tekala kupi murege, munengon jema si bekupi a mubeli gule ku kede sentan ulak so nge betemengen iken pedih mowa-owa atau hondae. Murip nesunte pe, bekupi mi bang kite pe dabuh mengas, gere ninget kune kin keberni bawal merges.

Jadi ni kami ne wan empus a ara kupi, ara asam kelele, ara awal, ara nangka, ara agur nguk perin lengkap. Uet ari umah bangun si nge sawah sunguhe sentan sawah pe ku empus negon kerpe nge sejenyong kita nge apus kupi, dabuh sabet.

Itebesle pora-pora irerampis. Kane ananmu, ni kite sibetule dele tu rangkamle buet ni, ujudne pemarine kebatangan. Gere ara buet si ucus bene mupuyuken. Le tu cabang ni buet. Gere tededik. Engon ku kerpe lagu lingku mulo ne nge apus kupi, cabang ni kupi gere beserlak nge mumah ni musangan. Opos umah nakalku, lagu si gere terkekiren naku ne si de si mali kumulon.

Dang-dang pubebeta nge atas pe lo, buet gere ilen murupe, gere ilen sanah pe mengonen.

Dosa lehe nge buet te ni, a kene ananmu. Kune dosae kenaku, lagi si nge malim di. Sana si gere dosa, reta gere itetahi iluah jaluhen pelin gere bertentu. Gere ubah, amanah ni Tuhen gere iperalai ke lagu ini sakit ni ling, lagu si nge daten mubazir. Ibarat ume lagu si nge beseje irohen, empus ni beta lagu si male italun.

Lo pe rerenyel ruhul tuke nge dabuh mulape. Tekediren ananmu nge mujerang. We sesire mujerangle becerak a ne ari wan jamur isutie lingku.

Koh kini mi keta mulo renye mangan, mutalu ananmu ari wan jamur. Jadi kami ne beluh ku empus gere tubah lagu minah mangan pelin we. Tekok di kite nguk sedep di mangan i empus ni mangan pelin we. Tekok di kite nguk sedep di mangan i empus ni. Gere dalih berpong kero. Rebusen rukut, pipisen lede, terasi tikik buh agur kemero anconge, cap celet ku legen a, lagu si gere tegilahine, gemok silente, sesara kemul ku was, lagu nege mnelgap, bet-bet lukup suepte. Meminter nge borehen. Pora muser e kunulte genyuren kiding dabuh poap-oap geh tunuh. Ike itunungen renyel munjadi.

Tengah kami mangan a ne, tenenge ling ni tung-tung i umah ni Pak Serun. Sana die mien oya. Kupene pe Pak Serun a munalu kurike iguel tung-tung, meh temabur bersangkanan kurik-kurik si bejamah wan empuse a ne ulak kumah. Kupen beta jep ruhul kurik a ulak mulo sejep iosah pakene jagong isempak atawa kacang kuning. Mari mangan a ulak mien dediang bejamaah mumerah pakan wan-wan kupi a iyok, kerudik, lompong, ketol, sanah-sanah. Yo kase muling mien pukul-pukul 5, a tene ulak lup ku wan kepuh nome demu mien mangan.

Si kin pikirenku nume sana nguk betihi korik a pe le ling ni tong-tong a ne hiren aku. Nge mengerti. Dup kurik kenatingku nguk kupen iejer mera taat. Sana kati manuksie mera wa cules gereke beta ya, semiang soboh so ingerti ko pe, jema azan nge jep sagi bertuken mantong sempat ilen, pora-pora mi petetowet singkih kuen balik kiri, upuh jebel pe ikelkupen mien. Arake patut. Olok Bantat manuksie ni. Lagu si nge patah ejer.

Nge mari semiang gere nasup ne mumebes. Nangkap asam mi we kin nemah ulak. Kemana uah nasam ne ara jarang-jarang. Aku munik, ananmu kukeni mungamul. Sesara keranyang beta nge engkip-engkip so kuturunen betali, lagu munebuk wih ari wan telege.

Nume tetine kupi nge royo buh kerpe, keta asam ni pe lagu nge jep cahang mukayu malu. Sesire munangkap uah nasam, enta ke kumulon munetuh. Munetuhi cabang nasam si mukayu nalue. Bengis ananmu dabuh mungelemeng, sana kati asam a itetuhi, sana kati cabang nasam a si tetah. Enta ke gere cube pe ipikiriko kune mununuh kayu nalu wa. We murip yone murum muyet ku cabang nasam a.

Ningkam a kati buet delen sie-sie, gere ningetke kam kin cabang oya tengah a muah dele ge mutetewah nge muselewan, enta se ni dabuh itetuh. Kena nge gere muah ne betake, a ling nananmu bangun si giging. Ke gere kune keta mununuhi kayu nalu ni kenaku, aku pe lagu si nge okeng, turuhen kam pe. Gere ara jelen len nge turah itetuh cabang a pe kunehen ara nguk. Tengah a we muah se ni gere ne, te nge pelin kayu nalu.

Salah di kam. Sa salah, kenaku mien. Kam salah, kite nile salah kena kite empu ni empus a kite empu nasam a. Tengah kucak kayu nalu a cube tetir renyel iunuhen ke gere dalih urum cecabang nasam a pe renye turah murelas. Cit ni reta gere berurus. Sileple kam oya, kenaku. Kite gere salah. Ipikiri gelah jeroh. Cube ingeti mulo ari sihen kin ralik ni kayu nalu ni. Sa munyuene. Sana kati dalih atas asamte a murip. Ku kayu len so mukune atawa katan bumi a lues ni denie.

Ke lagu oya kekire perin jema pe kite pekak. Say nyuen kayu nalu, selo ara besuen murip dirie. Ke gere tetine atan asamte ni, ni jema len so pe ke ara. So atan batang nangka, so, atan batang ni temung so gereke nge oya pelin. Gere ara pe ne nyaris ulung ni temung a teridah. Cume ni jema asame betetah, gere idaten mulumut lagu gere berempu. Pedehal empue jemamakal. Ike becerak urum dele ni cara, buet gere orop sih pe.

“Yah, kune ling a ya, lagu si mugeratak di le.”

“Enta gereke. Kita jema makal. Biak si remalan ter mulo, kunul ter uken. Si mungajin kenduri wan jema dele so. Ale lale munetahi jema dele empus diri pe gere ne beriro. Inget kamke didong ni Kebinet, lale aku beketor meh jongor selap sane oyale kite. Rere jantar pengate.”

“Ahal jejok nile si munos lagu.”

“Sana kati minter musalit ku jejok, sana nise.”

“Jejok nile si jahat gere medet gere mubetih kemel, gere betehe buet melarat ku jema, lagu si kenak diri pelin.”

“Sana pulang kati ku jejok mempas.”

“Ari we geh ni penyakit.”

“Arake patut, lagu si gere pan akal.”

“Kune gere, jejok nile si jahat. Wele munemah inih ni kayu nalu a ku jep-jep batang nasam a. Pikiri cuhe, gereke kase betul lingku ni. Jejok a mangan uah ni kayu nalu, bubunmi mulo i atan batang ni temung so. Nge mari mangan a ke nge korong nge engkip pogenge ku jep-jep batang nasam a. pikiri cuhe, gereke kase betul lingku ni. Jejok a mangan uah ni kayu nalu, bubunmi mulo i atan batanga ni temung so. Nge mari mangan a ke nge korong nge engkip pogenge, we temerbang. Com ku atan batang nasamte ni. Uang ni kayu nalu si pangane oya ne iecengne sone, lekat i cabang nasam a ne. Meh kemokot ne sawah masae renye murip. A macam buet buet ni kayu nal. Ralike ahal ari jejok micing, pikiriko kune male mungoa jejok kati enti micing katan batang nasamte. Selo bang lepas. Suket itos peger sawah ku langit.

“A kati kenaku ne ke tengah kucak kayu nalu a murah mununuhe gere dalih cabang nasam a pe kona tetuh.”

“Enta ini nge lepas pe mulo murip nge kul. Kunehen ne ara nguk. Suket jejok a itatar mulo kati enti micing ku si kenak gere betihe kenyanyan jema.”

“Si rerume si gere pangan akal sana si ucep. Manuk, selo bang ara kekiree si mujadine. Manuk gerale pe selo betihe wajib mutempat warus barang kapat. Ike manuksie ne lagu manuk a nguk perin lagu jejok a lague perangwew, mampat perlu itatar. Ke mepat bang tempat ni pericingen, gere nguk ku si kenak gere mupereturen. Si lagu-lagu nyale si turah mepat parie. Gere bang awa manuksie ni si rejen lagu jejok a.”

……………………………”Kul pengepak ne tei ni jejok ni ku kupen.”

Uraian ringkas

Jejok adalah burung yang salat satu jenisnya disenangi orang karena dapat diajar berbicara sepatah dua patah kata dan bunyinya amat merdu seperti halnya burung beo. Makanannya buah-buahan dan serangga. Jejok ini pulalah pembawa bibit/benih benalu yang dapat merusak tanaman keras lainnya, seperti jeruk dan sebagainya, yang dibawanya melalui kotoran dari pohon-pohon lain.

Jejok ini dipelihara orang untuk kesenangan belaka, lain halnya dengan burung balam yang dipelihara dan disenangi masyarakat pada zaman itu untuk disabung sambil bertaruh. Burung balam itu oleh sebagian kecil orang laki-laki Gayo sangat disayangi melebihi dari benda-benda yang lain, dirawat dan dibawa kemana pun mereka pergi.

Dewasa ini kebiasaan memelihara dan menyabung balam itu sudah tidak ada lagi, sedangkan pada waktu silam memelihara dan merawatnya sampai lupa makan dan pekerjaan lain.

Sumber:
Hakim, A.R. 1986. Bunga Rampai Cerita Rakyat Gayo, Seri IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Kekeberen merupakan bahasa Gayô yang berarti berita-berita atau cerita turun menurun, sama halnya dengan hikayat Pase atau Hikayat Aceh. Perbedaannya hanyalah orang Gayô lebih suka menggunakan metode ini kepada anak cucunya untuk mengingatkan sejarah dari masa lalu mereka, berbentuk lisan. Kekeberen ini berasal wawancara dengan Tengku Ilye Lebee, yang juga bila didengarkan ucapan dari Beliau mengambil bahan dari A. Djamil seorang Sejarawan Gayô dan Acih.

Dalam cerita ini ada cerita yang sedikit mistis akan tetapi ini lebih merupakan kepada sebuah perumpamaan. Seperti ketika mereka berubah dikutuk menjadi batu, maka ini bisa jadi merupakan perumpaan adanya sebuah pertikaian yang menyebabkan terjadi saling bunuh. Oleh karena itu, sebenarnya terdapat kebenaran disitu.

Dalam kekeberen ini diceritakan 2 Kerajaan yang merupakan asal dari Gayô yaitu Kerajaan Lingë dan Kerajaan Malik Ishaq. Kerajaan Lingë berdiri pada abad ke 10, sedangkan Kerajaan Malik Ishaq pada saat adanya Kerajaan Pérlak (abad ke 8 s.d. 12 M) dan Sri Wijaya (abad ke 6 s.d. 13, sedangkan masa kejatuhannya pada abad 12 M atau 13 M)

Asal Mula Kata Gayô

Ketika akhirnya diketemukan Merah Mege pada saat itu di Luyang datu terucap kata-kata Sansekerta yaitu Dirgahayu, kemudian dilafazkan menjadi DirGayô = Sehat Walafiat, ini semua terucap karena Mérah Mégé berhasil selamat walau sudah lama di Loyang Datu tadi.

Atau ada lagi yang mengisahkan bahwa kata-kata Gayô berasal dari sebutan sebuah daerah yang penuh dengan gerep (Kepiting). Sewaktu masyarakat membawa-bawa Depik mereka selalu mengatakan akan ke Gayô, berjangkat ke Isak, owak, Blang Kéjérn. Bertemu dengan orang Rikit, saya dari Pegayôn. Begitu juga ketika Kuté Bélang masih belum diketemukan, didapat akhirnya dibelakang kampung toran, ada satu paya (payau) yang hidup gerep (kepiting), dalam bahasa Gayô sedangkan bahasa Karônya Gayô. Waktu itu ada sebuah budaya bahwa sebutan Gayô penting buat Karô, begitu pula sebaliknya. Seperti jug sebutan untuk orang Karô bahwa di kuté panyang (Kuté panjang) ada pertempuran antara orang Gayô dan Karô karena tidak mau masuk kedalam Islam. Karena lari maka disebut dengan Karô, yang berarti Kejar atau buru dalam Basa Gayô.

Ada sejarah Aceh, bahwa orang Gayô berasal dari Kayô atau mutérih, takut masuk ke agama Islam, maka lari ke gunung. Ini tidak benar, karena yang pertama kali Islam adalah orang Gayô. Sedangkan yang tidak masuk Islam ada kemungkinan ada sebuauh nama yang bernama marga Ginting Pasé terasing dan tidak ada hubungan dengan yang lain. Ada kemungkinan ini adalah ini berasal dari keturunan Lingë.

Kerajaan Lingë

Kerajaan Lingë berasal dari Kerajaan Rum atau Turki, asal kata Lingë berasal dari bahasa Gayô yang berarti Léng Ngé yang artinya suara yang terdengar. Raja Lingë I ini beragama Islam bernama Réjé Genali atau Tengku Kawe Tepat (Pancing yang lurus dalam bahasa Acih) atau Tengku Kik Bétul (pancing yang lurus dalam Bahasa Gayô).

Abu bakar siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib” kene Tengku Ilyas Lébé. (fajriboy.multiply.com)

Inilé Elem si pemulo muképak-képak i Buntul Lingë (bendera Kerajaan Linge) “Warnaé gërë néh terasi aku, karna ngé tué, apakah wé ilang atau pé kônéng, itepi atas bertulén Lailahailallah, itepi toyoh bertolésën geral sahabat si opat: Abu bakar siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib” kene Tengku Ilyas Lébé. (fajriboy.multiply.com)

Agama Islam yang dianut bisa dililhat dari bendera Kerajaan Lingë tersebut, dimana ada Syahadat di atas benderanya dan di bawahnya bernama 4 sahabat nabi, sedangkan warnanya belum diketahui karena sudah kusam, antara merah dan putih (bendera ini masih bisa dilihat dan disimpan di daerah Karô, sebagai pusaka dari anak salah satu Raja Lingë yang pergi ke Karô).

Raja Lingë mempunyai 4 anak, 3 laki-laki dan satu perempuan. seorang perempuan bernama Datu Beru, dan ketiga anak laki-lakinya bernama Djohan Syah, Ali Syah dan Malam Syah.

Ketika besar khusus anak laki-lakinya akan disunat seperti halnya ajaran Islam, anak yang ke-3 bernama Ali Syah tidak bisa disunat karena kemaluannya tidak dimakan pisau. Hal ini tentu saja membuat malu. Hal ini menyebabkan ia meminta ijin kepada Raja Lingë untuk pergi ke daerah Karô.

Walau pada mulanya Raja tidak mengijinkan namun akhirnya dengan berat hati sebelum kepergian mereka dibagikan pusaka untuk anak laki-lakinya yaitu Kôrô Gônôk, Bawar, Tumak Mujangut, Mérnu dan élém (Bendera Pusaka). Sedangkan Datu Béru memegang kunci khajanah Kerajaan Lingë.

Ali Syah, anak ke-3 Raja Lingë I

Ali Syah bersama rombongan berangkat menuju Karô menuju daerah yang disebut Blang Munté. Pada daerah tersebut Ali Syah bersama rombongannya memutuskan untuk berhenti dan menetapkan bahwa tempat itu sebagai tempat ia terakhir bersama rombongan.

Tinggallah Ali Syah seorang diri selama berbulan-bulan tinggal disitu, dalam sebuah kesempatan ketika kemudian mencari ikan di Uih Kul Renul, bertemu dengan gadis dan bujang sedang menyekot (mencari ika) yang kemdian diketahui berasal dari negeri Pak-Pak. kemudian menjadi teman dan bergaul, akhirnya menikah dengan beberu pak-pak tersebut sampai berketurunan. Ali Syah pun akhirnya belajar bahasa dan hidup disana.

Terdapat sebuah kisah yang menarik yaitu ketika suatu saat Bélah dari Ali Syah yang sudah tua tersebut akan pergi bersawah yang sebelumnya diadakan kenduri (dinamai kenduri Mergang merdem). Acara kenduri tersebut diadakan agak jauh dari tempat Ali Syah tinggal sehingga keturunannya atau cucunya ditugaskan untuk memberikan nasi beserta ikan kepadanya. Ternyata ketika sampai di sana didapatinya ikannya hanya tinggal tulang belulang saja karena telah dihabisi oleh anak cucunya, mendengar ini ia amat murka dan mengutuk semua (kélém-lémén) anak cucu keturunannya menjadi batu semua, semua nya masih bisa dilihat buktinya disana di Blang Munté perbatasan Karô dan Alas.

Namun, ternyata ada yang lolos dari kutukkannya seorang aman mayak (pengantin Pria), inén mayak (Pengantin Wanita) yang sedang hamil dan satu lagi adiknnya inén mayak tersebut. Melihat tersebut Aman Mayak pergi meninggalkan daerah tersebut untuk menceritakan hal ini kepada Raja Lingë. Mendengar hal tersebut segera dikirimkan rombongan kesana untuk mencari tahu atau menguburkan bila ada yang meninggal.

Setelah lantas diketemukan pohon kelapa yang menandakan ada kampông, yang disebut dengan Kampung Bakal, mereka ingin kesana karena lapar. Saat itu di pinggir sungai tersebut terlihat Giôngén (Kijang) yang sedang minum, mereka mecoba menangkap Giôngén tersebut untuk kemudian membantu mereka berdua melewati sungai tersebut. Dalam suatu ketika mereka hampir terlepas dari pegangan kepada Giôngen tersebut, sehingga Inen Mayak yang sedang mengandung tersebut mengucapkan dalam bahasa Karô ‘ngadi ko lao’, atau ‘berhentilah kau air’, sehingga sampai sekarang ada pusaran air disana. Dan karena ada kejadian inilah orang-orang Gayô disana dilarang memakan daging Giôngén.

Sesampai diseberang sungai Inén Mayak tersebut melahirkan, karena kelelahan iya dibawa arus air sungai (Wih Kul) tersebut. Sedangkan anaknya diselamatkan oleh adiknya di pinggir sungai. Pada saat anak tersebut kehausan datanglah seekor Kerbau atau Kôrô Jégéd, yang kemudian adiknya membiarkan anak kakaknya untuk menyusu terhadap kerbau tersebut.

Akhirnya mereka berdua ditangkap oleh orang kampông tersebut, saat itu mereka sedang mencari Kôrô jégéd (Kerbau berwarna putih Krim) punya Raja yang hilang. Ketika menemukan kerbaunya sedang menyusui seorang anak manusia maka orang-orang Kampung tersebut menganggap bahwa Kerbau keramat tersebut telah melahirkan.

Mereka lantas melaporkan kepada Raja Bakal, lantas oleh Sang Raja anak tersebut dianggp sebagai penerusnya, karena ia sampi saat itu tidak mempunyai seorang anakpun. Adik dari Inen Mayak tersebut di tahan sekaligus memelihara anak kakaknya yang sudah tiada.

Dalam keadaan tersebut sampai rombongan Réjé Lingë. Ketika sampai di kampungnya Aman Mayak mereka sudah tidak menemukan siapa-siapa lagi, maka mereka pun berusaha mencari istri dan adik istri dari Aman Mayak tersebut.

Mereka pun akhirnya sampai di perkampungan Bakal tersebut, lantas merekapun mendengar berita tentang keganjilan-keganjilan yang terjadi saat itu. Mereka memutuskan untuk dapat menunggu lebih lama untuk mencari informasi. Sampai akhirnya bertemu dengan adik dari istrinya dan bercerita tentang desas-desus tersebut serta kebenaran bahwa sesungguhnya anak dari anak Kôrô jégéd sebagai anak Aman Mayak atau keturunan Raja Lingë.

Mengetahui hal tersebut rombongan dari Lingë menghadap Réjé Bakal, menyampaikan tujuan ke kampông di sini, kemudian menceritakan bahwa anaknya Kôrô Jégéd itu adalah anaknya atau cucunya Réjé Lingë, bahkan mengatakan ada saksi dari adiknnya istrinya. Untuk mengambil keputusan maka diambil keputusan akan ada perkelahian antara Pang untuk bersitengkahan (bacok-bacokan). Pang Sikucil, dan Pang Réjé Bakal bertengkah, panglima Réjé Bakal selalu bergeser bila ditengkah. Sedangakan Pang Sikucil dari Lingë tidak bergeser sedikit pun. Zaman terebut setelah bertengkah maka bersesebutan antara Réjé Bakal dan Réjé Lingë. Akhirnya anaknya ditinggal di Kerajaan Bakal tersebut dengan syarat nama Lingë tersebut jangan ditinggalkan, pagi hari pelaksanaannya. Dukun Kul (Paranormal Hebat), mengeturunkan si Bayak Lingë Karô. Inilah yang menyebabkan adanya hubungan antara Réjé Lingë Di Gayô dan Réjé Lingë (Lingga) di Karô.

Djohan Syah, Anak ke 2 Réjé Lingë

Sepeninggal adiknya Djohan Syah juga ingin pergi mengaji ke Pérlak,Weh Ben, atau Bayeun (dalam bahasa Aceh) di Kuala Simpang. Ingin belajar kepada Tengku Abdullah Kan’an dari Arab, seorang Tengku yang terkenal. Cukup lama Djohan Syah menuntut ilmu hingga mencapai gelar Mualim.

Ketika jumlah muridnya cukup 300 orang muridnya Ia menanyakankepada murid-muridnya bahwa ia berencana akan mencoba mengembangkan Agama Islam ke Kuté Réjé, yang pada waktu itu masih belum Islam.

Ketika rombongan Tengku tersebut sampai di sana Kutéréjé sedang dalam peperangan antara Raja-Raja Besar yang ada dengan utusan dari Nan King atau China yang bernama Nian Niu Lingkë , Pétroneng. Namun kekuatan dari Puteri Cina tersebut tidak terlawan karena ada ilmu sihir, sehingga banyak Raja yang berhasil dikuasai dan takluk kepada mereka, sampai akhirnya sampai kesebuah Kerajaan di Langkrak Sibreh.

Ketika tiba rombongan tersebut ke daerah tersebut Tengku menawarkan bantuannya kepada ke Réjé Lamkrak dengan syarat mereka diberikan tempat khusus serta meminta syahadat dari Raja Langkrak. Dengan alasan tersebut akhirnya masuk Islam Raja Langkra.

Setelah itu akhirnya ia melihat siapa yang akan diangkat menjadi Panglima Perang, satu per satu dilihat hingga akhirnya sampai kepada Djohan Syah, yang akhirnya menjadi Panglima Perang saat itu. Lantas diberi bekal oleh Tengku bekalnya, juga kepada semua murid-muridnya untuk berperang.

Ke 300 orang ini kelak disebut sebagai marga Suke Leretuh atau suku 300, asal mulanya dari salah satu Bangsa Aceh ini.

Setelah itu Djohan Syah memimpin peperangan dengan berbekalkan ilmu Al quran sehingga akhirnya Puteri dari Cina tersebtu akhirnya berhasil dikalahkan, Ratu Petromenk kalah, sehingga ia mundur pada basis pertahannya terakhir di Lingkë.

Melihat hal tersebut Djohan Syah merubah strateginya dalam memenangkan peperangan dengan memblockade saja benteng terakhir ini, hingga Putri Neng meminta damai. Dalam perjanjian damainya Tengku Abdullah megatakan mau berdamai dengan syarat Putri Neng mengucapkan syahadat.

Putri Neng mengatakan sanggup akan tetapi dilakukan secara rahasia. Akhirnya di tengah laut mereka berdamai, ntah kenapa setelah pedamaian terjadi dan sudah memandikan Puteri Cina tersebut Tengku menangis, ia merasa belum sempurna perdamaian sebelum dilangsungkan pernikahan antara Djohan Syah dengan Putri Neng. Lalu dinikahkan Keduanya Oleh Tengku Kan’an.

Kemenangan tersebut megah sampai dengan kerajaan Melayu manapun sehingga diangkat menjadi Sultan Aceh yang pertama bergelar Djohan Syah. Sehingga Raja-raja yang bergabung disana mengangkat menjadi Raja Kutéréjé I Djohan Syah, dan menjadikan Agama Islam berkembang dengan pesat disana.

Malam Syah dan Datu Beru tetap bersama Raja Lingë I, Malim Syah akan meneruskan Pemerintahan Kerajaan Lingë sedangkan Datu Beru akan menjadi pemegang kunci rahasia Kerajaan Lingë.

Kerajaan Malik Ishaq

Islam pertama kali datang dari Ghujarat dan Arab yang singgah di Perlak, sehingga menjadi salah satu Kerjaan Islam di Pesisir Utara Sumatera.

Sewaktu terjadi perangan Kerajaan Perlak dengan Sriwijaya dari Palembang sampai 20 tahun. Sultan Malik Ishaq waktu itu ia menyuruh mengungsikan perempuan dan anak-anak, ada suatu negeri yang ada Kuté-kuté yang akhirnya bernama dengan Ishaq, daerah Ishaq sekarang.

Anak Malik Ishaq adalah Malik Ibrahim, anaknya kemudian adalah lantas Muyang Mersah. Kuburannya sampai sekarang tempatnya masih ada akan tetapi tidak bisa diketahui lagi kuburannya karena sudah diratakan dengan tanah, namun telaga muyang mérsah masih ada.

Muyang Mérsah menpunyai 7 orang anaknya yaitu Mérah Bacang, Mérah Jérnah, Mérah Bacam, Mérah Pupuk, Mérah Putih, Mérah Itém, Mérah Silu dan yang bungsu Mérah Mégé. Namun Mérah Mégé adalah anak kesayangan dari kedua orang tuanya yang kerap kali membuat iri dari adik-adiknya, sehingga mereka merencanakan akan membunuhnya.

Kesempatan itu datang pada saat merayakan Maulid Nabi di Ishaq maka pihak perempuannya menyiapkan kreres (lemang) sedangkan laki-lakinya mungarô (berburu) untuk lauk dari kreres tersebut. Akhirnya si bengsu diajak ngarô untuk kemudian dibunuh, namun kakak-kakaknya ternyat tidak sampai hati membunuh adiknya tersebut sehingga hanya dimasukkan ke Loyang datu. Mengetahui bahwa anak bungsunya hilang membuat marah orang tuanya.

Ketika Mérah Mégé ada di Loyang Datu ia ternyata mendapatkan makanan dari anjingnya yang bernama ‘Pase’. Melihat tuannya dimasukkan kedalam lubang oleh abang-abangnya anjing tesebut kemudian selalu mencarikan makanan untuk Mérah Mégé. Bahkan makanan yang diberikan kepadanya. Dibawanya ke Loyang Datu untuk kemudian diberikan kepada Mérah Mégé.

Keanehan atau keganjilan dari Pase ini tentunya akhirnya mendapat perhatian dari Muyang Mérsah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk dapat mengikuti anjing tesebut dengan berbagai upaya, yaitu ketika memberikan makanan kepada anjing tersebut ia juga menaruh dedak sehingga kemanapun anjing tersebut akan meninggalkan jejaknya. Hingga akhirnya diketemukan Mérah Mégé tersebut. Yang kemudian dirayakan dengan besar-besaran oleh Muyang Bersah.

Kemudian Mérah Mégé menjagai pusaka, dan keturunannya tersebar diseluruh Aceh, Meulaboh, Aceh Selatan daerah Kluet, seluruh perairan diseluruh Aceh, didahului dengan nama Mérah.

Keenam Anak Muyang Mérsah

Keenam Saudara Mérah Mégé akhirnyua lari, pertama kali lari ke Ishaq karena malu. Namun begitu diketahui Raja dan kemudian akan disusul mereka lari kembali ke Tukél kemudian membuka daerah yang bernama Jagong, dikejar kembali sampai akhirnya ke Sérbé Jadi (Serbajadi Sekarang). Dikejar terus anaknya, karena rasa sayang, setelah rasa marahnya Raja tersebut hilang. Namun mereka sudah amat malu kepada ayahnya akhirnya mereka sepakat untuk berpisah dengan catatan akan menyebarkan Agama Islam pada daerah yang akan ditempatinya.

Mérah Bacang, si sulung, pergi ke batak untuk mengembangkan Islam ke daerah Barus, Tapanuli.

Yang ke-2 Mérah Jérnang ke Kala Lawé, Meulaboh.

Yang ke-3 Mérah Pupuk Mengembangkan agama Islam ke Lamno Déyé antara Meulaboh dan Kutéréjé.

Yang ke- 4 dan 5 Mérah Pôtéh Dan Mérah Itém di Bélacan, di Mérah Dua (sekarang Meureudu) masih ada kuburannya.

Yang ke-6 Mérah Silu ke Gunung Sinabung, Blang Kéjérén

Mérah Sinabung

Mérah Silu mempunyai seorang anak yang bernama Mérah Sinabung (Dalam bahasa Gayô Mérah Sinôbông). Mérah Sinambung ternyata lebih berwatak sebagai Panglima, sehingga hoby adalah mengembara. Sampai ia berada pada suatu daerah yang sedang berperang. Perang yang terjadi antaran Kerajaan Jémpa dan Samalanga. Kerajaan Jémpa waktu itu sudah beragama Islam, hingga akhirnya ia menawarkan bantuan kepada Raja Jempa tersebut dan berhasil memenangkan peperangan dengan Kerajaan Samalanga. Jasa baiknya tersebut akhirnya membuat Raja Jémpa menikahkan putrinya kepada Mérah Sinabung.,

Keduanya mempunya 2 orang anak yang bernama Malik Ahmad dan Mérah Silu. Setelah Mérah Sinabung wafat maka naiklah Malik Ahmad menjadi Raja Jempa, akan tetapi ada syak wasangka terhadapa Mérah Silu, karena ia lebih berbakat dan lebih alim serta lebih dicintai rakyatnya maka timbul kecemburuan yang terjadi.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka Mérah Silu akhirnya pergi ke daerah Arun, Blang Sukun, untuk menghabiskan waktunya ia bekerja sebagai pande emas, besi dan barang logam lainnya sedangkan malamnya ia mengajar mengaji.

Lama kelamaan orang sekitar menjadi mengenal Mérah Silu sebagai Mualim, tokoh masyarakat, akhirnya menjadi Réjé di Lhoksmawé. Sehingga kemudian ia diangkat menjadi Sultan Pase pertama atau disebut dengan Sultan Malikus Saleh. Sebutan daerahnya Pase merupakan sebutan yang diambil dari nama anjing yang telah menyelahamatkan Datunya, Mérah Mégé.

Réjé Lingë ke XII

Sultan Aceh , Sultan Ali Mugayat Syah Al Kahar, yang mengembangkan Aceh Darussalam. Aceh sewaktu Iskandar Muda sudah matang menjadi satu pada zaman Réjé Lingë yang ke 12 tersebut, memimpin peperangan untuk berperang dengan Malaka.

Ketika akan menyerang Portugis membantu Kerjaan Johor dengan Perahu Cakra Donya, maka yang memimpin peperangan tersebut adalah Raja Lingë ke XII. Dengan berbagai upayanya ia berhasil mengalahkan Portugis. Sebagai rasa terimakasih ia dikawinkan dengan anak Raja Johor dan mempunyai anak yang bernama Bénér Mériah (Bénér Mérié dalam bahasa Gayô) dan Séngëda.

Dalam perjalanan pulang ia sakit perut dan akhirnya meninggal di Pulau Lingga, ia dimakamkan disitu, dan banyak orang Melayu tiap tahun berziarah ke makamnya, dan makamnya sudah dibuat dengan bagus.

Istri ke-2 dari Raja Lingë ke XII bersama kedua anaknya meneruskan perjalanan dan menetap di Kutéréjé pada salah satu messnya untuk Janda Raja Aceh dan anak-anaknya.

Ketika mereka besar mereka menginginkan pergi ke asal Ayah mereka, namun berkenaan dengan adanya pertemuan tahunan antara Raja-raja di Aceh di Kuté Réjé (Banda Aceh sekarang), maka ibunya menyaramkan untuk bersabar karena akan ada rombongan Réjé Lingë ke XIII (anak Raja Lingë ke Xll, dari istri pertama) ke sini dan mereka bisa ikut pulang ke Lingë bersama rombongan.

Selama sebulan dalam perjalanan. Sampai ke Lingë menghadap, ketika melihat Cincin dan Rencong bertuliskan Réjé Lingë pada anak-anak Réjé Lingë 12, Bénér Mériah dan Séngëda. Réjé Lingë Xll dengki, dan menuduh kalo Ayahnya Raja Lingë XlI diracuni oleh Bénér Mérié dan Séngëda, dan Raja Lingë Xlll tidak tahu kalau mereka adalah saudaranya sekandung seayah. lantas menugaskan kepada PM-nya Cik Serule, Syekh Réjé Juddin, diperintahkan untuk membunuh Séngëda. Akhirnya mengetahui akan dibunuh Oleh Réjé Lingë XlIl Bénér Mérié Oleh Réjé Lingë XlIl berangguk-angguk menangis. Cik Sérulé tidak sampai hati membunuh Séngéda, diganti darahnya menjadi darah kucing, seolah-olah telah dibunuh, sehingga ada daerah yang bernama daerah Tanom Kucing.

Séngëda ingin bertemu dengan Ibunya, maka di perjelek wajanya sehingga tidak dikenal untuk ikut dengan rombongan Réjé Lingë ke XIII. Diistana ada satu kamar yang bernama Balé Gadéng, disitu Séngëda menggambar Gajah Putih, melihat gambar tersebut seorang Putri Aceh melihat ada Gajah Putih kemudian meminta kepada ayahnya, Sultan Acih dan Sultan Aceih segera memerintahkan pencarian Gajah Putih tersebut dengan hadiah barang siapa yang berhasil mendapatkannya akan mendapatkan pangkat.

Kemudian rombongan Réjé Lingë ke XIII kembali ke Gayo. Sesampai di Gayo Sengeda ke kuburan Abangnya Bener Meriah, untuk kemudian menceritakan apa yang menjadi persoalannya selayaknya seorang adaik yang mengadu kepada Abangnya. Akhirnya dengan seijin Allah SWT diketemukan Gajah Putih oleh Sengeda, kIemudian dicoba untuk dapat ditaklukkannya.

Ketika Réjé Lingë ke XIII mendengarkan hal tersebut lantas memerintahkan kepada Perdana Menetrinya yang berasal dari Serule agar Sengeda memberikan Gajah tersebut kepadanya. Sesampai di kediaman Réjé Lingë ke XIII Gajah Putih tersebut sepertinya tidak suka didekati oleh Reje hingga menyemprtokan air ke tubuhnya yang menyebabkan ia menjadi basah kuyup.

Akhirnya dibawalah Gajah Putih tersebut ke kutéréjé, asal sebutan Timang Gajah, ketika Gajah kabur dari rombongan. Begitu juga dengan Sigeli, ketika Gajah Putih tidak mau beranjak dari tempatnya. Baru sampai ke Kutéréjé. Kemudian diarak-arak Gajah Putih tersebut di keliling Kutereje tersebut. Keadaan Kutereje pada waktu itu sudah begitu pada dengan manusia sehingga Gajah Putih tersebut menjadi tontonan mereka dengan suka cita, Pada saat itu memang banyak penduduknya disana jutaan. Kemudian diserahkan ke Istana Darul Dunia.

Lantas Gajah Putih tersebut di bawa ke Kediaman Sultan yang bernama Darul Dunia. Ketika sampai di kediaman Sultan kembali Gajah Putih menjadi marah, kembali menyeburkan air kepada Sultan. Melihat hal ini kemudian Sultan memanggil orang yan bisa menjinakkannya, sehingga hanya Séngëda yang berhasil menjinakkannya.

Kemudian Sultan bertanya kepada rombongan Réjé Lingë ke XII siapa kiranya anak tersebut, Reje Linge sudah barang tentu tidak mengetahuinya hingga Perdana Menteri dari Réjé Linge tersebut akhirnya mengatakan kepada Sultan siapa Sengeda tersebut.

Akhirnya terbongkarlah kejahatan dari Réjé Lingë ke XII, sehingga sidang dibuka untuk mengadili kejahatan Réjé Lingë ke XIII yang telah membunuh Bener Meriah. Darin keputusan Qadhi Al malikul Adil Réjé Lingë ke XIII dijatuhi hukum qishas.

Ketika mendengar hal tersebut Datu Beru yang pada waktu itu menjadi satu-satunya penasehat dari Sultan mengatakan keberatan dengan keputusan tersebut, dengan alasan bahwa hukum qishas dapat dilakukan apabila kepada korban sudah dimintakan atau ditawarkan dengan hukum diyat (hukum ganti rugi) terlebih dahulu.

Yang menarik adalah bahwa sebelumnya Datu Beru telah menemui Ibu dari Sengeda untuk mengutarakan maksud hatinya bagai perdamaian, yaitu mengampuni Réjé Linge ke 13 untuk kemudian Sengeda menjadi penggantinya.

Sudah barang tentu dengan berbagai pertimbangan akhirnya Sengeda menerima diyat tersebut dan pulang ke Tanoh Gayo untuk menjadi Reje Linge ke 13. (kos) Edit by Ariga

UNTUK MENDENGARKAN REKAMAN ASLI KEKEBEREN YANG DISAMPAIKAN OLEH ALM. TENGKU HADJI ILYAS LEUBE (Pada 26 Oktober 1976) open/ klik link berikut:

http://www.imeem.com/uwein/music/Hxxz6O45/tgk-ilyas-leube-sejarah-gayomp3/

Lihat juga:

http://fajriboy.multiply.com
http://uwein.multiply.com/journal/item/9
http://cossalabuaceh.blogspot.com/2008/12/kekeberen-gayo-ver-bahasa-indonesia.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.