You are currently browsing the category archive for the ‘Adat & Budaya’ category.

Oleh Yusradi Usman al-Gayoni *

‘Kekeberen’ adalah satu dari sepuluh sastra lisan yang ada di tanoh Gayo. Kata dasar kekeberen ini adalah ‘keber,’ yang dalam bahasa Indonesia berarti kabar, berita, atau kisah. Kekeberen merupakan penggambaran, pengabaran, dan pengisahan. Singkatnya, kekeberen menceritakan kisah terdahulu, atau rangkaiain cerita kekinian yang dikemas dalam bentuk cerita dengan berbagai bentuk, muatan, dan simbol yang dirangkainya. Muatannya dapat berupa cerita-cerita Islam, misalnya saja sejarah Islam, cerita nabi, sahabat, dan lain-lain. Dapat pula menggambarkan kearifan-kearifan lokal yang dimiliki suku ini. Selain itu, bermuatkan sejarah, misalnya saja tentang sejarah etnik Gayo, kerajaan Linge, kerajaan Isaq, kerajaan Bukit, kerajaan Cik, kerajaan Syiah Utama, dan cerita sejarah lainnya. Juga, topik lain yang tak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat Gayo. Intinya, kekeberen mengajarkan pengajaran moral kepada pendengarnya, yang umumnya anak-anak. Dengan demikian, mereka dapat mengambil hikmah dari kekeberen, sehingga dapat menyikapi hidup dengan lebih bijak, baik, dan terarah.

Biasanya, orang tua, terutama nenek-nenek mengisahkan kekeberen ini kepada anak, atau cucunya sebelum mereka tidur. Bentuk, dan muatan ceritanya beragam seperti yang di sampaikan di atas. Namun, apa yang terjadi dengan kondisi kekeberen di tanoh Gayo saat ini? Kekeberen dapat dikatakan sudah hilang dari masyarakat Gayo. Kalau pun ada, pelaku dan pendengarnya terbatas. Kemungkinan, ada di kampung yang tidak tersentuh nilai-nilai modern. Itu juga jarang. Dari kebertahanannya, penulis melihat, kekeberen ini bertahan sampai tahun 1990. Sementara itu, tahun 1990 sampai 2000, kekeberen, semakin kurang dipraktekan. Sekarang, kekeberen sudah digantikan televisi. Orang tua, terlebih anak-anak lebih memilih menonton televisi. Mereka (anak-anak) disibukkan pula dengan tumpukan tugas mereka dari sekolah. Sebagai akibatnya, anak-anak lelah dengan aktivitas seharian, dengan sisa energi yang ada, mereka langsung tidur (tertidur)

Selain akibat teknologi, pelakon kekeberen juga mulai berkurang; sudah memasuki usia senja, dan tinggal hitungan jari. Dalam kaitan tersebut, orang tua yang sekarang memiliki kemampuan yang terbatas terkait kekeberen. Sebaliknya, ceritanya tidak lagi mengangkat nilai-nilai religiusitas, moral, etika, dan kearifan lokal, tapi kisah dari televisi yang ditonton sama-sama, yang kurang mengandung nilai-nilai edukasi. Karena tidak berlangsungnya transmisi budaya, kekurangingintahuan, kekurangmampuan, dan kekurangkreativan. Sudah bisa dipastikan, transmisi budaya terputus antara generasi tua dan generasi muda di tanoh Gayo. Akibatnya, generasi muda, terutama yang lahir, tahun 1980-an sampai sekarang, tidak tahu menahu terkait sejarah, sastra lisan yang kekeberen salah satunya, adat istiadat, norma, ‘resam,’ peraturen, dan kebudayaan tempatan.

Hal inilah yang menjadi persoalan yang memprihantikan di Gayo sekarang; terputusnya transmisi budaya dari yang tua ke yang muda. Orang tua kurang mengajarkan anak-anak-nya kebudayaan tempatan. Ditambah lagi, anak-anak juga enggan mempelajari budaya leluhurnya karena tidak adanya motivasi, arahan, dan tidak terbentuknya lingkungan ke arah dimaksud. Salah satu asumsi yang salah dari orang tua selama ini, adalah anggapan bahwa anak-anak akan mendapatkan pengalaman langsung (empiris) dari interaksi budaya sehari-hari dari lingkungan sekitarnya. Pengajaran budaya tidak perlu diajarkan baik secara formal, maupun secara informal. Selain itu, terjadinya ‘dominasi’ tokoh tua (‘senioritas budaya’), yang muda kurang diikutsertakan. Sebagai akibatnya, putusnya transmisi budaya tidak bisa dielakkan. Karena adanya rentang pengetahuan kebudayaan, dan pengalaman yang cukup jauh antara yang ‘tua’ dan yang ‘muda.’ Generasi muda Gayo sekarang merasa ‘kabur’ dalam melihat realitas budayanya, terutama soal kekeberen.

Ditambah lagi, soal miskinnya pendokumentasian yang bertalian dengan Gayo, terlebih lagi soal kekeberen tadi. Transmisi budaya terbatas hanya lisan, yang frekuensinya sangat terbatas. Belum lagi kurangnya tradisi menulis, yang mau menulis, terutama dari generasi ‘orang tua.’ Hal tersebut, tentu, semakin menambah peliknya persoalan ini. Sebetulnya, sudah ada dokumentasi tertulis prihal kekeberen, walau jumlahnya terbatas. Namun, dokumentasi tersebut tidak ada di Takengon sebagai sumber kekeberen tadi. Sebaliknya, kekeberen tadi ada di luar Aceh, terutama di Medan, Jakarta, dan umumnya pulau Jawa. Lebih disayangkan lagi, pemerintah kabupaten kurang menggali, memelihara, memertahankan, dan mendokumentasikan sejarah yang dimiliki suku ini, khususnya persoalan kekeberen. Pemerintah kabupaten kurang menghargai aset sejarah, dan budaya yang terwaris. Mereka (pemerintah kabupaten) lebih mengedepakan pembangun fisik, yang tak jarang berujung pada kerusakan ekosistem, dan semakin mengerdilkan kearifan-kearifan lokal yang ada. Singkatnya, pembangunan yang ada berbuah pada ‘kerusakan yang berkelanjutan.’

Padahal, kekeberen, dan sembilan sastra lisan Gayo lainnya berpotensi menjadi sarana pemertahanan bahasa Gayo. Kekeberen salah satunya, membuka ruang bagi hidup, berkembang, dan dipakainya bahasa Gayo. Dikarenakan, berdasar kajian ekolinguistik (ecolinguistics), atau ekologi bahasa, bahasa perlu lingkungan untuk hidup. Perlu lingkungan yang merumahi bahasa. Peran itulah yang dimainkan kekeberen, yang mengemban misi kebudayaan, yaitu dengan penggunaan ragam dan register khusus yang mereflesikan kehidupan religius, sosio-kultural, dan ekologis masyarakat Gayo.

Untuk itu, upaya-upaya penyelematan, terutama standarisasi bahasa Gayo (pembakuan), dan pendokumentasian hal-hal yang terkait dengan Gayo, terutama kekeberen tadi perlu dengan segera, sungguh-sungguh, terencana, terukur, dan maksimal dilakukan, terlebih lagi pemkab Aceh Tengah melalui dinas terkait. Kalau tidak, kekeberen yang hakikatnya berupa pengabaran, pengisahan, atau penceritaan kehidupan masyarakat Gayo akan berujung, dan menjadi kekeberen.

* Pemerhati Kebudayaan Gayo/Mahasiswa Program Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara. Saat ini (15-22 Agustuss 2009), sedang meniliti ekolinguistik (ekologi bahasa) di Takengon.

Oleh: Yusra Habib Abdul Gani *

AKANKAH dua kuntum bunga––Renggali-Seulanga––rontok dari kelopaknya? Secara politis, bukan mustahil wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akan terkoyak geografinya, seandainya pembentukan propvnsi Aceh Leuser Antara (ALA) menjadi kenyataan. PP No. 78/2007 sebagai pengganti PP No. 129/2000 dasar hukumnya.

Mekanisme perundang-undangan dan kemauan politik (political will) DPR-RI dan Pemda, sebelumnya tersandung. Penguasa NAD tak rela berpisah, sementara perwakilan dari Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Aceh Singkil, tak mau lagi tinggal serumah dan sudah berbenah ingin berpisah. Keengganan berpisah, mungkin karena alasan sejarah, sosial budaya atau ingin mempertahankan prestise rapuh (pragile prestige), yang seakan-akan perpisahan ini menggugat wibawa Pemda Aceh dan memperuncing perbedaan politik dan budaya antara komunitas Gayo dan komunitas Aceh Pesisir yang sejak ratusan tahun telah hidup bersama, senasib dan seperjuangan. Dalam konteks inilah yang diulas di sini.

Secara sosiologis, Renggali-Seulanga seumpama lirik lagu, yang baru bisa dinikmati lantaran paduan dari beberapa jenis instrumen musik yang saling mendukung. Berbeda bunyi tapi konsep dan kuncinya sama. Begitulah kehidupan politik dan sosial budaya antara komunitas Gayo dan Aceh Pesisir. Persis seperti diilustrasikan dalam lirik Didong (group Musara Bintang): “Renggali Megah i Bireuën, i Takéngon bunge Seulanga”. Indikasi adanya korelasi ikatan sejarah dan sosial budaya yang menghubungkannya.

Perbedaan juga ada, misalnya: “Pakriban u meunan minjeuk; Pakriban du meunan aneuk” (Bagaimana Kelapa, begitu pula minyaknya; Bagaimana Ayah begitu juga anaknya). Sedang dalam falsafah Gayo; [i]“Anakni reje mujadi kude, anak ni Tengku mujadi asu” (anak raja bisa jadi kuda, anak Tengku bisa jadi anjing). Model pertama mengikuti teori integral (pembulatan), sedang model kedua mengikuti teori deferensial (relativitas). Toh, dalam sejarahnya, kedua model ini bisa bersatu dalam adonan kimiawi sosial-politik, hingga mampu melahirkan bangunan negara “Aceh” di masa lalu.

Secara historis, Renggali-Seulanga bagaikan organisme tubuh yang saling ketergantungan. Hidup bersama dalam wadah Aceh, sebagai negara merdeka dan berdaulat. Fakta sejarah membuktikan bahwa, Sultan Aceh memberi hak penuh kepada raja-raja seluruh Aceh, untuk mengatur negeri masing-masing, termasuk memberi hak kepada Reje Linge untuk mencetak uang Aceh (Ringgit) yang dipercayakan kepada “Kupang Repèk” di Takéngon, khusus untuk keperluan hantaran uang dalam perkawinan dan transaksi perdagangan lokal. Hak ini diberi, atas pertimbangan sarana transportasi dan komunikasi yang sukar dijangkau pada masa itu. Reje Linge, akan melaporkan jumlah uang yang dicetak kepada Sultan Aceh. Ini merupakan fakta yang tidak kurang menariknya dalam sejarah Aceh.

Untuk melihat bagaimana membangun kepercayaan (trust building) antara Renggali-Seulanga, bisa dilihat dari fakta sejarah sebagai berikut. Meurah Johan Syah Al-Khahar (anak Raja Linge) misalnya, megah sebagai Renggali di Aceh Pesisir. Beliau diangkat menjadi Sultan Aceh Darussalam pada hari Jumat, 1 Ramadhan tahun 601-631 H (1205-1234 M) dengan gelar Sultan Alaidin Johan Syah. “…Dalam Kerajaan Aceh Darussalam, yang akan menjadi rajanya ialah kebenaran, keadilan, persaudaraan, persamaan, perdamaian, keikhlasan dan cinta kasih dan siapapun tidak boleh memperkosa dasar-dasar ini“ (Meurah Johan, Sultan Aceh Pertama. A Hasjimi. Bulan Bintang, 1976, halaman 103). Meurah Johan Syah sebagai panglima perang yang menaklukkan Johor dan Meurah Johan Syah-lah sebenarnya peletak dasar penyatuan seluruh Aceh (sebagaimana wujud sekarang). Sementara Ali Mughayat Syah –Sultan Aceh pertama– yang berkuasa tahun 1500-an dalam keadaan terima jadi.

Datu Beru –sepucuk Renggali– satu-satunya wanita yang duduk dalam Parlemen Aceh di masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah. Sebagai seorang filosuf, ahli hukum dan politisi kondang, beliau berani berhujjah dengan Qadhi malikul ’adil dalam kasus pembunuhan Bener Meria (anak kandung Meurah Johan) oleh Reje Linge ke-12. Teungku Tapa adalah Renggali yang harum di Aceh Timur saat peperangan melawan penjajah Belanda. Karena keberaniannya, hingga Komando Pusat Militer Belanda mempropagandakan bahwa Teungku Tapa enam kali mati.

Malik Ahmad, anak kandung Meurah Sinubung (cucu Munyang Mersa) diangkat menjadi Raja Jeumpa menggantikan mertuanya, karena berhasil menghentikan perseturuan antara kerajaan Jeumpa dan Samalanga. Meurah Silu, adik kandung Malik Ahmad, dilantik menjadi raja Pasé pertama, karena kualitas ketokohannya yang berhasil menghentikan perang antara Lhôk Sukon dan Geudông. Kata “Meurah” dalam bahasa Gayo, berarti “Malik” dalam bahasa Arab. Kata “Silu” dalam bahasa Gayo, bermakna “saléh” dalam bahasa Arab. Itu sebabnya, Renggali dari dataran tinggi Gayo ini kemudian populer dengan panggilan Sultan Malikussaléh.

Selain itu, Meurah Pupuk, yang mengembangkan agama Islam ke Lamno Daya; Meurah Bacang, yang mengembangkan agama Islam ke Tanah Batak; Meurah Putih dan Meurah Item (Hitam), yang mengembangkan agama Islam ke daerah Beracan Meureudu; Meurah Jernang, yang mengembangkan agama Islam ke Kalalawé Meulabôh; Meurah Silu (bukan Meurah Silu yang kemudian menjadi Raja Pasé), yang mengembangkan agama Islam Gunung Sinubung Blang Kejeren, adalah juga Renggali-Renggali yang megah dalam sejarah pengembangan Islam di Aceh. Sampai sekarang keturunan mereka masih memakai gelar “Meurah”, yang berasal dari keturunan Munyang Mersa, nenek moyang orang Gayo.

Tokoh Gayo di atas adalah Renggali-Renggali berasal dari jenis benih unggul, yang watak dan kualitasnya melebihi standar umum dan dipandang sebagai representatif dari semua sebutan dan jenis Renggali yang kita kenal. Keharuman Renggali unggul ini menembus tembok sentimen sukuisme, clan, fanatisme dan ethnosentris yang kaku. Mereka mampu mengalahkan harumnya bunga-bunga dari jenis lain, sekalipun Seulanga di Aceh Pesisir, yang datang bertandang dari kaum minoritas, tetapi mampu bersaing secara sehat dalam kancah politik Aceh, megah dan dikagumi.

Sementara itu, figur Seulanga di Gayo lebih dikenal sebagai toke. Lintas-dagang antara dataran tinggi Gayo dan Pesisir sudah berlangsung lama sekali. Kita bisa saksikan, pusat perdagangan strategis di kota Takengon dan daerah sekitarnya, didominasi oleh saudagar asal Aceh dan imigran asal Minangkabau. Orang Gayo tidak merasa iri dan benci, walau wilayah kedaulatannya dicoup oleh asing. Selain itu, interaksi sosial terjadi karena hubungan perkawinan. Diakui bahwa, silang budaya seni antara Seulanga-Renggali tidak mungkin dipadu, tapi tidak pernah beradu. Perbedaan bahasa bukan faktor perenggang dan berinteraksi, karena bahasa Melayu dipakai sebagai pertuturan sehari-hari. Bahasa Melayu adalah bahasa resmi di Aceh dari zaman dahulu sampai sekarang. Surat-menyurat resmi, seperti: surat Panglima Polém Cs yang mengajak Teungku Tjhik Mahyuddin di Tiro menyerah pada tahun 1907 ditulis dalam bahasa Melayu Jawi, bukan bahasa Aceh.

Kisah di atas adalah khazanah cerita lama. Sekarang segalanya sudah berubah, terjadi globalisasi dan pergeseran nilai-nilai budaya yang terus menggerogoti keaslian budaya kita. Dan inilah kebodohan kesejarahan kita. Di kalangan komunitas Gayo, terjadi proses pemudaran (ubes). Renggali yang dahulu pernah mekar, kini tidak lagi harum di Aceh. Dalam konteks ini ada dua faktor penyebab. Pertama, faktor intern, yakni kurangnya penghayatan nilai-nilai sejarah Gayo dan masih mempertahankan nilai-nilai lama yang tidak seiring dengan tuntutan zaman. Padahal Tjèh Toèt pernah berdendang; “Tutu mesin gere mubelatah, mah ilen ku roda. Rôh ke lagu noya” (Padi yang digiling di pabrik sudah bagus, buat apa dibawa lagi ke Roda. Logiskah itu?) Secara pragmatis, Toét mengajak agar bersikap terbuka, kritis, peka dan cerdas membaca tanda-tanda zaman. Kedua, faktor extern, yakni munculnya krisis kepercayaan dengan menyekat Renggali-Renggali untuk berperan dalam jajaran birokrasi, khususnya di tingkat provinsi. Tindakan ini dilakukan secara sistematis lewat dominasi clan dan sentimen kesukuan terselubung. Misalnya saja, dari 21 gubernur Aceh (mulai Teuku Nyak Arief – 1945-1946 sampai kepada Irwandi Yusuf – 8 Februari 2007-2012), tidak sekuntum Renggali pun dipetik. Soalnya ialah tidak memenuhi standar verifikasi kualitas atau korban dari ketidakpercayaan? Hal ini perlu dikaji dan didiskusikan.

Yang menjadi kendala laten di kalangan kita ialah masih kentalnya budaya tabu dan “tak enak” mempersoalkan secara terbuka masalah politik dan sosial kemasyarakatan dalam urusan intern Aceh. Ini merupakan faktor penghalang untuk menyatukan persepsi tentang Aceh dalam arti perasaan memiliki dan tanggungjawab bersama. Jika nilai-nilai budaya tadi masih terus dipertahankan, sudah tentu melahirkan rasa cemburu dan praduga negatif antara sesama, sebab setiap institusi kemasyarakatan memiliki sentimen; rasa kebanggaan terhadap seni budaya, resam dan sejarah masing-masing.

Dalam kaitan itulah, orang Gayo merasa berjasa dalam sejarah kepemimpinan Aceh lewat Renggali-Renggali yang harum, tetapi tidak menduga kalau satu saat, jasa itu tidak dikenang dan tidak dihargai orang, lemas dalam cemas. Ketika tengah berada dalam situasi yang demikian, barulah orang Gayo nyeloteh; “Kusuen Lumu murip we kerlèng, kusuen budi murép we rèngèng”(Kutanam Keladi tumbuh juga enceng gondok, kutanam budi tumbuh juga lirikan sinis). Dalam dinamika sosial, melupakan jasa adalah sah-sah saja. Dalam pepatah Aceh disebut: “Leupah krueng, glung rakit” (Selamat ke seberang sungai, tendang rakit). Hal ini terjadi disaat Renggali dinilai tidak lagi diperlukan sebagai tiang penopang. Bagaimanapun juga, tindakan seperti ini, bukan berarti mengubur atau mengurangi arti sejarah itu sendiri.

Akankah Renggali tidak megah lagi di Bireuen, dan Seulanga tidak megah lagi di Takengon? Secara politik-geografi akan terbukti seandainya provinsi ALA wujud. Jika kita mau jujur, kehadiran provinsi ALA sebenarnya konsekuensi logis dari prilaku kolektif, yang selama bertahun-tahun menabur ketidakpercayaan, pilih kasih dan ketidakadilan dalam konstribusi dan peluang berpartisipasi dalam birokrasi kepada non komunitas Aceh Pesisir.

Sekarang, tibalah waktunya kita menuai Provinsi ALA. Bersyukurlah! Mengapa mesti ditolak, dibenci dan munafik. Inilah hasil karya kita. Apalagi Provinsi NAD dan ALA berada dalam kandungan NKRI dan sama-sama satu Ibu dan menyusu kepada induknya – Jakarta. Malah sepuluh provinsi lain boleh saja lahir di bumi Aceh, yang pasti, Aceh sudah memiliki surat tanah -sertifikat- sebagai bukti sebuah negara berdasarkan peta yang dibuat dibuat oleh Inggeris tahun 1883 dan 1890. Ketahuilah Renggali selamanya akan mencintai Seulanga, tapi cinta tak mesti harus bersatu. Bukan?

*Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark

Oleh: Yusra Habib Abdul Gani[1]

KEBUDAYAAN, akan selamanya menjadi tema menarik untuk dibincang; bukan saja karena mengandung aspek pengetahuan, keterampilan, nilai seni dan unik, tetapi juga karena gerakan moral. Oleh karena ‘budaya’ yang dikenal selama ini berasal dari kata: ‘Buddhayah’ [bahasa Sangskerta] yang berarti budi atau akal. Jadi, bicara kebudayaan berarti bicara soal upaya membentuk orang agar berbudi dan berakal. Seiring dengan tuntutan kebudayaan itulah, maka layak memperdebatkannya untuk menimbang kadar karat moral dalam peradaban kita.Walau pun budaya berasal dari buah pikiran, bukan ajaran agama; tetapi dalam masyarakat Aceh diakui, bahwa budaya (juga tradisi) adalah pelindung agama, bahkan dikatakan: antara budaya dengan agama (Islam) ’lagèë zat deungon Sifeuët’.

Jadi, apa pun alasan dan motif perselisihan faham tentang kebudayaan, tetap berada dalam koridor moral, akal dan pengetahuan. Perkara inilah yang merangsang kita untuk segera merumuskan definisi kebudayaan yang baku, konsep, bentuk, aktivitas, cakupan, standarisasi dan korelasi kebudayaan yang bercorak ke-Aceh-an; khususnya mengenai ekistensi bahasa Aceh dan bahasa Gayo. Secara nazhriyah (teoritis), masalah budaya, bahasa dan sejarah sudah ‘sejuta’ kali didiskusikan dalam Seminar di arena PKA, namun secara amaliyah (praktis) belum nampak impact positifnya dalam masyarakat, apalagi mewujudkan kedua bahasa ini sebagai alat berpikir, meluahkan ide dalam tulisan ilmiah.

Kita baru memiliki Kamus, tetapi belum dijumpai buku-buku yang ditulis dalam bahasa Aceh atau Gayo yang membahas ikhwal agama atau ilmu pengetahuan umum berstandard ilmiah.Belum ada orang atau lembaga yang mempelopori penerbitan Suratkabar atau Majalah budaya (bulanan) dalam bahasa Aceh dan Gayo. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Malaysia; dimana Suratkabar, Majalah Keluarga dan hiburan populer diterbitkan dalam bahasa Melayu, Cina, Tamil dan Inggeris. Secara jujur mesti diakui bahwa, bahasa Aceh dan Gayo hanya dipakai dalam lingkungan terbatas (keluarga dan dalam komunitas tertentu). Orang Aceh tidak seluruhnya mengenal huruf abjad, menulis, berpikir cepat dan ilmiah dalam bahasa Aceh atau Gayo, dibandingkan menulis dan berpikir dalam bahasa Melayu (Indonesia).

Jika tidak diupayakan perumusan konsep, akan mendatangkan malapetaka kebudayaan dan para budayawan akan mengekor kepada mazhab Charles Tailor, yang memasukkan hampir keseluruhan aspek kehidupan manusia –termasuk agama– ke dalam definisi ’culture’ dan lebih jauh dikatakannya: ”tindakan-tindakan kultural kita bukan hanya bersifat pribadi atau subjektif, melainkan dibentuk secara sosial; itulah ’intersubjektive’.” Demikian pula W.A Haviland, yang memberi definisi ’culture’ sbb: ”peraturan standard yang jika dipatuhi oleh suatu masyarakat, akan menghasilkan prilaku yang dianggap layak dan diterima oleh masyarakat lain.” Selain itu juga Clifford Geerlz yang mendefinisikan ’culture’ begini: ”sesuatu yang dengannya kita memahami dan memberi makna dari hidup kita yang dikenali lewat sistem simbol-simbol.” Definisi ketiga antropolog di atas berangkat dari ’culture’ yang mereka kenali dalam struktur masyarakat tertentu yang beragam coraknya, sekaligus merumuskan nilai-nilai dan kredibelitas budaya. Pada hal temuan mereka sangat berbeda dengan konsep ‘Buddhayah’.

Dalam konteks kebudayaan, nampaknya kita masih mencari-cari identitas. Budaya dan tradisi kita sedang berada di persimpangan jalan, tidak bisa mengelak dari arus globalisasi informasi dan budaya yang berlangsung lewat interaksi dan asimilasi budaya yang terus-menerus merapatkan antara kelompok budaya dengan kelompok budaya lain, bahkan interaksi budaya antara suatu bangsa dengan bangsa lain. Silang budaya tadi bisa saja saling memajukan, menghidupkan, menguasai atau dikuasai, merubah bentuk –rusak atau indah– melengkapi atau mematikan suatu salah satu daripadanya. Pengaruh dari interaksi budaya tadi bisa dirasakan dari ’trend’ masyarakat yang ganderung meniru budaya dan bahasa asing, sebaliknya merendahkan prestige budaya, tradisi dan bahasa asli. Kini saatnya kita menentukan pilihan! Mengakui dan menghormati budaya kita bukan berarti menolak sepenuhnya kehadiran budaya asing. Kita menerima budaya dan bahasa asing dalam batas-batas tertentu, sejauh tidak merusakkan akar budaya kita.

Dalam hubungan ini, Prof Dr Nafsiah Karim (Guru besar Universitas Malaysia) dalam ”Persolan masyarakat Melayu Menjelang abad ke-21: Perspektif Bahasa” mengatakan: ”… Salah satu sikap salah kita, yaitu: seolah-olah bahasa Inggeris boleh memperkatakan ilmu modern dan bahasa Melayu tidak mempunyai kemampuan langsung. Hakikat sebenarnya ialah manusia Melayu itu. Dialah yang penting, jika dia berilmu, tidak kira dalam bahasa apa pun ilmu itu disampaikan, dia mencatat kemajuan. Orang Perancis, walau pun tahu berbahasa Inggeris, tidak mau memakai bahasa tersebut, sebaiknya dengan tegas menggunakan bahasa kebangsaan mereka.” Betapa pentingnya bahasa bagi suatu masyarakat dan bangsa, sehingga Perancis bersedia menjadi promotor dalam aksi kampanye supaya negara-negara Caribian sampai Indocina yang termasuk dalam ”LAFRANCOPHONIE” (”kumpulan negara-negara berbahsa Perancis”) tetap bertutur dan mempertahankan bahasa Perancis.

Dalam Sidang Istimewa tahun 1993, Perancis menegaskan dan mau supaya 47 negara anggota kumpulan itu memperluas peranannya, bukan saja mempopulerkan bahasa dan kebudayaan Perancis, tetapi juga diplomasi internasional bagi melindungi dari pengaruh penguasaan bahasa Inggeris (Amerika Serikat). Tegasnya menantang arus pengaruh penguasaan kebudayaan Anglo-Saxon, khususnya dalam konteks hak budaya. Diantara prestasi gemilang dalam diplomasi kebudayaan Perancis ialah: ditetapkannya bahasa Perancis sebagai bahasa resmi yang tertera pada Kop Surat PBB (UNHCR).Sekali lagi, kita tidak menolak cerita roman atau kesejarahan asing, sejauh ianya mampu membangkitkan imajinasi dan ide untuk menghidupkan kembali khazanah budaya. Kisah Doraemon atau Atromen dalam siri film karton Jepang misalnya; yang secara sengaja menitipkan nilai-nilai budaya Jepang, mulai dari nama tokoh, pakaian, lingkungan alam, wajah pelaku dan kebiasaan-kebiasaan yang disajikan, nampak berteraskan budaya Jepang dan diterima di seluruh dunia. Dalam perluasan cerita ini jelas nampak unsur dagang, dengan menjual kartu dan patung Doraemon-Atromen yang membuat anak-anak seluruh dunia ’gila’ membelinya.

Beginilah cara Jepang mengubur kesan negatif semasa perang Dunia ke-2 demi memulihkan image kepada generasi dunia di masa mendatang. Cerita fiksi asing bisa diambil idenya, sehingga khazanah budaya (cerita rakyat), seperti: ”Amat Rhah Manyang”, ”Atu Belah” dan ”Malim Dewa” yang sudah terkubur, menjelma kembali dalam bentuk novel dan atau mem-film-kan. Kebudayaan, pada prinsipnya memang tidak dapat dipisahkan dari cara berpikir, kreasi, politik, ekonomi, identitas, falsafah dan kehidupan keagamaan. Jadi, ‘gerakan politik nilai-nilai’ dalam konteks kebudayaan yang dipaparkan oleh Ampuh Devayan baru-baru ini; bisa ditafsirkan, dipahami dan diserap lewat cerita rakyat, sebagaimana pernah dilakukan pada zaman Hiraclitos di Yunani, dimana para seniman dan budayawan memanfaatkan dialog dalam drama ”Antigone” dan “Olympus” sebagai suatu ‘gerakan politik nilai-nilai’ dan sekaligus ajakan agar rakyat selalu peka terhadap nilai-nilai budaya dan politik, menyikapi ketidak-adilan, tindakan sewenang-wenang penguasa, kebenaran dan keadilan.

Masalahnya: budayawan kita punya ide, nyali atau kekurangan ide dan pengecut.Gagasan-gagasanDi

lema kebudayaan kita sudah jelas, sekarang tinggal merumuskan konsep, standarisasi, strategi untuk membangun rasa kebanggaan terhadap budaya sendiri; sejauh mana komitmen penguasa dalam peng-agih-an dana dan penyediaan sarana. Terus terang, strategi budaya kita belum tiba ke tahap mempengaruhi dan menawarkan sesuatu kepada dunia luar. Untuk itu, kita menyandarkan harapan kepada forum PKA ke-V kiranya memanfaatkan peluang ini untuk merumuskan segala-galanya. Seni budaya tidak semata-mata untuk dinikmati, tetapi diperjuangkan agar tidak mati!Di hadapan kita datang musuh: ”mission sivilstrice”, ”The white men’s burden”, ”culture colonialism and imprialism” dan ”saving natives” menyerang dan menerobos benteng kebudayaan dan kesejarahan kita dengan peluru tanpa suara. Bangun dan megahkan, sembari mencari daya tangkal untuk menghadapi serangan budaya asing tersebut, agar budaya kita selamat, terhormat, tidak terkikis dan terusir.

[1]. Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark.

[Serambi 3. August 2009]

Oleh Win Ruhdi Bathin

Kerajaan Linge atau Kerajaan Islam Linge memang masih diliput misteri. Dikemas dalam bahasa adat gayo, seperti melengkan, saer, didong serta dongeng. Secara ilmiah, masih sangat minim meski penulis sekaliber antropolog Amerika, John R Bowen, pernah menulis sekelumit tentang gayo, dalam bukunya, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History, 1900-1989.

Sebagai Antropolog, John R Bowen yang kemudian mengganti namanya menjadi “Aman Genali”, menulis sejarah gayo dalam bukunya setebal 298 dengan hard cover dan kertas yang bagus, secara antropolog.

Dalam pengantar buku Bowen di halaman belakang cover, dituliskannya, “When small-scale societes are intregrated into larger spheres of authority, their key cultural form are often reshaped.

In this book, an anthropologis analyzes political and cultural change among the Gayo, a Muslim people numbering about 200.000,- who live in the highland of northern Sumatera. John R. Bowen , who lived among the Gayo and is fluent in their language, shows how their successive absorption into both colonial and postcolonial states has led them to revise their ritual speaking, sung poetry, and historical narrative.

Berbeda dengan Bowen, di tahun 1984, tepatnya 1 Januari, Hamzah , menuturkan silsilah Keturunan Syeh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala) entah atau Muyang Kute dari Delung Sekinel Kutereje Ling ke Delung Tue Reje Guru Kecamatan Bukit Simpang Tige.

Catatan sejarah Linge ini saya dapat dari Ketua MANGO (Majlis Adat dan Kebudayaan Gayo), Mustafa AK, Selasa (18 Agustus 2009), dirumahnya di Kala Kebayakan. Menurut Mustafa AK, dia mendapatkan catatan sejarah Linge ini dari keluarga Hamzah.

Karena Hamzah sebagai keturunan Reje Linge sudah wafat. Hamzah menulis Sejarah dan silsislah Kerajaan Linge ini Tanggal 1 Januari 2009. Hamzah menyebut dirinya selaku Kwali (Wali) dan penitir (penulis).

Jika melihat kopian Sejarah Linge yang ditulis Hamzah, paling tidak ada delapan halaman. Namun tidak diberi tanda mana halaman satu hingga delapan. Masing-masing halaman sepertinya berdiri sendiri, tidak nyambung ke halaman lain.

Melihat apa yang ditulis almarhum Hamzah, tampak jelas Hamzah sangat pinter karena menitirkan sejarah kerajaan Linge – Negeri Antara disertai dengan Kompas, gambar kerajaan Linge dengan rincian, peta buta, denah dan struktur silsilah.

Saya coba menggambarkan masing-masing halaman meski tulisannya dalam kopian yang say abaca sudah banyak yang kabur. Simak di salah satu halaman ini, dituliskan judulnya Batas Kerajaan Linge Negeri Antara. Hamzah membuat gambar Bintang bersudut delapan.

Bagian atas Bintang (penunjuk arah) yang digambar Hamzah ditulis (Utara) Karakurum (Mongolia) Sebelah Selatan berbatasan dengan Antara Sara Ketike (Antartika), bagian Timur berbatasan Pas epek (Pasific) dan bagian Barat Kerajaan Linge Negeri Antara berbatasan dengan Latamadagaskar.

Diluar tulisan bintang yang menunjukkan arah bersudut delapan ini ditulis melingkar Pulo Perca. Dibawah peta ini ditulis “Pulau Perca (Asia)”.

Dalam keterangan ditulis Hamzah , Sebelah Utara berbatasan dengan Karakurum (Mongolia), Sebelah Selatan berbatasan dengan Antara Sara Ketike (Antartika), Sebelah Barat berbatasan dengan Latamadagaskar (Afrika) dan Sebelah Timur Berbatasan dengan Pas-epek (Pasific). Tulisan vocal e pada pasepek, diberi tanda garis diatasnya.

Dalam lembar yang sama (satu halaman) Hamzah juga menggambar Umah Pitu ruang yang merupakan rumah panggung. Di gambar ini, Hamzah juga membuat Bintang Tujuh di bagian atas rumah sebelah kiri. Laut dengan perahu bertuliskan Perau (perahu) Bujang Genali. Hamzah juga menulis gambar segitiga kerucut yang berjumlah tujuh dengan tulisan Pemulang Pitu Perkara. Kemudian gambar berbentuk setengah lingkaran yang bertuliskan Kal Pitu Mata.

Juga ditulis Lapan Johor Pitu Aceh

Reje di Kedah , Pahang

Kedah Ling, Kedah Malaka.

——-

Di halaman lainnya, Hamzah menulis tikamnya) Moyang Karang Putih Kunyur (penikam Gajah) ari Buntul Kung.

Ter (berputar-putar) bergelung Ke-Asampe terus ke Umang (Utara) terus berpusing I (Timur) Jatur Kunyur ini di Hutan Rimba Bukit kunyur (Lembing) menanda di buka (Negeri) yang dipugar.

Masih di halaman yang sama, Hamzah menggambar rumah. Sepertinya juga Umah Pitu Ruang. Dilingkari tulisan Gelung Perajah. I bagian atas rumah ditulis Asam Perege (Barat). Tiur Kala Ili. Umang (Utara). S

Bagian Selatan tidak terbaca.

Mla Hoya Hoya

Belalang kupu-kupu

Tepae gelang puntu

Anak mane rebutne ari pumungku

Aku gere pane bersebuku

Wassalu wale hak-hak (Selawat nabi)

Sakku rio – rio hak-hak (enti sok ko enti rie)

Uru-urum dewe uton

Pancang Uten tertene

Nama terku

Padehne

Tom imo muk-muken wan uten so 3 X

Ane guel repa’i

Tari sakit awak

One kin ulu kudi

Ungi tareng ungak

Sing-sing ngak kesing ungi taring ungak.

Selanjutnya di halaman lain catatan Hamzah yang ditulis tangan ditulis ;

Pendari Siopat Reje Linge :

Cik Serule (Surul) Seru Lo (Lao)

Cik Beno I Penarun (Penosen) Kayu Pena

Cik Gelung Perajah I Gewat (Kunyur Pegajon

Cik Dah (Kedah) Ishak (Abd.Malik Ibrahm Ishak)

Opat Mudunie Pertama (Mulo Ara Denie)

..Ama Linge (sebelum tulisen ama linge, tidak terbaca. Saya buat titik-titik)

..Serule (Surul) Seru lao (Hari gembira)

..Pena (Kayu I penurunen kin umah Pitu Ruang)

Takengon Lut (Takengon Lut)

Opat Mudenie Kedue

..ma Serule Mulo Demu ( awal-awal warna ni bene-bene)

.. e Linge Mulo Ara (Asal Kerpe Jemarum murip)

..ak Kapal Iturki (Kapal Nabi Olah Nus AS)

..ri Rum Teridah (Baru kering Lut Lilin)

Opat Mudenie Ketige (Ketige Dunia Nampak)

..ma Reje Linge (Mulai ada raja)

..e Reje Bukit (Kebayakan)

..e Reje Patiamang (Blang Kejurun) Blang Kejeren

Opat Reje Nabuk (Merah Abuk) Lukup

Opat Mudenie Keempat (Reje-Raja)

…ma Reje Linge (Ishak)

..e Reje Bukit (Kebayakan)

Kejurun Nosar (Samar Kilang)

..Cik Bebebsen (Ayu/baru dilantik ari (dari)/Lumut (Sibolga) sisa yang tinggal kejadian..g kur Ujung Pejudin (Kute Bedarah) sisa 27 orang

Mukekawalan : 7 Linge Jadi Pengawal

(+ Selingen) di Loyang Daratan Cina

(Kalingga) di India

(Lingayen) di Filipina

(Tambra Lingga) di Malaka

(Lobok Lingga) Lubuk Linggau Sumatera Selatan

(Kota Lingga) di Kalimantan

(Purbalingga) Probolinggo di Jawa Tengah

Mukekewalan Diluar Bathin

Mata kanan (1)

Mata kiri (1)

Telinga Kanan (1)

Telinga kiri (1)

Hidung Kanan (1)

Hidung kiri (1)

Mulut (1)

Mukekawalan Lahir : Pada Diri

Sujud pada Khaliq (semah)

Tangan kanan sujud (semah)

Tangan Kiri sujud (semah)

Siopat Mudunie Batin (Dalam Diri)

1. Ate (hati) Tanoh-Mulut
2. Lempedu (empedu) Wih (air)- mata
3. Jantung (Rara) api-Telinga (kuping)
4. Sosop (Kuyu) angina – Hidung (Yung)

Terjadi Ari Siopat

1. Tanoh Pintu Gerbang awah (mulut) tanah
2. Wij (Air) Pintu Gerbang Mata
3. Rara (api) Pintu Gerbang Telinga
4. Angin (Kuyu) Pintu Gerbang Yung (Hidung)

Pemindahan Melayu Tue Linge

1. Pulau Lingga di Riau (Panglima Lingga) berkubur disana. Bapaknya Moyang Meriah dan Sengeda (Menjadi Gajah Putih)
2. Probolinggo (Jawa Timur) dibuka Wali Sembilan (Songo) dari Linge Isaq
3. Linge Garut Jawa Barat
4. Lingga Raja di Karo (Gunung Sibayakku lagu si lungun (Simalungun) Kabupaten Karo (Karo-dikejar)

Kute (Kota)

Kute Reje Linge (Delung Sekinel)

Kute Reje (Banda) Aceh) dibawa oleh Merah Johan Sultan Pertama di Aceh

Anak Reje Linge Istri Putri Ning Lian …

Masih satu halaman dengan keterangan diatas, Hamzah kembali membuat gambar penunjuk arah (Kompas) tentang Batas Reje Cik Gelung Perajah

Uken (Asam Perege) (Barat-Red)

Kutoa (Kala Ili)(Waq) Linge(Timur- Red)

Kupaloh (Burni Unyur2) (Selatan)

Ku-Bur (Umang) (Utara)

Catatan, di bagian (Kutoa) (Kala Ili) (Timur) ditulis penyelusuran dari Kuala Beukah Aceh Timur.

Masih di halaman ini, Hamzah membuat peta Tanah Gewat + Kedah (Dah) Isaq + Kedah Ishaq (Linge) Kedah Malaka , Kedah Kutereje (Banda Aceh) . Peta ini tidak saya buat karena banyak tulisan yang kabur . Didalam peta ini tertulis lokasi, nama tempat, sungai, jalan raya, Kampung.

——-
Pada Halaman berikutnya tulisan Almarhum Hamzah yang dibuatnya 1 Januari 1984, Hamzah menulis Silsilah. Yaitu Silsilah Keturunan Syeh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala) Entah atau Muyang Kute dari Delung Sekinel Kutereje Linge Ke-Delung Tue Reje Guru Kecamatan Bukit S

Simpang III (Kabupaten Bener Meriah).

I. Tuen Ta’ Umar

II. Baginda Saleh

III. Jana Katib Tue

IV. Jana Katib Mude

Dari Tuen Ta’ Umar , turunan Pertama adalah Syeh Abdurraub (mungkin Abdurrauf) Fansuri Syiah Kuala , Entah, Muyang Kute, Datok Guru.

Blang Jorong Kecamatan Bandar adalah lokasi kuburan Syiah Kuala Kute Teras.

Panglime II—Genting Rappe (Kerampe)

Guru Morang (Situmorang)

Panglime III

Merah Genting

Panglime IV

Bener Kelipah

Panglime I

Guru Merut (Dikubukan hanya Rab)

Panglime V

Gempar Alam

Diantara Gempar Alam kanan dan kiri Adalah kuburan Umum (di Lokasi kuburan Blang Jorong).

1 (satu) sampai dengan Lima inilah Panglima Sekinel delung Linge Gayo Abad ke-17, mengelilingi Barus setelah ditangkap panglima Batak ini, sujud kepada ilmu Syiah Kuala dan mengelilingi seluruh Aceh dengan panglima yang lima orang ini berangkat setiap pergi jumlah kuburan Syiah Kuala 44 buah isinya kosong.

Diwasiatkan kuburannya :

1. Atan Buntul (diatas Bukit Kecil)
2. Tuyuhni Atu (dibawah batu)
3. Pake Rak (Parit) kelilingi
4. bagian Atas ada Rumah (Tuyuh Keleten)

——–

Silsilah Syeh Abdurraub Fansuri Muyang Kute

Syeh Abduraub memiliki dua istri. Istri Tue Delung Tue. Istri Mude Reje Guru. Dari istri tue lahir tiga anak. I. Muyang Ulu Tanoh Belang Kejeren. II. Muyang Mang Lho Seumawe.III Muyang Petukel Blang Jorong.

Muyang Ulu Tanoh Blang Kejeren tidak ditulis keturunannya. Hanya disebutkan keturunan di Belang Kejeren dan Meulaboh.

II. Muyang Mang Lho Seumawe-Muyang Kelowang—Bayu-Reje Banta-Abd Latif Aman Maryam-M.Yunus.

III Muyang Petukel Blang Jorong-Muyang Mungkur Isaq- Muyang Pase-Muyang Peterun-Dik La’i-Tgk. Mahmudin-Jakfar A. Guntur.

Dari Istri kedua Syeh Abdurraub Fansuri Muyang Kute, yakni Reje Guru-Muhd. Jewe Muyang Beram Lho Seumawe-Datu Penacih Bintang-Mukmin Tgk Bernun. Mukmin Tengku Bernun memiliki dua keturunan, M. Kuali dan Tengku Tapa.

M.Kuali memiliki keturunan Mohd Syeh Reje Guru dan Sulaiman. Muhammad Syeh Reje Guru memiliki dua istri. Anak dari istri Tua Syeh Reje Guru adalah (1) Keruh Reje Daud, (2) Inen Aminah, (3) Semi’ah Inen Catur , (4) Rani Inen Tetunyung, (5) Rukah Inen Banta.

Dari istri kedua Muhammad Syeh Reje Guru, ( 1) Jernih, Midah I Mude Entan (I), Bujang ( Syiah Kuala)…Bukit Muli. Dari Bujang (Syiah Kuala) (I) Hamzah Selaku Kuali Mahniar (II) Selamah Mirwan.

Keterangan :

Dikaki Gunung ada dua mata air. Yang satu airnya jernih dan yang satunya keruh. Kualanya ke air panas (Gunung Gerdong). Lahir anak Mohd Syeh (Reje Guru) sekali lahir anak istri tua dan istri muda, maka dinamai 1 Keruh, 1 Jernih.

—————–

Disalah satu halaman lainnya, sebut saja halaman terakhir dari tulisan tangan Hamzah, dia memakai dua halaman buku untuk menuliskan sebuah skema silsilah ,”Kute Kedah Asal Usul Datu Pitu”.

Skema Asal Usul Datu Pitu dimulai dari Adik Sultan Machdum Malik Ibrahim Sultan Perlak Syeh Abd. Malik Ibrahim Hak (Datu Peski) Tahun -80,6 (?) Kuburan di Kebayakan.

Tok Merah Mersa Negeri Isaq (Kuburannya di Belakang Pendopo Bupati Aceh Tengah)

1. Merah Putih (Pergi ke daerah Kiran dari Beracan, kemudian bernama Kampung Negeri Merah Due (Mereudu)

2.Merah Item (Pergi ke daerah Kiran dari Beracan, kemudian bernama Kampung Negeri Merah Due (Mereudu)

3.Merah Bacang Hulu Sungai Seunagon (Senedun)

4. Merah Jernang –pergi ke Barus (Tapanuli)

5. Merah Silu (Malik Ibrahim) –Pergi ke daerah Lukup dan Blang Kejeren. Malik Ahmad (Reje Jempa) pergi ke Jempa Pesangan yang mendirikan Kala Jempa periode II. Malik Saleh =Merah Silu II Reje Pase dan keturunanannya. Malik Abdullah (Raja Jempa) Merah Jepa (Miga) Merah Singkuna dan keturunannya.

6.Merah Pupuk (Pergi ke Negeri Daja)

7.Merah Mege (Yang jatuh kedalam sumur….(Loyang Datu) dekat Kute Rayang dan ditolong oleh seekor anjing.Si Pase anak yang paling kecil….ayahnya Tok Merah Mege..sedangkan sudaranya yang enam orang membiarkannya dalam sumur hingga datang ayahnya mengambilnya sendiri.

Dibawah skema silsilah ini juga ditulis tantang Buntul Linge :

Buntul Linge :

-Linge (Bukit)

-Jamat

-Delung

-Sekinel

-Pertik

-Nasuh

-Tukik

-Kutereje

-Payung

Beno Penarun

-Cik Beno

Owak

-Kerlang

Lot

Kala

Serule

Bukit

Cik

Lot

Gelung Perajah Gewat :

Nalun Gewat, Genting

Pengulu Akim (Tenamak)

Pengulu (Bedak Bale)

Pengulu Mungkur

Pengulu Uning

Pengulu Tiro (Cik Tiro)

Pengulu Bungkuk

Pengulu Owak

Pengulu Lumut

Pengulu Kung

Pengulu Loyang (Gunung) (Akim)

Kedah (Isaq)

Kute Keramil

Kute Meriem

Kute Rayang

Kute Robel

Kute Baru (Kerawang)-Gading-Kemulo-K

ala….-Air Asin-Pepumu

Jagong-Gegarang

Gemboyah –Batu Lintang

Keterangan : Dari Sebelah Syeh Andurraub : Persembahyangannya, 1. Batu Mesjid. 2. Buntul Pedim.3. Buntul Uber-uber. 4. Buntul Drakal (Blang Rakal), 5. Buntul Wih Lukup-Buntul Telege (Lut Atas).

Tuen Ta’Umar : Terbang dari Mekah, Jatuk Pangkatnya di Lho Seumawe, sewaktu diambilnya pangkatnya itu terangkatlah dengan tanahnya, maka tanah itu langsung diangkat ke Bur Telong (Gunung Gerdong dan menjadi laut kucak (danau) kecil itu maka rasa air danau itu asin sampai sekarang. Diatasnya ada telaga kecil seperti dibeton dan persembahyangan. Nama pangkat Syeh (Tuen Ta’ Umar yaitu (Belah Kamar)

Datu Peski , Datu Peski (Abd Malik Ibrahi Ishak, kakeknya Merah Mege, kuburannya diats telaga Peski. Sekarang Kuburan Orang Gunung, sebelah Utara Kebayakan (Suami Istri). Dan Merah Mersa dikuburkan di Belakang Pendopo Takengon (di dapur rumah bupati). Dan Merah Mege berkubur di di Dekat Loyang Datu Isaq dan saudaranya yang enam semua melarikan diri membuka negeri masing-masing sebagaimana diatas takut kena ancaman dari Bapaknya dari Bapaknya Muyang Mersa akibat menjatuhkan adiknya kedalam Sumur.

Keterangan lainnya di halaman ini, diterangkan :

Kejurun (Presiden)

Arti Kejurun (Presiden) Juru Mudi

Juru Kemudi, Juru membuka negeri

Juru mengharungi air bah

Reje (Raja, Wakil Presiden)

Arti Reje (Raja) Remalan Jemot, Remalan Jem, Remalan Jamut, Renelen Jemen (Reje)

Dihalaman Asal Usul Datu Pitu ini, disebutkan Penulis Wasiat adalah Raja Cik Gelung Prajah Gewat Mohd. Asa Saleh Abarita (Bertanda tangan),

Banyak orang yang mengeluhkan bagaimana langkanya sebuah buku tentang sejarah Gayo, secara ilmiah atau versi dongeng yang didongengkan pengantar tidur. Itupun dahulu kala. Karena orang tua di Gayo saat ini, tidak lagi pernah mengantar tidur anak atau cucunya dengan “Dongeng Kerajaan Linge”, karena digantikan sinetron.

Misteri Gayo, sejarah , budaya dan peradabannya, memang belum terbuka penuh. Penggalan-penggalan, kepingan data , fakta dan dongeng tentang sejarah Gayo, suhuf –suhuf yang tersebar (istilah Yusradi Usman Algayoni, Mahasiswa S-2 USU Medan , Geo Linguistic ), masih tersebar. Sebarannya bisa dimana saja di Antero Aceh , Indonesia bahkan dunia. Karena saat Van Dalen membantai kawasan pedalaman Aceh Pegunungan, dalam rangka memperluas jajahannya , pasukan Belanda selain mengeksekusi warga Gayo dalam benteng-benteng pertahanan dengan senjata moderen senjata api laras panjang dan pendek, juga membawa barang berharga milik Kerajaan Linge. Bahkan konon, di Museum-Museum Belanda banyak disimpan barang milik Kerajaan Linge atau penduduk Linge. Demikian halnya di Perpustakaan Leiden Belanda, terdapat tidak kurang dari 15 buku tentang Gayo.

Gayo di jaman pra sejarah malah terkuak dan Absolut sudah ada hunian di Dataran Tinggi Gayo (Datiga) , Tepatnya di ( Rock Shelter / Abris Sous Roches Mendale ) Ceruk Mendale, Kecamatan Kebayakan sejak 3500 tahun lalu. Hal ini dibuktikan oleh peneliti Balai Arkeologi Medan (Balar) dengan ditemukannya ‘Batu Kapak Persegi” yang berusia 3500 tahun.

Fakta ini menunjukkan bahwa Ceruk Mendale pernah dihuni oleh peradaban Neolitik 3500 tahun lalu.Akhir – akhir ini, gerakan atau keinginan untuk mulai mengumpulkan kepingan sejarah gayo yang tersisa mulai santer dikalangan generasi muda Gayo. Bukan berarti generasi gayo menjadi rasis atau ekslusif, tapi karena keinginan mengetahui identitas dan tentu saja harga diri sebagai sebuah suku, bangsa yang selama ini dimarginalkan dalam banyak hal. Sayangnya lagi, sebagian generasi gayo lainnya yang permissive, tidak peduli pada identitas diri sebagai “Urang Gayo” yang dikenal sangat demokratis dengan sistim pemerintahan “Sarak Opat”. Pemerintahan yang Demokrasi dan bukan Kerajaan yang turun temurun.

Ada pencerahan sejarah Gayo dari bangkitnya generasi gayo saat ini akan pentingnya sejarah sebagai identitas diri. Bukan hanya sejarah saja, tapi juga upaya penyelamatan “Basa Gayo” yang dikenal sangat lengkap, santun dan berbeda dengan bahasa Aceh umumnya di daerah Pesisir.

Adalah tugas berat selanjutnya untuk kembali menggali , menyatukan kepingan yang tersisa dari sejarah gayo. Ada kemauan , ada jalan. Walaupun diperlukan beberapa generasi kedepan agar rangkaian sejarah tersambung lagi dengan baik dan benar dan tentu saja ilmiah. Bismillah…..

Oleh Mahyadi

Dingin merangsek masuk dari celah-celah papan yang mulai jarang. Asap mengepul dari bara api yang terbakar diatas dapur kayu. Aroma daun pisang yang terbakar sedikit menyengat mata. Perlahan rasa dingin yang menusuk tulang mulai sirna karena secangkir kopi dan beberapa potong kue lepat bakar menemani.

Sebaris cerita melirik “sekelumit” kebiasaan masyarakat dataran tinggi Gayo, dengan berbagai tradisi yang mereka miliki. Dataran tinggi Gayo, memiliki iklim yang cukup dingin, terletak di ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut. Pegunungan melingkari daerah berhawa sejuk itu. Namun dibalik sejuknya tanah Gayo, ada terselip tradisi yang mulai terkikis dan dilupakan oleh masyarakatnya.

Sederatan tradisi masyarakat di dataran tinggi Gayo, ketika menjelang bulan suci Ramadhan, maupun pada saat menyambut hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha ada ciri khas tersendiri, dalam menyambut datangnya hari-hari besar itu. Salah satu ciri khasnya adalah dari segi panganan yaitu lepat gayo.

Lepat Gayo, adalah salah satu panganan dari sederetan tradisi masyarakat di dataran tinggi Gayo dalam menyambut hari besar keagamaan ataupun hari besar lainya. Mungkin panganan lepat gayo ini, tidak jauh berbeda dengan “kue timpan” panganan tradisi masyarakat Aceh bagian pesisir. “Serupa tapi tak sama” pantas disebutkan bagi kedua jenis panganan di Serambi Mekkah ini.

Perbedaan antara kue timpan dengan lepat gayo, panganan dari dataran tinggi gayo itu, bisa bertahan lebih lama, sedangkan kue timpan yang biasanya Aceh bagian pesisir bisa dijumpai di warung-warung kopi. Sedangkan kue lepat ini, bisa dinikmati nyaris hanya setahun sekali.

Dataran tingi Gayo yang kita kenal memiliki beragam etnis, yang mendiami daerah daerah itu, selain Masyarakat dataran tinggi Gayo, dan Aceh pesisir sendiri ada juga etnis Jawa, Padang, Batak dan banyak lagi yang lainya. Sebagian besar dari mereka yang tinggal dan menetap di Takengon, atau Bener Meriah, telah mengenal panganan kue lepat Gayo, bahkan ada juga dari mereka yang mengikuti tradisi pembuatan lepat gayo menjelang hari besar seperti menyambut bulan Ramadhan dan hari besar lainya.

“Saya menetap di Takengon ini, sudah sejak kecil, dulu orang tua saya tinggal di Kampung Isak, sebagai buruh perkebunan. Jadi tradisi ini, sudah saya kenal sejak 45 tahun silam, sampai dengan sekarang setiap bulan ramadhan atau lebaran kami tidak lupa menyiapkan panganan lepat Gayo.” Cerita Inen Su, seorang ibu yang asli berdarah jawa.

Terbukti, panganan lepat Gayo bukan saja dikenal ataupun dikonsumsi oleh orang Gayo sendiri, tetapi kue berbalut daun pisang itu, telah “menjalar” ke rumah-rumah masyarakat yang bukan etnis Gayo.

Panganan lepat gayo hanya didapat pada saat menjelang bulan puasa maupun dalam menyambut hari raya lainnya. Panganan yang terbuat dari tepung beras yang diberi isi kelapa yang telah diparut dan dibungkus lembaran daun pisang ini, “nyaris” di setiap rumah dapat dijumpai menjelang bulan suci Ramadhan.

Salah satu keunikan dari kue lepat gayo, yang dalam bahasa daerahnya, “penan lepat gayo” ini, bisa bertahan hingga satu bulan diawetkan dengan menggunakan asap dari tungku kayu bakar. Umumnya masyarakat dataran tinggi Gayo masih banyak yang menggunakan kayu bakar untuk memasak didapur, Nah untuk mengawetkan lepat gayo ini, kebiasaan masyarakat gayo hanya dengan mengantung kue lepat diatas para-para dapur kayu hingga mengering.

Lepat yang telah mengering diawetkan diatas para-para dapur kayu itu, sewaktu-waktu dapat dikonsumsi sebagai panganan untuk berbuka puasa dengan cara memangang diatas bara api atau di wadah yang telah dibubuhi minyak makan.

Sayangnya kini, kue lepat gayo yang sudah menjadi tradisi masyarakat daerah penghasil kopi ini, mulai memudar seiring dengan berjalananya waktu. Pembuatan kue tersebut, terbilang sederhana, namun “tergilas” dengan kemajuan zaman dan moderenisasi, sehingga sebagian besar masyarakat lebih memilih makanan yang berbau mentega dan keju.

“Jujur saja, saya selaku putra daerah yang berdarah asli Gayo, pada saat menjelang bulan suci Ramadhan, hampir tidak pernah lagi membuat lepat Gayo. Padahal itu kan makanan ciri khas kita.” Ungkap Aman Win

Tidak bisa dipungkiri, makanan kegemaran dan ciri khas orang Gayo itu, lama-kelamaan tenggelam ditelan zaman. Namun sebagian besar masyarakat yang masih tinggal di daerah pinggiran masih menggemari makanan itu, sebagai salah satu khas yang tidak boleh dilupakan.

Lepat gayo, hanyalah salah satu dari sekian banyak ciri khas panganan dari daerah dataran tinggi gayo. Tapi lepat Gayo, mempunyai “musim” tersendiri. Umumnya pembuatan panganan itu, dibuat menjelang bulan suci Ramadhan.

Panganan musiman itu, jika dikonsumsi kurang lengkap rasanya jika tidak ditemani dengan secangkir kopi panas. Apalagi seperti yang kita tau, Dataran tinggi gayo merupakan penghasil kopi terbesar di Aceh. Rasa-rasanya kopi dan kue lepat hampir tidak bisa dipisahkan karena ada kenikmatan tersendiri dalam mengkonsumsinya keduanya.

Oleh Yusradi Usman Al-Gayoni

Tawar Sedenge

Engon ko so tanoh Gayo Si megah mu reta dele Rum batang uyem si ijo, kupi bako e

Pengen ko tuk ni korek so Uwet mi ko tanoh Gayo Seselen pumu ni baju, netah dirimu

Enti daten bur kelieten Mongot pude deru Oya le rahmat ni Tuhen, ken ko bewen mu

Uwetmi ko tanoh Gayo Semayak bajangku Ken tawar roh munyang datu, uwetmi masku

Ko matangku si mu mimpim Emah uyem ko ken soloh Katiti kiding enti museltu, i lah ni dene

O kiding kao ken cermin Remalan enti berteduh Enti mera kao tang duru, ton jema dele

Enti osan ku pumu jema Pesaka si ara Tenaring ni munyang datu, ken ko bewene mu

Uwet mi ko tanoh Gayo Ko opoh bajungku Ken tawar roh munyang datu, uwetmi masku

Inilah salah satu puisi A.R. Moese yang diciptakannya di Baleatu pada tahun 1956. Karya monumental ini cukup populer di kalangan masyarakat Gayo. Betapa tidak, lagu ini kerap dinyanyikan di acara-acara formal baik di pemerintahan tanoh Gayo maupun ti tingkat masyarakat Gayo. Oleh pemerintah daerah, lagu ini kemudian ditetapkan sebagai lagu wajib daerah. Tidak hanya di tanoh Gayo, lagu ini selalu dinyanyinkan oleh anak negeri di perantauan ’pang – pang pendidikan’. Tidak jarang, saat mereka menyanyikan lagu ini, mereka merasa tersentuh sambil menangis, ingin berbuat sesuatu terhadap negeri mereka ’dataran tinggi tanoh Gayo’ dan pada saat yang sama, seolah mereka dibawa terbang ke tanah kelahiran mereka. Karya ini begitu menyetuh perasaan, cukup menggugah dan memberikan efek perubahan bagi pendengarnya ’urang Gayo’ sekaligus menjadi motivator bagi urang Gayo itu sendiri. Akibatnya, mereka ’urang Gayo’ ingin berbuat dan memberikan yang terbaik bagi negeri mereka ’tanoh Gayo’. Tentu kita ’masyarakat dan generasi Gayo hari ini’ cukup mengapresiasi karya besar A.R. Moese diatas.

Engon ko so tanoh Gayo (lihatlah tanah Gayo), si megah rum reta dele (yang terkenal dengan harta yang melimpah), rum batang uyem si ijo, kupi bako e (dengan batang pinus yang hijau serta kopinya). Pengarang mengajak pembacanya untuk melihat dan mengetahui tanoh Gayo yang terkenal dengan harta melimpah. Dalam hal ini, tanoh Gayo tidak hanya Takengon (Aceh Tengah), tetapi juga Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Lokop Serbejadi (Aceh Timur), Kalul (A.Tamiang) dan sebagian kecil di Aceh Selatan. Gambaran harta yang melimpah ’kekayaaan tanoh Gayo’ adalah pinus mercusi, kopi dan tembakau. Tentu pinus mercusi, kopi Gayo jenis Arabika dan tembakau, merupakan sebagian kecil kekayaan yang dimiliki daerah ini. Selain itu, tanoh Gayo terkenal sebagai daerah pertanian ’holtikultura’ ’asam keprok sebagai komoditi nasional’ dan dulunya (zaman kolonialis Belanda), daerah ini (sekarang Bener Meriah) memiliki teh yang sempat merambah pasar ke benua Eropa dengan brand ’teh Redelong’. Juga daerah ini memiliki kualitas ganja yang tidak kalah di dunia. Kemudian, tanoh Gayo juga mengandung potensi tambang yang cukup pontensial seperti emas, batu bara, tembaga, uranium, gas, dan lain-lain. Iwan Gayo sendiri ’penyusun buku pintar & pemeta dataran tinggi tanoh Gayo’ menyebut daerah ini sebagai jamrud khatuliswa mengingat potensi alam yang cukup kaya dan melimpah. Tak hanya itu, tanoh Gayo memiliki wajah memikau yang sempurna dengan danau kecilnya ’Danau Laut Tawar’ serta warisan budaya yang kerap hidup dan terpelihara dalam masyarakatnya.

Tanoh Gayo merupakan rahmat dan karunia Allah SWT kepada penghuninya sebagaimana disebutkan pengarang kemudian. Masyarakat yang mendiaminya harus bersyukur dengan karunia ini. Rasa syukur tersebut mesti diwujudkan dengan kerja keras, senantiasa menggali potensi diri, belajar tiada henti, perilaku yang positif dengan saling melengkapi kekurangan dan kelebihan yang ada, mendorong inovasi, kreativitas serta partisifasi aktif masyarakatnya dalam membangun negeri ini ’negeri penuh misteri ini’. Yang tidak kalah penting adalah menjaga warisan leluhur dan ciptaan Tuhan yang luar biasa ini.

Pengen ko tuk ni korek so (dengarlah suara ayam berkokok), uwet mi ko tanoh Gayo (bangunlah tanah Gayo), seselen pumu ni baju (singsingkan lengan baju), netah dirimu (untuk memperbaiki dirimu). Dalam bait ini, A.R. Moese yang juga seorang musisi ini mengajak tanah Gayo ’masyarakat dataran tinggi tanoh Gayo’ untuk bangun ’tuk ni korek so & uwet mi ko tanoh Gayo’ dan bangkit untuk memperbaiki diri ’seselen pumu ni baju’. Bangun dan bangkit bearti berbuat dan berkarya untuk negeri ’tanoh Gayo’. Karena tidak ada orang lain yang mampu mengubah kondisi dataran tinggi tanoh Gayo, mengangkat harkat, derajat dan martabat orang Gayo, selain orang Gayo itu sendiri (QS: Ar Ra’du: 11). Sehingga mereka ’bangsa Gayo’ akan menghargai diri mereka sendiri, ”the greater the man soul, the deeper he loves”, semakin besar jiwa seseorang, semakin dalam dia mencintai, demikian kata Leonardo da Vinci – pelukis Monalisa.

Enti daten bur kelieten, mongot pude deru (jangan biarkan gunung Kelieten menangis haru), oya le rahmat ni Tuhen (itulah rahmat Tuhan), ken ko bewen mu (untuk kamu semua). Hal menarik disini, kenapa gunung Kelieten sampai menangis? Penulis menapsirkan, hal tersebut tidak terlepas dari persepsi, konsep dan paradigma berpikir serta perilaku masyarakat Gayo sendiri. Kedua, merujuk kepada gunung Kelieten sebagai perwakilan kekayaan hutan dan alam tanoh Gayo. Untuk yang pertama, kita perlu melihat sejarah daerah ini yang masih kabur, konflik berkepanjangan yang menghilangkan ribuan nyawa, harta serta berimbas pada lemahnya ekonomi masyarakat, perubahan yang lamban terjadi, sikut kuwen kiri, tulok wan opoh kerung, perbedaan uken dan towa; kita memang ditakdirkan dan dilahirkan berbeda, ada uken, ada towa, ada Gayo Lut,Gayo Deret, Gayo Lues, Gayo Lukup, Gayo Kalul & Gayo Alas, namun mari jadikan perbedaan tersebut sebagai kekuatan dan kayanya jati diri kita (Al Gayoni). Untuk yang terakhir, Prof. H. Muhammad Daud, SH., Guru Besar Kriminologi Universitas Sumatera Utara, yang merupakan salah satu akademisi sepuh Gayo di USU menekankan, ”uken-towa hanya masalah pertama dan belakangan yang datang ke tanoh Gayo, kita ’urang Gayo’ harus meninggalkan budaya uken-towa untuk tidak memperbesar perbedaan yang ada, tidak menggunakan uken-towa untuk mencapai kepentingan tertentu, karenanya kita mesti menggunakan standar kualitas dan profesionalitas untuk perbaikan dan menuju revivalisasi urang Gayo.” (wawancara penulis, 24-25 November 2006). Kedua, eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam tanoh Gayo yang tidak ramah lingkungan, tidak memberikan jangka panjang dan mengkebiri hak dan mengkerdilkan jiwa masyarakat sekitar; seperti pembakaran & penebangan hutan, penambangan liar, dan lain-lain yang berakibat pada kerusakan wajah dan tubuh Gayo sendiri. Gunung Kelieten disini hanya sebagai perumpamaan sekaligus mewakili wajah tanoh Gayo yang menawan. Kita bisa lihat dampak dari penembangan hutan terhadap perubahan cuaca, longsor yang terjadi diluar rasio berpikir kita, ”kenapa bisa terjadi?” dan pengurangan debit air pada Danau Laut Tawar. Kita baru terhenyak dan sadar ketika bur Kelieten benar-benar menangis dan keringnya danau kebanggaan kita sehingga generasi mendatang mengutuk perbuatan kita dan generasi pendahulunya. Ironisnya, kita hanya sadar seketika tanpa niat dan usaha perbaikan sama sekali.

Berikutnya, kembali pengarang mengajak bangsa Gayo untuk bangkit memperbaiki kondisi masyarakat dataran tinggi tanoh Gayo menuju sebuah perbaikan dan perubahan”uwetmi ko tanoh Gayo (bangkitlah engkau tanah Gayo), semayak bajangku, ken tawar roh munyang datu (untuk tawar bagi pendahulu-pendahulu), uwetmi masku (bangkitlah masku)” . Seperti dijelaskan sebelumnya, tidak akan turun hujan emas dari langit dengan sendirinya, ketika orang Gayo pasif, termangu, hanya menjadi penonton, menunggu pergantian hari tanpa makna dan arti bagi diri serta orang lain. Oleh sebab itu, pengarang mengajak masyarakat yang mendiami daerah ini untuk senantiasa bangkit dengan kerja nyata dan mengukir peradaban untuk perbaikan negeri ini.

Ko matangku si mu mimpim (engkau mata ku sebagai pemimpin/penunjuk arah), emah uyem ko ken soloh (bawalah pinus sebagai penerang), katiti kiding enti museltu, ilah ni dene (agar kaki tidak tersandung dalam perjalanan) Betapa puitis dan menyejukan, A. R. Moese membahasakan rangkaian baris puisi ini. Penulis menerjemahkan ’mata’ disini tidak sebatas mata kita ’secara kasat mata’ namun lebih jauh yaitu ruang Tuhan dalam diri kita, nurani, hati nurani, qolbu, heart brain (pakar syaraf) & heart intelligence (meminjam istilah Doc Childre & Howard Martin dalam The Heart Math Solution). Sama halnya dengan pinus, disini juga merupakan sebuah tamsilan. Secara nyata, pinus dapat digunakan sebagai soloh, suluh’ ’obor’ atau penerang dalam kegelapan untuk menunjukan arah ketika kita berjalan. Kata soloh disini berhubungan erat dengan ’mata’ pada baris sebelumnya.

Penulis lebih melihat hubungan tersebut kepada petunjuk atau penerang yang diberikan kepada manusia itu sendiri yaitu berupa kitab Tuhan. Dalam kontek Islam, tentu petunjuk yang dimaksud adalah Al – Quran dan As Sunah. Kedua petunjuk inilah yang dimaksud pengarang dalam untain untaian bait – bait puisinya dengan menggunakan ’nurani’ atau ’qolbu’ dalam diri manusia. Atau dalam bahasa adat, kita mengenal ungkapan, tingkis ulak ku bide, sesat ulak ku dene. Dene disini tidak lain, adalah ihdinassiratalmustaqim, seperti yang dijelaskan dalam Al- Quran (QS Al Fatihah: 6). Korelasi ini dapat kita lihat pada baris berikutnya yaitu ’katiti kiding enti museltu i lah ni dene’ (agar kaki tidak tersandung dalam perjalanan). Demikian luar biasanya seorang anak negeri; A.R. Moese mamadukan kata-kata tersebut. Dikala kita menggunakan pinus, suluh, lentera atau lampu dalam gelapnya malam, jalan kita akan terangi dan kita akan tahu arah dan tujuan perjalanan yang akan kita tempuh. Demikian hal-nya tatkala, kita menjadikan Al – Quran & Hadist Nabi Allah SWT, Muhammad Rasulullah sebagai penuntun, pastinya kita tahu dari mana, dimana dan mau kemana kita melangkah dengan menggunakan ’mata sebagai pembimbing’ atau qolbu ’ruang Tuhan’ dalam diri kita.

O kiding kao ken cermin (kaki, engkau sebagai cermin), remalan enti berteduh (jangan berhenti berjalan). Pengarang menjadikan kaki ’kiding’ sebagai cermin dari berjalan/perjalanan ’remalan’. Hal tersebut merupakan sebuah gambaran terhadap perjalanan yang kita lalui. Sekaligus pengarang mengajak pembacanya untuk terus berjalan untuk mencapai tujuan yang telah kita tetapkan ’visi hidup’. Semakin banyak dan jauh kita melakukan perjalanan, akan semakin banyak kita lihat dengan mengambil hikmah dari perjalanan yang kita lakukan. Dengan begitu, kita akan tahu hakekat penciptaan dan keberadaan diri kita. ’Enti berteduh disini’ dapat juga ditafsirkan sebagai ’usaha’ atau ’besarnya motivasi’ ’misi’ yang kita lakukan untuk mencapai tujuan tadi ’bentangan visi hidup’. The greatest thing in this world is not so much where we are, but in what direction we are moving (sesuatu yang terbesar dalam dunia ini bukanlah dimana kita berada namun kea rah mana kita akan bergerak), demikian kata Oliver Wendell Holmess. Apa yang dikatakan Holmes, semakin memperjelas maksud A.R. Moese dengan Tawar Sedenge-nya akan makna ’kiding ken cermin’ dan ’remalan enti berteduh’.

Enti mera kao tang duru (jangan mau engkau di belakang), ton jema dele (di tempat khalayak ramai). Tak bosan-bosanya, A.R. Moese kembali dan terus mengobarkan semangat kepada masyarakat Gayo melalui karyanya, duduk di belakang ’bermental kerupuk’ dalam khalayak ramai. Kita ’ bangsa Gayo’ harus tampil ’tang arap’ di depan, inisiatif, sebagai aktor utama, subjek atau pelaku di tengah-tengah masyarakat. Untuk tampil di depan, tentu tidak terlepas dari potensi diri, kualitas dan kemampuan yang kita miliki. Menyangkut kemampuan ini, Dr.-Ing. Ikhwansyah Isranuri (alumni Jerman), salah satu putra terbaik Gayo di USU (sekarang Dosen Teknik Mesin & Sekretaris Sekolah Pascasarja Teknik Mesin) menuturkan bahwa ”kemampuan otak orang Gayo terutama untuk bidang eksakta seperti ’mutiara yang ditutupi debu’”. Mudah-mudahan, apa yang dikatan doktor muda Gayo ini dapat menjadi renungan bagi kita semua.

Enti osan ku pumu jema (jangan berikan ke tangan orang lain), pesaka si ara (pusaka yang ada), tenaring ni munyang datu (peninggalan munyang datu/pendahulu negeri), ken ko bewene mu (untuk kamu semua). Melalui ini Tawar Sedenge, pengarang berpesan agar urang Gayo, tidak memberikan pusaka yang ada sebagai warisan leluhur ke tangan orang lain. Untuk itu, masyarakat Gayo harus selalu menjaga harta yang menjadi warisan lelulur tersebut baik fisik maupun non-fisik sehingga kita dapat mengapresiasi niat baik, kerja keras, tetesan-tetesan pemikiran pendahulu-pendahulu kita yang telah menghasilkan peradaban ini. Bagaimana pun, mereka ’pendahulu kita’ telah meninggalkan sesuatu buat kita hari ini. Bagaimana pun, mereka telah berbuat untuk kita hari ini. Tinggal lagi, giliran kita untuk berbuat, membuktikan dan berkarya untuk mewariskannya kepada generasi kita seterusnya. Jangan tanya orang lain namun tanya dirimu, ”Apa yang telah engkau berikan pada orang lain.” (Al Gayoni)

Uwet mi ko tanoh Gayo (bangkitlah tanah/bangsa Gayo), ko opoh bajungku (engkaulah pakaianku), ken tawar roh munyang datu (sebagai tawar untuk munyang datu/pendahulu), uwetmi masku (bangun dan bangkitlah masku). Di akhir puisinya, A. R. Moese kembali membangkitkan dan mengobarkan semangat yang tiada hentinya kepada bangsa Gayo, ”bangunlah tanah Gayo,” ”bangkitlah orang Gayo”, ”tunjukkan bahwa kamu mampu,” ”buktikan pada luluhur mu bahwa kamu bisa, ”bangkitlah,”warnai sejarah negeri ini dengan kegigihan, kerja keras, keyakinan, karya dan prestasimu.”

Oleh Win Ruhdi Bathin

Didong adalah kesenian khas gayo yang mengandalkan tepukan tangan diiringi seorang ceh sebagai vokalis utama dengan dibantu sekitar 30 orang penepuk, dalam sebuah grup didong.

Didong memang menarik, unik, dan hanya menggunakan kekuatan tubuh sebagai alat sekaligus media didong. Selebihnya, peran ceh , vokalis utama, membuat didong menjadi sebuah seni yang identik dengan komunitas masyarakat gayo. Menjadi sebuah seni ethno.

Lantas, kapan didong mulai ?, menurut Ismuha, (13/7) ,Kabid kebudayaan Pemkab Bener Meriah, kesenian didong dimulai sejak Reje Linge ke 13. Sejarah didong mengalami masa jaya dan masa-masa dimana didong menjadi stagnasi, dari periode ke periode.

Seiring waktu, rinci Ismuha, didong mengalami perubahan dan penambahan kreasi yang masuk kedalam kesenian didong, meski sebelumnya atau aslinya tidak ada. Contohnya, penggunaan bantal untuk tepukan.

“Awalnya didong hanya mengandalkan kekuatan tepukan tangan, tanpa alat bantu. Tapi kemudian tepukan bantal yang kini dipakai dalam didong, dimulai oleh Ceh To’et tahun 1964 di Bintang, dalam sebuah didong jalu”, kata Ismuha, mengupas sejarah didong.

Toet , seniman yang cukup popular dan menasional, menurut Ismuha kaya akan lirik didong dan inovatif. Toetlah yang memulai penggunaan bantal untuk tepukan pada didong.

Sepanjang sejarah didong, lanjut Ismuha, didong ikut mewarnai sejarah khidupan orang gayo sendiri. Awalnya didong digelar dibawah rumah –rumah panggung warga warga gayo yang di periode awal memang tinggi.

Rumah ini dikenal dengan rumah adat “Pitu Ruang”. “Sepanjang sejarah didong, didong memang selalu menampilkan dua grup dalam sebuah penampilan. Kedua grup ini saling mengadu ketangkasan kata.

Seperti berbalas pantun dalam budaya melayu. Hanya saja, didong menggunakan bahasa asli gayo dalam didong jalu. “Meski saling menyerang dengan kata-kata, di periode awal didong, kata-kata yang digunakan menyerang lawan dalam perang kata-kata, menggunakan bahasa istilah yang dalam dan kaya makna”, sebut Ismuha.

Tapi kemudian, kata Ismuha, dalam didong jalu, perang kata-kata vulgar dan tanpa istilah peribahasa kemudian juga berkembang seiring komersialisasi didong. ‘Kalau kata-katanya ngak kasar dan saling menghina dan menghujat, penonton merasa kurang seru. Mulailah didong saling mlah grenghujat dan membuka aib”, jelas Ismuha.

Salah satu grup didong yang suka menggunakan kata-kata bukan istilah adalah grup Arita, ujar Ismuha. Didong kemudian bukan saja menjadi ajang mencurahkan rasa perberkesenian saja.

“Didong juga kemudian dipakai sarana menggalang dana untuk berbagai keperluan umum. Seperti membangun Mersah (Menasah), sekolah, jembatan dan sejumlah kepentingan umum.

Dua grup didong bertanding, kepada penonton dikenakan tiket. Uang penjualan tiket dipakai untuk membangun sarana umum.

Didong Mengalami Stagnasi

Menurut Ismuha satu grup didong bisa mengalami stagnasi atau kevakuman dalam berkarya. Hal ini disebabkan daya tarik grup didong sudah tidak ada lagi. “Daya tarik grup didong biasanya pada suara ceh dan kepinterannya mengungkapkan sesuatu melalui lirik didong yang dibawakan”, papar Ismuha seraya menambahkan,

Biasanya, jika dalam satu grup didong ada ceh kucak dengan suara yang merdu da fasih melantunkan bait-bait didong, maka grup didong ini akan banyak diundang untuk tampil dalam banyak kesempatan.

“Tapi saat ceh kucak ini mengalami masa-masa pubertas, dimana suaranya tidak lagi menarik, grup didong ini akan mengalami masa suramnya”, imbuh Ismuha. Parahnya lagi, kata Ismuha, banyak grup didong yang muncul, kemudian tenggelam karena tidak konsisten.

“Penyebab tidak konsistennya sebuah grup didong karena masing-masing personilnya harus bekerja untuk ekonomi keluarganya. Sementara didong belum bisa dijadikan sumber utama ekonomi”, ujar Ismuha lagi.

Saat ini di Bener Meriah, sambung Ismuha, sudah ada 32 grup didong. Empat diantaranya sudah professional dengan tarip sekali tampil bisa mencapai Rp.3.5 juta.

Takengon, 11 Nopember 2008

Oleh  H. Mustafa, AK

Menghimpun dari beberapa tulisan atau ucapan lisan dari para tokoh adat atau orang-orang tua maka tutur dapat diartikan sebagai penempatan panggilan yang terkait dengan kedudukan, umur, aliran darah, kekeluargaan dan persaudaraan. Dalam adat Gayo masalah tutur berada dalam posisi terhormat, artinya apabila seorang yang tidak bertutur atau bertutur tidak dengan semestinya maka yang bersangkutan tergolong orang yang tidak berahlakulkharimah. Dengan demikian dari tutur kita dapat mengukur keperibadiaanya, kesombongan, keangkuhan yang tercermin pada diri seseorang tersebut.

Dari penjelasan di atas tutur yang merupakan jalur penghubung untuk menguatkan ikatan kekerabatan dalam suatu keluarga, kampung, dan lain sebagainya. Menurut para tokoh-tokoh adat ; bahwa kunci adat Gayo adalah tutur bahasa Gayo, apabila tutur ini tidak di terapkan, baik dalam kehidupan keluarga maupun kehidupan masyarakat, maka adat gayo tidak dapat dikembalikan kepada zaman para leluhur kita. Dalam memanggil bapak atau ibu harus dekembalikan kepada tutur bahasa Gayo yaitu “ Ama “ dan “ Ine “ ( bapak atau ibu ), juga seperti “ paman ” harus dikembalikan kepada “ Pun ” karena kedudukan “ Pun “ menurut tutur adat Gayo sangat mulia dan dihormati. Diantara dari sejumlah tutur yang terdapat dalam masyarakat Gayo adalah sebagaimana tersebut di bawah ini :

63 TUTUR DALAM BAHASA GAYO :

1. Rekel : Generasi paling tua
2. Entah : Turunan dari Rekel
3. Muyang : Moyang, di bawah Entah
4. Datu : Para datu-datu adalah di bawah moyang (1 s/d 4, sudah termasuk leluhur)
5. Datu Rawan : Oarng tua ( bapak dari kakek )
6. Datu Banan : Orang tua ( Ibu dari kakek )
7. Awan Pedih : Kakek ( bapak dari ayah )
8. Anan Pedih : Nenek ( ibu dari ayah )
9. Awan Alik : Kakek ( bapak dari ibu )
10. Anan Alik : Nenek ( ibu dari ibu )
11. Uwe : Kakak tertua dari ibu kandung
12. Ama Kul : Bapak Wo ( saudara laki-laki sulung dari bapak )
13. Ine Kul : Mak Wo ( istri dari Pak Wo/ istri abang tertua dari bapak )
14. Ama : Bapak
15. Ine : Ibu
16. Ama Engah : Bapak Engah ( tengah ), adik dari ayah
17. Ine Engah : Ibu Engah ( tengah ), adik dari ibu
18. Ama Ecek/Ucak : Pakcik ( saudara laki-laki bungsu dari bapak )
19. Ine Ecek/Ucak : Makcik
20. Encu : Ucu ( terbunsu ) laki-laki
21. Encu : Ucu ( terbungsu ) perempuan
22. Ibi : Bibi ( adik atau kakak kandung ayah )
23. Kil : Suami dari bibi, apabila bibi ikut suami. ( juelen )
24. Ngah/Encu : Perobahan Kil menjadi Engah atau encu apabila ikut istri ( angkap )
25. Abang : Abang
26. Aka : Kakak
27. Engi : Adik
28. Anak : Anak
29. Ume : Bisan
30. Empurah : Mertua ( orang tua dari istri )
31. Tuen : Mertua ( bapak dari istri )
32. Inen Tue : Mertua ( ibu dari istri )
33. Lakun : Sebutan sesama ipar
34. Inen Duwe : Istri abang dengan istri adiknya abang
35. Kawe : Istri abang dengan saudara perempuan dari suaminya
36. Era : Adik laki-laki dari abang dengan istri abang yang bersangkutan
37. Temude : Abang dari istri
38. Impel : Anak bibi yang kawin juelen dengan anak dari saudara laki-lakinya (anak saudara perempuan dari ibu )
39. Kumpu : Cucu
40. Piut : Cicit
41. Ungel : Anak semata wayang ( tunggal )
42. Aman Nuwin : Putra pertamanya laki-laki ( untuk bapak )
43. Inen Nuwin : Putra pertamanya laki-laki ( untuk ibu )
44. Aman Nipak : Putra pertamanya perempuan ( untuk bapak )
45. Inen Nipak : Putra pertamanya perempuan ( untuk ibu )
46. Aman Mayak : Remaja ( Laki-laki yang telah menikah dan belum berketurunan )
47. Inen Mayak : Remaja ( Putri yang menikah dan belum berketurunan )
48. Empun : Perubahan panggilan dari posisi kakek ( awan ) menjadi Empun dengan memanfaatkan salah satu nama cucu.
49. Win : Panggilan untuk anak laki-laki
50. Ipak : Panggilan untuk anak perempuan
51. Periben : Karena nama bersamaan atau sesama suami dari istri yang bersaudara kandung
52. Utih, Mok, Item, Ecek, Ucak, Onot : Panggilan kesayangan sementara nama yang bersangkutan bukan itu. Panggilan tersebut boleh jadi karena warna kulit, raut wajah, bentuk badan.
53. Serinen : Satu saudara kandung baik laki-laki maupun perempuan
54. Biak : Kenalan yang sudah dipandang sebagai saudara
55. Dengan : Saudara laki-laki dengan saudara perempuannya ( kandung )
56. Pun : Saudara laki-laki dari ibu
57. Ine Pun : Istri dari saudara laki-laki dari ibu
58. Pun Kul : Abang kandung yang sulung dari ibu
59. Pun Lah : Abang kandung ibu antara sulung dengan yang bungsu
60. Pun Ucak : Abang kandung ibu yang bungsu
61. Kile : Menantu laki-laki
62. Pemen : Menantu Perempuan
63. Until : Anak saudara kandung perempuan

Dengan memahami 63 tutur bahasa Gayo di atas kiranya telah mewakili dari semua tutur yang ada yang tidak tertera dalam tulisan ini. Betapa tidak, anatara tutur diatas saling terkait sehingga kita dengan jelas mengetahui siapa kita dalam kekeluargaan. Dengan demikian maka ahlakulkharimah akan terbawa dengan sendirinya karena kita tau hubungan kekeluargaan, persaudaraan dan sebagainya yang pada gilirannya secara tidak langsung tercipta keharmonisan di dalam kekeluargaan. Lebih jauh keharmonisan dalam keluarga, kelompok, suku (belah), kampung, akhirnya bermuara pada Bhinneka Tunggal Ika (bersatu kita teguh bercerai kita runtuh). Kalaulah penempatan tutur di hayati dan dilaksanakan dengan baik maka tidak akan terjadi perselisihan di antara kita karena anjuran atau nasehat dari orang tua di hormati oleh orang muda atau sebaliknya orang, orang muda merasa di sayangi oleh orang tua.

Catatan : “ Sara urang ( belah ) sara kemalun “
“ Sara kampung sara kekemelen “

Sumber: Gayolinge.com

“ Tradisi pembasuhan kaki pengantin pria dalam perkawinan masyarakat Gayo Tidak dilakukan oleh pengantin wanita, tetapi oleh adik perempuan pengantin wanita “

Secara garis besar, kebudayaan Gayo, terdiri dari beberapa unsur yaitu kebudayaan Gayo Lues, yang berpusat disekitar Aceh Tenggara, kebudayaan Gayo Serbejadi di kawasan Aceh Timur, kebudayaan Gayo Linge dan kebudayaan Lut di Aceh Tengah. Setiap unsur kebudayaan dari tiap suku bangsa tersebut tentu saja memiliki keunikan dan kekayaan tradisi masing – masing dimana di dalamnya juga terkandung nilai – nilai luhur untuk kemuliaan hidup. Tak terkecuali kebudayaan masyarakat Gayo yang berada di sekitar kawasan Takengon Aceh Tengah ( Gayo Lut ) saat mempersiapkan sebuah hajat besar seperti upacara perkawinan yang harus melewati beberapa tahapan adat, yang tiap tahapannya tersimpan makna yang sakral untuk kebahagiaan hidup rumah tangga pasangan pengantin. Berikut adalah beberapa tahapan prosesi upacara perkawinana masyarakat Gayo :

RISIK KONO ( Perkenalan Keluarga )

Acara ini merupakan ajang perkenalan keluarga calon pengantin. Orang tua pengantin pria, biasanya di wakilkan oleh ibunya, akan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka untuk berbesan dengan orang tua pengantin wanita. Biasanya acara akan di mulai dengan ramah tamah serta senda gurau sebagai awal perkenalan dan barulah selanjutnya mengarah pada pembicaraan seriuz mengenai kemungkinan kedua keluarga ini bisa saling berbesan.

MUNGINTE ( Meminang / Melamar )

Tahapan peminangan ini tidak dilakukan oleh orang tua pengantin pria secara langsung tetapi diwakilkan oleh utusan yang disebut telangkai atau telangke. Biasanya mereka terdiri dari tiga atau lima pasang suami – istri yang masih berkerabat dekat dengan orang tua pengantin pria.

Dalam acara ini yang banyak berperan adalah kaum ibu. Mereka datang sambil membawa bawaan yang antara lain berisi beras, tempat sirih lengkap dengan isinya, sejumlah uang, jarum dan benang. Barang bawaan ini disebut Penampong ni kuyu yang bermakna sebagai tanda pengikat agar keluarga pengantin wanita tidak menerima lamaran dari pihak lain. Selanjutnya barang bawaan ini diserahkan dan ditinggal di rumah pengantin wanita sampai ada kepastian bahwa lamaran tersebut diterima atau tidak. Keluarga pengantin wanita diberi waktu sekitar 2-3 hari untuk memutuskan hal tersebut. Dalam waktu tersebut biasanya keluarga pengantin wanita akan mencari sebanyak mungkin tentang informasi calon pengantin pria mulai dari bagaimana pribadinya, pendidikannya, agama, tingkah laku samapi ke soal bibit, bobot dan bebetnya. Jika lamaran diterima maka barang bawaan tersebut tidak dikembalikan lagi tetapi sebaliknya jika tidak, maka Penampong kayu akan dikembalikan pada pengantin pria lagi.

Setelah mendapat kepastian lamaran diterima selanjutnya akan dilakukan pembicaraan antara dua pihak keluarga mengenai kewajiban apa saja yang harus dipenuhi oleh keluarga masing – masing, termasuk membicarakan mengenai barang dan jumlah uang yang diminta oleh keluarga penganti wanita yang disebut sebagai acara Muno sah nemah ( Menetapkan bawaan )

Dalam pembicaraan ini keluarga pengantin pria akan diwakili oleh talangke yang harus pandai melakukan tawar menawar atau negosiasi dengan keluarga pengantin wanita. Sementara untuk mahar yang menentuakan adalah calon mempelai wanita sendiri dan mahar yang diminta tidak boleh ditawar lagi.

TURUN CARAM ( Mengantar Uang )

Acara mengantar uang ini biasa dilakukan pada saat matahari mulai naik antara pukul 09.00 – 12.00 dengan harapan agar nantinya kehidupan rumah tangga pasangan pengantin ini, termasuk rezekinya akan selamanya bersinar.

SEGENAP dan BEGENAP ( Musyawarah dan Keluarga )

Dalam acara ini akan dilakukan pembagian tugas saat acara pernikahan berlangsung. Yang mendapat tugas melakukan berbagai persiapan pesta perkawinan adalah para kerabat serta tetangga dekat. Acara akan berlangsung pada malam hari.

Pada malam begenap acara akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok orang tua yang akan membicarakan mengenai tata cara serah terima calon pengantin kepada Imam ( Pemuka Agama ) sementara kelompok kedua yaitu para muda – mudi yang berkelompok membuat kue onde – onde untuk disantap bersama – sama. Setelah itu datanglah utusan dari kelompok orang tua ke kelompok anak muda tersebut sambil membawa batil ( cerana ) lalu mereka makan sirih bersama sebagai tanda permintaan orang tua pengantin wanita agar muda mudi itu rela melepas salah satu teman mereka untuk menikah.

BEGURU ( Pemberian Nasihat )

Acara ini didiadakan sesudah acara malam begenap yaitu pada pagi hari sesudah salat subuh. Beguru artinya belajar, dimana calon pengantin akan diberi berbagai nasehat dan petunjuk tentang bagaimana nantinya mereka bersikap dan berprilaku dalam membina rumah tangga. Acara beguru di rumah calon mempelai wanita ini biasanya akan diiringi juga dengan acara bersebuku ( meretap ) yaitu pengantin wanita melakukan sungkeman kapada kedua orang tuanya untuk memohaon restu dan doa.

JEGE UCE ( Berjaga – jaga )

Acara ini dilaksanakan menjelang hari pernikahan. Disini para kerabat dan tetangga dekat akan berjaga – jaga sepanjang malam dengan melakukan berbagai kegiatan adat seperti acara guru didong ( berbalas pantun ) serta tari tarian. Pada malam itu calon pengantin wanita akan diberi inai oleh pihak ralik ( keluarga pengantin wanita ).

BELULUT dan BEKUNE ( Mandi dan Kerikan )

Dahi, pipi dan tengkuk calon pengantin wanita akan dikerik oleh juru rias atau wakil keluarga ibunya yang paling dekat setelah sebelumnya dilakukan acara mandi bersama di kediaman masing – masing yang disebuat acara belulut. Bekas bulu – bulu halus kerikan tadi selanjutnya akan ditaruh dalam sebuah wadah berisi air bersih dan dicampurkan dengan irisan jeruk purut untuk ditanam. Dipercayai nantinya rambut pengantin akan tumbuh subur dan lebat.

MUNALO ( Menjemput Pengantin Pria )

Pada hari dan tempat yang telah disepakati rombongan pengantin wanita yang dipimpin oleh telangkai, selanjutnya disebut sebagai pihak beru, sambil menabuh canang yang dilakukan oleh para gadis bersiap menunggu kedatangan rombongan penantin pria yang disebut pihak bei. Sementara itu pengantin wanita di rumahnya telah didandani dan menanti dalam kamar pengantin. Canang akan semakin keras ditabuh dan terdengar bersahutan ketika pihak bei sudah mulai kelihatan dari kejauhan.

Saat pihak bei telah tiba, tabuhan canang dihentikan dan pihak beru akan membuka percakapan sebagai ucapan selamat datang dan permohonan maaf jika terdapat kekurangan dalam acara penyambutan tersebut. Setelah itu dilakukan tarian guel dan sining serta saling berpantun. Disini pengantin pria akan diajak ikut menari bersama. Setelah itu calon pengantin pria diarak beramai ramai menuju kediaman pengantin wanita.

MAH BEI ( Mengarak Pengantin Pria )

Sebelum rombongan pengantin pria sampai ke rumah pengantin wanita, mereka akan terlebih dahulu berhenti di rumah persinggahan yang disebut Umah selangan selama 30 – 60 menit. Ditempat ini rombongan akan menanti datangnya kiriman makanan yang dibawa oleh utusan pihak beru. Bila kiriman itu dianggap berkenan maka rombongan akan melanjutkan perjalanan menuju rumah pengantin wanita, setelah mendengar kabar bahwa kelurga pengantin wanita telah siap menerima kedatangan. Sebaliknya bla tidak berkenan maka acara bisa tertunda bahkan batal. Dalam perjalanan ini, pengantin pria diapit telangkai yang bisanya terdirri dari dua orang laki – laki yang sudah menikah. Pada acara ini orang tua mempelai pria boleh tidak mendampingi karena tugas tersebut telah diwakilkan.

Setibanya rombongan bei di rumah pengantin wanita, tiga orang ibu akan langsung datang menyambut dan saling bertukar batil tempat sirih lalu diadakan acara basuh kidding ( cuci kaki ) di depan pintu masuk. Uniknya yang melakukan acara basuh kidding ini adalah adik perempuan pengantin wanita. Jika pengantin wanita tidak memiliki adik perempuan maka tugas ini bisa digantikan oleh anak pakciknya. Setelah itu sebagai tanda terima kasih, pengantin pria akan memberikan sejumlah uang kepada adik pengantin wanita tersebut.

Selanjutnya pengantin pria akan melakukan acara tepung tawar yang dilakukan oleh keluarga pengantin wanita. Sambil dibimbing masuk rumah, pengantin pria akan diserahkan oleh keluarganya dan didudukkan berhadapan dengan ayah pengantin wanita untuk acara akad nikah yang disebut acara Rempele ( Penyerahan ).

Sebelum akad nikah dimulai telah disiapkan satu gelas air putih, satu wadah kosong dan sepiring ketan kunung untuk melakukan tata acara adat. Selesai akad pengantin pria memberikan S apBatil Mangas kepada mertua laki – lakinya. Selama akad berlangsung pengantn wanita yang telah didandani tetap tinggal di dalam kamar sambil menunggu dipertemukan dengan suaminya. Acara inilah yang disebut kamar dalem.

MUNENES ( Ngunduh Mantu )

Acara ini sebagai simbol perpisahan antara pengantin wanita dengan orang tuanya karena telah bersuami dan akan berpisah tempat tnggal, termasuk juga sebagai acara perpisahan di masa lajang ke kehidupan berkeluarga. Pengantin wanita akan diantar ke rumah pengantin pria sambil membawa barang – barangnya dari peralatan rumah tangga sampai bekal memulai hidup baru. Setelah itu diadakan acara makan bersama. Biasanya setelah tujuh hari pengantin wanita berada di rumah pengantin pria, orang tua pengantin pria akan dating ke rumah besannya sambil membawa nasi beserta lauk pauk. Acara yang disebut Mah Kero Opat Ingi ini bertujuan untuk lebih saling mengenal antar dua keluarga yang sudah bebesan.

Sumber : Majalah Perkawinan

Oleh Suherdi Win Konadi *)

Salah satunya adalah ungkapan: Asal Linge Awal Serule, petuah bijak yang menyiratkan jati diri. Ungkapan tersebut berarti kalau Urang Gayo berasal dari Linge dan berawal dari Selure.

Ungkapan Asal Linge Awal Selure juga adalah sebuah semboyan. Dalam kesenian Saman di setiap pembukaannya selalu menyebutkan Asal Linge Awal Selure. Ini dimaksudkan sebagai sebuah indentitas diri Urang Gayo.

Kerajaan Linge pada masa kejayaannya, adalah pusat perada ban Gayo. Bahkan salah satu putra kerajaan Linge telah memberikan konstribusi besar terhadap berkembangnya kerajaan Aceh yang dulu kedaulatannya sampai ke Negeri Johor Malaysia. Murip I kanung edet, mate I kanung bumi, ( Hidup di kandung adat mati dikandung bumi) adalah ungkapan yang menggambarkan penataan kehidupan bermasyarakat Gayo. Kalimat ini bermakna betapa urang gayo sangat menghargai adat dalam kehidupannya. Murip I kanung edet, mate I kanung bumi, berarti segala hal perbuatan dalam masyarakat harus sesuai dengan adat dan sesuatu yang mutlak dan tidak boleh dilanggar.

Keterikatan antara adat gayo dengan Islam tercermin dalam ungkapan edettullah, hukummullah. Dalam adat Gayo salah satu pungsi adat adalah untuk menjaga syariat Islam. Ini sesuai dengan ungkapan edet mumegeri hukum (Adat yang memagari hukum), yang berarti adatlah yang menjaga hukum (syariat).

Contoh eratnya keterkaitan adat dengan Syariat Islam adalah ketentuan larangan perkawinan satu belah atau dalam satu kelompok, dalam masyarakat Gayo. Belah dalam masyarakat Gayo antara lain Bukit, Gunung, Lot dan Suku. Dalam hukum adat Gayo, dilarang melakukan perkawinan antara orang yang berasal dari belah yang sama, umpamanya sama-sama belah Bukit. Ketentuan ini di maksudkan agar tidak terjadi pelanggaran yang menjurus kepada perzinahan. Dengan adanya larangan tersebut, akan timbul anggapan bahwa orang yang berada dalam satu belah itu merupakan muhrim dan harus saling menjaga.

Masih banyak ungkapan dalam adat Gayo seperti Munyuket enti rancung, munimang enti mangik (kalau menakar jangan lebih, menimbang jangan kurang). Pelolo bedame, luke besalin, kemung berpenumpu (Berkelahi berdamai, luka berobat, dan dipertanggujawabkan). Sikul I kucaken, I amat mutubuh I pangan murasa. Simumbuntul enti itamuni, silemah entu ikuruki. (Yang besar dikecilkan, dipegang berbadan, dimakan punya rasa, yang berbukit jangan ditambuni, yang lemah jangan disakiti).

Kebudayaan Gayo timbul sejak orang Gayo bermukim di wilayah ini dan mulai berkembang sejak kerajaan Linge Pertama abad ke X M, atau abad ke IV H. Meliputi aspek kekerabatan, komunikas sosial, pemerintahan, pertanian kesenian dan lain – lain.

Adat Urang Gayo menganut Prinsip Keramat Mupakat, Behu Berdedale yang punya makna kemulian didapat kerana mufakat dan berani sama-sama. Ungkapan lain Tirus lagu gelas belut lagu umut rempak lagu resi susun lagu belo yangpunya arti kuatnya persatuan orang gayo yang tidak mudah dicerai berai. Nyawa sara pelok ratep sara anguk punya arti tekad yang melahirkan kesatuan sikap dan perbuatan. Selain itu banyak lagi terdapat kata – kata pelambang yang mengandung kebersamaan dan kekeluargaan serta keterpaduan. Berbagai ungkapan tersebut menggambarkan tentang Pemerintah dan ulama saling harga menghargai serta menunjak pelaksanaan agama dalam adat Urang Gayo.

Di dalam sistem nilai budaya Gayo telah merumuskan prinsip prinsip adat yang disebut kemalun ni edet. Prinsip ini menyangkut “harga diri” (malu) yang harus dijaga, diamalkan, dan dipertahankan oleh kelompok kerabat tertentu, kelompok satu rumah (sara umah), klen (belah), dan kelompok yang lebih besar lagi.

Prinsip adat meliputi empat hal berikut ini. Pertama, Denie terpancang adalah harga diri yang menyangkut hak – hak atas wilayah. Kedua, Nahma teraku adalah harga diri yang menyangkut kedudukan yang sah. Ketiga, Bela mutan ialah harga diri yang terusik karena ada anggota kelompoknya yang disakiti atau dibunuh. Keempat adalah Malu tertawan yang merupakan harga diri yang terusik karena kaum wanita dari anggota kelompoknya diganggu atau difitnah pihak lain.

Didalam sistem adat Gayo ada tahapan adat yaitu, mukemel ( harga diri ), tertip (tertib), setie (setia), semayang Gemasih (kasih sayang), mutentu (kerja keras), amanah (amanah), genap mupakat (musyawarah), alang tulung (tolong menolong), bersikemelen (kompetitif)

Tahapan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Sistem nilai budaya Gayo terbagi menjadi nilai “utama” yang disebut “harga diri” (mukemel). untuk mencapai harga diri itu, seorang harus mengamalkan atau mengacu pada sejumlah nilai lain, yang disebut nilai “penunjang”. Nilai – nilai penunjang itu adalah : “tertib” , “setia”, “kasih sayang” , “kerja keras”, “amanah” , “musyawarah”, “tolong- menolong”. Untuk mewujudkan nilai – nilai ini dalam mencapai “harga diri” mereka harus berkompetisi. Kompetisi itu sendiri merupakan sebuah nilai, yaitu “nilai kompetitif” yang merupakan nilai penggerak.

*) Di Bener Meriah

Source: Modus Aceh

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.